Anda di halaman 1dari 5

Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional Tugas Akhir Esai Individu : Andhyta Firselly Utami : Ilmu Hubungan Internasional/0906550373 : 1) Bagaimana

a keamanan dicapai menurut Konstruktivisme? 2) Apa saja kritik terhadap perspektif tersebut? Sumber Primer : a. Alexander Wendt, Social Theory of International Politics, (Cambridge: Cambridge Studies in International Relations, 1999) b. Alexander Wendt, Anarchy Is What States Make of It: The Social Construction of Power Politics in International Organization 46, 2, (World Peace Foundation and Massachusettes Institute of Technology, Spring 1992) c. Fierke, K. M., Constructivism dalam Dunne, Kurke, and Smith, International Relations Theories, (Oxford: Oxford University Press, 2010) d. Higemi Suganami, Wendt, IR, and Philosophy: A Critique dalam Stefano Guzzini, Anna Leander, Ed., Constructivism and International Relations (Oxon: Routledge, 2006) e. Emanuel Adler, Seizing the Middle Ground: Constructivism in World Politics dalam European Journal of International Relations, (1997), hal. 319-363 Nama Departemen/NPM Pertanyaan

Keamanan dalam Konstruktivisme Wendtian Seluruh asumsi Konstruktivisme Wendtian tentang keamananbagaimana itu dicapai, persepsi ancaman, maupun aktor mana yang secara natural menjadi objek referensipada akhirnya berdasar kepada tiga nosi: 1) anarki tidak memiliki logika konflik ataupun kerja sama, 2) struktur dibentuk melalui interaksi antar unit, serta 3) ide berupa intersubjektivitas dapat mempengaruhi pilihan-pilihan negara dengan sangat signifikan. Konstruktivisme merupakan kritik terhadap premis-premis awal rasionalisme seperti nature of being, relasi antara struktur dan unit, pembentukan dunia materil, serta peran dari kesadaran kolektif.1 Secara prinsipil, Konstruktivisme Wendtian menggunakan pendekatan sosiologis yang mengakui besarnya dampak yang dapat dihasilkan oleh struktur maupun ide.2 Karena itu, identitas dan kepentingan sebuah negara dipercaya terkonstitusi secara eksternal oleh struktur melalui interaksi antar agen sertasebagai manifestasi idemempengaruhi output maupun outcome berupa tindakan yang diambil dalam sistem internasional.3 Berangkat dari pemahaman tersebut, tulisan ini akan menawarkan analisis kritis mengenai bagaimana Konstruktivisme memandang keamanan dan cara untuk mencapainya. Dalam konteks historis, Konstruktivisme berkembang setelah Perang Dingin berakhir, dimana konsep keamanan tradisional mulai ditantang oleh masuknya nilai-nilai serta permasalahan non-konvensional tertentu seperti hak asasi manusia dan peran aktor non-negara. Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan akademis yang sama sekali baru, seperti: Bagaimana Hubungan Internasional dapat menjelaskan dimensi sosial dan transnasional
1 Fierke, K. M., Constructivism dalam Dunne, Kurke, and Smith, International Relations Theories, (Oxford: Oxford University Press, 2010) 2 Alexander Wendt, Social Theory of International Politics, (Cambridge: Cambridge Studies in International Relations, 1999), hal. 31 3 Ibid., hal. 34

dari disiplin tersebut? sertayang lebih penting lagiApakah realitas objektif memang ada, atau justru dikonstruksi secara sosial? Dalam hal ini, realitas objektif dapat kita terjemahkan secara kasar sebagai konsep keamanan itu sendiri. Landasan utama pemikiran Konstruktivis Wendt adalah pertanyaan mengenai apa struktur anarki itu sebenarnya. Kaum rasionalis selama ini menerima anarki sebagai keadaan yang given sehingga tidak mengakui adanya kemungkinan terhadap perubahan tanpa menggali lebih dalam mengenai anarki seperti apa yang terjadi di lapangan. Wendt kemudian menawarkan proposal baru: anarki, baik menghasilkan output berupa perang (konflik) maupun institusi (kerja sama) adalah apa yang dibentuk oleh interaksi antar negara di dalam sistem itu sendiri.4 Konsekuensi dari pernyataan tersebut adala bahwa anarki kini dapat dikategorikan berdasarkan interaksi yang terjadi antar unit di dalam sistem tersebut. Dalam bukunya, Wendt secara spesifik memaparkan tiga kultur anarki: Hobbesian, Lockean, dan Kantian, dimana setiap negara akan dapat mengidentifikasi musuh, rival, maupun teman secara normatif.5 Contoh yang dapat menjelaskan pemikiran tersebut adalah bagaimana sistem internasional yang berisi negara-negara status-quo, akan menciptakan dunia yang secara relatif stabil sementara negaranegara revisionis akan membuat sistem yang penuh dengan konflik. Karakter status-quo maupun revisionis tersebut kemudian dapat dijelaskan sebagai manifestasi intersubjektivitas sebagai hasil dari interaksi antar negara. Wendt kemudian memaparkan kritiknya terhadap kajian neorealisme Waltz yang mendefinisikan karakter sistem internasional sebagai self-help, dimana keamananatau survivaldiartikan sebagai prioritas tujuan sebuah negara dengan power sebagai salah satu cara untuk mendapatkannya. Artinya, negara diasumsikan bersifat egois dan akan mempertahankan level power tertentu untuk memperoleh keamanan. Wendt berargumen sebaliknya. Menurut Wendt, keamanan tidak dapat dicapai secara efektif melalui balancing ataupun bandwagoning di bawah logika balance of power. Objektif negara seharusnya bukan semata-mata mempertahankan ataupun meningkatkan power, tapisesuai dengan asumsi bahwa anarki dibentuk interaksimembuat struktur dimana aktor-aktornya saling mengidentifikasi satu sama lain sebagai teman dan ingin mempertahankan status-quo yang relatif stabil. Karena itu, kultur yang perlu dibangun negara untuk mencapai keamanan adalah sebuah collective security system atau sistem keamanan kolektif. Dalam sistem seperti itu, confidence dan trust dibangun sebagai fondasi suatu pengaturan keamanan antar-unit yang berbasis legal, dan ekstra-unit dimana setiap aktor akan bekerja sama untuk menanggulangi ancaman dari luar sistem.
4 Alexander Wendt, Anarchy Is What States Make of It: The Social Construction of Power Politics in International Organization, 5 Higemi Suganami, Wendt, IR, and Philosophy: A Critique dalam Stefano Guzzini, Anna Leander, Ed., Constructivism and International Relations (Oxon: Routledge, 2006), hal. 57

Dalam mengajukan ide pencapaian keamanan ini, Wendt tidak menyangkal ataupun menutup kemungkinan bahwa negara tetap memiliki identitas egois untuk memprioritaskan keamanan negaranya sendiri di atas keamanan unit-unit lain di dalam sistem. Akan tetapi, menurut Wendt, bukanlah tidak mungkin bagi mereka untuk mengesampingkan atau menekan identitas egois tersebut dan belajar untuk mengembangkan sebuah identitas kolektif untuk membentuk sebuah perubahan struktural dan mencapai keamanan bersama. Pada akhirnya, ini tergantung pada bagaimana negara-negara secara historis berinteraksi dengan satu sama lain. *** Berdasarkan penjelasan tersebut, kita dapat menyusun kesimpulan sementara bahwa keamanan menurut Konstruktivis dapat dicapai melalui penciptaan identitas atau persepsi keamanan kolektif di antara negara-negara, sehingga meminimalisasi keinginan, atau

kepentingan, untuk menyerang. Hal ini juga dapat dijelaskan dengan konsep Wendt tentang identifikasi Self dari Other, dimana penciptaan keamanan kolektif adalah usaha membentuk persepsi Self yang uniter di antara beberapa aktor berbeda. Dalam sebuah sistem internasional dimana sekumpulan negara sudah memiliki identitas kolektif, mereka cenderung tidak akan mempersepsikan ancaman berdasarkan konstelasi power atau sumber daya militer negara lain. Selama sebuah negara cukup percaya bahwa negara lainnya tidak akan menyerang negara mereka, maka negara tidak akan melihat satu sama lain sebagai ancaman, tapi justru sebagai unsur dari Self yang sama. Studi kasus yang dapat menjelaskan ide ini adalah relasi keamanan Kanada dan Amerika Serikat, dimana secara umum kita dapat mengobservasi bahwa keduanya telah berhasil mengidentifikasi satu sama lain sebagai teman sehingga peningkatan kapasitas militer AS tidak pernah dipersepsi Kanada sebagai ancaman, begitu pula sebaliknya.6 Penjelasan serupa dapat kita gunakan untuk menganalisis relasi Prancis dan Inggris. Sebagai ganti balancing, negara-negara tersebut telah mencapai suatu mutual identification pada level ideasional seperti identitas. *** Karena menggunakan pendekatan sosiologis, Wendt lebih lanjut mengkategorikan keamanan manusia ke dalam lima jenis:7 1) keamanan fisik: manusia membutuhkan makanan, minuman, tidur, dan perlindungan dari ancaman fisik, termasuk kematian, 2) keamanan ontologis: manusia membutuhkan ekspektasi yang relatif stabil tentang dunia sosial dan alam di sekitar mereka, dalam artian pengakuan eksistensi oleh masyarakat, 3) sosiasi: bentuk keamanan ketiga adalah bagaimana manusia mendapatkan cinta dan berinteraksi sosial dengan satu sama lain, 4) self-esteem: pada level ini, manusia ingin merasa puas tentang diri mereka sendiri, dan biasanya dicapai melalui prestasi ataupun kekuasaan, 5) transendensi: terakhir, manusia membutuhkan
6 7

Alexander Wendt, Op.Cit., hal. 105-107 Ibid., hal. 131-132

inspirasi atau sumber kreativitas untuk selalu meningkatkan kondisi hidupnya. Kelima unsur ini, dianggap membentuk keamanan pada level yang lebih tinggi. Keamanan pada level tertinggi, maka dari itu, adalah ketika negara dapat menyediakan kelima poin di atas. Selain itu, pada level domestik karena menurut kaum konstruktivis keamanan adalah hasil dari konstruksi sosial, maka bagaimana keamanan tersebut dapat tersedia juga dilakukan melalui konstruksi sosial: 1) negosiasi (anatara pemimpin politik dan audiens domestik secara khusus) atau 2) kontestasi (antara aktor yang berbeda yang mengelaborasi visi yang berbeda). Menurut kaum konstruktivis, dukungan publik memiliki peran yang penting dalam mengubah arah kebijakan politik luar negeri suatu negara. Kaum konstruktivis dengan demikian menekankan pentingnya peran audiens dalam pembentukan keamanan.8 Contoh kasus yang dapat menjelaskan pandangan Konstruktivisme terhadap keamanan pada level nasional antara lain ide War on Terror yang dicetuskan oleh Amerika Serikat. Fenomena ini dijelaskan sebagai titik balik bagi studi Hubungan Internasional untuk mempertanyakan kembali asumsi-asumsi keamanan realisme: ternyata ancaman bisa juga berasal dari para teroris sebagai non-state actors, serta bagaimana identitas mempengaruhi tindakkan yang dibentuk oleh proses interaksi jaringan tersebut.9 War on Terror telah mencpiptakan sebuah realitas multidimensional baru yang terdiri dari makna-makna tertentu. Hal ini menunjukkan bagaimana Konstruktivisme pada akhirnya dapat menjelaskan hal-hal yang secara ontologi bahkan tidak dipertanyakan oleh rasionalisme. Fierke, Weber, dan Adler adalah beberapa nama konstruktivis yang telah mencurahkan pemikiran mereka masing-masing dalam mengkritik maupun melengkapi penjelasan

Konstruktivis oleh Wendt. Menurut Fierke, Konstruktivisme adalah kritik terhadap asumsi material yang statis dalam teori tradisional, dan karenanya menekankan possibility of change atau kemungkinan terjadinya perubahan. Perubahan tersebut bisa juga berupa bagaimana ide keamanan maupun ancaman dapat dikonstruksi melalui identitas dan kepentingan yang sebelumnya disebutkan. Menurut Fierke, Konstruktivisme mengedepankan ide-ide bahwa hubungan internasional adalah konstruksi sosial: (1) bersifat sangat kontekstual dan tidak ada realitas tunggal yang objektif, (2) norma, peraturan, dan bahasa menjadi faktor yang sangat penting, serta (3) politik internasional adalah world of our making.10 Emanuel Adler, sementara itu, melihat Konstruktivisme sebagai kunci utama untuk mengembangkan teori yang dinamis mengenai transformasi aktor internasional, institusionalisasi pola-pola interaksi tertentu, sistem governance, serta pembentukan identitas dan kepentingan baru yangseperti telah disebutkan sebelumnyadianggap terbentuk secara eksogenus oleh struktur.
Paul D. Williams, ed. Security Studies, an Introduction. New York: Routledge, 2008. Hal. 64. Fierke, K. M., Constructivism dalam Dunne, Kurke, and Smith, International Relations Theories, (Oxford: Oxford University Press, 2010) 10 Ibid.
8 9

Konsep-konsep yang dapat lahir dan berkembang dari Konstruktivisme tersebut dapat lebih lanjut melahirkan analisis proses yang terspesifikasi di antara parameter-parameter tersebut.11 Pada dasarnya, konsep keamanan yang diajukan Wendt menjembatani asumsi neorealis (logika anarki adalah struktural dan akan berujung pada konflik) dan neoliberalis (logika anarki adalah proses dan berujung pada kerja sama) dengan mengatakan bahwa there is no logic to anarchy atau tidak ada logika tertentu terhadap ide anarki. Cynthia Weber lebih lanjut mendukung pernyataan ini dengan mengatakan bahwa tidak ada nature bagi anarki internasional, dan karenanya keadaan tersebut tidak bisa disalahkan terhadap terjadinya perang ataupun kerja sama.12 Keamanan, seperti halnya identitas dan kepentingan, tidak akan pernah stabil karena tidak ada pre-given nature bahkan pada level ideasional. Kritik yang paling mendasar bagi Konstruktivisme sejauh ini tidak terdapat pada level asumsi, tapi justru bagaimana Wendt membangun dan mengembangkan argumennya dalam Social Theory of International Politics maupun Anarchy Is What States Make of It. Higemi Suganami dalam kritiknya terhadap Wendt melihat bahwa sejauh ini penjelasan Konstruktivisme masih sangat hipotetikal dan asumtif, karenatidak seperti neorealisme yang cukup banyak mengacu pada Perang Dingintidak memiliki periode sejarah khusus yang digunakan sebagai model analisis.13 Analisis tersebut dianggap belum sempurna karena belum berhasil menggambarkan bagaimana ide keamanan dari kultur Hobbesian yang penuh kebencian dapat bergeser pada kultur Kantian yang lebih ramah, ataupun bayangan Wendt tentang struktur anarki lainnya.14 Bagaimana Wendt kurang persuasif dalam mengajukan premis-premis utama Konstruktivisme juga cukup perlu mendapat perhatian. Kesimpulan: dengan mengakui adanya kemungkinan terhadap perubahan struktur anarki dengan menggunakan fokus pada pembentukan kesadaran melalui identitas dan kepentingan kolektif, Konstruktivisme telah serta secara konsisten menghadirkan pengertian baru terhadap konsep keamanan dan bagaimana keamanan dicapai. Konstruktivisme berangkat dengan landasan bahwa logika sistem hanyalah hasil dari intersubjektivitas yang dibentuk oleh interaksi antar-unit, dan kemudian berkembang dengan mengajukan mosi bahwa keamanan bersama dapat dicapai melalui pembentukan collective security system sebagai tandingan dari balance of power dari neorealisme. Jika terdapat kritik terhadap Konstruktivisme, maka hal tersebut patut diajukan terhadap fakta bahwa Wendt kurang berhasil dalam melandaskan analisisnya terhadap dimensi waktu atau sejarah tertentu yang dapat dijadikan acuan terhadap kebenaran. Tapi lagi-lagi, bukankah ide dasar Konstruktivisme adalah bahwa kebenaran (objektif) itu tidak ada?

Ibid., page 31 Cythia Weber, International Relations Theory: A Critical Introduction, 2nd ed., (New York: Routledge, 2005), page 60 13 Higemi Suganami, Op. Cit., hal. 58 14 Ibid., hal. 57
11 12

Anda mungkin juga menyukai