Setiap orang tidak dapat lepas dari orang lain yang menutupi kebutuhannya.

Interaksi antarindividu manusia adalah perkara yang penting yang mendapatkan perhatian besar dalam Islam. Khususnya, yang berhubungan dengan pertukaran harta. Oleh karena itu, Allah berfirman, ً ِ َ ْ ُ ِ َ َ ّ ّ ِ ْ ُ َ ُ َ ْ ُُ ْ َ َ َ ْ ُ ّ ٍ َ َ َ ً َ َ ِ َ ُ َ َ ّ ِ ِ ِ َ ْ ِ ْ ُ َ ْ َ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ُُ ْ َ َ ْ ُ َ َ ِ ّ َ َّ َ ‫يا أيها الذين آمنوا ل تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إل أن تكون تجارة عن تراض منكم ول تقتلوا أنفسكم إن ال كان بكم رحيما‬ “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. An-Nisa’: 29) Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjelaskan pertukaran harta bahwa dapat dilakukan dengan perniagaan yang berasaskan saling suka di antara para transaktornya. Dewasa ini, banyak sekali berkembang sistem perniagaan yang perlu dijelaskan hukum syariatnya. Apalagi, di masa ini kaum muslimin sudah menjauh dari agamanya, dan ditambah lagi dengan ketidakmengertian mereka terhadap syariat Islam. Salah satu sistem perniagaan tersebut adalah jual-beli dengan panjar atau DP. Pengertiannya Panjar (DP), dalam bahasa Arab, adalah “’urbun” (‫ .)العربون‬Kata ini memiliki padanan kata (sinonim) dalam bahasa Arab, yaitu “urban” (‫’“ ,)الربان‬urban” (‫ ,)العربان‬dan “urbun” (1].(‫]الربون‬ Secara bahasa artinya yang kata jadi transaksi dalam jual-beli.[2] Bentuk jual-beli ini dapat diberi gambaran sebagai berikut: Sejumlah uang yang dibayarkan dimuka oleh seseorang pembeli barang kepada si penjual. Bila transaksi itu mereka lanjutkan, maka uang muka itu dimasukkan ke dalam harga pembayaran. Kalau tidak jadi, maka menjadi milik si penjual. Atau seorang pembeli menyerahkan sejumlah uang dan menyatakan, “Apabila saya ambil barang tersebut maka ini adalah bagian dari nilai harga, dan bila tidak jadi saya ambil maka uang (DP) tersebut untukmu.[3] Atau seorang membeli barang dan menyerahkan satu dirham atau lebih kepada penjualnya, dengan ketentuan apabila si pembeli mengambil barang tersebut maka uang panjar tersebut dihitung pembayaran, dan bila gagal maka itu milik penjual. [4] Sistem jual-beli ini dikenal dalam masyarakat kita dengan “pembayaran DP” atau “uang jadi”. Wallahu a’lam. Hukum Jual-Beli Dengan DP Dalam permasalahan ini, para ulama berbeda menjadi dua pendapat: Pendapat pertama: Jual-beli dengan uang muka (panjar) ini tidak sah Inilah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah. AlKhathabi menyatakan, “Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan jual-beli ini. Malik dan Syafi’i menyatakan ketidaksahannya, karena adanya hadits [5] dan karena terdapat syarat fasad dan al-gharar.[6] Hal ini juga termasuk dalam kategori memakan harta orang lain dengan batil. Demikian juga ashhabul ra’yi (mazhab Abu Hanifah, pen) menilainya tidak sah. [7]

Ibnu Qudamah menyatakan, “Ini pendapat imam Malik, asy-Syafi’I, dan ashhabul ra’yi, serta diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas dan al-Hasan al-Bashri. [8] Dasar argumentasi mereka di antaranya: Pertama, hadits Amru bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ia berkata, ِ َ ْ ُ ْ ِ ْ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ َّ ّ ُ ُ َ َ َ ‫نهى رسول ال صلى ال عليه وسلم عن بيع العربان‬ ُ ِ ْ َ َ َ ْ ّ ُ ْ َ َ ْ ِ ّ َ َ َ ً َ ِ َ ِ ْ ُ ُ ُ َ ‫َ َ َ ِ ٌ َ َ ِ َ ِ َ َ َ َ ّ َ ْ َ ُ َ ْ َ ْ َ ِ َ ّ ُ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ّ ّ َ ُم‬ ‫قال مالك وذلك فيما نرى وال أعلم أن يشتري الرجل العبد أو يتكارى الدابة ث ّ يقول أعطيك دينارا على أني إن تركت السلعة أو‬ ُ َ َ َ ُْ َ ْ َ َ ‫ْ ِ َ َ ف‬ ‫الكراء َما أعطيتك لك‬ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli dengan sistem uang muka. Imam Malik menyatakan, “Dan ini adalah yang kita lihat, wallahu a’lam, seseorang membeli budak atau menyewa hewan kendaraan kemudian menyatakan, ‘Saya berikan kepadamu satu dinar, dengan ketentuan apabila saya gagal membeli atau gagal menyewanya maka uang yang telah saya berikan itu menjadi milikmu.’” [9] Kedua, jenis jual-beli semacam itu termasuk memakan harta orang lain dengan cara batil, karena disyaratkan bagi si penjual tanpa ada kompensasinya.[10] Memakan harta orang lain adalah haram, sebagaimana firman Allah, ً ِ َ ْ ُ ِ َ َ ّ ّ ِ ْ ُ َ ُ َ ْ ُُ ْ َ َ َ ْ ُ ّ ٍ َ َ َ ً َ َ ِ َ ُ َ َ ّ ِ ِ ِ َ ْ ِ ْ ُ َ ْ َ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ُُ ْ َ َ ْ ُ َ َ ِ ّ َ َّ َ ‫يا أيها الذين آمنوا ل تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إل أن تكون تجارة عن تراض منكم ول تقتلوا أنفسكم إن ال كان بكم رحيما‬ “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Janganlah pula kamu membunuh dirim. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. An-Nisa`: 29) Ketiga, karena dalam jual-beli itu ada dua syarat batil: syarat memberikan uang panjar dan syarat mengembalikan barang transaksi dengan perkiraan salah satu pihak tidak ridha. [11] Hukumnya sama dengan hak pilih terhadap hal yang tidak diketahui (khiyar al-majhul). Kalau disyaratkan harus ada pengembalian barang tanpa disebutkan waktunya, jelas tidak sah. Demikian juga apabila dikatakan: Saya punya hak pilih. Kapan mau akan saya kembalikan dengan tanpa dikembalikan uang bayarannya.[12] Ibnu Qudamah menyatakan: Inilah Qiyas (analogi). [13] Pendapat ini dirajihkan oleh asy-Syaukani dalam pernyataan beliau, “Yang rajih adalah pendapat mayoritas ulama, karena hadits ‘Amru bin Syu’aib telah ada dari beberapa jalan periwayatan yang saling menguatkan. Juga karena hal ini mengandung larangan dan hadits yang mengandung larangan lebih rajih daripada hadits yang membolehkannya, sebagaimana telah jelas dalam ushul fikih…. ‘Ilat (sebab hukum) larangan ini adalah bahwa jual-beli ini mengandung dua syarat yang fasid, salah satunya adalah syarat menyerahkan (uang muka) secara gratis kepada penjual harta apabila pembeli gagal membelinya. Yang kedua adalah syarat mengembalikan barang kepada penjual, yaitu apabila tidak terjadi keridhaan untuk membelinya. [14] Pendapat kedua: Jual-beli ini diperbolehkan Inilah pendapat Mazhab Hambaliyyah, dan dalil tentang kebolehan jual-beli ini diriwayatkan dari

Umar, Ibnu Umar, Sa’id bin al-Musayyib, dan Muhammad bin Sirin. [15] Al-Khathabi menyatakan, “Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau memperbolehkan jual-beli ini, dan juga diriwayatkan dari Umar. Ahmad cenderung mengambil pendapat yang membolehkannya dan menyatakan, ‘Aku tidak akan mampu menyatakan sesuatu sedangkan ini adalah pendapat Umar radhiyallahu ‘anhu, yaitu tentang kebolehannya.’ Ahmad pun melemahkan (mendhaifkan) hadits larangan jual-beli ini, karena (riwayat haditsnya) terputus. [16] Dasar argumentasi mereka adalah: Pertama, atsar yang berbunyi, ‫عن نفع بن الحارث, أنه اشترى لعمر دار السجن من صفوان بن أمية, فإن رضي عمر , و إل فله كذا و كذا‬ َ َ َ َ َ ُ ََ ّ ِ َ ُ َ ُ َ ِ َ ْ ِ َ َ ّ َ ُ ِ ْ َ َ ْ َ ْ ِ ِ ْ ّ َ َ َ َ ُ ِ َ َ ْ ُ ّ َ ِ ْ ِ َِ ْ َ “Diriwayatkan bahwa Nafi bin al-Harits pernah membelikan sebuah bangunan penjara untuk Umar dari Shafwan bin Umayyah, (dengan ketentuan) apabila Umar suka. Bila tidak, maka Shafwan berhak mendapatkan uang sekian dan sekian.” Al-Atsram berkata, “Saya bertanya kepada Ahmad, ‘Apakah Anda berpendapat demikian?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang harus kukatakan? Umar radhiyallahu ‘anhu telah berpendapat demikian.’” [17] Kedua, hadits Amru bin Syuaib adalah hadits yang lemah, sehingga tidak dapat dijadikan sandaran dalam melarang jual-beli ini. Ketiga, panjar ini adalah kompensasi dari penjual yang menunggu dan menyimpan barang transaksi selama beberapa waktu. Tentu saja ia akan kehilangan sebagian kesempatan berjualan. Ucapan orang yang mengatakan bahwa panjar itu telah dijadikan syarat bagi penjual tanpa ada imbalannya adalah ucapan yang tidak sah. Keempat, tidak sahnya qiyas atau analogi jual-beli ini dengan al-khiyar al-majhul (hak pilih terhadap hal yang tidak diketahui), karena syarat dibolehkannya panjar ini adalah dibatasinya waktu menunggu. Dengan dibatasinya waktu pembayaran, maka batallah analogi tersebut, dan hilangnya sisi yang dilarang dari jual-beli tersebut. Pendapat Para Ulama Zaman Ini Syekh Abdul Aziz bin Baz, mantan Mufti Agung Saudi Arabia, pernah ditanya, “Apa hukum melaksanakan jual-beli sistem panjar (al-‘urbun) apabila jual-belinya belum sempurna. Bentuknya adalah dua orang melakukan transaksi jual-beli. Apabila jual-beli sempurna maka pembeli menyempurnakan nilai pembayarannya, dan bila tidak jadi maka penjual mengambil DP (panjar) tersebut dan tidak mengembalikannya kepada pembeli?” Beliau menjawab, “Tidak mengapa mengambil DP (uang panjar) tersebut dalam pendapat yang rajih dari dua pendapat ulama, apabila penjual dan pembeli telah sepakat untuk itu dan jualbelinya tidak dilanjutkan (tidak disempurnakan).” [18] Fatwa Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta (Komite Tetap untuk Penelitian

dan uang tersebut untuk jaminan barang. dan penjual memiliki hak secara syar’i untuk menagih pembeli agar melunasi pembayaran setelah jual-beli telah sempurna dan serah terima barang telah terjadi. Fatwa no.” Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pun membolehkannya. ِ َ ْ ُ ْ ِ ْ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ َّ ّ ُ ُ َ َ َ ‫نهى رسول ال صلى ال عليه وسلم عن بيع العربان‬ ُ ِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli dengan sistem uang muka. Jual-beli sistem panjar (’urbun) ini sah. dan Abdullah bin Ghadayan. Jual-beli ini. Bagaimana hukumnya? Jawaban: Jual-beli dengan DP (’urbun) diperbolehkan.” Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi. Apa hukum jualbeli tersebut? Banyak dari para penjual yang mengambil harta ‘urbun (panjar) ketika pelunasan pembayaran gagal. dan bila tidak mengambilnya maka penjual berhak mengambil uang muka tersebut dan memilikinya. yang berbunyi: Pertanyaan: Bolehkah seorang penjual mengambil uang muka (‘urbun) dari pembeli? Dalam keadaan pembeli gagal membeli atau mengembalikannya. “Diperbolehkan bila ia tidak ingin untuk mengembalikan barangnya dan mengembalikan bersamanya sejumlah harta. Fatwa ditandatangani oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz. Abdurrazaq ‘Afifi. Sa’id bin al-Musayyib dan Muhammad bin Sirin menyatakan. 9388. Imam Ahmad dan selainnya telah mendhaifkannya. apakah penjual berhak secara hukum syariat mengambil uang muka tersebut untuk dirinya tanpa mengembalikannya kepada pembeli? Jawaban: Apabila realitanya demikian maka dibolehkan baginya (penjual) untuk memiliki uang muka tersebut untuk dirinya dan tidak mengembalikannya kepada pembeli. 19637 menjawab pertanyaan: Al-’urbun sudah dikenal sebagai uang muka sedikit yang diserahkan pada waktu membeli untuk tanda jadi. dengan ketentuan: apabila pembeli tersebut mengambilnya maka uang muka tersebut terhitung dalam bagian pembayaran. 1. baik batas waktu pembayaran sisanya telah ditentukan atau belum ditentukan. hingga menjadikan status barang dagangan tersebut menggantung.” adalah hadits yang lemah (dhaif). Imam Ahmad menyatakan tentang jual-beli panjar ini. [19] 2. apabila keduanya telah sepakat untuk itu. Fatwa no.Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) mengeluarkan beberapa fatwa. menurut pendapat yang rajah. “Boleh. Kebolehan jual-beli ‘urbun ini ditunjukkan oleh perbuatan Umar bin al-Khaththab. Ini dilakukan agar pembeli tersebut tidak mengambilnya. yaitu seorang pembeli membawa sejumlah uang yang lebih sedikit dari nilai harga barang tersebut kepada penjual atau agennya (wakilnya) setelah selesai transaksi. sehingga tidak bisa dijadikan sandaran. .

 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI SEWA REFERAL DALAM ADVERTISING PAID TO CLICK (PTC) DI VISTACLIX VIA .  PANDANGAN ULAMA TERHADAP GAME ONLINE TEXAS HOLDEM POKER DI APLIKASI FACEBOOK DALAM PERSPEKTIF TEORI QIYAS. pada seminar kedelapan. dan Abdullah bin Ghadayan. dan berikut ini ketetapan-ketetapan yang mereka buat:  KERJASAMA DALAM BISNIS(Analisis Hukum Islam Terhadap Sistem Bagi Hasil di Rental Mobil “Dwi Jaya” Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo).Ditandatangani oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz.  JUAL BELI ROKOK ELEKTRIK DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM. telah selesai berkesimpulan tentang dibolehkannya jual-beli panjar. [20] Majelis Fikih Islam. Abdurrazaq ‘Afifi.  ANALIS HUKUM ISLAM TERHADAP PERUBAHAN HARGA JUAL BELI TEMBAKAU KARENA ADANYA BENCANA ALAM (STUDY KASUS DI DESA PANGILEN SAMPANG ).

ONLINE.  “STUDI TERHADAP PENGELOLAAN ZAKAT FITRAH DI DESA TULUNGAGUNG KECAMATAN BAURENO KABUPATEN BOJONEGORO”.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI PERLENGKAPAN JENAZAH DI KELURAHAN KARAH SURABAYA.  TINJAUAN HUKUM ISLAM .  MURABAHAH DI KOPERASI SIMPAN PINJAM ”KRAMAT” DESA PULOKERTO KECAMATAN KRATON KABUPATEN PASURUAN DALAM PERSPEKTIF TEORI MASLAHAH.  ANALISIS FIQH DAN PERDA KOTA SURABAYA NOMOR 17 TAHUN 2003 TEHADAP KEBERADAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN PERTOKOAN AMPEL SURABAYA.

 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI PEMBAYARAN UPAH DALAM ADVERTAISING PTS (PAID TO SIGN UP) DI GPTEVO VIA ONLINE  ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG UPAH JURU PUNGUT DONATUR DANA SOSIAL DI YAYASAN AL-JIHAD SURABAYA.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP IKLAN TARIF MURAH BAGI PENGGUNA PROVIDER IM3.TERHADAP PANDANGAN PEMUKA AGAMA TENTANG HUKUM UTANG PIUTANG DENGAN SYARAT JUAL BELI BIJI KANGKUNG (STUDI KASUS DI DESA MADURESO KECAMATAN DAWAR BLANDONG KABUPATEN MOJOKERTO).  APLIKASI ASURANSI COMMLIFE MAX UNTUK PELANGGAN TELKOMSEL CASH (T-CASH) DALAM PERSPEKTIF .

HUKUM ISLAM.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENARIKAN UPAH DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM PENYALURAN BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN (RASKIN) DI DESA GLODOG KECAMATAN PALANG KABUPATEN TUBAN.  PANDANGAN TOKOH AGAMA ISLAM TERHADAP TRANSAKSI PENGOBATAN DENGAN SUSUK DI DESA BANJARSARI KECAMATAN BANDAR KEDUNGMULYO KABUPATEN JOMBANG DITINJAU DARI SEGI KONSEP AL-MASLAHAH ALMURSALAH.  PENYELESAIAN PEMBIAYAAN MURABAHAH BERMASALAH PADA .  STUDI KOMPARASI TENTANG PENETAPAN HARGA SEMBAKO MENURUT IBN QAYYIM ALJAWZIYYAH DAN IBN TAYMIYAH.

PRODUK KPR DI PT BTN SYARI’AH SURABAYA (STUDI ANALISIS FATWA DSN NO.  HUKUM PENGGUNAAN JASA WARIA BAGI MUSLIMAH DI SALON KECANTIKAN (ANALISIS MAS}LAH}AH ATAS PUTUSAN BAHSUL MASAIL PP ABU DZARRIN DI KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO).  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN AKAD MURABAHAH STUDI KASUS PADA KREDIT BARANG DI KJKS BEN IMAN LAMONGAN). . 47/DSN-MUI/II/2005).  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI JUAL BELI NICK (USERNAME) MIG33 VIA ONLINE.  PENDAPAT TOKOH AGAMA TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI AIR SUSU IBU (ASI) DI KELURAHAN WONOREJO RUNGKUT SURABAYA DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM.

 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERJANJIAN FULL COMMITMENT OLEH PENJAMIN EMISI PADA PASAR PERDANA. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI AKSESORIS DENGAN SISTEM PESANAN DI DESA BRAKAS KECAMATAN RAAS KABUPATEN SUMENEP. BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH LANTABUR JOMBANG.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI AKAD MURABAHAH YANG DISERTAI DENGAN AKAD WAKALAH DI PT.  TINJAUAN FIQIH MUAMALAH TERHADAP STATUS KEPEMILIKAN IKAN YANG DITANGKAP PADA SAAT BANJIR DI AREAL TAMBAK DI DESA AMBENG-AMBENG KECAMATAN DUDUK SAMPEYAN KABUPATEN GRESIK. .

 ANALISIS KETENTUAN MARGIN DALAM PEMBIAYAAN MURABAHAH ANTARA NASABAH MUSLIM DAN NON MUSLIM DI BMT AL HAMBRA MANUKAN. PANDANGAN TOKOH AGAMA ISLAM TERHADAP SEWA KAPAL ATAU PERAHU DENGAN IMBALAN SEPERENAM HASIL PENDAPATAN DI DESA BAJING JOWO SARANG REMBANG.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENGELUARAN DENDA ATAS KETERLAMBATAN NASABAH .  PANDANGAN ULAMA’ JAWA TIMUR TERHADAP HUKUM JUAL BELI PANGAN DAUR ULANG (PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAH).  ”POLA DISTRIBUSI ZAKAT DAGANG DENGAN PAKAIAN DI KECAMATAN BLUTO SUMENEP DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM”.

 ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP DISPARITAS PENENTUAN HARGA BERAS PETANI OLEH PEMILIK USAHA DAGANG DI KECAMATAN SUKODADI KABUPATEN LAMONGAN.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM BAGI HASIL PADA PEMBIAYAAN MODAL VENTURA DI PERUSAHAAN MODAL VENTURA JAWA TIMUR.  KETENTUAN LAYANAN VOICE MAILBOX OLEH PROVIDER TELKOM FLEXI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM.MEMBAYAR ANGSURAN PADA PEMBIAYAAN MURABAHAH DI KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH MU’AMALAH BERKAH SEJAHTERA SURABAYA (STUDI KASUS KJKS MUAMALAH BERKAH SEJAHTERA DI SURABAYA).  ANALISIS HUKUM ISLAM .

B ) DI .  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KETENTUAN PENARIKAN DANA TABUNGAN MUDARABAH DI PT.TERHADAP PRAKTIK BAY‘AL-‘INAH DALAM PEMBIAYAAN BAI’ BITSAMANIL AJIL (BBA) DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG SIDODADI.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PAJAK PROGRESIF KENDARAAN BERMOTOR MENURUT UNDANG – UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH PASAL 6 (1. BANK BRI SYARI’AH KCP SIDOARJO.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP MANAJEMEN RISIKO DANA PENSIUN SYARI’AH DI BISNIS JASA KEUANGAN SYARI’AH ALHAMBRA SURABAYA.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENGGUNAAN SUNTIK PUTIH (WHITENING INJECTION).

.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI BARTER BAHAN MAKANAN POKOK DI DESA RAGANG KECAMATAN WARU KABUPATEN PAMEKASAN.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENGELOLAAN UANG LINGKUNGAN DI DUSUN SUMBERJO SUGIHWARAS KECAMATAN KALITENGAH KABUPATEN LAMONGAN.  PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP PELAKSANAAN JUAL BELI BILYET GIRO DI DESA NGENI KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM.PROVINSI JAWA TIMUR  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP RETRIBUSI PARKIR DI TROTOAR PASAR TRADISIONAL RUNGKUT MENANGGAL SURABAYA.

11/11/PBI/2009 DAN FATWA DSN-MUI. .  GESEK TUNAI KARTU PEMBIAYAAN HASANAH DI BNI SYARIAH CABANG SURABAYA DALAM PERSPEKTIF PBI N0.  STATUS HUKUM KENTANG HASIL TRANSGENIK DENGAN “MICROINJECTION” (STUDI KASUS DI DESA KAMULAN KECAMATAN DURENAN KABUPATEN TRENGGALEK).  PEMBAYARAN ZAKAT DAN PAJAK BAGI PEGAWAI DI UJKS AL-HAMBRA KETINTANG SURABAYA (PERSPEKTIF HUKUM ISLAM). SUMBER DANA DAN SYARAT PADA AKAD “QARDHUL HASAN” DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG GUBENG DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM.  ANALISIS HUKUM ISLAM DAN UNDANG.UNDANG NO 42 TAHUN 1999 TERHADAP PENERAPAN JAMINAN DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG SIDODADI SURABAYA.

 PENERAPAN PERJANJIAN BAKU PADA PROSES PENERBITAN KARTU KREDIT BANK BNI SYARIAH HASANAH CARD (ANALISIS HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN). BPRS BHAKTI SUMEKAR SUMENEP DI BANK KONVENSIONAL DAN PENGGUNAAN BUNGANYA. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENEMPATAN DANA PT.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBIAYAA MUSYARAKAH DI KOPERASI SERBA USAHA (KSU) SYARIAH BAITUL MAL WA TAMWIL (BMT) AN-NUR MOJOSARI KABUPATEN MOJOKERTO.  STUDI KOMPARATIF TERHADAP PEMIKIRAN IMAM ABU HANIFAH DAN IMAM SYAFI’I TENTANG SYIRKAH.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI PASIR EMAS .

 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI BAWANG MERAH YANG DIRENDAM DAHULU SEBELUM DIPANEN DI DESA PADUSAN KEC.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KECENDERUNGAN SANTRI MENGGUNAKAN JASA DI BANK KONVENSIONAL (STUDI KASUS SANTRI DI PONDOK PESANTREN ALISMAILIYAH BAHAUDDIN NGELOM SEPANJANG SIDOARJO). .  PRAKTEK JUAL BELI STEROID INI DALAM DUNIA BINA RAGA DAN FITNESS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM. PACET KAB.DENGAN PENENTUAN HARGA TETAP SETIAP BULAN DI HOME INDUSTRY “LARIES” SURABAYA. MOJOKERTO.  TENAGA KERJA WANITA INDONESIA DI LUAR NEGERI TANPA MAHRAM (ANALISIS HUKUM ISLAM).

 KEBERADAAN SWALAYANSWALAYAN DI KEL. WONOCOLO SURABAYA (ANALISIS MAQASID SYARIAH). TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PANDANGAN TOKOH AGAMA TENTANG JUAL BELI TANAH PEKARANGAN TANPA MENYERTAKAN TANAMANNYA DI DESA NGEPEH KECAMATAN LOCERET KABUPATEN NGANJUK.  TRANSAKSI JUAL-BELI DENGAN SISTEM PERSEKOT ANTAR MAKELAR MENURUT HUKUM ISLAM (STUDI .  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JASA CUCI MOBIL DI KAWASAN WISATA PACET MOJOKERTO.  PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI KACANG TANAH DENGAN METODE “NIL” DI UD. PUTRA JAYA TUBAN. JEMUR WONOSARI KEC.

KASUS DI MOJOSARI MOJOKERTO).  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI PAKAIAN BEKAS DALAM KARUNG (BAL-BALAN) DI .  PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP PENGURANGAN TIMBANGAN DALAM JUAL BELI KEONG LAUT DI DESA PALOH KECAMATAN PACIRAN KABUPATEN LAMONGAN DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENGALIHAN FUNGSI BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) DI SD AL HUDA FULL DAY SCHOOL WADUNG ASRI WARU SIDOARJO.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK JASA PENGGILINGAN PADI (STUDI KASUS DI DESA PRASUNG KECAMATAN BUDURAN KABUPATEN SIDOARJO).

GEMBONG TEBASAN  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRODUK RAHN INVESTASI (GADAI INVESTASI) DI PT.  PERSPEKTIF PARA KIAI SETEMPAT TENTANG PINJAMAN DANA BERGULIR DI UNIT PENGELOLA KEGIATAN (UPK) DALAM PROGAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PEDESAAN (PNPM-MP) DI DESA BATAH TIMUR . SAMPANG. BANYUKAPAH KEC.  PERSPEKTIF PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP JUAL BELI GABAH KOTOR (Studi Di Desa Sumber Arum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro).  PENDAPAT TOKOH AGAMA TERHADAP BORG YANG DITENTUKAN MURTAHIN DALAM GADAI SAWAH DI DS. BANK BNI SYARIAH KANTOR CABANG SYARIAH SURABAYA. KEDUNGDUNG KAB.KAWASAN SURABAYA.

 HUTANG PIUTANG DENGAN JAMINAN HASIL PANEN (Analisis Hukum Islam Terhadap Sistem Hutang Piutang Dengan Jaminan Hasil Panen Tambak Di Desa Banjarsari Kecamatan Bududran Kabupaten Sidoarjo).KECAMATAN KWANYAR KABUPATEN BANGKALAN (Studi Hukum Islam).  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK REYENG DALAM JUAL BELI IKAN DI DESA SAWAHAN KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK JAWA TIMUR.  ANALISIS HUKUM ISLAM .  TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PROSEDUR HUTANGPIUTANG HASANAH DI KOPERASI WANITA YASMIN BILAPORA BARAT GANDING SUMENEP.  SPEKULASI PADA MONEY DEMAND MENURUT TEORI MONETER ISLAM.

 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP UPAH TAYUBAN WARANGGANA DAN PENGGUNAANNYA (Studi Kasus di Dusun Ngrajek. Kecamatan Tanjunganom.  TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP MEKANISME . Desa Sambirejo.  TADLIS DALAM BISNIS (ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK BISNIS GERAI DINAR). Kabupaten Nganjuk).TERHADAP ARISAN BERJANGKA DI RUNGKUT LOR SURABAYA.  JUAL BELI DENGAN WAKTU TERTANGGUHKAN ANALISIS FIQIH MUAM’ALAH TERHADAP JUAL BELI POHON SENGON DENGAN SISTEM PENEBANGAN TERTANGGUHKAN DI KECAMATAN KRUCIL KABUPATEN PROBOLINGGO.

 ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI AKAD QARD YANG DIRANGKAI DENGAN AKAD IJARAH TEMPAT PENYIMPANAN BARANG JAMINAN QARD ( Study Kasus Di KJKS BMT NUSYA Kecamatan Sukodadi Lamongan).  SANERING DAN RENCANA REDENOMINASI DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF TEORI MASLAHAH.  JUAL BELI BERAS ZAKAT FITRAH ANTARA AMIL DAN MUZAKKI BERIKUTNYA (Analisis Hukum Islam).PENJUALAN NADA SAMBUNG PADA PROVIDER SELULER.  Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Pulsa Online Melalui PayPal di .  PENERAPAN AKAD TABUNGAN MUDARABAH MUTLAQAH PADA PT. BPRS BANK MADINAH LAMONGAN (Studi Analisis Hukum Islam).

Com Sidoarjo.Zaindeviana.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP AKAD MURABAHAH PEMBIAYAAN KONSUMTIF DI PT BPRS AMANAH SEJAHTERA KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK.  BENTUK PENGELOLAAN HIBAH KAMBING SECARA BERGULIR DI .  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PANDANGAN ULAMA TENTANG PRAKTIK PENUKARAN UANG BARU MENJELANG LEBARAN.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI BERAS ZAKAT FITRAH OLEH AMIL DI MASJID ALMAGHFUR DI DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK.  STUDI KOMPARASI TENTANG PERJANJIAN DUA PIHAK DALAM HUKUM POSITIF DAN ‘AQD.

 NALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENGGUNAAN DAN JUAL-BELI ARAK DALAM MASAKAN (Studi di Perusahaan Aerow\isata Cathering Service Surabaya).  MURABAHAH DALAM SISTEM BISNIS STUDI KOMPARASI KONSEP MURABAHAH DALAM SISTEM BISNIS BERDASARKAN KAJIAN FIQH KLASIK DAN FIQH KONTEMPORER.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP AKAD PEMBIAYAAN MUDARABAH YANG MENGANDUNG AGENCY PROBLEMS DI BANK SYARIAH BUKOPIN CABANG SURABAYA.LEMBAGA KESWADAYAAN MASYARAKAT (LKM ) MAJU MAKMUR DESA PLUMBUNGAN KECAMATAN SUKODONO KABUPATEN SIDOARJO DALAM PERSPEKTIF HIBAH.  PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PENJUALAN JASA LAYANAN PERJALANAN UMRAH/HAJI .

Arminareka Perdana Surabaya). KELUARGA JAYA ABADI SENTOSA SURABAYA.  STUDI ANALISIS MASLAHAH MURSALAH DALAM MENGKONSUMSI TUAK SEBAGAI OBAT KENCING BATU DI DESA DAWUNG KECAMATAN PALANG KABUPATEN TUBAN.TRENGGALEK.  Analisis Hukum Islam Terhadap Sistem ngambak (Study Kasus pinjaman Modal Melaut Bagi Nelayan Di Muncar Banyuwangi).PLUS (Studi Kasus di PT.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM LEMBUR PADA SEWA EKSKAVATOR DI PT.SINAR MAS UBER ALLES DI DESA TERBIS KEC.  STUDI ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP AKAD SEWA OLEH PT.  TINJAUAN HUKUM ISLAM .PANGGU KAB.

 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM PINJAMAN .TERHADAP PERSAINGAN INDOMARET DENGAN TOKO-TOKO KECIL DI DESA PANDIAN KECAMATAN AROSBAYA KABUPATEN BANGKALAN.  KEDUDUKAN UPAH ATAS JASA SULAM BIBIR DAN ALIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (STUDY ANALISIS DI SALON PRINCESS SURABAYA).  ANALISIS FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL (DSN) TERHADAP PENYELESAIAN UTANG PIUTANG MURABAHAH BERMASALAH PADA PEMBIAYAAN MIKRO DI BRI SYARIAH CABANG INDUK GUBENG SURABAYA.  STUDI KRITIS PEMIKIRAN ABU UBAID TENTANG POLA DISTRIBUSI SILANG (CROSS DISTRIBUTION) ZAKAT DI LEMBAGA AMIL ZAKAT (LAZ) DOMPET DHUAFA.

 ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP TRADISI SEWAN BALIK LAHAN PERTANIAN DI DESA LATEK KECAMATAN SEKARAN KABUPATEN LAMONGAN.  TRANSAKSI PENGIRIMAN BARANGBARANG DIGITAL OLEH “OMAH DIGITAL” MELALUI JASA EKSPEDISI DI SURABAYA DALAM PERSPEKTIF WAKALAH BI AL-’UJRAH.  Perspektif Hukum Islm terhadap Ketentuan Ganti Rugi atas Harta Wakaf yang Terkena Dampak Lumpur Lapindo di Desa Jatirejo Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo. .  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI INDONESIAN DOLLAR RUPIAH (IDR) PADA “ACCOUNT USER MIG33.DENGAN SYARAT INFAQ PADA “PILAR MANDIRI” DI YAYASAN NURUL HAYAT SURABAYA.

BPRS DAYA ARTHA MENTARI BANGIL.  Tinjauan hukum islam tentang lelang barang via sms oleh telkomsel. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP WATSIQOH TANAH SAWAH DI DESA KALISAT KECAMATAN REMBANG KABUPATEN PASURUAN. PT. .  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK JUAL BELI DARAH DI RSUD LAMONGAN.  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBERIAN UPAH PENJEMUR PADI (Studi Kasus Ud Sumber Makmur Desa Randusongo Kecamatan Gerih Kabupaten Ngawi).  TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN DENDA PADA PEMBIAYAAN BERMASALAH DI.  ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP BAGI HASIL PADA PEMBIAYAAN MUDARABAH DI PT.

 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBEBANAN DENDA PADA ANGSURAN MURABAHAH YANG BERMASALAH DI BANK SYARIAH BUKOPIN CABANG SURABAYA.  Tinjauan hukum islam Terhadap JUAL BELI HAK AGEN KORAN DI JALAN BRAWIJAYA KELURAHAN SAWUNGGALING KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA .BPR SYARI’AH LANTABUR JOMBANG.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful