Anda di halaman 1dari 33

PENGATURAN HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH OLEH PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI WUJUD HAK MENGUASAI NEGARA

Oleh Sapuandani A. Latar Belakang Bertitik tolak dari alinea ke-empat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, terkandung makna tujuan yang dikehendaki dari adanya Pemerintahan Negara Indonesia, yaitu meliputi melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah daerah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pemenuhan tujuan sebagaimana dikemukakan di atas, memberikan konsekuensi adanya usaha yang harus dilakukan oleh Pemerintahan Indonesia untuk mewujudkannya. Usaha tersebut salah satunya dapat dilihat dari adanya pengaturan ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.Ketentuan ini mengindikasikan palaksanaan penguasaan negara atas bumi dan air dan kekayaan alam yang ada di Negara Indonesia ini diarahkan kepada usaha terciptanya manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Oleh karenanya pengelolaan dan pemanfaatan terhadap bumi, air, dan kekayaan alam ini harus dilakukan secara efektif, rasional dan terpadu merupakan dasar konsep pembangunan berkelanjutan yang telah ditentukan oleh Negara Indonesia. Keterkaitan hak menguasai oleh negara dengan peruntukan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat, sesungguhnya akan menimbulkan kewajiban kepada negara: Segala bentuk pemanfaatan (bumi dan air), serta hasil yang didapat (kekayaan alam), harus secara nyata meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.Melindungi dan menjamin segala hak-hak rakyat yang terdapat di dalam atau di atas bumi dan air dan berbagai kekayaan alam tertentu yang dapat dihasilkan secara langsung atau dinikmati langsung oleh rakyat.Mencegah segala tindakan dari pihak manapun yang akan menyebabkan rakyat tidak mempunyai kesempatan, atau kehilangan

haknya atas kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.Kewajiban dan tanggung jawab negara yang timbul sebagai akibat dari penguasaan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya tidak hanya berlaku secara internal ke dalam wilayah negara. Pada saat yang bersamaan tanggung jawab negara timbul, apabila akibat dari aktifitas negara terhadap bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya berpengaruh atau berdampak terhadap wilayah (masyarakat/warga) negara lain. Implementasi tanggung jawab negara terhadap perlindungan lingkungan hidup akan sangat ditentukan oleh arah dan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup baik dalam kerangka nasional maupun global. Adanya situasi dan kondisi sebagaimana dikemukakan di atas, menuntut adanya posisi penting dari hukum untuk mengatur setiap kepentingan yang berkaitan dengan pemanfaatan bumi, air, dan kekayaan alam, sehingga dengan pengaturan tersebut diharapkan akan menjamin terjaganya keseimbangan dan keadilan, karena sesungguhnya fungsi hukum mampu memantapkan sistem untuk menjaga pelbagai keseimbangan: Keseimbangan antara kepentingan individu.Keseimbangan antara kepentingan individu dengan masyarakat.Keseimbangan antara pemerintah dengan yang diperintah.Keseimbangan kepentingan antara generasi masa kini dengan generasi, mendatang. Empat keseimbangan di atas, idealnya akan menjadi tolok ukur dalam menentukan capaian dari realisasi pelaksanaan hukum itu sendiri. Oleh karenanya ketika Undang-Undang Dasar 1945 melalui ketentuan Pasal 33 ayat (3) telah menyatakan secara tegas hubungan hukum antara negara dengan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, pertanyaan yang muncul adalah apakah ketentuan yang demikian ini akan dapat memenuhi tercapai empat keseimbangan sebagaimana yang dikemukakan di atas? Disadari bahwa analisis terhadap bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya akan menjadi kupasan analisis yang sangat luas. Oleh karenanya untuk membatasi ruang lingkup analisis maka penelitian ini membatasi hanya terhadap tanah yang merupakan bagian dari bumi. Pilihan terhadap tanah sebagai dasar analisis, sesungguhnya didasarkan atas pertimbangan bahwa persoalan tanah ini dalam tataran praktik akan secara langsung berkaitan dengan kepentingan masyarakat itu sendiri dan kepentingan pemerintah dalam wujud upaya

pembangunan. Pada masyarakat maka tanah diperlukan dalam rangka pengembangan hidup dan upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya tersebut, sedangkan disisi lain Pemerintah juga memerlukan tanah tersebut dalam rangka kegiatan pembangunan serta upaya peningkatan investasi swasta yang bertujuan untuk peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Y. Wartaya Winangun, menyatakan bahwa fungsi dan peran tanah dalam berbagai sektor kehidupan manusia memiliki tiga aspek yang sangat strategis, yaitu aspek ekonomi, politik, dan hukum, dan aspek sosial. Aspek-aspek tersebut merupakan isu sentral yang paling terkait sebagai satu kesatuan yang terintegrasi dalam pengambilan proses kebijakan hukum pertanahan yang dilakukan oleh Pemerintah. Lebih lanjut dalam tataran praktik, diketahui bahwa tanah sebagai wujud yang bersentuhan dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat dan pemerintah, pemanfaatan tanah kerap menimbulkan persoalan-persoalan berkaitan dengan peruntukkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah tersebut. Artinya, disatu sisi masyarakat sangat membutuhkan tanah tersebut dalam rangka pelaksanaan aktivitas kegiatan hidup dan keberlanjutan hidupnya, namun demikian di sisi lainnya, Pemerintah juga memerlukan tanah tersebut dalam rangka pelaksanaan pembangunan yang telah direncanakannya sebagai wujud pelayanan publik. Kondisi yang demikian ini tidak jarang menjadi konflik kepentingan mana yang akan diutamakan. Adanya konflik kepentingan antara kehendak untuk memberikan pengaturan dan peruntukkan secara tegas dalam pemanfaatan hak atas tanah tersebut sesungguhnya merupakan realisasi dari adanya pengaturan Hak Menguasai Negara ini. Terhadap pemanfaatan hak atas tanah yang dipergunakan oleh Negara dalam rangka pelaksanaan pembangunan dan realisasi pelaksanaan pemerintahan yang ada, kemudian melahirkan adanya istilah Hak Pakai dan Hak Pengelolaan atas Tanah, yang kesemuanya melekat pada Negara, termasuk dalam hal ini melekat pada Pemerintah Daerah. Terhadap hak pakai, maka hak ini melekat sepanjang tanah-tanah tersebut hanya digunakan untuk kepentingan instansi itu sendiri, sedangkan terhadap hak pengelolaan maka tanah-tanah tersebut selain dipergunakan untuk kepentingan instansi itu sendiri, dimaksudkan juga untuk dapat diberikan dengan sesuatu kepada pihak ketiga, yang dilakukan melalui bentuk sewa, kerja sama pemanfaatan, pinjam pakai, bangun guna serah, dan bangun serah guna. Realisasi dari wujud hak pengelolaan sebagaimana dikemukakan di atas,

apabila dilihat pada Penjelasan Pasal 44 Undang-Undang Pokok Agraria, dimana dinyatakan bahwa Negara tidak dapat menyewakan tanah, karena Negara bukan Pemilik Tanah, maka dengan demikian terdapat pertentangan apabila wujud pengelolaan sebagaimana dikemukakan di atas, memberikan hak pada Daerah untuk melakukan tindakan sewa sebagai wujud dari Hak Pengelolaan tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah telah memberikan pengaturan yang tegas berkaitan dengan pengelolaan barang milik daerah tersebut, termasuk dalam hal ini berkaitan dengan pengelolaan hak atas tanah. Namun demikian tentu pengaturan yang demikian ini harus sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan ruh yang dikehendaki melalui Undang-Undang Dasar 1945 tentang Hak Menguasai Negara tersebut.Dalam tataran praktis, kerapkali juga ditemukan bahwa Hak Pengelolaan ini kerap menimbulkan persoalan berkaitan dengan kriteria atau persyaratan untuk dilakukannya peralihan hak yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga dalam bentuk sewa, kerjasama pemanfaatan, pinjam pakai, bangun guna serah, dan bangun serah guna. Dengan dalih agar tanah dapat dikelola atau menghasilkan pemanfaatan lebih baik, Pemerintah Daerah kerapkali memberikan hak kepada pihak ketiga untuk melakukan pengelolaan tanah yang ada. Persoalan yang muncul adalah ketika tanah yang dialihkelolakan tersebut ternyata tidak memberikan kontribusi yang besar bagi Pemerintah Daerah dalam rangka menjadi sumber pendapatan asli daerah. Terlebih ketika peluang peralihan hak pengelolaan tersebut dilakukan secara tertutup, semakin memungkinkan terjadinya persoalan hukum dalam pengalihan hak tersebut.Lebih lanjut, ketika peralihan hak pengelolaan tersebut yang dilakukan oleh Pihak Ketiga untuk dikemudian hari menimbulkan sengketa dengan Pemerintah Daerah, tentu akan menimbulkan pertanyaan berkaitan dengan mekanisme penyelesaian hukumnya, apakah dimungkinkan diselesaikan melalui hukum publik atau akan diselesaikan melalui hukum privat? Identifikasi yang demikian tentu harus diberikan pengaturan secara jelas mengingat posisi dari Pemerintah Daerah tersebut selain dianggap sebagai penguasa juga merupakan subjek hukum. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk menganalisis persoalan-persoalan yang telah dikemukakan tersebut untuk kemudian disusun dalam bentuk disertasi yang berjudul: Pengaturan Hak Pengelolaan Atas Tanah oleh Pemerintah Daerah sebagai Wujud Hak Menguasai

Negara. Bertitik tolak dari uraian yang telah disampaikan di atas, maka permasalahan yang adalah sebagai berikut: - Bagaimana konstruksi Hukum hak pengelolaan atas tanah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah sebagai wujud hak menguasi negara.. - Bagaimanakah kriteria ideal dalam melakukan peralihan hak pengelolaan atas tanah kepada pihak ketiga yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah? - Bagaimanakah penyelesaian hukum terhadap persoalan hukum yang timbul dari akibat adanya peralihan hak pengelolaan atas tanah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan sebelumnya, maka atas tiga permasalahan ini pokok sebagaimana untuk dikemukakan dan penelitian bertujuan menemukan

menganalisis:Kontruksi hukum

pengelolaan atas tanah yang diselenggarakan oleh

Pemerintah Daerah;Kriteria ideal dalam melakukan peralihan hak pengelolaan atas tanah kepada pihak ketiga yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah;Penyelesaian hukum terhadap persoalan hukum yang timbul dari akibat adanya peralihan hak pengelolaan atas tanah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga. D. Kegunaan Penelitian Penelitian dengan tema fungsi sosial terhadap pemanfaatan hak atas tanah ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut:Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menemukan kerangka teori yang dapat memperkaya wawasan terhadap pengembangan Ilmu Hukum, khususnya Hukum Agraria yang membahas tentang hak pengelolaan atas tanah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.Secara praktis, penelitian ini berguna untuk menemukan landasan konkrit sebagai pedoman dalam menyusun peraturan perundang-undangan dibidang hukum agraria berkaitan dengan hak pengelolaan atas tanah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.

E. 1.

Kerangka Pemikiran Prinsip Konstitusionalitas Peristilahan konstitusi berasal dari perkataan constitution yang mempunyai

pengertian yang lebih luas daripada Undang-Undang Dasar. Hal ini disebabkan, karena istilah konstitusi mempunyai bagian yang tertulis yang dinamakan Undang-Undang Dasar dan bagian yang tidak tertulis yang disebut konvensi. Terhadap istilah Undang-Undang Dasar, maka diketahui bahwa istilah ini merupakan terjemahan dari perkataan Belanda, grondwet. Dalam kepustakaan Belanda, selain grondwet juga digunakan istilah constitutie. Kedua istilah itu menurut Sri Soemantri M., mempunyai pengertian yang sama, sebab selain konstitusi tertulis (geschreven constitutie, written constitution) juga dikenal Undang-Undang Dasar tidak tertulis (ongeschreven constitutie, unwritten constitution). Dengan demikian, baik Undang-Undang Dasar maupun konstitusi terdiri atas bagian yang tertulis dan bagian yang tidak tertulis. Dengan mengingat hubungan kausal antara negara dan konstitusi atau UndangUndang Dasar, maka menurut Sri Soemantri M., tidak ada negara yang tidak mempunyai konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Bahkan dalam banyak kasus, konstitusi atau Undang-Undang Dasar itu sudah ditetapkan lebih dahulu sebelum negaranya berdiri. J.C.T Simorangkir mengemukakan pandangannya tentang konstitusi atau UndangUndang Dasar sebagai berikut : Undang-Undang Dasar dipandang mempunyai fungsi membatasi kekuasaan dari penguasa dan menjamin hak-hak dari yang dikuasai;Undang-Undang Dasar mencerminkan keadaan masyarakat/negara yang memiliki Undang-Undang Dasar itu;Undang-Undang Dasar memberi petunjuk, memberi arah ke mana negara yang memiliki Undang-Undang Dasar itu akan dibawa;Undang-Undang Dasar mempunyai fungsi sebagai dasar perundang-undangan selanjutnya;Undang-Undang Dasar mencakup hasil perjuangan bangsa/negara yang bersangkutan di masa silam serta memuat cita-cita hukumnya. Undang-Undang Dasar itu memuat ketentuan-ketentuan pokok bagi bangsa bernegara yang bersangkutan.Suatu konstitusi atau Undang-Undang Dasar menurut Carl

Schmit merupakan keputusan politik yang tertinggi. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila negara-negara pada umumnya mengakui supremasi konstitusi. Dalam rangka melihat apakah dalam suatu negara dianut supremasi konstitusi di atas segala peraturan perundang-undangan atau tidak, dapat dilihat dari cara mengubah konstitusinya, apakah diperlukan prosedur lebih berat daripada pembuatan undang-undang, atau tidak. Di samping itu, untuk melihat ada-tidaknya supremasi konstitusi juga dapat dilihat dari cara bagaimana menjaga agar semua peraturan perundang-undangan dalam negara itu sesuai atau tidak bertentangan dengan ketentuan-kententuan yang terdapat dalam konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Di negara-negara federasi, diperlukan satu badan di luar badan legislatif yang berhak menguji apakah suatu undang-undang bertentangan atau tidak dengan konstitusi. Di Amerika Serikat, wewenang itu terletak di tangan Mahkamah Agung. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, supremasi konstitusi dianut. Oleh karena itu kedudukan UUD 1945 merupakan hukum perundang-undangan yang tertinggi. Sebagai hukum perundang-undangan yang tertinggi, validitas UUD 1945 menurut Bagir Manan tidak dapat didasarkan pada suatu kaidah hukum tertentu. UUD 1945 tidak bersumber pada kaidah hukum, melainkan pada norma dasar (Grundnorm, Basicnorm). Dengan demikian, keabsahan atau validitas UUD 1945 tergantung pada keabsahan Grundnorm. Grundnorm ini adalah suatu norma yang tidak dapat dideduksikan lagi dari sumber lainnya, suatu norma awal yang keberadaannya dan kesahannya diasumsikan (vorausgesetze atau presupposed), dan bukan merupakan bagian dari hukum positif, tetapi merupakan sumber (yang berada di luar) dari hukum positif. Mendasarkan pada kedudukan dari konstitusi dalam suatu negara tersebut, maka diketahui bahwa prinsip konstitusionalitas atau prinsip supremasi konstitusi mengisyaratkan, agar setiap pembentukan peraturan perundang-undangan berikut materi muatannya tidak boleh bertentangan dengan konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Secara formal-institusional, prinsip ini dijamin dengan adanya lembaga pengujian peraturan perundang-undangan. Prinsip konstitusionalitas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan memberikan sumber validitas bagi keberlakuan suatu

peraturan perundang-undangan. Ini disebabkan, karena:Undang-Undang Dasar sesuatu negara adalah induk dari segala peraturan perundang-undangan dalam negara yang bersangkutan. Undang-Undang Dasar atau konstitusi merupakan aturan pokok yang menentukan jenis-jenis peraturan manakah yang seharusnya ada, instansi mana yang berwenang membuatnya, mengubahnya, serta memberikan landasan hukum untuk berlakunya; Kedudukan Undang-Undang Dasar atau konstitusi dalam negara bersifat fundamental, oleh sebab itu maka dalam hierarkhi peraturan perundang-undangan letak Undang-Undang Dasar atau konstitusi berada di puncak piramida, sedangkan ketentuanketentuan yang lain berada di bawahnya; Oleh sebab letak Undang-Undang Dasar atau konstitusi dalam sistem hierarkhi peraturan perundang-undangan itu berada di puncak piramida, maka ia memiliki derajat tinggi. 2. Hak Menguasai dari Negara dan Hak-hak Atas Tanah Hak Menguasai Dari Negara Pada masa ini Negara diharapkan untuk ikut berperan aktif melaksanakan upaya-upaya untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya dengan cara mengatur kehidupan ekonomi dan sosial. Negara diharapkan harus mampu mengatasi ketidakmerataan distribusi kekayaan di kalangan rakyat, gagasan ini disebut Welfare StateatauNegaraKesejahteraan Bertitik tolak dari konsep Negara hukum tersebut, maka Negara Indonesia dalam konstitusinya secara tegas menyatakan dirinya sebagai Negara hukum yaitu dalam Pasal 1 ayat (3) Perubahan Ketiga UUD 1945, yang menyatakan bahwa: Negara Indonesia adalah Negara hukum. Hal ini membuktikan bahwa sistem Negara hukum merupakan pilihan sadar Bangsa Indonesia, dan sebagai Negara hukum tentunya dalam kehidupan Negara kita akan berlaku apa yang dinamakan rule of law. Sebagai konsekuensinya, maka segala tindakan yang dilakukan oleh Negara maupun yang dilakukan oleh warga negaranya harus senantiasa tunduk pada hukum, termasuk pula dalam hal penguasaan terhadap tanah. Penguasaan atas tanah di Negara Indonesia diatur dalam UUPA. Dalam UUPA dikenal asas Penguasaan oleh Negara yang disebut Hak menguasai dari Negara. Hak menguasai dari negara adalah sebutan yang diberikan UUPA kepada lembaga hukum dan hubungan hukum konkret antara negara

dan tanah Indonesia. Hak menguasai dari Negara meliputi semua tanah dalam wilayah Republik Indonesia, baik tanah-tanah yang tidak atau belum maupun yang sudah dihaki dengan hak-hak perorangan. Hak menguasai dari Negara bersumber dari ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Hak menguasai dari Negara tersebut tidaklah diartikan sebagai kepemilikan Negara atas bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya. Apabila dihubungkan dengan hak ulayat, maka dapat dinyatakan bahwa hak menguasai tanah dari negara ini semacam hak ulayat yang diangkat pada tingkatan yang tertinggi yaitu, meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia. Lebih lanjut, hak menguasai dari Negara sebagai yang dikemukakan di atas diatur dalam Pasal 2 UUPA, yang bunyinya sebagai berikut :Atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu, pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara sebagai organisasi seluruh rakyat;Hak menguasai dari Negara termaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk :Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut;Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa;Menentukan dan mengatur hubunganhubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari Negara tersebut pada ayat (2) pasal ini, digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat, dalam arti kebangsaan, kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur;Hak menguasai dari Negara tersebut di atas pelaksanaanya dapat dikuasakan kepada Daerahdaerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah. Mendasarkan pada ketentuan Pasal 2 ayat (1) di atas, yang menegaskan bahwa bumi, air, dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di

dalamnya, pada tingkatan yang tertinggi dikuasai oleh Negara, maka mengandung makna bahwa Negara merupakan suatu organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat yang bertindak selaku penguasa. Oleh karena itu, kata dikuasai dalam Pasal 2 ayat (1) diartikan sebagai kewenangan Negara sebagai organisasi kekuasaan. Sebagaimana telah dikemukakan di atas istilah dikuasai oleh Negara tidak berarti bahwa semua tanah di Indonesia adalah kepunyaan Negara. Hal ini hanya memiliki arti, bahwa Negara bila perlu dengan jalan peraturan-peraturan bisa mengatur tentang penggunaan tanah. Jadi, dengan ini dapat dikemukakan bahwa negara tidak mempunyai hak privat atas tanah, tetapi hanya mempunyai hak publik semata. Hak-hak Atas Tanah Dalam UUPA Dalam rangka menjamin kesejahteraan bangsa Indonesia dibidang pertanahan, maka pada tanggal 24 September 1960 diundangkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Undang-Undang Pokok Agraria) Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1960 nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 2403, yang lebih dikenal dengan nama UUPA. UUPA merupakan ketentuan yang sampai dengan saat ini menjadi sumber dan acuan dari Hukum Pertanahan yang sedang berlaku di Indonesia. Sebelum berlakunya UUPA, berlaku hukum tanah yang bersifat dualistik, yaitu yang bersumber pada hukum adat yang berkonsepsi komunalistik religius dan bersumber pada hukum perdata barat yang bersifat individualistik-liberal. Setelah berlakunya UUPA, kepastian hukum dalam bidang Hukum Tanah di Indonesia yang merupakan tujuan dari UUPA menjadi terwujud yaitu dengan bersumber pada UUPA. Tujuan dari UUPA tersebut nampak dalam bagian kedua UUPA mengenai Ketentuan-ketentuan Konversi yang mengatur bahwa tanah-tanah sebelum berlakunya UUPA yaitu tanah-tanah yang tunduk pada Hukum Adat dan Hukum Perdata Barat dikonversi menjadi tanah yang tunduk pada Hukum Tanah Nasional yaitu UUPA. UUPA berlandaskan hukum adat, oleh karena itu asas-asas dalam hukum adat yang berkaitan dengan tanah tetap diberlakukan dalam UUPA. Salah satu asas tersebut adalah adanya asas pemisahan horizontal dimana antara tanah dan benda-benda yang berada di atasnya terpisah. UUPA hanya mengatur mengenai ketentuan mengenai tanah dan tidak mengatur mengenai ketentuan benda-benda yang berada di atas tanah tersebut. UUPA mencabut setiap ketentuan mengenai segala bentuk hak kebendaan sebagaimana diatur dalam buku II KUHPerdata sepanjang mengenai bumi, air serta

kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Sehingga hak-hak kebendaan yang dicabut tersebut menjadi objek dari UUPA. Pasal 4 UUPA menyebutkan bahwa atas dasar hak menguasai Negara ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi yang disebut tanah yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendirisendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum. Hakhak yang dimaksud ditentukan dalam Pasal 16 ayat (1) UUPA, yaitu antara lain:Hak MilikPengaturan mengenai tanah sebagai objek Hak Milik sebelum berlakunya UUPA diatur dalam Buku II KUHPerdata. Dalam Pasal 570 KUHPerdata disebutkan bahwa:Hak Milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu kebendaan dengan leluasa dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu dengan kedaulatan sepenuhnya, asal tidak bersalahan dengan Undang-Undang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh suatu kekuasaan yang berhak menetapkannya dan tidak mengganggu hak-hak orang lain; kesemuanya itu dengan tak mengurangi kemungkinan akan pencabutan hak itu demi kepentingan umum berdasar atas ketentuan Undang-Undang dan dengan pembayaran ganti rugi.Ketentuan dalam Pasal 570 KUHPerdata tersebut, menjelaskan bahwa Hak Milik merupakan hak yang paling utama dibandingkan hak kebendaan lainnya, dalam arti dapat dialihkan, dibebani, disewakan, dipetik hasilnya, di rusak, dipelihara. Hak Milik merupakan droit inviolable et sacre yaitu hak yang tidak dapat diganggu gugat. Akan tetapi sifat kebendaan dari hak milik demikian, dalam perkembangannya tidak dapat dipertahankan lagi karena ada pembatasan, misalnya pembatasan oleh Hukum Tata Usaha Negara. Hak milik tidak boleh menimbulkan gangguan bagi orang lain, tidak boleh melakukan penyalahgunaan hak dan pelanggaran terhadap hal-hal tersebut dapat dikenakan sanksi. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setelah berlakunya UUPA maka Buku II KUHPerdata yaitu sepanjang mengenai bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya dicabut, sehingga ketentuan yang berlaku adalah sebagaimana yang diatur dalam UUPA.Ditegaskan dalam Pasal 20 UUPA bahwa:Hak Milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6.Hak Milik ini dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain.Hak milik merupakan hak atas tanah yang paling kuat dan sempurna, dan dapat dijadikan hak induk. Maksudnya hak milik dapat dijadikan alas hak dari hak atas tanah yang lainnya,

misalnya Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai.Hak Guna UsahaKetentuan mengenai Hak Guna Usaha, dalam UUPA diatur dalam Pasal 28 sampai dengan Pasal 34. Selain dalam UUPA, mengenai Hak Guna Usaha ini diatur dalam peraturan lainnya, salah satunya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 yaitu dalam Pasal 2 sampai dengan Pasal 18. Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara, dalam jangka waktu sebagaimana tersebut dalam Pasal 29 UUPA, guna perusahaan pertanian, perikanan atau peternakan. Hak Guna Usaha ini dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain, selain itu juga dapat dijadikan objek Hak Tanggungan. Hak Guna BangunanHak Guna Bangunan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 35 ayat (1) UUPA yaitu hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 20 tahun.Hak Guna Bangunan dapat beralih dan dapat dialihkan kepada pihak lain. Peralihan tersebut dapat terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, dan tindakan peralihan yang lainnya.Pasal 37 UUPA menyebutkan bahwa Hak Guna Bangunan dapat terjadi di atas tanah yang dikuasai langsung oleh Negara yaitu dengan suatu penetapan pemerintah ataupun di atas tanah Hak Milik yaitu dengan dibuatkan suatu perjanjian otentik antara pemilik tanah yang bersangkutan dengan pihak yang akan memperoleh Hak Guna Bangunan tersebut. Namun selain di atas tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dan tanah Hak Milik, Pasal 21 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 menyebutkan bahwa Hak Guna Bangunan juga dapat terjadi di atas tanah Hak Pengelolaan yaitu diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk berdasarkan usul pemegang Hak Pengelolaan.Hak PakaiHak Pakai sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 41 ayat (1) UUPA adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan Undang-Undang ini.Berdasarkan pengertian di atas, maka Hak Pakai dapat terjadi karena Pemberian dari Pemerintah, ataupun karena suatu perjanjian antara pemilik tanah dengan pihak yang mendapat hak pakai tersebut. Hak

Pakai dapat diberikan di atas tanah Negara, tanah Hak Pengelolaan dan tanah Hak Milik.Pasal 45 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 menyebutkan bahwa jangka waktu hak pakai adalah 25 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang tidak ditentukan selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu. Sesudah jangka waktu Hak Pakai atau perpanjangannya berakhir, pemegang Hak Pakai dapat meminta pembaharuan Hak Pakai di atas tanah yang sama.Hak SewaDisebutkan dalam Pasal 44 UUPA bahwa seseorang atau badan hukum mempunyai Hak Sewa atas tanah, apabila ia berhak mempergunakan tanah milik orang lain untuk keperluan bangunan, dengan membayar kepada pemiliknya sejumlah uang sebagai sewa.Dalam UUPA mengenai Hak Sewa diatur dalam Pasal 44 sampai dengan Pasal 45, namun baik dalam UUPA maupun peraturan lainnya tidak diatur secara rinci. Dalam praktek Hak Sewa ini berpedoman pada ketentuan dalam KUHPerdata.Hak Membuka Tanah, Memungut Hasil HutanHak Membuka Tanah dan Memungut Hasil Hutan, dalam UUPA diatur dalam Pasal 46. Hak Membuka Tanah dan Memungut Hasil Hutan hanya dapat dimiliki oleh Warga Negara Indonesia dan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah. Dengan mempergunakan Hak Memungut Hasil Hutan secara sah tidak dengan sendirinya diperoleh Hak Milik atas tanah itu.7) Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut di atas yang akan ditetapkan dengan Undang-Undang serta hak-hak yang sifatnya sementara sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 53. Hak-hak tersebut antara lain adalah Hak Gadai, Hak Usaha-bagi-hasil, Hak Menumpang dan Hak Sewa Tanah Pertanian. Diatur untuk membatasi sifat-sifatnya yang bertentangan dengan UUPA dan hak-hak tersebut diusahakan hapus di dalam waktu yang singkat.Selain dari Hak-hak atas tanah yang disebutkan di atas, terdapat hak atas tanah yang lain yang ada dan berlaku, namun tidak diatur dalam UUPA yaitu Hak Pengelolaan. 3. Hak Pengelolaan Atas Tanah Telah diuraikan sebelumnya bahwa apabila merunut pada UUPA maka tidak ditemukan adanya peristilahan hak pengelolaan. Boedi Harsono menyatakan bahwa adanya hak pengelolaan dalam hukum tanah nasional tidak disebut dalam UndangUndang Pokok Agraria, tetapi tersirat dalam penjelasan umum yang menyatakan Dengan berpedoman pada tujuan yang disebutkan diatas. Negara dapat memberikan tanah yang demikian (yang dimaksudkan adalah tanah yang tidak dipunyai dengan

sesuatu hak oleh seseorang atau pihak lain) kepada seseorang atau badan-badan dengan sesuatu hak menurut peruntukan dan keperluannya, misalnya dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, atau hak pakai, atau memberikannya dalam pengelolaan kepada sesuatu Badan Penguasa (Departemen, Jawatan atau Daerah Swatantra) untuk dipergunakan bagi pelaksanaan tugasnya masing-masing (Pasal 2 ayat (4) UUPA). Pandangan di atas jelas menunjukkan bahwa landasan hukum dari hak pengelolaan sesungguhnya telah disinggung dalam Penjelasan Umum UUPA. Dasar pengaturan yang demikian ini tentu harus ditindaklanjuti dalam pengaturan peraturan perundangannya lebih lanjut.R. Atang Ranoemihardja menyatakan bahwa hak pengelolaan adalah hak atas tanah yang dikuasai Negara dan hanya dapat diberikan kepada badan hukum atau pemerintah daerah baik dipergunakan untuk usahanya sendiri maupun untuk kepentingan pihak ketiga. Pengertian hak pengelolaan yang dikemukakan oleh R. Atang Ranoemihardja ini memberi arti bahwa hak pengelolaan bersifat alternative, dimana hak pengelolaan objektifnya adalah tanah yang dikuasai langsung oleh Negara yang diberikan kepada badan hukum pemerintah atau diberikannya kepada pihak ketiga. Ramli Zein memberikan pengertian bahwa hak pengelolaan bersifat kumulatif. Artinya, tanah yang dikuasai oleh Negara akan diberikan dengan hak pengelolaan kepada suatu badan hukum pemerintah atau pemerintah daerah, apabila tanah itu disamping akan dipergunakan untuk kepentingan pelaksanaan tugasnya, juga bagian-bagian tanah itu akan diserahkan dengan sesuatu hak tertentu kepada pihak ketiga. Mendasarkan pada uraian di atas, terlihat bahwa hak pengelolaan ini pada awalnya merupakan penguasaan yang dilakukan oleh Negara untuk kemudian dialihkan kepada subjek hukum tertentu untuk kemudian dilakukan kegiatan pengelolaan. Berkaitan dengan subjek dari hak pengelolaan ini, AP. Parlindungan, memberikan batasan bahwa yang menjadi subjek dari hak pengelolaan yaitu meliputi:Pemerintah daerah, daerah otonom seperti Kota;Lembaga Pemerintah, Daerah Pelabuhan, Departemen Transmigrasi untuk tanah-tanah transmigrasi, Departemen Pertanian untuk daerah proyek PIR, Departemen Pertambangan untuk daerah pertambangan, Departemen Kehutanan terutama daerah hutan kesepakatan, Lembaga Otorita Batam dan sebagainya;Lembaga pemerintahan yang bergerak di bidang industrial estate dan sebagainya;Perum Perumnas. Lebih lanjut, berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) Peraturan Menteri Agraria Nomor 9

Tahun 1965 tentang Pelaksanaan Konversi Hak Penguasaan atas Tanah Negara, diketahui bahwa hak pengelolaan merupakan hak untuk menguasai atas tanah yang langsung dikuasai oleh negara, dimana negara memberikan wewenang kepada pemegang haknya untuk:Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah tersebut;Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan tugasnya;Menyerahkan bagian-bagian dari tanah tersebut untuk pihak ketiga dengan hak pakai yang berjangka waktu 6 (enam) tahun;Menerima uang pemasukan/ganti rugi dan/atau uang wajib tahunan.Wewenang sebagaimana disebukan di atas, kemudian dilakukan perubahan melalui ketentuan Pasal 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1974 yang menyatakan bahwa dengan mengubh seperlunya ketentuan dalam PMA Nomor 9 Tahun 1965, hak pengelolaan berisikan wewenang untuk:Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan; Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan tugasnya; Menyerahkan bagian-bagian dari tanah itu kepada pihak ke tiga menurut persyaratan yang ditunjukkan oleh perusahaan pemegang hak tersebut.Selain pengaturan melalui Peraturan Menteri di atas, Hak Pengelolaan juga diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah. Mengacu pada peraturan pemerintah tersebut, diketahui bahwa materi hukum hak pengelolaan hanya disisipkan dalam Pasal 1 ayat (2) yang intinya mengandung pengertian adanya delegasi wewenang hak menguasai dari Negara kepada pemegang hak pengelolaan. Tidak ada penjelasan apakah delegasi kewenangan ini bersumber atau mengacu pada Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang Pokok Agraria atau kepada Peraturan-Peraturan Menteri tersebut di atas. Mendasarkan pada rumusan dan pengertian mengenai Hak Pengelolaan yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1953 sampai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1974 ini sesungguhnya telah berkembang sedemikian luasnya sehingga dapat menimbulkan tumpang tindih antar kewenangan instansi, dan juga berdampak kepada aspek sosial, ekonomi dan yuridis. Dalam rangka memberikan kepastian hukum terhadap hak pengelolaan atas tanah ini tentu identifikasi terhadap hak pengelolaan yang disesuaikan dengan ruh konstitusi merupakan cita ideal yang harus dilakukan. Metode Penelitian Secara prinsipil penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum normatif (normative law

research). Penentuan terhadap jenis penelitian dikarenakan penelitian ini akan mengkaji hukum yang dikonsepkan sebagai norma dan kaidah yang berlaku sebagai hukum positif, termasuk asas-asas atau doktrin hukum, sistematika hukum, taraf sinkronisasi hukum, perbandingan hukum dan sejarah hukum, yang berhubungan dengan hak pengelolaan atas tanah oleh Pemerintah Daerah sebagai wujud hak menguasai negara. Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini, selain metode yuridis normatif, juga akan dilakukan pendekatan yuridis empiris, sejarah hukum, sinkronisasi hukum, dan pendekatan futuristik hukum. Pendekatan yuridis empiris dilakukan dalam rangka membantu kelengkapan pengumpulan data empiris. Namun demikian data empiris yang dikumpulkan tersebut hanya merupakan data penunjang untuk melengkapi data sekunder yang telah dijadikan sebagai data utama. Pendekatan sejarah hukum diterapkan untuk mengadakan indentifikasi terhadap tahap-tahap perkembangan hukum atau perkembangan perundang-undangan, berkaitan dengan pengaturan hak pengelolaan atas tanah oleh Pemerintah Daerah. Pendekatan sinkronisasi hukum diterapkan untuk menentukan kesesuaian aturan peraturan perundang-undangan baik secara eksternal maupun secara internal yang mengatur tentang hak pengelolaan atas tanah oleh Pemerintah Daerah. Sedangkan pendekatan futuristik hukum dipergunakan dalam rangka menemukan model yang tepat untuk pengelolaan hak atas tanah oleh Pemerintah Daerah sebagai wujud hak menguasai negara. Sumber data utama dari penelitian ini adalah data sekunder, yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan dilakukan terhadap data sekunder, terdiri dari berbagai macam sumber hukum yang dapat diklasifikasikan atas: Bahan hukum primer (primary sources or authorities), berupa UUD 1945, Peraturan perundang-undangan tentang agraria, pemerintahan daerah, lingkungan hidup dan yurisprudensi yang terkait dengan hak pengelolaan atas tanah oleh Pemerintah Daerah sebagai wujud hak menguasai negara. Bahan hukum sekunder (secondary sources or authority), yakni bahan yang dapat memberikan kejelasan terhadap bahan hukum primer, seperti. literatur, hasil-hasil penelitian, makalah-makalah dalam seminar, artikel-artikel berkaitan dengan pengaturan hak pengelolaan atas tanah oleh Pemerintah Daerah sebagai wujud hak menguasai negara, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri;Bahan hukum tertier

(tertiary sources or authority), yakni bahan yang dapat memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer maupun sekunder seperti berasal dari kamus, ensiklopedia, risalah sidang dan referensi lain yang terkait dengan hak pengelolaan atas tanah oleh Pemerintah Daerah sebagai wujud hak menguasai negara.Untuk memberikan bobot tertentu terhadap pengkajian atas bahan hukum primer dan sekunder tersebut maka sebagai penunjang dilakukan juga dilakukan pengumpulan data primer yang dilakukan melalui metode wawancara dengan berbagai jalur informasi yaitu dari para ahli, para petugas di bidang pertanahan, aparat pemerintah daerah, maupun masyarakat itu sendiri yang pernah memiliki ketersinggungan dengan persoalan hak pengelolaan atas tanah oleh Pemerintah Daerah. Data yang telah diperoleh melalui penelitian selanjutnya dideskripsikan sesuai dengan pokok permasalahan yang dikaji. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, data yang telah terpilah-pilah tersebut selanjutnya dianalisis secara kualitatif yaitu suatu proses memilih, mengelompokkan, membandingkan, mensintesakan dan menafsirkan secara sistematis untuk mendapatkan penjelasan dari suatu fenomena yang diteliti. Tehnik ini diterapkan untuk mendapatkan hasil yang seobyektif mungkin berkenaan dengan pembahasan terhadap pokok permasalahan dalam penelitian ini. Penyajian model-model deskripsi factual terhadap masalah yang diteliti direncanakan untuk dilakukan sebagai alat bantu analisis hukum.

G.

Sistematika Penulisan Penulisan disertasi ini disusun dengan sistimatika sebagai berikut :

BAB I. PENDAHULUAN Pada bab ini berisikan uraian tentang latar belakang penelitian, identifikasi masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, metode penelitian, dan sistematika penulisan

BAB II.

KERANGKA TEORITIK TENTANG PRINSIP KONSTITUSIONAL,

HAK MENGUASAI DARI NEGARA, DAN HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH Pada bab ini akan diuraikan tentang teori-teori yang menjadi landasan teoritik dalam disertasi ini, yaitu meliputi uraian terhadap Prinsip Konstitusionalitas, Hak Menguasai dari Negara, dan uraian terhadap Hak Pengelolaan atas Tanah. BAB III. PENGATURAN HAK MENGUASAI DARI NEGARA, HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH, DAN PENYELESAIAN HUKUM TERHADAP PERSOALAN HUKUM TERHADAP PERALIHAN PENGELOLAAN HAK ATAS TANAHPada bab ini akan diuraikan tentang pengaturan tentang Hak Menguasai dari Negara, pengaturan Hak Pengelolaan atas Tanah, dan pengaturan terhadap penyelesaian hukum terhadap persoalan hukum yang timbul dari akibat adanya peralihan hak pengelolaan atas tanah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga, baik yang didasarkan menurut Undang-Undang Dasar 1945 maupun menurut penjabarannya lebih lanjut melalui peraturan perundang-undangan dibawahnya. BAB IV. KONSEKUENSI HUKUM KETENTUAN PASAL 33 AYAT (3) UNDANG-UNDANG DASAR 1945 TERHADAP HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH YANG DISELENGGARAKAN OLEH PEMERINTAH DAERAH Pada bab ini akan diuraikan tentang konsekuensi hukum yang timbul dengan adanya ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 terhadap karakteristik pengaturan hak pengelolaan atas tanah yang diselenggarakan oleh Pemerintah daerah BAB V. KRITERIA IDEAL DALAM PERALIHAN HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH DARI PEMERINTAH DAERAH KEPADA PIHAK KETIGA Pada bab ini akan diuraikan tentang kriteria ideal dalam peralihan hak pengelolaan atas tanah dari Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga, yang didasarkan atas indikator efektifitas, efisiensi, keadilan, dan kepastian hukum bagi masing-masing pihak, dengan tetap menjamin terwujudnya upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. BAB VI. PENYELESAIAN HUKUM TERHADAP PERSELISIHAN PERALIHAN HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH DARI PEMERINTAH DAERAH KEPADA PIHAK KETIGA Pada bab ini akan diuraikan tentang mekanisme dan upaya alternative yang dapat dilakukan dalam rangka melakukan penyelesaian hukum terhadap perselisihan peralihan hak pengelolaan atas tanah yang dilakukan oleh

Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga. Dalam menentukan mekanisme dan upaya alternative ini, maka landasan analisis didasarkan pada nilai efektifitas, efisiensi, jaminan keadilan bagi para pihak, serta memperhatikan upaya perwujudan kepastian hukum. BAB VII. PENUTUP Bab ini merupakan bab terakhir dalam disertasi ini, yaitu berisikan kesimpulan dan saran

DAFTAR PUSTAKA

Adrian Sutedi, Implementasi Prinsip Kepentingan umum : Dalam Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, Sinar Grafika, Jakarta, 2008 A.P. Parlindungan, Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria. Mandar Maju. Bandung. 1993 ________, Pencabutan dan Pembebasan Hak Atas Tanah : Suatu studi Perbandingan, Bandung, Mandar Maju, 1993 Ateng Syafrudin. Butir-butir Kuliah Pengantar Pemerintahan Daerah, Bandung, 2002 Bagir Manan, Beberapa Catatan atas Rancangan Undang-Undang tentang Minyak dan Gas Bumi, Makalah Diskusi Panel RUU Minyak dan Gas Bumi, Kajian Sosio Budaya, Ekonomi, Lingkungan dan Hukum Pertambangan dan Gas Bumi di Indonesia

Menghadapi Era Globalisasi, Fakultas Hukum UNPAD, Maret 1999 Boedi Harsono. Hukum Agraria Indonesia Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah, Djambatan, Jakarta, 1991 Dahlan Thaib, Dkk., Teori Hukum dan Konstitusi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999 Herawan S, Politik Hukum Agraria : Kajian atas Landreform daalam rangka Pembangunan Hukum Ekonomi Indonesia, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2006 Idham, Konsolidasi Tanah Perkotaan dalam Perspektif Otonomi Daerah, Alumni, 2004 Indroharto, Beberapa Pasal dari Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara- Pejabat Sebagai Calon Tergugat Dalam Peradilan TUN, Buku kesatu, CV. Sri Rahayu, Jakarta, 1989 Ismail Saleh, Demokrasi, Konstitusi, dan Hukum, Departemen Kehakiman RI, Jakarta, 1988 Ismail Suny, Pembagian Kekuasaan Negara, Aksara Baru, Jakarta, 1978 J.C.T. Simorangkir, Hukum dan Konstitusi, Gunung Agung, Jakarta, 1983 J.C.T. Simorangkir, Penetapan Undang-Undang Dasar dari Segi Ilmu Hukum Tata Negara Indonesia, Gunung Agung, Jakarta, 1984 Kalimantan Review. KOMNAS HAM : Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari.

www.kalimantanreview.com Komnas HAM. Kesimpulan dan Rekomendasi Komnas HAM atas Laporan Tim Pemantauan Peristiwa Alas Tlogo. Komnas HAM, Jakarta, 2008

Kusumadi Pudjosewojo dalam Abu Daud Busro dan Abubakar Busro, Asas-Asas Hukumtatanegara, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983 M. Daud Silalahi, Metodelogi Penelian Hukum, Lawencon Copy & Binding Centre, Bandung, 2001 Marsillam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik Sumber, Unsur, dan Riwayatnya dalam Persiapan UUD 1945, Pustaka Utama, Grafiti, 1994 Mashudi dan Kuntana Magnar (Penyunting), Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi suatu Negara, Mandar Maju, Bandung, 1995 Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia, Pustaka Utama, Jakarta, 1998 Mohammad Tolchah Mansur, Pembahasan Beberapa Aspek Tentang KekuasaanKekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, 1977 Muhammad Bakri, Hak Menguasai Tanah oleh Negara : Paradigma Baru untuk Reformasi Agraria, Citra Media, Jakarta, 2007 Parlin M. Mangunsong, Konvensi Ketatanegaraan sebagai Salah Satu Sarana Perubahan UUD, Alumni, Bandung, 1992 Pertampilan S. Brahmana. Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia : Pelaksanaan antara Hak dan Kewajiban tidak Seiring Sejalan. Website of Koalisi NGO HAM Aceh. 2010. Ramli Zein, Hak Pengelolaan dalam Sistem UUPA, Rineka Cipta, Jakarta, 1994 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cet. Kedua, Rajawali,

Jakarta, 1986 Sri Soedewi Masjoen Sofwan, Hukum Benda, Liberty, Yogyakarta, 1981 Sri Soemantri M., Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Alumni, Bandung, 1992 ________., UUD 1945 Kedudukan dan Aspek-aspek Perubahannya, Unpad Press, Bandung, 2002 Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung, 1983 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, 1994 Supriadi, Hukum Agraria, Sinar Grafika, Jakarta, 2009 Y. Wartaya Winangun, SJ, Tanah Sumber Nilai Hidup, Kanisius, Yogyakarta, 2004

TEORI KONSTITUSI ; CORL SCHMID Kontitusi atau Hundang-undang merupakan keputusan politik yang Tertinggi STUFFEN THEORY HANKELSEN Teori jenjang atau teori keadilan

Hak pengelolaan : Hak atas tanah yang dikuasai oleh negara dan hanya dapat diberikan kepada badan hukum atau pemerintah daerah, baik digunakan untuk usaha sendiri maupun kepentingan pihak ketiga. Hak Pengelolaan dam Pasal 3 PMA 5 tahun 1974, berisi wewenang : Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanag yang bersangkutan. Menggunakan tanag tersebut untuk keperluan pelaksanaan usahanya. Menyerahkan bagian bagian tanah tersebut kepada pihak ketiga menurut persyaratan yang ditentukan oleh perusahan pemagang hak tersebut

Bagir Manan, Beberapa Catatan atas Rancangan Undang-Undang tentang Minyak dan Gas Bumi, Makalah Diskusi Panel RUU Minyak dan Gas Bumi, Kajian Sosio Budaya, Ekonomi, Lingkungan dan Hukum Pertambangan dan Gas Bumi di Indonesia Menghadapi Era Globalisasi, Fakultas Hukum UNPAD, Maret 1999. hlm.1. Y. Wartaya Winangun, SJ, Tanah Sumber Nilai Hidup, Kanisius, Yogyakarta, 2004, hlm. 21 Idham, Konsolidasi Tanah Perkotaan dalam Perspektif Otonomi Daerah, Alumni, 2004, hlm. 1 Lihat Adrian Sutedi, Implementasi Prinsip Kepentingan umum : Dalam Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm. 75 Konvensi atau convention ini menurut Mohammad Tolchah Mansur diartikan sebagai kelaziman-kelaziman yang timbul dalam praktek hidup. Mohammad Tolchah

Mansur, Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, 1977, , hlm. 150 Sri Soemantri M., UUD 1945 Kedudukan dan Aspek-aspek Perubahannya, Unpad Press, Bandung, 2002, hlm. 6 Sri Soemantri M., Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Alumni, Bandung, 1992, hlm. 71 Sri Soemantri M., UUD 1945 op. Cit., hlm. 1 J.C.T. Simorangkir, Hukum dan Konstitusi, Gunung Agung, Jakarta, 1983, hlm. 8-9 Demikian pentingnya fungsi konstitusi dalam suatu negara ini hingga Simorangkir mengemukakan, berdasarkan paham konstitusionalisme, bagi suatu negara adalah lebih baik memiliki sesuatu konstitusi yang menguasai negara daripada negara dikuasai oleh seorang despot tanpa konstitusi. J.C.T. Simorangkir, Penetapan UndangUndang Dasar dari Segi Ilmu Hukum Tata Negara Indonesia, Gunung Agung, Jakarta, 1984, hlm.80 Ismail Saleh, Demokrasi, Konstitusi, dan Hukum, Departemen Kehakiman RI, Jakarta, 1988, hlm. 18 Supremasi konstitusi berarti bahwa konstitusi mempunyai kedudukan tertinggi dalam tertib hukum suatu negara. Parlin M. Mangunsong, Konvensi Ketatanegaraan sebagai Salah Satu Sarana Perubahan UUD, Alumni, Bandung, 1992, hlm. 22 Dahlan Thaib, Dkk., Teori Hukum dan Konstitusi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999, hlm. 47. Lihat Juga, Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia, Pustaka Utama, Jakarta, 1998, hlm. 105-106 Mashudi dan Kuntana Magnar (Penyunting), Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi suatu Negara, Mandar Maju, Bandung, hlm. 23 Marsillam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik Sumber, Unsur, dan Riwayatnya dalam Persiapan UUD 1945, Pustaka Utama, Grafiti, 1994, hlm. 29-30 Lihat, Kusumadi Pudjosewojo dalam Abu Daud Busro dan Abubakar Busro, Asas-Asas Hukumtatanegara, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983, hlm. 50. Ismail Suny, Pembagian Kekuasaan Negara, Aksara Baru, Jakarta, 1978, hlm. 17

Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung, 1983, hlm.33 Indroharto, Beberapa Pasal dari Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara Pejabat Sebagai Calon Tergugat Dalam Peradilan TUN, Buku kesatu, CV. Sri Rahayu, Jakarta, 1989, hlm.111 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah, Djambatan, Jakarta,1991, hlm.23 Ibid. hlm. 241 Muhammad Bakri, Hak Menguasai Tanah oleh Negara : Paradigma Baru untuk Reformasi Agraria, Citra Media, Jakarta, 2007, hlm. 4 Sri Soedewi Masjoen Sofwan, Hukum Benda, Liberty, Yogyakarta, 1981, hlm.42 Ibid., hlm. 43 Boedi Harsono, Op.cit. hlm. 27 Ramli Zein, Hak Pengelolaan dalam Sistem UUPA, Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hlm. 707 Ibid, hlm. 75-8 A.P. Parlindungan, Op.cit. hlm. 2 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cet. Kedua, Rajawali, Jakarta, 1986, hlrn.15 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, 1994, hlrn.19 yang menyatakan perUndang-Undangan dan yurisprudensi menjadi bahan hukum primer dalam penelitian hukum M. Daud Silalahi, Metodelogi Penelian Hukum, Lawencon Copy & Binding Centre, Bandung, 2001, hlm.2

PAGE PAGE znzcznzX Normal Normal Default Paragraph Font Default Paragraph Font Table Normal Table Normal No List No List Footnote Text Footnote Text Footnote Text Char Footnote Text Char Footnote Reference Footnote Reference Title Char Title Char Header Header Header Char Header Char Page Number Page Number List Paragraph List Paragraph Footer Footer

cl4Df6p Q2OS`*^ 3.2.1. 3.2.1. Unknown Times New Roman Times New Roman Symbol Symbol Calibri Calibri =PENGATURAN HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH DAERAH =PENGATURAN HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH DAERAH toshiba toshiba PENGATURAN HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH DAERAH toshiba Normal Microsoft Office Word LiteOS PENGATURAN HAK PENGELOLAAN ATAS TANAH DAERAH Root Entry 1Table 1Table WordDocument WordDocument SummaryInformation OLEH PEMERINTAH OLEH PEMERINTAH OLEH PEMERINTAH OLEH PEMERINTAH

SummaryInformation DocumentSummaryInformation DocumentSummaryInformation CompObj CompObj Microsoft Office Word Document MSWordDoc Word.Document.8