Anda di halaman 1dari 9

UPI Kampus Tasikmalaya

PEMBELAJARAN KOOPERATIF NHT (NUMBERED HEADS TOGETHER) DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI SMP NEGERI 1 SUKARAME KABUPATEN TASIKMALAYA JAWA BARAT Oleh: Cucu Sukmara (SMPN 1 Sukarame Kab. Tasikmalaya) ABSTRAK
Mata pelajaran Matematika dimata para siswa SMP Negeri 1 Sukarame adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi momok menakutkan. Hal ini merupakan tantangan bagi guru matematika untuk mencari solusi bagaimana kegiatan pembelajaran menjadi bermakna dan tidak menyeramkan bagi siswa. Akibatnya siswa selama mengikuti pembelajaran tidak termotivasi untuk mengemukakan pendapat dan berpikir kritis dalam membagun pembelajaran yang konstruktivisme. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sejauh mana pengaruh model pembelajaran Kooperatif NHT (Numbered Heads Together) dapat meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran matematika di SMP Negeri 1 Sukarame Kabupaten Tasikmalaya. Yang menjadi kerangka dalam penelitian ini adalah keberhasilan dalam hasil belajar ditentukan oleh pengelolaan proses pembelajaran oleh seorang guru dengan cara menggunakan berbagai teknik dan strategi pembelajaran. Prosedur Pelaksanaan penelitian adalah menentukan metode penelitian, variable penelitian, teknik pengumpulan data melalui tes kognitif, observasi, wawancara, instrument penelitian, populasi dan sampel, desain penelitian, teknik pengolahan data, menganalisis data, serta menentukan waktu dan tempat penelitian. Kesimpulan umum dari hasil penelitian ini adalah perencanaan dan pengelolaan kelas, variasi model pembelajaran dan kemampuan awal siswa sangat menentukan kualitas pembelajaran Matematika, sehingga minat dan prestasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika menjadi lebih meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes kognitif, observasi dan wawancara yang dilakukan dengan hasil kategori baik. Kesimpulan khusus dari hasil penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran NHT dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.

Kata kunci: belajar, kooperatif, prestasi, siswa. A. Pendahuluan Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah mencanangkan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia setelah dirasakan dampaknya akhir-akhir ini dengan beberapa indikasi ketidakmampuan bersaing dalam meraih kesempatan kerja baik di dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu melalui pendidikan yang bermutu diperlukan manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin maju. Bebarapa langkah nyata yang diambil pemerintah, diantaranya perubahan kurikulum dalam kurun waktu tertentu
Jurnal Saung Guru: Vol. II No. 2 Oktober (2011)

dengan berbagai bentuk dan model hingga kurikulum yang diberlakukan sekarang, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan peluang kepada guru dan siswa untuk mengembangkan potensinya. Mata pelajaran Matematika dimata para siswa SMP Negeri 1 Sukarame adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi momok menakutkan. Hal ini merupakan tantangan bagi guru matematika untuk mencari solusi bagaimana kegiatan pembelajaran menjadi bermakna dan tidak menyeramkan bagi siswa. Para guru harus berusaha menentukan 15

Cucu Sukmara .

pendekatan, model dan metode yang tepat agar materi yang disajikan dapat dimengerti dan dipahami serta para siswa tahu kegunaan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan, aktif, dan efektif. SMP Negeri 1 Sukarame adalah sekolah yang baru menapak jenjang Rintisan Sekolah Standar Nasional ( RSSN), banyak tantangan dan kendala yang dihadapi untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu akademik maupun non akademik. Apalagi input siswa yang masuk ke SMP Negeri 1 Sukarame adalah siswa yang memiliki latar belakang yang heterogen baik dari latar belakang ekonomi maupun latar belakang kompetensi dasar yang dimilikinya. Salah satu upaya yang dilakukan sekolah dalam menata dan meningkatkan mutu akademik adalah dengan melakukan tes awal bagi para siswa baru untuk menentukan pendistribusian siswa dalam rombongan-rombongan belajar. Untuk siswa yang memiliki peringkat 1 sampai 30 masuk ke kelas unggulan sedangkan sisanya dibagi rata dalam beberapa rombongan belajar. Untuk siswa kelas VIII dan IX belum dilakukan tes khusus dalam menentukan distribusi rombongan belajar, sehingga siswa kelas VIII dan IX murni kelas yang heterogen. Perlu diketahui jumlah siswa SMP Negeri 1 Sukarame tahun pelajaran 2007/2008 seluruhnya 863 orang terdiri dari kelas 7 sebanyak 320 orang, kelas 8 sebanyak 296 orang dan kelas 9 sebanyak 253 orang. Peneliti adalah pengajar mata pelajaran Matematika di kelas VII C E, dan kelas VIII C tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas khususnya di kelas VIII C karena heterogenitas dari kelas tersebut dan tampak dari sikap para siswa dalam belajar matematika cukup beragam. 16
Pembelajaran Kooperatif NHT

Siswa yang memiliki kemampuan tinggi merasa bosan ketika guru memberikan penjelasan yang berulangulang, sedangkan siswa yang berkemampuan rendah semakin terlihat jenuh. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan peneliti ditemukan beberapa permasalahan dalam pembelajaran matematika di kelas VIII C, antara lain: 1. Minat belajar matematika sebagian besar siswa rendah. 2. Aktivitas individu maupun kelompok belum terlihat maksimal, masih banyak siswa yang lebih banyak diam menunggu hasil kerja temannya yang lebih pandai atau bahkan menyontek pekerjaan temannya. 3. Banyak tugas pekerjaaan rumah yang tidak dapat mereka selesaikan dengan alasan tidak bisa dan tidak ada dorongan belajar dari orang tuanya. 4. Diperlukan metode yang tepat untuk menumbuhkan minat dan aktivitas siswa. 5. Hasil belajar pada Ulangan harian sebelumnya rendah, hanya 60% siswa yang mampu mencapai dan melampaui nilai KKM (nilai ratarata KKM KD sebelumnya 65) Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar siswa dalam materi luas dan volum Bangun Ruang Sisi Datar (kubus, balok, prisma dan limas) menggunakan model pembelajaran tipe Numbered Heads Together (NHT). B. Pembahasan Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian, peneliti melakukan observasi awal dengan menganalisa hasil ulangan harian Kompetensi Dasar (KD) sebelumnya KD.5.1. dan KD. 5.2. yaitu khusus di kelas VIII C. Hasil observasi menunjukan bahwa prestasi

UPI Kampus Tasikmalaya

belajar matematika siswa masih tergolong rendah dan model pembelajaran yang digunakan dirasakan peneliti kurang tepat. Berikut rekapitulasi hasil ulangan siswa dan persentasenya : Tabel Perolehan nilai siswa pada KD 5.1 dan KD 5.2
Interva l Nilai 0 9 10 19 20 29 30 39 40 49 50 59 60 69 70 79 80 89 90 100 Jumlah Frekuensi 0 0 0 1 2 7 4 15 3 1 35 Persentase (%) 0 0 0 2,8 5,7 20 11,4 42,9 8,6 2,8 100

Dari tabel tersebut tampak bahwa hanya 19 orang yang sama atau lebih dari KKM atau hanya 54,3 % artinya masih jauh dibawah target keberhasilan klasikal yaitu 75 %. Pembelajaran KD tersebut perlu dilakukan remidial. Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti bersama observer memutuskan untuk mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan Luas dan Volum Bangun Ruang Sisi Datar Kompetensi Dasar 5.3. Menghitung Luas Permukaan dan Volum Kubus, Balok, Prisma dan Limas. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa terhadap materi Luas dan Volum Bangun Ruang Sisi Datar pada tanggal 12 April 2008 diadakan tes awal pada siswa kelas VIII C. Nilai tes awal dijadikan acuan untuk mengetahui peningkatan prestasi
Jurnal Saung Guru: Vol. II No. 2 Oktober (2011)

belajar matematika siswa kelas VIII C setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Soal-soal tes awal berupa materi yang berhubungan dengan pokok bahasan yang akan diajarkan dalam hal ini materi untuk soal tes awal adalah materi tentang, luas dan volum Bangun Ruang Sisi Datar beserta penerapannya. Perolehan nilai siswa pada tes awal untuk kompetensi dasar (KD) 5.3. Menghitung Luas Permukaan dan Volum Kubus, Balok, Prisma dan Limas, adalah nilai terendah 32 dan nilai tertinggi 70, nilai KKM pada KD ini 65, terdapat 6 siswa atau 17,1 % yang telah mencapai atau ketuntasan belajarnya masih dibawah target ketuntasan klasikal yaitu 75 % yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan akademik kelas VIII-C termasuk heterogen. Selama penelitian, peneliti dibantu oleh dua orang observer yaitu: O1, Kusman, S.Pd, guru Matematika SMPN 1 Sukarame. O2, Nurhaeni, S.Pd, guru Matematika SMPN 1 Sukarame. Memasuki kegiatan inti, peneliti melakukan pembagian kelompok sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT selama 10 menit. Kelompok yang terbentuk sebanyak 7 kelompok yang diberi nama kelompok A, B, C, D, E, F, dan G dan setiap kelompok terdiri dari 5 orang siswa yang heterogen. Kelompok tersebut sengaja disusun oleh peneliti agar sifat heterogenitas dalam kelompok berimbang. Setelah terbentuk kelompok dan siswa berada dalam kelompoknya masing-masing, peneliti menjelaskan materi tentang luas permukaan kubus dan balok, kemudian membagikan LKS 1.1 dan LKS 1.2 serta menjelaskan secara singkat cara kerja dalam LKS. Waktu yang diperlukan selama 15 menit. Peneliti dan siswa membuat kesimpulan 17

Cucu Sukmara .

tentang rumus luas permukaan kubus dan balok setelah seluruh kelompok menyelesaikan LKS. Peneliti memberi soal kuis I yang terdiri dari 5 nomor soal. Peneliti memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan soal dalam LKS tersebut selama 15 menit. Peneliti memantau siswa dan sesekali peneliti menegur siswa yang kedapatan bermain-main atau tidak aktif dalam diskusi kelompok. Selama proses ini berlangsung para siswa tidak ada yang bertanya kepada guru (peneliti) tentang hal-hal yang mereka tidak mengerti. Setelah 20 menit, peneliti menyuruh mengumpulkan lembar jawaban siswa secara kelompok. Kemudian peneliti secara acak memanggil nomor anggota siswa dalam kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Pada kesempatan ini guru memanggil siswa bernomor 3 untuk menyelesaikan soal nomor 3. Semua siswa yang bernomor 3 unjuk jari dan kemudian guru menunjuk perwakilan dari kelompok C. Tetapi siswa yang ditunjuk tersebut tidak mau ke depan, ia malah menunjuk teman yang lain dari kelompoknya. Setelah dibujuk akhirnya ia mau juga untuk mempresentasikan jawabannya. Karena jawaban siswa dari kelompok C sudah benar maka tidak ada sanggahan dari kelompok lain, kemudian peneliti melanjutkan ke nomor lain sampai selesai. Masingmasing kelompok diberi waktu 3 menit untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Setelah presentasi, hasil pekerjaan kelompok dan soal kuis dikumpulkan. Peneliti menyampaikan informasi bahwa hasil pekerjaan dan jawaban kuis individu akan dinilai dan diumumkan hasilnya pada pertemuan kedua, yang bernilai baik akan mendapat reward. Selanjutnya masuk pada kegiatan inti peneliti menyajikan materi tentang luas permukaan prisma. Kemudian 18
Pembelajaran Kooperatif NHT

peneliti menyuruh siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing dan membagikan LKS 1.3 serta menyiapkan alat peraga berupa jaringjaring prisma segitiga siku-siku dan menyuruh siswa menyelesaikan soalsoal yang ada dalam LKS. Selama siswa menyelesaikan soal dalam LKS peneliti memantau kerja dari tiap-tiap kelompok. Ada sebagian siswa yang merasa kesulitan menyelesaikan soal yang ada dalam LKS. Hal ini disebabkan siswa kurang memperhatikan penjelasan guru. Setelah siswa menyelesaikan soal dalam LKS peneliti secara acak memanggil nomor anggota siswa dalam kelompok untuk mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Pada tahap ini masih terjadi keributan dalam kelas namun tidak seperti pertemuan pertama, hanya sebagian siswa yang masih takut jika nomornya yang dipanggil maju ke depan kelas. Setiap siswa yang ditunjuk untuk mewakili kelompoknya maju ke depan kelas untuk mempresentasikan jawabannya walaupun jawaban mereka belum sepenuhnya benar tetapi mereka mulai termotivasi untuk lebih berani maju ke depan kelas. Seperti pada pertemuan pertama seluruh hasil pekerjaan baik kelompok maupun individu dikumpulkan untuk dinilai peneliti. Pada akhir pertemuan peneliti menutup pembelajaran dengan membimbing siswa merangkum materi yang telah dibahas. Peneliti memberikan beberapa soal untuk PR. Pada awal pertemuan ketiga, peneliti mengumumkan hasil penilaian pekerjaan pada pertemuan kedua, kemudian dilanjutkan dengan membahas PR yang dianggap sulit. Peneliti melanjutkan materi tentang rumus luas limas tegak. Para siswa disuruh bergabung sesuai dengan kelompok masing-masing. Pada kegiatan ini para siswa sudah mulai

UPI Kampus Tasikmalaya

terbiasa untuk belajar bersama dalam kelompoknya sehingga tidak terlalu lama mengambil waktu untuk berkumpul dalam kelompoknya. Peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran pada pertemuan ketiga ini kemudian dengan tanya jawab mengingatkan kembali tentang luas bangun datar dan luas kubus, balok dan prisma. Setiap kelompok diberi model limas dengan alas persegi yang telah disiapkan dan dapat dibuka menjadi jaring-jaring limas. LKS dibagikan kepada setiap kelompok untuk didiskusikan. Setelah pelaksanaan tindakan siklus I selama 3 kali pertemuan , diadakan evaluasi dengan tes seperti yang ada pada lampiran 4. Hasil tes siklus I menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan hasil tes awal yaitu dari 17% (6 orang) siswa memperoleh nilai 65 pada tes awal dan meningkat menjadi 68% (24 orang) siswa memperoleh nilai 65. Walaupun hasil tes siklus I menunjukkan peningkatan, tapi karena belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan pada siklus II. Data yang diperoleh dari siklus I adalah data dari nilai hasil tugas kelompok, tugas individu dan ulangan harian
35 25 15 5 -5 0- 9

berlangsung. Skor yang diperoleh kelompok pada tugas kelompok dapat dilihat pada tabel berikut. Skor tugas kelompok pada siklus 1 pertemuan ke-1 diperoleh skor ratarata 72,86 dengan skor tertinggi 90 dan skor terendah 60. Selanjutnya pada pertemuan ke-2 diperoleh rata-rata skor 75,71 dengan skor tertinggi 95 dan skor terendah 65. Setelah digabungkan antara skor tugas kelompok pertemuan ke-1 dan pertemuan ke-2 diperoleh skor ratarata 74,29 dengan skor tertinggi 92,5 dan skor terendah 62,5. Digambarkan dalam grafik batang sebagai berikut: Analisis terhadap observasi dijadikan sebagai bahan untuk menentukan tindakan selanjutnya. Setelah diadakan refleksi antara guru dan peneliti maka pada pertemuan selanjutnya guru harus: a) Memberi motivasi dan apersepsi kepada siswa sebelum memulai proses pembelajaran b) Memberi bimbingan kepada setiap kelompok yang mengalami kesulitan c) Mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario

Nilai Aw al Nilai Siklus I

10-19 20-29 30-3 4 9 0-49 50 -59 60-69 7 0-79 80-89 90-1 00

Tugas kelompok dilihat dari Lembar Kerja Siswa (LKS). Tugas ini dilaksanakan setiap pembelajaran
Jurnal Saung Guru: Vol. II No. 2 Oktober (2011)

pembelajaran dapat terlaksana Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi, pelaksanaan tindakan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan 19

Cucu Sukmara .

yang telah ditetapkan, sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II. Kelemahankelemahan dan kekurangankekurangan yang ada pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II adalah: 1. Guru harus memotivasi siswa agar siswa bersemangat dalam belajar serta guru harus memberikan apersepsi. 2. Guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. 3. Guru harus selalu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti. 4. Guru harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana. Selain hal-hal yang merupakan rencana perbaikan untuk tindakan siklus I, peneliti harus mempersiapkan juga scenario pembelajaran, lembar observasi untuk guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus II. Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan cara membagi pembilang dan penyebut dengan variabel pangkat tertinggi untuk memudahkan proses pencarian limitnya. Kemudian guru menyuruh siswa untuk bergabung dalam kelompoknya masing-masing. Setelah siswa berada dalam kelompoknya masing-masing guru membagikan LKS 2.1 dan meminta siswas ecara kelompok menyelesaikan soal-soal dalam LKS. Ada yang mengalami kesulitan dan siswa tersebut langsung bertanya kepada 20
Pembelajaran Kooperatif NHT

guru tentang kesulitannya. Guru memberikan bimbingan kepada kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal LKS. Kemudian guru memanggil secara acak nomor anggota siswa untuk menjawab atau mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Setelah persentasi selesai guru menyimpulkan jawaban siswa dengan memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi. Pertemuan kedua adalah lanjutan dari pertemuan sebelumnya. pertemuan guru membahas PR yang dianggap sulit oleh siswa dan menginformasikan kepada siswa model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kemudian guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar serta memberikan motivasi kepada siswa suapaya sering mengerjakan soal-soal latihan agar bisa berhasil dalam ujian. Masuk pada kegiatan inti guru menyajikan materi cara menentukan limit suku banyak dan menjelaskan teorema-teorema limit. Kemudian guru menyuruh siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing. Setelah berada dalam kelompoknya guru membagikan LKS 2.2 dan meminta siswa menyelesaikan soal-soal dalam LKS. Selama siswa menyelesaikan soal dalam LKS guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok, sesekali keluar ruangan dan mengobrol dengan peneliti. Ternyata ada soal yang mereka anggap sulit dan langsung bertanya kepada gurunya. Guru kemudian menjelaskannya. Setelah semua siswa telah menyelesaikan soal yang diberikan, guru secara acak memanggil nomor anggota siswa dalam kelompok untuk menjawab atau mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Siswa sudah tidak lagi ketika nomor anggotanya terpanggil. Siswa sudah mampu persentasi walaupun hasilnya belum terlalu

UPI Kampus Tasikmalaya

bagus. Selanjutnya guru menyimpulkan jawaban siswa dan memberikan penghargaan berupa tepuk tangan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi. Selanjutnya guru membimbing siswa untuk merangkum materi yang telah dibahas kemudian guru memberikan PR sebanyak 2 nomor dan selanjutnya mengakhiri pembelajaran. Secara umum pada pelaksanaan tindakan siklus II ini telah ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini terlihat pada hasil observasi guru dan siswa. Hasil observasi terhadap guru menunjukkan bahwa : 1. Guru selalu menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. 2. Guru sudah bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. 3. Guru memberikan bantuan/bimbingan kepada kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dalam LKS dan memberikan penghargaan kepada kelompok /siswa yang menjawab dengan benar. 4. Guru sudah dapat melaksanakan hampir semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran pada siklus II. Hasil observasi terhadap siswa menunjukkan bahwa : 1. Siswa memperhatikan dengan baik penjelasan guru 2. Sebagian siswa sudah berani menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan. Setelah 2 kali pertemuan yang membahas materi mengenai limit fungsidi suatu titik, kembali diadakan evaluasi untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika siswa. Soal tes tindakan siklus II selengkapJurnal Saung Guru: Vol. II No. 2 Oktober (2011)

nya terdapat pada lampiran 4. Hasil tes siklus II menunjukkan peningkatan prestasi belajar matematika siswa dibandingkan dengan siklus I yaitudari 68% (24 orang) siswa yang telah memperoleh nilai 65 pada siklus I meningkat menjadi 80% (28 orang) siswa telah memperoleh nilai 65 pada siklus II. Dari hasil tes siklus II, walaupun menunjukkan peningkatan yang cukup baik dan melebihi 21ndicator keberhasilan maka peneliti memutuskan penelitian hanya sampai siklus II. Data Hasil ringkasan Siklus II Pertemuan Uraian x 1 2 TK 77.64 76.91 77.28 TI 76.91 78.38 77.65 74.70 UH Rata-Rata 76,54 Peningkatan hasil belajar Matematika siswa kelas VIII C SMP Negeri I Sukarame Kabupaten Tasikmalaya melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada materi pembelajaran pemecahan masalah luas Bangun Ruang Sisi Datar dilihat dari hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang disajikan dalam LKS, tugas kelompok dan ulangan harian. Kesulitan yang dihadapi beberapa siswa dalam menyelesaikan soal-soal adalah masih ada siswa yang merasa kesulitan dalam menerjemahkan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa masih belum memahami model pembelajaran kooperatif tipe NHT, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan LKS, penggunaan waktu dalam KBM belum optimal, aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung belum optimal. Aktivitas siswa dalam berdiskusi sudah mulai nampak tapi masih ada siswa yang mengobrol, kesulitan siswa dalam mengerjakan soal-soal yang satuannya sudah diubah ke satuan lain, 21

Cucu Sukmara .

penggunaan waktu dalam kegiatan pembelajaran masih belum sesuai dengan waktu yang ditentukan, masih ada siswa yang malu dalam menjawab pertanyaan, apalagi dalam menyelesaikan perhitungan dengan alasan takut salah. Sehingga guru harus selalu mengarahkan siswa dalam berdiskusi, pengelolaan waktu dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan waktu yang tersedia, guru memotivasi kepada siswa untuk berani tampil di depan kelas Model pembelajaran kooperatif tipe NHT mengharapkan pembelajaran lebih berpusat pada siswa sehingga peran guru dalam pembelajaran di kelas berkurang. Jika dilihat dari tindakan pembelajaran siklus I dan siklus II aktivitas berdiskusi antar siswa dan aktivitas mengerjakan soalsoal LKS , serta aktivitas mengemukakan pendapat meningkat dibandingkan aktivitas bertanya pada guru. Kondisi ini telah sesuai dengan prosedur model pembelajaran koopertif tipe NHT yang mengarahkan siswa menjadi lebih aktif dan guru tidak mendomonasi kegiatan pembelajaran. Respon siswa merupakan tanggapan dari siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Hal ini ditunjukkan dari hasil respon siswa pada pernyataan 3 bahwa sebagian besar siswa senang belajar Matematika dan menyukai pelajaran Matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT, pembelajaran ini membeantu pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Sebagian besar siswa senang belajar kelompok karena dengan berkelompok siswa dapat belajar kerjasama juga dapat memupuk kebersamaan antar siswa, sehingga siswa yang pandai dapat membantu siswa yang lemah. Jadi dengan adanya pembelajaran model koperatif tipe NHT, minat siswa untuk belajar lebih 22

tinggi sehingga diharapkan meningkatkan hasil belajarnya. C. Kesimpulan dan saran

dapat

Dari analisis data secara kuantitatif hasil penelitian yang dilakukan di kelas VIII-D SMP Negeri 1 Sukarame, ternyata metode NHT yang digunakan pada pembelajaran pemecahan masalah luas Bangun Ruang Sisi Datar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan keberhasilan strategi pembelajaran metode NHT dalam pemecahan masalah luas Bangun Ruang Sisi Datar, disarankan agar para guru yang mengajar Matematika dapat menerapkan metode ini dalam kegiatan pembelajarannya. D. Daftar Rujukan Adi Suarman Situmorang, 2006. Penggunaan Media Pendidikan pada Pengajaran Matematika di Sekolah Menengah. Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains. Vol 1 No 3. September 2006. www.depdikas.go.id. Akses: 20 Juli 2008

Amirul Hadi, 2005. Teknik Mengajar Secara Sistematis. Edisi Terjemahan. Jakarta; PT. Rineka Cipta. Judul Asli: Establishing Instructional Gools & Systematic Instruction. Pengarang: W. James Popham & Eva L. Baker. Hudojo, Herman, 1990. Mengajar Belajar Matematika. Malang : IKIP Malang. Ibrahim, M, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya University Press. Ismail, 2002. Model-model Pembelajaran. Jakarta : Direktorat

Pembelajaran Kooperatif NHT

UPI Kampus Tasikmalaya

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Moh Uzer Usman, 2005. Menjadi Guru Profesional. Edisi Kedua. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Lie, 2002. Cooperative Jakarta : PT Grasindo. Learning.

Pasaribu, I. L. dan Simandjuntak, B. 1983. Proses Belajar Mengajar Edisi II. Bandung : Tarsito. Ruseffendi, E.T. 1980. Pengajaran Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG. Bandung : Tarsito. Sardiman, A. M. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru. Tasikmalaya : Rajawali Press. Slameto, 1995. Belajar dan FaktorFaktor Yang Mempengaruhinya. Bandung : Rineka Cipta. Sudjana, N. 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Suharsimi Arikunto, 1996. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Bineka Cipta
Biodata Singkat: Penulis adalah guru SMPN 1 Suarame Kabupaten Ttasikmalaya dan pengurus PGRI Kabupaten Tasikmalaya.

Jurnal Saung Guru: Vol. II No. 2 Oktober (2011)

23