Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..................................................................................... DAFTAR ISI............................................................................................... BAB I a. b. c. PENDAHULUAN ....... ........

Latar Belakang ...................................................................................... Rumusan Masalah ................................................................................. Tujuan ..................................................................................................... BAB II PEMBAHASAN

a. b. c. d. e.

Pengertian Ijma.................................................................................. Syarat-Syarat Ijma.............................................................. Macam-Macam Ijma ............................................................................. Kemungkinan Terjadi Ijma;................................................................................. Kehujjaan Ijma menurut pandangan para ahli..

BAB III PENUTUP a. b. Kesimpulan........................................................................................ .......... Saran................................................................................................ ..........

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

MAKALAH PERSOALAN IJMA

DI SUSUN OLEH NAMA NPM SEMESTER : : : USMAN 710010010 TIGA ( III )

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BUTON FAKULTAS AGAMA ISLAM PRODI SYARIAH BAUBAU 2012

KATA PENGANTAR Bismillahhirrahmanirrahim Puji syukur kahadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan karunia, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga tetap mengalir deras pada pejuang kita yang namanya populerj dan berkibar diseluruh dunia yakni Nabi besar Muhammad Saw. Yang mana dengan perjuangan beliau kita dapat berada dalam cahaya islam dan iman. Selanjutnya penulis menyadari bahwa salam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kekurangan, sehingga penulis makalah ini sangat mengharapkan sadan dan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan dalam penulisan makalah selanjutnya. Akhirnya penulis berdoa semoga makalah ini akan membawa manfaat pada penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Penulis

Baubau 4, Januari 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ijma adalah salah satu dalil syara yang memiliki tingkat kekuatan argumentasi dibawah dalil-dalil Nas (Al-Quran dan Hadits) ia merupakan dalil pertama setelah Al-Quran dan Hadits yang dapat dijadikan pedoman dalam menggali hukum-hukum syara Namun ada komunitas umat islam tidak mengakui dengan adanya ijma itu sendiri yang mana mereka hanya berpedoman pada Al-Quran dan Al Hadits, mereka berijtihat dengan sendirinya itupun tidak lepas dari dua teks itu sendiri (AlQuran dan Hadits). Ijma muncul setelah Rasulullah wafat, para sahabat melakukan ijtihad untuk menetapkan hukum terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi. Khalifah Umar Ibnu Khattab ra. misalnya selalu mengumpulkan para sahabat untuk berdiskusi dan bertukar fikiran dalam menetapkan hukum, jika mereka telah sepakat pada satu hukum, maka ia menjalankan pemerintahan berdasarkan hukum yang telah disepakati. Terkait dengan ijma ini masih banyak komonitas diantaranya, sebagian mahasiswa yang masih minim dalam memahami ijma itu sendiri maka dari itu kami penulis akan membahas tentang ijma dan dirumuskan dalam rumusan masalah dibawah ini.

B. Rumusan Masalah a. Pengertian ijma b. Syara-syarat ijma c. Macam-macam ijma d. Kemungkinan terjadinya ijma e. Kehujjaan Ijma menurut pandanga ulama. C. Tujuan Dalam penulisan makalah ini penulis bertujuan agar kita para mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara untuk lebih memahami landasan hukum islam seperti ijma yang telah disepakati oleh para mujtahit yang dijadikan sebagai sumber hukum ketiga setelah Al-Quran dan Hadits.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Ijma Ijma menurut bahasa artinya sepakat, setuju atau sependapat. Sedangkan menurut istilah Kebulatan pendapat semua ahli ijtihad Umat Nabi Muhammd, sesudah wafatnya pada suatu masa, tentang suatu perkara (hukum).[1] Pada masa Rasulullah masih hidup, tidak pernah dikatakan ijma dalam menetapkan suatu hukum, kerena segala persoalan dikembalikan kepada beliu, apabila ada hal-hal yang belum jelas atau belum diketahui hukumnya. Ijma itu dapat terwujud apabila ada empat unsur. 1. Ada sejumlah mujtahid ketika suatu kejadian, karena kesepakatan (ijma) tidak mungkin ada kalau tidak ada sejumlah mujtahid, yang masing-masing mengemukakan pendapat yang ada penyelesaian pandangan. 2. Bila ada kesepakatan para mujtahid umat islam terhadap hukum syara tentang suatu masalah atau kejadian pada waktu terjadinya tanpa memandang negeri, kebangsaan atau kelompok mereka. Jadi, kalau mujtahid Makkah, Madihan, Irak, Hijaz saja umpamanya yang sepakat terhadap suatu hukum syara tidak dapat dikatakan ijma menurut syara kalau bersifat regional. Tetapi harus bertahap internasional. Masalah mungkin terjadi ijma atau tidak, lain lagi persoalannya, karena ada diantara ulama yang mengatakan mungkin dan ada pula yagn mengatakan tidak mungkin. 3. Kesepakatan semua mujtahid itu dapat diwujudakan dalam suatu hukum tidak dapat dianggap ijma kalau hanya berdasarkan pendapat mayoritas, jika mayoritas setuju, sedangkan minoritas tidak setuju. Berarti tetap ada perbedaan pendapat.

4. Kesepakatan para mujtahid itu terjadi setelah ada tukar menukar pendapat lebih dahulu, sehinga diyakini betul putusan yang akan ditetapkan.[2] B. Syarat-Syarat Ijma Dari definisi ijma di atas dapat diketahui bahwa ijma itu bisa terjadi bila memenuhi kriteria-kriteria di bawah ini. 1. Yang bersepakat adalah para mujtahid. Para ulama berselisih faham tentang istilah mujtahid. Secara umu mujtahid diartikan sebagai para ulama yang mempunyai kemampuan dalam mengistimbatkan hukum dari dalil-dalil syara. Dalam kita jamul jawami disebutkan bahwa yang dimaksud mujtahid adalah orang yang fakih. Beberapa pendapat tersebut sebenarnya mempunyai kesamaan, bahwa yang dimaksud mujtahid adalah orang Islam yang baligh, berakal, mempunyai sifat terpuji dsan mempu mengistimbat hukum dari sumbernya. Dengan demikian, kesepakatan orang awam (bodoh) atau mereka yang belum mencapai derajat mujtahid tidak bisa dikatakan ijma begitu pula penolakan mereka, karena mereka tidak ahli dalam menelaah hukum-hukum syara. 2. Yang bersepakat adalah seluruh mujtahid. Bila sebagian mujtahid bersepakat dan yang lainnya tidak meskipun sedikit, maka menurut jumhum, hal itu tidak bisa dikatakan jima. Karena ijma itu harus mencakup keseluruhan mujtahid. Sebagaimana ulama berpandangan bahwa ijma itu sah bila dilakukan oelh sebagian besar mujtahid, karena yang dimaksud kesepakatan ijma termasuk pula kesepakatan sebagian besar dari mereka. Begitu pula menurut kaidah fiqih, sebagian besar itu telah mencakup hukum keseluruhan.

3. Para mujtahid harus umat Muhammad SAW. Kesepakatan yang dilakukan oleh para ulama selain umat Muhammad SAW. tidak bisa dikatakan ijma, hal itu menunjukkan adanya umat para nabi lain yang berijma, adapun ijma umat Nabi Muhammad SAW. tersebut telah dijamin bahwa mereka tidak mungkin berijma untuk melakukan kesalahan. 4. Dilakukan setelah wafatnya Nabi. Ijma itu tidak terjadi ketika Nabi masih hidup, karena Nabi senantiasa menyepakati perbuatan-perbuatan para sahabat yang dipandang baik adna itu dianggap sebagai syariah. 5. Kesepakatan mereka harus berhubungan dengan Syariat. Maksudnya, kesepakatan mereka haruslah kesepakatan yagn ada kaitannya dengan syariat, seperti tentang wajib, sunah, makruh, haram dan lainlain.[3] C. Macam-Macam Ijma Ijma ditinjau dari cara penetapannya ada dua: 1. Ijma Sharih; Yaitu para mujtahid pada satu masa itu sepakat atas hukum terhadap suatu kejadian dengan menyampaikan pendapat masing-masing mujtahid mengungkapkan pendapatnya dalam bentuk ucapan atau perbuatan yan mencerminkan pendapatnya. 2. Ijma Sukuti: Sebagian mujtahid pada satu masa mengemukakan pendapatnya secara jelas terhadap suatu peristiwa dengan fatwa atau putusan hukum. Dan sebagian yang lain diam, artinya tidak mengemukakan komentar setuju atau tidaknya terhadap pendapat yang telah dikemukakan.[4] D. Kemungkinan Terjadi Ijma

Para ulama berbeda pendapat tentang kemungkinan adanya ijma dan kewajiban melaksanakannya. Jumhur berkata, ijma itu bisa terjadi bahkan telah terlaksana. Sedangkan pengikut Nizam dan golongan Syiah menyatakan, ijma itu tidak mungkin terjadi, dengan mengemukakan beberapa argumen, antara lain: Pertama, sesungguhnya ijma yang dimaksudkan oleh jumhur terntang diharuskannya adanya kesepakatan semua mujtahid pada suatu masa sehingga harus memenuhi dua kriteria: 1. Mengetahui karakter setiap mujtahid yang dikategorikan mampu untuk mengadakan ijma. 2. Mengetahui pendapat masing-masing mujtahid tentang permasalahan tersebut. Kedua, ijma itu harus bersandarkan kepada dalil, baik yang qathI ataupun yang dhanni. Bila berlandaskan pada dalil qathI maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu tidak membutuhkan ijma. Sebaliknya bila didasarkan pada dalil yang dzanni, dapat dipastikan para ulama akan berbeda pendapat karena masing-masing mujtahid akan mengeluarkan pendapatnya dengan kemampuan berfikir daya nalar mereka, disertai berbagai dalil yagn menguatkan pendapat mereka.[5] E. Kehujjaan Ijma menurut Pandangan Ulama. Jumhur ulama berpendapat, bahwa ijma dapat dijadikan argumentasi (hujjah) berdasarkan dua dalil berikut: Hadits-hadits yang menyatakan bahwa umat Muhammad tidak akan bersepakat terhadap kesesatan. Apa yang menurut pandangan kaum muslimin baik, maka munurut Allah juga baik. Oleh karena itu, amal perbuatan para sahabat yang telah disepakati dapat dijadikan argumentasi.[6] Ada beberapa permasalahan yang berkaitan dengan kehujjahan ijma, misalnya, apakah ijma itu hujjah syari? Apakah ijma itu merupakan landasan usul fiqih atau bukan? Bolehkah kita menafikan atau mengingkari ijma?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, para ulama berbeda pendapat. Al-Qardawi berpendapat bahwa orang-orang hawn tidak menjadikan ijma itu sebagai hujjah, bahkan dalam sejarahnya dia mengatakan bahwa ijma itu bukan hujjah secara mutlak. Menurut Al-Maidi, para ulama telah sepakat mengenai ijma sebagai hujjah ygn wajib diamalkan. Pendapat tersebut bertentangan dengan Syiah, Khawarij dan Nizam dari golongan Mutazilah. Al-Hajib berkata bahwa ijma itu hujjah tanpa menanggapi pendapat Nizam, Khawarij dan Syiah. Adapun Ar-Rahawi berpendapat bahwa ijma itu pada dasarnya adalah hujjah. Sedangkan dalam kitab Qawaidul Usul dan Maqidul Usul dikatakan bahwa ijma hujjah pada setiap masa. Namun pendapat itu ditentang oleh Daut yang mengatakan bahwa ijma itu hanya terjadi pada masa sahabat.[7] Kehujjahan ijma juga berkaitan erat dengan jenis ijma itu merupakan sendiri, yaitu sharih dan sukuti, agar lebih jelas maka pendapat mereka tentang ijam akan ditinjau berdasarkan pembagian ijma itu sendiri. 1. Kehujjahan ijma sharih Jumhur telah sepakat bahwa ijma sharih itu merupakan hujjah secar qathi, wajib mengamalkannya dan haram menentangnya. Bila sudah terjadi ijma pada suatu permasalahan maka ita menjadi hukum qathI yang tidak boleh ditentang, dan menjadi menjadi masalah yang tidak boleh diijtihadi lagi. Dalil-dalil yang dikeluarkan oleh jumhur Firman Allah SWT. dalam surat Annisa ayat 115. Artinya : Barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mumin, Kami biarkan ia leluasa terhadap

kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa: 115) Kehujjahan dalil dari ayat di atas adalah ancaman Allah SWT terhadap mereka yang tidak mengikuti jalannya orang-orang mumin. Disebutkan bahwa mereka akan dimasukkan ke neraka Jahanam dan akan mendapat tempat kembali yang buruk. Hal itu menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh oleh orangorang yang tidak beriman itu adalah batil dan haram diikuti. Sebaliknya, jalan yang ditempuh oleh orang-orang mumin adalah hak dan wajib diikuti. 2. Kehujjahan ijma sukuti Ijma Sukuti telah dipertentangkan kehujjahannya di kalangan para ulama. Sebagian dari mereka tidak memandang ijma sukuti sebagai hujjah bahkan tidak mengatakan sebagai ijma. Di antara mereka ialah pengikut Maliki dan Imam SyafiI yang menyebutkan hal tersebut dalam berbagai pendapatnya. Mereka berargumen bahwa diamnya sebagian mujtahid itu mungkin saja menyepakati sebagian atau bisa saja tidak sama sekali. Misalnya karena tidak melakukan ijtihad pada satu masalah atau takut mengemukakan pendapatnya sehingga kesepakatan mereka terhadap mujtahid lainnya tidak bisa ditetapkan apakah hal itu qathI atau zanni. Jika demikian adanya, tidak bisa dihalalkan adanya kesepakatan dari seluruh mujtahid. Berarti tidak bisa dikatakan ijma ataupun dijadikan sebagai hujjah. Sebagian besar golong Hanafi dan Imam Ahmad bin Hambal menyatakan bahwa ijma sukuti merupakan hujjah qatI seperti halnya ijma sharih. Alasan mereka adalah diamnya sebagian mujtahid utuk menyatakan sepakat ataupun tidaknya terhadap pendapat yang dikemukakan oleh sebagian mujtahid lainnya, bila memenuhi persyaratan adanya ijma sukuti, bisa dikatakan sebagai dalil tentang kesepakatan mereka terhadap hukum. Dengan demikian, bisa juga dikatakan sebagai hujjah yang qatI karena alasannya juga menunjukkan adanya ijma yang tidak bisa dibedakan dengan ijma sharih.[8]

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Dari pembahasan yang telah dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ijma adalah suatu dalil syara yang memiliki tingkat kekuatan argumentatif di bawah dalil-dalil nas (Al Quran dan hadits). Ia merupakan dalil pertama setelah Al Quran dan hadits. Yang dapat dijadikan pedoman dalam menggali hukum-hukum syara. Pada masa Rasulullah masih hidup, tidak pernah dikatakan ijma dalam menetapkan suatu hukum, karena segala permasalahan dikembalikan kepada beliau, apabila ada hal-hal yang belum jelas atau belaum diketahui hukumnya. Adapun dari ijma itu sendiri harus memenuhi syarat-syarat tertentu, agar dalam kesepakatan para mujtahid dapat diterima dan dijadikan sebagai hujjah/ sumber hukum (ijma) Dan dari ijma itu sendiri terdapat beberapa macam. Diantaranya: ijma sharih, ijma sukuti. Dari dua versi itu lahirlah perbedaan-perbedaan dalam pandangan ulama mengenai ijma itu sendiri. Seperti ijma sukuti misalkan, pengikut Imam Maliki dan SyafiI memandang bahwa ijma sukuti sebagai hujjah bahkan tidak menganggap sebagai ijma. Sedangkan segolongan dari Imam Hanafi dan Imam Ahmad bin Hambal menyatakan sebaliknya. B. SARAN DAN KRITIKAN Jadikanlah makalah ini sebagai media untuk memahami diantara sumbersumber Islam (ijma) demi terwujudnya dan terciptanya tatanan umat (masyarakat)

adil dan makmur. Kami sadar, dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Maka dari itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan dan konstruktif demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA M. Ali Hasan. Perbandingan Mazhab. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2007. Drs. Moh. Rifai. Usul Fiqih. Bandung: PT. Almaarif 1973. Prof. Dr. Abdul Wahab Khallaf. Ilmu Usul Fiqih. Pustaka Amani, Jakarta 2003. Prof. Dr. Rachmat Syafii. MA. Ilmu Usul Fiqih. Bandung: Pustaka Setia 2007. Prof. Muhamad Abu Zahrah. Usul Fiqih. Jakarta: Pustaka Firdaus, Cetakan Pertama 1994., Cetakan Kesembilan 2005.