Anda di halaman 1dari 15

INTERGOVERNMENTAL GRANTS: INDONESIA AND INTERNATIONAL PERSPECTIVE

Andreas Kurniawan Diptya Hanindyojati Galuh Muhamad Iqbal SAS FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

ABSTRACT: Policies to regulate and support decentralization in Indonesia have mainly been an initiative and concern of the central government. Historically, after decentralization, local governments were reluctant to act independently to build up their own economy. However, several problems arise, such as Intergovernmental Transfer mechanism . This paper examines the mechanism which have been applied in Indonesia through UU 33 tahun 2004. Some attention is also given to intergovernmental transfer in United States and Korea as cases study and lessons learned for improving Intergovernmental Transfer mechanism in Indonesia.

PENDAHULUAN Era desentralisasi membawa banyak konsekuensi bagi Indonesia. Semua keputusan, baik politik, ekonomi, yang tadinya diambil oleh pemerintah pusat, dialihkan kepada pemerintah daerah. Dalam proses desentralisasi tersebut, tentu memerlukan pendanaan. Desain penerimaan yang sebelumnya dikuasai oleh negara, sekarang perlu di-desentralisasikan ke daerah juga. Namun, permasalahannya adalah bagaimana membuat desain pembagian penerimaan ke daerah? Kita tentu tidak dapat menyamaratakan pembagian penerimaan itu ke semua daerah. Kita harus menyesuaikan dengan keadaan dan kemampuan masing-masing daerah. Oleh karena itulah terbentuk konsep dana perimbangan. Dana perimbangan adalah suatu konsep pembagian penerimaan ke daerah oleh pemerintah pusat (Intergovernmental Transfer) selain Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut . Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan salah satu bentuk dana perimbangan tersebut. Sepintas formula tersebut dirasa layak untuk mengatasi problematika transfer penerimaan ke daerah di era desentralisasi ini. Namun, apakah benar seperti itu? Apakah dana perimbangan, khususnya dana alokasi umum tersebut sudah merefleksikan kebutuhan masing-masing daerah? Apakah sudah memenuhi asas efisiensi dan keadilan yang selalu menjadi pokok pembahasan dalam kebijakan publik? Paper ini terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama akan membahas teori mengenai Intergovernmental Grants secara teori, dilanjutkan dengan Intergovernmental Grants di Indonesia yang tercantum dalam UU 33 2004. Bagian kedua membahas mengenai penerapan mekanisme Dana Alokasi Umum dan analisisnya di Indonesia. Bagian ketiga membahas mengenai perspektif Internasional,

berupa studi kasus di negara Amerika Serikat dan Korea Selatan. Kami harap, melalui kedua negara tersebut dapat diambil semacam lesson learned sebagai kerangka acuan untuk menyempurnakan sistem desentralisasi di Indonesia, khususnya dalam hal Intergovernmental Transfer.

TYPES OF INTERGOVERNMENTAL TRANSFER Pada dasarnya ada dua jenis mekanisme transfer dana dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, yaitu conditional dan unconditional grants. Conditional grants, kadang-kadang disebut specific purpose grants atau categorical grants. Dalam hal ini, pemerintah pusat menetapkan tujuan penggunaan dana yang diberikan kepada pemerintah daerah. Grants seperti ini seringkali digunakan untuk mengatasi masalah yang sangat penting untuk pemerintah pusat, tetapi dianggap kurang begitu penting oleh pemerintah daerah. Contohnya adalah proyek dengan inter-regional spill-over effects, misalnya jalan antar daerah. Ada beberapa jenis conditional grants, yaitu : 1. Matching Open-Ended Grants, Untuk setiap unit uang yang diberikan oleh pendonor untuk mendukung aktivitas tertentu, sejumlah tertentu harus juga dikeluarkan oleh penerimanya. Sebagai contoh, grants mungkin menunjukkan bahwa setiap kali pemerintah daerah menghabiskan satu dolar pada pendidikan, pemerintah pusat akan memberikan kontribusi satu dolar (atau lima puluh sen) juga. Dengan open-ended matching grant, biaya untuk donor akhirnya tergantung pada perilaku penerima. Jika pengeluaran pemerintah lokal dirangsang oleh program, maka kontribusi pemerintah pusat akan cukup besar dan sebaliknya.

C The effect is similar to price subsidy e1 e2 u1 p1 u2 P2 G

2. Matching Closed-Ended Grants, sama seperti Matching Open-Ended Grants, namun terdapat batas atas biaya yang dikeluarkan sebagai grants oleh pemerintah pusat. Mekanisme ini

digunakan oleh sebagian besar negara karena alasan kontrol anggaran. Di beberapa negara, jumlah total grants dibatasi oleh mekanisme seleksi oleh pemerintah pusat.

C Tidak Efisien e2 e1 u1 p1 u2 P2 G 3. Non-matching Grants. Pada kasus ini, pemerintah pusat menawarkan sejumlah uang dengan ketentuan untuk membiayai barang publik tertentu di daerah. Pemerintah daerah sebagai penerima dibebaskan untuk mengalokasikan dana tersebut selama digunakan untuk pembelanjaan barang public. Memilih diatas (side) atau bawah (side) atau bawah itu tergantung pada preferensi setiap individunya apakah dia cenderung lebih suka C atau G (Public Goods) e2 e1 u1 p1 u2 P2 G Unconditional grants, dalam hal ini tidak ada pembatasan pada alokasi penggunaan dana. Akibatnya, hal tersebut merupakan lump sum grants untuk pemerintah daerah yang menerimanya. Pemerintah daerah bebas menggunakan dana tersebut untuk menutupi celah fiskalnya. C The effect is similar to lumpsum subsidy (or subsidy to individuals) e2 u1 p1 u2 P2 Public Goods Efisien, setelah melewati batasan

e1

INTERGOVERNMENT GRANTS IN INDONESIA UU NO.33/2004 Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan Desentralisasi, dengan memper-timbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi, Jumlah Dana Perimbangan ditetapkan setiap tahun anggaran dalam APBN. Dana Perimbangan terdiri atas: Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus. Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi, bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi, jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBN.. Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN. Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu Daerah dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan Daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah. Ketiga komponen Dana Perimbangan ini merupakan sistem transfer dana dari Pemerintah serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah merupakan subsistem Keuangan Negara sebagai konsekuensi pembagian tugas antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pemberian sumber keuangan Negara kepada Pemerintahan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka

pendanaan penyelenggaraan asas Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan. Dana Perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah dan antar-Pemerintah Daerah. Pemeriksaan Dana Desentralisasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara.

DANA ALOKASI UMUM DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan salah satu komponen dari Dana Perimbangan pada APBN, yang pengalokasiannya didasarkan atas formula dengan konsep Kesenjangan Fiskal (Fiscal Gap), yaitu selisih antara Kebutuhan Fiskal dengan Kapasitas Fiskal. DAU juga merupakan instrumen untuk mengatasi horizontal imbalance, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah dimana pengunaannya ditetapkan sepenuhnya oleh Daerah. Selain hal tersebut, Dana Alokasi Umum merupakan sebagai equalization grant, yaitu berfungsi untuk menetralisasi ketimpangan kemampuan keuangan dengan adanya PAD, Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil SDA yang diperoleh Daerah. Penyaluran DAU dilakukan oleh Menteri Keuangan secara berkala setiap bulan sebesar 1/12 dari plafon DAU. Ada beberapa prinsip dasar alokasi DAU antara lain, yang pertama, prinsip kecukupan (adequacy). Sebagai suatu bentuk penerimaan, sistem DAU harus memberikan sejumlah dana yang cukup kepada daerah. Dalam hal ini, perkataan cukup harus diartikan dalam kaitannya dengan beban fungsi. Sebagaimana diketahui, beban finansial dalam menjalankan fungsi tidaklah statis, melainkan cenderung meningkat karena satu atau berbagai faktor. Oleh karena itulah maka penerimaan pun seharusnya naik sehingga pemerintah daerah mampu membiayai beban anggarannya. Bila alokasi DAU mampu merespon terhadap kenaikan beban anggaran yang relevan, maka sistem DAU dikatakan memenuhi prinsip kecukupan. Yang kedua, Netralitas dan efisiensi (neutrality and efficiency) Desain dari sistem alokasi harus netral dan efisien. Netral artinya suatu sistem alokasi harus diupayakan sedemikian rupa sehingga efeknya justru memperbaiki (bukannya menimbulkan) distorsi dalam harga relatif dalam perekonomian daerah. Efisien artinya sistem alokasi DAU tidak boleh menciptakan distorsi dalam struktur harga input. Untuk itu, sistem alokasi harus memanfaatkan berbagai jenis instrumen finansial alternatif relevan yang tersedia. Yang ketiga, Relevansi dengan tujuan (relevance). Sistem alokasi DAU sejauh mungkin harus mengacu pada tujuan pemberian alokasi sebagaimana dimaksudkan dalam UU. Kami berpendapat sudah selayaknyalah alokasi DAU ditujukan untuk membiayai sebagian dari: (1) beban fungsi yang dijalankan; (2) hal-hal yang merupakan prioritas dan target-target nasional yang harus dicapai. Perlu diingat bahwa kedua UU telah mencantumkan secara eksplisit beberapa hal yang menjadi tujuan yang

ingin dicapai lewat program desentralisasi. Pertama, stimulasi ekonomi daerah. Kedua, peningkatan demokrasi. Ketiga, keadilan/pemerataan. Keempat, kemampuan daerah dalam melayani masyarakat. Dengan demikian jelas terlihat bahwa sistem alokasi DAU bukanlah semata-mata ditujukan untuk pembiayaan pelayanan jasa publik. Sistem alokasi DAU bukan pula semata-mata ditujukan untuk pencapaian keadilan/pemerataan. Yang keempat, Keadilan (equity). Pertanyaan terpenting yang berkaitan dengan isu pemerataan ini adalah: apa yang ingin diratakan lewat instrumen DAU? Umumnya orang berpendapat DAU harus bertujuan untuk meratakan pendapatan antar daerah (entah dalam pengertian nominal ataupun dalam pengertian perkapita). Walaupun ini adalah tujuan yang menarik, namun secara konseptual dan praktis tujuan tersebut bukanlah tujuan yang secara langsung dapat dicapai oleh instrumen DAU. Menurut hemat kami, tujuan pemerataan pendapatan antar daerah hanya baik untuk dipakai sebagai referensi ideal (atau, tujuan pemerataan yang sifatnya primer) tapi bukan tujuan yang bisa dicapai secara fungsional. Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa dalam menentukan besarnya DAU tiap daerah, kita harus mengetahui Kebutuhan Fiskal dan Kapasitas Fiskal masing-masing daerah. Kebutuhan Fiskal dicerminkan dengan variabel sebagai berikut: 1. jumlah penduduk; 2. luas wilayah; 3. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK); 4. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita, dan 5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Secara logika semakin besar jumlah penduduk, semakin luas wilayah suatu daerah, semakin tinggi IKK, semakin tinggi PDRB, dan semakin rendahnya IPM maka akan menyebabkan semakin tingginya kebutuhan fiskal. Begitu pula sebaliknya. Kapasitas Fiskal dicerminkan dengan variabel penerimaan Daerah seperti : 1. PAD (Pendapatan Asli Daerah); 2. Dana Bagi Hasil (DBH) dari sektor Pajak dan Sumber Daya Alam (SDA) Semakin tingginya PAD dan Dana bagi hasil tentu mengakibatnya tingginya Kapasitas Fiskal suatu Daerah. Adapun perhitungan DAU yang berlaku adalah: Formula DAU Tahun Anggaran 2006 berdasarkan UU No. 33/2004

DAU = AD + Celah Fiskal (CF)

AD

= Alokasi Dasar ,

CF = Kebutuhan Fiskal (KbF) - Kapasitas Fiskal (KpF) DAU : AD KF : : Dana Alokasi Umum ; Alokasi Dasar dihitung berdasarkan gaji PNS Daerah; Celah Fiskal

Kebutuhan Fiskal (KbF)

KbF= TBD (1IP + 2IW + 3IKK + 4PDRB/cap .... + 5IPM-1....)

TBD : Total Belanja Daerah Rata-rata dlm APBD; IP IW : Indeks Jumlah Penduduk; : Indeks Luas Wilayah;

IPM-1 : Invers Indeks Pembangunan Manusia; PDRB/cap-1 : Produk Domestik Regional Bruto perkapita; : Bobot Indeks.

ANALISIS DANA ALOKASI UMUM DI INDONESIA A. Analisis Rumus Perhitungan Pertama, rumusan DAU yang terdiri dari alokasi dasar yang dihitung berdasarkan gaji PNS kurang layak. Hal ini seolah-olah memberikan insentif kepada daerah untuk memperbanyak jumlah PNS dalam rangka mendapatkan alokasi DAU yang besar. Pemerintah daerah dapat seenaknya merekrut banyak PNS tanpa terhalang Budget Constraint. Tentu hal ini menyebabkan ketidakefisienan, seharusnya dana tersebut bisa dialokasikan ke sektor yang produktif. Kedua, dalam perhitungan kebutuhan fiskal, tidak merepresentasikan pembagian yang adil. Misalnya, tidak memperhitungkan unsur ketersediaan public goods di suatu daerah, tidak melihat proses pembangunan di suatu daerah. Kita selama ini tahu bahwa jumlah penduduk terkonsentrasi di pulau Jawa. Hal ini berarti yang mendapatkan banyak alokasi dari DAU berdasarkan jumlah penduduk adalah pulau Jawa, berarti di Jawa pembangunan akan terus terjadi dan meninggalkan daerah lain. Ketiga, tidak ada pembobotan dalam perhitungan kebutuhan fiskal. Kami menganggap, seharusnya dalam perhitungan kebutuhan fiskal diberikan bobot sesuai dengan kepentingannya. Keempat, mekanisme transfer ke daerah sering berupa unconditional grants. Pemerintah daerah yang memutuskan penggunaan dana. Memang, sejalan dengan UU mengenai desentralisasi, daerah

yang bertanggung jawab dalam penggunaan dana tersebut. Namun, alangkah baiknya pemerintah menetapkan conditional grants. Hal ini merangsang daerah untuk membelanjakan dana sesuai dengan kebutuhan daerahnya. Problem lemahnya penyerapan anggaran pun kemungkinan bisa teratasi. Kelima, penghitungan DAU tidak memasukan komponen kerusakan lingkungan yang mungkin diderita oleh suatu daerah. Bisa saja PAD di suatu daerah tinggi karena eksploitasi besar-besaran sumber daya alam di daerah tersebut. Namun bagaimana bila sumber daya alam tersebut nanti habis? Pemerintah sebaiknya memikirkan akibat yang bisa ditimbulkan perusakan lingkungan tersebut.Bisa saja suatu daerah celah fiskalnya rendah karena tingginya PAD yang bersumber dari eksploitasi sumber daya alam. Dengan adanya dana untuk restrukturisasi lingkungan, diharapkan kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu parah dan dapat dimitigasi.

B. Analisis Data Average Intergovernmental Grants per Region in Indonesia 2009 DAU 4724.20 13059.26 4438.81 4030.73 4643.42 2734.61 6268.33 dalam miliar rupiah DAK Otsus 663.16 3728.28 1215.24 624.04 699.57 741.34 546.93 1050.17 5128.28

Sumatera Jawa exc. DKI Kal Sul Bali&Nusteng Maluku Papua

Sumber : Ditjen Perimbangan Keuangan, diolah

Dari tabel di atas, terlihat bahwa secara rata-rata, transfer DAU kebanyakan diterima oleh pulau Jawa. Begitu pula transfer DAK. Hal ini membuktikan bahwa masih terjadi ketimpangan dalam penyaluran Intergovernment Grants in Indonesia.

PERSPEKTIF INDONESIA: PROVINSI SUMATRA UTARA DAN D.I YOGYAKARTA A. Provinsi Sumatra Utara Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi dengan 27 kabupaten/kota dengan rinciannya 6 kota dan 21 kabupaten. Data pada tahun 2009 menunjukan ada tiga komponen yang menjadi pendanaan bagi provinsi dan kabupaten/kota, yaitu Dana Alokasi Khusu (DAK), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Bagi Hasil (DBH). Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk provinsi Sumatera Utara pada 2009 mencapai 3,40% dari

total DAK provinsi di nasional yang mencapai Rp1.360.466 juta. Kemudian DAK kabupaten/kota mencapai 6,18% dari total DAK kabupaten/kota di nasional yang berjumlah Rp23.459.123 juta. Sehingga total seluruhnya adalah 6,03% dari total DAK nasional yang berjumlah Rp24.819.589 juta. Dana Alokasi Umum (DAU) untuk provinsi Sumatera Utara pada 2009 mencapai 4,08% dari DAU untuk provinsi di nasional yang berjumlah Rp18.641.410 juta. Kemudian untuk DAU kabupaten/kota mendapatkan bagian 5,99% dari total DAU untuk kabupaten/kota di nasional yang mencapai Rp167.772.690 juta. Sehingga total DAU di provinsi Sumatera Utara mencapai 5,80% dari total DAU nasional yang berjumlah Rp186.414.100 juta. Dana Bagi Hasil (DBH) untuk provinsi Sumatera Utara pada 2009 mencapai 1,77% dari DBH provinsi nasional yang berjumlah Rp21.135.357 juta dan DBH untuk kabupaten/kota yang mencapai 3,33% dari total DBH kabupaten/kota di nasional yang berjumlah Rp44.110.018 juta. Sehingga total DBH Sumatera Utara mencapai 2,83% dari total seluruh DBH di nasional yang berjumlah Rp65.245.375 juta.

B. Provinsi D.I Yogyakarta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan 5 kabupaten/kota, yaitu Kulon Progo, Bantul, Gunung Kidul, dan Kota Yogyakarta. Dari data yang diperoleh, terlihat bahwa Dana Alokasi Khusus (DAK) provinsi DI Yogyakarta mencapai Rp33.410 juta dimana jumlah itu sama dengan 2,46% dari total DAK provinsi di nasional pada tahun 2009 yang mencapai Rp1.360.466 juta. Kemudian untuk DAK kabupaten/kota di DIY mencapai 1,09% dari total DAK kabupaten/kota di Indonesia yang berjumlah Rp23.459.123 juta. Sehingga total DAK keseluruhan mencapai Rp289.434 juta atau sama dengan 1,17% dari total keseluruhan DAK di Indonesia. Adapun yang kedua yaitu Dana Alokasi Umum (DAU) untuk provinsi DI Yogyakarta yang mencapai Rp523.920 juta atau setara dengan 2,81% dari total DAU provinsi di nasional yang mencapai Rp18.641.410 juta. Kemudian DAU untuk kabupaten/kota pada tahun 2009 mencapai Rp2.492.035 juta atau setara dengan 1,49% dari DAU nasional untuk kabupaten/kota. Sehingga total keseluruhan DAU di DI Yogyakarta mencapai 1,62% dari total keseluruhan DAU nasional yang mencapai Rp186.414.100 juta. Ketiga adalah Dana Bagi Hasil (DBH). Untuk provinsi, DI Yogyakarta mencapai 0,35% dari total DBH untuk provinsi di nasional yang sebesar Rp21.135.357 juta. Kemudian DBH kabupaten/kota yang mencapai 0,61% dari total DBH kabupaten/kota di nasional yang mencapai Rp44.110.018 juta. Sehingga total DBH keseluruhan mencapai 0,52% dari keseluruhan total DBH nasional.

PERSPEKTIF INTERNASIONAL: AMERIKA SERIKAT DAN KOREA A. Amerika Serikat Tidak seperti negara-negara maju lainnya, Amerika Serikat menekankan penggunaan conditional grants daripada unconditional grants. Pada awal 1990an, conditional, atau categorical grants dihitung untuk lebih dari 90 persen dana alokasi antar pemerintah federal. Sekitar dua per tiga dari bantuan ini dihibahkan kepada pemerintah negara bagian, yang secara bersamaan sisanya diberikan secara langsung kepada pemerintah lokal. Empat kategori bantuan federal kepada negara bagian yang terpenting adalah untuk kesehatan, kecukupan pendapatan, pendidikan dan pelatihan, dan transportasi. Kesehatan dan kecukupan pendapatan dihitung 55 persen dari seluruh federal grant pada 1988. Fungsi utamanya yang mana dana alokasi federal dibuat secara langsung kepada pemerintah lokal termasuk pendidikan, perumahan dan pengembangan ulang masyarakat, menghamburkan fasilitas perawatan, dan pembangunan pelabuhan udara. Secara bersamaan ketiga bentuk dari conditional grants (closed-ended matching, open-ended matching, dan non-matching) digunakan, bentuk paling umum adalah closed ended matching grant. Intervensi dari pemerintah federal kepada pemerintah negara bagian dan lokal melalui conditional grant adalah yang dapat mengatur. Pada 1991, sebuah hukum yang dibuat untuk menghalangi pengemudi yang mabuk dan pemilih untuk memberikan uang kepada negara bagian yang dibentuk sebagai program anti pengemudi mabuk. Aturan yang setiap bagiannya spesifik dari persen darah-konsentrasi alcohol yang akan menjadi kriteria keadaan mabuk untuk rentang waktu izinnya pengemudi akan ditangguhkan untuk sebuah kejadian pertama. Ini tidak normal. Melihat penghitungan pertama, pemerintah federal dikenakan lebih dari seribu mandat di atas negara bagian dan lokal. Sejak awal 1980an, sebuah bentuk baru dari dana alokasi, block grants, menjadi favorit di bawah administrasi Reagan. Banyak kategori grants disatukan ke dalam sedikit broad block grants, yang mana esensinya merupakan non-matching conditional grants. Dengan sebuah pemberian block dari program, negara bagian dan pemerintah lokal yang menerima (dana alokasi) lebih leluasa dalam menghabiskan (menganggarkan) dana daripada dengan categorical grants. Satu contoh dari sebuah program block grant adalah Job Training Partnership Act pada 1982. Aksi ini menyediakan dana dari pendapatan federal untuk membiayai program pelatihan sumber daya manusia yang diatur oleh negara bagian dan pemerintah lokal yang mendesain untuk disesuaikan terhadap bagian-bagian kebutuhan dari para pekerja dan pegawai dalam pasar tenaga kerja lokal. Meskipun usaha dari administrasi Reagan, categorical grants masih meninggalkan maksud dominan dari dana alokasi yang disediakan pemerintah federal kepada negara bagian dan pemerintah lokal. Fakta Amerika Serikat memiliki sebuah preferensi tanda untuk conditional grantsdan yang

kecocokannya bias bertentangan dengan unconditional grantssudah menimbulkan ketertarikan dari banyak pelajar. Satu alasan yang sudah ditawarkan untuk menjelaskan tanda preferensi Amerika Serikat untuk conditional grants adalah masalah aneh Amerika Serikat dari fiskal yang membagi kawasan metropolitan, dengan konsentrasi pada orang-orang yang berpendapatan rendah (sering pada district etnis) yang diklusterkan ke dalam pusat kota yang rusak sebagai sebuah hasil dari penerbangan ke kota satelit dengan kelas menengah. Itu adalah alasan bahwa conditional grants adalah sebuah respon lebih baik terhadap kebutuhan Amerika Serikat daripada unconditional grants, karena besarnya disparitas antar wilayah bukan pada pajak tapi pada tingkat pelayanan. Kongres ingin fokus pada bagian-bagian pelayanan daripada pada tingkat pelayanan umum atau kapasitas pajak, sebuah porsi substansial dari sistem grant yang tersisa yang difokuskan kepada tujuan yang sangat terbatas. Pandangan ini mensyaratkan bahwa kepentingan federal adalah menyediakan secara aktual kepastian tingkat pelayanan, daripada hanya kemungkinan untuk mencapai masing-masing tingkat pada tingkat pajak rata-rata, sebagai kesamaan sistem dari Kanada dan Australia.

B. Korea Dana alokasi fiskal antar pemerintah (daerah) di Korea diatur melalui lima mekanisme dana alokasi utama. Mereka adalah (1) Local Shared Tax; (2) National Treasury Subsidy; (3) Local Transfer Fund; (4) Adjustment Allocation Grant; dan (5) Provincial Government Subsidy. Tiga dana alokasi yang pertama didistribusikan dari pusat ke pemerintah provinsi, disaat yang bersamaan dua lainnya adalah dana alokasi dari kota besar atau provinsi ke pemerintah yang tingkatnya lebih di bawah. Local Shared Tax dan National Treasury Subsidy adalah cara tradisional yang dimanfaatkan oleh pemerintah pusat untuk mentransfer sumber daya fiskal tertentu kepada pemerintah lokal. Local Transfer Fund, diperkenalkan pada 1991, bisa juga dikategorikan sebagai sebuah mekanisme untuk mentransfer sebuah porsi dari basis fiskal dari pemerintah pusat kepada pemerintah lokal kecuali bahwa transfer yang dibuat langsung di luar pendapatan pajak nasional tanpa sudah menghitung pendapatan untuk anggaran pemerintah pusat yang pertama. Melihat pada anggaran tahun 1994, Local Shared Tax dihitung sebesar 12,2 persen dari total pendapatan pemerintah lokal, National Treasury Subsidy dihitung sebesar 7,5 persen, dan Local Transfer Fund dihitung sebesar 5,0 persen. Dua mekanisme yang terakhir adalah cara yang digunakan oleh pemerintah wilayah untuk mentransfer beberapa dari sumber daya fiskal mereka kepada distrik kota, pemerintah kota, dan pemerintah kabupaten di perdesaan. Local Shared Tax. Sangat mirip dengan Japans Local Allocation Tax (Alokasi Pajak Lokalnya Jepang), Local Shared Taxes di Korea dibagi ke dalam Ordinary Local Shared Taxes dan Special Local Shared Taxes. Ordinary Local Shared Taxes adalah yang mana meliputi 10/11 dari total, didistribusikan

pada basis dari pra penentuan rumus persamaan. Special Local Shared Taxes, yang mana hanya 1/11 dari total, dialokasikan pada basis dari kebutuhan khusus pemerintah lokal. Tujuan dari Ordinary Local Shared Taxes adalah untuk menyamakan kapasitas fiskal dari pemerintah lokal. Sangat mirip dengan yang di Jepang, rumus persamaan yang digunakan untuk mendistribusikan Local Shared Taxes di Korea menghitung untuk masing-masing pemerintah lokal akan standardisasi kebutuhan fiskal, standardisasi pendapatan fiskal, dan (standardisasi) apa yang beda dari mereka. Perbedaan antara dua figur ini signifikan akan standardisasi kekurangan fiskal dari pemerintah lokal dan menjadi basis dari alokasi aktual dari Ordinary Local Shared Taxes. Penghitungan standardisasi figur dan penyesuaian mereka untuk keadaan daerah yang istimewa semuanya dibuat pada basis dari pra penentuan rumus untuk tujuan dan transparansi. Hasil dari perghitungan ini dan alokasi aktual dari Local Shared Tax di antara pemerintah lokal dipublikasikan tahunan kepada pengawas dan inspeksi publik. Disaat yang bersamaan Ordinary Local Shared Taxes adalah unconditional grants kepada pemerintah lokal, Special Shared Taxes adalah conditional grants kepada suplemen operasi dari Ordinary Local Shared Taxes.

Rumus matematis untuk alokasi dari local shared tax adalah: Fiscal Scarcity = Standard Fiscal Need (A) Standard Fiscal Revenue (B) Dimana: A = Standard fiscal need + Supplement Need (standard fiscal need = jumlah dari 29 barang yang mengukur unit X biaya unit X koefisien suplemen); B = local tax revenue X 0,8. Jumlah total untuk ditransferkan melalui local shared tax ditentukan (13,27 persen dari pendapatan pajak nasional), dan boleh tidak menutupi total dari kelangkaan fiskal lokal. Oleh karena itu, sebuah persentaserasio distribusidigunakan untuk menggandakan masing-masing kelangkaan fiskal lokalnya. Transfer aktual kepada sebuah daerah adalah oleh karena produk dari rasio distribusi dan kelangkaan fiskalnya. Rasio distribusi didefinisikan sebagai: Rasio Distribusi = Jumlah Transfer Total (C) / Total Kelangkaan Fiskal National Treasury Subsidy. Seperti pembayaran pemerintah pusatnya Jepang, Koreas National Treasury Subsidies adalah kategori grants yang disediakan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah lokal untuk proyek spesifik. National Treasury Subsidies diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: National Treasury Share, Promotion Subsidies, dan Specific Grants. National Treasury Share disediakan pada basis yang cocok untuk proyek perbaikan bencana alam, dan proyek konstruksi lainnya. Promotional Subsides dialokasikan kepada pemerintah lokal untuk mendorong untuk

menjalankan proyek-proyek pasti atau untuk menyediakan bantuan pembiayaan untuk proyek-proyek pasti. Specific Grants disediakan biasanya untuk biaya administrasi penuh beberapa fungsi nasional antara lain pemilihan umum (pemilu), rekuitmen militer, dll. Anggaran tahun 1994, National Treasury Subsidies mencapai 8,1 persen dari pandapatan asli daerah dan 4,3 persen dari pendapatan umum pemerintah pusat. Local Transfere Fund. Local Transfer Tax diperkenalkan pada 1991 untuk menguatkan basis fiskal lokal dan untuk memastikan keseimbangan pengembangan wilayah. Local Transfer Fund Act menetapkan bahwa 50 persen dari kelebihan pajak tanah, 80 persen dari pajak minuman keras, dan 100 persen dari pajak telepon adalah sumber daya dari Local Transfer Fund. The Act juga menentukan metode distribusi dan target proyek yang mana Local Transfer Fund adalah untuk digunakan oleh pemerintah lokal. Dana ditransfer secara langsung kepada pemerintah lokal di luar dari pendapatan pajak yang terdesain tanpa pertama kali dihitung untuk anggaran pemerintah pusat. Pada 1994, 70,5 persen dari Local Transfer Fund adalah untuk digunakan untuk pemeliharaan jalan lokal. Proyek-proyek lainnya yang didesain oleh Act adalah proyek pengembangan wilayah (17 persen), proyek pengembangan perdesaan (11,5 persen), dan proyek yang berhubungan dengan pemuda (1 persen). Rumus alokasi untuk masing-masing pemerintah lokal juga ditentukan dalam Act. Dana untuk jalan-jalan lokal dialokasikan pada basis proporsi dari standardisasi kekurangan fiskal dari pemerintah lokal, perencanaan proyek nasional dan lokal, dll. Fiscal Adjustment Grant. Fiscal Adjustment Grant adalah sebuah skema transfer yang diperkenalkan pada 1988 untuk Seoul dan lima kota besar untuk membantu dan meratakan basis fiskal dari distrik otonom dalam kota-kota mereka. Persentase tetap dari pajak akuisisi dan pajak pendaftaran digunakan untuk membiayai grant ini. Persentase ditentukan di masing-masing kota oleh peraturan kota. Alokasi dari grant untuk masing-masing dari distrik otonom dibuat oleh rumus yang dimodelkan setelah Local Shared Tax. Grant membantu pendapatan umum dari distrik. Pada 1994, Fiscal Adjustment Grant adalah 17,4 persen dari anggaran umumnya kota Seoul dan 33 persen dari anggaran umum distrik otonomnya. Untuk lima kota besar berkumpul membentuk grant 19,7 persen dari anggaran kota dan mencapai 40 persen dari anggaran distrik otonom. Provincial Government Transfer System. Ada dua bentuk dari sistem transfer antar pemerintah pada tingkat wilayah. Pertama adalah Provincial Subsidy, dan yang lainnya adalah Tax Collection Grant. Provincial Subsidy adalah grant spesifik yang mendasar yang ditentukan oleh pemerintah provinsi kepada pemerintah kota dan pemerintah daerah perdesaan untuk proyek spesifik. Tax Collection Grants menyediakan 30 persen pajak provinsi kepada pemerintah desa dan kota sebagai pendapatan umum mereka. Sistem ini adalah efek sebuah bentuk dari skema pembagian pajak antara

pemerintah provinsi dengan pemerintah desa dan kota.

KESIMPULAN Desain mekanisme Intergovernmental Grants di Indonesia, khususnya berupa Dana Alokasi Umum kami rasa belum tepat. Mekanismenya belum memenuhi asas efisiensi dan keadilan. Malah terkesan memperlebar kesenjangan antar daerah. Hal ini terlihat dari formula DAU yang tidak melihat pembangunan antar daerah sebagai acuan. Transfer di provinsi Sumatera Utara dan Daerah Istimewa Yogyakarta berupa Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Bagi Hasil (DBH). Dari data yang diperoleh, untuk Sumatera Utara yang mendapat bagian paling besar adalah Dana Alokasi Khusus yang mencapai 6,03% dari total DAK di nasional dibandingkan dengan Dana Alokasi Umum yang hanya 5,80% dari total DAU nasional dan Dana Bagi Hasil 2,83% dari total DBH nasional. Sedangkan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta yang paling besar adalah Dana Alokasi Umum yang mencapai 1,62% dari total DAU nasional dibandingkan dengan DAK yang hanya 1,17% dari total DAK nasional dan DBH 0,52% dari total DBH nasional. Melalui perspektif Internasional, kami berpendapat sebaiknya mekanisme Intergovernment Grants di Indonesia merupakan perpaduan dari Unconditional dan Conditional Grants. Hal ini dimaksudkan agar konsep pembangunan daerah sejalan dengan konsep pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

DAFTAR PUSTAKA Hyman, David. 2005. Public Finance: A Contemporary Application of Theory to Policy 8th Edition. New York: South-Western.

Ma, Jun. 1997. Intergovernmental Fiscal Transfer: A Comparison of Nine Countries (Case of the United States, Canada, the United Kingdom, Australia, Germany, Japan, Korea, India, and Indonesia). Washington: World Bank.

Panggabean TP. Mahi B. Panggabean PH. Brodjonegoro B. 1999 DISTRIBUSI DANA ALOKASI UMUM (DAU): KONSEP DAN FORMULA ALOKASI (Usulan Kepada BAKD- BAKM, Departemen Keuangan Republik Indonesia). Rosen, Harvey S,Ted Gayer. 2010. Public Finance 10th Edition. New York: Mc Graw Hill.

Silver, Christopher. Aziz, Iwan. Schroeder, larry. 2001. Intergovernmental Transfer and Decentralisation in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economics Studies, Vol 37 No.3

http://www.tkp2edak.org/dataperimbanganprov.asp?kdp=1200&hit=&dkd=Dana%20Perimbangan&pr v=Provinsi%20Sumatera%20Utara (diakses pada tanggal 25 Desember 2011).

http://www.tkp2edak.org/dataperimbanganprov.asp?kdp=3400&hit=&dkd=Dana%20Perimbangan&pr v=Provinsi%20DI%20Yogyakarta (diakses pada tanggal 25 desember 2011).