Anda di halaman 1dari 5

NAMA NIM

: BIMO ABDI NUGROHO : F0208148

KELAS : MANAJEMEN C ISLAM DAN FAHAMAN PLURALISME AGAMA

Melalui AI Quran kita tahu bahwa Islam adalah (agama) kebenaran dari Tuhan (AI Baqarah/2:147); Islam adalah satu-satunya agama yang diridai Tuhan (Ali Imran/3:19); Islam adalah agama lurus, petunjuk jalan hidup manusia (AI Anam/6:153). Meskipun begitu Tuhan masih memberi hak bagi orang lain untuk tidak beriman (dalam Islam): Dan jikalau Tuhanmu mengendaki, tenlulah beriman semua arang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya (Yunus/10:99). Dan karena itu pula Islam hadir bukan untuk menghancurkan agama lain. Islam bahkan secara penuh menjamin kemerdekaan beragama: Tidak ada paksaan (memasuki) agama (Islam) (AI Baqarah/2:256) Untukmu agamamu dan unlukku agamaku (Al Kafirun/109:6).

Kita hidup dalam pluralisme agama. Suka atau tidak realitas pluralistis memang menjadi wahana dan wacana bagi kehidupan keberagamaan kita. Belajar dari agama islam, realitas pluralistis ini, secara revelativ dinyatakan dalam al quran, kami telah menciptakan kamu semua dari satu pria dan satu wanita, dan menjadikan kamu bebagai bangsa dan suku, supaya kamu saling mengenal realitas yang sama juga ditegaskan al quran bagimu agamamu dan bagiku agamaku secara hermeneutik pewahyuan al quran tersebut bukan saja menunjukan realitas pluralistik, tetapi juga memberikan perpektif bagi pengenalan unsur-unsur pluralisme. Ironisnya kehidupan sosial keagamaan era modern sekarang ini di tandai oleh semakin seringnya pertentangan bentrok kultural, sosial, etnis dan agama yang melibatkan masyarakat sipil seperti yang tejadi di aceh, maluku, poso, dan militer yang terjadi di irak saat ini. hal ini menambah alasan betapa pentingnya lebih dari tahun- tahun sebelumnya untuk menambah, mengembangkan dan memperkaya intensitas saling tukar menukar pengetahuan yang dapat dipercaya tentang berbagai agama (aspek doktrin ) dan kehidupan sosial keagamaan (aspek empiris historiss). Proses perdamaian antar umat beragama di daerah daerah rawan konflk agama, haruslah

NAMA NIM

: BIMO ABDI NUGROHO : F0208148

KELAS : MANAJEMEN C dibaca dalam terang hidup bersama yang mengedepankan sikap salng mengerti, saling memahami, menerima. itulah esensi dari sebuah toleransi akar dari segala dialog kerja sama, dan pengembangan forum-forum keagamaan kita. Tanpa landasan sikap toleran antar umat beragama, tak mumgkinlah dialog dan kerja sama terjadi. Pengembangan toleransi antar umat beragama sungguh dapat menjadi obat penyembuh bagi luka-luka batin akibat konflk yang terjadi di masa lalu. Tidak bisa dipungkiri bahwa luka luka lama akibat konflik yang pernah terjadi, akan menjadi tanah subur bagi benih-benih sikap saling tidak percaya. pada giliranya akan dengan mudah mengobarkan dendam dan menyalakan konflik baru yang lebih sulit untuk dipadamkan dan diselesaikan.oleh karena itu semua pihak harus menyadari bagaimana menyikapi adanya pluralitas aganma ini yang sangat rawan sekali menimbulkan konflik.maka makalah ini akan membahas bagaimana sikap kita seharusnya menyikap adanya pluralitas agama agar bisa mengurangi ketegangan-ketegangan antar agama. Sikap menyadari pluralitas agama pada giliranya nanti diharapkan dapat membuat setiap umat beragama semakin sadar akan identitas keagamaan dan keimananya dalam semangat keterbukaan, penghargaan dan penghormatan agama serta iman orang lain.dalam kontek hidup bernegara dan bebangsa dan di indonesia.sikap menyadari pluralitas agama akan membuat setiap penganut agama dapat menghayati dan mengalami isi undang-undang negara kita yang menyatakan bahwa di negri ini orang memiliki kebebasan beragama. Bebeas beagama berarti bebas dalam memiliki termasuk pindah dari satu agama ke agama lain sesuai dengan kebenaran dan keyakinan yang ditemukan. Berkenaan dengan inilah perlu adanya sikap yang baik untuk mensikapi adanya beberapa agama yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, yaitu ada beberapa sikap yang antara lain 1.inklusif(sikap terbuka) Setiap pemeluk agama menyakini bahwa agamanya merupakan jalan kebenaran dan pada waktu itu yang sama menolak kebenaran agama lain. Jika ia menyakini kebenaran agamanya sekaligus kebenaran agama lainnya, berarti keimanannya tidak sempurna. Begitu juga sebaliknya, pemeluk agama lain menyakini agamanya sendiri sebagai jalan kebenaran dan

NAMA NIM

: BIMO ABDI NUGROHO : F0208148

KELAS : MANAJEMEN C menolak keberaran agama lainnya.Agama menjadi benar dimata penganutnya, dan menjadi salah menurut agama lainnya (other religions). Dalam konteks ini, dapat dikatakan memimjan istilah Sayyed Hossein Nasragama relatively absolut atau sebaliknya, absolutly relative. Ini adalah watak alami yang ada pada setiap agama dan tidak bisa diubah. 2.Relatif Keyakinan para pemeliuk agama yang menganggap bahwa agamanya lah yang paling benar dan menganggap agama lain salah ini ketika dalam kontek didalam kehidupan sosial ataupun bermasyarakat akan sangat rawan sekali menimbulkan konflik,oleh karena itu setiap seseorang dalam kontek sosial harus menganggap agama bersifat relatif dalam artian tidak menganggap agama orang lain salah dalam wilayah publik, meskipun dalam wilayah personal harus mempunyai keyakinan agama yang dianut adalah agama yang benar.

Menganggap kebenaran agama bersifat relatif dalam wilayah personal memang tidak diperbolehkan agama karena hal ini akan menyebabkan rusaknya keimanan seseorang di dalam meyakini agama itu sendiri.untuk itu agama bersifat relatif itu hanya berlaku dalam kehidupan social bermasyarakat. 3.Pluralistik Kurangnya pemahaman tentang pluralisme agama membuat istilah ini menjadi kontroversi dikalangan umat islam.dalam fatwa MUI pluralisme merupakan paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama, artinya kebenaran setiap agama adalah relatif.akan tetapi hal ini dimaknai dalam kontek sosial maupun personal.dengan definisi seperti ini banyak sekali yang menentangnya dikalangan umat islam sendiri. Kesalahanya ialah menyamakan definisi pluralisme dengan relativisme. Seperti diketahui, pluralisme bukanlah relativisme. Pluralisme keagamaan merupakan sikap yang menghargai pluralitas keyakinan agama orang lain sebagai bagian yang asasi yang inheren dalam diri manusia, tanpa mengakui kebenaran agama lain dalam wilayah personal. pluralisme yang seperti itulah yang harus

NAMA NIM

: BIMO ABDI NUGROHO : F0208148

KELAS : MANAJEMEN C diwujudkan.tanpa adanya pemahaman pluralitas yang benar . maka akibatnya seseorang akan terkurung dalam semangat fanatisme sempit. 4.toleransi Toleransi merupakan keseluruhan aspek dalam bersikap. Oleh karenaya, perlu adanya pemahaman baru terhadap agama, Pemahaman yang terbuka terhadap kritik dan berbagai analisa, pemahaman yang selalu gerak dan dinamis sesuai dengan perubahan zaman. Karena tanpa itu semua, kita akan sulit bersikap toleran terhadap agama lain, bahkan kadang-kadang menghargai perbedaan pendapat dikalangan internalnya saja sulit. Sehingga perlu ditekankan pentinya memahami aspek ruang dan waktu untuk memperoleh pemahaman keagamaan yang tepat.karena pemahaman keagamaan secara subjektif sering melupakan aspek objektivitasnya.Tanpa memahami aspek tersebut manusia beragama hanya akan disibukkan dan terbelenggu oleh kepentingan subjektif. Agama akan berubah menjadi ideologi subjektif, yang a khirnya akan melahirkan pola berpikir keagamaan yang bersifat eksklusif.model pemahaman ini tidak akan memunculkan sikap toleransi agama. 5.ReligiousLiteracy Satu tantangan terpenting dari kehidupan pluralisme agama untuk saling mengenal satu terhadap yang lain adalah mengembangkan sikap religious literacy. Yang dimakasud religious literacy adalah sikap terbuka terhadap dan mengenal nilai nilai dalam agama lain. Singkatnya religious literacy adalah sikap mengenak agama lain. Dengan mengenal agama lain orang bisa sungguh mengenal, saling menghormati dan menghargai , saling bergandengan, saling memperkembangkan, dan memperkaya kehidupan dalam sebuah persaudaraan sejati antar umat beragama, apapun agamanya.

NAMA NIM KELAS

: BIMO ABDI NUGROHO : F0208148 : MANAJEMEN C

LAMPIRAN