Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Wilayah kedaulatan dan yuridiksi Indonesia membentang luas di cakrawala kathulistiwa dari 950 sampai 1410 bujur timur dan 60 lintang Utara sampai 110 lintang selatan, dan merupakan negara kepulauan dengan 70% dari wilayahnya berupa perairan. Indonesia memiliki 17.058 pulau dengan garis pantai 81.000 km terpanjang kedua didunia dan luas laut 5,8 juta km2. Wilayah laut Indonesia mencakup 12 mil laut ke arah luar garis pantai, selain itu Indonesia memiliki wilayah yuridiksi nasional yang meliputi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sejauh 200 mil dan landas kontinen sampai sejauh 350 mil dari garis pantai. Dengan ditetapkannya konvensi PBB tentang hukum laut Internasional 1982, wilayah laut yang dapat dimanfaatkan diperkirakan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari 3,1 juta km2 perairan laut teritorial Indonesia dan sisanya sekitar 2,7 juta km2 perairan ZEE. Potensi produksi perikanan Indonesia mencapai 65 juta ton per tahun. Dari potensi tersebut hingga saat ini dimanfaatkan sebesar 9 juta ton. Namun, potensi tersebut sebagian besar berada di perikanan budidaya yang mencapai 57,7 juta ton per tahun dan baru dimanfaatkan 2,08%. Sedangkan potensi perikanan tangkap (laut dan perairan umum) hanya sebesar 7,3 juta ton per tahun dan telah dimanfaatkan sebesar 65,75%. Produk perikanan merupakan salah satu andalan Indonesia dalam perolehan devisa negara. Posisi nilai ekspor produk perikanan Indonesia di pasar dunia pada
1

tahun 2006 menduduki peringkat 10 dengan pasar ekspor utama Indonesia adalah Amerika, Uni Eropa dan Jepang. Pertumbuhan ekspor produk perikanan Indonesia selama 5 (lima) tahun terakhir (2003 2007) menunjukkan tren naik, yaitu mencapai rata-rata sebesar 8,28 %. Dengan besarnya potensi kelautan tersebut, sudah selayaknya pembangunan sektor kelautan dan perikanan didorong perkembangannya agar dapat mendukung pembangunan secara nasional, khususnya dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi
Dibalik semua hal yang tadi telah dibahas, terdapat fakta menyedihkan bahwa dalam menjaga kesegaran dan kebersihan ikan, masihbanyak nelayan yang menggunakan zat berbahaya seperti formalin sebagai pengawet ikan. Fakta ini menunjukkan masih buruknya proses penanganan ikan pasca penangkapan. Masih banyaknya penggunaanzat-zat berbahaya untuk menjaga kesegaran ikan dapat mengancam industri perikanan Indonesia. Salah satu metode untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan para nelayan adalah dengan menggunakan pendingin berupa es. Produksi es nasional yang berjumlah 2,9 juta ton pertahun, dan hanya 30 % yang digunakan untuk pengawetan ikan. Namun demikian jumlah produksi es nasional yang tidak sebanding dengan jumlah hasil tangkapan ikan dikarenakan kurangnya jumlah industri atau pabrik penghasil es, khususnya di daerah-daerah terpencil.

Ketersediaan es balok sebagai sarana pengawet hasil tangkapan nelayan masih sulit didapatkan bagi masyarakat nelayan yang tinggal di daerah lampulo semenjak terjadinya tsunami pada 26 Desember 2004 yang lau, ketika beberapa tahun kemudian perekonomian sudah mulai lancar dan pabrik es balok lampulo dibangun kembali sehingga bisa beroperasi seperti biasanya dengan adanya bantuan dari jepang, maka para nelayan dan masyarakat setempat dengan mudah
2

mendapatkan es balok guna untuk melancarkan pendinginan ikan bagi para nelayan, dimana ikan adalah sebagai mata pencaharian mereka. Pabrik es ini berada dibawah Perum Prasarana Perikanan Samudra Lampulo Banda Aceh. Membangun pabrik es dengan kapasitas besar di daerah lampulo Banda aceh tentunya tidak memungkinkan karena jumlah kebutuhan es mereka tidak terlalu besar oleh karena itu dibangun pabrik es dengan tipe B-PAQ 9 dengan kapasitas 128 batang/produksi dimana dalam satu hari bisa 3 kali produksi sehingga mendapatkan 384 batang/hari dalam waktu satu kali produksi yaitu 9 jam. Pengoperasian mesin es balok kapasitas kecil lebih cocok untuk jumlah nelayan yang tidak terlalu besar. Letak pabrik es yang strategis ini sangat membantu bagi proses produksi dan pemasaran bagi para nelayan di sekitar kawasan tersebut. Es balok sering di konsumsi oleh para nelayan yang membutuhkan es balok untuk pendinginan ikan agar tetap segar dan berkualitas. Adapun salah satu cara pengawetan ikan hasil tangkapan nelayan adalah dengan menggunakan es karena cara ini dipandang sebagai cara yang paling murah dan efektif khususnya untuk nelayan kecil jadi tipe yang digunakan adalah B-PAQ 9. Dalam kaitannya dengan proses Produksi es balok telah dilakukan sistem continous process of production (produksi secara terus-menerus). Hal ini berkaitan dengan keadaan demand of consument (permintaan konsumen) terhadap produksi yang di hasilkan oleh pabrik es balok di Lampulo. Proses pembuatan es balok dilakukan dengan cara yang sederhana dan dengan menggunakan mesin-mesin yang bertekhnologi dengan model B-PAQ 9.

1.2 Tujuan Kuliah Kerja Praktek Pelaksanaan Kuliah Kerja Praktek ini bertujuan untuk : 1. Mengamati proses pembuatan es balok di pabrik es balok Lampulo Banda Aceh. 2. Mengetahui penggunaan es balok beserta jumlah produksi es balok di Lampulo Banda Aceh. 3. Memberi informasi dan wawasan dalam proses pembuatan es balok serta penggunaan es balok untuk penangganan ikan segar. 4. Mengetahui manajemen pabrik es di Perum Prasarana Perikanan Samudra lampulo Banda Aceh.

1.3 Manfaat Kuliah Kerja Praktek Manfaat dari KKP ini adalah memberikan informasi kepada mahasiswa dan masyarakat mengenai proses pembuatan es balok dengan model mesin B-PAQ 9, serta pemakaian es balok untuk penangganan ikan segar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jenis-jenis Es Berdasarkan bentuknya es balok di pabrik es lampulo ada lima jenis es balok yaitu, sebagai berikut : a. Es bal ok (bl ock i ce), yait u ba l ok es denga n ukura n 12 - 60 kg/bal ok. Sebelum dipakai es balok harus di peca hkan terlebih da hulu untuk memperkecil ukuran. b. Es tabung ( tube ice). yaitu es berbentuk tabung kecil yang siat untuk di pakai. c. Es keping tebal (plate ice), yaitu es dalam bentuk lempengan yang besar dan tebal 8 15 mm, kemudian di pecahkan menjadi potongan-potongan kecil dengan diameter kurang dari 5 cm, agar lebih cepat kontak dengan permukaan ikan. d. Es keping tipis (flake ice), yaitu lempengan-lempengan tipis dengan tebal 5 mm, diameter 3 cm, merupakan hasil pengerukan dari lapisan es yang t erbent uk di atas per mukaa n pembeku ber bent uk silinder. Akibat pengerukan itu, ukuran es sudah cukup kecil sehingga tidak memerlukan pemecahan lagi. e. Es halus (slush ice), yaitu butiran-butiran yang snagt halus dengan diameter diameter 2 mm dan tekstur lembek, umumnya sedikit berair. Mesin yang
5

digunakan berukuran kecil dan produksinya sedikit, hanya untuk ika n disekitar pabrik.

Es yang paling umum digunakan untuk pendinginan ikan adalah es balok, karena harganya murah dan mudah dalam pengangkutannya (Adawyah, 2006). Tipe es yang digunakan dalam penanganan produk perikanan tergantung pada adanya pabrik es yang ada di daerah setempat. Pabrik es yang dibangun khusus untuk keperluan perikanan umumnya menghasilkan es balok. Penggunaan es balok lebih menghemat penggunaannya dan lebih lama mencair (http:/id.wikipedia.org/wiki/es balok.com). 2.2 Manajemen Pabrik Es. Manajemen produksi merupakan pengelolaan secara optimal dari penggunaan sumber daya/faktor produksi, tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah, dana dan lain-lain dalam proses tranformasi menjadi barang-barang dan jasa-jasa (suhardjo,1986). Pabrik es adalah unit produksi untuk membuat dan menghasilkan es balok yang dipergunakan sesuai fungsinya yaitu untuk mendinginkan hasil perikanan dalam rangka mempertahankan mutu ikan agar tetap baik dan segar (DKP-RI, 2006). Mekanisme pengelolaan pabrik es dilakukan bersama masyarakat dan stakeholder terkait dengan pengawasan dari dinas Kelautan dan Perikanan membentuk suatu kelompok masyarakat/koperasi.

Adapun persyaratan yang harus dipertimbangkan untuk pembangunan pabrik es adalah: y y y Mempunyai sumber air bersih Volume produksi hasil perikanan yang cukup Ketersediaan/suplai es yang rendah/belum ada (, DKP-RI, 2006)

2.3 Jumlah kebutuhan es balok untuk penanganan ikan segar Es mempunyai daya pendinginan yang sangat besar. Tiap 1 kg es yang meleleh pada 00C dapat menyerap panas sebanyak 80 kkal untuk meleleh menjadi air 00C (Adawyah, 2006). Jumlah es yang digunakan harus disesuaikan dengan jumlah ikan yang akan ditangani sehingga akan diperoleh suhu pendinginan yang optimal. Jika jumlah es terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah ikannya, maka suhu pendinginan yang dihasilkan tidak cukup dingin untuk memmpertahankan kesegaran ikan dalam waktu yang ditentukan. Sebaliknya, bila jumlah es terlalu banyak dapat menyebabkan ikan rusak secara fisik karena himpitan atau tekanan dari bongkahan es. Es yang ditambahkan harus dapat menurunkan suhu ikan sampai 00C dan suhu tersebut dapat dipertahankan selama penyimpanan dalam waktu yang ditentukan. Dalam praktikanya, perbandingan es dan ikan yang digunakan selama pendinginan bervariasi antara 1:4 sampai 1:1. Perbandingan tersebut sangat tergantung pada waktu penyimpanan yang diperkirakan, suhu udara diluar kemasan, dan jenis wadah penyimpanan (Junianto, 2003).

2.4 Teknik Pendinginan Ikan Teknik atau cara pendinginan ikan dengan es dalam suatu wadah yang baik adalah mengusahakan semua permukaan tubuh ikan yang diberi perlakuan dapat mengalami kontak dengan es. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan penyerapan panas dari tubuh ikan. Semakin luas permukaan tubuh ikan dapat melakukan kontak dengan es, maka penurunan suhu tubuh ikan akan semakin cepat. Kecepatan

penurunan tubuh ikan ini akan mempercepat proses panghambatan reaksi-reaksi biokimia dalam tubuh ikan yang menjadi penyebab kemunduran mutu ikan (Junianto, 2003). Proses penurunan suhu terjadi ketika es mencair. Air ini akan menghanyutkan substansi-substansi yang diperlukan oleh organisme-organisme mikro, sehingga menghambat pertumbuhan bakteri pembusukan dan secara langsung dapat memperpanjang daya simpan. Mutu ikan segar akan lebih baik lagi bila disimpan pada suhu antara 00C sampai 2,50C (Moeljanto, 1982).

BAB III METODE KERJA

3.1 Lokasi dan Waktu Kuliah Kerja Praktek Kuliah Kerja Praktek (KKP) ini dilaksanakan di Pabrik Es Balok Lampulo, Banda Aceh. Pelaksanaan Kuliah Kerja Praktek ini berlangsung mulai tanggal 22 September sampai 22 Oktober 2011. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada Praktek Kerja Lapangan untuk proses pernbuatan es balok adalah 1 unit mesin Ice PAQ model B-PAQ 9, crane, pengaduk. sistem penjernih es, tangki pengisi, tangki pelepas (pencelupan), pengguling cetakan. meja pelepas, bak air garam, cetakan es, panel kontrol. 3.2.2 Bahan Adapun bahan-bahan yang digunakan pada Kuliah Kerja Praktek ini adalah air tawar, refrijeran (preon), oli, dan garam CaCl2. 3.3 Prosedur Kerja 3.3.1 Tahap Persiapan (awal) Proses pembuatan Es Balok Langkah langkah yang dilakukan adalah :
1. Sambungkan Ice PAQ dengan sumber listrik dan air. Tegangan listriknya

adalah 380 V- 420 V, 3 ph 50 Hz.

2. Jika mesin telah dimatikan terlalu lama (lebih dari 3 hari ). sebelum

kompresor dinyalakan harus dipanaskan terlebih dahulu minimal 6 Jam agar semua refrijeran yang terdapat dalam crankcase kompresor teruapkan semua.
3. Pastikan semua valve pada aliran refrijeran terbuka sebelum kompresor

dinyalakan.
4. Buka suction and discharge valve pada kompresor. Inlet dan outlet pada

receiver, dan semua stop valves pada liquid line dan suction line.
5. Nyalakan mesin dengan menekan tombol on/off pada panel kontrol, nyalakan

pengaduk dan kondensor terlebih dahulu.


6. Periksaa arah putaran fan kondensor dan pengaduk. 7. Tekan tombol on/off kompresor pada panel kontrol. 8. Periksa level oli pada sight glass kompresor. seharusnya level oli berada pada
1

/3 sampai 1/2 tanda penuh.

9. Buat larutan air garam dengan melarutkan garam dengan air dalam ember,

kemudian di tuangkan ke tangki bak air garam. Ulangi pekerjaan ini sampai semua gararn terlarutkan. Tambahkan air sehingga ketinggian air garam sama dengan can grid. Lakukan pengadukan dengan agitator sehingga garam terlarut secara merata, konsentras garam harus selalu di jaga minimal 20-22%. 3.3.2 Tahap Pembuatan Es Balok 1. Letakkan cetakan es pada pengguling cetakan, kemudian di isi dengan air sampai level kira-kira 70 cm dengan cara menarik handel pada tangki pengisi. 2. Semua cetakan yang sudah terisi dimasukkan dalam bak garam

10

3. Pasang pipa injeksi udara, kemudian sambungkan selang injeksi dan tutup bak air garam. 4. Nyalakan blower untuk menginjeksi udara dalam cetakan es. 5. Tunggu sampai terbentuk lapisan es setebal 5 cm pada pinggir cetakan. 6. Buka tutup brine tank, kemudian lepaskan pipa injeksi, ditutup kembali brine tank dan matikan blower. 7. Tunggu sampai air dalarn cetakan berubah menjadi es dengan membutuhkan waktu 9 jam dan pada suhu -180C akan terbentuk es balok dengan berat 25 kg/batang. 8. Es balok siap untuk dipanen/bongkar. 3.3.3 Tahap Panen Es Balok (pembongkaran es) 1. Isi tangki pencelupan dengan air, kemudian hidupkan pompa sirkulasi. 2. Angkat cetakan es yang berada paling dekat dengan keluaran daerah evaporator pada salah satu tangki air garam. 3. Letakkan/rendam cetakan tersebut dalam tangki pencelupan (pelepas) 4. Angkat cetakan ketika semua es sudah terlepas dari cetakan, kemudian di letakkan pada pengguling cetakan. 5. Diguling pengguling cetakan dan lepaskan es keluar dari cetakan. 6. Setelah semua es terlepas dari cetakan, tegakkan kembali pengguling cetakan dan letakkan cetakan secara miring, kemudian cetakan di isi dengan air lagi (usahakan level air dalarn cetakan sama seperti semula / kira-kira 70 cm). 7. Untuk pemanenan selanjutnya menunggu air dalam filling tank mencapai temperatur -180C.
11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Produksi Es Balok Es balok adalah es yang berasal dari air yang dibekukan dalam bentuk balok dengan suhu tertentu dan dalam Jangka waktu beberapa jam ( 8 jam). Adapun

proses pembuatan es balok terdiri dari 3 tahapan, yaitu tahap awal (persiapan), tahap pembuatan es, dan tahap panen es (pembongkaran es). Tahap awal (persiapan) yang dilakukan meliputi persiapan alat dan bahan (air, garam, dn refrijeran/preon) yang akan digunakan, serta persiapan untuk mesin pembuat es balok. Distribusi yang dilakukan dalam 1 hari 3 kali memproduksi es balok, dimana dalam 1 kali produksi menghasilkan 128 batang es balok. Jadi dalam satu hari dapat menghasilkan 384 batang es balok dengan berat 1 bantang 25 kg, dengan harga 1 batang es balok Rp. 7000,- jika dijual untuk agen dan untuk para pembeli batangan maka harganya Rp. 9000,-. Jika dioperasikan selama 24 jam per hari, maka es balok akan memenuhi kebutuhan para nelayan di lampulo untuk mendinginkan ikan agar tetap segar dan berkualitas.

12

Menurut (Junianto, 2003) Perbedaan sifat fisikawi es dan air dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.1 Sifat fisikawi es dan air Sifat Fisikawi Air tawar - Densitas pada suhu 150 C - Paras spesifik - Panas laten - Titik beku - Titik didih Es (tawar) - Densitas pada suhu 0C - Panas spesifik 0C - Panas Laten - Titik beku - Konduktifitas thermal pada suhu 0C. Nilai 1 kg/l 1 kkal/kg 0C 80 kkal/kg 0C 100C 0,92 kg/1 0,49 kkal/kg0C 80 kkal/kg 00C 1,91 kkal/m/jam0 C.

4.2. Kelebihna es balok dan jumlah kebutuhan es balok yang digunakan oleh para nelayan di UPTD Lampulo Banda Aceh untuk pendinginan ikan. Pada saat melakukan KKP juga dilakukan pengamatan terhadap penanganan ikan dengan mengkondisikan temparatur rendah 10rC pada penggunaan es balok, yaitu bertujuan agar kesegaran ikan tetap terjaga. Adapun kelebihan es balok adalah: 1. Mempunyai kapasitas pendingin yang besar persatuan berat, yaitu sebesar 80 kkal/es. 2. Tidak membahayakan konsumen 3. Bersifat thermostatik, yaitu selalu menjaga suhu sekitar 0C, sehingga suhu pendinginan ikan dapat terpelihara pada suhu tersebut.
13

4. Ekonomis karena harganya murah. 5. Relatif mudah dalam penggunaanya. Es mempunyai daya pendinginan yang sangat besar. Tiap 1 kg es yang meleleh pada 00C dapat menyerap panas sebanyak 80 kkal untuk meleleh menjadi air 00C. Jumlah es yang digunakan harus disesuaikan dengan jumlah ikan yang akan ditangani sehingga akan diperoleh suhu pendinginan yang optimal. Jika jumlah es terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah ikannya, maka suhu pendinginan yang dihasilkan tidak cukup dingin untuk memmpertahankan kesegaran ikan dalam waktu yang ditentukan. Sebaliknya, bila jumlah es terlalu banyak dapat menyebabkan ikan rusak secara fisik karena himpitan atau tekanan dari bongkahan es. Es yang ditambahkan harus dapat menurunkan suhu ikan sampai 00C dan suhu tersebut dapat dipertahankan selama penyimpanan dalam waktu yang ditentukan. Dalam praktikanya, perbandingan es dan ikan yang digunakan selama pendinginan bervariasi antara 1:4 sampai 1:1. Perbandingan tersebut sangat tergantung pada waktu penyimpanan yang diperkirakan, suhu udara diluar kemasan, dan jenis wadah penyimpanan. Tabel 4.2. Data jumlah kebutuhan es balok yang digunakan oleh para nelayan di UPTD Lampulo Banda Aceh. No Berat ikan 1 10 kg Keranjang Wadah Es yang diperlukan batang Harga es balok 3.000 Lama pendinginan hari

14

2 3 4

50 kg 140 kg 200 kg

Fiber kecil Fiber sedang Fiber besar

1 batang 3 batang 5 batang

7.000 21.000 35.000

1 hari 2 hari 4 hari

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa lamanya pendinginan ikan sangat tergantung dengan banyak atau tidaknya es yang digunakan untuk mempertahankan ikan agar tetap segar. Distribusi yang dilakukan dalam 1 hari 3 kali memproduksi es balok, dimana dalam 1 kali produksi menghasilkan 128 batang es balok. Jadi dalam satu hari dapat menghasilkan 384 batang es balok dengan berat 1 bantang 25 kg, dengan harga 1 batang es balok Rp. 7000,- jika dijual untuk agen dan untuk para pembeli batangan maka harganya Rp. 9000,-. Jika dioperasikan selama 24 jam per hari, maka es balok akan memenuhi kebutuhan para nelayan di lampulo untuk mendinginkan ikan agar tetap segar dan berkualitas. Adapun distribusi es balok yang dilakukan adalah untuk agen es, pedagang enceran, dan para nelayan yang membutuhkan es balok untuk pendinginan ikan. Pabrik Es Balok (penghasil es balok)

Agen Es

Pedagang eceran

Mugee Gambar 4.2. Skema Distribusi Es Balok di Pabrik Es Balok Lampulo, Banda Aceh.
15

4.2.1 Pemakaian Es Balok Es balok yang digunakan untuk pendinginan ikan harus dihancurkan terlebih dahulu menjadi bentuk bongkahan atau diserut menjadi butiran-butiran (es curai) yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Untuk menghancurkan es balok biasanya digunakan pentungan yang terbuat dari kayu dan mesin penghancur es balok atau nama lainnya mesin cruser. Pemakaian es yang terlalu besar dan runcing dapat mengakibatkan kerusakan fisik ikan. Sementara butiran yang terlalu kecil akan menyebabkan butiran es cepat melebur/meleleh. Oleh karena itu, pemakaian es balok yang dihancurkan akan lebih baik dari pada yang di serut karena akan diperoleh butiran es yang berbeda. Jumlah es yang digunakan harus disesuaikan dengan jumlah ikan yang akan di tangani sehingga di peroleh suhu pendinginan yang optimal. Jika jumlah es terlalu sedikit dibandingkan jumlah ikannya maka suhu pendinginan yang dihasilkan tidak cukup dingin untuk mempertahankan kesegaran ikan dalam waktu yang ditentukan. Sebaliknya, bila jumlah es terlalu banyak dapat menyebabkan ikan rusak secara fisik karena himpitan atau tekanan dari bongkahan es. Es yang harus ditambahkan harus dapat menurunkan suhu ikan sampai 00C dan suhu tersebut dapat dipertahankan selama penyimpanan dalam waktu yang ditentukan. Biasanya perbandingan es dan ikan yang digunakan oleh para nelayan dilampulo yaitu 1:1. Dengan perbandingan tersebut biasanya ikan bisa tahan sampai 1- 3 hari. 4.2.2 Cara Pendinginan Ikan Dengan Es Suhu rendah sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri psychrophilic (hidup pada suhu 00C 300C, dengan suhu optimum 150 C).
16

Cara penanganan pendinginan ikan dengan es sangat beragam tergantung pada tempat, jenis ikan, dan tujuan pendinginan. Pada prinsipnya, es harus dicampurkan dengan ikan dengan sedemikian rupa, sehingga permukaan ikan bersinggungan dengan es, maka pendinginan ikan berlangsung lebih cepat, sehingga pembusukan dapat segera dihambat. Adapun cara pendinginan ikan dengan es balok yang baik ada 2 (dua) yaitu :  Keranjang 1. Sebelum keranjang digunakan, terlebih dahulu keranjang dicuci degan air hingga bersih 2. Bagian bawah keranjang dilapisi dengan kertas plastic. 3. Es balok dihancurkan dengan menggunakan palu atau alat penghancur lainnya seperti kayu. 4. Es yang telah dihancurkan tersebut dimasukkan ke dalam keranjang. 5. Pada bagian atas lapisan es disusun ikan, dan diatas lapisan ikan ditaburi es lagi, kemudian ditaburi sedikit garam dan air.  Fiber 1. Sebelum fiber digunakan, terlebih dahulu fiber dicuci dengan air hingga bersih. 2. Bagian bawah fiber dilapisi dengan plastik. 3. Pada bagian dasar fiber dilapisi es yang telah dihancurkamn kira-kira menutupi semua lapisan dasarnya.

17

4. Ikan yang telah dibersihkan dan ditimbang kemudian dimasukkan ke Dalam fiber dan disusun satu per satu dengan rapi. Sebaiknya jumlah es yang digunakan harus sebanding dengan berat ikannya, yaitu berat ikan : berat es (1 : 1). 5. Setelah disusun ikannya, kemudian bagian atasnya ditutup dengan kertas plastik semula , dan fiberpun ditutup dengan rapat.

18

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Setelah melakukan Kuliah Kerja Praktek (KKP) ke lokasi pabrik es balok di Lampulo Banda Aceh, maka kesimpulan yang dapat disimpulkan : 1. Proses pembuatan es balok terdiri dai 3 tahapan, yaitu tahap awal (persiapan), tahap pembuatan es, dan tahap panen es (pembongkaran es). 2. Dalam proses pembuatan es balok alat dan bahah yang digunakan harus bersih dan proses pembuatannya dengan menggunakan mesin type B-PAQ 9. 3. Sistem manajemen yang dilakukan di pabrik es balok berupa sistem countinous process of production (Produksi secara terus-menerus). 4. Distribusi yang dilakukan dalam 1 hari 3 kali memproduksi es balok, dimana dalam 1 kali produksi menghasilkan 128 batang es balok. Jadi dalam satu hari dapat menghasilkan 384 batang es balok dengan berat 1 bantang 25 kg, dengan harga 1 batang es balok Rp. 7000,- jika dijual untuk agen dan untuk para pembeli batangan maka harganya Rp. 9000,-. 5. Distribusi es balok yang dilakukan adalah untuk toke bangku, pedagang eceran, awak kapal, dan para nelayan yang membutuhkan es balok untuk pendinginan ikan. 6. Cara pendinginan ikan dengan suhu rendah sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri psychrophilic (hidup pada suhu 0C-30C, dengan suhu optimum 15C).
19

5.2 Saran Adapun saran yang dapat disampikan adalah agar ke depannya dapat terjalin kerja sama antara mahasiswa dengan instansi pabrik es yang dapat memberi manfaat bagi kita semua dalam kajian studi mata kuliah praktek.

20

DAFTAR PUSTAKA

Adawyah, Rabiatul. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Bumi Aksara Jakarta. DKP- RI. 2006. Petunjuk Teknisi. Jakarta. Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. PT, Penebar Swadaya. Jakarta. Moeljanto,R.1982. Penanganan Ikan Segar. PT. Penebar swadaya. Jakarta. Sondang, P. Siagian. 1998 Pengantar Ilmu Manajemen Dasar.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Suhardjo, dkk. 1986. Pangan, Gizi dan Pertanian. UI- Press. Jakarta. (hhtp:/id.wikipedia.org/wiki/esbalok.com).

21