Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS PERBEDAAN GENDER TERHADAP PENGUNAAN VARIASI GAYA PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA (Penelitian Metode Transformasi Sekuensial Pada

Siswa SMA X)

Latar Belakang Bahasa merupakan keterampilan khusus untuk mengomunikasikan gagasan atau perasaan dengan menggunakan isyarat, suara, gerak-gerik atau tanda-tanda yang sudah disepakati maknanya. Adalah sebuah realitas umum yang tidak bisa disangkal bahwa belajar bahasa kedua (second language learning) atau mempelajari bahasa selain bahasa ibu (mother tongue) adalah sebuah tantangan besar. Mempelajari bahasa kedua merupakan suatu kegiatan berproses dan kompleks dimana seseorang akan berjuang melampaui batasan-batasan bahasa pertama yang telah terlebih dahulu diperoleh dan berusaha menggapai sebuah bahasa baru, budaya baru, dan cara baru dalam berpikir, merasakan dan bertindak. Dalam proses pemerolehan bahasa kedua ini, pembelajar haruslah mempunyai komitmen total, keterlibatan total, respon fisik, intelektual dan emosional total demi keberhasilan mengirim dan menerima pesan. Oleh karena itu, mempelajari bahasa kedua bukanlah serangkaian langkah mudah yang bisa diprogram dalam sebuah panduan ringkas, sehingga hanya sedikit orang yang berhasil mencapai kefasihan berbahasa asing dalam batasan ruang kelas saja. Sebuah teori pengajaran bahasa akan menerangkan prinsip-prinsip metode dan teknik tertentu, apabila pemahaman pokok seorang pengajar mengenai karakteristik gaya pembelajaran bahasa kedua dapat dikuasainya dengan baik. Seorang pengajar bisa sukses mengajar bahasa asing jika dapat memahami kompleksitas variabel yang berpengaruh pada keberhasilan memperoleh bahasa kedua. Menurut Brown (2007: 2) kompleksitas variabel dapat berupa persoalan-persoalan yang muncul berkenaan dengan karakteristik pembelajar, faktor linguistik, proses pembelajaran, usia, variabel instruksional, konteks, dan tujuan. Variabel kompleksitas yang menjadi sorotan pada penelitian kali ini adalah karakteristik pembelajar dimana seorang guru harus senantiasa menganalisis dan mengetahui gaya kognitif yang dimiliki oleh masing-masing siswanya agar hasil pembelajaran bahasa kedua mencapai keberhasilan. sedemikian sehingga dapat mengakomodasi perbedaan gaya dalam belajar Hal ini sesuai dengan Raven (Yunos, 2007) yang menjelaskan bahwa pembelajaran harus dirancang

Cohen (1988) dikutip Brown mendefinisikan gaya sebagai istilah yang merujuk kepada kecondongan atau kesukaan yang konsisten dan agak tahan lama di dalam diri seseorang. Gaya adalah karakteristik kerja intelektual seseorang yang akan membedakan dirinya dengan orang lain. Oleh karena itu, gaya pembelajaran dapat mencirikan sebuah pemikiran atau perasaan yang bervariasi di setiap orangnya. Cara seseorang belajar dan mengatasi sebuah problem tatkala menghadapi bahasa kedua tampaknya tergantung pada hubungan antara kepribadian dan kognisi. Hubungan ini disebut gaya kognitif. Ketika gaya kognitif secara khusus terhubung pada konteks pendidikan dimana faktor afektif dan fisiologis saling terjalin, maka ini lazim disebut gaya pembelajaran. Ehrman dan Leaver (2003) meneliti relevansi sembilan gaya untuk perolehan bahasa kedua. Diantaranya: (1) dependensi-independensi bidang (2) acak/ nonlinier vs berurutan/ linier (3) umum vs khusus (4) induktif vs deduktif (5) sintetis vs analistis (6) analog vs digital (7) konkret vs abstrak (8) penyetaraan vs penajaman (9) impulsif vs reflektif. Sedangkan Brown mengklasifikasikan lima gaya pembelajaran yang dianggap relevan dan mendukung keberhasilan pemerolehan bahasa kedua, diantaranya: (1) gaya independensi bidang, (2) dominasi otak kiri dan kanan, (3) toleransi ambiguitas, (4) gaya reflektivitas dan impulsivitas, (5) dan gaya visual, auditoris, dan kinestis. Penelitian ini akan fokus pada gaya pembelajaran yang digunakan Brown dengan menggunakan kacamata gender untuk mengklasifikasikan perbedaan secara akurat jumlah persen baik laki-laki maupun perempuan dalam setiap gaya pembelajaran. Gaya bebas bidang atau field independent (FI) memungkinkan siswa dapat membedakan bagian-bagian dari suatu keseluruhan, dapat berkonsentrasi pada sesuatu, dapat menganalisis variabel-variabel terpisah tanpa dicemari variabel-variabel sekitar, apabila pembelajaran di kelas maka gaya ini selalu melibatkan analisis, terperinci, dapat mengikuti drill dan latihan terfokus. Abraham (1985) dikutip Brown, mendapati bahwa pembelajar FI tampil lebih baik dalam deduktif. Sementara siswa yang memiliki field dependent (FD) cenderung lebih bersosialisasi, menyatukan diri dengan orang-orang di sekitar mereka, lebih berempati, memahami perasaan dan pikiran orang lain, dan lebih berhasil dengan rancangan pelajaran induktif. Gaya kedua yakni dominasi otak kiri dan kanan yang juga merupakan isu penting dalam pengembangan teori pemerolehan bahasa kedua. Torrance (1980) mendeskripsikan otak kiri diasosiasikan dengan pikiran logis analistis terhadap informasi matematis dan pemrosesan linear. Sementara otak kanan menangkap dan mengingat citra visual, rabaan,
2

dan audiotoris, efisien dalam pemrosesan informasi yang bersifat holistik, integratif, dan emosional. Stevick (1982) menyimpulkan bahwa pembelajar bahasa kedua yang dominan otak kiri lebih baik saat memproduksi kata-kata terpisah, mengumpulkan hal-hal spesifik dari bahasa, menjalankan urutan pengerjaan, dan berurusan dengan abstraksi, klasifikasi, pelabelan, dan penyusunan ulang. Sedangkan pembelajar yang dominan otak kanan di sisi lain terlihat lebih baik saat menghadapi citra keseluruhan, generalisasi, metafora, reaksi emosional, dan ekspresi artistik. Gaya ketiga yakni toleransi ambiguitas, gaya ini membahas sejauh mana seseorang secara kognitif bersedia menerima ide dan dalil yang bertentangan dengan struktur pengetahuannya. Toleransi ambiguitas relatif berpikiran terbuka dalam menerima ideologi, kejadian, dan fakta yang berlawanan dengan sudut pandangnya. Sedangkan gaya intoleransi ambiguitas cenderung berpikiran tertutup, dogmatis, keras, dan terlalu sempit untuk menjadi kreatif sehingga akan merusak pembelajaran bahasa kedua. Gaya selanjutnya yakni reflektivitas dan impulsivitas, menurut Kagan (1965) anakanak yang reflektif cenderung membuat kesalahan lebih sedikit dalam membaca daripada anak-anak impulsif. Dalam pembelajaran bahasa kedua di kelas, seorang guru diharapkan memotivasi lebih keras terutama dalam menghadapi pembelajar impulsif yang cenderung lebih suka menebak-nebak jawaban. merespon tetapi lebih akurat. Gaya pembelajaran kelima yakni gaya visual, auditoris, dan kinestetis. Pembelajar visual menyukai tabel, gambar, dan informasi grafis lainnya, pembelajar auditoris lebih senang ajaran dan auditape sedangkan pembelajar kinestetis akan memperlihatkan kesukaan pada demonstrasi dan aktivitas fisik yang melibatkan pergerakan tubuh. Pembelajar yang paling berhasil adalah mereka yang dapat memanfaatkan dan mengplikasikan ketiga gaya tersebut. Dengan mengenali gaya individu secara otomatis akan mengetahui strategi efektif dalam proses pembelajaran bahasa kedua untuk tercapainya kompetensi komunikasi yang baik. Menurut Brown (2007: 257) salah satu faktor pragmatik utama selama ini yang mempengaruhi pemerolehan kompetensi komunikasi dalam bahasa kedua adalah terdapatnya efek jenis kelamin seseorang terhadap produksi dan resepsi bahasa. Ada banyak penelitian sebelumnya yang menganalisis keterkaitan gender dan pendidikan bahasa. Salah satu peneliti terkenal dalam mengusung isu tersebut adalah Robin
3

Sebaliknya, seorang guru diharapkan memiliki

kesabaran dalam menghadapi pembelajar reflektif yang cenderung lebih lambat dalam

Lakoff (1975) yang dikutip Brown (2007: 258), menyatakan bahwasanya bahasa perempuan berbeda dari bahasa laki-laki. Perbedaan-perbedaan tindak tutur tersebut sudah cukup lama diketahui, menurut McKay et al. (2005), mengungkapkan bahwa perempuan cenderung mengungkapkan bahasa ketidakpastian (pernyataan mengelak, tag questions, meninggikan intonasi untuk pernyataan) daripada laki-laki yang cenderung menunjukan kurangnya kepercayaan pada apa yang mereka katakan. Tannen (1996) mendapati bahwa pria menempatkan lebih banyak nilai dalam sebuah percakapan, obrolan status dan reputasi, berlomba menguasai diskusi, sedangkan wanita menghargai hubungan dan persahabatan, memenuhi peran mereka sebagai yang lebih kooperatif. Sementara pada kajian sintaksis Britta (2002) menggambarkan perempuan lebih banyak menggunakan klausa sebab akibat daripada laki-laki yang mendominasi menggunakan concenssive clause. Intinya ada banyak pendekatan yang diterapkan untuk meneliti perbedaan gender berdasarkan kajian sosiolinguistik, etnografi linguistik, analisis percakapan, analisis wacana kritis, psikologi diskursif, feminis post-strukturalis, dan cakupan korpus linguistik. Sementara investigasi gender dalam pemerolehan bahasa kedua pada siswa akademis di dalam kelas berdasarkan analisis variasi gaya pembelajaran masih sangatlah jarang dilakukan, padahal pemahaman terhadap kecondongan pembelajar dapat menciptakan langkah atau strategi yang tepat untuk menghasilkan pembelajar sukses dalam aspek-aspek komunikatif bahasa kedua.

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian metode transformatif sekuensial ini adalah berusaha memberikan kontribusi pengetahuan detail dengan mengeksplorasi pengaruh keragaman gaya pembelajaran terhadap keberhasilan pemerolehan bahasa kedua dan menyajikan informasi akurat yang berhubungan dengan perbedaan gender dalam memiliki dan menggunakan gaya pembelajaran tersebut melalui kuesioner kepada siswa SMA X dengan jumlah sample 100 orang siswa. Data kuantitatif ini kemudian akan di analisis dengan menggunakan statistik nonparametrik mengingat data penelitian tersebut diukur dalam skala ordinal. Hasil dari penelitian ini akan berkontribusi pula pada pemilihan jenis strategi komunikasi yang sesuai dengan pembelajar bahasa kedua tersebut. Identifikasi Masalah Masalah yang teridentifikasi dari pemaparan di atas adalah:
4

a. Pembelajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua merupakan kegiatan yang berproses

dan kompleks sehingga guru harus mengetahui kecenderungan gaya kognitif siswa didiknya baik laki-laki atau perempuan dalam proses pemerolehan bahasa kedua.
b. Guru bahasa asing membutuhkan strategi tertentu dalam mengajarkan bahasa kedua

kepada siswa laki-laki dan perempuan setelah mengetahui kecenderungan gaya pembelajaran kognitif mereka. Rumusan masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimanakah pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh Brown berkenaan

tentang lima jenis gaya pembelajaran yang relevan dimiliki oleh siswa dalam perolehan bahasa kedua?
a. Adakah perbedaan yang signifikan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam setiap

pemilihan gaya pembelajaran?


b. Strategi apa yang cocok digunakan oleh guru berdasarkan gaya pembelajaran siswa

laki-laki dan perempuan dalam pemerolehan bahasa kedua?

Landasan Teori Teori pemerolehan bahasa kedua merupakan wilayah kognitif perilaku manusia yang sangat penting dalam proses internalisasi sebuah bahasa. Kendati demikian, pernyataan tentang kecakapan bahasa tidak terlepas dari kecerdasan yang tampak bermuara pada masalah memori melalui proses mengindra, menyaring, menyimpan, dan mengingat informasi. Penelitian tentang gaya-gaya pembelajaran mendorong para guru untuk membantu siswa agar bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran bahasa mereka agar menjadi pembelajar otonom. Kalau pemerolehan bahasa kedua saja sudah banyak kesulitan akibat pengaruh bahasa pertama, bagaimana pula dengan proses penguasaan bahasa ketiga, misalnya penguasaan bahasa Inggris atau bahasa lainnya lagi. Oleh karena itu, seorang guru profesional haruslah menguasai keterampilan metodologis pembelajaran siswa. Karakteristik ini yang membedakan profesi guru dari profesi lainnya. Jika karakteristik ini tidak secara sungguh-sungguh dikuasai guru, maka siapa saja dapat menjadi 'guru' seperti yang terjadi sekarang ini. Akibat lebih lanjut dari ini adalah profesi guru akan kehilangan 'bargaining position'.
5

Tiga konsep yang berkaitan tersirat dalam setiap pemikiran tentang peran gaya dan strategi dalam pembelajaran bahasa kedua, yakni otonomi, kemafhuman, dan tindakan. Tiga konsep ini kian penting saja dalam tahun-tahun terakhir, terutama dengan meningkatnya penekanan paedagogis atas pengajaran bahasa yang berpusat pada pembelajar (Wenden, 2002). Sebelum metode-metode desainer yang muncul pada 1970-an, sebagian besar metodologi pengajaran bahasa berpusat pada guru. Siswa memasuki kelas, duduk takzim di kursi mereka, dan menunggu sang guru memerintah mereka melakukan sesuatu. Perintahperintah ini bias berupa penerjemahan sebuah kalimat, penghafalan aturan, atau pengulangan sebuah dialog. Lantas para guru tampaknya menemukan nilai otonomi pembelajar dalam bentuk membiarkan pembelajar melakukan hal-hal seperti memulai produksi lisan, memecahkan masalah di kelompok kecil, berlatih bentuk bahasa secara berpasangan, dan berlatih menggunakan bahasa di luar kelas. Terkait erat dengan konsep otonomi adalah tuntutan kepada pembelajar untuk menjadi mafhum akan proses pembelajaran mereka sendiri. Konsep yang terakhir ini merupakan pengingat untuk semuanya bahwa kemafhuman saja tanpa tindakan adalah relative tidak akan berguna. Begitu para pembelajar menjadi paham akan kecenderungan, gaya, dan kekuatan serta kelemahan mereka, kemudian akhirnya bias mengambil langkah tepat dalam bentuk berbagai strategi yang tersedia bagi mereka. pembelajar. Tidak semua strategi tepat bagi semua Oleh karena itu, sangatlah penting bagi seorang guru mengetahui sedini

mungkin tentang gaya pembelajaran masing-masing siswanya sebagai acuan dalam menentukan sebuah strategi. Seorang pembelajar yang, misalnya, sudah menyadari bahwa dirinya cenderung toleran ambiguitas dengan gaya otak kanan pasti tidak akan membutuhkan rangkaian strategi untuk membuka diri, bersikap tenang dalam mempelajari bahasa yang sulit atau melihat gambar utuhnya. Strategi semacam itu secara alami sudah berjalan. Namun, pembelajar yang sebaliknya -intoleran terhadap ambiguitas, analitis, berpikir linier- jelas dapat memetik manfaat dari kemafhumannya akan kecondongan-kecondongan tersebut dan dari pengambilan langkah strategis yang tepat. Jika gaya adalah karakteristik umum yang membedakan seseorang dari yang lainnya, maka strategi menurut Brown adalah serangan spesifik yang kita tujukan kepada masalah tertentu dan sangat bervariasi di dalam diri setiap individu, sedangkan Chamot (2005, h.112) mendefinisikan strategi secara cukup luas sebagai prosedur-prosedur yang memudahkan sebuah tugas pembelajaran.strategi seringkali bersifat sadar dan digerakan oleh tujuan.
6

Bidang pemerolehan bahasa kedua telah membedakan dua jenis strategi, yakni strategi pembelajaran dan strategi komunikasi. Strategi pembelajaran berurusan dengan wilayah pemahaman apa yang diterima, memori, penyimpanan, dan pengingatan. Menurut Purpura (1997) membagi strategi ini menjadi tiga kategori utama. Diantaranya: (1) strategis metakognitif, yakni strategi yang melibatkan perencanaan belajar, pemikiran tentang proses pembelajaran yang sedang berlangsung, pemantauan produksi dan pemahaman seseorang, dan evaluasi pembelajaran setelah sebuah aktivitas selesai. (2) strategi kognitif lebih terbatas pada tugas-tugas pembelajaran spesifik dan melibatkan pemanfaatan yang lebih langsung terhadap materi pembelajaran itu sendiri. (3) strategi sosioafektif berkenaan dengan aktivitas mediasi social dan interaksi dengan yang lain.

Sementara strategi komunikasi melekat pada pemakaian mekanisme verbal dan nonverbal untuk komunikasi atau informasi produktif. Beberapa waktu lalu, Faerch dan Kasper (1983a, h.36) mendefinisikan strategi ini sebagai rencana-rencana yang sepertinya sadar untuk memecahkan apa yang menjadi masalah dalam peraihan sebuah tujuan komunikatif tertentu. Penjabaran strategi diatas merupakan pilihan para guru dalam proses pembelajaran bahasa pada siswa sesuai dengan gaya kognitif aktif mereka.

Hipotesis Adanya hubungan antara gaya pembelajaran siswa terhadap penggunaan strategi kognitif.

Asumsi a. Siswa laki-laki dan siswa perempuan memiliki gaya pembelajaran yang berbeda. b. Dengan mengetahui gaya pembelajaran siswa, guru bisa menemukan strategi kognitif yang tepat untuk meningkatkan kemampuan siswa.

Metode Penelitian Strategi metode campuran transformatif (transformative mixed methods) merupakan proyek dengan perspektif tertentu (seperti gender, ras, teori, ilmu sosial) yang turut membentuk prosedur-prosedur di dalamnya. Dalam strategi ini, peneliti harus menggunakan perspektif teoritis tertentu untuk memadukan penelitiannya secara bertahap. Strategi ini dikenal juga dengan Strategi Transformatif Sekuensial. Strategi ini terdiri dari tahap pertama (baik itu kuantitatif maupun kualitatif) yang diikuti oleh tahap kedua. Perspektif teoritis diperkenalkan di bagian pendahuluan karena dapat membentuk rumusan masalah yang akan dieksplorasi, menciptakan sensitivitas pengumpulan data dari kelompok yang diakhiri dengan ajakan akan perubahan. Strategi Transformatif Sekuensial KUAL kuan Teori ilmu sosial, teori kualitatif, pandangan-dunia advokasi KUAN kual Teori ilmu sosial, teori kualitatif, pandangan-dunia advokasi Tujuan dari strategi transformatif sekuensial adalah untuk menerapkan perspektif teoretis si peneliti. Dengan diterapkannya penelitian dua tahap dalam strategi ini, peneliti diharapkan dapat menyuarakan perspektif-perspektif yang berbeda, memberikan advokasi yang lebih baik kepada partisipan, atau memahami suatu fenomena dengan lebih baik. Desain Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan desain penelitian transformatif sekuensial. Desain ini menggunakan random sampling dalam menentukan sampel. Sampel berjumlah 100 siswa baik laki-laki maupun perempuan.

Dalam penelitian ini, peneliti mengujicobakan pretes untuk mengetahui nilai siswa. Kemudian mereka diberikan angket untuk mengetahui gaya pembelajaran siswa dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan kisi-kisi Brown. Kemudian hasil diprosentasekan berdasarkan kriteria gaya pembelajaran dengan menggunakan statistik nonparametrik (Hatch and Farhady, 1982:22). Setelah mendapatkan hasil tersebut, peneliti kemudian menentukan strategi pembelajaran yang tepat untuk mereka berdasarkan gaya pembelajaran siswa. Postes diberikan untuk mengetahui bahwa strategi itu telah sesuai dengan gaya pembelajaran siswa.

Sumber Data Sumber data primer dalam penelitian ini didapatkan nilai pretes dan postes siswa SMA kelas XI disertai dengan angket yang disebar untuk mengetahui gaya pembelajaran siswa sehingga strategi yang tepat bisa diterapkan.

Instrumen Penelitian Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu menyusun instrumen penelitian yang akan digunakan. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Soal pretes kemampuan berbahasa b. Lembar angket c. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) d. Soal postes

Teknik Pengumpulan Data Pada bagian ini akan dijelaskan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun teknik pengumpulan datanya meliputi: a. Tes

Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes kemampuan kognitif siswa. Format tes digunakan pada pretes dan postes untuk mengetahui dan mengukur kemampuan kognitif siswa. b. Angket Instrumen yang digunakan adalah dalam bentuk angket. Angket digunakan untuk mengetahui gaya pembelajaran siswa dengan pertanyaan yang berdasarkan kisi-kisi Brown. c. Literature Review Teori-teori yang relevan akan digunakan untuk menganalisa perbedaan gender dalam gaya pembelajaran siswa, serta strategi pembelajaran yang akan digunakan untuk menunjang pembelajaran.

10

Anda mungkin juga menyukai