Anda di halaman 1dari 7

Anemia Hemolitik: Anemia Sel Sabit

Posted on May 25, 2011

Anemia sel sabit adalah gangguan resesif autosomal yang disebabkan pewarisan dua salinan gen hemoglobin defektif, masing-masing satu dari orang tua. Hemoglobin yang cacat tersebut, yang disebut hemoglobin S (HbS), menjadi kaku dan membentuk konfigurasi seperti sabit jika terpajan oksigen berkadar rendah. Tekanan oksidatif juga memicu produksi hasil akhir glikasi yang masuk ke dalam sirkulasi, sehingga memperburuk proses patologi vaskular pada individu yang mengidap anemia sel sabit. Sel darah merah pada anemia sel sabit ini kehilangan kemampuan untuk bergerak dengan mudah melewati pembuluh yang sempit dan akibatnya terperangkap di dalam mikrosirkulasi. Hal ini menyebabkan penyumbatan aliran darah ke jaringan di bawahnya, akibatnya timbul nyeri karena iskemia jaringan. Meskipun bentuk sel sabit ini bersifat reversible atau dapat kembali ke bentuk semula jika saturasi hemoglobin kembali normal, sel sabit sangat rapuh dan banyak yang sudah hancur di dalam pembuluh yang sangat kecil, sehingga menyebabkan anemia. Sel-sel yang telah hancur disaring dan dipindahkan dari sirkulasi ke dalam limpa; kondisi ini mengakibatkan limpa bekerja lebih berat. Jaringan parut dan kadang-kadang infark (sel yang sudah mati) dari berbagai organ, terutama limpa dan tulang, dapat terjadi. Disfungsi multiorgan sering terjadi setelah beberapa tahun. Kondisi-kondisi yang dapat menstimulasi sel sabit antara lain hipoksia, ansietas, demam, dan terpajan dingin. Karena limpa merupa-kan organ imun yang penting, infeksi, terutama yang disebabkan bakteri, umumnya dan sering menstimulasi krisis sel sabit. Pada saat lahir, tanda anemia sel sabit mungkin tidak terlihat karena semua bayi memiliki kadar tinggi jenis hemoglobin yang berbeda, yaitu hemoglobin fetal (F). hemoglobin fetal tidak berbentuk sabit, tetapi hanya bertahan dalam waktu kirakira 4 bulan setelah lahir. Pada saat inilah tanda penyakit mulai terlihat. Tandatanda ini termasuk gejala klasik anemia dan tanda yang berhubungan dengan karakteristik gangguan sumbatan yang sangat nyeri. Individu pengidap anemia sel sabit membawa dua gen defektif dan akibatnya hanya memiliki hemoglobin S. Individu yang heterozigot untuk gen sel sabit (membawa satu gen defektif dikatakan membawa sifat sel sabit. Heterozigot biasanya menggambarkan hemoglobin S pada sekitar 30 sampai 40% sel darah merahnya, dengan hemoglobin normal dibawa oleh sel darah merah yang tersisa. Individu ini biasanya asimtomatik kecuali terpajan dengan kadar oksigen yang rendah, terutama ketika berolahraga.

Akar demografik anemia sel sabit mungkin terlacak di area endemik malaria. Sifat sel sabit terbukti memberi perlindungan terhadap kerusakan sel darah merah setelah terinfeksi mikroorganisme yang bertanggung jawab menyebabkan malaria. Diduga bahwa perlindungan ini memungkinkan gen sel untuk bertahan selama proses evolusi di daerah-daerah endemik malaria, seperti daerah khatulistiwa di Afrika. Sedangkan di Amerika Serikat, anemia sel sabit terutama diderita oleh individu yang memiliki darah keturunan dari area Afrika tersebut: mencapai sekitar 10% keturunan Afro-Amerika membawa sifat ini, dan kira-kira satu dari setiap 375 anak Afro Amerika lahir dengan penyakit ini. Gambar 12.4 memperlihatkan diagram chi square pewarisan genetik anemia sel sabit. Gambaran Klinis - Terdapat tanda anemia sistemik. - Nyeri hebat yang intens akibat sumbatan vaskular pada serangan penyakit. - Infeksi bakteri serius disebabkan kemampuan limpa untuk menyaring mikroorganisrne yang tidak adekuat. - Splenomegali karena limpa membersihkan sel-sel yang mati, kadang menyebabkan krisis akut. Perangkat Diagnostik - Pada tahun 1949, Linus Pauling mengatakan bahwa anemia sel sabit merupakan penyakit molekuler, anggapan ini didasarkan pada perbedaan mobilitas elektroforetik hemoglobin di dalam sel darah pada pasien sel sabit homozigot (HbSS) dibandingkan dengan individu yang memiliki hemoglobin A normal dan heterozigot AS. Saat ini, hemoglobin elektroforesis digunakan untuk mengidentifikasi adanya hemoglobin sel sabit dan mengonfirmasi penyakit. Penapisan elektroforetik untuk hemoglobin normal pada bayi baru lahir merupakan perawatan standar di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya untuk memantau kelahiran bayi berisiko tinggi. - Pemeriksaan darah serial menunjukkan penurunan hematokrit, hemoglobin, dan hitung sel darah merah. - Pemeriksaan pranatal mengidentifikasi adanya status homozigot pada janin. Komplikasi - Insiden vaso-oklusif mengakibatkan infark jaringan yang dapat menyebabkan rasa nyeri yang intens dan disabilitas. - Terperangkapnya darah secara tiba-tiba di dalam limpa, yang disebut sekuestrasi limpa, dapat mengakibatkan hipovolemia, syok, dan potensi kematian. Penyebab sekuestrasi limpa belum diketahui dengan pasti, tetapi dapat terjadi bersama demam dan nyeri. Limpa sering kali diangkat setelah kejadian sekuestrasi tersebut. Tidak adanya limpa berakibat menurunkan kemampuan individu berespons terhadap proses infeksi.

- Stroke yang menyebabkan kelemahan, kejang, atau ketidakmampuan berbicara dapat terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah otak. - Krisis aplastik, dapat terjadi selama sumsum tulang menghentikan sementara proses eritropoiesis. - Nekrosis avaskular dari tulang panjang kaki atau lengan dapat terjadi karena oklusi atau penyumbatan. Dislokasi panggul merupakan sekuela yang umum terjadi akibat gangguan yang berat. - Priapisme, ereksi yang lama dan menyakitkan, dapat terjadi akibat vaso-oklusif pembuluh darah penis; kondisi ini dapat menyebabkan impotensi pada beberapa kasus. Penatalaksanaan - Penapisan bayi baru lahir untuk anemia sel sabit memiliki perbaikan prognosis yang dramastis pada bayi penderita penyakit ini. Semua bayi yang teridentifikasi, diberi antibiotik profilaksis (penisilin atau eritromisin) untuk mencegah infeksi, sejak lahir sampai setidaknya berusia 5 tahun. - Jika suatu saat terjadi demam atau berkembang tanda infeksi lainnya, anak harus segera dievaluasi dan diberi antibiotik parenteral. Kebanyakan anak yang mengalami demam harus dibawa ke rumah sakit. - Ibuprofen atau asetaminofen harus diberikan untuk meredakan nyeri minor, dan obat nyeri yang lebih poten jika perlu. - Semua anak usia imunisasi harus diberi imunisasi sesuai jadwal, dengan tambahan vaksin pneumokokus pada usia 2 tahun pertama dan dosis booster pada usia 5 tahun. Imunisasi yang sesuai jadwal dapat menurunkan penyebab utama kematian pada anakanak pengidap anemia sel sabit: infeksi yang berpotensi menjadi sepsis. - Meningkatkan hidrasi setidaknya 1,5 sampai 2 kali dari kebutuhan normal dapat menurunkan tingkat keparahan kejadian vasooklusif atau sumbatan pembuluh darah. - Menghindari situasi yang menyebabkan kadar oksigen rendah atau aktivitas yang memerlukan banyak oksigen. - Terapi obat, termasuk sediaan hidroksiurea (suatu obat sitotoksik fase-S), dapat digunakan. Hidroksiurea memiliki efek langsung terhadap peningkatan volume sel dan peningkatan produksi hemoglobin janin. Tidak hanya hemoglobin janin yang tidak berbentuk sel sabit, tetapi juga meningkatkan afinitas untuk oksigen dibandingkan dengan hemoglobin orang dewasa. Obat lainnya dengan mekanisme yang hampir sama juga tersedia. - Menggunakan agens penyekat saluran ion, anti-adhesi dan antiinflamasi yang mengganggu interaksi sel darah merah yang cederaendotel, membatasi kerusakan vaskular yang berkaitan dengan gangguan. - Transfusi sel darah merah sering kali diperlukan tetapi harus dibatasi jika mungkin untuk menurunkan risiko penyebaran agens infeksi.

- Transplantasi sumsum tulang dengan HLA donor yang sesuai dapat mengeliminasi produksi sel sabit, tetapi tidak akan memperbaiki kerusakan organ, dan memerlukan penggunaan imunosupresan seumur hidup untuk menghambat reaksi penolakan. - Inhalasi oksida nitrat mungkin digunakan untuk mencegah hipertensi pulmonalis yang berkaitan dengan anemia sel sabit. - Konseling genetik untuk keluarga memungkinkan keputusan memiliki anak berdasarkan informasi.
Diagnose,,
Dalam HbSS, jumlah penuh darah mengungkapkan tingkat hemoglobin dalam kisaran 6-8 g/dL dengan hitungan retikulosit tinggi (seperti sumsum tulang mengkompensasi kerusakan sel-sel sabit dengan memproduksi lebih banyak selsel darah merah). Dalam bentuk anemia sel sabit, Hb tingkat cenderung lebih tinggi. Film darah dapat menunjukkan fitur hyposplenism (sel target dan HowellJolly tubuh). Sickling sel darah merah, pada film darah, dapat disebabkan oleh penambahan natrium metabisulfite. Kehadiran sabit hemoglobin juga dapat dibuktikan dengan "sabit kelarutan tes". Campuran hemoglobin S (Hb S) di solusi yang mengurangi (seperti natrium dithionite) memberikan penampilan keruh, sedangkan normal Hb memberikan solusi yang jelas. Bentuk-bentuk hemoglobin abnormal dapat dideteksi pada hemoglobin Elektroforesis, bentuk Elektroforesis gel yang berbagai jenis hemoglobin bergerak pada kecepatan yang berbeda-beda. Anemia sel hemoglobin (HgbS) dan hemoglobin c dengan sickling (HgbSC)-dua bentuk paling umum dapat diidentifikasi dari sana. Diagnosis dapat dikonfirmasikan dengan tinggi Kromatografi cair (HPLC). Pengujian genetik jarang dilakukan, seperti penyelidikan lain sangat spesifik untuk HbS dan HbC. Krisis akut anemia sel sering dipicu oleh infeksi. Oleh karena itu, urine untuk mendeteksi infeksi saluran kemih okultisme, dan sinar-X untuk mencari okultisme radang paru-paru dada harus secara rutin dilakukan.

DEFINISI Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease adalah suatu penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit dan anemia hemolitik kronik. Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit. Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati pembuluh darah, menyebabkan anemia berat, penyumbatan aliran darah, kerusakan organ dan

mungkin kematian.

PENYEBAB Penyakit sel sabit hampir secara eksklusif menyerang orang kulit hitam. Sekitar 10% orang kulit hitam di AS hanya memiliki 1 gen untuk penyakit ini (mereka memiliki rantai sel sabit) dan tidak menderita penyakit sel sabit. Sekitar 0,3% memiliki 2 gen dan menderita penyakit sel sabit.

GEJALA Penderita selalu mengalami berbagai tingkat anemia dan sakit kuning (jaundice) yang ringan, tetapi mereka hanya memiliki sedikit gejala lainnya. Berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen dalam darah, (misalnya olah raga berat, mendaki gunung, terbang di ketinggian tanpa oksigen yang cukup atau penyakit) bisa menyebabkan terjadinya krisis sel sabit, yang ditandai dengan : - semakin memburuknya anemia secara tiba-tiba - nyeri (seringkali dirasakan di perut atau tulang-tulang panjang) - demam - kadang sesak nafas. Nyeri perut bisa sangat hebat dan bisa penderita bisa mengalami muntah; gejala ini mirip dengan apendisitis atau suatu kista indung telur. Pada anak-anak, bentuk yang umum dari krisis sel sabit adalah sindroma dada, yang ditandai dengan nyeri dada hebat dan kesulitan bernafas. Penyebab yang pasti dari sindroma dada ini tidak diketahui tetapi diduga akibat suatu infeksi atau tersumbatnya pembuluh darah karena adanya bekuan darah atau embolus (pecahan dari bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah). Sebagian besar penderita mengalami pembesaran limpa selama masa kanakkanak. Pada umur 9 tahun, limpa terluka berat sehingga mengecil dan tidak berfungsi lagi. Limpa berfungsi membantu melawan infeksi, karena itu penderita cenderung mengalami pneumonia pneumokokus atau infeksi lainnya. Infeksi virus bisa menyebabkan berkurangnya pembentukan sel darah, sehingga anemia menjadi lebih berat lagi. Lama-lama hati menjadi lebih besar dan seringkali terbentuk batu empedu dari pecahan sel darah merah yang hancur. Jantung biasanya membesar dan sering ditemukan bunyi murmur. Anak-anak yang menderita penyakit ini seringkali memiliki tubuh yang relatif pendek, tetapi lengan, tungkai, jari tangan dan jari kakinya panjang. Perubahan pada tulang dan sumsum tulang bisa menyebabkan nyeri tulang, terutama pada tangan dan kaki. Bisa terjadi episode nyeri tulang dan demam, dan sendi panggul mengalami kerusakan hebat sehingga pada akhirnya harus diganti dengan sendi buatan. Sirkulasi ke kulit yang jelek dapat menyebabkan luka terbuka di tungkai, terutama pada pergelangan kaki. Kerusakan pada sistem saraf bisa menyebabkan stroke.

Pada penderita lanjut usia, paru-paru dan ginjal mengalami penurunan fungsi. Pria dewasa bisa menderita priapisme (nyeri ketika mengalami ereksi). Kadang air kemih penderita mengandung darah karena adanya perdarahan di ginjal. Jika diketahui bahwa perdarahan ini berhubungan dengan rantai sel sabit, maka penderita tidak boleh menjalani pembedahan eksplorasi dengan jarum. DIAGNOSA Anemia, nyeri lambung dan nyeri tulang serta mual-mual pada seorang kulit hitam merupakan tanda yang khas untuk krisis sel sabit. Pada pemeriksan contoh darah dibawah mikroskop, bisa terlihat sel darah merah yang berbentuk sabit dan pecahan dari sel darah merah yang hancur. Elektroforesis bisa menemukan adanya hemoglobin abnormal dan menunjukkan apakah seseorang menderita penyakit sel sabit atau hanya memiliki rantai sel sabit. Penemuan rantai sel sabit ini penting untuk rencana berkeluarga, yaitu untuk menentukan adanya resiko memiliki anak yang menderita penyakit sel sabit. PENGOBATAN Dulu penderita penyakit sel sabit jarang hidup sampai usia diatas 20 tahun, tetapi sekarang ini mereka biasanya dapat hidup dengan baik sampai usia 50 tahun. Penyakit sel sabit tidak dapat diobati, karena itu pengobatan ditujukan untuk: - mencegah terjadinya krisis - mengendalikan anemia - mengurangi gejala. Penderita harus menghindari kegiatan yang bisa menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen dalam darah mereka dan harus segera mencari bantuan medis meskipun menderita penyakit ringan, misalnya infeksi virus. Penderita memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya infeksi, sehingga harus menjalani imunisasi dengan vaksin pneumokokus dan Hemophilus influenzae. Krisis sel sabit membutuhkan perawatan di rumah sakit. Penderita mendapatkan sejumlah besar cairan lewat pembuluh darah (intravena) dan obat-obatan untuk mengurangi rasa nyeri. Diberikan transfusi darah dan oksigen jika diperkirakan aneminya cukup berat sehingga bisa menimbulkan resiko terjadinya stroke, serangan jantung atau kerusakan paru-paru. Keadaan yang mungkin menyebabkan krisi, misalnya infeksi, harus diobati. Obat-obatan yang mengendalikan penyakit sel sabit (misalnya hidroksiurea), masih dalam penelitian. Hidroksiurea meningkatkan pembentukan sejenis hemoglobin yang terutama ditemukan pada janin, yang akan menurunkan jumlah sel darah merah yang berubah bentuknya menjadi sabit. Karena itu obat ini mengurangi frekuensi terjadinya krisis sel sabit. Kepada penderita bisa dicangkokkan sumsum tulang dari anggota keluarga atau donor lainnya yang tidak memiliki gen sel sabit. Pencangkokan ini mungkin bisa menyembuhkan, tetapi resikonya besar dan penerima cangkokan harus meminum obat yang menekan kekebalan sepanjang hidupnya. Terapi genetik, yang merupakan teknik penanaman gen normal ke dalam sel-sel prekursor (sel yang menghasilkan sel darah), masih dalam penelitian.