Anda di halaman 1dari 13

KAJIAN TELAGA UNTUK BUDIDAYA

Oleh : Malinda Yusuf H1K010015

KEMENTERIAN PENDIDIKAN INDONESIA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN PURWOKERTO 2011

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dataran tinggi dieng terletak di empat kabupaten, meliputi Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Batang. Nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "Di" yang berarti "tempat yang tinggi" atau "gunung" dan "Hyang" dari kata khayangan yang artinya tempat para dewa dewi. Maka Dieng berarti daerah pegunungan dimana para dewa dan dewi bersemayam. Obyek wiasata Dieng adalah sebuah kawasan daerah pegunungan tinggi di daerah perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dieng terbagi menjadi Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan, Kejajar Kabupaten Wonosobo. Kawasan ini terletak sekitar 26 km sebelah utara Ibu Kota Kabupaten Wonosobo dengan ketinggian mencapai 6000 kaki atau 2093 m diatas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin. Temperatur berkisar antara 15-20oC di siang hari dan pada malam hari 10C, bahkan suhu udara terkadang dapat mencapai 0C di pagi hari, terutama pada bulan Juli sampai Agustus dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian. Telaga merupakan wilayah perairan dengan wilayah yang luas atau dapat disebut danau yang dimana cahaya matahari masih dapat masuk kedalam atau dasar masih dapat terlihat. Telaga Warna lebih dari 60 % bagian dasar terdiri dari lumpur, kadang merupakan campuran dari kelas-kelas substrat. Kompleksitas habitat terdiri dari keragaman tipe ( batang kayu, ranting, batu besar, vegetasi akuatik, variasi tepian Telaga ) dan ukuran material membentuk habitat yang berbeda. Dinamakan telaga warna karena telaga tersebut memantulkan aneka warna hijau, biru, kuning, dan coklat yang indah. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh kandungan mineral telaga tersebut yang mengandung belerang. Menurut masyarakat setempat, ada suatu kisah yang menyebabkan warna danau alias telaga itu berwarna-warni. Konon, dahulu ada cincin milik bangsawan setempat yang bertuah namun terjatuh ke dasar telaga. Sementara dari kajian ilmiah, telaga ini

merupakan kawah gunung berapi yang mengandung belerang. Akibatnya, bila air telaga terkena sinar matahari akan dibiaskan menjadi warna-warni yang indah. Telaga di Dieng tergolong Danau vulkanik yang terbentuk akibat adanya aktivitas vulkanik dan hasil dari proses vulkanik ini adalah dengan adanya kepundan atau kawah. Danau vulkanik terbentuk akibat letusan gunung berapi, tergenang oleh air hujan yang mengisi seluruh permukaanya. Danau seperti ini disebut juga danau crater. Telaga warna terdapat keunikan antara lain warnanya yang dapat berubah-ubah menjadi beberapa warna yaitu kuning, hijau dan kecoklatan dan terkadang menjadi biru. Warna yang telaga tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor biotik dan abiotik. Faktor-faktor tersebut sangat berhubungan dengan ekosistem di Dieng. Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi (Undang-undang Lingkungan Hidup (UULH), 1982 dalam Irwan, 1992). 1.2. Tujuan Tujuan dari praktikum Kajian Ekosistem Telaga Di Dieng Untuk Budidaya adalah untuk mengkaji apakah ekosistem di telaga Dieng dapat digunakan untuk usaha budidaya dan komoditas apa saja yang hidup dan dapat dibudidayakan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem merupakan salah satu bahan kajian dari ekologi secara umum. Suatu ekosistem terdiri atas unsur organisme dan lingkungan yang saling berinteraksi antara keduanya. Menurut Tansley (Dalam Wolf, 1978) semua organisme dan lingkungannya yang terdapat dilokasi tertentu merupakan unsur-unsur yang oleh para ahli ekologi disebut ekosistem. Lingkungan pada umumnya dibagi menjadi faktorfaktor yang bersifat fisik dan biologis. Faktor fisik atau yang bersifat abiotik, yaitu faktor-faktor lingkungan yang bersifat non biologis, seperti air dan temperatur. faktor yang bersifat biologis atau biotik yaitu yaitu organisme yang berpengaruh terhadap organisme lain, sebagai contoh predator dan sumber makanan (Wolf, 1978). Selama hubungan timbal balik antara komponen ekosistem dalam keadaan seimbang, selama itu pula ekosistem dalam keadaan stabil. Sebaliknya bila hubungan timbal balik antar komponen-komponen lingkungan mengalami gangguan, maka terjadilah gangguan secara ekologis. Gangguan ekologis pada dasarnya adalah gangguan pada arus materi, energi dan informasi antar komponen ekosistem yang tidak seimbang (Odum, 1972). Ekosistem terdiri dari satu atau beberapa komunitas dan masing-masing terdiri banyak produsen, konsumen dan pengurai. Hubungan dari produsen, konsumen dan pengurai membentuk rantai dan pada masing-masing rantai ini terjadi perpindahan energi. Setiap jalur perpindahan dari suatu sumber tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan tertentu melalui serangkaian konsumen tertentu disebut rantai makanan. Kombinasi dari semua rantai makanan dalam setiap komunitas atau ekosistem disebut jaringjaring makanan. Oleh karena itu, jaring-jaring makanan adalah suatu ringkasan dari semua jalur yang dilalui oleh energi yang bergerak dari satu tingkatan ketingkatan berikutnya dari suatu komunitas ke ekosistem (Nyabakken, 1992). Budidaya dapat dilakukan dengan melihat kelimpahan plankton ditempat yang akan dilakukan pembudidayaan. Plankton sendiri merupakan tumbuhan

(fitoplankton) atau hewan (zooplankton) renik air tawar atau air laut yang posisi atau persebaranya tergantung dan ditentukan oleh arus air serta massa udara sekitarnya, meskipun mampu bergerak sendiri secara terbatas (Krebs, 1984. Dalam kamus biologi, 1999).

Adanya plankton pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang dipengaruhi antara lain adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos. Sedangkan faktor abiotiknya adalah : suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar (Allard and Moreau, 1687); APHA, 1992). Faktor abiotik dan biotik tersebut dapat menjadi faktor pembatas yang digunakan untuk dapat mengetahui keragaman organisme dan kelimpahannya. Berdasarkan sifat fisik, kimia dan biologinya waduk dibagi menjadi tiga zona yaitu zona mengalir (riverin), transisi dan tergenang (lakustrin) (Thornton et al., 1981 dalam Thornton et al.,1990) Sumber oksigen terlarut di perairan yang utama adalah difusi udara dan hasil fotosintesis fitoplankton. Laju transfer oksigen tergantung pada konsentrasi oksigen terlarut di lapisan permukaan, konsentrasi saturasi oksigen, dan bervariasi sesuai kecepatan angin (Seller dan Markland, 1987). Adsorpsi oksigen dari udara ke air melalui dua cara yaitu : difusi langsung ke permukaan air atau melalui berbagai bentuk agitasi air permukaan, seperti gelombang, air terjun, turbulensi (Welch, 1952). Sumber oksigen terlarut sebagian adalah reaerasi permukaan (Seller dan Markland, 1987). Demikian besarnya peran plankton dalam perairan sehingga perairan dapat dipakai sebagai tempat budidaya yang cocok. Yang di maksud budidaya disini adalah usaha manusia dengan segala tenaga dan kemampuannya untuk memelihara ikan dengan cara memasukan ikan tersebut kedalam tempat dengan kondisi tertentu atau dengan cara menciptakan kondisi lingkungan alam yang cocok bagi ikan (Affrianto, 1988). Tujuan dari budidaya disini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan yang tidak dapat terpenuhi dengan penangkapan saja dan pemenuhan gizi yang berasal dari produk perikanan (Affrianto, 1988). Air memiliki peranan penting bagi kelangsungan hidup organisme. Peranan penting itu antara lain sebagai medium pertumbuhan dan pergerakan organisme, serta sebagai pembawa nutrien bagi produsen pada ekosistem akuatik. Nilai pH merupakan suatu ekspresi dari konsentrasi ion hydrogen (H+) di dalam air (Sary, 2006). Apabila fluktuasi pH di perairan tersebut berkisar antara 7,8 sampai 8,3 yang sangat baik digunakan untuk pengairan atau budidaya (Affrianto, 1988).

Keadaan temperatur sangat berpengaruh terhadap lingkungan dan organisme yang hidup didalamnya terutama berpengaruh dalam ketersediaan oksigen. Suhu lingkungan yang terlalu tinggi akan menyebabkan kemampuan air mengikat oksigen menjadi menurun, sehingga kandungan oksigen dalam air menjadi menurun pula, padahal kebutuhan organisme terhadap oksigen justru akan semakin meningkat (Affrianto, 1988). Temperatur yang baik untuk budidaya yang dilakukan ditempat yang beriklim tropis adalah berkisar antara 25-32C (Affrianto, 1988) Telaga merupakan perairan yang timbul dari cekungan permukaan bumi yang kemudian terisi oleh massa air yang kapasitasnya sangat besar. Atau secara singkatnya Telaga adalah semacam danau yang kecil dimana sinar matahari bahkan dapat mencapai dasarnya. Telaga di Dieng merupakan telaga yang terbentuk akibat proses vulkanik (Danau Vulkanik). Danau vulkanik yaitu suatu danau yang terletak pada lubang kepundan (kawah) yang timbul akibat aktivitas vulkanik atau letusan gunung berapi.

III. MATERI DAN METODE

3.1. Materi 3.1.1. Alat Alat yang digunakan pada praktikum Kajian Ekosistem Telaga Di Dieng Untuk Budidaya adalah sebagai berikut : Termometer, Conductivity meter, Kertas pH, Secci Disk, Tabel barbour and Stribling, Pipet tetes , botol winkler 250 ml, labu erlenmeyer, Label dan Tongkat penduga. 3.1.2. Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan MnSO4, KOH-KI, Na2S2O3, larutan lugol, indikator amilum. 3.2. Metode 3.2.1 Pengukuran Fisikokimia perairan 3.2.1.1 Suhu Melakukan pengukuran suhu dengan termometer yaitu dengan mencelupkan ujung termometer ke dalam air sampai terbaca angka yang stabil. Kemudian catat hasil dan ulangi perhitungan dan diambil rata-rata dari beberapa kali pengukuran. 3.2.1.2 Derajat Keasaman (pH) Mengukur pH perairan dengan menggunakan kertas pH. Celupkan kertas kedalam air telaga, tunggu sampai kertasnya mengering dan bandingkan dengan warna yang ada pada pembungkus kertas pH. Tentukan pH berdasarkan perubahan warna pH. 3.2.1.3 Kedalaman Dengan melakukan estimasi kedalaman telaga. 3.2.1.4 Oksigen Melakukan pengukuran Oksigen yang terlarut pada sampel air. Sampel air diambil dengan menenggelamkan botol neril secara hati-hati kedalam perairan agar tidak ada gelembung udara yang terbawa masuk. Ditambahkan larutan 1 ml MnSO4 dan larutan 1 ml KOH-KI. Lalu botol dikocok dengan membolak-balikkan botol sampai terbentuk endapan berwarna coklat. Ditambahkan 1 ml H2SO4 dan dikocok sampai endapan larut dan berwarna kuning. Larutan diambil sebanyak 100 ml dan dimasukkan kedalam tabung Erlenmeyer kemudian ditambahkan indikator amilum

sebanyak 10 tetes. Larutan dititrasi dengan Na2S2O3 0.025 N. Kemudian titrasi dihentikan saat larutan berubah menjadi jernih. Rumus perhitungannya : Oksigen terlarut = 1000/100 x P X Q X 8 Ket : P= volume larutan Na2S2O3 Q= Normalitas larutan 8 = Bobot setara larutan 3.3. Waktu dan Tempat Acara praktikum Ekosistem Telaga Di Dieng Untuk Budidaya dilakukan tanggal 15-16 oktober 2011 di Telaga Warna dan Telaga Pengilon, Dieng Wonosobo.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Tabel Fisikokimia


No. 1. 2. 3. 4. Pengukuran O2 Suhu Lebar pH Telaga Warna 0 20 C 300 m 3
0

Telaga Pengilon 6 21 0C 250 m 7

4.2 Pembahasan 4.2.1. Faktor Fisikokimia 4.2.1.1 Suhu Pengukuran suhu di perairan Telaga Warna menggunakan termometer yang dilakukan dengan mencelupkan kedalam perairan kemudian tunggu nilainya hingga stabil. Untuk menghitung temperaturnya dilakukan dengan mengukur di tiga titik yang berbeda kemudian hasilnya dirata-ratakan. Hasil pengukuran rata-rata suhu pada 3 titik di Telaga Warna, yaitu tanggal 16 oktober 2011 didapatkan hasil 20 0C. Sedangkan di Telaga Pengilon dilakukan pengukuran rata-rata suhu yang didapatkan hasil 21 0C. Moss (1998) menyatakan untuk danau-danau tropis dan temperatur yang hangat, iklimnya adalah musim kering dan musim basah (hujan). Distribusi oksigen di perairan yang mengalami stratifikasi dikendalikan oleh kombinasi dari kondisi daya larut, hidrodinamika, input fotosintesis, dan kehilangan secara kimia dan oksidasi metabolik (Wetzel, 2001). Suhu di dalam air dapat menjadi faktor penentu atau pengendali kehidupan flora dan fauna akuatis (Menurut Asdak. 2007). Suhu yang diperoleh di telaga warna adalah 20 0C dan Telaga Pengilon adalah 21 0C. Menurut Affrianto suhu yang paling baik digunakan pada budidaya adalah antara 25-32C pada kondisi ini pertumbuhan akan maksimum. Tetapi bila dibandingkan dengan kenyataan suhu di Telaga Dieng pada suhu ini pertumbuhan tidak maksimal karena energi yang didapat ikan dari metabolisme hanya akan digunakan untuk mempertahankan hidup. Sehingga dapat dipastikan bahwa perairan di Telaga Dieng tidak dapat digunakan untuk budidaya

walaupun ikan dapat hidup disana tetapi hanya sebatas untuk mempertahankan hidupnya bukan pertumbuhan dan perkembangbiakan sebagai tujuan dari budidaya. 4.2.1.2. Nilai pH Derajat keasaman Dalam hal ini sangat berperan terhadap kehidupan organisme yang ada di perairan, pH sangat mempengaruhi penyebaran organisme. Setelah diadakan pengukuran pH yang dilakukan dengan menggunakan indikator kertas pH didapat hasil di Telaga Warna adalah 3, sedangkan untuk Telaga Pengilon adalah 7. Hal ini berarti suatu perairan di Telaga Warna bersifat asam kuat sedangkan untuk Telaga Pengilon bersifat netral. Sehingga Telaga Warna tersebut tidak cocok untuk budidaya ikan. Sedangkan Telaga Pengilon masih dapat digunakan untuk budidaya ikan (Penjaga loket masuk telaga, 2010). Menurut Affrianto pH yang baik dari perairan yang digunakan untuk budidaya adalah berkisar antara 7,8 sampai 8,3. pH yang rendah atau bersifat asam di perairan Telaga Warna Dieng, masih dapat dijumpai berbagai makrobentos, plankton dan hewan-hewan lainnya dalam keadaan yang abnormal. Meskipun demikian ikan berbeda dengan hewan makrobentos dan plankton yang dapat dengan cepat merespon perbedaan toleransi keasaman. Ditinjau dari derajat keasaman di perairan Telaga Dieng, mustahil ikan dapat bertahan hidup dan berkembang biak di telaga warna sedang kan telaga pengilon masih memungkinkan untuk ikan bertahan hidup. Toleransi organisme terhadap pH bervariasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti aktivitas fotosintetis, suhu, oksigen terlarut, alkalinitas, adanya anion, jenis dan organisme. Suatu organisme dapat hidup dalam perairan yang mempunyai pH netral dengan kisaran toleransi asam lemah sampai basa lemah.(Barus, 2002). Tingkat pH lebih kecil dari 4, 8 dan lebih besar dari 9, 2 sudah dapat dianggap tercemar. Angka pH yang sesuai untuk kehidupan ikan-ikan tersebut adalah 6,5-8,4 (Menurut Asdak 2007). 4.2.1.3. Oksigen Terlarut Hasil pengamatan menujukkan bahwa oksigen terlarut di telaga warna adalah 0. Hal ini menujukkan bahwa telaga warna tidak dapat digunakan sebagai usaha budidaya ikan. Sedangkan oksigen terlarut pada telaga pengilon adalah 6. Hal ini menujukkan bahwa kedua telaga tersebut tidak dapat digunakan sebagai usaha budidaya ikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gusrina (2008) dimana kadar

oksigen terlarut dalam suatu wadah budidaya sebaiknya 7-9 ppm. Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968).

V. PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan praktikum Kajian Ekosistem Telaga Di Dieng Untuk Budidaya dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Telaga Warna memiliki temperatue sebesar 200C sedangkan suhu Telaga Pengilon 210C. Berdasarkan data diatas Telaga Warna dan Telaga Pengilon tidak cocok untuk budidaya ikan, karena suhu yang terlalu rendah. Diamana suhu optimum antara 25C-32C 2. Besar pH perairan Telaga Warna yang diukur adalah 3 yang berarti bahwa perairan tersebut bersifat asam kuat dan tidak cocok untuk budidaya ikan, sedangkan pH Telaga Pengilon adalah 7 yang berarti bersifat netral, hal ini masih bisa digunakan untuk budidaya. Dimana pH optimum untuk budidaya adalah 6,5 - 8,4. 3. Kandungan oksigen di Telaga Warna memiliki 0 ppm dan Telaga Pengilon memiliki 6 ppm, tidak cocok untuk budidaya ikan.

B.

Saran Dari praktikum ini diharapkan dapat menjadi himbauan untuk para pengembang

yang ingin melakukan usaha dibidang perikanan, bahwa Telaga Warna tidak dapat dijadikan untuk usaha budidaya, karena mengandung belerang yang kuat. Hal ini lebih cocok digunakan sebagai bidang pariwisata, karena panorama lingkungan sekitar yang indah. Sedangkan untuk Telaga Pengilon masih bisa digunakan untuk usaha dibidang pariwisata.

DAFTAR PUSTAKA Affrianto, Eddy & Evy Liviwaty.1988. Beberapa Metode Budidaya ikan. Kanisius: Yogyakarta Affrianto, Eddy & Evy Liviwaty.1991. Teknik Pembuatan Tambak Udang. Kanisius: Yogyakarta Anonim, 2009. Telaga Warna Dieng Wonosobo. www.google.com. Diakses pada 18/11/2010 Anonim, 2009. Telaga Warna dan Telaga Pengilon, dua sisi yang berlainan . www.google.com. Diakses pada tanggal 18/11/2010 Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah mada university press. Yogyakarta Barus,T.A.220. Pengantar Limnologi. Universitas Sumatra utara : Medan Mc Naugthon S.J, Wolf L. Larry. Ekologi Umum. Gajah mada University Press. Yogyakarta Goldman. & A.J.Harni. 1983. Limnology. Mc Graw Hill : California. Irwan, 1992. Ekosistem Komunitas & Lingkungan. Bumi aksara: Jakarta Krebs, J.R. & davies, N.B.1984. Behavioural ecology. Blackwell : London. Nyabakken, J.W.1988.Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia : Jakarta hal 459 Odum, E. P.1971.Fundamental of Ecology. WB Sounders : Philadelpia Odum, T. Howard.1992. ekologi system. Gajah Mada University Press: Yogyakarta Rivai A. Mien. 2004. Kamus Biologi. Balai Pustaka. Jakarta Sary, 2006. Bahan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur Swingle, H.S. 1968. Standardization of Chemical Analysis for Water and Pond Muds. F.A.O. Fish, Rep. 44, 4, 379 406 pp.