Anda di halaman 1dari 2

Model-model nilai Promosi Kesehatan

1. HBM (Health Belief Model Theory).


Teori ini dikembangkan oleh Becker (1974) dari teori lapangan (Field Theory, Lewin 1945) menjadi kepercayaan kesehatan (Health Belief Models)

Model kepercayaan Kesehatan (HBM)

Bidang pendidikan dan model ini menganggap bahwa prilaku kesehatan merupakan fungsi dari pengetahuan maupun sikap.
- Secara Khusus Model ini menegaskan menganggap bahwa seorang tentang kerentangan dan kemujaraban pengobatan dapat mempengaruhi keputusan seseorangdalam prilaku kesehatan.

- Health Belief Models Menyangkut orang terhadap keberhasilan suatu intervensi medis dan bila mereka melihat tidak akan mencari pertolongan medis atau pencegah penyakit bila mereka kurang pengetahuan dan motivasi minimal yang relevan dengan kesakitanya, bila memandang keadaan tidak cukup berbahaya bila tidak yang beberapa kesulitan dalam melakukan prilaku kesehatan yang disarankan.

Health Belief Models (HBM) menurut Resenstoch (1982) model kepercayaan Kesehatan mencakup 5 unsur utama antara lain : a. Perceived susceptibility adalah persepsi individu tentang kemungkinannya terkena suatu penyakit mereka yang merasadapat terkena penyakit tersebut akan lebih cepat terencam. b. Perceived threats adalah ancaman yang besar tersebut mendorong individu untuk melakukan tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit. Namun ancaman terlalu besar malah menimbulkan rasa takut dalam diri individu yang justru menghambatnya melakukan tindakan karena ia merasa tidak berdaya melawan ancaman itu. Guna mengurangi rasa ancaman itu ditawarkan suatu alternative tindakan petugas kesehatan. c. Perceived Benefitc and Barnes apakah individu akan menyetujui alternative yang di ajukan petugas kesehatan tergantung pada pandangan tentang manfaat dan hambatan dari pelaksanaan alternative tersebut. Individu akan mempertimbangkan, apakah alternative itu memang dapat mengurangi ancaman penyakit dan akibat merugikan. Namun sebaliknya, konsekuensi negative dari tindakan yang di ajukan itu (biaya yang mahal, rasa malu, takut akan rasa sakit) sering menimbulkan keinginan individu untuk justru menghindari alternative yang di ajukan petugas kesehatan. d. Cues to Action, untuk akhirnya memutuskan menerima atau menolak alternative tindakan tersebut,

diperlukan satu lagi faktor pencetus yang dapat dari dalam diri individu (munculnya gejala-gejala penyakit).