Anda di halaman 1dari 2

1.

Atribut Pelayanan Perusahaan yang memberikan komitmen pada kualitas pelayanan dan secara konsisten memberikan kualitas pelayanan akan menikmati keunggulan dalam persaingan dan perusahaan dapat dengan mudah membina loyalitas dan hubungan dengan konsumen. Hal ini merupakan aspek yang memberikan kontribusi keberhasilan perusahaan. Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan yaitu pelayanan yang diharapkan dan pelayanan yang dirasakan. Apabila pelayanan yang diterima sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Konsumen membentuk suatu perilaku tentang pemberian jasa berdasar pengharapan sebelumnya mengenai performance perusahaan, dan perilaku ini mempengaruhi keinginan mereka untuk membeli jasa dari perusahaan tersebut. Merupakan hal yang penting bagi perusahaan untuk mengetahui bagaimana ia dapat mengubah sikap seseorang sehingga orang tersebut menjadi tertarik untuk membeli pelayanan yang diberikan. Penelitian Paramita (2001) mengenai analisa sikap konsumen terhadap atribut pelayanan rumah makan mengungkapkan bahwa ada lima atribut yang mempengaruhi layanan yaitu kebersihan, kenyamanan, lokasi, kecepatan layanan, serta sikap dan perlakuan karyawan. Kelima atribut tersebut merupakan atribut layanan yang ada dan dipentingkan oleh konsumen.

2. Gudeg Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gudeg merupakan makanan khas Yogyakarta dan Solo yang terbuat dari bahan nangka muda dengan bumbu bersantan. Pada proses penyajiannya, gudeg biasanya disajikan bersama dengan nasi, sambal goreng krecek, tahu, tempe, telur, dan daging ayam yang telah dimasak secara terpisah. Menurut Triwitomo dalam Susanto (2006), dewasa ini dikenal dua macam gudeg yaitu : 1. Gudeg basah dengan kenampakan berwarna cokelat tua, berbau wangi dan bercitra rasa manis. Kadar air gudeg basah adalah 89,01% dan kadar lemak 0,42% 2. Gudeg kering yaitu gudeg basah yang digoreng tumis dengan menggunakan sedikit minyak sampai cukup kering agar tahan lama. Kenampakan pada gudeg kering cenderung lebih kering dibandingkan dengan gudeg basah, lebih berminyak dan mendekati warna cokelat gula jawa. Dengan adanya proses pemasakan tersebut menyebabkan terjadinya penurunan kadar air pada gudeg kering menjadi 80,74% dan kadar lemak sebesar 4,79%.

Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Yogyakarta memasukkan gudeg dalam direktori wisata kuliner untuk mendukung pengembangan pariwisata di Yogyakarta. Pengembangan gudeg sebagai salah satu kegiatan wisata sesuai dengan konsep pengembangan wisata berbasis masyarakat Tourisme Based Society yaitu pengembangan wisata yang didasarkan pada nilainilai budaya yang ada dalam masyarakat dengan menggali potensi yang ada dalam masyarakat sehingga diharapkan tidak ada benturam kepentingan antara pihak pariwisata dengan masyarakat. Keuntungan lain yang diperoleh adalah memaksimasi keuntungan yang diperoleh, sebab seluruh sumber daya (resource) yang dibutuhkan terdapat dalam masyarakat. Gudeg kering berbeda dengan gudeg basah karena pada gudeg kering, setelah nangka direbus kemudian dilakukan penumisan dengan menggunakan sedikit minyak sampai cukup kering. Proses perebusan nangka pada gudeg kering pun lebih lama dari gudeg basah yaitu sekitar 1 hari. Keunggulan pengolahan gudeg kering adalah kepraktisan gudeg untuk dibawa dalam acara-acara tertentu selain itu juga lebih tahan lama. Sedangkan kelemahannya adalah dengan waktu proses yang lebih lama membuat kandungan gizi yang terkandung didalamnya akan berkurang.

Contoh : Atribut Primer Butir Atribut Sekunder Kelengkapan fasilitas yang menunjang kenyamanan Sarana komunikasiuntuk mendukung pemesanan (missal : telepon) Fasilitas pesan antar