Anda di halaman 1dari 16

TUGAS NTT TINJAUAN TERHADAP KESEMPATAN, KENDALA DAN PILIHAN UNTUK MENINGKATKAN EKONOMI SERTA MENGURANGI KEMISKINAN DAN

GIZI BURUK DI NUSA TENGGARA TIMUR

Oleh : Duroh Nursyamsi Haleda (10/299383/SA/15345)

JURUSAN ANTROPOLOGI BUDAYA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA 2012

Abstrak
Makalah ini merupakan kumpulan kunci utama yang timbul dalam presentasi dan diskusi pada lokakarya serta penjabaran terhadap pelajaran penting yang dapat diambil untuk sukses masa depan program pembangunan desa terpadu demi peningkatan mata pencaharian di Nusa Tenggara Timur. Peningkatan program untuk pembangunan desa terpadu yang disepakati oleh peserta lokakarya telah pula di sampaikan. Telah disepakati bersama bahwa semestinya program tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan.Makalah ini juga melaporkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh peserta lokakarya terhadap kesempatan untuk pembangunan pedesaan secara terpadu serta kunci kendalanya. Kendala-kendala tersebut dibedakan sesuai dengan tingkat kemampuan terhadap perubahan melalui proyek pembangunan desa di NTT dengan terpadu. Garis besar dalam makalah ini adalah kesepakatan dalam rencana pelaksanaan untuk mengembangkan hasil dari lokakarya dan strategi dalam mempersiapkan pembangunan Propinsi NTT terpadu dengan sukses. Kondisi kehidupan yang sangat terbatas menyebabkan orang miskin tidak mampu memenuhi kebutuhannya yang bersifat pokok, seperti pangan, sandang, dan papan. Dengan kata lain, sebagian penyandang kemiskinan dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan menyebabkan untuk

mempertahankan

kelangsungan

hidupnya.

Keterbatasan

penyandang

kemiskinan senantiasa berada dalam keadaan statis, sesuai dengan arti asal dari miskin yaitu diam. Mereka tidak memiliki biaya yang cukup untuk memperoleh pendidikan dan keterampilan. Mereka terbelenggu dalam kebodohan sehingga sulit untuk mengangkat harkat hidupnya.

Keyword : Kemiskinan.

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah termiskin di

Indonesia. Kemiskinan dan ketertinggalan di provinsi yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan Australia ini telah lama menjadi perhatian banyak pihak. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah NTT, serta berbagai lembaga donor dan lembaga swadaya masyarakat lokal maupun internasional telah melakukan upaya-upaya untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT. Namun, perekonomian dan kesejahteraan masyarakat NTT masih tertinggal dibandingkan rata-rata nasional. Berbagai program strategis telah dikembangkan dan diimplementasi oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga non-pemerintah untuk mengatasi problema kemiskinan tersebut. Salah satu diantaranya adalah penyediaan layanan keuangan mikro (LKM) yang seringkali direduksi cakupannya menjadi mikro kredit saja. Pelayanan keuangan mikro sesungguhnya memiliki lingkup yang lebih luas dari mikro kredit, dan diyakini sebagai suatu strategi kunci yang dapat membantu masyarakat keluar dari kemiskinan. Di Indonesia, beberapa pelayananan keuangan mikro (micro finance) dinilai telah berhasil mengatasi atau setidaknya mereduksi masalah kemiskinan. Diantaranya adalah pelayanan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Desa (Robinson, 2006), kredit mikro yang disediakan oleh Proyek Peningkatan Pendapatan Petani-Nelayan Kecil (P4K), serta pelayanan keuangan mikro oleh Bank Purba di Semarang dan Mitra Karya di Jawa Timur (Seibel dan Parhusip, 1997). Meskipun pelayanan keuangan mikro telah menunjukkan Walaupun demikian, di samping kecenderungan penurunan jumlah penduduk miskin di NTT, beberapa indeks dan indikator yang telah dikembangkan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) juga memperlihatkan kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan dan kesehatan. Di bidang pendidikan, kemajuan dapat dilihat dari peningkatan proporsi penduduk usia dewasa yang bisa membaca dan menulis dan rata-rata lama sekolah. Kemajuan di bidang kesehatan dapat dilihat dari peningkatan angka harapan hidup dan akses terhadap sarana kesehatan. Meskipun beberapa indikator tersebut menunjukkan adanya kemajuan, provinsi ini masih menghadapi tantangan yang berat karena secara umum pencapaian tersebut masih di bawah rata-rata nasional. Lebih dari itu, penurunan angka

kemiskinan cenderung melambat dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, beberapa indikator juga menunjukkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat, akses kepada air bersih, dan kondisi gizi anak berumur lima tahun ke bawah (balita) dalam periode 1999-2002 (BPS et al 2001, 2004). Kesejahteraan masyarakat mempunyai hubungan yang erat dengan pertahanan negara. Pertahanan negara merupakan faktor hakiki dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Tanpa mampu mempertahankan diri dari ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri, suatu negara tidak akan dapat mempertahankan keberadaannya. Pertahanan negara akan terbangun kuat salah satunya adalah apabila masyarakatnya sejahtera, karena kesejahteraan menjadi tolok ukur kemampuan negara untuk membangun sistem

pertahanannya termasuk meningkatkan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Disamping itu masyarakat yang sejahtera dapat dijadikan sebagai komponen cadangan dan komponen pendukung yang handal dalam Sistem Pertahanan Semesta. Dengan melihat realita kondisi wilayah perbatasan Indonesia khususnya di perbatasan Provinsi NTT dimana saat ini secara ekonomi masyarakatnya masih jauh tertinggal karena minimnya sarana kesehatan, pendidikan, jaringan komunikasi dan informasi serta lemahnya pemberdayaan ekonomi kawasan perbatasan sehingga secara umum tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah dan masih terisolasi dari arus transportasi dan informasi. Hal tersebut perlu menjadi perhatian serius mengingat secara geostrategis wilayah perbatasan darat NTT (RI) dengan Timor Leste mempunyai peranan penting dari aspek

Ipoleksosbudhankam. Di samping itu sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yang notabene masih baru tentunya akan sangat ironi apabila mereka lebih sejahtera dan lebih maju pembangunannya dari pada kita yang telah merdeka lebih dari setengah abad lalu, apabila ini terjadi akan sangat berdampak pada rasa nasionalisme masyarakat dan ketahanan nasional di kawasan perbatasan NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste yang bisa mengancam kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI. Untuk itulah perlu strategi khusus dalam pembangunan wilayah perbatasan NTT guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengangkat citra RI di mata Internasional yang dicerminkan dari kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut yang sekaligus guna mendukung kepentingan pertahanan negara yang kuat di wilayah perbatasan.

2.

Rumusan masalah 1. Masalah dan tantangan pengelolaan LKM di Nusa Tenggara Timur untuk menanggulangi kemiskinan ? 2. Dampak Kemiskinan dan Gizi Buruk Masyarakat Miskin Nusa Tenggara Timur dan cara meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya ? 3. Bagaimana kondisi Nusa Tenggara Timur ditinjau dari aspek kondisi sosial ?

3.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuo dampak dampak di NTT mengenai

Kemiskinan dan pengaruh gizi yang buruk serta kondisi sosial yang dinilai dari berbagai aspek kehidupan.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Kemiskinan "Kami malu disebut miskin dan tidak mau dikatakan miskin terus-menerus, tetapi

fakta memang terjadi demikian, sehingga harus diterima sebagai sebuah kenyataan," kata Gubernur Lebu Raya di Kupang, Senin (4/7). Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya mengatakan, kecuali Kota Kupang, sebanyak 20 kabupaten di wilayah kepulauan ini masuk dalam kategori tertinggal dengan penduduk miskin. (nttonline 4 Juli 2011). Itulah sepenggal kalimat pernyataan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Reburaya, yang penulis kutip dalam pemberitaan media nttonline beberapa waktu lalu. Tentu data dan fakta yang diungkapkan pemimpin di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini sangat mencengangkan sekaligus menyedihkan, betapa tidak fakta ini menunjukkan semakin meredupnya kehidupan masyarakat NTT saat ini. Kondisi kemiskinan yang merundung warga NTT dari tahun ke tahun, dari masa ke masa dan dari periode kemimpinan ke periode kepemimpinan berikutnya, masih saja terjadi hingga berlangsung secara turun-temurun. Kemiskinan yang merupakan indikator ketertinggalan masyarakat pesisir ini disebabkan paling tidak oleh tiga hal utama, yaitu kemiskinan struktural, kemiskinan superstruktural, dan kemiskinan kultural. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena pengaruh faktor di luar individu. Variabel-variabel tersebut adalah struktur sosial ekonomi masyarakat, ketersediaan insentif atau disinsentif pembangunan, ketersediaan fasilitas pembangunan, ketersediaan teknologi, dan ketersediaan sumberdaya pembangunan khususnya sumberdaya alam. Hubungan antara variabel-variabel ini dengan kemiskinan umumnya bersifat terbalik. Artinya semakin tinggi intensitas, volume dan kualitas variabel-variabel ini maka kemiskinan semakin berkurang. Khusus untuk variabel struktur sosial ekonomi, hubungannya dengan kemiskinan lebih sulit ditentukan. Yang jelas bahwa keadaan sosial ekonomi masyarakat yang terjadi di sekitar atau di lingkup nelayan menentukan kemiskinan dan kesejahteraan mereka. Kemiskinan super-struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena

variabelvariabel kebijakan makro yang tidak begitu kuat berpihak pada pembangunan nelayan. Variabelvariabel superstruktur tersebut diantaranya adanya kebijakan fiskal,

kebijakan moneter, ketersediaan hukum dan perundang-undangan, kebijakan pemerintahan yang diimplementasikan dalam proyek dan program pembangunan. Kemiskinan superstruktural ini sangat sulit diatasi bila saja tidak disertai keinginan dan kemauan secara tulus dari pemerintah untuk mengatasinya. Kesulitan tersebut juga disebabkan karena kompetisi antar sektor, antar daerah, serta antar institusi yang membuat sehingga adanya ketimpangan dan kesenjangan pembangunan. Kemiskinan super-struktural ini hanya bisa diatasi apabila pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah, memiliki komitmen khusus dalam bentuk tindakan-tindakan yang bias bagi kepentingan masyarakat miskin. Dengan kata lain affirmative actions, perlu dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang disebabkan karena variabel-variabel yang melekat, inheren, dan menjadi gaya hidup tertentu. Akibatnya sulit untuk individu bersangkutan keluar dari kemiskinan itu karena tidak disadari atau tidak diketahui oleh individu yang bersangkutan. Variabel-variabel penyebab kemiskinan kultural adalah tingkat pendidikan, pengetahuan, adat, budaya, kepercayaan, kesetiaan pada pandangan-pandangan tertentu, serta ketaatan pada panutan

BAB III PEMBAHASAN


Sudah banyak lembaga baik pemerintah maupun non-pemerintah, formal ataupun nonformal terlibat dalam pengelolaan LKM melalui sejumlah program ataupun bentuk kegiatan LKM yang juga terus berkembang. Namun, tidak semua program tersebut berhasil dalam membantu masyarakat miskin mengatasi persoalan ekonominya. Permasalahan tampaknya terjadi pada tataran disain dan kebijakan program, besaran pinjaman, dan akses yang dapat diuraikan sebagai berikut. LKM yang dikelola oleh lembaga formal, khususnya perbankan tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh seluruh keluarga miskin. Hal ini karena adanya kewajiban memiliki agunan dan kelayakan usaha dalam pemberian kredit. Bentuk agunan yang dipersyaratkan lembaga formal (aset, sertifikat tanah, dsb) umumnya tidak dimiliki masyarkat miskin yang mayoritas petani. LKM yang dipraktekkan di Indonesia, khususnya di NTT masih didominasi oleh kegiatan pemberian kredit/pinjaman, dan sangat sedikit yang memperhatikan aspek kebutuhan ekonomi lainnya seperti tabungan dan asuransi. Jumlah kredit yang dibutuhkan masyarakat miskin umumnya dalam skala kecil tidak terakomodir dalam skema kredit sebagian besar perbankan dan Pelayanan keuangan mikro lebih banyak dikaitkan dengan tambahan modal usaha akan tetapi masyarakat miskin seringkali mengajukan kredit pinjaman bukan untuk tambahan modal tetapi sebagai upaya untuk mengatasi pengeluaran-pengeluaran non-usaha.

Selanjutnya dampak kemiskinan dan Gizi Buruk Masyarakat Miskin Nusa Tenggara Timur yang sangat mengkhawatirka dibandinhkan propinsi di Indonesia yang lainnya. NTT mungkin paling tepat diplesetkan dengan, Nusa Tetap Tertinggal, Nusa Tetap Terbelakang, Nusa Tetap Terkorup dan akhirya Nusa Tetap Termiskin. Kemisikinan menjadi potret hidup masyarakat. Di sini, ada tiga hal yang menjadi faktor utama: pertama, rendahnya pendapatan perkapita masyarakat yang menimbulkan adanya kesulitan-kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan yang baik untuk kesehatan hidup. kedua, kemiskinan di NTT yang merampas kesempatana akan masa depan anak-anak NTT untuk mencapai suatu masa depan yang baik adalah hasil dari proses yang sistemik dan struktural.

Di sini, ada sebuah perbedaan kelas yang sangat besara antara orang kaya dan miskin. Yang kaya tetap terus menjadi kaya dan yang miskin dimiskinkan. Menatalitas untuk memperkaya diri, menjadi trend birokrat, bahkan DPR ( Dewan Perampok Rakyat ), dan badan yang berwenang lain di NTT. Mentalitas seperti ini menambah situasi menjadi lebih buruk. Pembangunan diartikan sebagai upaya golongan elite untuk mengkader generasi muda dalam birokrasi dan DPR sebagai generasi tukang korup. ketiga, kemiskinan masyarakat NTT juga bersumber pada faktor kultural. Secara lugas kita dapat menjelas situasi ini sebagai berikut. Kondisi masyarakat NTT, semakin diperburuk oleh adat istiadat. Misalkan saja, kalau orang memotong ayam atau binatang lain untuk dimakan, yang pertama mendapat jatah yang terbaik adalah orang tua( dalam hal ini suami yang diutamakan ) dari pada anak- anak, padahal anakanak membutuhkan gizi untuk bertumbuh secara lebih sehat. Kultur seperti ini dapat juga dapat dilihat dalam kebijakan pemerintah untuk memaksakan penduduk di NTT untuk mengkonsumsi beras, dan kalau orang makan sagu atau jagung seolah-olah mereka warga kelas dua. Padahal tanah di NTT tidak hanya cocok untuk ditanami padi., tapi untuk ditanami jagung dan sagu. Ini juga merupakan bentuk pemiskinan.( Baca Tempointeraktif 04.09.2007 ) Potret kehidupan masyarakat kecil NTT yang miskin ini, membuat mereka tergilas dari roda zaman. Anak-anak miskin menjadi hilang harapan untuk mencapai taraf hidup di masa depan yang lebih baik. Lebih tragis lagi kemiskinan inilah juga menjadi penyebab masalah gizi buruk. Di sini, makin kecil pendapatan penduduk miskin untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sehat, makin tinggi presentase anak yang kurang gizi. Di sisi lain, makin tinggi pendapat masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sehat, makin kecil presentase anak yang menderita gizi buruk. Potret buram masyarakat kecil dan miskin di NTT menyebabkan banyak anak-anak yang kurang cerdas. Di sini hubungan bersifat timbal balik, kurang gizi berpotensi besar sebagai penyebab kemiskinan dan rendahnya tingkat kesehatan anak-anak. Dengan demikian, akan mempengaruhi secara langsung rendahnya potensi sumber daya manusia, melalui rendahnya pendidikan dan produktivitas. Di sini, apa bila masalah gizi anak dianggap sepele, taruhannyan adalah masa depan anak sebagai generasi penerus NTT yang memeiliki kecerdasan di bawah rata-rata atau menghasilkan generasi NTT yang idiot.

Dan kondisi Nusa Tenggara Timur ditinjau dari aspek kondisi sosial sangatlah berbeda jauh dengan kondisi ekonomi di kota kota besar seperti dijawa dan sumatra. Ada beberapa aspek yang penting untuk ditinjau. Yaitu a. Aspek Ideologi Kerawanan NTT yang berbatasan darat secara langsung dengan negara tetangga Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL) adalah pengaruh ideologi negara tetangga. Tetapi sampai dengan saat ini Pancasila sebagai ideologi NKRI masih menjadi faham kehidupan masyarakat NTT, walupun dalam pengamalannya belum diimplementasikan secara baik, terbukti dengan masih sering terjadinya perkelahian antar etnis, konflik politik dan kesejahteraan yang belum terwujud dengan baik. Para pejabat daerah dilingkungan eksekutif, legilatif maupun yudikatif juga belum sepenuhnya dapat memberikan tauladan bagi masyarakat tentang pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. b. Aspek Ekonomi Kondisi ekonomi masyarakat di perbatasan NTT masih tertinggal dibandingkan daerah lain yang mengakibatkan rendahnya tingkat kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat daerah perbatasan hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya jumlah penduduk miskin dan desa tertinggal. Hal tersebut disebabkan antara lain karena infrastruktur jalan yang kondisinya tidak bagus sehingga menghambat laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan, kebutuhan hidup masyarakat sebagian besar masih tergantung dari luar sehingga mengakibatkan biaya hidup cukup tinggi dibanding daerah lain. Kerawanan lain di perbatasan NTT RDTL yaitu adanya interaksi sosial ekonomi yang bersifat ilegal masyarakat daerah perbatasan NTT dengan masyarakat negara tetangga setempat yang dapat berdampak negatif bagi pengamanan daerah perbatasan dan rasa nasionalisme. Karena saling ketergantungan di bidang ekonomi tidak jarang daerah perbatasan digunakan sebagai pintu masuk berbagai kegiatan ilegal. c. Aspek Sosial dan Budaya Daerah perbatasan secara umum masih tertinggal, tingkat kehidupan dan pendidikan pada umumnya masih rendah, hal ini disebabkan oleh :

Sektor Kesehatan. Sarana kesehatan yang tersedia masih terbatas. Sektor Pendidikan. Sistem penyelenggaraan pendidikan di daerah masih tertinggal bila dibandingkan dengan daerah perkotaan.

Sektor agama. Kehidupan umat beragama cukup baik, kerukunan antar agama dan antar umat beragama cukup harmonis.

Sektor lapangan kerja. Lapangan pekerjaan yang tersedia masih sangat terbatas dan Akses terhadap informasi yang terbatas karena belum terdukung sarana dan prasarana telekomunikasi dan informasi yang memadai

BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN Salah satu cara untuk mengurangi gizi buruk dan kemiskinan antara lain Keberpihakan Pada Upaya peningkatan Kesehatan Masyarakat. Karena Masalah Gizi buruk yang dihadapi oleh masyarakat seperti yang terjadi di Kefamenanu akan menjadi sebuah ancaman serius bila tak segera diatasi secara bijak. Di tengah hiruk pikuk proses pemekaran daerah atau pembentukan kabupaten baru, ditengah rencana pembentukan provinsi Flores atau ditengah perang dingin dalam rangka memilih kepala wilayah baru, masalah gizi buruk dan kemiskinan ini harus segera menjadi agenda bersama yang perlu ditindaklanjuti secara nyata. Dalam arti bahwa, persoalan ini tidak hanya menjadi konsumsi politik pihak-pihak yang memiliki target politis tertentu. Di sini, masalah gizi buruk dan kemiskinan ini adalah sebuah problem kemanusiaan yang berdampak pada kemajuan daerah NTT. Kalau kita jujur berkaca pada potret buram ini, sebenarnya gizi buruk dan kemiskinan menunjukkan secara jelas, bahwa pembangungan dan pertumbuhan ekonomi yang kita raih sekarang ini tidak untuk semua orang NTT. Dalam arti belum bisa dinikmati oleh seluruh rakyat NTT. Dengan demikian, pemerintah NTT di sini mempertanyakan diri, sejauh mana usaha pemerintah NTT untuk meningkatkan pendapatan ekonomi rakyat. Jelas bahwa, tidak mungkin mengatasi masalah gizi buruk dan kemisikinan di NTT tanpa ada upaya peningkatan ekonomi masyarakat. Menghadapi persoalan ini, dibutuhk keberpihakan dan itikad baik dari pemerintah untuk memotivai peningkatan pendapatan masyarakat, misalnya, dengan menciptakan lapangan kerja baru. Meningkatkan subsidi misalnya, pemberian dana bergulir untuk pembangungan usaha kecil, ketimbang mengkorupsi dana pembangungan. Perlu juga pelatihan-pelatihan teknologi industri rumah tangga yang tepat guna untuk masyarakat NTT dan penanaman tanaman yang cocok untuk daerah NTT. Tak kalah penting adalah, meralisasikan diversifikasi pangan juga sangat penting. Dengan memproduksi beragam bahan pangan dan tersedia dalam bentuk siap olah serta terjangkau daya beli, dapat diharapkan status gizi dan kesehatan masyarakat NTT dapat ditingkatkan. Di sisi lain, mentalitas

masyarakat NTT untuk mengusahakan kehidupan yang sehat juga sangat perlu. Dalam arti, kreativitas dan usaha yang tepat untuk memenuhi standar hidup yang sehat sangat diperlukan. Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). Jauh bukan hanya dalam arti fisik saja, tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. Mereka memasuki pasar pembeli (buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. Akibatnya, posisi tawar mereka sangat lemah. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati harga vanili yang tinggi, saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh pembeli (pedagang skala menengah dan besar). Para peternak di TTS sudah sejak lama takluk dengan para pembeli (pedagang). Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. Sementara itu sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh nelayan. Para pembeli memiliki organisasi yang solid. Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan untuk menguasai dan mendikte harga pasar. Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak bisa dilawan oleh para petani secara individual. Organisasi harus dilawan dengan organisasi pula, agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar. Apakah koperasi sebagai lembaga ekonomi yang dekat dengan para petani, nelayan, peternak, pengrajin dan pedagang kecil dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain atau sekurang-kurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. Dalam kaitan ini menarik untuk disimak lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Dua Perusahaan Daerah, masingmasing bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi kecil. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka, maka inilah salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain. Cara meningkatkan kesejahteraan hidup bagi masyarakat NTT dengan cara pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil, peternak kecil, nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal perkotaan. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas perkebunan seperti Cengkeh, Kopi, Vanili, Jambu Mete, tingkat ekonomi mereka cukup memadai. Di

Sabu dan Rote, sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut. Di Apui (Alor), sejumlah kelompok tani yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini cukup tinggi. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah yang relatif kering, tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. Para peternak di TTS, betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi), tidak menunjukkan status ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. Demikian juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores, Sumba, Alor dan Timor, kondisi mereka tidak dapat digolongkan mampu secara ekonomis. Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang relatif sama, walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil, petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang berasal dari Jawa, Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota, kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. Data makro tentang pendapatan per kapita penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku ekonomi kecil tersebut.

4.2

Saran Seharusnya pemerintah Indonesia lebih memperhatikan kondisi propinsi propinsi

kecil di Indonesia seperti NTT yang kurang berkembang. Selama ini pemerintah hanya memperhatikan propinsi besar saja yang akan dikelola dengan berbagai investor dan aset. Seharusnya pemerintah memberikan Program-program yang bersifat membantu dan peduli terhadap masyarakat kecil. Program-program tersebut antara lain berupa penyaluran beras untuk rakyat miskin, program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin, bantuan langsung tunai ( BLT ) dan sebagainya. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. Program pemberdayaan masyarakat miskin harus dirancang berdasarkan analisa yang mendalam tentang kemiskinan dan faktor sosial ekonomi lainnya. Dalam konteks Indonesia dan negara berkembang lainnya, masyarakat menjadi miskin bukan karena malas, melainkan karena produktifitasnya rendah. Produktivitas yang rendah itu diakibatkan oleh kurangnya akses dalam bidang ekonomi (modal), kesehatan dan pendidikan.

Mencermati segala keterbatasan yang dimiliki masyarakat dalam berbagai aspek, salah satu cara dan strategi pengentasan kemiskinan adalah dengan membuka akses modal kepada masyarakat miskin sehingga mereka dapat meningkatkan pendapatan sekaligus mengakumulasi modalnya hingga semakin meningkat secara gradual, pada akhirnya kesejahteraan akan meningkat. Kesejahteraan yang meningkat akan meningkatkan pula tingkat pendidikan dan kesehatan dan seterusnya. NTT sukses. Untuk itulah perlu strategi khusus dalam pembangunan wilayah perbatasan NTT guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengangkat citra RI di mata Internasional yang dicerminkan dari kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut yang sekaligus guna mendukung kepentingan pertahanan negara yang kuat di wilayah perbatasan.

DAFTAR PUSTAKA

Bengen, D.G. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu, Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Sumberdaya Berbasis Masyarakat. Bogor, 21-22 September 2001.

BOBP. (Bay of Bengal Program). 1990. Helping Fisherfolk to Help Themselves. A Study in Peoples Participation. BOBP. 182 p. Gordon, H.S. 1954. The Economic Theory of a Common Property Resource: The Fishery. Journal of Political Economics, 62(2): 124-142.

Schumacher, E.F. 1973. Small is Beautiful. Economics as if People Mattered. Perenial Library, San Fransisco, London. 305.

Shepard, M.P. 1991. Fisheries Research Needs of Small Island Countries. International Centre for Ocean Development. Nova Scotia, 71 p.

Realitas dan Harapan Pengembangan Ekonomi NTT ' .the path of silence .!'.htm Gabriel Adur . Nusa Tenggara Timur/Gizi_Buruk_di_NTT.htm