Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM IX FISIOLOGI HEWAN ( AKKC 254) TOLERANSI OSMOTIK ERITROSIT TERHADAP BERBAGAI TINGKAT MEDIUM PADA HEWAN

POIKILOTERMIK Dosen Pengasuh : Drs Kaspul, M.Si Dra. Asri Lestari, M.Pd

Asisten Dosen : Kardina Ayu W Zubaidah Oleh : Hadi Siswanto A1C209210 Kelompok VIII PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN DESEMBER 2011

Laporan Akhir Fisiologi Hewan

59

PRAKTIKUM IX Topik Tujuan : Toleransi Osmotik Eritrosit terhadap Berbagai Tingkat Medium pada Hewan Poikilotermik : Untuk mengetahui besarnya toleransi osmotik eritrosit hewan poikilotermik terhadap berbagai tingkat kepekatan medium. Hari/Tanggal : Kamis/ 8 Desember 2011 Tempat I. : Laboratorium Biologi FMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin ALAT DAN BAHAN Alat yang digunakan adalah : 1. Mikroskop 2. Sungkup 3. Alat sectio 4. Jarum pentul 5. Spuite 6. Kapas Bahan yang digunakan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. I. Katak (Rana sp) Garam fisiologis Air Eter atau Chloroform Garam dapur 7. Karton dan kapas 8. Becker glass 9. Pipet 10. Gelas kimia 11. Kaca benda + kaca penutup 12. Gunting

CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Membius katak dengan menggunakan eter 3. Membedah bagian perut dan dada katak 4. Menyiram jantung katak dengan larutan garam fisiologis 5. Mengambil darahnya dengan menggunakan spuite. Meletakkan pada kaca benda dengan ditetesi aquades dan menutup dengan kaca penutup. Mengamati di bawah mikroskop. 6. Mengganti medium dengan NaCl dari 0,1 gr sampai 0,9 gr 7. Menggambar dan mencatat hasil pengamatan.

Toleransi Osmotik Eritrosit Terhadap Berbagai Tingkat Medium Poikilotermik

Pada Hewan

59

I.

TEORI DASAR Manusia dan semua hewan yang tergolong hewan yang bertulang belakang (vertebrata) mempunyai system peredaran darah tertutup, dalam hal ini darah beredar sepanjang rangkaian pembuluh darah dari arteri ke vena melalui kapiler. Pada katak system peredaran darahnya meliputi alat peredaran darah dan proses peredaran darah. 1. Alat peredaran darah katak berupa : a. Jantung yang terdiri dari 2 serambi (Atrium) dan 1 bilik (ventrikel) b. Pembuluh darah yang terdiri atas lengkung aorta, aorta, arteri kapiler, arteri ke paru-paru dan ke kulit, vena serta vena kava. 2. Proses peredaran darah Darah dari ventrikel yang telah membawa O2 dan sari-sari makanan di lepas kelenjar tubuh. CO2 dan sisa-sisa metabolisme di ambil kembali oleh darah, di bawa ke vena lalu diteruskan ke vena kava kemudian masuk ke atrium kanan. CO2 yang dilepas ke paru-paru atau di kulit. Jika katak berada di air dan mengikat O2 dari paru-paru atau kulit jika katak berada dalam air. Darah dapat di pandang sebagai jaringan penyambung terspesialisasi yang dibentuk dari sel-sel bebas suatu matriks yang cair atau plasma. Sel darah berkembang dari jaringan retikuler organ-organ pembentuk darah dan masuk ke dalam aliran darah sebagai sel-sel yang sepenuhnya telah terbentuk. Unsur-unsur structural darah terdiri dari eritrosit, leukosit dan platelet. Eritrosit jauh lebih banyak jumlahnya dari pada leukosit. Jika suatu tetes darah segar diperiksa atau diamati dibawah mikroskop, terlihat sel-sel darah merah sebagai lempengan bikonkap dengan diameter hampir 8 nm, dan warnanaya tampak lebih kehijauan dari pada merah. Lekuk pada bagian pusat tiap sel darah merah terdapat bintik terang. Sitoplasma darah merah mengandung protein yang disebut hemoglobin yang memberikan warna kemerahan pada sel-sel yang dikandungnya.

IV. HASIL PENGAMATAN (NaCl)


Poikilotermik

Gambar 59

Keterangan
Pada Hewan

Toleransi Osmotik Eritrosit Terhadap Berbagai Tingkat Medium

Kontrol

1. Sel darah merah

2. Inti sel (terlihat sel darah merahnya sangat rapat)


1. Sel darah merah

0,1

(Hemolisis) 2. Sel darah merah Normal 1. Sel darah merah

0,2

(Hemolisis) 2. Sel darah merah Normal 1. Sel darah merah

0,3

(Hemolisis) 2. Sel darah merah Normal 1. Sel darah merah

0,4

(Hemolisis) 2. Sel darah merah Normal

0,5

1. Sel darah merah (Hemolisis)

2. Sel darah merah


Normal

0,6
1. Sel darah merah (Hemolisis) 2. Sel darah merah Normal

1. Sel darah merah

0,7

(Hemolisis)

2. Sel darah merah


Normal

Toleransi Osmotik Eritrosit Terhadap Berbagai Tingkat Medium Poikilotermik

Pada Hewan

59

1. Sel darah merah

0,8

(Hemolisis) 2. Sel darah merah Normal 1. Sel darah merah

0,9

(Hemolisis) 2. Sel darah merah Normal

V.

ANALISA DATA Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada sel eritrosit katak terlihat bahwa konsetrasi medium NaCl yang berbeda dapat mempengaruhi bentuk sel eritrosit katak. Eritrosit katak berwarna merah karena selnya mengandung hemoglobin. Sel darah merah terletak dalam plasma darah. Pada eriosit yang ditetesi dengan aquadest sel tampak berentuk normal atau dalam keadaan utuh. Sel darah merah katak memiliki inti sel dan bentuknya seperti lempengan bikonkaf. Dari hasil percobaan yang dilakukan terhadap sel darah merah (eritrosit) yang di ambil dalam jantung katak (Rana sp) setelah disiram garam fisiologis kemudian dengan medium aquadest sebagai kontrol dan medium NaCl dengan konsentrasi yang berbeda yaitu dari konsentrasi 0,1 gr sampai 0,9 gr. Maka di dapatkan hasil yaitu : Pada keadaan kontrol, yaitu dengan medium aquadest terlihat sel darah merahnya sangat rapat. Ini karena tidak adanya pengaruh konsentasi dari aquadest tersebut. Ketika sel darah merah ditetesi dengan NaCl dari konsetrasi yang rendah hingga konsentrasi tinggi(0,1 sampai 0,9) sel darah merah tampak mengkerut. Pengkerutan ini menandakan bahwa sel darah merah tersebut telah mengalami krenasi. Krenasi dapat terjadi karena sel larutan di luar sel darah merah lebih pekat dari pada larutan di dalam sel darah merah. Pada konsentrasi tertentu, sel darah merah yang mengkerut kemudian pecah, dan peristiwa ini disebut hemolisis. Hemolisis yang terjadi pada praktikum ini adalah hemolisis osmotic. Hemolisi osmotic terjadi karena tekanan osmotic didalam sel lebih tinggi(bersifat hipertonis) jika dibandingkan dengan cairan diluar sel yang bersifat hipotonik. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh praktikan pada kontrol sel darah merah tampak menggumpal. Pada sel darah merah yang ditetesi

Toleransi Osmotik Eritrosit Terhadap Berbagai Tingkat Medium Poikilotermik

Pada Hewan

59

dengan NaCl yang berkonsentrasi 0,1 % sel darah merah tampak membentuk rantai pendek dan tidak menggumpal lagi, hal ini terjadi karena sel darah merah telah mengalami osmosis yaitu pergerakan molekul dari daerah yang kadar airnya tinggi(hipotonik) ke kadar air rendah(hipertonik). Pada kadar konsentrasi NaCl sebesar 0,2 % sel darah merah tampak menggumpal seperti pada control tetapi lebih renggang, pada sel darah merah yang ditetesi dengan NaCl 0,3 % eritrosit tampak mulai pecah akibat keluatnya plasma darah dari dalam sel. Pada konsentrasi NaCl 0,4 % sel darah merah berbentuk rantai, pada konsentrasi NaCl 0,5 % sebagian sel darah merah terlihat pecah(lisis) hal ini disebabkan karena tekanan osmotik di dalam sel lebih besar dibandingkan dengan tekanan osmotik di luar sel atau sel darah merah dalam keadaan hipotonik. Pada sel darah merah yang ditetesi dengan NaCl dengan konsentrasi sebesar 0,6 % sel darah merah tampak mengkerut atau megalami krenasi hal ini disebabkan karena tekanan osmotik di dalam sel lebih besar dibandingkan dengan tekanan osmotik di luar sel karena plasma yang terus keluar sel. Pada sel darah merah yang ditetesi dengan NaCl 0,7 % sel darah merah katak juga terlihat mengkerut atau mengalami krenasi akibat tekanan osmotic didalam sel lebih besar jika dibandingkan dnegan diluar sel. Sel darah merah yang ditetesi dengan NaCl yang berkonsntrasi 0,8 % sel darah merah tampak tak beraturan bentuknya tidak lagi bikonkaf. Pada konsentrasi NaCl 0,9% (konsentrasi tertinggi) sel darah merah pecah atau mengalami hemolisis yaitu peristiwa keluarnya hemoglobin dalam sel menuju aliran yang di sekelilingnya karena adanya tekanan osmotik.. Keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah merah tersebut disebabkan karena pecahnya membran yang bersifat selektif permeabel sehingga memudahkan molekul air dan ion Cl- dari larutan NaCl mesuk ke dalam sel darah merah, sehingga mengakibatkan sel darah merahnya saling merapat dan akhirnya pecah karena tekanan dari molekul air dan ion. Karena hemoglobin dari sel darah merah keluar dari sel maka sel tampak berwarna pucat dan terlihat agak bening VI. KESIMPULAN 1. Sel darah merah(eritrosit) katak berbentuk bikonkaf dan memiliki inti sel. 2. Pemberian larutan garam fisiologis yang bersifat hipertonik di sekeliling darah merah menyebabkan sitoplasma dalam sel darah merah keluar dari sel sehingga sel tampak mengkerut. Peristiwa ini disebut dengan krenasi.
Toleransi Osmotik Eritrosit Terhadap Berbagai Tingkat Medium Poikilotermik Pada Hewan

60

3. Hemolisis merupakan peristiwa keluarnya hemoglobin dari sel darah merah sehingga keluar cairan disekeliling nya karena pecahnya membran sel yang bersifat permeabel selektif. 4. Semakin tinggi konsntrasi NaCl maka semakin banyak pula sel darah merah yang mengalami krenasi bahkan mengalami hemolisis VII. DAFTAR PUSTAKA Kaspul. Dkk. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. PMIPA Unlam. Banjarmasin. Suripto. 2000. Struktur Hewan. Jakarta: Universitas Terbuka. Tim Penyusun.2010 Biologi 2a. Klaten: Intan Pariwara. Wulangi, Kartolo. S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Jakarta:Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hewan.

Toleransi Osmotik Eritrosit Terhadap Berbagai Tingkat Medium Poikilotermik

Pada Hewan

59