Anda di halaman 1dari 23

PEMANFAATAN ALAT TANGKAP IKAN YANG RAMAH LINGKUNGAN DI PERAIRAN INDONESIA

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teknik menangkap ikan telah berkembang dari waktu ke waktu, dahulu kala manusia menangkap ikan dengan menangkapnya seekor demi seekor dengan mempergunakan alat berupa tombak atau pancing, hingga kemudian seiring dengan majunya jaman maka penangkapan ikanpun dimodifikasi mempergunakan alat tangkap yang dirancang dalam sekali tangkapan dapat menghasilkan ratusan hingga ribuan ekor sekaligus antara lain jaring yang berukuran sangat besar (Von Brandt, 1984). Di sisi lain pengoperasian alat tangkap ikan yang berskala besar dan lebih modern seperti trawl, purse seine, long line dan pole and line sudah sejak lama dilakukan oleh nelayan asing dari negara tetangga terutama Jepang dan Taiwan dan mulai dikembangkan oleh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Jawa yaitu sekitar pertengahan tahun 1970-an. Sejak saat itu mulailah terjadi berbagai konflik antara nelayan tradisional dengan nelayan trawl, karena penggunaan jaring ini dalam operasinya dapat menangkap semua jenis ikan yang besar maupun yang kecil sehingga para nelayan tradisional khawatir akan kehabisan ikan karena hasil tangkapan trawl dinilai sangat menguras hasil laut. Untuk dapat mengantisipasi konflik tersebut, Menteri Pertanian mengeluarkan surat keputusan No 609/KPTS/UM/9/1976 untuk mengatur daerah penangkapan kapal trawl dasar. Akan tetapi konflik terus berlanjut hingga terbitlah Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 39 tahun 1980 tentang penghapusan jaring trawl secara bertahap di seluruh perairan Indonesia karena trawl merusak habitat organisme dasar perairan.

Kekhawatiran nelayan kita beralasan karena terbukti bahwa pengelolaan sumberdaya ikan sangat erat kaitannya dengan pengoperasian penangkapan ikan dan sasaran penangkapan ikan yang dilakukan. Usaha-usaha untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan dari ancaman kepunahan, sebenarnya telah dilakukan sejak lama oleh berbagai ahli penangkapan ikan di seluruh dunia. Sebagai contoh, industri penangkapan ikan di Laut Utara telah melakukan berbagai usaha untuk mengurangi buangan hasil tangkap sampingan (by catch) lebih dari seratus tahun yang lalu. Selain itu, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu juga dilihat dari penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan yaitu dari segi pengoperasian alat penangkapan ikan, daerah penangkapan dan lain sebagainya sesuai dengan tata laksana untuk perikanan yang bertanggungjawab atau Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). B. Permasalahan Penangkapan ikan dengan mempergunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan mengakibatkan : 1). Terancamnya kelestarian berbagai jenis ikan di habitat pesisir dan laut sehingga mengakibatkan terganggunya keseimbangan habitat sumberdaya perikanan di laut secara keseluruhan. 2). Berdampak pada sosial ekonomi masyarakat pesisir yang mengandalkan pendapatan sehari-harinya dari menangkap ikan di pesisir dan laut. 3). Timbulnya permasalahan baru yaitu pelanggaran hukum terhadap penangkapan ikan di pesisir dan laut.

C. Tujuan Tujuan pemanfaatan teknologi alat tangkap ikan yang ramah lingkungan adalah : 1). Melestarikan sumberdaya ikan di daerah pesisir dan laut, karena ikan-ikan kecil tidak ikut tertangkap. 2). Sumber pendapatan masyarakat pesisir sehari-hari tetap dapat dipertahankan. 3). Mengurangi praktek-praktek pelanggaran hukum dalam penangkapan ikan.

II.

PEMBAHASAN

A. Landasan Teori Sumberdaya hayati perikanan merupakan salah satu

sumberdaya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Berkurangnya hasil tangkapan ikan akhir-akhir ini di sektor perikanan dan semakin jauhnya daerah jelajah penangkapan ikan menunjukkan ekosistem pesisir pantai dan laut yang mulai terusik dan rusak oleh ulah manusia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan sekitar 7 persen dari total produksi perikanan tangkap Indonesia setiap tahunnya menjadi sumber daya laut yang terbuang akibat praktek perikanan yang tidak selektif dan menghasilkan perikanan tangkap sampingan (bycatch). Sementara total produksi perikanan tangkap di Indonesia pertahun diperkirakan mencapai 5 juta ton. Tercatat dari jumlah persentase produksi perikanan tangkap sampingan (bycatch) ini sebagian besar kembali dibuang ke laut. Sehingga produksi perikanan tangkap sampingan tersebut akan menjadi bahan pencemar bagi kelestarian laut. Bycatch yang terjadi sebagian besar akibat penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan oleh nelayan maupun kapal penangkap ikan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk membantu para nelayan mengembangkan alat tangkap yang ramah lingkungan. Artinya adalah bagaimana kita bisa memodifikasi alat tangkap yang efektif dan ramah lingkungan dengan asumsi yang jelas contohnya ketika akan menangkap tuna, maka ikan tuna saja yang tertangkap, demikian juga dengan praktek-praktek penangkapan ikan-ikan yang lainnya. Selain daripada itu lingkungan perairan pesisir terutama habitat kehidupan ikan karang dan laut seringkali menjadi korban dari ulah

kegiatan manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti pembuangan limbah rumah tangga maupun industri yang menyebabkan pencemaran. Kegiatan dibidang perikanan seperti penangkapan ikan yang menggunakan bahan peledak, racun dan alat-alat tangkap yang membahayakan kelestarian sumberdaya ikan juga merupakan salah satu faktor yang merusak lingkungan perairan. Sumberdaya ikan, meskipun termasuk sumberdaya yang dapat pulih kembali (renewable resources) namun bukanlah tidak terbatas. Oleh karena itu perlu dikelola sosial secara dan Dalam bertanggungjawab masyarakat dan berkelanjutan dipertahankan tangkap agar bahkan yang kontribusinya terhadap ketersediaan nutrisi, peningkatan kesejahteraan ekonomi rangka dapat ditingkatkan. mewujudkan perikanan berkelanjutan (sustainable fisheries cupture) sesuai dengan ketentuan pelaksanaan perikanan yang bertanggung jawab (FAO Code of conduct for Responsible Fisheries/CCRF) maka eksploitasi sumberdaya hayati laut harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (Responsible fisheries). Data dari SOFIA (The State of World Fisheries and Aquaculture) menyatakan bahwa 5 % dari perikanan dunia dalam status deplesi atau penurunan produksi secara terus menerus, 16 % terah dieksploitasi secara berlebihan dan melampaui batas optimum produksi, 52 % telah penuh eksploitasi, 23 % pada tahap moderat yang artinya produksinya masih dapat ditingkatkan meskipun dalam jumlah yang kecil, 3 % sumberdaya ikan masih dibawah tingkat eksploitasi optimumnya dan hanya 1 % yang dalam proses pemulihan melalui program-program konservasi. Berdasarkan hal tersebut di atas, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu dikaji penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan dari segi pengoperasian alat penangkapan ikan, daerah penangkapan dan lain sebagainya sesuai dengan tata laksana

untuk perikanan yang bertanggungjawab atau Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Di masa depan, pengembangan teknologi penangkapan ikan ditekankan pada teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan (enviromental friendly fishing tecnology) dengan harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan karena penerapan teknologi ini tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, yaitu kajian sejauh mana alat tangkap tersebut merusak dasar perairan, kemungkinan hilangnya alat tangkap, serta kontribusinya terhadap polusi. Faktor lain adalah dampak terhadap bio-diversity, target resources dan non target resources. Perlakuan manusia terhadap sumberdaya perikanan yang di luar ambang batas seperti disampaikan di atas menyebabkan kelestarian sumberdaya hayati ikan pesisir pantai maupun laut mulai terancam dan mengakibatkan banyaknya terjadi kerusakan terumbu karang yang merupakan habitat kehidupan ikan-ikan karang. Untuk itu diperlukan pengelolaan yang berkesinambungan dari masyarakat nelayan, stake holders, pemerintah dan semua pihak diantaranya melalui pengelolaan ekosistem dan perikanan meliputi ekosistem wilayah dan konservasi serta penggunaan alat alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan. B. Analisis Masalah. a. Kriteria Alat Tangkap Ramah Lingkungan. Pengembangan teknologi penangkapan ikan dengan alat tangkap yang ramah lingkungan di Indonesia pada saat ini merupakan salah satu solusi untuk memecahkan masalah over fishing dan lain-lain. Penerapan teknologi ini terutama bertujuan untuk mengurangi tertangkapnya ikan-ikan yang masih kecil dan ikan non-target ( by-catch) agar upaya penangkapan tidak mengarah pada kegiatan yang merusak sumberdaya. Berdasarkan hal tersebut

pada trawl dikembangkan penggunaan jaring persegi empat dan bukan belah ketupat sebagaimana bentuk jaring pada umumnya dengan tujuan mengurangi kemampuannya dalam menangkap ikanikan kecil, sedangkan untuk dapat mengurangi ikan non target, dibuatlah BED (By-catch Excluder Device) dan TED (Turtle Exclusion Devices) (King, 1995). Saat ini konsep penangkapan yang ramah lingkungan semakin berkembang dengan dimasukkannya unsur-unsur lain untuk dapat memenuhi kriteria bagi alat lain, misalnya untuk purse seine dan bagan lampu listrik (bagan rambo), lampu yang digunakan untuk membantu dalam mengumpulkan ikan tidak memboroskan energi. Di Indonesia saat ini, telah banyak dikembangkan metode penangkapan yang tidak merusak lingkungan (Anonim. 2006). Selain karena tuntutan dan kecaman dunia internasional yang akan memboikot ekspor dari negara yang sistem penangkapan ikannya masih merusak lingkungan, pemerintah juga telah berupaya untuk melaksanakan tata cara perikanan yang bertanggung jawab. Food Agriculture Organization (FAO, sebuah lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa yang menangani masalah pangan dan pertanian dunia), pada tahun 1995 mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab (Code of Conduct for Resposible Fisheries- CCRF). Dalam CCRF ini, FAO menetapkan serangkaian kriteria bagi teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan. Sembilan kriteria tersebut adalah sebagai berikut: Mempunyai selektifitas yang tinggi. Tidak merusak habitat Menghasilkan ikan yang berkualitas tinggi Tidak membahayakan nelayan Produksi tidak membahayakan konsumen

By-catch rendah Dampak ke biodiversty rendah Tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi Dapat diterima secara social. Kriteria pertama menjelaskan bahwa alat tersebut diupayakan hanya dapat menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja. Ada dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan selektivitas jenis. Sub kriteria ini terdiri dari (yang paling rendah hingga yang paling tinggi) yaitu 1). Alat menangkap lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh; 2).Alat menangkap tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh; 3). Alat menangkap kurang dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih dan; 4). Alat menangkap satu spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama. Kriteria kedua menjelaskan bahwa alat tangkap yang digunakan tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya. Ada pembobotan yang digunakan dalam kriteria ini yang ditetapkan berdasarkan luas dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan alat penangkapan. Pembobotan tersebut dihitung dari yang rendah hingga yang tinggi sebagai berikut: 1). Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang luas; 2). Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang sempit; 3). Menyebabkan sebagian habiat pada wilayah yang sempit; 4). Aman bagi habitat (tidak merusak habitat). Kriteria ketiga menjelaskan bahwa tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan). Keselamatan manusia menjadi syarat penangkapan ikan, karena bagaimana pun, manusia merupakan bagian yang penting

bagi keberlangsungan perikanan yang produktif. Pembobotan resiko diterapkan berdasarkan pada tingkat bahaya dan dampak yang mungkin dialami oleh nelayan (dari rendah hingga tinggi) yaitu : 1). Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat kematian pada nelayan; 2). Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada nelayan; 3). Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya sementara serta; 4). Alat tangkap aman bagi nelayan. Kriteria Keempat menjelaskan bahwa menghasilkan ikan yang bermutu baik artinya jumlah ikan yang banyak tidak berarti bila ikanikan tersebut dalam kondisi buruk. Dalam menentukan tingkat kualitas ikan digunakan kondisi hasil tangkapan secara morfologis (bentuknya). Pembobotan (dari rendah hingga tinggi) adalah sebagai berikut : 1) Ikan mati dan busuk; 2). Ikan mati, segar, dan cacat fisik; 3). Ikan mati dan segar; 4). Ikan hidup. Kriteria kelima menjelaskan bahwa produk tidak membahayakan kesehatan konsumen yaitu ikan yang ditangkap dengan peledakan bom pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan tercemar oleh racun. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang mungkin dialami konsumen yang harus menjadi pertimbangan (dari rendah hingga tinggi) yaitu : 1). Berpeluang besar menyebabkan kematian konsumen; 2). Berpeluang menyebabkan gangguan kesehatan konsumen; 3). Berpeluang sangat kecil bagi gangguan kesehatan konsumen; 4). Aman bagi konsumen. Kriteria keenam menjelaskan bahwa hasil tangkapan yang terbuang minimum artinya alat tangkap yang tidak selektif (lihat butir 1), dapat menangkap ikan/organisme yang bukan sasaran penangkapan (nontarget). Dengan alat yang tidak selektif, hasil tangkapan yang

terbuang akan meningkat, karena banyaknya jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil tangkapan non target, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut (dari rendah hingga tinggi) yaitu : 1). Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak laku dijual di pasar; 2). Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis dan ada yang laku dijual di pasar; 3). Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan laku dijual di pasar; 4). Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi di pasar. Kriteria ketujuh menjelaskan bahwa alat tangkap yang digunakan harus memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity). Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal-hal berikut (dari rendah hingga tinggi): 1). Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak habitat; 2). Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat; 3). Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat; 4). Aman bagi keanekaragamanan sumberdaya hayati. Kriteria kedelapan menjelaskan bahwa tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau terancam punah. Tingkat bahaya alat tangkap terhadap spesies yang dilindungi undang-undang ditetapkan berdasarkan kenyataan bahwa: (1). Ikan yang dilindungi sering tertangkap alat; (2). Ikan yang dilindungi beberapa kali tertangkap alat; (3). Ikan yang dilindungi pernah tertangkap; (4). Ikan yang dilindungi tidak pernah tertangkap. Kriteria kesembilan menjelaskan bahwa alat tersebut bisa diterima secara sosial. Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap,

akan sangat tergantung pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh masyarakat bila: (1) biaya investasi murah, (2) menguntungkan secara ekonomi, (3) tidak bertentangan dengan budaya setempat, (4) tidak bertentangan dengan peraturan yang ada. Pembobotan Kriteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa (dari yang rendah hingga yang tinggi): (1). Alat tangkap memenuhi satu dari empat butir persyaratan di atas; (2). Alat tangkap memenuhi dua dari empat butir persyaratan di atas; (3). Alat tangkap memenuhi tiga dari empat butir persyaratan di atas; (4). Alat tangkap memenuhi semua persyaratan di atas. b. Jenis-jenis Alat Tangkap Menurut Klasifikasi FAO. Bila kesembilan kriteria ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan, maka dapat dikatakan ikan dan produk perikanan akan tersedia untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal yang penting untuk diingat bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan ketersediaan sumberdaya ikan bagi generasi yang akan datang dengan pemanfaatan sumberdaya ikan yang berkesinambungan dan lestari. Perilaku yang bertanggung jawab ini dapat memelihara, minimal mempertahankan stok sumberdaya yang ada kemudian akan memberikan sumbangan yang penting bagi ketahanan pangan (food security), dan peluang pendapatan yang berkelanjutan. Berikut adalah jenis-jenis Alat Tangkap Ikan Menurut Klasifikasi FAO yaitu : 1. Surrounding net (Jaring Lingkar) Jaring lingkar merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara melingkari gerombolan ikan sasaran tangkap menggunakan jaring yang dioperasikan dengan perahu atau kapal serta didukung sarana alat bantu penangkapan sesuai untuk

mendukung efektivitas dan efisiensi pengoperasiannya. Desian dan konstruksi jaring ingkar berkembang disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat bergagai bentuk dan ukuran jaring lingkar serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan yang digunakan. Alat ini ditujukan sebagai penangkap ikan pelagis yang bergerombol di permukaan. Pada umumnya, alat ini berbentuk empat persegi panjang dilengkapi yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah, dengan menarik tali kerucut bagian bawah ini, jaring dapat dikuncupkan (lihat gambar) dan jaring akan membentuk semacam mangkuk. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap jaring lingkar terdiri dari : With purse lines (Purse seines) One boat operated purse seines Two boats operated purse seines Without purse lines (lampara) Purse seine (Sumber: Subani dan Barus 1989) 2. Seine net (Pukat), Seine nets atau pukat atau pukat tarik merupakan alat penangkapan ikan berkantong tanpa alat pembuka mulut jaring. Pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap tali selambar. Desain dan konstruksi pukat tarik disesuaikan dengan terget ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pukat tarik serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan

ikan yang digunakan. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap pukat tarik terdiri dari : - Beach seines - Boat or vessel seines - Danish seines - Scottish seines - Pair seines - Seine nets (not specified) - Pukat (Sumber: Subani dan Barus 1989). 3. Trawl, secara teknis baik menurut umum ataupun mengikuti standar ISSCFG (International Standard Statistical Classification Fishing Gear), FAO (Nedelec and Prado 1990) Trawl adalah alat penangkap ikan yang mempunyai target spesies baik untuk menangkap ikan maupun untuk udang. Trawl memiliki kreteria yaitu (a) jaring berbentuk kantong (pukat) baik yang berasal dari karakteristik asli maupun hasil modifikasi. (b) miliki kelengkapan jaring (pukat) untuk alat pembuka mulut jaring baik palang/gawang (beam) atau sepasang papan rentang (otter board) dengan cara operasi dihela atau diseret (towing) oleh sebuah kapal (c) Tanpa memiliki kelengkapan jaring (pukat) dengan cara operasi dihela oleh dua buah kapal. Trawl asli adalah jaring (pukat) trawl yang dirancang bukan dari hasil modifikasi tidak ada perubahan dari aspek desain konstruksi, karakteristik dan metoda pengoperasian dengan ciri-ciri yaitu (a) karakteristik bentuk konstruksi masih sesuai ketentuan teknis jaring yang lazim (b) banyak menggunakan potongan miring (cutting rate) pada bagian jaring (c) miliki bagian jaring berupa medan jaring atas (square) bagi trawl dasar (bottom trawl) atau medan jaring

bawah (bosoom trawl) pertengahan permukaan (mid water trawl) (d) cara operasi dirancang dengan dihela / diseret oleh sebuah atau dua buah kapal. Trawl hasil modifikasi adalah alat tangkap yang masuk kategori trawl, karena adanya perubahan desain konstruksi , karakteristik jaring dan metode operasi penangkapan dengan ciri-ciri (c) ada perubahan bentuk dan ukuran dari jaring aslinya , terutama pemendekan ukuran sayap (b) teknik pemotongan bagian jaring masih menggunakan potongan lurus (all point dan all mesh), (c) kebanykan belum menambah bagian medan jaring (square) masih tetap seperti kondisi aslinya (d) ada penambahan kelengkapan janng berfungsi alat pembuka mulut jaring baik berupa palang/gawang (beam) maupun papan rentang (otter board) dad kondisi aslinya. Okda perubahan metode pengoperasian dari cara ditarik dari atas perahu atau pantai menjadi cara dengan diseret / dihela oleh sebuah kapal. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap trawl terdiri dari: a. Bottom trawls - beam trawls - otter trawls - pair trawls - nephrops trawls - shrimp trawls - bottom trawls (not specified) b. Midwater trawls c. Otter twin trawls d. Otter trawls (not specified)

e. Pair trawls (not specified) f. Other trawls (not specified) 4. Dredge (Penggaruk), penggaruk merupakan alat penangkap ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di bagian bawahnya, yang dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya. Penggaruk dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk menangkap kekerangan dan biota lainnya. Desain dan konstruksi penggaruk disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran penggaruk serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap penggaruk terdiri dari : (1). Boat Dredges dan; (2). Hand Dredges. Metode pengoperasian penggaruk dilakukan dengan cara menarik ataupun menghela pengaruk di dasar perairan sehingga hasil tangkapan berupa kekerangan, teripang, dan lainnya bisa terkumpul dan tertangkap serta masuk ke dalam penggaruk. 5. Lift net (Jaring Angkat), jaring angkat dioperasikan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertikal. Jaring ini biasanya dibuat dengan bahan jaring nion yang menyerupai kelambu, karena ukuran mata jaringnya yang kecil (sekitar 0,5 cm). Jaring kelambu kemudian diikatkan pada bingkai bambu atau kayu yang berbentuk bujur sangkar. Dalam penggunaannya, jaring angkat sering menggunakan lampu atau umpan untuk mengundang ikan. Biasanya dioperasikan dari perahu, rakit, bangunan tetap, atau langsung. Dari bentuk dan cara penggunaannya, jaring angkat dapat

mencakup bagan perahu, bagan tancap (termasuk kelong), dan serok Jaring Angkat (Sumber: Subani dan Barus. 1989). 6. Falling gear (alat yang dijatuhkan), alat yang dijatuhkan atau ditebarkan untuk merupakan ikan alat penangkapan atau ikan tanpa yang kapal. pengoperasiannya dilakukan dengan ditebarkan atau dijatuhkan mengurung dengan Desain dan konstruksi alat yang dijatuhkan atau ditebarkan disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dihendaki. Berkaitan dengan hal ini maka terdapat berbagai bentuk dan ukuran serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap yang dijatuhkan atau ditebarkan terdiri dari: 1) Cast nets; dan 2); Falling gears (not specified). 7. Gill net, entangling nets (Jaring Insang Dan Jaring Puntal) Jaring insang (gill net) merupakan alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah. Jaring insang digunakan untuk menangkap ikan dengan cara menghadang ruaya gerombolan ikan. Ikan-ikan yang tertangkap pada jaring umumnya karena terjerat di bagian belakang penutup insang atau terpuntal oleh mata jaring. Biasanya ikan yang tertangkap dalam jaring ini adalah jenis ikan yang migrasi vertical maupun horizontalnya tidak terlalu aktif. Ada berbagai jenis jaring insang, yang terdiri dari satu lapis jaring, dua lapis, maupun tiga lapis jaring. Jaring insang memiliki mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh badan jaring. Jaring ini kemudian dibentangkan untuk membentuk

semacam dinding yang dapat menjerat. Jaring insang dilengkapi dengan pelampung di bagian atas jaring dan pemberat pada bagian bawahnya. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap jaring insang terdiri dari: - Set gillnets (anchored) - Driftnets - Encircling gillnets - Fixed gillnets (on stakes) - Trammel nets - Combined gillnets-trammel nets - Gillnets and entangling nets (not spicied) - Gillnets (not specified) Jaring Insang (Sumber: Subani dan Barus. 1989). 8. Trap (perangkap), perangkap merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara memperangkap ikan dengan menggunakan jaring dan atau bahan lainnya yang dioperasikan dengan atau tanpa perahu atau kapal. Desain dan konstruksi perangkap disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran perangkap. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap perangkap terdiri dari: - Stationary uncovered pounds nets - Pots - Fyke nets - Stow nets

- Barriers, fences, weirs, dll - Aerial traps - Traps (not specified). 9. Hook and line (pancing), hook and line (pancing) merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan memancing ikan target sehingga terkait dengan mata pancing yang dirangkai dengan tali menggunakan atau tanpa umpan. Desain dan konstruksi pancing disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pancing serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap hooks and lines ini terdiri dari: - Handlines and pole-lines (hand operated) - Handlines and pole-lines (mechanized) - Set longlines - Drifting longlines - Longlines (not specified) - Trolling lines - Hook and lines (not specified) 10. Grappling and wounding gear (pengait dan alat yang melukai) Alat pengait/penjepit dan alat yang melukai merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara menerkam, mengait/menjepit, melukai atau membunuh sasaran tangkap yang dilakukan dari atasu kapal atau tanpa menggunakan kapal. Desain dan konstruksi alat penjepit dan melukai mempunyai bentuk runcing/tajam pada salah satu ujungnya. Menurut International Standard Statistical

Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap pengait dan alat yang melukai ini adalah harpoon. 11. Harvesting machine (mesin pemanen), yang dimaksud dengan Pump fishing adalah suatu alat tangkap tanpa menggunakan jaring tetapi dengan menggunakan pompa untuk menyedot ikan,udang,cumi-cumi dan krill plankton masuk ke dalam kapal. Alat tangkap ini dioperasikan pada kedalaman 110 meter dengan catchable area 20cm. Efektifnya menangkap cumi-cumi . 12. Alat tangkap lainnya, alat-alat lainnya merupakan alat penangkapan ikan yang tidak termasuk ke dalam penggolongan kelompok sebelumnya, dimana prinsip penangkapan tidak dengan cara menjerat, memancing, memerangkap, mencengkram, mengait/menjepit, melukai atau membunuh sasaran tangkap. 13. Desain dan konstruksi alat tangkap lainnya ini merupakan konstruksi yang bentuknya tidak terdapat pada setiap kelompok sebelumnya. Sehingga dapat digolongkan sebagai kelompok tersendiri dan dimungkinkan akan mengalami perkembangan sesuai dengan modifikasi dan kreatifitas nelayan dalam rangka menciptakan rancang bangun alat penangkap ikan ke depan sesuai dengan kebutuhan ikan dan perkembangan yang teknologi ada. penangkapan

Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap lainnya ini adalah: Miscellaneous Gear. Sebagai informasi, di Indonesia alat tangkap muro ami, serok teri dan alat penangkap lobster termasuk dalam kategori alat tangkap ini.

c. Kajian Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Ramah Lingkungan. Kajian Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Menurut Klasifikasi Statistik Internasional Standar FAO perlu dilakukan mengingat masing-masing alat mempunyai tingkat keramahan yang berbeda baik dilihat pada saat proses operasional pemakaian alat ( biaya investasi dan pemakaian alat) maupun terhadap hasil yang diinginkan diperbandingkan dengan ke sembilan kriteria alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan seperti telah disebutkan di atas ( perbandingan terhadap selektifitas, by-catch, maupun biodiversity-nya). Kebanyakan metode yang digunakan dalam kajian keramahan alat tangkap ini dengan mempergunakan pendekatan deskriptif yaitu menilai dan mengkaji karakteristik dari suatu alat tangkap menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO dengan ke-9 (sembilan) kriteria keramahan menurut standar FAO.

III.

SIMPULAN Pada masa yang akan datang seyogyanya seluruh alat tangkap yang operasional di perairan telah memiliki kriteria keramahannya terhadap lingkungan untuk mewujudkan perikanan tangkap yang bertanggung jawab (Sustainable Fisheries Cupture) sesuai dengan Code of conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Tingkat keramahan lingkungan suatu alat penangkap ikan sangat tergantung pada manusia yang mengoperasikannya. Penelitian tentang selektivitas alat penangkap ikan perlu ditingkatkan untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan target dan sekaligus mengurangi by-catch. Penggunaan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan

merupakan salah satu cara dalam melestarikan sumberdaya hayati perikanan baik di pesisir pantai maupun laut. Pengembangan teknologi penangkapan ikan dengan alat tangkap yang ramah lingkungan di Indonesia mengacu pada kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab (Code of Conduct for Resposible Fisheries- CCRF) berdasarkan sembilan kriteria yang ditetapkan oleh FAO. Dengan penggunaan alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan Penggunaan diharapkan alat dapat mempertahankan ikan ramah sumber pendapatan masyarakat pesisir terutama nelayan. penangkapan lingkungan diharapkan dapat mengurangi praktek-praktek pelanggaran hukum yang berlaku karena melalui penggunaan alat ini akan berdampak pada berfungsinya kembali seluruh komponen ekosistem pesisir pantai dan laut secara keseluruhan.

Daftar Pustaka
www.dkp.go.id. 2008. Juknis Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan,Kapal Perikanan dan Alat Penangkap Ikan. Andi Assir. 2005. Menuju Upaya Penangkapan Ikan yang Ramah Lingkungan. Makalah Pribadi Falsafah Sains (PPS 702). Kaltimpost.co.id, September 2010. Kenalkan Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan. Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Anonim. 2006. Panduan Jenis-Jenis Penangkapan Ikan. Ramah Lingkungan. COREMAP II. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan Dan Perikanan. Jakarta. Brant A Vont,1984. Fish Catch Methods of the World, Fishing News Book Ltd England. Baskoro,S.B,2002. Metode Penangkapan Ikan. Diktat Kuliah (tidak dipublikasikan), Fakultas Perikanan dan ilmu Kelautan IPB, Bogor. Nedelec, C. and J. Prado. 1990. Definition and Clasification of Fishing Gears Categories. FAO FISHERIES TECHNICAL PAPER 222 Rev.1, FAO Fisheries Industries Division, Rome. Nomura,M 1985. Fishing Techniques 1,2,3, Kanagawa International Training Center , JICA, Tokyo Subani, W dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indoensia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut, BPPL, BPPP, Departemen Pertanian, Jakarta.