Anda di halaman 1dari 15

Sistem Pemasaran Tomat di BALITSA (Balai Penelitian Tanaman Sayuran) Lembang, Bandung

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Keadaan lingkungan di Indonesia yang sangat baik untuk bercocok tanam, akan meguntungkan petani Indonesia untuk dapat menghasilkan produkproduk pertanian yang sangat dibutuhkan manusia untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk menyalurkan produk hasil pertanian agar sampai ke tangan konsumen maka dibutuhkan suatu kegiatan tata niaga, kegiatan yang dimaksud ialah kegiatan pemasaran. Kegiatan pemasaran adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengantarkan, atau mendistribusikan suatu produk agar nantinya dapat sampai ke tangan konsumen. Pemasaran memiliki arti yang sangat penting yaitu memberikan sumbangan pada perluasan dan pemuasan kebutuhan serta keinginan manusia. Pemasaran merupakan sarana untuk mengenal kebutuhan manusia yang tidak terpenuhi sehingga dengan adanya pemasaran kebutuhan manusia dapat diketahui dan akhirnya dapat terpenuhi. Dalam suatu kegiatan pemasaran pasti ada yang dinamakan biaya tata niaga. Dimana arti tata niaga merupakan salah satu aspek pemasaran yang menekankan bagaimana suatu produk dapat sampai ke tangan konsumen (distribusi). Tata niaga dapat dikatakan efektif apabila mampu menyampaikan hasil produksi ke tangan konsumen dengan hasil yang semurahmurahnya dan mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan tata niaga. Biaya tata niaga itu sendiri merupakan biaya yang dikeluarkan dalam proses pergerakan barang dari produsen sampai konsumen akhir. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) adalah suatu Lembaga Pemerintah yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan tanaman sayuran di Indonesia. Berbagai macam benih sayuran banyak dihasilkan oleh BALITSA, antara lain cabai, kentang, bawang merah, tomat, wortel, mentimun, kubis bunga, bayam, kangkung, kacang buncis, kacang panjang, dan caisim. BALITSA dalam kegiataanya, melakukan penelitian tanaman

sayuran, usaha agribisnis, menyiapkan kerjasama dalam penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian tanaman sayuran. Untuk tanaman yang bersifat musiman pada panen raya (keadaan pasar normal) harganya cukup rendah, hal ini dikarenakan produksi yang melimpah. Sedang saat kondisi paceklik harga hasil pertanian mengalami kenaikan. Hasil pertanian yang dibutuhkan relatif stabil setiap tahunnya sedang produksi yang bersifat musiman membuat harga sering berubahubah. Selain itu hasil pertanian biasanya tidak dapat disimpan lama / mudah busuk. Tomat merupakan tanaman semusim berbentuk perdu. Produk yang dimakan dari tanaman ini adalah buahnya. Buahnya digemari orang karena rasanya enak, segar, dan sedikit asam. Buah tomat dapat dipakai untuk bumbu masak. Setelah diolah dapat digunakan untuk juice, saus, dan tepung tomat atau puree (Sahat, 1989). Untuk itu perlu dikaji lebih dalam dalam memproduksi dan memasarkan tomat ke tingkat pengepul hingga ke konsumen. Sehingga produksi tomat bisa secara berkala dan tidak tersendat dan harga yang yang sampai ke konsumen bisa stabil.

1.2 Permasalahan Produk pertanian yang bersifat musiman, tidak tahan lama, dan banyak memakan tempat akan menimbulkan permasalahan dalam pemasarannya. Permasalahan yang akan dibahas dalam laporan ini antara lain : 1. Bagaimana proses pemasaran komoditi tomat di BALITSA? 2. Bagaimana rantai pemasaran komoditi tomat BALITSA?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui proses pemasaran komoditi tomat di BALITSA. 2. Mengetahui pola pemasaran komoditi tomat di BALITSA.

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Teoritis a. Pengertian Tanaman Sayuran Sayuran adalah bagian komoditas dari hortikultura yang bisa dikonsumsi langsung dalam keadaan matang maupun dalam keadaan segar, yang digunakan sebagai pelengkap makanan pokok, misalnya kol, selada, seledri dan lain-lain. Dengan demikian penanganan penanaman secara organik merupakan salah satu alternatif yang terbaik untuk menghindarkan akibat buruk penggunaan pestisida kimia pada hasil produksi sayuran jika dikonsumsi. Sayuran merupakan salah satu jenis tanaman hidroponik yang permintaannya dari masa ke masa tidak pernah surut. Sayuran khususnya memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh bahan makanan lainnya. Sayuran mengandung berbagai vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh kita dan yang tidak kalah penting adalah bahwa serat sayuran baik untuk pencernaan. Datangnya trend baru hidup sehat dengan metode diet terprogram, detoksifikasi dan pola hidup vegetarian maka produksi tanaman sayuran perlu ditingkatkan. Permintaan dunia terhadap sayuran yang bermutu tinggi juga kian meningkat. Ditambah standar residu pada tanaman yang mulai ditetapkan di beberapa negara pengimport sayuran, maka pola budidaya tanaman mulai merambah ke pola organic (Insantyo, 2008). Pembangunan Pertanian khususnya tanaman sayuran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pembangunan Nasional, yang dalam pelaksanaannya perlu adanya penyempurnaan atau reorientasi demi terwujudnya kemakmuran yang adil dan beradab, karena merupakan sektor yang keragaannya sangat mempengaruhi peri kehidupan penduduk Indonesia secara umum dan penduduk pedesaan secara khusus, maka reformasi di sektor pertanian harus dilakukan secara bertahap namun berkelanjutan, sehingga dampaknya tidak terjadi secara mendadak dan dalam skala

besar yang justru dapat semakin memperburuk krisis ekonomi saat ini (Litbang Pertanian, 2007).

b. Tanaman Tomat Tanaman tomat termasuk dalam Kingdom Plantae, Divisi Spermatophyta, Kelas Dicotyledoneae, Ordo Solanales, Famili Solanaceae, Genus Solanum, Spesies Lycopersicon esculentum. Tanaman tomat merupakan tanaman perdu semusim, berbatang lemah dan basah. Tomat ditanam sebagai tanaman buah di ladang, pekarangan, atau ditemukan liar pada ketinggian 11600 m dpl. Tanaman ini tidak tahan hujan, sinar matahari terik, serta menghendaki tanah yang gembur dan subur. Terna setahun ini tumbuh tegak atau bersandar pada tanaman lain, tinggi 0,52,5 m, bercabang banyak, berambut, dan berbau kuat. Batang bulat, menebal pada buku-bukunya, berambut kasar warnanya hijau keputihan. Daun majemuk menyirip, letak berseling, bentuknya bundar telur sampai memanjang, ujung runcing, pangkal membulat, helaian daun yang besar tepinya berlekuk, helaian yang lebih kecil tepinya bergerigi, panjang 1040 cm, warnanya hijau muda. Bunga majemuk, berkumpul dalam rangkaian berupa tandan, bertangkai, mahkota berbentuk bintang, warnanya kuning. Buahnya buah buni, berdaging, kulitnya tipis licin mengilap, beragam dalam bentuk maupun ukurannya, warnanya kuning atau merah. Bijinya banyak, pipih, warnanya kuning kecokelatan (Anonim, 2008). Tanaman tomat membutuhkan banyak sinar matahari untuk pertumbuhannya (8jam/hari) dan hujan yang cukup tinggi, yaitu 750-1250 mm/tahun. Tomat secara umum dapat ditanam di dataran rendah, medium, dan tinggi, tergantung varietasnya. Namun, kebanyakan varietas tomat hasilnya lebih memuaskan apabila ditanam di dataran tinggi yang sejuk dan kering sebab tomat tidak tahan panas terik dan hujan. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23C pada siang hari dan 17C pada malam hari (Tonucci et all, 1995). Saat ini telah ditemukan berbagai spesies tomat, yaitu tomat biasa (L. pimpinellifolium), tomat apel (L. commune), tomat kentang (L. grandifolium), tomat kriting (L. validum) dan tomat cherry (L. cerasiforme). Di Indonesia terdapat 4 varietas tomat unggul, yaitu:

Tomat intan: tanaman ini dapat tumbuh pada daratan rendah sampai tinggi. Tanaman ini tahan penyakit layu bakteri. Hasil 12,4 ton/hari.

Tomat ratna: tanaman ini dapat tumbuh pada daratan rendah sampai tinggi. Tanaman ini juga tahan penyakit layu bakteri. Hasilnya 12 ton/tahun.

Tomat berlian: tanaman ini dapat tumbuh baik pada daratan rendah. Tanaman ini juga tahan penyakit layu bakteri. Hasilnya 13 ton/tahun.

Tomat mutiara: tanaman ini dapat tumbuh pada daratan rendah sampai tinggi. Tanaman ini juga tahan penyakit layu bakteri. Hasilnya 14 ton/tahun.G (Esti dan Sarwedi, 2001). Tomat merupakan tanaman semusim berbentuk perdu. Produk yang dimakan dari

tanaman ini adalah buahnya. Buahnya digemari orang karena rasanya enak, segar, dan sedikit asam. Buah tomat dapat dipakai untuk bumbu masak. Setelah diolah dapat digunakan untuk juice, saus, dan tepung tomat atau puree (Sahat, 1989). Tomat, adalah tanaman yang paling mudah dijumpai. Selain kaya vitamin C dan A, tomat konon dapat mengobati bermacam penyakit. Kalau dirunut sejarahnya, tomat atau Lycopersicon esculentum pada mulanya ditemukan di sekitar Peru, Ekuador dan Bolivia. Di Prancis, tomat dinamakan apel cinta atau pomme damour. Dikatakan sebagai apel cinta, karena tomat diyakini mampu memulihkan lemah syahwat dan meningkatkan jumlah sperma serta menambah kegesitan gerakannya (Pracaya, 1998). Produksi tanaman tomat ditentukan faktor genetis dan lingkungan. Faktor genetis adalah genotip tomat itu sendiri. Pada saat ini banyak usaha untuk memperbaiki mutu buah tomat, khususnya tomat segar atau tomat meja, dari tipe indeterminate yang pada umunya mempunyai bentuk tanaman dengan percabangan yang rimbun. Selain bentuk percabangan yang rimbun, tipe indeterminate juga mempunyai kemampuan berbunga relatif lebih banyak daripada tipe determinate, baik dalam jumlah tandan bunga maupun jumlah bunga per tandan. Salah satu usaha untuk memperbaiki mutu buah adalah dengan jalan mencari jarak tanam dan pembatasan jumlah cabang dengan cara pemangkasan tunas cabang batang utama. Rata-rata jenis tomat tipe buah segar ini berproduksi baik, khususnya pada daerah tropis diatas ketinggian 100 m diatas permukaan laut (Sartono Putrasamedja dan Holil Sutapradja, 1994).

George (1985) mengatakan bahwa tomat tumbuh secara normal pada suhu 10250C pada temperatur kurang dari 100C akan terjadi kehilangan produksi yang asangat nyata, tetapi juga akan tahan pada temperatur 250C. Temperatur diatas 250C akan terjadi pertumbuhan vegetatif lebih dominan daripada proses pembuahan. Suhu 10250C di daerah tropis pada umumnya didapat ketinggian diatas 500 m dpl. Tomat merupakan komoditas sayuran yang penting di dunia termasuk di Indonesia. Sayuran ini dapat ditanam di daerah kering ataupun dingin. Produksi tomat pada keadaan iklim panas dan keadaan udara basah terutama di daerah tropika sering terganggu oleh hama atau penyakit. Berbagai jenis penyakit pada tanaman tomat yang sering ditemukan selama tanaman di lapang adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, cendawan, virus, dan nematoda. Adapun penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau cendawan dapat menimbulkan gejala seperti layu dan bercak daun atau bercak buah, sedangkan tanaman yang terserang virus akan menimbulkan gejala tanaman menjadi kerdil, daun keriting atau tidak normal dan tampak merana (Gunawan et all, 1997).

c. Sistem Pemasaran Pemasaran pada prinsipnya adalah aliran barang dari produsen ke konsumen. Aliran barang ini dapat terjadi karena adanya peranan lembaga pemasaran. Peranan lembaga pemasaran ini sangat tergantung dari sistem pasar yang berlaku dan karakteristik aliran barang yang dipasarkan. Oleh karena itu,dikenal istilah saluran pemasaran. Fungsi saluran pemasaran ini sangat penting, khususnya dalam tingkat harga di masing-masing lembaga pemasaran (Soekartawi, 2001 ). Secara umum biaya merupakan pengorbanan yang dikeluarkan oleh produsen dalam mengelola usaha taninya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Biaya merupakan pengorbanan yang diukur untuk suatu alat tukar berupa uang yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu dalam usahataninya. Biaya pemasaran merupakan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan atau aktivitas usaha pemasaran komoditas pertanian. Biaya pemasaran komoditas pertanian meliputi biaya transportasi atau biaya angkut, biaya pungutan retribusi, biaya penyusutan dan lain-lain. Besarnya biaya pemasaran berbeda satu sama lain. Hal ini disebabkan lokasi pemasaran, lembaga pemasaran (

pedagang pengumpul, pedagang besar, pengecer, dan sebagainya) dan efektivitas pemasaran yang dilakukan serta macam komoditas(Rahim, 2007). Lembaga pemasaran adalah orang atau badan usaha atau lembaga yang secara langsung terlibat dalam mengalirkan barang dari produsen ke konsumen. Lembagalembaga pemasaran ini dapat berupa tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer. Lembaga-lembaga dapat didefinisikan sebagai berikut : y Tengkulak, yaitu lembaga pemsaran yang secara langsung berhubungan dengan petani, tengkulak melakukan transaksi dengan petani baik secara tunai, ijon mapun dengan kontrak pembelian.Pedagang pengumpul, yaitu membeli komoditi pertanian dari tengkulak biasanya relatif kecil. Pedagang besar, yaitu melakukan proses kosentrasi (pengumpulan) komoditi dari pedagang pengumpul, juga melakuakn proses distribusi ke agen penjualan ataupun pengecer. Pedagang pengecer merupakan lembaga pemasaran yang berhadapan langsung dengan konsumen. (Sudiyono, 2002). Saluran pemasaran yang ada, perbedaan biaya aktivitas-aktivitas pemasaran yang dilakukan para lembaga pemasaran maupun tingkat keuntungannya, panjang pendeknya saluran pemasaran akan mengakibatkan perbedaan besarnya marjin tiap-tiap saluran pemasaran. Dengan demikian, baik aktivitas maupun harga akan berbeda sesuai dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dan situasi pasar yang akan mempengaruhi keuntungan yang diperoleh masing-masing lembaga pemasaran yang turut dalam pemasaran tersebut. Keadaan ini menyebabkan distribusi marjin masing-masing saluran pemasaran berbeda (Setyowati, 2004). Sebelum pengusaha memulai usaha budidaya tanaman sayuran, maka sebaiknya ia berfikir dan berorientasi pada pasar. Sasaran pasar sangat berkaitan erat dengan pemilihan jenis sayuran yang akan diusahakan. Pengusaha harus melihat siapa konsumen yang berminat dengan permintaan potensial, bagaimana tingkah laku konsumen, keadaan social konsumen dan daya belinya (Rahardi et all, 2000). Saluran distribusi/ pemasaran adalah rute dan status kepemilikan yang ditempuh oleh suatu produk ketika produk ini mengalir dari penyedia bahan mentah melalui produsen sampai ke konsumen akhir. Saluran ini terdiri dari semua lembaga atau pedagang perantara yang memasarkan produk atau barang/ jasa dari produsen sampai ke konsumen. Di sepanjang saluran distribusi terjadi beragam pertukaran produk,

pembayaran, kepemilikan dan informasi. Saluran distribusi diperlukan karena produsen menghasilkan produk dengan memberikan kegunaan bentuk (form utility) bagi konsumen setelah sampai ke tangannya, sedangkan lembaga penyalur membentuk atau memberikan kegunaan waktu, tempat dan pemilikan dari produk itu (Dillon, 2007).

Hasil Kajian a. Pemasaran Tomat Penjualan hasil produksi tomat oleh petani di BALITSA yang sering dilakukan secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1) Kiloan Penjualan secara kiloan umumnya dilakukan apabila panen telah selesai. Penentuan harga jual dilakukan berdasarkan harga kiloan yang berlaku. Pada umumnya penentuan harga ditentukan di lokasi panen antara petani dan bandar. Hal yang mempengaruhi harga adalah permintaan pasar dan jumlah tomat dipasaran. Pembayaran sesuai dengan produksi yag dihasilkan pada saat panen. 2) Tebasan Tebasan merupakan cara penjulan yang dilakukan berdasarkan taksiran hasil produksi. Umumnya penjualan secara tebasan dilakukan saat akan dipanen, sedangkan pemeliharaan selanjutnya menjadi tanggung jawab pembeli. Sistem tebasan biasanya baru dilakukan oleh petani apabila harga cukup bagus (Nurtika dkk., 1992a,b). Pada sistem tebasan, petani dan bandar melakukan tawar menawar dalam menentukan harga. Hal ini dilakukan karena jumlah hasil panen tomat belum dapat dipastikan. Biasanya harga sudah menjadi resiko bandar karena setelah terjadi kesekatan harga bandar yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan tanaman tomat.

b. Grading Terhadap buah-buah tomat tersebut kemudian dilakukan grading sesuai dengan warna dan ukurannya untuk tujuan pasar tertentu atau untuk pemilahan konsumen yang berbeda. Grading menurut warna lebih bertujuan untuk lama pendistribusian tomat ke konsumen. Semakin hijau buah tomat maka semakin jauh jarak transportasi

yang dapat ditempuh. Sedangkan grading ukuran lebih berdasarkan permintaan pasar. Pasar swalayan biasanya lebih meminta keseragaman ukuran daripada pasar tradisional. Tomat dengan ukuran yang sama akan di packing dalam satu kemasan. Berdasarkan ukuran dan bentuk fisiknya,tomat dibedakan atas : y Kelas 1, tomat ini berukuran kecil yaitu 3-4 cm, contoh dari tomat ini adalah tomat cherry, bentuknya relatif bulat dan berwarna kehijauan. y Kelas 2, tomat ini berukuran 4-5 cm, tomat ini biasanya tumbuh didataran rendah, bentuknya relatif lonjong dan berwarna merah muda, contohnya dari jenis inia adalah tomat manis. y Kelas 3, tomat ini berukuran 5-6 cm, tomat ini biasanya sering dibudidayakan oleh penduduk indonesia,dan berwarna merah tua ketika masak y Kelas 4, kelas ini juga disebut kelas ekstra, dimana ukurannya diatas 6 cm, kebanyakan jenis ini berasal dari Thailand yang dikembangkan dengan cara hidroponik

c. Jenis Pasar Tomat Pasar dapat diartikan sebagai tempat terjadinya transaksi antar penjual dan pembeli. Pasar tidak harus berwujud bangunan fisik tapi cukup terdapat penjual dan pembeli yang melakukan transaksi. Pada umumnya, jenis pasar tomat yang ada dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: y Pasar Pengumpul Berbeda dengan pasar pengumpul bawang merah ataupun cabai yang mempunyai bentuk bangunan fisik seperti pasar bawang merah di Klampok dan pasar cabai di Sengon (Brebes), pasar pengumpul tomat di beberapa sentra produksi tomat seperti Lembang atau Pengalengan belom mempunyai bangunan fisik sebagai tempat transaksi. Para pembeli dipasar pengumpul tomat pada umumnya adalah pedagang pengumpul. Dalam melakukan pembelian, biasanya pedagang pengumpul langsung membeli hasil produksi tomat dari petani (dilokasi panen). Pedagang pengumpul menggunakan alat pengangkut berupa truk yang digunakan untuk mengangkut tomat dari daerah produksi ke daerah konsumsi. y Pasar Grosir/ Pasar Besar

Para pedagang di pasar grosir terdiri atas pedagang-pedagang grosir, sedangkan para pembeli umumnya adalah para pedagang pengecer. Pasar grosir biasanya berkedudukan di berbagai daerah konsumsi di kota-kota besar. Di daerah Bandung sendiri terdapat Pasar Induk Caringin yang termasuk sebagi pasar besar. y Pasar Pengecer Pasar pengecer banyak terdapat di berbagai daerah konsumsi, baik di kota beasr maupun di kota kecil. Para pedagang pengecer di daerah Bandung dan sekitarnya dalam memenuhi permintaan konsumen akan komoditas tomat, biasanya mengambil dari Pasar Induk Caringin.

d. Lembaga Pemasaran Tomat Secara keseluruhan, dalam proses pemasaran tomat terdapat beberapa jenis lembaga pemasaran yang terlibat yaitu : y Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul merupakan pedagang yang berada di daerah produsen. Untuk mendapatkan tomat, jenis pedagang ini langsung melakukan pembelian pada petani produsen. Kapasitas pembelian yang dilakukan oleh pedagang pengumpul umumnya sangat tergantung pada jumlah hasil panenan petani. Selainn menjual barangnya kepada pedagang grosir, pedagang ini juga memenuhi permintaan konsumen lembaga. y Pedagang Grosir/Pedagang Besar Pedagang grosir umumnya beroperasi di pasar induk di daerah konsumsi, terutama di kota-kota besar. Dalam mendapatkan barang, biasanya pedagang grosir sudah banyak mempunyai langganan yang secara rutin memasok kebutuhannya, yaitu dari para pedagang pengumpul. Pembeli yang banyak mendatangi pedagang grosir adalah para pedagang grosir pembantu, pedagang pengecer dan konsumen lembaga. y Pedagang Grosir pembantu Tempat kegiatan para pedagang grosir pembantu sama dengan temapat kegiatan pedagang grosir, yaitu di pasar induk. Pedagang grosir pembantu sering dikenal dengan istilah Centeng. Pembelian yang sering dilakukan oleh para centeng dari pedagang

grosir tidak begitu besar untuk kemudian dijual kembali kepada para pedagang pengecer atau langsung ke konsumen rumah tangga.

Pedagang pengecer Untuk mendapatkan barang, pedagang pengecer biasanya langsung melakukan pembelian dari pedagang grosir atau membeli dari pedagang grosir pembantu. Sasaran pembeli yang dituju oleh pedagang pengecer adalah konsumen rumah tangga.

e. Rantai Tataniaga Tomat Sebagian besar hasil produksi tomat petani masih ditujukan untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Secara umum rantai tataniaga tomat yang ada adalah sebagai berikut (Nurtika dkk., 1992a,b) : o Petani Produsen Pedagang Pengumpul Konsumen Lembaga o Petani Produsen Pedagang Pengumpul Pedagang Grosir Konsumen Lembaga o Petani Produsen Pedagang Pengumpul Pedagang Grosir Pedagang Pengecer Konsumen Rumah Tangga o Petani Produsen Pedagang Pengumpul Pedagang Grosir Pedagang Grosir Pembantu - Pedagang Pengecer Konsumen Rumah Tangga o Petani Produsen Pedagang Pengumpul Pedagang Grosir Pedagang Grosir Pembantu Konsumen Rumah Tangga

Panjang pendeknya rantai pemasaran tomat, sangat berpengaruh terhadap harga di tingkat konsumen. Karena tiap lembaga pemasaran akan mengambil keuntingan dari tomat yang dijualnya, sehingga semakin panjang rantai pemasarannya maka harga tomat juga akan melambung. Untuk itu harus ada kebijakan untuk menjaga harga tomat ditingkat konsumen tetap stabil.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN


2 1 Kesimpulan Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Komoditi tomat dalam pemasarannya dimulai dari panen oleh produsen, kemudian dilakukan grading untuk dapat dipisahkan berdasarkan kualitas tomat tersebut. Kemudian dipasarkan kepada tengkulak ataupun langsung ke konsumen. Rantai distribusi yang ada di Balitsa terdapat beberapa lembaga pemasaran antara lain pedagang pengumpul, pedagang grosir, pedagang grosir pembantu. Dan diakhiri oleh konsumen. Panjang pendeknya rantai distribusi berpengaruh terhadap harga ditingkat konsumen.

Saran : Saran yang dapat praktikan berikan yaitu : Sebaiknya tomat dilakukan pengepakan yang baik, sehingga nilaijualnya bisa terangkat. dan bisa meningkatkan pendapatan petani. Adanya peran pemerintah daerah dalam penentuan harga yang stabil, sehingga pihak produsen/petani tidak dirugikan ketika terjadi panen raya. Sebaiknya rantai distribusi tomat tidak terlalu panjang, karena dapat meningkatkan harga tomat di tingkat konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Tanaman Tomat. http://www.anekaplanta.wordpress.com. Diakses tanggal 20 Mei 2011.

Dillon,

2007,

Manajemen

Distribusi

Produk-Produk

Agroindustri,

http://www.members.tripod.com, Diakses tanggal 20 Mei 2011.

Esti dan Sarwedi. 2001. Sayur dan Buah. http://www.ristek.go.id. Diakses tanggal 20 Mei 2011.

Gunawan, Setiani et all. 1997. Teknologi Produksi Tomat. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.

Insantyo. 2008. Budidaya Tanaman Sayuran daun. http://one.indoskripsi.com/. Diakses tanggal 20 Mei 2011.

Litbang

Pertanian.

2007.

Prospek

dan

Arah

Pengembangan

Agribisnis.

http://www.litbang.deptan.go.id. Diakses tanggal 20 Mei 2011.

Rahardi. R. et all. 2000. Agribisnis Tanaman Sayuran. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rahim, A. 2007. Ekonomika Pertanian (Pengantar, Teori dan Kasus). Penebar Swadaya. Jakarta.

Sahat, Sujoko. 1989. Bercocok Tanaman Sayuran Dataran Rendah. Balai Penelitian Tanaman Hortikultura Proyek ATA 395. Bandung.

Setyowati. 2004. Analisis Pemasaran Jambu Mete Di Kabupaten Wonogiri. Jurnal Sosek Panen Dan Agrobisnis. Vol. 1. No 1. September 2004. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Surakarta.

Soekartawi. 2001. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Putrasamedja, Sartono dan Holil Sutapradja. 1994. Pengaruh jarak tanam dan pemangkasan cabang terhadap produksi tomat (Lycopersicum esculentum) kultivar Hybrid FMT-22. Buletin Penelitian Hortikultura. Vol.27(1):35-40.

Tonucci, L., M.J. Holden, G.R. Beecher, F. Khacik, C.S. Davis, and G. Mulokozi, 1995. Carotenoid Content of Thermally Processed Tomato Based Food Product. J. Agric, Food Chem., (43):579-586.