Anda di halaman 1dari 4

Bening Cinta Bunda

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tak dapat terlihat. Cinta sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui. Namun, pada apa yang dikerjakan namun tidak diketahui. *** pBoleh saya melihat bayi saya dulu, Dok?q pinta seorang wanita yang baru melahirkan dengan penuh kebahagiaan. pOh, bisa. Bayi anda sangat tampan, tapi.....q kata Dokter tanpa melanjutkan ucapannya. pTapi apa Dok?q tanya wanita itu cemas. pBayi anda lahir tanpa,,, kedua daun telingaq ucap Dokter dengan hati-hati. pApa...!!! Kenapa bisa seperti ini??? Ayah, kenapa terjadi pada anak kita?q ujarnya tanpa mampu membendung air matanya. pYang sabar ya Bun, ini sudah takdir dari Yang Kuasa untuk kita. Apapun yang terjadi pada bayi ini, dia tetap anak kita. Buah hati kita. Dan kita harus menerimanyaq kata lelaki yang tak lain adalah suaminya. Dia mencoba menghibur istrinya. Diterimanya bayi itu dari tangan dokter, kemudian dikecupnya. pOh anakku, kasihan sekali dirimu Nak!!q batinnya merintih. Beberapa tahun kemudian... Waktu telah membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Ia menjadi anak yang tampan dengan cacatnya. Hanya penampilannya saja yang terlihat agak aneh dan buruk. pBunda, tadi beberapa teman di sekolah Faris bilang, Faris ini makhluk aneh. Kenapa sih Bun, hanya karena Faris tidak seperti mereka, mereka enggan berteman dengan Faris?q kata Faris dengan raut muka yang sedih. Dipeluknya permata hati satu-satunya itu. Ia menghela nafas panjang. Ada rasa perih yang menggelayut di hatinya mendengar cerita putra tercintanya itu. pSayang, Bunda kan sudah pernah bilang pada Faris. Gak usah diambil hati teman-teman Faris yang bilang seperti itu. Walaupun ada ketidaksempurnaan fisik dalam diri Faris, tapi Faris gak boleh minder. Faris harus bisa menjadi lebih baik dari mereka. Satu lagi, Faris gak boleh membenci mereka. Faris mengerti kan, apa kata Bunda?q ucap Bunda menenangkan hati Faris. Faris mengangguk. Dalam dekapan Bunda, tak ada kesedihan yang menyelimutinya. Walaupun ada beberapa teman Faris yang enggan berdekatan dengannya, tapi masih banyak teman-teman lain yang menyukainya. Karena selain pintar dalam bidang fisika, ia juga mahir dalam bidang jurnalistik dan musik. Beberapa penghargaan tingkat karesidenan sampai nasional berhasil ia raih saat mengikuti perlombaan mewakili sekolahnya. pYah, bagaimana dengan ide Ayah kemarin yang mau mencari seseorang yang bersdia mencangkokkan kedua daun telinganya untuk anak kita? Bunda tidak tega bila melihat anak kita bersedih karena cacatnya.q pBunda, susah mencari orang yang seperti itu. Ayah telah berusaha mencari siapa yang mau mencangkokkan kedua daun telinganya. Tapi susahq jawab Ayah dengan nada putus asa. ***

Beberapa minggu kemudian..... pFaris, ada orang yang sanggup mencangkokkan daun telinganya untukmu. Besok kamu ke Rumah Sakit ditemani Ayah untuk melakukan operasi tersebut.q kata Ayah. pBenar Yah? Siapa orangnya?q ucap Faris dengan nada gembira dan tak percaya. pOrang itu tak ingin identitasnya diketahui, dia meminta untuk dirahasiakan.q jawab Ayah. pSayang sekali Yah, padahal aku sangat ingin mengetahuinya dan berterimakasih padanya. Siapapun orangnya, dia pasti memiliki hati yang mulia. Sehingga merelakan kedua daun telinganya dicangkokkan pada Farisq kata Faris dengan agak kecewa. Esok harinya, operasi telah dilaksanakan dan dinyatakan sukses. Ayah dan Bunda merasa senang melihat rona bahagia yang terpancar dari wajah anaknya. Kini, anaknya telah menjadi anak yang sempurna fisiknya tanpa cacat. Seperti yang mereka harapkan. Hari berganti bulan, bulanpun terus merangkak mengejar tahun. Tahun demi tahun telah berlalu. Kini, Faris kecil yang polos dan cerdas telah berganti menjadi sosok laki-laki yang matang. Bakat-bakatnya telah berubah menjadi kejeniusan. Semua itu tetap tak membuatnya tinggi hati. Ia selalu ingat, siapa dirinya waktu kecil. Ia hanya bayi yang lahir dari rahim seorang Bunda yang begitu dicintainya dengan tanpa memiliki dua daun telinga. Ia hanya anak cacat yang mendapat curahan kasih sayang yang sangat besar dari kedua orang tuanya yang selalu memotivasinya untuk menggali segala kemampuan yang ada pada dirinya. Ia merasa begitu beruntung memiliki sosok seperti Ayah yang mengajarkan kekuatan dalam menghadapi kerasnya kehidupan, dan Bunda yang selalu menjadi sandaran hatinya kala kesedihan menyapa batinnya. Hingga kini, masih ada pertanyaan besar yang mengganjal hatinya, siapa orang yang telah menghadiahinya dua daun telinga itu, hingga ia dapat merasakan nikmatnya menjadi manusia tanpa cacat. Telah berkali-ia bertanya, tapi tetap tak ada jawaban yang keluar dari mulut Ayah dan Bundanya. pYah aku harus tahu siapa yang telah berbuat sesuatu yang besar untukku, karena aku sama sekali belum pernah membalas kebaikannya.q ucap Faris. qAyah yakin, kamu tak bisa dan tak sanggup membalas kebaikan orang yang telah memberi daun telinganya untukmu. Mungkin, suatu saat kamu akan mengetahuinya. Entah kapan waktu itu akan tiba dan menjawab semuanya.q jawab Ayah bijak. Faris terdiam. Mungkin ia memang harus menunggu sang waktu menjawab segala rasa penasarannya, meskipun ia tak yakin jika waktu itu akan benar-benar tiba. *** Pagi itu terlihat cerah. Mentari menyapa alam raya dengan sinarnya yang indah dan hangat. Ayahpun telah bersiap-siap untuk pergi ke kantor dengan semangat, tak berbeda juga dengan Faris, ia pun telah siap untuk ke kampus. pYah, Ris, Bunda sekalian mau pamit.q ucap Bunda tiba-tiba. pPamit??.... Memangnya mau pergi kemana Bun?.q tanya Ayah heran. pNanti sore ada arisan bulanan ibu-ibu pengajian di rumah Bu RT.q nOh,,, itu kan sudah menjadi agenda bulanan Bunda. Kenapa pamit segala?q tanya Ayah. pYa memang sih o Yah, tapi kan lebih baik pamit dulu sama Ayah. Sama Faris sekalian. Apalagi nanti kan kalian pulang sore. Jadi kalau Bunda gak ada di rumah jangan khawatir yaq jawab Bunda.

pAh, Bunda hari ini aneh. Udah biasa kan, Ayah sama Faris di rumah berdua jika Bunda arisan.q ujar Faris menatap Bunda penuh tanya. Ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan, tapi ia tak tahu. Tanpa sepengetahuan Faris ternyata Ayah juga merasakan hal yang sama. Bunda hanya menanggapinya dengan senyum. pAyah dan Faris pergi dulu ya Bun, ayo Yah kita berangkat sekarang.q ucapnya kemudian. Ia cium punggung tangan Bunda dan kedua pipinya. Bundapun melakukan hal yang sama pada Ayah. pHati-hati!q pesan Bunda. *** Pagi yang tadinya indah berubah seketika menjadi sore yang mendung. Ketika baru saja Ayah meerima telepon dari RS. Dharma yang mengabarkan bahwa istrinya mengalami pendarahan di kepalanya karena terpeleset di kamar mandi. Ia pun langsung menelpon Faris yang baru keluar dari kampus untuk mengabarkan hal yang sama, dan memintanya segera menuju ke RS. Dharma secepatnya. pApa yang sebenarnya terjadi pada Bunda, Yah?q tanya Faris kaget dan gugup begitu tiba di RS. pAyah sendiri kurang begitu tahu. Tadi tante Mely telepon, ketika ia datang ke rumah untuk menjemput Bunda, ia heran karena rumah terbuka tapi terlihat sepi. Kemudian ia mencari Bunda dan ia sangat kaget ketika di dekat pintu kamar mandi ia melihat Bunda yang sudah bersimpuh darah di kepalanya dalam keadaan pingsan. Ia pun kemudian langsung membawanya ke RS. Tapi segera pulang karena mendengar kabar bahwa anaknya di rumah yang kecil sakit dan rewel. Sekarang Bunda baru mendapatkan perawatan yang serius dari dokter. Lebih baik kita tunggu saja keterangan lebih lanjut darinya,q jawab Ayah panjang lebar dan agak tenang meskipun perasaannya kini diliputi kekhawatiran yang sama. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruang UGD. Bagaimana keadaan istri saya dok?q tanya Ayah tergesa-gesa begitu melihat dokter itu selesai menangani Bunda. pPendarahan dari kepalanya terlalu banyak, akibat terkena sisi lancip bak kamar mandi yang tepat mengenai otak kecilnya. Diperkirakan jatuhnya istri anda sudah sejak siang tadi, dan karena saudaranya terlambat membawanya kesini jadi kondisi istri anda.......q ucap dokter memotong pembicaraanya. pKondisi istri saya bagaimana Dok?q tanya Ayah dengan wajah yang pucat. pDok, bagaimana kondisi Bunda saya sekarang Dok? Tolong katakan pada kami.q ucap Faris tak kalah tegang. pMaafkan kami, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lainq. pMaksud Dokter?q tanya Faris dan Ayah bersamaan. pDengan berat hati saya katakan, istri atau bunda anda tak dapat diselamatkan...q Bagai mendengar guntur di malam yang pekat ketika mendengar penjelasan Dokter. Ayah hanya terdiam, tertunduk lesu, teringat kata-kata istrinya tadi pagi. Ternyata, ia ingin berpamitan padanya untuk selamalamanya. Ah, firasatnya tadi pagi memang benar. Bahwa istrinya terlihat lain dari biasanya. pTidaaaaaakkkk!!!! Tak mungkin Bunda meninggalkan Faris secepat ini. Tidak mungkin!!!q jerit Faris tanpa mampu lagi menahan air matanya. pRis, tenanglah. Ini kenyataan yang harus kita terima. Ikhlaskan Bunda, Ris. Agar Bunda bisa tenang di alam sana. Ujar Ayah mencoba menghibur Faris. pDok, sekarang kita boleh melihat jenazahnya, kan?q tanya Ayah. pOh ya, silahkanq jawab Dokter. Kemudian permisi meninggalkan mereka. Ayah dan Faris berdiri tepat di tepi jenazah bunda. Keduanya mematung meratapi jenazah Bunda yang terbujur kaku. Wajahnya terlihat seperti orang yang sedang tidur. Apalagi dipadu dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum. pMungkin tak ada yang mengira jika Bunda sudah........... Ah Bun,

mengapa Bunda meninggalkan Ayah?q ucap Ayah terbata. Butiran disudut matanya yang sedari tadi ia tahan agar tak terlihat di depan anaknya, akhirnya tumpah sudah. Faris yang melihatnya semakin tak kuasa untuk membendung air matanya. pSudahlah Yah, ini mungkin cobaan buat kita. Kita harus sabar Yah, p asrahkan semuanya p ada Allah. Bunda memang telah p ergi dari kehidup an kita, tap i ia akan tetap ada dalam hati kita untuk selamanya. Ya, selamanya...q kata Faris menghibur ayahnya. Hatinya semakin teriris. Ia merasa begitu kehilangan sang mentari yang selalu sanggup untuk menghangatkan hatinya. Dengan p erlahan dan lembut, Ayah membelai rambut Bunda dan menyibaknya. Hingga tamp aklah....... bahwa sang Bunda tidak memiliki daun telinga. Faris menganga tak p ercaya melihatnya. pBunda.... Ayah,,, jadi.... Bunda orangnya?q lagi-lagi Faris tak kuasa membendung tangisnya. Air matanya mengalir membasahi wajahnya. Matanya dan hidungnya yang mancung terlihat memerah. pBunda, kata ap a yang p antas ku ucap kan untukmu?... Semua kasih sayang telah kau curahkan. Bahkan kedua daun telingap un telah engkau relakan untuk anakmu yanga tak kan mamp u membalas semua jasamu ini, Bunda. Andai saja aku dap at menggantikanmu. Akan kugantikan nyawaku untukmu.q Batin Faris. Ia tahu, tak seharusnya ia berkata begitu. Kini ia tak bisa lagi merasakan cinta Bunda yang bening sebening embun di p agi hari. Yang tersisa sekarang hanyalah hamp a. pBunda p ernah berkata bahwa ia senang sekali memanjangkan rambutnya.q kata Ayah p elan. pDan tak seorangp un menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?q *** By: Hana Helnayalida