Anda di halaman 1dari 4

ILMU QIRAAT

A. PENGERTIAN Qiraat adalah bentuk masdar daripada qaraa atau jamak dari qiraah yang artinya bacaan. Menurut istilah ilmiah, qiraat adalah satu mazhab(aliran) pengucapan Al-Quran yang dipilih oleh salah seorang Imam qurra sebagai suatu mazhab yang berbeda dengan mazhab lainnya. Dengan kata lain ia membawa maksud perbedaan-perbedaan dalam membaca Al-Quran, yaitu perbedaan lafaz-lafaz Al-Quran mengenai huruf-huruf dan cara mengucapkannya di segi tebal atau tipis, panjang pendeknya dan sebagainya. Muhammad Abdul Azim Az-Zarqani mengatakan: Qiraat ialah suatu mazhab yang dipilih oleh imam qiraat yang antara satu dengan lainnya tidak sama dalam melafadzkan Al-Quran. Muhammad Salam Muhsin mengatakan: Qiraat adalah satu ilmu yang membahas tentang cara pengucapan kalimat-kalimat Al-Quran serta cara pelaksanaannya dengan menisbahkan setiap bacaany kepada seorang Imam pakar qiraat. Ilmu qiraat adalah bagian dari ulum Al-Quran atau ilmu-ilmu tentang Al-Quran yang membicarakan kaidah membaca Al-Quran. Ilmu itu disandarkan kepada Imam periwayat dan pengembangnya yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Cara pengambilan ilmu ini adalah dengan cara talaqi yaitu dengan memperhatikan bentuk mulut, lidah dan bibir guru ketika melafazkan ayat-ayat Al-Quran. Dari Definisi di atas, dapat kita simpulkan qiraat adalah suatu ilmu pengetahuan mengenai cara melafazkan Al-Quran secara praktikal dengan pengucapannya yang baik, entah itu disepakati atau diperselisihkan kesahihannya dengan berdasar pada mazhab-mazhab yang diakui sanadnya hingga sampai kepada Rasulullah SAW. Dan Qiraat yang dianggap mutawatir dalam pembacaan AlQuran adalah Qiraat Sabah atau Qiraat Tujuh. Sebagian orang menyangka bahawa qiraat atau macam-macam bacaan Al-Quran tersebut dibuat oleh Rasulullah SAW atau oleh para sahabat dan para tabiin. Anggapan tersebut adalah tidak benar berdasarkan riwayat puluhan hadis sahih yang menerangkan berbagai bacaan semenjak Al-Quran diturunkan. Kesemua bacaan yang diriwayatkan

oleh ketujuh imam itu telah diakui dan disepakati oleh para ulama dan benar2 dari Rasulullah SAW yang dikenal dengan Qiraat Sabah atau Qiraat Tujuh. Abu Ubayd al-Qasim bin Salam sebagaimana yang disebutkan oleh al-Suyuti di dalam kitabnya. mengatakan : Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah kamu mana yang mudah daripadanya.(HR Bukhari dan Muslim). B. PENDAPAT ULAMA DAN MACAM QIRAAT Para ulama berbeda pendapat mengenai Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf yaitu sebagai berikut : a. Pendapat pertama adalah yang mengatakan Al-Quran itu diturunkan dalam tujuh bahasa dari tujuh bangsa selain bangsa Arab. Pendapat ini karena adanya kalimat-kalimat yang bukan dari bahasa Arab dalam Al-Quran seperti Sirat (Rome), Istabraqen (Yunani), Sijjil(Parsi), Haunaan(Siryani). b. Pendapat kedua adalah yang mengatakan Al-Quran itu diturunkan dengan tujuh jenis qiraat (bacaan) tetapi pendapat ini lemah. c. Pendapat ketiga adalah yang menyatakan bahwa yang dimaksudkan tujuh huruf tersebut ialah tujuh bahasa kabilah Arab yang masyhur di waktu itu. Para ulama berselisih pendapat mengenai hakikat makna tujuh huruf. Berikut beberapa pandangan ulama, tentang hakikat makna tujuh huruf tersebut :
Makna 7 Huruf (1) Larangan Balasan baik Bahasa Quraisy Qiraat Abu Bakar Dzahir Depan (2) Perintah Balasan buruk Bahasa Yaman Qiraat Umar Batin Akhir (3) halal Halal Bahasa Jarham Qiraat Usman Fardu Faraid (4) haram Haram Bahasa Hairizam Qiraat Ali Sunat Hudud (5) peringatan Peringatan Bahasa Qurdaah Qiraat Ibn Masud Khusus Peringatan (6) perbandingan Perbandingan Bahasa Al Tamim Qiraat Abbas Umum (7) Hujah Hujah Bahasa Ther Qiraat Ubay bin Kaab Perbandingan

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Mutasyabihah Perbandingan

7. 8. 9.

Perintah Hamzah Perintah

Larangan Imalah Larangan

Akad Jual Baris Atas Berita Gembira

Akad Beli Baris Bawah Peringatan

Ilmu Ghaib Tebal Khabar

Zahir Panjang Perbandingan

Batin Pendek Peringatan

Demikianlah pendapat ulama yang bermacam-macam mengenai maksud tujuh huruf dalam Al Quran. Tetapi dari sekian banyaknya perbedaan pendapat tentang tujuh huruf, Pendapat yang paling masyhur mengenai penafsiran Sabatu Ahruf adalah pendapat Ar- Razi dikuatkan oleh AzZarkani dan didukung oleh jumhur ulama. Yaitu Perbedaan yang berkisar pada tujuh wajah: 1. Perbedaan pada bentuk isim, antara mufrad, tasniah, jamak muzakkar atau muannath. Contoh : qiraat lain . (Al-Mukminun) Yaitu dan dibaca mufrad dalam

2. Perbedaan bentuk fiil madhi , mudhari atau amar. Contoh: (Saba : 19) Sebagian qiraat membaca lafaz rabbana dengan rabbuna, dan dalam kedudukan yang lain lafaz baidu dengan baada. 3. Perbedaan dalam bentuk irab. Contoh, lafadz (Al-Baqarah: 282) dibaca dengan disukunkan huruf ra sedangkan yang lain membaca dengan fathah. 4. Mendahulukan (taqdim) dan mengakhirkan (takhir). atau lebih dikenal dg taqdim takhir. Contoh : diakhirkan al-maut, (Surah Qaf: 19) dibaca dengan didahulukan al-haq dan . Tapi Qiraat ini dianggap lemah.

5. Perbedaan dalam menambah dan mengurangi. Contoh ayat 3, Surah al-Lail, . Ada qiraat yang membuang lafaz ma kholaqo. 6. Perbedaan ibdal (pergantian huruf). Contoh, kalimah nunsyizuha dalam ayat 259 Surah alBaqarah dibaca dengan nunsyiruha (zai diibdalkan dengan huruf ra). 7. Perbedaan lahjah seperti dalam masalah imalah, tarqiq, tafkhim, izhar, idgham dan sebagainya. Perkataan wadduha dibaca dengan fathah dan ada yang membaca dengan imalah , yaitu dengan bunyi wadduhe (sebutan antara fathah dan kasrah). C. SYARAT QIRAAT Melalui perkembangan ilmu qiraat yang pesat, lahirlah berbagai bentuk bacaan yang semuanya bersumber dari Rasulullah SAW. Hal ini karena pemahaman mereka yang berbeda dalam memahami maksud Rasulullah SAW yang mengatakan Al-Quran itu diturunkan dalam tujuh huruf.

Oleh karena itu masing-masing pembawa qiraat mendakwa qiraatnya berasal dari Rasulullah SAW, Hingga di masa itu, belum dirumuskan dan belum dipastikan bacaan mana yang betul-betul dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, para ulama merumuskan tiga syarat bagi setiap qiraat yang dianggap betul dari Rasulullah SAW: a. Sanadnya Sahih maksudnya, suatu bacaan dianggap sahih sanadnya apabila bacaan itu diterima darisalah seorang imam atau guru yang masyhur, tertib, tidak ada cacat dan sanadnya bersambung hingga kepada Rasulullah SAW. b. Sesuai Dengan Rasm Usmani maksudnya, suatu qiraat dianggap sahih apabila sesuai dengan salah satu Mashaf Usmani ( yang berjumlah 6 ) yang dikirimkan ke bnerbagai wilayah Islam kerana ia mencakup sabatu ahruf. c. Sesuai dengan tata bahasa Arab Tapi syarat terakhir ini tidak berlaku sepenuhnya, sebab ada sebagian bacaan yang tidak sesuai dengan tata bahasa Arab, namun karena sanadnya sahih dan mutawatir maka qiraatnya dianggap sahih.