Anda di halaman 1dari 18

Nama : Ambar Isti Fatma Nim : 098554124

Anggaran Pendidikan 20%, untuk Siapa..?

Penulis semula iseng-iseng saja searching anggaran pendidikan dibantu Mbah Google, ehternyata banyak betul Kompasianer yang berminat dan bersemangat menelaah anggaran pendidikan di Indonesia, hal ini sebagai pertanda kepedulian Kompasianer yang besar terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Setidaknya ada 6 putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait anggaran pendidikan dalam kurun waktu 2005-2008 yang coba penulis cermati dan ikuti. Gugatan tersebut diajukan oleh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB-PGRI), berupa permohonan pengujian (judicial review) pasal-pasal yang terdapat dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU APBN TA. 2005, 2006, 2007, dan 2008 terhadap UUD Negara RI Tahun 1945. Intinya, PB-PGRI menggugat Pemerintah karena tidak/belum memenuhi amanah konstitusi agar sekurang-kurangnya mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD. Penulis berpendapat, dari 6 Putusan MK yang telah ditetapkan, Putusan MK Nomor: 013/PUUVI/2007 tanggal 13 Agustus 2008 merupakan putusan yang terpenting dan menjadi tonggak bersejarah yang menandai pemenuhan alokasi anggaran pendidikan 20% di Indonesia. MK dalam pendapat hukumnya menyatakan : apabila dalam UU APBN yang akan datang, ternyata anggaran pendidikan tidak juga 20% dari APBN dan APBD maka MK cukup menunjuk putusan ini untuk membuktikan inkonstitusional ketentuan UU dimaksud, dan mengingatkan kepada pembentuk UU untuk selambat-lambatnya dalam UU APBN Tahun 2009 harus telah memenuhi kewajiban konstitusionalnya menyediakan anggaran minimal 20% untuk pendidikan. Pemerintah (eksekutif) dan DPR-RI (legislatif) tentu tidak mau dianggap sebagai pihak yang tidak patuh terhadap ketentuan konstitusi, jadi tidak ada pilihan, pemerintah mesti mengamankan dan mengawal pemenuhan anggaran pendidikan 20% tersebut. Oleh karena itu, dalam kondisi

keuangan negara yang cukup sulit karena mesti mempertimbangkan kewajiban penyediaan anggaran yang bersifat mengikat (non discretionary expenditure), berupa belanja pegawai/ aparatur, bunga dan cicilan hutang, subsidi barang/jasa, dan belanja/transfer ke daerah), Pemerintah dan DPR-RI (sebagai pembentuk UU/legislator) berupaya keras memenuhi amanah konstitusi yakni mengalokasikan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD di TA 2009. Kita patut berikan apresiasi terhadap kerja keras tersebut. Secara nominal, besaran alokasi anggaran pendidikan meningkat terus dari tahun ke tahun, dengan senantiasa mempertahankan prosentasenya di kisaran 20%. Pada TA 2009, anggaran pendidikan dialokasikan sebesar Rp207.413,5 miliar (20,0%) dari Rp1.037.067,3 miliar sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 41 Tahun 2008. Terdapat kenaikan anggaran secara nominal sebesar Rp2.124,1 miliar pada TA 2010, sehingga anggaran pendidikan menjadi sebesar Rp209.537,6 miliar (20,0%) dari total belanja negara sebesar Rp1.047.666,0 miliar, sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 47 Tahun 2009. Selanjutnya untuk TA 2011, prosentase anggaran pendidikan naik sedikit menjadi 20,2% yaitu dialokasikan sebesar Rp248.978,5 miliar dari total belanja negara sebesar Rp1.229.558,5 miliar sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 10 Tahun 2010. Dalam postingan ini, penulis membatasi kajian hanya sebatas siapa penerima manfaat anggaran pendidikan 20%, dengan pertimbangan bahwa anggaran pendidikan yang sedemikian besar perlu dikelola secara hati-hati (prudent), direncanakan secara cermat, dan dilaksanakan secara efektif dan efisien untuk menjamin hak warga negara memperoleh akses pendidikan yang bermutu dan terjangkau. Selain itu, penulis juga merasa perlu berbagi informasi dan meluruskan pendapat sebagian orang yang beranggapan bahwa alokasi anggaran pendidikan 20% hanya untuk Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag). Sesuai dengan definisi anggaran pendidikan sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 10 Tahun 2010 tentang APBN TA 2011, dinyatakan bahwa Anggaran Pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui Kementerian Negara/Lembaga, alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah, dan alokasi anggaran pendidikan

melalui pengeluaran pembiayaan, termasuk gaji pendidik tetapi tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan, untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah (pasal 1 butir 48). Dengan demikian, jelaslah sudah penerima manfaat anggaran pendidikan 20% adalah Pemerintah Pusat (19 K/L), Pemerintah Daerah (Pemda Prov/Kab/kota, sebagai dana transfer), dan Lembaga Pengelola Dana Pembiayaan/BLU (pengelola dana pembiayaan berupa Dana Pengembangan Pendidikan Nasional/DPPN). Sebagai gambaran, penulis coba menjabarkan rincian anggaran pendidikan TA 2011 sebesar Rp248.978,5 miliar, yang terdiri atas : 1. Angg. pendidikan melalui Belanja Pemerintah Pusat : Rp 89.744,4 miliar; (angg. Pendidikan pada 19 K/L) 2. Angg. Pendidikan melalui Transfer ke daerah : Rp158.234,1 miliar; 3. Angg. Pendidikan melalui pengeluaran pembiayaan : Rp 1.000,0 miliar. (Sumber : Penjelasan Pasal 28 ayat 1 UU No.10 Thn 2010 ttg APBN 2011) Berdasarkan alokasi fungsi pendidikan, terdapat 19 K/L penerima manfaat anggaran pendidikan TA 2011 sebesar Rp89.744,4 miliar, dengan rincian sebagai berikut : Kementerian Pendidikan Nasional sebesar Rp55.582,1 M; Kementerian Agama Rp27.263,2 M; Kementerian Keuangan Rp90,9 M; Kementerian Pertanian Rp35,7 M; Kementerian Perindustrian Rp209,7 M; Kementerian ESDM Rp63,7 M; Kementerian Perhubungan Rp1.478,1 M; Kementerian Kesehatan Rp1.924,2 M; Kementerian Kehutanan Rp95,7 M; Kementerian Kelautan & Perikanan Rp180,9 M; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Rp226,9 M; Badan Pertanahan Nasional Rp25,4 M; Badan Meteorologi , Klimatologi & Geofisika Rp18,8 M; Badan Tenaga Nuklir Nasional Rp15,9 M; Kementerian Pemuda & Olahraga Rp1.372,2 M; Kementerian Pertahanan Rp124,1 M; Kementerian Tenaga Kerja & Transmigrasi Rp786,9 M; Perpustakaan Nasional Rp100,0 M; dan Kementerian Koperasi & UKM Rp150,0 M. Hal yang menarik, di TA 2011 ini terdapat penambahan 3 K/L penerima manfaat anggaran pendidikan yaitu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Perpustakaan Nasional, dan Kementerian Koperasi & UKM (sebelumnya ada 16 K/L lain, termasuk Kemdiknas dan Kemenag sebagai 2 kementerian utama yang menangani pendidikan).

Menarik untuk dikaji, mengapa 3 K/L tersebut dikategorikan sebagai penerima manfaat anggaran pendidikan? Apa hubungan/kontribusi Kementerian Nakertrans, Perpustakaan Nasional RI, dan Kementerian Koperasi & UKM dalam bidang pendidikan? Jawaban atas pertanyaan kritis tersebut, ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan, boleh jadi jawaban atas pertanyaan tsb mengundang perdebatan yang berkepanjangan dari aspek yuridis. Sejauh yang penulis ketahui, 3 K/L tersebut mendapat alokasi anggaran pendidikan dikarenakan adanya perluasan definisi pendidikan. Secara ringkas cakupan pendidikan tidak semata jalur pendidikan formal saja namun juga mencakup jalur pendidikan non formal. Oleh karena itu, Pendidikan keterampilan/pelatihan kerja yang dilaksanakan pada kementerian lain seperti misalnya pelatihan pada Balai Latihan Kerja (BLK) di Kementerian Nakertrans dan pelatihan kewirausahaan di Kementerian KUKM, serta pengembangan perpustakaan di Perpustakaan Nasional RI juga merupakan bagian dari fungsi pendidikan (sub fungsi pendidikan formal dan non formal). Sebagai payung hukumnya adalah UUD Tahun 1945 pasal 31 ayat (1) yg mengamanatkan setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Selanjutnya dalam ayat (3) ditegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih lanjut dijabarkan berbagai definisi operasional sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (definisi : pendidikan, peserta didik, sistem pendidikan nasional, pendidikan non formal, satuan pendidikan non formal, dlsb.). Nah, kata kuncinya adalah peserta didik dan sistem pendidikan nasional. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya (pasal 13 ayat 1); Peserta didik dapat siapa saja, sepanjang ada keinginan ybs untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan konsep pendidikan sepanjang hayat (long life education) dan pendidikan untuk semua (education for all).

Dengan telah dipenuhinya alokasi anggaran pendidikan sebesar 20%, apakah perjuangan telah selesai? Ternyata tidak kawanjalan masih panjang, jangan ucap janjidst. begitu mungkin jawab Andi Liany (mengutip lirik lagu Sanggupkah?). Terus bagaimana dong..? Nah, tugas yang lebih berat - seperti seringkali diucapkan oleh Menteri Keuangan (baik kala dijabat Sri Mulyani Indrawati maupun Agus D.W. Martowardojo) - adalah bagaimana meningkatkan kualitas belanja dalam APBN (quality of spending, terkait perencanaan/desain program-kegiatan) dan bagaimana mengoptimalkan penyerapan/realisasi anggaran pendidikan khususnya efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran. Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/16/anggaran-pendidikan-20-untuk-siapa/

Masalah Sistem Pendidikan

Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam pembangunan negara dan bangsa. SDM yang diharapkan adalah SDM mampu bersaing dalam percaturan global dalam kualitas dan ketrampilan standar dunia kerja. Demikian pula SDM bidang kesehatan, diharapkan dapat berperan besar dalam pembangunan kesehatan dan mengangkat harkat dan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Masalah SDM berkontribusi pada proses pembangunan ekonomi nasional. Namun kontribusi SDM Indonesia tidak menunjukkan signifikansi selama ini. Pertumbuhan ekonomi bukan didapatkan dari produktivitas SDM yang tinggi dan kemampuan manajerial SDM Indonesia tetapi berasal dari eksploitasi sumber daya alam (SDA) berupa hasil tambang dan hasil hutan ditambah arus modal asing, tenaga kerja asing (ekspatriat) dan investasi langsung. Bukti nyata rendahnya SDM Indonesia adalah keterpurukan ekonomi nasional akibat ketidakmampuan menghadapi persaingan ekonomi global. Dalam kancah persaingan global, menurut World Competitiveness Report posisi Indonesia menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti. Sementara posisi negaranegara tetangga berada pada posisi ke-8 Singapura, posisi ke-34 Malaysia, posisi ke-38 Filipina,

dan posisi ke-40 Thailand. Globalisasi ekonomi dan persaingan global merupakan hal yang tidak bisa dihindari bagi Indonesia di Abad XXI ketika seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi ekonomi meniscayakan persaingan antarnegara dalam hubungan intraregional dan internasional dengan syarat adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Beberapa faktor yang berpengaruhi dalam globalisasi ekonomi adalah upah buruh yang rendah, biaya produksi yang lebih rendah, infrastruktur yang memadai, tarif bea masuk yang murah, dan iklim usaha dan politik yang kondusif. Sistem pembiayaan perusahaan global menggunakan pola BOT (build-operate-transfer) bersama mitrausaha dari mancanegara, baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung. Khusus tenaga kerja (SDM) pada perusahaan global akan memanfaatkan pasar tenaga kerja dari seluruh dunia. Dari sinilah bersaing SDM dari negara maju dengan negara berkembang dalam pasar tenaga kerja dunia. Selama ini staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional, sementara tenaga buruh berasal dari negara berkembang. Globalisasi ekonomi meniscayakan ketergantungan dan kerjasama ekonomi antarnegara melalui kegiatan transaksi antarnegara (cross-border transactions). Kegiatan transaksi antarnegara dimungkinkan oleh adanya aliran dana internasional (international capital flows), aliran barang dan jasa, dan pergerakan tenaga kerja/SDM (human movement). Negara yang dominan dalam globalisasi ekonomi adalah yang memiliki competitive advantages, baik produksi sumberdaya alam maupun skill tenaga kerjanya (SDM). Dalam kerangka globalisasi ekonomi, dimensi daya saing dalam SDM perlu disiapkan melalui pendidikan tinggi agar dapat mendongkrak peningkatan SDM Indonesia yang masih terbilang rendah. Pembangunan SDM perlu sejalan dengan sistem pendidikan dan pembangunan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi suatu negara didukung oleh unsur SDM suatu bangsa. Dengan demikian, pembangunan pendidikan sebagai subordinat dari pembangunan SDM harus dikedepankan menghadapi persaingan SDM dalam era globalisasi. Masalah utama manajemen sumberdaya manusia Indonesia adalah missalocation of human resources. Pada era Orde Baru yang bercorak ekonomi konglomerasi, menyebabkan dunia kerja

yang bercorak konglomeratif, mulai dari sektor industri manufaktur sampai dengan perbankan. Ciri konglomerasi adalah penguasaan korporasi pada segelintir orang yang menguasai sumber daya ekonomi yang sangat besar dan luas sehingga menyebabkan struktur pasar tenaga kerja terdistorsi dan terperangkap dalam kemelut ekonomi politik. Akibat dari dunia kerja yang bercorak konglomeratif, dunia pendidikan pun ikut terseret didalam pusaran corak ekonomi konglomerasi. Lulusan terbaik dari perguruan tinggi memasuki sektorsektor ekonomi yang berpola konglomerasi yang notabene mempertajam kesenjangan ekonomi, antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil. SDM pun ikut terbangun mengikuti struktur pasar konglomerasi yang bergantung pada kondisi ekonomi politik, namun dominan belum sanggup menciptakan pasar sendiri. Inilah bentuk keterkaitan pendidikan tinggi yang memproduksi SDM dengan kondisi ekonomi politik yang diciptakan rezim Orde Baru yang masih bertahan hingga era reformasi. Malik Fajar ketika menjadi Mendiknas mengakui bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terburuk di kawasan Asia karena pendidikan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik, termasuk persoalan stabilitas dan keamanan, sebab pelaksanaan pendidikan membutuhkan rasa aman. Pendapat Malik Fajar menanggapi hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei oleh lembaga yang berkantor pusat di Hongkong itu, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam (Kompas,5/9/2001). Beberapa masalah dalam wacana SDM Indonesia adalah struktur pendidikan angkatan kerja dan kesempatan kerja. Didin S. Damanhuri mencatat, rata-rata SDM Indonesia masih rendah dengan rata-rata pendidikan angkatan kerja sekitar 63,2 persen berpendidikan sekolah dasar. Sementara kesempatan kerja tidak bertambah sehingga menyebabkan terjadinya pengangguran terbuka (open unemployment). Sejak krisis ekonomi tahun 1998 kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang sementara pencari kerja mencapai 92,73 juta orang.

Sejak krisis ekonomi hingga kini, kesempatan kerja tidak sebanding dengan peningkatan angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000 orang. Hingga tahun 2000, ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi sementara tidak semua terserap kedalam lapangan kerja yang tersedia yang memicu meningkatnya angka pengangguran sarjana. Fenomena sarjana pengangguran terkait dengan iklim pendidikan pada perguruan tinggi yang kurang menciptakan semangat wirausaha mahasiswa. Adalah tanggung jawab setiap perguruan tinggi untuk memantau mutu luarannya dalam memperebutkan kesempatan kerja. Kritik besar bagi perguruan tinggi yang berkontribusi menciptakan sarjana pengangguran. Demikian pula terhadap kebijakan pendidikan ketika awal era reformasi alokasi APBN sektor pendidikan hanya sekitar 12 persen dari total APBN. Baru setahun terakhir APBN sector pendidikan mengalami peningkatan hingga 20 persen sebagai hasil dari tuntutan peningkatan SDM bidang pendidikan. Sarjana pengangguran adalah beban pembangunan bangsa. Beberapa pendapat menyebut ada tiga penyebab sarjana pengangguran yakni masalah kultural, kurikulum sekolah dan pasar kerja. Masalah kultural terkait dengan etos kerja, sedangkan kurikulum sekolah terkait dengan mata pelajaran yang kurang mengembangkan kemampuan mengembangkan kemadirian SDM sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Akibat etos kerja dan kurikulum yang kurang mendukung menyebabkan pasar kerja tidak dapat diserap karena rendahnya kualitas SDM Indonesia. Rendahnya daya serap pasar tenaga kerja yang memunculkan pengangguran sarjana terkait pula dengan rendahnya mutu dari SDM pengelola pendidikan. SDM pengelola pendidikan berperan besar karena secara langsung terlibat dalam pengelolaan suatu satuan pendidikan. Hal ini berkorelasi pada tingkat adaptasi dam sinkronisasi terhadap berbagai program peningkatan kualitas pendidikan. Sistem Pendidikan Nasional Rendahnya kualitas SDM Indonesia terkait dengan faktor pendidikan yang tidak sepenuhnya mendukung kearah penciptaan lapangan kerja dan kemandirian manusia Indonesia. Memang tidak semua jenis pendidikan diarahkan untuk penciptaan lapangan kerja karena jenis-jenis

pendidikan dibedakan atas sifat dan kekhususan tujuan serta programnya. Namun esensi dari pendidikan adalah adanya usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar bertanggungjawab pada masa depannya secara individu dan berperan aktif pada lingkungannya. SDM Indonesia terkait dengan sistem pendidikan Indonesia yang diarahkan pada tercapainya cita-cita pendidikan yang ideal dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang bermartabat. Karena itu pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan yang berakar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional Indonesia. Secara normatif sebagaimana termaktub dalam UU No.20/2003 tentang Sisdiknas pasal 4 ayat 1 menyebutkan, bahwa Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Sementara sistem pendidikan nasional terkait dengan dinamika sosial dan politik. Sebagai suatu kebijakan, sistem pendidikan nasional diatur dalam UUD 1945 Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 C ayat (1), Pasal 31, dan Pasal 32 dan beberapa peraturan perundang-undangan dibawahnya yakni UU No.2/1989 tentang Sisdiknas yang diamandemen menjadi UU No.20/2003 dan UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen. Sedangkan peraturan perundangan dibawah UU adalah Peraturan Pemerintah (PP) No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan serta beberapa rancangan PP yang sedang dipersiapkan oleh pemerintah (RUU BHP, RPP Guru, RPP Dosen, RPP Wajib belajar, RPP Pendidikan Dasar dan Menengah). Sistem pendidikan nasional adalah suatu sistem yang kompleks di dalamnya terdiri dari berbagai perangkat dan rangkaian input-proses-output yang saling mempengaruhi secara internal. Secara eksternal, sistem pendidikan nasional dipengaruhi oleh aspek politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan serta berbagai stakeholder yang terkait dengan pendidikan. Kualitas pendidikan suatu bangsa dengan sistem pendidikan nasional dan subsistem didalamnya yang saling mempengaruhi terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan. Pengaruh sistem politik terhadap sistem pendidikan nasional terlihat pada pembentukan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) yang berlangsung sejak 2004. Partai politik yang berkuasa yang cenderung berpihak idiologi kapitalisme dan juga

dipengaruhi negara-negara donor asing beridiologi kapitalisme liberal mendesain kebijakan pendidikan dalam bentuk privatisasi sektor pendidikan. Kongkretnya, semua satuan pendidikan (sekolah) yang menjadi badan hukum pendidikan (BHP) wajib mencari sumber dananya sendiri, sementara negara lepas dari tanggungjawab menyediakan dana pendidikan. Pengaruh sistem ekonomi terhadap sistem pendidikan nasional tercermin pada bentuk penyelenggaraan pendidikan yang harus disertai pengorbanan ekonomis (biaya) oleh rakyat kepada negara sebagai pengejawantahan dari sistem ekonomi kapitalis. Bentuk nyata system kapitalis dapat dilihat dalam pasal 53 dan Pasal 54 UU Sisdiknas No.20/2003 tentang Badan Hukum Pendidikan. Pada pasal 53 berbunyi, bahwa (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. Sementara dalam Pasal 54 tertulis, (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. Pengalihan tanggungjawab penyelenggaraan pendidikan nasional dari negara kepada masyarakat, membebaskan pihak sekolah mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan, komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar, menunjukkan pengaruh sistem ekonomi kapitalis terhadap sistem pendidikan nasional. Implikasinya, pihak sekolah memiliki otoritas untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan, sementara rakyat akan dibatasi aksesnya untuk mendapatkan pendidikan berkualitas karena pembebanan biaya pendidikan. Pengaruh sistem sosial terhadap sistem pendidikan nasional tercermin pada kehidupan sosial berlandaskan sekularisme Barat melahirkan budaya materialistik (money oriented), budaya permisif (serba boleh), budaya hedonisme (hura-hura) dan beragam budaya Barat didalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai agama tidak menjadi pegangan utama masyarakat sehingga

tercerabut dari budaya sendiri seraya mengadopsi budaya Barat yang mengagungkan kebebasan. Pengajaran agama di sekolah tidak sepenuhnya mampu membangun sistem sosial khas Indonesia karena nilai-nilai agama hanya diajarkan tapi tidak sepenuhnya diamalkan. Ketidakmampuan sistem pendidikan nasional mempengaruhi bangunan sistem sosial Indonesia karena standard pendidikan berorientasi pada pengetahuan (aspek kognitif), bukan berdasarkan pengamalan nilai-nilai agama. Indikator keberhasilan peserta didik hanya diukur pada hasil Ujian Nasional yang terbatas pada beberapa mata pelajaran tertentu seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, sementara mata pelajaran yang membutuhkan pengamalan dan mengajarkan nilai-nilai moral tidak mendapat tempat dalam evaluasi belajar dan standard kompetensi serta mutu pendidikan. Sistem pendidikan nasional mengabaikan aspek pembentukan kepribadian (shaksiyah) peserta didik sebagaimana tujuan pendidikan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dampaknya, banyak peserta didik dan anak-anak usia sekolah yang terjerat dalam seks bebas, terlibat penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, perilaku kekerasan msssal antar pelajar (tawuran), dan berbagai tindakan kriminal lainnya yang bersifat kasuistis seperti pencurian, pemerkosaan, pembunuhan. Ragam tindak kriminalitas anak usia sekolah adalah resultante dari sistem pendidikan nasional yang tidak sepadan antara tujuan pendidikan dengan penyelenggaraan proses pendidikan. Upaya membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian dan berakhlak mulia sebagaimana dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional (Pasal 2 UU No.20/2003) tidak sesuai dengan realitas. Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/27/masalah-sistem-pendidikan-danpenyediaan-sdm-bidang-kesehatan/

Sistem Pendidikan Nasional

Sistem Pendidikan Nasional, kita sering mendengar dan membicarakannya, atau bahkan mengkritiknya. Tapi apa sebenarnya dan bagaimana keadaannya belum tentu setiap orang memahami dengan benar. Artikel kafeilmu.com ini dimaksudkan untuk sedikit memberikan pemahaman dasar tentang sistem kependidikan nasional kita, dasarnya apa, strata, tingkat, dan jalurnya seperti apa, ruang lingkup serta tujuannya bagaimana. Secara definitif, fungsi dan tujuan pendidikan nasional Republik Indonesia adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jalur Pendidikan Nasional Jalur pendidikan nasional adalah meliputi, dasar, menengah, tinggi, dan nonformal. Tingkat Pendidikan Dasar merupakan program pendidikan nasional di Indonesia yang melandasi jenjang menengah. Dalam menunjang terselenggaranya kependidikan dasar, pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Dalam hal ini pemerintah juga mempunyai tanggungjawab dalam hal pengelolaan, pembangunan, pengadaan, dan pembinaan. Pemerintah melalui kementerian (kemdiknas), dapat juga menjadi partner akademik yang baik dengan memberikan penghargaan, beasiswa prestasi, dll. Bentuk dan jenjang kependidikan sekolah terdiri atas pendidikan Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), serta bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Menengah adalah tingkat lanjutan dari pendidikan nasional dasar, yang terdiri atas menengah umum dan kejuruan, artinya, lulusan sekolah / tingkat dasar (SD dan SMP) akan dilanjutkan dengan tingkat menengah. Adapun bentuknya, sebagaimana yang telah umum disekeliling kita, yakni; 1. Sekolah Menengah Atas (SMA), 2. Madrasah Aliyah (MA), 3. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan 4. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan Tinggi, sebagaimana namanya, adalah tingkat keilmuan lanjut dari tingkat menengah. Mencakup program diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Bentuknya bisa bermacam-macam, diantaranya adalah; akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, universitas. Sebagai jenjang tinggi, PT berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan tinggi juga dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi. Selain program pendidikan nasional diatas, ada jenjang yang tidak termasuk dalam urutan jenjang formal, yakni nonformal atau pendidikan luar sekolah. Pendidikan nonformal atau terkadang disebut dengan jalur luar sekolah, diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Yakni merupakan pendidikan yang diarahkan untuk menanamkan kompetensi tertentu secara khusus, membentuk tenaga-tenaga profesional yang memiliki kemampuan khusus sesuai dengan kurikulum dan rencana seerta satuan pendidikan yang bersangkutan oleh masing-masing penyelenggara.

Ada beberapa bentuk dan jenis pendidikan nasional nonformal, diantaranya adalah kecakapan hidup, anak usia dini, kepemudaan, pemberdayaan perempuan, keaksaraan, keterampilan dan pelatihan kerja, kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Pendidikan non formal dapat diselenggarakan oleh lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Program Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Pendidikan Informal adalah pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan atau juga adalah jalur pendidikan luar sekolah, berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil jalur ini dapat diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan. Selain beberapa bentuk pendidikan baik formal, nonformal, maupun informal diatas, ada juga bentuk pendidikan lain yang akan dijelaskan secara definitif. Bentuk-bentuk pendidikan tersebut adalah; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), adalah program yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar dan dapat diselenggarakan melalui jalur formal, nonformal, dan/atau informal. Jalur formalnya adalah TK dan RA atau bentuk lain yang sederajat. Bentuk non formalnya adalah Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA) dan bentuk lain yang sederajat. Dalam bentuk informal, adalah pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Pendidikan Kedinasan adalah program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan (sumber daya manusia ) dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen dan dapat diselenggarakan baik melalui jalur formal dan nonformal. Pendidikan Keagamaan adalah program pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dapat diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Pendidikan keagamaan dapat berbentuk diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis. Pendidikan Jarak Jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus adalah program bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Program layanan khusus adalah program bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi. Sistem Pendidikan Nasional dan Masalah yang Dihadapi Hal-hal di atas adalah bentuk-bentuk, jalur dan strata pendidikan nasional kita. Adapun kewajiban dan peraturan lainya juga telah diatur oleh pemerintah. Mengenai pengumuman penerimaan siswa ataupun mahasiswa baru, pada tiap-tiap jenjang, pemerintah juga telah menerapkan sistem tahun ajaran. Dalam bidang-bidang yang lain, seperti metode pengajaran, teknik mengajar, lomba-lomba, atau pengumuman yang lain berkembang sesuai dengan metode pembelajaran serta kurikulum dasar yang telah ditetapkan pemerintah. Khusus untuk masalah Ujian Nasional, sampai saat ini, memang penuh dengan pro dan kontra. Ujian nasional oleh

sebagian orang dianggap sebagai kegiatan yang kurang arif dalam menentukan penilaian terhadap siswa. Namun disatu sisi, pemerintah juga membutuhkan standar tertentu untuk melakukan pengukuran. Dalam hal ini, masih dibutuhkan kajian lebih lanjut untuk membahas ujian nasional. Munculnya kurikulum KTSP dan masalah ujian nasional, tingginya standar penilaian, serta pembagian prosentase penilaian dari pemerintah dan sekolah secara mandiri, adalah isu yang paling signifikan saat ini, karena memunculkan banyak masalah baik bagi siswa maupun sekolah. Sekolah merupakan salah satu wahana pendidikan untuk jenjang dasar dan menengah. Sebagai wahana yang menunjang terselenggaranya sistem pendidikan nasional, sumber daya manusia yang ada didalamnya juga sangat diperhitungkan, karena itulah mengapa seorang guru sebagai sumber daya pendidikan profesional juga dituntut untuk mempunyai semangat tinggi dalam mendukung tercapainya keberlangsungan kependidikan kita, sebagaimana yang telah ditetapkan dengan peraturan-peraturan. Beasiswa belajar lanjutan yang diperuntukkan bagi guru berprestasi akan sangat mendukung pengembangan profesionalisme pendidikan. Sehingga kompetensi dasar yang dibutuhkan dan kompetensi yang lain juga dimiliki guru. Guru tidak lagi hanya mengacu pada satu teknik dan metode belajar mengajar, tapi diperluas dengan berbagai kemampuan ajar sesuai dengan konteks dan perkembangan zaman. Sebagai cerminan dari pancasila dan undang-undang dasar 1945, pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan nasional, melalui beasiswa siswa miskin dalam berbagai kebijakan juga diharapkan dapat mengakomodasi mereka yang mungkin tidak mampu ikut dan terlibat dalam satuan dan kegiatan pendidikan. Warga negara yang memiliki kemampuan lebih juga sangat membantu dengan menyisihkan sebagian yang dimilikinya untuk memajukan keilmuan yang berjenjang dan bersinambungan, baik dengan membangun sekolah, membuat program kependidikan khusus, kegiatan, kursus, atau lomba-lomba tertentu yang meningkatkan mutu keilmuan masyarakat. Masyarakat Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang, adalah mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk menikmati penyelenggaraan pendidikan secara nasional. Ketentuan sebagaimana telah diatur oleh pemerintah melalui menteri pendidikan nasional, tentunya harus sejalan dengan UUD 45 dan kebutuhan masyarakat dalam bidang keilmuan.

Penyelenggaraan kegiatan bidang pendidikan oleh anggota masyarakat dalam kegiatan belajarmengajar adalah bentuk sinergi untuk memajukan sistem dan tujuan pendidikan nasional Indonesia, sehingga angka kebutuhan dasar dibidang pendidikan dapat semakin ditekan. Hal itu akan sejalan dengan keinginan pemerintah dan masyarakat pada umumnya untuk

menciptakan program-program nasional yang peka terhadap perkembangan. Ketentuan tentang sistem pendidikan nasional yang berlaku, selalu mengikuti perkembangan dan perubahan aturan yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini pun mengacu pada kebutuhankebutuhan tertentu baik dari para analis dan kritikus maupun berasal dari pemerintah. Dalam menunjang pengembangan yang lebih baik, sumberdaya yang ada dalam pemerintahan maupun masyarakat sendiri harus selalu mencari pengembangan dan motivasi dibidang keilmuan secara terus menerus dan berkesinambungan, sehingga tercipta tatanan program pendidikan

nasional yang memadai, baik saat ini maupun masa depan.

Sumber: http://kafeilmu.com/pendidikan-nasional

Ulasan: Membicarakan masalah pendidikan di Indonesia memang tidak akan ada habisnya, mulai dari system dalam pendidikan itu sendiri, sumber daya manusia yang berada pada lingkup pendidikan, sampai dengan masalah anggaran dana untuk pendidikan, belum lagi masalahmasalah lainnya yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Apabila saya ditanya, mana yang harus terlebih dahulu diperbaiki, saya akan menjawab semuanya harus diperbaiki secara bersama- sama, karena menurut saya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia tidak hanya dibutuhkan perubahan dalam satu bidang saja ataupun oleh satu pihak saja, semua perbaikan harus dilakukan secara bersama- sama dan mencakup segala hal yang berkaitan, mulai dari pemerintah, masyarakat, lembaga, guru, sampai dengan para siswa, semuanya harus ikut mengambil bagian dalam perbaikan system pendidikan di Indonesia. Saat ini banyak masalah di dunia pendidikan Indonesia, banyak gedung- gedung sekolah yang butuh perbaikan, banyak anak Indonesia yang putus sekolah, banyak daerah- daerah pinggiran yang belum bisa mendapatkan pendidikan yang layak, sampai dengan system yang selalu berubah- ubah, seperti kurikulum pendidikan yang selalu berubah- berubah dan belum bisa menentukan kurikulum apa yang pas untuk diterapkan di sekolah, dan system pelaksanaan ujian nasional yang selama ini masih mengundang banyak pro dan kontra. Seperti yang telah kita baca pada artikel di atas, dimana pemerintah telah memberi anggaran sebesar 20% dari dana APBN dan APBD, namun kenapa masih banyak gedung- gedung sekolah yang belum diperbaiki, kenapa masih banyak anak- anak Indonesia yang tidak bisa sekolah karena terbatasnya biaya, padahal seperti yang kita ketahui, saat ini ada dana BOS (bantuan operasional sekolah) yang bisa digunakan untuk membantu mereka yang kurang mampu untuk membiayai sekolah. Lalu, kemana dana itu terserap, digunakan untuk apa sampai- sampai tujuan awal pengucuran dana itu tidak bisa terlaksana. Siapakah yang salah? Pelaksananya atau systemnya yang salah. Seperti yang telah saya katakana sebelumnya, menurut saya, kita tidak perlu saling menyalahkan, karena yang kita perlu adalah kita memperbaiki semuanya secara bersama- sama. Dunia pendidikan itu tidak terpacu pada satu hal saja, untuk mewujudkan pendidikan yang baik di butuhkan system yang baik, orang- orang yang jujur dan berpotensi, dukungan pemerintah serta masyarakat.