Anda di halaman 1dari 4

Upaya Meningkatkan Profesionalisme Perawat

Rabu, 21 Januari, 2004 oleh: Gsianturi

Upaya Meningkatkan Profesionalisme Perawat Gizi.net - Dari Simposium Keperawatan RS Husada Upaya Meningkatkan Profesionalisme Perawat Sebut satu saja pekerjaan yang sangat mulia, jawaban yang mungkin paling banyak muncul adalah perawat. Betapa tidak, merawat pasien yang sedang sakit adalah pekerjaan yang sangat sulit. Tak semua orang bisa memiliki kesabaran dalam melayani orang yang tengah menderita penyakit. Namun, perawat sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak saja membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-masalah kesehatan tentu harus juga bisa diandalkan. Demikian dikemukakan pakar Keperawatan Murni Suliantoro dalam simposium bertema Upaya Memajukan Profesionalisme dan Praktik Keperawatan yang berlangsung di Rumah Sakit Husada, pekan lalu. Untuk mewujudkan keperawatan sebagai profesi yang utuh, menurut Murni, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Setiap perawat harus mempunyai body of knowledge yang spesifik, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik keprofesian yang didasari motivasi altruistik, mempunyai standar kompetensi dan kode etik profesi. Para praktisi dipersiapkan melalui pendidikan khusus pada jenjang pendidikan tinggi. Simposium yang menampilkan para pakar di bidang keperawatan dan kesehatan ini membahas juga pelaksanaan keperawatan profesional terkini, isu etik dan spiritual dalam asuhan keperawatan, pemahaman profesionalisme dalam keperawatan dan pemeliharaan kualitas rekam medis dalam menunjang peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Kerangka Kerja International Council of Nurses (ICN) mengeluarkan kerangka kerja kompetensi bagi perawat yang mencakup tiga bidang, yaitu bidang Professional, Ethical and Legal Practice, bidang Care Provision and Management dan bidang Professional Development. Kerangka kerja ini menurut Murni kini menjadi acuan dalam menyusun standar kompetensi perawat di Indonesia. Budi Sampurna, Pakar Hukum Kesehatan dari Universitas di Indonesia, mengemukakan bahwa setiap profesi pada dasarnya memiliki tiga syarat utama, yaitu kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan yang ekstensif, komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat. Sikap yang terlihat pada profesionalisme adalah profesional yang bertanggung jawab dalam arti sikap dan pelaku yang akuntabel kepada masyarakat, baik masyarakat profesi maupun masyarakat luas. Beberapa ciri profesionalisme tersebut merupakan ciri profesi itu sendiri, seperti kompetensi dan kewenangan yang selalu sesuai dengan tempat dan waktu, sikap yang etis sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh profesinya dan khusus untuk profesi kesehatan ditambah dengan sikap altruis (rela berkorban). Kemampuan atau kompetensi, menurut Budi, diperoleh seorang profesional dari pendidikan atau pelatihannya, sedangkan kewenangan diperoleh dari penguasa atau pemegang otoritas di bidang tersebut melalui pemberian izin. Kewenangan itu, ungkap Budi, memang hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan. Namun, memiliki kemampuan tidak berarti memiliki kewenangan. Seperti juga kemampuan yang didapat secara berjenjang, kewenangan yang diberikan juga berjenjang. Dalam profesi kesehatan hanya kewenangan yang bersifat umum saja yang diatur oleh Departemen Kesehatan sebagai penguasa segala keprofesian di bidang kesehatan dan kedokteran. Sementara itu, kewenangan yang bersifat khusus dalam arti tindakan kedokteran atau kesehatan tertentu diserahkan kepada profesi masing-masing. Dijelaskan Budi, kompetensi dalam keperawatan berarti kemampuan khusus perawat dalam bidang tertentu yang memiliki tingkat minimal yang harus dilampaui. Kewenangan berkaitan dengan izin melaksanakan praktik profesi. Kewenangan memiliki dua aspek, yakni kewenangan material dan kewenangan formal. Kewenangan material diperoleh sejak seseorang memiliki kompetensi dan kemudian teregistrasi (registered nurse) yang disebut Surat Ijin Perawat atau SIP. Sedangkan kewenangan formal adalah izin yang memberikan kewenangan kepada penerimanya untuk melakukan praktik profesi perawat yaitu Surat Ijin Kerja (SIK) bila bekerja di dalam suatu institusi dan Surat Ijin Praktik Perawat (SIPP) bila bekerja secara perorangan atau berkelompok.

Murni mengatakan profesi keperawatan di Indonesia mempunyai peluang sekaligus tantangan dalam menunjukkan profesionalismenya. Cepat atau lamban pengakuan dan penghargaan terhadap profesi keperawatan tergantung pada kemampuan dan kemampuan setiap perawat dalam menghadapi masalah-masalah keperawatan baik dalam skala mikro maupun makro. Hal yang tidak kalah penting, kata Murni, adalah penyelenggaraan pendidikan yang bertanggung jawab. Dalam pengabdiannya, perawat dituntut bekerja secara profesional, memiliki sifat caring, bertanggung jawab dan bertanggung gugat. Setiap perawat harus berusaha selalu meningkatkan kemampuannya baik dari segi keterampilan di mana era globalisasi diharapkan kemampuan profesionalisme perawat dengan basis kompetensi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. (tom) Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/0116/kes2.html kompetensi dalam keperawatan berarti kemampuan khusus perawat dalam bidang tertentu yang memiliki tingkat minimal yang harus dilampaui.

di Jepang selama belum lulus pendidikan mereka tidak boleh menyentuh pasien dan hanya menjadi asisten juru rawat. setelah lima tahun belajar dan magang mereka baru diperbolehkan menyentuh pasien, karena pasien ini urusannya nyawa. Bahasa Jepang, Arab dan Inggris,

Penyelenggaraan Pendidikan a. Tes SPMB o Tes tidak terlambat o Standart kelulusan perlu ditingkatkan o Pertemuan dilaksanakan sebelum dimulainya tahun akademik baru b. Kurikulum o Evaluasi silabus yang ada dan penyesuaian dengan kurikulum o Kurikulum dilengkapi dengan GBPP o Kurikulum perlu dilengkapi dengan perangkat penunjang o Content 60% praktik + klinik dan 40% teori o Juknis Uji Tahap segera direalisasikan o Pengadaan alat bantu belajar mengajar (alat-alat laboratorium dan sarana lainnya (panthoom rusak) o Mata Kuliah Bahasa Inggris terapan menjadi mata kuliah wajib o Pengadaan buku-buku perpustakaan c. Lahan Praktik o Perlu memfasilitasi sesuai kebutuhan kompetensi yang harus dicapai mahasiswa o Perlu koordinasi dengan lahan praktik mengingat biaya dilahan praktik sangat memberatkan institusi d. Sarana dan Prasarana o Buku sumber yang sesuai dengan kurikulum o Sebaiknya dikembangkan kegiatan review/updating buku-buku dan bahan ajar lainnya c. Lulusan o Pemberdayaan lulusan, baik dalam maupun luar negeri o Info kebutuhan SDM untuk LN kualifikasi dan kompetensi yg dibutuhkan