NAMA KELAS

: ERVINA INDRIAWATI : XI Apk

NO. ABSEN : 15 KONFLIK POSO, JALAN TAK BERUJUNG Konflik berujung kekerasan di Poso, Sulawesi Tengah tidak begitu saja terjadi. Banyak persoalan yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah masalah politik setempat yang kemudian menyeret empati komunal dan melahirkan kekerasan baru. Aparat keamanan juga dianggap memberi sumbangan bagi belum berujung konflik di kota tua di Sulawesi Tengah ini. Darr«Derr«Dorr«Salakan senjata memecah malam pada Minggu (22/10/2006) di Jalan Pulau Irian Jaya, Kelurahan Gebang Rejo, Poso, Sulawesi Tengah. Sebuah Pos Polisi Masyarakat ditembak orang tak dikenal. Sebanyak 14 anggota Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah dan dua orang anggota Polmas Kepolisian Resor Poso terjebak di antara desingan peluru. Tak lama kemudian ratusan warga setempat mendatangi dan melempari pos itu. Situasi menjadi kacau balau di antara desingan peluru dan hantaman batu. Belasan Polisi itu pun terpaksa mesti meminta bantuan melalui pesawat handy talky. Lalu sekitar 1 Satuan Setingkat Kompi Brimob Bawah Kendali Operasi Polres Poso dari Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pun didatangkan. Mereka datang mengendarai baracuda, kendaraan lapis baja modifikasi milik Polri. Evakuasi pun dilakukan. Sejumlah anggota Polisi pun mengeluarkan tembakan beruntun. Akibatnya, Syaifuddin alias Udin tewas diterjang peluru anggota Brimob, sementara Muhammad Rizky dan Maslan terluka parah diterjang timah panas pasukan elit Polri itu. Suasana pun makin memanas hingga dinihari. Beruntung sahur memutus amarah warga. Besok harus melaksanakan ibadah puasa lagi. Esoknya, ketika mengantar jenazah Udin, sejumlah Brimob lepas kendali menembaki pengiring jenazah di Jalan Pulau Seram. Seorang bocah bernama Galih Pamungkas (3,5) terkena peluru nyasar. Saat itu bocah Galih berada di dalam rumahnya. Selama tiga hari, Poso dalam keadaan tegang dan kemudian mereda kembali setelah perayaan hari raya Idul Fitri pada Selasa (24/10/2006. Sesungguhnya, benang konflik Poso dimulai sejak 1998. Saat itu, kursi Bupati Poso yang ditinggalkan Arif Patanga lama tak terisi. HB Paliudju, Gubernur Sulteng kala itu, menunjuk Haryono untuk menjadi penjabat bupati. Namun keputusan ini menimbulkan tarik menarik figur pengganti Arif.

Kerugian materil itu juga ditambah dengan 239 kendaraan bermotor yang terbakar. daerah pemekaran Poso. Sedangkan rumah ibadah yang terbakar tercatat masjid 27 buah. Sulawesi Selatan menjadi momentum sejarah teramat penting bagi pulihnya keamanan di Poso. Kekerasan terus membayangi Sulawesi Tengah sepanjang 1998 ± 2006 ini. tidak ada tempat aman di wilayah ini. Saat itu. gereja 55 buah dan pura 1 buah.932 buah rumah penduduk terbakar. sesepuh Muhammadiyah Poso. Kini dia menjadi Bupati Morowali. Sebanyak 44 tokoh Islam dan Kristen termasuk Sofyan Faried Lembah dari Front Solidaritas Islam Revolusioner dan Pendeta Rinaldy Damanik dari Gereja Kristen Sulawesi Tengah pun berjabatantangan. 7. Kota Poso memanas.Masalah muncul lagi. Konflik baru sedikit mereda setelah Muhammad Jusuf Kalla yang ketika itu masih sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah Pemerintahan Gus Dur menggelar Pertemuan Malino untuk Poso. Sayang." kata Datlin Tamalagi. tak kurang 577 orang tewas terbunuh dalam pertikaian bernuansa suku. bahkan makin mengkhawatirkan ketika Pendeta Irianto Kongkoli.736 hektare itu pun porakporanda. hanya lantaran kesalahpahaman yang terjadi antara Roy Runtu Bisalembah yang kebetulan beragama Kristen dan Ahmad Ridwan yang anggota remaja Islam Masjid Darussalam Poso. Tanggal 19-20 Desember 2001 di Malino. ras dan antargolongan itu. Sebagian masyarakat Kristen menginginkan Nus Pasoreh. . "Pembagian kekuasaan yang tidak adil menjadi penyebab semua itu. 1. Salah satu aksi kekerasan terbesar adalah ketika 22 orang tewas akibat peledakan bom di Pasar Tentena pada Sabtu. Tiga orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. Poso menjadi ladang api dan darah sepanjang Mei ± Juli 2000. tokoh masyarakat Poso. ekonomi dan politik kabupaten penghasil kayu Ebony seluas 1. banyak aksi-aksi kekerasan yang menciderai. Dalam catatan Pemerintah Kabupaten Poso kala itu. Salah satunya adalah peledakan bom di Pasar Hewan Khusus di Palu pada 31 Desember 2005. Senin (16/10/2006). Makassar dan Manado. Tapi api terlanjur dipantik. Tewasnya dua orang warga akibat tertembak oleh anggota Brimob makin membesarkan nyala api. Lalu hampir 27 ribu pengungsi menyelamatkan diri ke Palu. Perang batu terjadi antara warga Kristen dan Islam. Sementara masyarakat Islam menginginkan Awad Alamri. Tentu saja banyak yang marah dan meradang. ketika jabatan sekretaris kabupaten lowong. Lalu tahun 2000. 25 Mei 2004.443. Tokoh-tokoh semacam Yahya Mangun. Sekretaris Majelis Sinode GKST tewas ditembak orang tak dikenal.378 rusak berat dan 690 buah rusak ringan. Diikuti kemudian oleh sejumlah aksi kekerasan dalam skala yang lebih kecil. sepasukan warga menyerang permukiman Islam sepanjang Poso Pesisir. agama. April 1999. Arif Patanga dan Yahya Pattiro mencuat namanya karena berusaha mendamaikan massa. Kondisi sosial. massa Muslim yang marah karena provokasi seorang pemuda membakar permukiman Kristen di Lombogia. Lalu kerugian materil meliputi.

TerorismeMinggu (29/10/2006). Mereka menyebar di kecamatan-kecamatan pesisir yang juga merupakan kecamatan yang didominasi umat Islam. sebelum konflik di dalam wilayah Kecamatan Poso Kota. Populasi masyarakat Muslim di Poso juga ditambah dengan kedatangan migran Bugis. dan Lawanga. penggiat di KONTRAS menilai. Palu. Makassar dan Gorontalo yang merupakan penganut Islam. dan Menui Kepulauan (Kabupaten Morowali). Sebelumnya. masing-masing 1 kursi. Ketua DPRD Poso periode 2004-2004 kini adalah Sawerigading Pelima yang naik dengan bendera PDS. penduduk beragama Islam mayoritas menghuni kelurahan Kayamanya. Makanya ketika Kalla mengeluarkan statemen seperti itu. dan Kawua. Sebab menurutnya pesantrennya hanya mengajarkan kurikulum yang berbasis pada kurikulum pendidikan agama dari Departemen Agama Republik Indonesia. Dalam catatan Biro Pusat Statistik Sulteng.*** . kedamaian Poso terletak pada kesadaran para elit. pernyataan Kalla agar Polisi menangkap teroris di Poso memantik kecaman. PDIP dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dengan 2 kursi. Sebaliknya. Konflik terjadi jika para politisi membawa-bawa sentimen agama dalam aksi-aksi politik mereka. Segregasi juga terlihat di wilayah kecamatan di mana penduduk beragama Islam dan Kristen berimbang. Tojo. Walea Kepulauan. penganut Kristen mayoritas berada di Kelurahan Kasintuvu. Bungku Tengah. Partai Damai Sejahtera memiliki 6 kursi disusul oleh Partai Golkar 5 kursi. Islam menjadi agama mayoritas di kecamatan-kecamatan pesisir. Ada yang menarik menjadi catatan jika membicarakan proses suksesi politik di Poso. Bungku Utara. mata semua orang pun menohok Adnan yang jauh-jauh hari sudah mengeluarkan bantahan dirinya terlibat dalam aksi-aksi kekerasan itu. Syamsu Alam Agus. Una-una. Lore Utara. Sebab lagi-lagi Kalla melihat kelompok tertentu di Poso terlibat dalam aksi kekerasan itu. Disusul PAN. Lombogia. Pamona Selatan. Lore Tengah. Tentu saja Adnan berang dituding seperti itu. Bungku Barat. PKS dan Partai Pelopor. PPP. Pamona Tengah. Partai Demokrat. Kristen menjadi agama mayoritas di kecamatankecamatan dataran tinggi. maka segregasi populasi berdasar agama penting disimak. dan Ulubongka (Kabupaten Poso) dan Kecamatan Bungku Selatan. Jika sentimen agama mencuat. Misalnya.Sebab Politik Bagaimana soal politik? Sebagai catatan. Banyak hal yang dibicarakan. Ada beberapa hal penting bisa menjadi catatan. Sebaliknya. Sulawesi Tengah. Wakil Presiden Yusuf Kalla bertemu dengan sejumlah tokoh Islam dan Kristen di Gubernuran Siranindi. Selanjutnya Partai Patriot 4 kursi. Ampana Tete. di DPRD Poso saat ini. seperti Kecamatan Pamona Utara. Bonesompe. migran penganut Kristen asal Minahasa dan Toraja cenderung memilih kecamatankecamatan di dataran tinggi yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. dan Lore Selatan (Kabupaten Poso) dan Kecamatan Mori Atas dan Lembo (Kabupaten Morowali). Soalnya Kalla pernah menuduh Ustadz Adnan Arsal. Sebaliknya. seperti Kecamatan Ampana Kota. pimpinan Pondok Pesantren Amanah Poso mengetahui siapa pelaku mutilasi tiga siswi SMU Kristen GKST Poso pada 29 November 2005.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful