Anda di halaman 1dari 21

1

TEKN IK KO NSER VA SI TA NA H U NTUK M EMIN IMUMKA N DEGR AD ASI


(SOEMARNO-2008)

Tanah menurut pengertian sehari-hari ialah tempat berpijak makhluk hidup di darat, fondasi tempat tinggal, dan sebagainya. Secara ilmiah, tanah merupakan media tempat tumbuh tanaman. Tanah adalah permukaan lahan yang kontiniu menutpi kerak bumi kecuali di tempattempat berlereng terjal, puncak-puncak pegunungan, daerah salju abadi. Sedangkan menurut Soil Survey Staff (1973), tanah adalah kumpulan tubuh alami pada permukaan bumi yang dapat berubah atau dibuat oleh manusia dari penyusun-penyusunnya, yang meliputi bahan organik yang sesuai bagi perkembangan akar tanaman. Menurut Sitanala Arsyad (1989), konservasi tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukkannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperluka agar tidak terjadi kerusakan tanah. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang erat dengan konservasi air. Tanah sebagai komponen utama usaha tani yang harus dipelihara, dimodifikasi bila perlu, sangat mempengaruhi produksi dan penampilan tanaman. Usaha konservasi tanah dan air dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu : 1. Metode vegetatif, menggunakan tanaman sebagai sarana 2. Metode mekanik, menggunakan tanah, batu dan lainnya sebagai sarana. Tantangan yang berat di Indonesia adalah luas wilayah Indonesiea yang tidak kurang dari 195 juta hektar, dan diperkirakan 147 juta hektar atau 76 persen merupakan hutan dalam program penghutanan kembali dan rehabilitasi lahan, terdapat tidak kurang dari 80 area watershed, dimana 36 buah diantaranya mendapat prioritas. 1. Pengertian Berdasarkan data yang dibuat oleh puslitbangtanak pada tahun 2002, potensi lahan kering di Indonesia sekitar 75.133.840 ha. Suatu keadaan lahan yang sangat luas. Akan tetapi lahan2 kering tersebut tidak begitu menghasilkan dan berguna bagi masyarakat yang tinggal di sekitar area lahan kering. Hal ini disebabkan oleh masih kurangnya teknologi pengelolaan lahan kering sehingga sering mengakibatkan makin kritisnya lahan2 kering. Erosi, kekurangan air dan kahat unsur hara adalah masalah yg paling serius di daerah lahan kering. Paket2 teknologi untuk mananggulangi masalah2 tersebut juga dah banyak, akan tetapi kurang optimal di manfaatkan karena tidak begitu signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan petani daerah lahan kering. Memang perlu kesabaran dalam pengelolaan daerah lahan kering, karena meningkatkan produktivitas lahan di daerah lahan kering yang kondisi lahannya sebagian besar kritis dan potensial kritis tidaklah mudah.

Konservasi tanah dan air merupakan cara konvensional yang cukup mampu menanggulangi masalah diatas. Dengan menerapkan sisitem konservasi tanah dan air diharapkan bisa menanggulangi erosi, menyediakan air dan meningkatkan kandungan hara dalam tanah serta menjadikan lahan tidak kritis lagi. Ada 3 metode dalam dalam melakukan konservasi tanah dan air yaitu metode fisik dengan pegolahan tanahnya, metode vegetatif dengan memanfaatkan vegetasi dan tanaman untuk mengurangi erosi dan penyediaan air serta metode kimia yaitu memanfaatkan bahan2 kimia untuk mengaawetkan tanah. Konservasi Tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukkannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi Air menurut Deptan (2006) adalah upaya penyimpanan air secara maksimal pada musim penghujan dan pemanfaatannya secara efisien pada musim kemarau. Konservasi tanah dan konservasi air selalu berjalan beriringan dimana saat melakukan tindakan konservasi tanah juga di lakukan tindakan konservasi air. Dengan dilakukan konservasi tanah dan air di lahan kering diharapkan mampu mengurangi laju erosi dan menyediakan air sepanjang tahun yang akhirnya mampu meningkatkan produktivitasnya. Tanah2 di daerah lahan kering sangat rentan terhadap erosi. Daerah lahan kering biasanya mempunyai curah hujan yg rendah dan intensitas yg rendah pula, dengan kondisi seperti itu menyebabkan susahnya tanaman2 tumbuh dan berkembang, padahal tanaman merupakan media penghambat agar butiran hujan tidak berbentur langsung dengan tanah. Benturan seperti inilah yg menyebabkan tanah mudah terurai sehingga gampang di bawa oleh aliran air permukaan dan akhirnya terjadi erosi. Pemanfaatan vegetasi pada system konservasi tanah dan air selain sebagai penghambat benturan juga berguna sebagai penghambat aliran permukaan, memperbaiki tekstur tanah dan meningkatkan kadar air tanah. Penggabungan metode vegetatif dan fisik dalam satu teknologi diharapkan mampu mengefisienkan waktu dan biaya yg dibutuhkan. Misalkan penanaman tanaman pada sebuah guludan ato penanaman tanaman di sekitar rorak. Dan langkah terakhir yg di harapkan adalah penanaman tanaman yg bernilai ekonomis tinggi seperti jambu mete. Teknik Konservasi tanah yang kita kenal adalah usaha pemanfaatan lahan dalam usahatani dengan mempertahankan kelas kemampuannya dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Teknik konservasi tanah juga dapat diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengembalikan daya dukung lahan melalui pengendalian erosi (on site) dan perlindungan daerah bawahanya (off site). Maksud dan Tujuan - Mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan aliran permukaan - Memperbaiki fungsi tanah yang rusak. Manfaat

Memelihara produktif itas tanah dengan mencegah proses erosi (on site effect) - Melindungi daernh bawah dari pelumpuran dnn sedimentasi (off site effect) - Mempertnhnnkan kelestarian sumber daya tanah dan air
-

Ada beberapa macam bangunan konservasi tanah yang akan dibangun dalam rangka GN RHL/gerhan sesuni dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.03/Menhut-V/2004, yaitu: 1. 2. 3. 4. Dam pengendali. Dam penahan, Embung, Sumur resapan air, dan 5. Pengendali jurang (gully plug).

2. DAM PENGENDALI 2.1. Pengertian Dam pengendali adalah bendungan kecil yang dapat menampung air (tidak lolos air) dengan konstruksi urugan tanah dengan lapisan kedap air atau konstruksi beton (tipe busur) untuk pengendalian erosi dan aliran permukaan dan dibuat pada alur jurang/sungai kecil dengan tinggi maksimum 8 meter. 2.2. Tujuan 1. mengendalikan endapan dan aliran air yang ada di permukaan tanah yang berasal dari daerah tangkapan air dibagian hulunya 2. menaikkan permukaan air tanah sekitarnya 3. tempat persedian air bagi masyarakat ( rumah tangga, irigasi, ternak, dan lain-lain) 2.3. Sasaran 1. Daerah kritis dengan kemiringan lereng (15 - 35) %, bukan daerah longsor/bergernk ntnu patahan dengan luas Daerah tangkapan (catchment area) sekitar 100 - 250 ha. 2. luas genangan luas daerah tangkapan air adalah 1 : 50 sampai 1 100 3. Mudah mendapatknn bahan-bahan yang diperlukan. Dalam hal pembangunan Dam akan berdampak luas pada daerah sekitar antara lain keamanan konstruksi Dam, luasan genangan air maka perlu melakukan konsultasi dengan Dinas yang membidangi Pengniran dalam perencanaannya dan pemerintah pusat. Tidak mengalokasikan ganti rugi bagi tanah yang digunakan sebagai areal genangan. Apabila genangan tersebut akan dimanfaatkan untuk keperluan lainnya, seperti wisata, maka perlu melakukan konsultasi dengnn Dinas yang membidanginya. 2.4. Pembuatan Dam pengendali Pembuatan profil bendungan Pengupasan dan penggalian serta pemadatan untuk pondasi bangunan Pembuatan lapisan kedap air Pemasangan konstruksi drainase Penimbunan dan pemadatan tanah tubuh bendungnn Pembuatan saluran pengambilan/lokal dan pintu air Pembuatan bangunan pelimpah (spillway) Pembuntan bangunan lain untuk sarana pengelolaan: jembatan spillway, jalan inspeksi 9. Pemasangan gebalan rumput 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Gambar 1. Dam Pengendali (tipe urugan tanah) 2.5. Pemeliharaan 1. Pengurugnn tanah dan konsolidnsi pada bangunan Dam yang rusak atau susut akibat erosi; gangguan ternak/manusia atau penyebab lain. 2. Penyulaman gebnlan rumput yang kering atau mati. 3. Perbaikan saluran diversi dan pengerukan lumpur dari dasar saluran air. 4. Tahapan, jenis dan ukuran/volume pekerjaan pemeliharaan secara rinci dimuat dalam rancangan atau perencanaan teknis.

3. DAM PENAHAN 3.1. Pengertian Dam Penahan adalah bendungnn keci) yang lolos air dengan konstruksi bronjong batu, anyaman ranting atau trucuk bambu/kayu yang dibuat pada alur jurang dengan tinggi maksimum 4 meter. 3.2. Tujuan 1. Mengendalian endapan dan aliran air permukaan dari daerah tangkapan air dibagian hulu 2. Meningkatkan permukann air tanah di bagian hilirnya. 3.3. Sasaran 1. Daerah kritis dengan kemiringan lereng (15 - 35) %. 2. Daerah yang sudah diupayakan RLKT tetapi hasilnya belum efektif. 3. Daerah tangkapan airnyn sekitnr 30 ha. 4. Lokasi terletak pada tempat yang stabil.

Gambar 2. Dam Penahan dengan Bronjong

3.4. Pembuatan Dam penahan Penganyaman/Pembuatan kawat bronjong, ranting, trucuk bambu/kayu. Pemasangan bronjong kawat, anyaman ranting, trucuk ' bambu/kayu. Pengisian batu kedalam bronjong kawat. Pengikatan kawat bronjong, anyaman ranting dan bambu/kayu Penguatan tebing 3.5. Pemeliharaan
1.

2.
3.

4. 5.

Pemeliharaan meliputi perbaikan/penyulaman kawat bronjong, anyaman ranting dan trucuk bambu/kayu yang putus atau rusak dan pengisian kembali batu kedalam bronjong kawat serta penguatan dinding tanah disekitar Dam penahan.

Gambar 3. Dam Penahan dengan anyaman ranting, kayu/bambu

Gambar 4. Dam Penahan dengan kayu/bambu

acf-bmps.com/.../Erosion_Eel_Sed_Tube.htm

4.

EMBUNG

4.1. Pengertian Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan air limpasan atau air rembesan dari lahan tadah hujan sebagai cadangan kebutuhnn air pada musim kemarau. 4.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan daripada pembuatan embung adalah : 1. Menampung da mengalirkan air pada kolam penampung 2. Cadangan persedinan air untuk berbagai kebutuhan pada musim kemarnu 3. Menekan laju erosi dan sedimentasi Adapun manfaat dari pada pembuatan embung yaitu sebagai persediaan air di musim kemarau dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan (pertanian, peternakan, rumah tangga dsb).

Sasaran 1. 2. 3. 4. Lahan-lahan kering dan (lahan-lahan tadah hujan pada hulu DAS Bertipe iklim C (5-6 bulan basah); tipe iklim D (3-4 bulan basah) dan tipe iklim E (<3 bulan basah), serta daerah kering lainnya yang memerluknn embung. Air tanah sangat dalam atau tidak ada sama sekali Tekstur tanah liat (tidak permeable) liat berlempung dan lempung liat berdebu.

Gambar 5. Embung

10

4.4. Pembuatan Embung Penggalian tanah mulai batas pinggir embung dengnn kemiringnn tanggul 45 dengnn kedalaman 2,5-3 m. Tanggul dibuat agak tinggi untuk menghindari kotoran yang terbawa air limpasan. 2. Agar dinding embung tidak mudah roboh dan lebih kedap air, dilakukan pelapisan dengan tanah liat, batu kapur, semen, plastik atau penembokan dengan semen dan batu. Ukuran/volume embung per unit mampu menampung air minimal 1000 m3
1.

4.5. Pemeliharan Pemeliharaan embung meliputi 1. pemagaran sementara untuk mencegah gangguan ternak terhadap tanggul embung lebih parah, pengangkatan endapan lumpur dan perbaikan tanggul yang bocor. 2. Untuk mengurangi hilangnya air embung karena evaporasi maka dilakukan pembuatan : a. Tiang peneduh di atas embung dan ditanami dengan tanaman merambat seperti kecipir atau markisa. b. Tiang penahan angin disamping embung pada sisi datangnya angin dan bisa ditanam tanaman merambat atau pohon sebagai pengganti tiang. 3. Pemeliharaan dan pengelolaan embung pasca proyek oleh kelompok masyarakat.

11

5. SUMUR RESAPAN AIR 5.1. Pengertian Bangunan sumur resapan air adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu Yang berfungsi sebagai tempat menampung air dan meresapkannya ke dalam tanah. 5.2. Tujuan Tujuan bangunan sumur resapan adalah :.Untuk mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan air tanah sebagai upnya untuk mengembalikan dan mengoptimalkan fungsi/kerja setiap komponen sistem tata air Daerah Aliran Sungai (DAS) sesuai dengan kapasitasnya. 5.3. Sasaran Sasaran lokasi ynitu daerah peresapan air di kawasan budidaya, pemukiman, pertokoan, industri, sarana dan prasarana olah raga serta fasilitas umum lainnya. Pembuatan Sumur resapan 1. 2. 3. 4. 5. Penggalian sumur sesuai ukuran Pembuatan dinding sumur dan bak kontrol. Pembuatnn guludan pembatas aliran air. Pengisian bahan pelengkap sumur. Penutupan sumur.

Gambar 6. Sumur Resapan Air

12

5.5. Pemeliharaan 1. Kegiatan pemeliharaan disesuaikan dengan tipe sumur resapan sehingga kapasitas sumur maksimal. Pemeliharaan terutama pada pembersihan kotoran/sampah di bak kontrol, saluran pembuangan dan saluran penampung. 2. Tahapan, jenis dan ukuran/volume pekerjaan pemeliharaan secara rinci dimuat dalam rancangan. Prinsip Sumur Resapan Sumur resapan dibuat dengan tujuan untuk mengalirkan air buangan dari permukaan tanah ke akuifer air tanah. Alirannya berlawanan dengan sumur pompa, tetapi konstruksi dan cara pembangunannya mungkin dapat saja sama. Pengimbuhan sumur akan lebih praktis apabila terdapat akuifer tertekan yang dalam dan perlu untuk diimbukan, atau pada suatu kawasan kota yang memiliki lahan yang sempit/terbatas. Gambar dibawah ini menerangkan proses air imbuhan masuk kedalam akuifer bebas dan akuifer tertekan. Untuk Akuifer Bebas memenuhi persamaan :

Sementara untuk Akuifer tertekan memenuhi persamaan :

13

Dimana :
Q = Debit Aliran K = Koefisien Permeabilitas Tanah rw = Jari-jari sumuran ro = Jari-jari pengaruh aliran ho = Tinggi muka air tanah hw = Tinggi muka air setelah imbuhan

6. PENGENDALI JURANG (gully plug) 6.1. Pengertian Bangunan pengendali jurang adalah bendungan kecil yang lolos air yang dibuat pada parit-parit melintang alur parit dengan konstruksi batu, kayu atnu bambu. 6.2. Tujuan Memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang/parit akibat gerusan air guna mencegah terjadinya jurang/pnrit yang semakin besar, sehingga erosi dan sediment terkendali. 6.3. Sasaran 1. Lahan dengan kemiringan sampai dengan 30% 2. Daerah tangkapan air maksimum 10 ha 3. Lebar dan kedalaman alur/parit/ jurang maksimum 3x3 m

14

4. Panjang alur parit/jurang sampai sekitar 250 m 5. Kemiringan alur maksimum 5% 6.4. Pemeliharaan Pemeliharaan meliputi perbaikan/penyulaman bagian-bagian yang rusak meliputi : bangunan utama, stabilitas lereng, saluran di sekitar bangunan utama.

Gambar 7. Skematik Pengolahan tanah sistem gulud

15

Gambar 8. Pola partisipatif dalam perencanaan lahan

Gambar 9. Dinamika kelompok dalam penggelolaan lahan usaha

16

7. PEMBUATAN GARIS KONTUR (SABUK GUNUNG) MENGGUNAKAN ONDOL-ONDOL Ondol-ondol atau gawang segitiga terbuat dari kayu atau bambu, terdiri dari dua buah kaki) yang sama panjang (A = B = 2 m), sebuah palang penyangga (C = 1 m), benang (D), dan pemberat (ondol-ondol, E), Pada bagian tengah palang diberi tanda untuk menentukan bahwa kedua ujung kaki ondol-ondol terletak pada posisi yang sama tinggi. Untuk mempermudah melakukan pengukuran pada palang penyangga (C) dapat dipasang waterpas sebagai pengganti ondol-ondol. Cara mengerjakan : 1. Siapkan ondol-ondol. 2. Tentukan puncak bukit awal, misal titik A. 3. Tentukan titik B pada bagian lereng yang lebih rendah sesuai dengan beda tinggi (interval vertical = IV) yang diinginkan, maksimal 1,5 m. Gunakan slang plastik berisi air, jika titik A = 0 cm maka ketinggian muka air dalam slang plastik pada titik B = 150 cm. Ukur jarak dari A ke B (interval horizontal, IH). 4. Untuk menentukan IH dapat dihitung dengan rumus berikut: IH = IV/S x 100, dimana IH = Interval Horizontal (m), IV = interval vertikal (m), , dan S = kemiringan lahan asal (%). 5. Letakkan kaki ondol-ondol pada titik B sedang kaki lainnya digerakkan ke atas atau ke bawah sedemikan rupa sehingga tali bandul persis pada titik tengah palang yang sudah ditandai. Titik yang baru ini, misalnya titik B1, adalah titik yang sama tinggi dengan titik B. 6. Dari titik B1 tentukan titik B2 dengan cara yang sama dengan tahap 5, demikian seterusnya sehingga diperoleh sejumlah titik pada lahan yang akan ditentukan garis konturnya. 7. Tandai titik tersebut dengan patok kayu atau bambu. 8. Titik yang ditandai kayu dihubungkan dengan tali rafia/plastik sehingga membentuk garis yang sama tinggi. Jika garisnya patahpatah, hilangkan sudut-sudutnya dengan menggeser patok ke atas atau ke bawah sehingga terbentuk garis sabuk gunung yang bagus. 9. Garis yang terbentuk tersebut adalah garis sabuk gunung pertama. Lanjutkan pekerjaan yang sama untuk membuat garis kontur kedua pada titik C dan seterusnya dengan beda tinggi maksimal 1,5 m. Pada garis kontur tersebut dapat dibuat teras gulud, teras bangku, strip rumput atau pun pertanaman lorong.

17

8. Teras gulud Teras gulud adalah guludan yang dilengkapi dengan rumput penguat dan saluran air pada bagian lereng atasnya. Teras gulud dapat difungsikan sebagai pengendali erosi dan penangkap aliran permukaan dari permukaan bidang olah. Aliran permukaan diresapkan ke dalam tanah di dalam saluran air sedangkan air yang tidak meresap dialirkan ke Saluran Pembuangan Air (SPA).

18

a. Persyaratan Cocok untuk kemiringan lahan antara 10-40%, dapat juga digunakan pada kemiringan 40-60%, namun kurang efektif. Dapat dibuat pada tanah-tanah agak dangkal (> 20 cm). Tetapi mampu meresapkan air dengan cepat. b. Pembuatan dan pemeliharaan Buat garis kontur sesuai dengan interval tegak (IV = interval vertical) yang diinginkan. Pembuatan guludan dimulai dari lereng atas dan berlanjut ke bagian bawahnya. Teras gulud dan saluran airnya dibuat membentuk sudut 0,1- 0,5% dengan garis kontur menuju ke arah saluran pembuangan air. Saluran air digali dan tanah hasil galian ditimbun di bagian bawah lereng dijadikan guludan. Tanami guludan dengan rumput penguat seperti Paspalum notatum, bebe (Brachiaria brizanta), bede (Brachiaria decumbens), atau akarwangi (Vetiveria zizanioides) agar guludan tidak mudah rusak. Diperlukan SPA yang diperkuat rumput Paspalum notatum agar aman.

9. Teras bangku Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bidang olah sehingga terjadi suatu deretan berbentuk tangga. Ada 3 jenis teras bangku : datar, miring ke luar, miring ke dalam, dan teras irigasi (lihat gambar). Teras bangku datar adalah teras bangku yang bidang olahnya datar (membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). Teras bangku miring ke luar adalah teras bangku yang bidang olahnya miring ke arah lereng asli, namun kemiringannya sudah berkurang dari kemiringan lereng asli. Teras bangku miring ke dalam (gulir kampak) adalah teras bangku yang bidang olahnya miring ke arah yang berlawanan dengan lereng asli. Air aliran permukaan dari setiap bidang olah mengalir dari bibir teras ke saluran teras dan terus ke SPA sehingga hampir tidak pernah terjadi pengiriman air aliran permukaan dari satu teras ke teras yang di bawahnya. Teras bangku gulir kampak memerlukan biaya yang mahal karena lebih banyak penggalian bidang olah. Selain itu bagian bidang olah di sekitar saluran teras merupakan bagian yang kurang/tidak subur karena merupakan bagian lapisan tanah bawah (subsoil) yang tersingkap di permukaan tanah. Namun jika dibuat dengan benar, teras bangku gulir kampak sangat efektif mengurangi erosi. Teras irigasi biasanya diterapkan pada lahan sawah, karena terdapat tanggul penahan air. a. Persyaratan Tanah mempunyai solum dalam dan kemiringan 10-60%. Solum tanah > 90 cm untuk lereng 60% dan >40 cm kalau lereng 10%. Tanah stabil, tidak mudah longsor.

19

Tanah tidak mengandung bahan beracun seperti aluminium dan besi dengan konsentrasi tinggi. Tanah Oxisols, Ultisols, dan sebagian Inceptisols yang berwarna merah atau kuning (podsolik merah kuning) biasanya mengandung aluminium dan atau besi tinggi. Ketersediaan tenaga kerja cukup untuk pembuatan dan pemeliharaan teras. Memerlukan kerjasama antar petani yang memiliki lahan di sepanjang SPA. b. Cara pembuatan teras bangku Pembuatan teras dimulai dari bagian atas dan terus ke bagian bawah lahan untuk menghindarkan kerusakan teras yang sedang dibuat oleh air aliran permukaan bila terjadi hujan. Tanah bagian atas digali dan ditimbun ke bagian lereng bawah sehingga terbentuk bidang olah baru. Tampingan teras dibuat miring; membentuk sudut 200% dengan bidang horizontal. Kalau tanah stabil tampingan teras bisa dibuat lebih curam (sampai 300%). Kemiringan bidang olah berkisar antara 0% sampai 3% mengarah ke saluran teras. Bibir teras dan bidang tampingan teras ditanami rumput atau legum pakan ternak. Contohnya adalah rumput Paspalum notatum, Brachiaria brizanta, Brachiaria decumbens, atau Vetiveria zizanioides dll. Sedangkan contoh legum pohon adalah Gliricidia, Lamtoro (untuk tanah yang pH-nya >6), turi, stylo, dll. Sebagai kelengkapan teras perlu dibuat saluran teras, saluran pengelak, saluran pembuangan air serta terjunan. Ukuran saluran teras : lebar 15-25 cm, dalam 20-25 cm. Untuk mengurangi erosi dan meningkatkan infiltrasi, pembuatan rorak bisa dilakukan dalam saluran teras atau saluran pengelak. Kalau tidak ada tempat untuk membuat SPA, bisa dibuat teras bangku miring ke dalam Perlu mengarahkan air aliran permukaan ke SPA yang ditanami rumput Paspalum notatum dan bangunan terjunan air.

c. Pemeliharaan Pemeliharaan saluran teras meliputi, memindahkan/mengeluarkan sedimen dari dalam saluran dan dari rorak ke bidang olah, menyulam tanaman tampingan dan bibir teras yang mati, memangkas rumput yang tumbuh pada saluran, tampingan dan bibir teras untuk dijadikan pakan ternak.

20

21