Anda di halaman 1dari 18

PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM

Ni Made Mulyati 011.501.0.061

Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar Tahun 2011

Kata Pengantar Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan pertolongan beliaulah penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. Paper ini membahasas tentang pembangunan hukum nasional dan perkembangannya dari jaman ke jaman. Disamping itu penulis juga melangkapi dengan penjelasan yang singkat sehingga mudah untuk dipahami. Harapan penulis adalah semoga paper ini dapat dijadikan reverensi atau pembelajaran kedepannya, selain itu penulis mengharapkan banyak kritikan dan saran dari pembaca guna kesempurnaan paper ini. Akhir kata penulis ucapkan banyak terimakasih.

Denpasar, Desember 2011

Daftar Isi

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I Pendahuluan Kata Pengantar Rumusan Masalah

................................................................................i ................................................................................ii

................................................................................1 ................................................................................3

BAB II Pembahasan ................................................................................4 BAB III Penutup ................................................................................15

ii

BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Filsafat hukum dan pembangunan hukum pada dasarnya merupakan dua konsep yang berbeda, namun memiliki titik temu pada objek pembahasannya yaitu tentang hukum. Filsafat hukum dan pembangunan hukum adalah dua konsep yang berbeda; filsafat hukum sebagai suatu disiplin keilmuan, sementara pembangunan hukum merupakan suatu kebijaksanaan yang bersifat nasional dalam bentuk pembangunan di bidang hukum. Pembangunan di bidang hukum menjadi penting karena bertujuan untuk menghasilkan produkproduk hukum yang dapat mendukung dan mengamankan pembangunan hukum Nasional dan sebagai aktualisasi dari konsep Negara hukum sebagaimana yang ditegaskan dalam Undang-undang dasar 19451 Sebagai suatu disiplin keilmuan, filsafat hukum melakukan usaha pengkajian tentang hukum secara mendasar dengan sistematis dan dengan metode yang rasional. Oleh karena itu filsafat hukum akan memberikan jawaban terhadap "apakah hukum itu", yang pada hakikatnya pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh hukum dan ilmu-ilmu lainnya. Atas dasar pendekatan dan pengkajian filsafat hukum inilah maka hukum yang akan dibangun akan tetap berlandaskan nilai ideologi, nilai budaya, nilai historis. nilai sosiologis dan nilai juridis. Di samping itu filsafat hukum bertujuan untuk menjelaskan nilai-nilai dan dasardasar hukum sampai pada dasar-dasar filsafat nya.

Pembangunan hukum yang dilandaskan pada nilai-nilai tersebut tidak saja menciptakan dan melahirkan hukum-hukum yang bias menjawab berbagai kebutuhan masyarakat secara internal, akan tetapi juga akan dapat menjawab dan sekaligus merespon perkembangan kehidupan sejalan dengan dinamika pembangunan bangsa. Pembangunan hukum yang dilandasi oleh nilai dasar atau nilai ideologis, nilai historis, nilai sosiologis dan nilai juridis serta nilai filosofisnya akan memberikan dampak positif bag! masyarakat untuk dapat menikmati rasa keadilan, kepastian dan manfaat hukum yang pada akhirnya akan bermuara kepada pembentukan sikap dan kesadaran masyarakat terhadap hukum. Bagi masyarakat yang sedang membangun sebagaimana halnya masyarakat Indonesia; membangun termasuk di dalamnya membangun hukum tidak saja berarti membangun sarana pengendali atau control dalam kehidupan masyarakat, akan tetapi hukum yang dibangun juga harus beriungsi sebagai sarana untuk memelihara dan sekaligus untuk mengembangkan potensi pembangunan nasional secara lebih luas. Atas dasar kerangka dan konsepsi berpikir di atas, maka pembahasan dalam tulisan ini mengambil topik pembangunan hukum nasional dengan fokus pembahasannya diarahkan kepada studi tentang peranan filsafat hukum dalam pembangunan hukum nasional. Studi ini dianggap penting disebabkan pembangunan hukum secara nasional dalam perspektifnya ridak saja dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang berhubungan dengan dimensi

nasional, akan tetapi juga dihadapkan pada persoalan-persoalan yang berdimensi lokal dan global.

1.2 Rumusan Masalah 2.1. Bagaimana mewujudkan straregi pembangunan hukum nasional? 2.2. Bagaimana pembangunan hukum nasional dalam era orde baru? 2.3. Bagaimana pembangunan hukum di era reformasi?

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Arab dan Strategi Pembangunan Hukum Nasional Dalam Undang-undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Negara Indonesia berdasar atas hukum (rechtstaat) dan tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machtstaat)-3 Penegasan konstitusi tersebut mengandung makna bahwa di Negara Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila, hukum mempunyai peranan yang mendasar dan mempunyai arti yang sangat strategis bagi sasaran pembangunan yang telah, sedang dan akan dilaksanakan. Dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka kesinambungan peningkatan pelaksanaan pembangunan nasional yang berasaskan kekeluargaan harus senantiasa dipelihara dengan baik melalui sistem dan pranata hukum yang modem tetapi tetap berakar pada nilai-nilai wawasan kebangsaan dan kepentingan nasional. Oleh karena itulah pentingnya hukum untuk dibangun agar hokum dapat benar-benar menjadi sarana pembangunan dan pembaharuan masyarakat yang kita harapkan. Hukum dapat berperan sebagai objek pembangunan dalam rangka mewujudkan hukum yang ideal sesuai dengan nilainilai yang hidup di masyarakat. Tetapi Juga hukum dapat menjadi subjek pembangunan manakala hukum itu telah berfungsi di masyarakat sebagai penggerak dan pengaman pembangunan dan hasilhasilnya. Di sinilah pentingnya

peranan perencanaan dan penelitian hukum untuk dapat menghasilkan hukum yang benar-benar mengakar di dalam perilaku masyarakat. Pembangunan hukum nasional pada dasamya memiliki ani penting dan strategis bagi kehidupan bangsa Indonesia. Ada tiga dimensi yang dapat dijadikan sebagai alasan pentingnya pembangunan hokum nasional, yaitu dimensi konstitusional, dimensi juridis sosiologis dan dimensi perspektif. Dimensi konstitusional bermakna pembangunan hukum nasional merupakan upaya untuk mewujudkan konsepsi negara hokum (rechtsstaat) dalam tata kehidupan masyarakat. berbangsa dan bernegara sekaligus mewujudkan amanat

konstitusional pasa 27 ayat (1) Undang- Undang Dasar 1945, yaitu segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hokum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Dimensi juridis sosiologis bermakna membangun hukum merupakan upaya untuk mewujudkan konsepsi hukum yang sesuai dengan idealita dan realita masyarakat Indonesia sehingga hukum benar-benar mampu memenuhi aspirasiaspirasi masyarakat dan memiliki kekuatan mengikat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat. Dimensi perspektif bermakna pembangunan hukum nasional merupakan upaya untuk menjadikan hukum sebagai sarana pembangunan dalam arti mengatur arah kegiatan manusia ke arah yang dikehendaki oleh pembangunan. Pembangunan hukum nasionat memiliki arti strategis disebabkan pembangunan hukum nasional merupakan upaya untuk mewujudkan cita-cita nasional sebagaimana yang diisyaratkan pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Perdamaian abadi dan keadilan social. Untuk tercapainya arah pembangunan hukum nasional tersebut maka disusun pola strategi dasar pembangunan hukum nasional yang meliputi dimensi pemeliharaan, dimensi pembaharuan. Dimensi penciptaan dan dimensi pelaksanaan.

2.2. Pembangunan Hukum Nasional pada Masa Orde Baru Selama tiga dasawarsa di bawah pemerintahan Orde Baru membawa pengaruh yang cukup besar terhadap pembangunan, tidak terkecuali

pembangunan di bidang hukum. Pada masa ini pelaksanaan kegiatan pembangunan hukum nasional dikaitkan dengan model "Pembangunan Nasional" yang dijalankan melalui tahapan yang dikenal dengan tahapan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Dua Puluh Lima Tahun Pertama yang kemudian dilanjutkan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kedua. Pembangunan hukum sebagai salah unsur dalam pembangunan nasional untuk pertama kali dituangkan dalam Keputusan Presiden No. 319 Tahun 1968 tentang Rencana Pembangunan Lima Tahun Penama Tahun 1969/1970-1973/1974 Tanggal 30 Desember 1968.

Dalam keputusan presiden tersebut pembangunan hokum dirumuskan dalam Bab XIII "Tertib Hukum dan Penerangan" yang kebijakan dan langkahlangkahnya mencakup: 1. Bidang legislatif/pembentukan hukum a. Melaksanakan perundang-undangan atas kuasa /perintah UUD 1945 dan keputusan MPRS yang menyangkut berbagai bidang; sosial, keuangan negara. pertahanan dan keamanan negara, politik, serta hukum dan kehakiman. b. Mengusahakan pembentukan kodifikasi hukum nasional atas hukum pidana^hukum perdata, hukum dagang, hukum acara pidana dan hukum acara perdata. 2. Bidang pelaksanaan hukum/penerapan hukum a. Mengusahakan terselenggaranya adminstrasi peradilan yang cepat dan bersih. b. Mengusahakan pembentukan peradilan administrasi c. Pengawasan dan penertiban terhadap penahanan/ penggeledahan/penyitaan. d. Faktor-faktor ekstra judisiil e. Penyempumaan administrasi khusus tentang berbagai hal seperti tentang barang bukti. f. Perbaikan aparatur dan penyempumaan sistem pemasyarakatan. g. Perbaikan aparatur keimigrasian dalam rangka menjamin keamanan dan integritas nasional. h. Mengusahakan persamaan penegakan dan pengeterapan hokum bagi karyawan sipil dan ABRI. i. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.

j. Perbaikan sarana personal dan meteriil. k. Pendidikan/training dan upgrading. Pada tahap berikutnya usaha pembinaan hukum nasional dituangkan dalam GBHN melalui Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973. Ada beberapa ketentuan yang dapat dikutip dari GBHN ini yang berkenaan dengan pembangunan hukum: 1. Pembangunan di bidang hukum dan negara hukum Indonesia adalah berdasar atas landasan sumber tertib hukum negara yaitu cita-cita yang terkandung pada pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang luhur yang meliputi suasana kejiwaan serta watak dari bangsa Indonesia yang didapatkan dalam Pancasila dan UUD 1945. 2. Pembinaan bidang hukum harus mampu mengarahkan dan menampung kebutuhan-kebutuhan hukum rakyat yang berkembang ke arah modernisasi menurut tmgkat-tingkat kemajuan pembangunan di segala bidang sehingga tercapai ketertiban dan kepastian hokum sebagai prasarana yang harus ditunjukkan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa sekaligus berfungsi sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh, dilakukan dengan:

a. Peningkatan dan penyempurnaan Pembinaan Hukum Nasional dengan antara lain mengadakan pembaharuan, kodifikasi serta unifikasi hukum di bidang-bidang tertentu, dengan jalan memperhaukan kesadaran hukum dalam masyarakat. b. Menertibkan fungsi lembaga-lembaga hukum menurut proporsinyamasingmasing.

c. Peningkatan kemampuan dan kewibawaan penegak-penegakhukum. 3. Memupuk kesadaran hukum dalam masyarakat dan membina sikap para penguasa dan para pejabat pemerintah ke arah penegakan hukum, keadilan serta perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia dan ketertiban serta kepastian hukum sesuai dengan UUD 1945. Selanjutnya upaya pembangunan di bidang hukum pada Repelita III didasarkan pada Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN, yang isinya merupakan penyempurnaan dari ketentuan yang berlaku sebelumnya dengan penjabarannya berdasarkan Keputusan Presiden No. 7 Tahun 1979 tanggal 11 Maret 1979 tentang Rencana Pembangunan Lima Tahun Ketiga. Demikian juga pada Repelita IV dan V yang masingmasing didasarkan pada Ketetapan MPR No. IVMPR/1983 tentang GBHN yang dijabarkan lebih lanjut dengan Keputusan Presiden No. 21 Tahun 1984 tanggal 19 Maret 1984 tentang Rencana Pembangunan Lima Tahun Keempat dan Ketetapan MPR No. IVMPR/1988 dan dijabarkan melalui Keputusan Presiden No. 13 Tahun 1989 tentang Rencana Pembangunan Urna Tahun Kelima.

2.3. Pembangunan Hukum di Era Reformasi Pada tanggal 21 Met 1998 Presiden Soeharto sebagai Mandataris MPR mengundurkan dirt sebagai Presiden dan digantikan oleh Wakil Presiden B.J. Habibie yang kemudian membentuk "Kabinet Reformasi Pembangunan" yang bertugas melaksanakan reformasi secara menyeluruh dalam segenap aspek kehidupan. Landasan pertama mengenai hukum di Era Reformasi adalah

Ketetapan MPR No. X.MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. Tujuan reformasi pembangunan di bidang hukum adalah untuk menegakan hukum berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, hak asasi manusia menuju terciptanya keterriban umum dan perbaikan sikap mental. Rumusan kebijakan reformasi pembangunan untuk bidang hokum adalah:

Penanggulangan krisis di bidang hukum benujuan untuk tegak dan terlaksananya hukum dengan sasaran terwujudnya ketertiban, ketenangan dan ketenteraman masyarakat. Agenda yang hams dijalankan: a. Pemisahan secara tegas fungsi dan wewenang aparatur penegak hukum, agar dapat dicapai profesionalitas dan integritas yang utuh. b. Meningkatkan dukungan perangkat, sarana dan prasarana hokum yang lebih menjamin kelancaran dan kelangsungan berperannya hukum sebagai pengatur kehidupan nasional c. Memantapkan penghormatan dan penghargaan terhadap hak asasi manusia melalui penegakan hukum dan peningkatan kesadaran hukum bagi selumh masyarakat d. Membenmk undang-undang keselamatan dan keamanan Negara sebagai pengganti Undang-Undang No. 1I/PNPS/ 1963 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Subversi yang akan dicabut. 2. Pelaksanan reformasi di bidang hukum dilaksanakan untuk mendukung penanggulangan krisis di bidang hukum. Agenda yang harus dijalankan:

10

a. Pemisahan yang tegas antara fungsi-fungsi yudikatif dari eksekutif. b. Mewujudkan sistem hukum nasional melalui program legislasi nasional secara terpadu. c. Menegakan supremasi hukum dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. d. Terbentuknya sikap dan perilaku anggota masyarakat termasuk para penyelenggara negara yang dihonnati dan menjunjung tinggi hukum yang berlaku. Arahan terpenting dalam era reformasi mengenai pembangunan hukum adalah Ketetapan MPR No. IV/MPR/I999 tentang GBHN tahun 1999-2004 disebutkan sebagai berikut:

1. Mengembangkan budaya hukum di semua lapisan masyarakat untuk terciptanya kesadaran dan kepatuhan hukum dan kepatuhan hokum dalam kerangka suremasi hukum dan tegaknya negara hukum. 2. Menata sistem hukum nasional yang menyeluruh dan terpadu dengan mengakui dan menghormati hukum agama dan hukum adat serta memperbaharui perundangundangan warisan kolonial dan hukum nasional yang diskriminatif, termasuk ketidakadilan gender dan ketidaksesuaiannya dengan tumutan reformasi melalui program legislasi. 3. Menegakan hukum secara konsisten untuk lebih menjamin kepastian hukum, keadilan dan kebenaran, supremasi hukum, serta menghargai hak asasi manusia.

11

4. Melanjutkan ratifikasi konvensi internasional, terutama yang berkaitan dengan hak asasi manusia sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan bangsa dalam bentuk undang-undang. 5. Meningkatkan integritas moral dan keprofesionalan aparat penegak hukum, termasuk kepolisian Negara Repubtik Indonesia, untuk menumbuhkan

kepercayaan masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan, dukungan sarana dan prasarana hukum, pendidikan sena pengawasan yang efektif. 6. Mewujudkan lembaga peradilan yang mandiri dan bebas dari pengaruh penguasa dan pihak mana pun. 7. Mengembangkan peraturan perundang-undangan yang mendukung kegiatan perekonomian dalam menghadapi era perdagangan bebas tanpa merugikan kepentingan nasional, 8. Menyelenggarakan proses peradilan secara cepat, mudah, murah dan terbuka, sena bebas korupsi, kolusi dan nepotisme dengan tetap menjunjung tinggi asas keadilan dan kebenaran. 9. Meningkatkan pemahaman dan penyadaran, serta meningkat-kan perlindungan, penghormatan dan penegakan hak asasi manusia dalam seluruh aspek kehidupan. 10. Menyelesaikan berbagai proses peradilan terhadap pelanggaran hukum dan hak asasi manusia yang belum ditangani secara tuntas. Penjabaran Ketetapan MPR dilakukan berbeda dengan apa yang dilakukan pada masa Orde Baru yaitu ke dalam berbagai program REPELITA. Menurut ketentuan kaidah pelaksanaan dari GBHN ini, pelaksanaannya dituangkan dalam Program Pembangunan

12

Nasional (PROPENAS) yang memuat uraian kebijakan secara rinci dan terukur yang ditetapkan oleh Presiden bersama DPR.

2.4. Filsafat Hukum dan Pembangunan Hukum Nasional Satjipto Rahardjo mengemukakan pendapatnya bahwa filsafat hukum itu mempersoalkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat dasar dari hukum.

Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat dasar dari hukum, tentang dasar-dasar bagi kekuatan mengikat dari hukum.9 Sementara Gustav Radbruch mengungkapkan bahwa filsafat hukum itu adalah cabang filsafat yang mempelajari hukum yang benar. Filsafat hukum secara sederhana dapat dikatakan sebagai cabang filsafat, yang pada dasarnya mempelajari tentang hakikat hukum. Dalam pemahaman lain dapat juga dikatakan bahwa filsafat hukum merupakan suatu disiplin keilmuan yang berusaha mengkaji hukum sebagai objek secara mendasar dengan sistematis dan metode yang rasional. Filsafat hukum mempelajari tentang dasar-dasar/azasazas hukum yang bersifat umum, tetap dan tidak berubah yang menjadi latar belakang dan dasar umum bagi beriakunya suatu sistem hukum positif pada suatu masyarakat. Kajian filsafat hukum melihat jauh lebih dalam lagi, tidak hanya sekedar bagaimana ketentuan hukum positif menentukan masalah dan latar belakang sejarahnya, tetapi bagaimana nilai-nilai hakiki yang mendasari ketentuan tersebut sehingga filsafat akan lebih banyak berhubungan dengan masalah nilainilai dasar dari hukum, Ilmu hukum sebagai suatu ilmu empiris (dos sein) sedang filsafat hukum melihat hukum sebagai suatu yang tersembunyi di balik aturan

13

hukum berupa suatu hukum yang ideal (recht ideaQ yang tidak tennasuk dalam dunia kenyataan (sein) melainkan tennasuk dunia nilai atau dunia soHen yang lain dari pada dunia penyelidikan ilmu pengetahuan. Di mana ilmu pengetahuan berakhir, di situlah mulai filsafat hukum. la mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab ilmu pengetahuan.

14

BAB III PENUTUP

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan pada pembahasan terdahulu, maka dapatlah disimpulkan bahwa filsafat hokum sebagai suatu disiplin keilmuan yang berusaha mengkaji hukum sebagai objeknya secara mendasar dengan sistematis dan metode yang rasional memiliki peranan penting dalam pembangunan hukum nasional. Pentingnya filsafat hukum dalam pembangunan hukum nasional dikarenakan hanya dengan filsafat hukum sebagai salah satu variabelnya pelaksanaan pembangunan hukum nasional akan dapat menjawab berbagai kebutuhan masyarakat dan sekaligus dapat merespon perkembangan kehidupan seiring dengan dinamika pembangunan nasional. Dengan filsafat hukum akan tercipta pilihan-pilihan yang tepat terhadap hukum yang akan dibangun oleh karena filsafat hukum akan menentukan hukum yang berdimensi nilai dasar, nilai budaya, nilai historis, nilai sosiologis dan nilai juridis, sehingga hukum yang lahir sebagai produk pembangunan hukum nasional tidak saja hukum dalam arti gejala sosial kemasyarakatan semata, akan tetapi hukum yang diproduk adalah hukum yang memiliki dimensi moral, dimensi keadilan. dimensi kepastian dan dimensi kemanfaatan yang pada akhirnya akan bermuara kepada semakin tumbuh dan berkembangnya sikap dan kesadaran masyarakat terhadap hukum.

15