Anda di halaman 1dari 173

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pernahkah anda berpikir, mengapa hampir seluruh Mahasiswa di kampus Anda menggunakan celana Jeans pada saat yang bersamaan, atau mengapa teman-teman Anda lebih senang menghabiskan waktu di Starbucks atau JCo Donnut yang harganya lebih mahal enam sampai delapan kali lipat dari harga di warung pinggiran. Atau tidak timbulkah rasa heran di benak Anda mengapa sebagian besar penduduk dunia sangat menyukai ritual menonton sepak bola yang membutuhkan waktu ekstra dini hari yang akan mengurangi jatah tidur penikmat sepak bola. Tentunya aneh jika Anda berpikir bahwa hal itu dipicu atas kesepakatan bersama. Hal inilah yang dinamakan budaya populer atau lebih dikenal sebagai budaya pop saja yaitu budaya yang banyak diminati oleh masyarakat tanpa ada batasan geografis Budaya pop saat ini tidak hanya menjadi dominasi budaya Barat, tetapi Asia juga mulai menunjukkan taringnya dengan menjadi pengekspor budaya pop. Selain Jepang, Korea pun mulai menunjukkan tajinya sebagai negara pengekspor budaya pop melalui tayangan hiburannya dan menjadi saingan berat bagi Amerika dan negara-negara Eropa. Hal ini sejalan dengan kemajuan industri hiburan Korea dan kestabilan ekonomi mereka. Selama sepuluh tahun terakhir ini, demam budaya pop Korea melanda Indonesia. Fenomena ini dilatarbelakangi Piala Dunia Korea-Jepang 2002 1

yang berakhir dengan masuknya Korea sebagai kekuatan empat besar dunia dalam hal persepakbolaan. Kesuksesan Korea di Piala Dunia 2002 semakin mempersohor nama Korea di mata dunia. Beberapa waktu menjelang, selama dan setelah hiruk-pikuk Piala Dunia, beberapa stasiun televisi swasta di tanah air gencar bersaing menayangkan musik, film-film maupun sinetron-sinetron Korea. Berbeda dengan budaya pop Jepang yang penikmatnya didominasi anak-anak dan remaja, budaya pop Korea ternyata mampu menjangkau segala usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sekalipun menjadi penikmat budaya pop Korea. Menurut Kim Song Hwan, seorang pengelola sindikat siaran televisi Korea Selatan, produk budaya Korea berhasil menjerat hati penggemar di semua kalangan terutama di Asia disebabkan teknik pemasaran Asian Values-Hollywood Style. Artinya, mereka mengemas nilai-nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern. Istilah ini mengacu pada cerita-cerita yang dikemas bernuansakan kehidupan Asia, namun pemasarannya memakai cara internasional dengan mengedepankan penjualan nama seorang bintang atau menjual style. Globalisasi budaya pop Korea atau yang lebih dikenal dengan Korean Wave (Hallyu) ini berhasil mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia. Hasil diskusi dalam rangka memperingati hari jadi Jurusan Korea di Universitas Gadjah mada menyatakan bahwa Korea pada abad 21 dapat dikatakan berhasil menyaingi Hollywood dan Bollywood dalam melebarkan sayap budayanya ke dunia internasional. Berbagai produk budaya Korea mulai dari drama, film, lagu, fashion, hingga produk-produk industri menghiasi ranah

kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia. Bukan hanya di kawasan Asia tetapi sudah merambah ke Amerika dan Eropa. Beberapa film Korea diadopsi Hollywood dan di re-make seperti IlMare, My Wife is a Gangster, My Sassy Girl, Hi dan Dharma. Saat ini artis Korea pun sudah masuk jajaran artis Hollywood. Sebut saja Rain yang sukses dengan film Ninja Assasin dan meraih penghargaan Biggest Badast mengalahkan Angelina Jolie. Selain itu, produk-produk elektronik yang sering digunakan dalam tayangan Korea tak kalah tenarnya. Kita bisa berkaca dengan kesuksesan Samsung dan LG, dua merek elektronik internasional milik Korea. Kedua merek ini tentunya tidak asing lagi digunakan baik dalam sinetron maupun film Korea. Bahkan, Menurut beberapa situs forum Korea Lovers, penggemar Korea mengutarakan salah satu alasan mereka menggunakan dua produk ini karena selain memberikan kenyamanan dan kemudahan dalam penggunaan, juga karena produk ini digunakan oleh ikon pop Korea. Tidak bisa dipungkiri, saat ini tengah berlangsung Korean Wave. Hal ini mengacu pada popularitas tayangan hiburan Korea Selatan yang meningkat secara signifikan di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Meluasnya Korean Wave ini tidak bisa dilepaskan dari peran media massa yang secara sadar maupun tidak telah membantu terjadinya aliran budaya ini. Bisa dikatakan bahwa karena media massa-lah Korean Wave dapat memasuki semua sudut negara-negara Asia tak terkecuali Amerika dan Eropa. Mengacu pada banyaknya jumlah penggemar Korea saat ini, maka terbentuklah basis penggemar Korea yang dikenal dengan sebutan Korea Lovers. Mereka secara rutin saling bertemu dan berkomunikasi, saling tukar 3

menukar informasi. Bahkan mengganti nama-nama panggilan mereka dengan nama-nama Korea. Cara bicara mereka juga unik, yaitu dengan menyelipkan istilah-istilah dalam bahasa Korea. Tidak sampai disitu saja, mereka juga terobsesi untuk mempelajari bahasa Korea. Efeknya, saat ini tempat kursus bahasa Korea semakin menjamur. Tak ketinggalan pula, segala atribut yang berlabel Korea menarik minat mereka, mulai dari produk-produk elektronik, alat make-up, fashion, restoran makanan khas Korea, festival budaya Korea menjadi incaran fandom. Mereka berusaha untuk menunjukkan identitas keKorea-an mereka lewat produk-produk yang mereka gunakan. Korean Wave mampu mempengaruhi pola hidup dan cara berpikir masyarakat yang dipengaruhi. Hal ini lah yang disadari pemerintah Korea, bahwa dengan merebaknya Korean Wave, akan membuka jalan bagi kemajuan ekonomi Korea. Pemerintah Korea menyadari betul potensi Korean Wave sehingga rela mengucurkan dana untuk membiayai produksi hiburan mulai dari film, sinetron hingga musik. Biaya besar yang dikucurkan pemerintah Korea memang tidak sia-sia. Terbukti, setelah merebaknya Korean Wave, pendapatan negara meningkat dari sektor pariwisata. Menurut situs www.kbs.co.kr , sekitar 8,5 juta wisatawan asing berkunjung ke Korea di akhir tahun 2010. Jumlah ini sangat jauh berbeda dibandingkan tahun 2000 saat Korean Wave belum setenar sekarang, yaitu sekitar 1,5 juta wisatawan asing saja. Belum lagi dari sektor industri. Peningkatan penjualan juga terjadi pada produk-produk Korea yang sering digunakan para artis Korea. Selain itu, secara tidak langsung hal ini tentunya dapat meningkatkan citra nasional Korea. Penyebaran pengaruh Korean Wave bukan hanya 4

meningkatkan

peluang

untuk

melaksanakan

pertukaran

budaya,

meningkatkan interaksi budaya tetapi juga menjadi sarana untuk melegalkan ideologi Korea agar mudah diterima dunia Internasional. Ideologi merupakan sekumpulan ide-ide yang menyusun sebuah kelompok nyata, sebuah representasi dari sistem atau sebuah makna dari kode yang memerintah bagaimana individu dan kelompok melihat dunia (Littlejohn,2009:469). Berbicara tentang dominasi ideologi berarti juga terkait dengan hegemoni. Hegemoni adalah proses dominasi, dimana sebuah ide

menumbangkan atau membawahi ide lainnya. Hegemoni tercipta karena kemajuan media serta pengalaman populer kita terkait dengan konsumsi. Media menciptakan populer dengan mengonsumsi barang-barang komoditi. Ini merupakan bagian dari kapitalisme konsumsi. Terjadi penyeragaman rasa, baik dalam konsumsi barang-barang fisikal sampai dengan ilmu. Penyamaan rasa ini bisa menjadi salah satu landasan penting dalam kohesi sosial. Contoh nyata hegemoni budaya pop Korea adalah bergesernya penilaian selera mengenai pria idaman. Sebelum masuknya budaya pop Korea di Indonesia, masyarakat kita mengacu pada aktor Hollywood yang macho. Namun, setelah masyarakat mulai menggandrungi tayangan Korea baik itu film, sinetron, maupun musik, mereka cenderung beralih menyukai pria dengan gaya cute, imut, putih dan tinggi ala aktor Korea. Belum lagi pakaian ataupun produk produk yang digunakan artis Korea. Para artis Korea kini menjadi ikon dan seolah semua yang digunakan ataupun dilakukan mereka ditiru oleh penggemar budaya pop Korea.

Makassar sebagai salah satu kota besar di Indonesia pun tidak luput dari pengaruh Korean Wave. Kegilaan fandom di kota Anging Mammiri ini boleh dikatakan tidak jauh berbeda dibandingkan kota besar lainnya di Indonesia. Di sepanjang jalan dan pusat perbelanjaan dapat dengan mudah kita temui pengaruh Korean Wave. Remaja di makassar banyak yang telah mengadopsi fashion Korea untuk kesehariannya. Bukan hanya dari segi fashion, alat make-up, alat elektronik dan gadget buatan Korea pun menjadi incaran. Tempat penyewaan dan penjualan VCD dan DVD Korea pun semakin laris. Belum lagi tempat-tempat kursus bahasa Korea yang semakin menjamur seiring dengan meningkatnya minat untuk belajar bahasa Korea. Tidak ketinggalan pula Korea Lovers yang menganggap dirinya memiliki identitas ke-Korea-an yang tinggi menghimpun teman-temannya membentuk fandom artis Korea atau dikenal sebagai Korea Lovers. Saat ini tercatat ada tujuh fandom resmi di Makassar, yaitu: E.L.F, Sone, Shawol, Triple S, V.I.P, Cassiopea, B3auty yang aktif melakukan pertemuan dan gathering besar-besaran. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengangkat judul BUDAYA POP DAN GAYA HIDUP (STUDI KASUS KOREA LOVERS DI MAKASSAR)

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka disusun rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh mengonsumsi tayangan hiburan Korea terhadap gaya hidup Korea Lovers di Makassar? 2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan tingkat pengaruh media terhadap individu Korea Lovers? C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian a. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pengaruh mengonsumsi tayangan hiburan Korea terhadap gaya hidup Korea Lovers di Makassar 2. Untuk mengetahui faktor faktor yang menyebabkan perbedaan tingkat pengaruh media terhadap individu Korea Lovers b. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis a. Memberikan kontribusi terhadap berkembangnya ilmu-ilmu sosial, khususnya ilmu komunikasi yang berbasis pada pengembangan penelitian kajian budaya populer dari perspektif cultural studies dan komunikasi massa b. Dapat dipakai sebagai acuan bagi penelitian-penelitian sejenis untuk tahap selanjutnya. 7

2. Kegunaan Praktis a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam memahami fenomena merebaknya budaya pop akibat

globalisasi dan cara menghadapinya melalui pemahaman terhadap media literacy. b. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang gaya hidup penggemar budaya pop Korea.

D. Kerangka Konseptual a. Globalisasi Budaya dan Terbentuknya Budaya Media Fenomena McWorld!!!. Sebuah jargon yang sangat akrab di telinga generasi yang lahir pada dekade 70-an dan 80-an. McWorld merupakan gabungan dari tiga ikon besar yang menggenggam dunia yaitu MTV untuk musik, McDonald untuk perut, dan Macintosh sebagai pusat informasi. Fenomena McWorld merupakan salah satu fakta bahwa dunia mengalami globalisasi. Globalisasi merupakan suatu proses dimana antarindividu,

antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Globalisasi bisa juga diartikan sebagai penyusutan ruang dan waktu, dimana jarak dalam interaksi untuk motif-motif apapun menjadi tidak berarti. Menurut Wijendaru, globalisasi yang terjadi sejak akhir abad ke-20 mengharuskan masyarakat dunia bersiap-siap menerima masuknya 8

pengaruh budaya barat terhadap seluruh aspek kehidupan. Aspek kebudayaan menjadi isu penting globalisasi karena budaya pop (film, musik, pakaian dan sebagainya) mengusung nilai-nilai dan ideologi barat seperti pleasure, hiburan, gaya hidup modern (Muharrominingsih,2006:49) Berbicara mengenai globalisasi yang hanya menekankan pada bahaya amerikanisasi, sepertinya hanya merupakan wacana perdebatan lama. Di Asia khususnya, masyarakat mulai bosan dengan budaya popular Amerika yang notabene bertahun-tahun telah menguasai pasar, sehingga muncullah budaya global alternatif yang tidak didominasi oleh budaya popular Amerika tetapi mulai menyisipkan nilai-nilai Asia. Munculnya budaya global alternatif ini disebabkan kelemahan pada asumsi-asumsi imperialisme budaya seperti tidak melakukan analisis dinamika yang terjadi pada tingkat individu. Peneliti imperialisme budaya memang lebih menekankan diri pada unsur-unsur makro. Morley juga mengkritik model awal imperialisme budaya karena hanya

mempertimbangkan secara ekslusif arus komunikasi internasional searah dari Amerika ke seluruh belahan dunia lain. Contoh nyata saat ini, banyak terdapat counter flow eksporter program televisi dari pelbagai belahan dunia (Badruddin,2006:77). Korea merupakan salah satu contoh sukses eksporter program televisi, khususnya di wilayah Asia bahkan mulai merambah Eropa dan Amerika. Tidak bisa dipungkiri, Korea pada abad 21 dapat dikatakan berhasil menjadi saingan berat Hollywood dan Bollywood dalam melebarkan sayap budayanya ke dunia internasional melalui tayangan hiburan seperti film, drama dan musik yang bernuansa Asia. Budaya pop 9

Korea dengan segala kemajuan yang dialaminya tetap mengemas nilainilai Asia di dalamnya. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi masyarakat Asia yang merasa ada kedekatan tersendiri saat menyaksikannya. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang semakin memudarkan nilai-nilai budaya tradisional, tayangan Korea secara konsisten menampilkan nilai-nilai budaya Korea dan Asia, seperti sopan santun, penghormatan pada orang tua, pengabdian pada keluarga, nilai kolektivitas atau kebersamaan, serta nilai kesakralan cinta dan pernikahan. Nilai-nilai ini ditampilkan secara unik dalam situasi kehidupan sehari-hari masyarakat Korea modern yang telah mengalami kemajuan teknologi dan ekonomi yang pesat. Di dalam wilayah yang telah lama didominasi oleh budaya populer dari Hollywood, budaya pop dari Seoul ini menjadi fenomena yang unik serta mengejutkan. Para jurnalis dan media dari berbagai negara kini ramai membicarakan fenomena ini, sementara para akademisi dan peneliti mulai membuat teori-teori ilmiah untuk menjelaskan gelombang tersebut. Memang tidak terduga, Korea Selatan yang pada satu dasawarsa lalu tidak berpengaruh dalam bidang industri budaya populer dan bahkan berposisi marginal dalam bidang tersebut, kini telah berhasil menjadi salah satu negara cultural exporter di Asia. Korea telah menjadi sebuah negara dengan industri budaya yang kuat, mampu mengekspor produk-produk budaya populernya ke luar negeri dan menyebarkan pengaruh kultural. Tidak bisa dipungkiri, media menjadi pelaku utama globalisasi budaya. Sebuah budaya media telah hadir, dimana citra, suara dan lensa 10

membantu menghasilkan rajutan kehidupan sehari-hari, mendominasi waktu luang dan memberikan bahan yang digunakan orang untuk membangun identitas pribadi, seperti yang diungkapkan Kellner dalam bukunya Budaya Media : Radio, televisi, film dan berbagai produk lain dari industri budaya memberikan contoh tentang makna dari menjadi seorang pria atau wanita, dari kesuksesan atau kegagalan , berkuasa atau tidak berkuasa. Budaya media juga memberikan bahan yang digunakan banyak orang untuk membangun naluri tentang kelas mereka, tentang etnis dan ras, kebangsaan, seksualitas, tentang kita dan mereka. Budaya media membantu membentuk apa yang dianggap baik atau buruk, positif atau negatif bermoral atau biadab (Kellner,2010:1) Budaya media merupakan sebuah ketergantungan terhadap media. Media menempati posisi primer dalam kehidupan manusia. Orang menghabiskan amat banyak waktu mendengarkan radio, menonton televisi, pergi menonton bioskop, menikmati musik, membaca majalah dan koran, serta bentuk-bentuk budaya media lainnya. Maka, budaya media akhirnya mendominasi kehidupan sehari-hari sebagai latar belakang yang selalu hadir dan menggoda kita.

b. Media Massa dan Penggemar Budaya Pop Korea Kehidupan masyarakat di awal abad ke-21 diwarnai dengan beragam cara manusia menerima dan menggunakan teknologi. Salah satu bentuk teknologi yang mewarnai kehidupan manusia di masa sekarang adalah bentuk-bentuk beragam alat yang dapat menjaring komunikasi antarmanusia di seluruh dunia yaitu media massa. Kehadiran media massa sangat erat kaitannya dengan penyebaran budaya, karena melalui media massa lah orang-orang kreatif punya tempat 11

yang tepat. Media massa dapat memperkaya masyarakat dengan menyebarkan karya kreatif dari manusia seperti karya sastra, musik, dan film. (Vivian,2008:505). Budaya pop yang diproduksi secara massa untuk pasar massa dan dipublikasikan melalui media massa yang di dalamnya bersembunyi kepentingan-kepentingan kaum kapitalis maupun pemerintah disebut budaya massa. Pertumbuhan budaya ini berarti memberi ruang yang makin sempit bagi segala jenis kebudayaan yang tidak dapat menghasilkan uang, yang tidak dapat diproduksi secara massa (Strinati,2007:12). Media massa mempunyai peranan penting dalam menyosialisasikan nilai-nilai tertentu dalam masyarakat. Hal ini tampak dalam salah satu fungsi yang dijalankan media massa, yaitu fungsi transmisi, dimana media massa digunakan sebagai alat untuk mengirim warisan sosial seperti budaya. Melalui fungsi transmisi, media dapat mewariskan norma dan nilai tertentu dari suatu masyarakat ke masyarakat lain. Menurut Dominick, sebagai konsekuensi dari fungsi transmisi ini, media massa mempunyai kemampuan untuk menjalankan peran ideologis dengan menampilkan nilai-nilai tertentu sehingga menjadi nilai yang dominan. Fungsi ini dikenal sebagai fungsi sosialisasi yang merujuk pada cara orang mengdopsi perilaku dan nilai dari sebuah kelompok (Setiowati,2008:537). Budaya pop Korea yang marak di Indonesia pada mulanya ditujukan untuk menyaingi impor budaya luar ke dalam Korea serta menambah pendapatan ekonomi negara, namun karena pasar Asia ternyata potensial sejalan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia, 12

maka penyebaran budaya pop Korea ini menjadi sarana untuk melanggengkan kapitalisme Korea. Dengan semakin banyaknya penikmat budaya pop korea, maka akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Korea sendiri. Hal inilah yang dimanfaatkan kapitalis untuk memproduksi budaya pop Korea secara massal di berbagai wilayah Asia termasuk Indonesia. Penyebaran budaya pop Korea yang begitu pesat merupakan andil besar dari para pemegang modal (kapitalis) dan pemerintah Korea sendiri. Para pemegang modal membiayai produksi missal tayangan hiburan Korea dan memudahkan dalam penyebarluasannya. Sementara pemerintah sendiri mendukung dengan pemberian bantuan modal bagi produksi tayangan tersebut. Hal ini dilakukan untuk melanggengkan ideologi Korea melalui tayangan hiburan agar Korea dapat dengan mudah diterima di mata dunia.

c. Gaya Hidup dan Efek Terbatas Media Setiap manusia itu unik, maka gaya hidup mereka pun unik. Gaya hidup dipahami sebagai tata cara hidup yang mencerminkan nilai dan sikap dari seseorang. Gaya hidup merupakan adaptasi aktif individu terhadap kondisi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain. Cara berpakaian, konsumsi makanan, cara kerja, dan bagaimana individu mengisi kesehariannya merupakan unsur-unsur yang membentuk gaya hidup.

13

Ketika suatu gaya hidup menyebar kepada banyak orang dan menjadi mode yang diikuti, pemahaman terhadap gaya hidup sebagai satu keunikan tidak memadai lagi digunakan. Gaya hidup bukan lagi semata tata cara atau kebiasaan pribadi dan unik dari individu , tetapi menjadi sesuatu yang populer diadopsi oleh sekelompok orang. Sifat unik tak lagi dipertahankan. Istilah gaya hidup, baik dari sudut pandang individual maupun kolektif mengandung pengertian bahwa gaya hidup mencakup sekumpulan kebiasaan, pandangan, dan pola respons terhadap hidup, serta terutama perlengkapan untuk hidup (Hujatnikajennong,2006:38-39) Gaya hidup tentu tidak lepas dari konsumerisme. Dengan menjalankan gaya hidup, berarti kita telah mengkonsumsi produk-produk yang menunjang gaya hidup atau sering disebut gaya hidup konsumeristis. Baudrillard mengembangkan dan menyimpulkan pemikiran Galbraith bahwa sistem kebutuhan adalah hasil dari sistem produksi. Inilah yang disebut jalur terbalik dimana pihak pemilik modal (kapitalis)

mengendalikan perilaku pasar, memandu, dan memberi model akan sikap sosial serta kebutuhan (Ferica,2006:3). Dalam konstruksi gaya hidup konsumerisme penggemar budaya pop Korea, keberadaan komunitas menjadi vital. Komunitas penggemar budaya pop Korea dapat dilihat sebagai sub-kultur. Mereka memiliki serangkaian nilai dan praktik budaya ekslusif bersama, yang berada di luar masyarakat dominan. Para penggemar budaya pop Korea memiliki gaya bicara yang khas dengan campuran-campuran Korea yang biasa digunakan dalam tayangan-tayangan Korea yang mereka konsumsi. Selain itu, mereka juga mengadopsi fashion ala Korea. Tidak ketinggalan pula 14

pemilihan produk baik kosmetik maupun gadget mengacu pada merek yang digunakan para ikon budaya pop Korea. Industri budaya pop Korea takkan seperti sekarang jika bukan karena basis penggemarnya. Dalam waktu singkat telah terjaring ratusan, ribuan, bahkan jutaan penggemar. Komunitas penggemar kemudian membentuk sub-kultur mandiri dan membuat industri budaya pop Korea tetap hidup sampai sekarang dan menjadi sebuah sub-kultur yang hadir secara global. Peran media massa dalam hal ini tentu sangat besar sebagai Transmission of Values atau penyebaran nilai-nilai, dalam hal ini penyebaran nilai-nilai yang ada pada tayangan-tayangan Korea yang kemudian diadopsi oleh khalayak penggemar. Hal ini juga sejalan dengan teori difusi inovasi yang diutamakan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Difusi berkaitan erat dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru dimana difusi sebagai proses dimana suatu inovasi

dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu diantara para anggota-anggota suatu sistem sosial, dalam hal ini komunitas penggemar tayangan Korea atau dikenal dengan sebutan Korea Lovers. Pada dasarnya, media memegang peranan penting dalam

penyebaran budaya pop Korea yang mengglobal beberapa tahun terakhir ini. Tetapi perlu diingat, media menurut McQuail bukanlah penentu atau sumber utama dari perubahan sosial dan budaya. Media secara bersama dengan latar belakang sejarah seseorang sedikit banyak menjadi sumber kedua untuk pembentukan gagasan-gagasan tentang masyarakat dan lingkungan tenpat ia tinggal. Hasil interaksi antara media dan perubahan

15

sosial dan budaya sangat bervariasi, tak bisa diprediksi, dan sangat berbeda antara satu keadaan dengan keadaan lainnya. Stuart Hall dalam Setiowati (2008:542) juga memperkuat pernyataan bahwa media bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya perubahan sosial budaya, karena dalam hubungan antara produksi pesan dan penerimaan pesan akan dipengaruhi oleh banyak hal. Penerimaan pesan oleh khalayak bergantung pada bagaimana khalayak memroses dan menginterpretasikan pesan tersebut. Sebab dalam memroses dan

menginterpretasikan pesan, khalayak bersifat aktif, dan keaktifan khalayak itu juga bergantung pula dari latar belakang khalayak itu sendiri, sehingga efek yang didapatkan oleh seseorang akan amat berbeda dengan orang lain (Setiowati,2008:542). Hal ini sejalan dengan teori Uses and Gratifications dimana khalayak dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka hanya mengonsumsi isi media yang yang dianggap penting dan dibutuhkan oleh mereka, dan jelas diantara individu terdapat beragam kebutuhan yang berbeda. Hal ini lah yang menjadi salah satu faktor perbedaan pembacaan teks media diantara individu. Katz dan kawan-kawan menggambarkan logika yang mendasari penelitian Uses and Gratifications sebagai berikut :
Harapanharapan terhadap media atau sumber lain yang mengarah pada

Faktor Sosial Psikologis menimbulkan

Kebutuhan yang melahirkan

Berbagai pola penghadapan media

Konsekuensi lain yang tidak diinginkan

Melalui bagan yang dibuat Katz dan kawan-kawan di atas dapat dipahami bahwa individu tertentu, seperti halnya sebagian besar manusia, 16

mempunyai kebutuhan dasar untuk mengadakan interaksi sosial. Dari pengalamannya, individu ini berharap bahwa konsumsi atau penggunaan media massa tertentu akan memenuhi sebagian kebutuhannya. Hal ini menuntunnya pada kegiatan menonton televisi tertentu atau membaca majalah tertentu dan sebagainya. Dalam beberapa kasus, kegiatan ini menghasilkan gratifikasi kebutuhan, tetapi dapat pula menimbulkan kebergantungan dan perubahan kebiasaan pada individu itu

(Ardianto,2007:72-73). Hall juga mengatakan bahwa teks media diinterpretasikan dengan cara berbeda oleh tiap individu. Pembacaan sebuah teks media dapat melibatkan proses penerimaan, penolakan atau negosiasi. Kemungkinankemungkinan yang bisa terjadi adalah: 1. dominant atau preferred reading (pembacaan dominan), dimana khalayak mengambil posisi yang ditawarkan oleh teks dan menerima posisi tersebut dengan menghormati mitos-mitos yang membentuknya 2. negotiated reading (pembacaan negosiasi), dimana khalayak tidak sepenuhnya mengambil posisi yang ditawarkan dan mempertanyakan beberapa mitosnya (Setiowati, 2008:542) 3. oppositional reading, dimana khalayak menolak sepenuhnya mitosmitos dan peran yang disediakan. Dalam hal ini, peneliti hanya akan memetakan khalayak yang dominant dan negotiated saja, sebab peneliti beranggapan bahwa khalayak yang menolak (oppositional) tidak akan menjadi objek penelitian karena tidak memenuhi kategori sebagai penggemar budaya pop Korea. 17

Menyinggung masalah identitas, Mary Jane Collier mengatakan, ketika kita menggunakan budaya sebagai pendekatan untuk melihat karakter atau identitas kelompok, kita harus menyadari bahwa tiap kelompok itu dibangun atas dasar pendapat-pendapat sekelompok individual. Selain itu, seseorang bisa mempunyai identitas yang beragam, tergantung peran apa yang sedang dijalankannya, sehingga kita harus menyadari bahwa identitas kultural itu kompleks dan diciptakan, dipelihara, dipertentangkan dan dipertandingkan pada saat kita melakukan hubungan dengan orang lain (Setiowati,2008:543). Martin dan Nakayama dalam Setiowati (2008:544) mengatakan terdapat tiga perspektif tentang identitas yaitu: perspektif psikologi sosial, perspektif komunikasi dan persfektif kritis. Dalam kasus pembentukan identitas dari para penggemar budaya pop Korea, untuk menganalisis pada skala mikro yaitu pada tataran individu, peneliti menggunakan persfektif komunikasi dimana proses avowal dan ascription merupakan hal yang penting. Seorang penggemar budaya pop Korea bisa saja melakukan avowal tentang identitas dirinya, namun jika proses ascription dari orang lain di lingkungannya itu bertentangan dengan apa yang digambarkan oleh dirinya, seorang penggemar budaya pop Korea yang termasuk dalam dominant reader akan menarik diri dari lingkungan sosialnya dan lebih memilih mencari teman bermain atau masuk dalam kelompok yang akan melakukan ascription yang sesuai dengan avovalnya. Sementara penggemar budaya pop Korea yang termasuk negotiated reader mungkin akan menegosiasikannya dan akan menyesuaikan identitas kulturalnya ke dalam identitas kultural yang dominan di lingkungannya, atau dengan kata 18

lain ia akan menyesuaikan proses avowalnya dengan proses ascription orang-orang di lingkungannya. Sementara itu dalam analisis skala meso, peneliti akan

menggunakan persfektif kritis karena identitas para penggemar Korea ini tercipta karena latar belakang sejarah, ekonomi, politik dan wacana yang beredar saat ini. Maraknya serbuan hiburan budaya pop Korea saat ini akan menciptakan suatu identitas kultural bagi penggemar budaya pop Korea. Berdasarkan pengamatan, identitas para penggemar budaya pop Korea akan Ke-Korea-an mereka mereka memang berbeda-beda baik dari segi jenis maupun tingkatannya. Hal ini tidak lepas dari latar belakang lingkungan sosialnya, pendidikan, agama dan lain-lain. Melihat fenomena efek terbatas media, maka peneliti menggunakan metode studi kasus dalam meneliti pengaruh budaya pop Korea terhadap gaya hidup melalui media massa. Hal ini sesuai dengan teori perbedaan individual yang berpendapat bahwa karena karakter psikologis pada setiap orang sangat beragam dan karena mereka memiliki persepsi yang berbedabeda terhadap sesuatu, pengaruh media berbeda-beda antara satu orang ke orang lain. Lebih spesifik, pesan media mengandung ciri stimulus tertentu yang memiliki interaksi yang berbeda dengan karakteristik pribadi masingmasing khalayak. Walaupun pada akhirnya individu tersebut membentuk suatu kelompok sosial atas dasar kesamaan, perbedaan individu dalam kelompok tetap ada. Kelompok sosial hanya menjadi penguat apa yang diyakini oleh individu, namun tingkat hegemoni di dalam kelompok tidak akan utuh. Mereka memang memiliki kesamaan namun tidak dalam segala hal karena ada faktor lain yang turut andil dalam membentuk individu. 19

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah bagan dari kerangka konseptual penelitian ini:

GLOBALISASI

BUDAYA POP KOREA (TAYANGAN

KAPITALIS DAN PEMERINTAH

BUDAYA MEDIA

KOREA)

KOREA LOVERS DI MAKASSAR

EFEK TERBATAS MEDIA DAN FAKTORFAKTORNYA

GAYA HIDUP

D. Definisi Operasional 1. Globalisasi: Suatu proses dimana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. 2. Budaya Pop Korea: Budaya yang banyak digemari yang diproduksi untuk masyarakat massa, dalam hal ini adalah tayangan-tayangan Korea baik berupa drama, film, musik yang pada akhirnya akan menciptakan fanatisme terhadap produk budaya tersebut

20

3. Budaya Media: Ketergantungan masyarakat terhadap media dimana dalam kehidupannya tidak mampu lepas dari media. Menonton televisi atau mendengarkan radio misalnya adalah sebuah kebutuhan mutlak yang harus terpenuhi 4. Kapitalis: Kelompok penguasa industri yang memanfaatkan media untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya melalui fanatisme khalayak media 5. Pemerintah: Sekelompok orang yang secara bersama-sama memikul tanggung jawab terbatas untuk menggunakan kekuasaan dalam mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan politik suatu negara 6. Korea Lovers: Sebutan untuk para penggemar tayangan Korea 7. Gaya Hidup : adaptasi aktif individu terhadap kondisi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain

E. Metode Penelitian 1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan berlangsung di Makassar. Tepatnya di Ballroom Mall Panakkukang dan Food Court MTC yang merupakan tempat berkumpul fandom-fandom Korea. Waktu penelitian akan berlangsung dari bulan April Juli 2011. 2. Tipe Penelitian Tipe penelitian ini bersifat kualitatif. Fokus penelitian ingin melihat bagaimana pengaruh budaya pop Korea yang saat ini tengah mewabah di tengah masyarakat diadopsi sedemikian rupa sehingga mempengaruhi 21

gaya hidup mereka, baik itu dari segi fashion, selera mereka dalam memilih produk serta hubungan mereka dengan lingkungan sekitar. Dalam penelitian kualitatif, data utama diperoleh dari peneliti sendiri yang secara langsung mengumpulkan informasi yang didapat dari subjek penelitian yaitu Korea Lovers di Makassar dan ditambah dengan bantuan orang lain. Penelitian ini dilakukan secara intensif lewat observasi di lapangan, wawancara dengan narasumber, penelaahan melalui literature. Design penelitian ini pada tahap pembahasan penelitian, akan berisi uraian uraian tentang objek yang menjadi fokus penelitian yang ditinjau dari sisi sisi teori yang relevan dengannya dan tidak menutup kemungkinan bahwa design penelitian ini akan berubah sesuai dengan kondisi atau realitas di lapangan. 3. Subjek Penelitian Subjek penelitian dalam studi kasus ini terdiri atas enam orang yang merupakan anggota dari fandom Korea Lovers di Makassar. Keenam orang ini memiliki kriteria yang berbeda-beda karena pengaruh latar belakang sosial, agama, gender, usia maupun tingkat pendidikan. Subjek terdiri atas empat perempuan dan dua laki-laki. Hal ini dikarenakan jumlah anggota fandom perempuan jauh lebih besar disbanding laki-laki sehingga peneliti mengambil dua kali lipat jumlah sampel perempuan dibandingkan laki-laki. Data informan yang menjadi sampel dalam studi kasus Korea Lovers adalah sebagai berikut: a. Subjek 1 (Rifa): Perempuan, usia 23 tahun, Islam, menikah dengan dua anak, pegawai swasta, mengenal Korea sejak 2004. penggemar k22

pop sebagai prioritas utama, juga menyenangi drama, film dan variety show Korea. Ketua ELF Makassar b. Subjek 2 ( Didi): Perempuan, usia 21 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswi, mengenal Korea sejak 2003, penggemar film Korea sebagai prioritas utama, juga menyukai drama, k-pop dan variety show Korea. Anggota ELF, Triple S, Shawol, Shone, V.I.P, Cassiopea c. Subjek 3 (Firman): Laki-laki, usia 20 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswa, mengenal Korea sejak 2009, penggemar k-pop sebagai prioritas utama juga film, drama dan fashion Korea, anggota ELF, Triple S, dan Shawol d. Subjek 4 (Fitrah): Laki-laki, usia 23 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswa, mengenal Korea sejak 2008, penggemar film Korea sebagai prioritas utama, juga k-pop dan drama Korea, anggota ELF dan Shawol e. Subjek 5 (Iga): Perempuan, usia 15 tahun, Protestan, belum menikah, pelajar, mengenal Korea sejak 2009, penggemar film Korea sebagai prioritas utama, juga drama, k-pop dan fashion Korea, anggota Primadona, Shawol, ELF f. Subjek 6 (Mitha): Perempuan, usia 19 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswi, mengenal Korea sejak 2006, penggemar k-pop sebagai prioritas utama, juga drama dan film Korea, Ketua Cassiopea dan nggota ELF, Shawol, Triple S, Shone

23

4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini berpatokan pada kebutuhan penelitian. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan adalah: y Penelitian Pustaka (library research) atau studi literature. Dengan jalan mempelajrai dan mengkaji literatur-literatur yang berhubungan dengan permasalahan untuk mendukung asumsi sebagai landasan teori permasalahan yang dikaji. y Melakukan survey khalayak diantaranya melalui observasi secara langsung pada fandom Korea Lovers di Makassar, wawancara mendalam (in-depth interview) yang sifatnya informal terhadap narasumber serta menggunakan kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang dibutuhkan yang akan mendukung kelengkapan data y Dokumentasi, yaitu pengumpulan foto-foto kegiatan Korea Lovers di Makassar. 5. Teknik Pemilihan Subjek Penentuan subjek berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis sebelum permasalahan yang dikaji ditetapkan. Subjek berjumlah enam orang yang diambil dari anggota fandom Korea Makassar. Subjek ini dipilih mengacu pada representativitas informasi atau data. Penelitian ini menghindari generalisasi, tiap-tiap subjek mewakili dirinya sendiri. Pemilihan subjek lebih ditekankan pada alasan dan

pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk itu, peneliti akan memilih subjek dengan teknik purposive sampling 24

dimana peneliti telah membuat kriteria atau kategorisasi tentang jenis subjek yang layak dijadikan sample. Selain itu, metode penarikan sample untuk memilih subjek adalah dengan metode snowball yaitu suatu cara dimana peneliti akan memilih satu subjek kunci sebagai titik awal penelitian dan untuk informan berikutnya akan didasarkan pada rekomendasi dari subjek pertama. 6. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan selama penelitian. Hal ini dimaksudkan agar fokus penelitian tetap diberi perhatian khusus melalui wawancara mendalam, selanjutnya dianalisis secara kualitatif. Proses analisa data mulai dilakukan ketika peneliti masih berada di lapangan dan setelah peneliti tidak berada di lapangan. Data yang diperoleh dari lapangan kemudian dipelajari dan ditelaah. Setelah itu dibuat abstraksi yang merupakan rangkuman inti dari proses wawancara. Hal ini diperlukan untuk menyempurnakan pemahaman terhadap data yang diperoleh kemudian menyajikannya kepada orang lain dengan lebih jelas tentang apa yang ditemukan dan didapat dari lapangan. Selain itu, peneliti juga menggunakan teknik analisis data dalam dua level. Hal ini dikarenakan penelitian studi kasus merupakan penelitian yang multi-level analysis. Dua level analisis tersebut adalah: 1. Level Mikro yaitu menganalisis dari media mana awal mengkonsumsi budaya pop Korea, seberapa besar informan terpengaruh oleh terpaan media yang didapat dari mengkonsumsi tayangan-tayangan Korea terhadap gaya hidupnya. Di dalam analisis ini juga, peneliti akan 25

mengidentifikasi bagaimana individu penggemar budaya pop Korea memilih dan membentuk identitasnya. 2. Level Meso yaitu menganalisis komunitas penggemar budaya pop Korea sebagai sebuah sub-kultur yang menciptakan suatu fanatisme yang luar biasa terhadap budaya pop Korea. 3. Level Makro yaitu mengenalisis bagaimana anggota sub-kultur budaya pop Korea mengonsumsi budaya pop Korea dalam lingkup sosialnya.

26

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Globalisasi Budaya Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Secara umum, globalisasi berarti meningkatnya keterkaitan antara orang-orang dan tempat-tempat sebagai akibat dari kemajuan teknologi transportasi, komunikasi, dan informasi yang memunculkan konvergensi politik, ekonomi, dan budaya. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap
bangsa. (http://.en.wikipedia/org/wiki/Globalization)

Marshall McLuhan pelopor jargon desa global dalam bukunya Understanding Media, 1964 mengatakan: Today, after more than a century of electric technology, we have extended our central nervous system itself in a global embrace, abolishing both space and time as far as our planet is concerned.

27

Desa Global adalah konsep mengenai perkembangan teknologi komunikasi di mana dunia dianalogikan menjadi sebuah desa yang sangat besar. Konsep ini berangkat dari pemikiran McLuhan bahwa suatu saat nanti informasi akan sangat terbuka dan dapat diakses oleh semua orang. Desa Global menjelaskan bahwa tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat, menggunakan teknologi media massa. McLuhan menyatakan bahwa desa global terjadi sebagai akibat dari penyebaran informasi yang sangat cepat dan massive di masyarakat. Penyebaran yang cepat dan massive ini menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (media massa). Hal ini juga diamini oleh Galperin. Menurut Galperin, globalisasi budaya meningkat di berbagai negara seiring perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi, globalisasi ekonomi, juga globalisasi di bidang tayangan televisi dan film. Bahkan, gencarnya perdagangan internasional program-program televisi dan film membuat globalisasi budaya semakin tak terbendung (Muharromaningsih, 2006:50) Globalisasi secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan

berkembangnya teknologi komunikasi melalui media massa. Kontak budaya tidak perlu melalui kontak fisik karena kontak melalui media telah memungkinkan sehingga tidak mengherankan bila globalisasi berjalan dengan cepat dan massal. Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi 28

bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju.

Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisasi dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi menurut Simon Kemoni, dalam proses ini negara-negara Dunia Ketiga harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa Dunia Ketiga haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka. Globalisasi budaya yang terus berkembang dan menelusup ke segala lingkup kehidupan kemudian memunculkan istilah baru yaitu global pop culture dimana budaya trend dalam suatu wilayah dipopulerkan dengan bantuan teknologi hingga ke taraf dunia atau lingkup global

(Hutagalung,2007:4). Global pop culture ( film, musik, pakaian dan 29

sebagainya) mengusung nilai-nilai ideologi dari negara asalnya yang mungkin saja jauh berbeda dari negara yang terkena imbas budaya pop. Budaya pop membuat mereka terlena akan hiburan yang ditawarkan. Transfer nilai budaya melalui hiburan ini mampu menciptakan kesamaan selera terhadap budaya pop tertentu yang dapat mengancam eksistensi budaya dan identitas

masyarakat lokal. Semakin sering kita ditawarkan produk budaya pop tersebut, kita semakin tidak sadar bahwa hal tersebut bukanlah budaya dan identitas kita, sebaliknya, kita menganggap ini sebagai bagian dari keseharian kita. Norma, nilai dan gaya hidup kemudian diadaptasi dari hasil mengonsumsi budaya pop tersebut dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kita sehingga menyebabkan kita kehilangan karakteristik. Melihat begitu besarnya peran gobalisasi memporak-porandakan batas-batas geografis, bahkan mampu menghilangkan identitas, tetap saja kita tidak boleh semena-mena men-judge negatif kehadiran globalisasi di tengah arus modernitas. Menurut para penganut globalis positif, globalisasi hanya sebagai pemicu yang mampu memperkecil budaya lintas teritorial agar lebih mudah untuk dipahami dan diakses. Walaupun globalisasi dianggap sebagai ancaman oleh sebagian besar orang, lantas tidak menjadikannya sebagai alasan utama ketika kehadirannya menimbulkan bermacam-macam

kesempatan yang baik bagi individu dan masyarakat luas seperti: kesempatan ekonomi, wawasan lebih luas, kesempatan untuk keluar dari feodalisme, dan membukan diri terhadap nilai-nilai modernitas. Selain itu, globalisasi mampu menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab. Dalam pandangan kaum hiperglobalis, globalisasi budaya adalah,

.....homogenization of the world under the auspices of American Popular 30

Culture or Western consumerism in general. Ini berarti bahwa globalisasi budaya adalah proses hegemonisasi di dunia di bawah bantuan budaya popular Amerika. Di era globalisasi kebanyakan media tidak hanya ditujukan pada pasar dalam negeri, melainkan mengalir ke konsumen atau pengguna yang secara geografis hidup berjauhan. Atau sebaliknya, media itu ditemukan dan digunakan oleh orang yang pada awalnya tidak diperkirakan sebagai pengguna. Namun saat ini, globalisasi yang sering diidentikkan dengan Amerikanisasi atau Westernisasi sepertinya hanya merupakan wacana perdebatan lama. Di Asia khususnya, masyarakat mulai bosan dengan budaya popular Amerika yang notabene bertahun-tahun telah menguasai pasar, sehingga muncullah budaya global alternatif yang tidak didominasi oleh budaya popular Amerika tetapi mulai menyisipkan nilai-nilai Asia. Munculnya budaya global alternatif ini disebabkan kelemahan pada asumsi-asumsi imperialisme budaya seperti tidak melakukan analisis dinamika yang terjadi pada tingkat individu. Peneliti imperialisme budaya memang lebih menekankan diri pada unsur-unsur makro. Morley juga mengkritik model awal imperialisme budaya karena hanya mempertimbangkan secara ekslusif arus komunikasi internasional searah dari Amerika ke seluruh belahan dunia lain. Contoh nyata saat ini, banyak terdapat counter flow eksporter program televisi dari berbagai belahan dunia (Badruddin,2006:77).

B. Memahami Budaya Populer Secara umum, budaya populer atau sering disingkat budaya pop merupakan budaya yang ringan, menyenangkan, trendi, banyak disukai dan 31

cepat berganti. Menilik dari sejarahnya, kehadiran budaya populer tidak dapat terlepaskan dari perkembangan pembangunan pada abad ke-19 dan abad ke 20. Pada abad ke-19, pembangunan aspek media massa, khususnya surat kabar dan novel menjadikan jarak yang terpisah antara suatu masyarakat di belahan dunia yang berbeda dapat mengakses trend kultur, tidak terhambat oleh jarak. Memasuki abad ke-20, penemuan radio, televisi dan komputer semakin mempercepat penyebaran trend kultur dari belahan dunia yang satu ke belahan dunia lain. Budaya populer sebelum masa industri disebut juga sebagai budaya yang berasal dari budaya rakyat (folk culture). Ia mengangkat masalah ini melalui pendekatan yang beranggapan bahwa budaya pop adalah sessuatu yang diterapkan pada rakyat dari atas. Budaya pop adalah budaya otentik rakyat yang kemudian berkembang menjadi sebuah budaya yang populer di tengah masyarakat. Namun, seiring perkembangan kajian mengenai budaya pop dan terciptanya masyarakat industri, terjadi pergeseran makna terhadap budaya pop. Budaya pop kini dipandang sebagai budaya massa. Budaya massa acapkali diartikan sebagai budaya populer yang diproduksi oleh teknik industri dengan produksi massal dan dipasarkan kepada masyarakat massa demi keuntungan kapitalis. Budaya massa mulai banyak menarik perhatian teoritikus sejak tahun 1920 dimana pada tahun tersebut mulai bermunculan sinema dan radio, produksi massal dan konsumsi kebudayaan, bangkitnya fasisme dan kematangan demokrasi liberal di sejumlah negara Barat Signifikansi sosial budaya populer di zaman modern ini dapat dipetakan berdasarkan bagaimana budaya populer itu diidentifikasikan 32

melalui gagasan budaya massa. Tidak bisa dipungkiri, industrialisasi dan urbanisasi merupakan elemen yang paling berpengaruh terhadap lahirnya khalayak budaya massa yang disebut masyarakat massa. Industrialisasi memicu konsumerisme yang berlebihan sementara urbanisasi menjadi perantara budaya secara geografis. Industrialisasi dan urbanisasi meruntuhkan perantara sosial yang sebelumnya menjadi petanda identitas sosial. Sebuah budaya yang akan memasuki dunia hiburan dan dipentaskan kemudian disebarluaskan ke berbagai wilayah di belahan dunia, pada umumnya menempatkan unsur populer sebagai unsur utamanya. Budaya itu kemudian memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai by pass penyebaran pengaruh di masyarakat. Konteks sosial semacam ini lebih cenderung membawa manusia dalam dunia yang serba tipuan. Maksudnya, kadang kefanaan menjadi suatu tujuan yang lebih konkret dari apa yang diperjuangkan oleh manusia itu sendiri. Dan disaat dunia tipuan ini dapat dimanipulasi oleh industri media, maka tipuan itu menjadi abadi dalam dunia fana. Kemajuan teknologi telekomunikasi telah membentuk dunia ini sekecil telur burung merpati. Batas-batas budaya dan negara menjadi musnah. Kekuasaan tertinggi di dunia ini tidak lagi terletak pada pemilikan, akan tetapi pada penguasaan ( Bungin, 2008:51) Pada awalnya kajian tentang budaya populer tidak bisa dilepaskan dari peran Amerika Serikat dalam memproduksi dan menyebarkan budaya populer. Negara itu telah menanamkan akar yang sangat kuat dalam industri budaya populer, antara lain melalui Music Television (MTV), McDonald, Hollywood, dan industri animasi mereka (Walt Disney, Looney Toones, dll). 33

Namun, perkembangan selanjutnya memunculkan negara-negara lain yang juga berhasil menjadi pusat budaya populer seperti Jepang, Korea Selatan, Hongkong, dan Taiwan. Menurut Nissim Kadosh Otmazgin, peneliti dari Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Jepang sangat sukses dalam menyebarkan budaya populernya. Ia mengemukakan bahwa, Selama dua dekade terakhir, produk-produk budaya populer Jepang telah diekspor, diperdagangkan, dan dikonsumsi secara besar-besaran di seluruh Asia Timur dan Asia Tenggara. Manga (komik Jepang), anime (film animasi), games, fashion, musik, dan drama Jepang (dorama) merupakan contoh-contoh budaya populer Jepang yang sukses di berbagai negara. Setelah kedigdayaan Jepang, menyusul Korea Selatan yang kini semakin menunjukkan kemampuannya menyaingi serbuan budaya Jepang yang terlebih dulu melakukan ekspansi melalui budaya populer dalam bentuk hiburan. Tidak ketinggalan, film, drama dan musik k-pop Korea semakin mendunia. Amerika Serikat sebagai negara asal budaya pop juga tidak luput terkena imbas Korean Wave (istilah penyebaran budaya pop Korea ke berbagai belahan dunia). Amerika kini menjadi basis para ikon budaya pop Korea memperluas pengaruhnya. Beberapa artis kenamaan Korea kini telah berhasil masuk ke dunia hiburan terbesar di dunia yaitu Hollywood. Selain itu, film-film Korea juga menjadi semacam magnet yang mengundang sutradara Hollywood untuk melakukan re-make film Korea, salah satunya Il Mare yang ceritanya diadopsi Hollywood menjadi Lake House. Kasus di Amerika Serikat tersebut menjadi contoh keberhasilan ekspansi budaya

34

populer Korea dan kekhawatiran yang menyertainya. Istilah Koreanisasi sering digunakan untuk menggambarkan penyebaran budaya populer Korea. Budaya populer sifatnya lebih banyak mempertontonkan sisi hiburan, yang kemudian mengesankan lebih konsumtif. Hiburan merupakan

kebutuhan pribadi masyarakat yang telah dipengaruhi oleh struktur kapitalis. Prinsip prinsip yang menonjol dalam hiburan adalah kesenangan yang tertanam dan menjelma dalam kehidupan manusia, sehingga pada saat lain akan menjelma membentuk budaya manusia. Akhirnya, kesenangan itu menjadi larut dalam kebutuhan manusia yang lebih besar, bahkan kadang menjadi eksistensi kehidupan manusia. Kesenangan juga membuat manusia manja dan terbiasa dengan kehidupan yang aduhai dan serba mengagumkan. Budaya pop sengaja dimunculkan untuk menjaga jarak keterlibatan orang-orang dari budaya riil. Kita juga dapat melihat bagaimana budaya pop sengaja dibangkitkan untuk menegaskan posisi orang-orang yang memusuhi mode manipulasi komersial yang disokong oleh ideologi industri budaya kapitalis. Dari kedua hal tersebut, nyata-nyata budaya pop digunakan sebagai agen penghancur budaya yang lain; sebuah bayang-bayang berbahaya yang mengancam dan menjegal kemajuan hal-hal yang riil.(Storey;2003:276) Dalam dunia kapitalisme, hiburan dan bahkan budaya telah menjelma menjadi industri. Pada konteks ini, Theodor Adorno dan Max Horkheimer mengatakan budaya industri adalah media tipuan. Budaya telah berubah menjadi alat industri serta menjadi produk standar ekonomi kapitalis. Dunia hiburan telah menjadi sebuah proses reproduksi kepuasan manusia dalam media tipuan. Hampir tidak ada perbedaan lagi antara kehidupan nyata dan

35

dunia yang digambarkan dalam film yang dirancang menggunakan efek suara dengan tingkat ilusi yang sempurna sehingga tak terkesan imaginator. Karl Marx dan pengikutnya selalu menganggap keberadaan media menjadi penunjang bertahannya budaya populer hingga saat ini dan mengakibatkan penurunan selera khalayak terhadap berbagai hal. Namun hal ini ditentang kaum populis yang melihat keberadaan budaya pop sebagai suatu hal yang positif. Kubu populis memandang bahwa tidak ada salahnya media massa melayani selera massa dalam masyarakat kapitalistik demokratis. Susan Sontag sebagai pelopor revisionisme budaya populer dalam bukunya On Culture and The New Sensibility menganggap bahwa budaya populer tidak sekedar budaya rendahan yang tidak memiliki nilai. Sontag menunjukkan bahwa budaya pop bisa mengangkat isu-isu serius seperti yang dilakukan seni tinggi dengan membandingkan kesan yang ditimbulkan lukisan Rauschenberg dengan lagu-lagu Supreme. Selain itu, Sontag juga memandang keberadaan budaya pop mampu menjadi perekat sosial. Hingga saat ini, kaum konservatif dan neokonservatif terus menyerang kebudayaan populer, namun anehnya kekuatan budaya populer semakin kuat dan mengakar pengaruhnya kepada miliaran manusia. Dan anehnya pula, kebudayaan populer lebih banyak berpengaruh pada kelompok orang muda dan menjadi pusat ideologi masyarakat dan kebudayaan, padahal budaya populer terus menjadi kontradiksi dan perdebatan ( Bungin, 2008:50) Mazhab Frankfurt dan Marxisme menjadi gagasan yang paling mengemuka banyak digunakan sebagai landasan dalam mengkaji budaya populer. Mazhab Frankfurt meyakini bahwa kapitalisme mampu bertahan 36 dan

lama

karena

kemakmuran

dan

konsumerisme.

Kapitalisme

mampu

menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu, menciptakan semacam ikon yang dipuja dan menjadikan kita sebagai korban fetisisme yang mengatasnamakan uang, lebih memuja harga, berupaya menaikkan status dalam pandangan orang lain dengan mengonsumsi barang-barang bermerek dan memaksakan diri memenuhi gaya hidup berlebihan. Konsep kapitalisme menyebabkan kita memiliki kebutuhan palsu. Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan sejati untuk bersikap kreatif, lepas dan mandiri, menentukan nasibnya sendiri, berpasrtisipasi penuh sebagai anggota kelompok kolektif yang bermaknadan demokratis serta sanggup menjalani hidup bebas dan tanpa kekangan serta berpikir untuk diri sendiri. Oleh karena itu, konsep ini didasarkan pada pernyataan bahwa kebutuhan sejati tidak dapat direalisasikan dalam kapitalisme modern karena adanya kebutuhan-kebutuhan palsu yang baru dilahirkan sistem ini supaya dapat bertahan Mazhab Frankfurt menyatakan bahwa kapitalisme berhasil mengatasi banyak kontradiksi maupun krisis yang dihadapinya, sehingga memperoleh kekuatan stabilitas dan kesinambungan baru sekaligus yang belum pernah ada. Kapitalisme menyababkan pertumbuhan ekonomi, kemakmuran dan konsumerisme serta berbagai persoalannya seperti ketidakmerataan secara terus-menerus, kemiskinan dan rasisme. Adorno merupakan salah satu teoretikus penganut Mazhab Frankfurt yang pendapat-pendapatnya paling banyak dijadikan landasan dalam mempelajari budaya populer. Ia lebih merujuk budaya populer sebagai budaya massa yang diembel-embeli kapitalisme. Adorno beranggapan bahwa 37

bahwa budaya populer selera (yang lebih) rendah masyarakat secara keseluruhan, sehingga mengurangi kualitasnya sebagai masyarakat. Hal itu dianjurkan karena media massa dapat menakortikakan dan mengatomkan orang-orang, turut menyebabkan mereka dicurigai terhadap teknik persuasi massa dengan keterampilan demagogues yang mencabut demokrasi. Bernard Rosenberg merangkumnya sebagai berikut: Pada tempatnya yang terburuk, budaya massa diperlakukan tidak hanya untuk mengkerdilkan selera tetapi untuk membuat brutal sembari memberi jalan kepada totaliterianisme. Namun di balik semua keburukan itu, budaya populer mampu menciptakan sebuah kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik dan mensejahterakan. Teori ini juga menunjukkan adanya jarak intelektual dan politis antara Mazhab Frankfurt dan analisis Marx. Frankfurt melihat sifat tahan lama dari kapitalisme. Frankfurt jelas tidak menyangkal bahwa kapitalisme mengalami berbagai kontradiksi internal. Akan tetapi, selama masyarakat kapitalis mampu melahirkan tingkat kesejahteraan ekonomi yang semakin tinggi bagi sebagian besar populasi, termasuk kelas pekerjanya, peruntuhan akhir dan bangkitnya sosialisme menurut Marx agaknya nyaris tak mungkin terjadi. Marx yang menganggap bahwa suatu saat orang-orang akan menjadi jenuh dengan budaya pop yang disuguhkan akan meruntuhkan keberadaan dan kejayaan budaya pop dan melahirkan suatu kehidupan yang dinamai sosialisme

C. Menelisik Media dalam Kacamata Budaya Populer Lahirnya modernisasi kehidupan telah banyak merubah cara pandang dan pola hidup masyarakat, sehingga peradaban yang terlahir adalah 38

terciptanya budaya masyarakat konsumtif dan hedonis dalam lingkungan masyarakat kapitalis. Fenomena ini tidaklah dianggap terlalu aneh untuk dibicarakan, bahkan sudah menjadi bagian dari budaya baru hasil dari para importir yaitu para penguasa industri budaya yang sengaja memporakporandakan tatanan budaya yang sudah mapan selama bertahun tahun menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia itu. Tergesernya budaya setempat dari lingkungannya disebabkan oleh kemunculannya sebuah kebudayaan baru yang konon katanya lebih atraktif, fleksibel dan mudah dipahami sebagian masyarakat, bahkan masyarakat rendah status

sosialnyapun dapat dengan mudah menerapkannya dalam aktifitas kehidupan. Sebuah istilah Budaya Populer atau disebut juga dengan Budaya Pop, dimana budaya ini dalam pengaktualisasiannya mendapat dukungan dari penggunaan perangkat berteknologi tinggi ini, sehingga dalam penyebarannya begitu cepat dan mengena serta mendapat respon sebagian besar kalangan. Dalam perspektif industri budaya, bahwa budaya populer adalah budaya yang lahir atas kehendak media. Hal ini dianggap bahwa media telah memproduksi segala macam jenis produk budaya populer yang dipengaruhi oleh budaya impor dan hasilnya telah disebarluaskan melalui jaringan global media hingga masyarakat tanpa sadar telah menyerapnya. Dampak dari hal itu, menyebabkan lahirlah perilaku yang cenderung mengundang sejuta tanya, karena hadirnya budaya populer di tengah masyarakat kita, tak lepas dari induknya yaitu media yang telah melahirkan dan membesarkannya. Media dalam menjalankan fungsinya, selain sebagai penyebar informasi dan hiburan, juga sebagai institusi pencipta dan pengendali pasar produk komoditas dalam suatu 39 lingkungan masyarakat. Dalam

operasionalisasinya, media selalu menanamkan ideologinya pada setiap produk hingga obyek sasaran terprovokasi dengan propaganda yang tersembunyi di balik tayangannya itu. Akibatnya, jenis produk dan dalam situasi apapun yang diproduksi dan disebarluaskan oleh suatu media, akan diserap oleh publik sebagai suatu produk kebudayaan, dan hal ini berimplikasi pada proses terjadinya interaksi antara media dan masyarakat. Kejadian ini berlangsung secara terus menerus hingga melahirkan suatu kebudayaan berikutnya. Kebudayaan populer akan terus melahirkan dan menampilkan sesuatu bentuk budaya baru, selama peradaban manusia terus bertransformasi dengan lingkungannya mengikuti putaran zaman. Kehadiran media massa sangat erat kaitannya dengan penyebaran budaya, karena melalui media massa lah orang-orang kreatif punya tempat yang tepat. Media massa dapat memperkaya masyarakat dengan menyebarkan karya kreatif dari manusia seperti karya sastra, musik, dan film. Meski media punya potensi menyebarluaskan karya kreatif tersebut, beberapa kritikus mengatakan bahwa media sangat obsesif terhadap subjek-subjek trendi yang kadang menggelikan. Para kritikus menemukan kesalahan serius dalam perhatian media terhadap budaya pop, karena budaya pop dianggap tidak mengandung isi yang signifikan. Hal ini disebabkan waktu yang dimiliki untuk memproduksi produk budaya berbanding terbalik dengan keinginan konsumen yang beragam sehingga nilai yang terkandung dalam budaya pop telah tereduksi menjadi sebutan umum terendah rata-rata selera manusia (Vivian,2008:505). Salah satu pandangan kritik media menyatakan bahwa media kurang memperhatikan karya besar dan lebih berkonsentrasi pada seni rendahan. 40

Pandangan elitis ini menyatakan bahwa media massa merusak masyarakat dengan menjadi kaki tangan selera rendah. Untuk mendeskripsikan selera rendah ini, kubu elite terkadang menggunakan istilah Jerman, kitsch yang diterjemahkan sebagai rongsokan. Istilah ini menunjukkan kemuakan mereka. Menurut pandangan klasik Marxisme, media merupakan alat produksi yang disesuaikan dengan tipe umum industri kapitalis beserta faktor produksi dan hubungan produksinya. Media cenderung dimonopoli oleh kelas kapitalis, yang penanganannya dilaksanakan baik secara nasional maupun internasional untuk memenuhi kepentingan kelas sosial tersebut. Para kapitalis melakukan hal tersebut dengan mengeksploitasi pekerja budaya dan konsumen secara material demi memperoleh keuntungan yang berlebihan. Para kapitalis tersebut bekerja secara ideologis dengan menyebarkan ide dan cara pandang kelas penguasa, yang menolak ide lain yang dianggap berkemungkinan untuk menciptakan perubahan atau mengarah ke terciptanya kesadaran kelas pekerja atas kepentingannya. Mobilisasi keasadaran semacam itu dihindari dengan menerapkan kebijakan politik tandingan secara aktif dan terorganisasi (McQuail,1989:63). Rosenberg dan White juga menambahkan bahwa isi yang lazim diproduksi dan disebarluaskan media massa selama berpuluh tahun disebut sebagai budaya massa. Istilah budaya massa mengandung konotasi buruk, terutama karena ada kaitannya dengan aspek budaya yang disenangi oleh para orang tidak terdidik atau orang yang tidak tahu membedakan (McQuail,1989:37)

41

Apabila kita menilik melalui kacamata teori masyarakat massa yang berkembang dari budaya pop, keberadaan media massa menjadi penting mengingat adanya hubungan timbal balik antara institusi yang memegang kekuasaan dan integrasi media terhadap sumber kekuasaan sosial dan otoritas. Melalui media, institusi pemegang kekuasaan, dalam hal ini kapitalis dan pemerintah mengontrol arus informasi masyarakat massa dengan

menggunakan media. Menurut Dennis McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa (1989:62), karena hubungan timbal balik tersebut, isi media cenderung melayani kepentingan pemegang kekuasaan politik dan ekonomi. Namun demikian, meskipun media tidak bisa diharapkan menyuguhkan pandangan kritis atau tinjauan lain menyangkut masalah kehidupan, media tetap memiliki kecenderungan untuk membantu publik bebas dalam menerima keberadaannya sebagaimana adanya. Tanpa disadari atau disadari industri media khususnya televisi telah memberikan banyak pengaruh pada manusia. Televisi mampu menggiring alam pikiran manusia hingga pada akhirnya bisa merubah pola hidup, baik yang positif dan negatif di tengah-tengah kehidupan manusia. Segala macam apa yang ditayangkan televisi akan berdampak pada psikologi manusia yang mempunyai kecenderungan untuk meniru apa saja dari pengalaman yang mereka lihat, dan korbannya pun tanpa pandang bulu dibuatnya, siapapun sasarannya entah anak-anak, remaja, eksekutif muda ataupun orang tua sekalipun, semua bisa terjebak dalam ikatannya. Dengan kreatifitas tinggi media televisi dalam memvisualisasikan program tayangannya yang dikemas secara menajubkan dalam alur dramatiknya sebuah cerita, telah mampu menghadirkan suatu realitas dunia 42

maya, menjadi suatu realita baru yang seoalah-olah terlihat dalam kehidupan nyata. Itu semua karena peran media, bagaimana sebuah industri media menciptakan produknya dengan merekonstruksi nilai serta maknanya itu sedemikian rupa berdasarkan misi dari ideologi media tersebut hingga masyarakat tak berkutik dibuatnya. Media dianggap sebagai alat yang berkuasa dari ideologi yang dominan (dominant ideology). Mengutip apa yang dikatakan oleh Karl Marx dan Friderich Engels dalam German Ideology: The ideas of the ruling class are in every epoch the ruling ideas, i.e. the class which is the ruling material force of society, is at the same time its ruling intellectual force. The class which has the means of material production at its disposal, has control at the same time over the means of mental production, so that thereby, generally speaking, the ideas who lack the means of mental production are subject to it. Kenyataan ini menjelaskan bahwa Ideologi yang disebar luaskan lewat tayangan televisi, adalah melalui sistem kekuasaan. Dengan kekuasan media yang ada dalam genggamannya, maka ideologi yang ditanam lewat tayangan tersebut dapat terserap dengan sendirinya bersamaan dengan penangkapan pesan yang dikomunikasikan kepada masyarakat hingga masyarakat menjadi korbannya atas penyerapan dari tayangannya sebagai representatif dari budaya populer yang di bawa oleh televisi tersebut. Bagi Industri media televisi, tentunya sudah tidak asing lagi menciptakan perangkap acara yang dikemas secara menarik lewat beragam program acara dengan

pengkonstruksian nilai dan maknanya serta dilancarkan secara terus-menerus dalam setiap serial komoditas, sehingga pemirsa begitu tergila-gilanya mengikuti apa yang disuguhkan oleh industri media televisi yang pengaksesannya bisa dilakukan kapan saja dengan secara gratis itu. 43

Rentetan penjelasan di atas mengedepankan besarnya pengaruh media dalam kehidupan khalayak melalui hiburan. Banyak yang menganggap bahwa media merupakan pelaku utama perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat akibat bombardir berbagai tayangan budaya pop. Namun, tidak sedikit pula teori yang menganggap bahwa media bukanlah faktor utama dan satu-satunya penentu perubahan sosial budaya yang terjadi pada khalayak media. Menurut McQuail, pada dasarnya media bukanlah penentu atau sumber utama dari perubahan sosial dan budaya. Media secara bersama dengan latar belakang sejarah seseorang sedikit banyak menjadi konsisten dan kemudian menjadi sumber kedua untuk pembentukan gagasan-gagasan tentang masyarakat dan lingkungan tempat ia tinggal. Hasil interaksi antara media dan perubahan sosial dan budaya sangat bervariasi, tak bisa diprediksi, dan sangat berbeda antara satu keadaan dengan keadaan lainnya. Pengaruh media pada umumnya tidak bisa langsung mengena pada khalayak. Media memang merubah harapan-harapan publik, peluang-peluang untuk memenuhi kebutuhan, dan khususnya cara-cara segala sesuatu diselesaikan dalam lembaga-lembaga sosial lainnya (Setiowati,2008:542) Stuart Hall dalam Setiowati (2008:542) juga memperkuat pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa dalam hubungan antara produksi pesan dan penerimaan pesan akan dipengaruhi oleh banyak hal. Penerimaan pesan oleh khalayak bergantung pada bagaimana khalayak memroses dan menginterpretasikan pesan tersebut. Sebab dalam memroses dan

menginterpretasikan pesan, khalayak bersifat aktif, dan keaktifan khalayak itu juga bergantung pula dari latar belakang khalayak itu sendiri, sehingga efek

44

yang didapatkan oleh seseorang akan amat berbeda dengan orang lain (Setiowati,2008:542). Hall mengatakan bahwa teks media diinterpretasikan dengan banyak cara oleh khalayak. Pembacaan sebuah teks termasuk teks media, dapat melibatkan proses penerimaan, penolakan atau negosiasi, dan dalam beberapa teks penerimaan posisi yang sudah ditawarkan. Kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi adalah: 1. dominant atau preferred reading (pembacaan dominan), dimana khalayak mengambil posisi yang ditawarkan oleh teks dan menerima posisi tersebut dengan menghormati mitos-mitos yang membentuknya 2. negotiated reading (pembacaan negosiasi), dimana khalayak tidak sepenuhnya mengambil posisi yang ditawarkan dan mempertanyakan beberapa mitosnya. 3. oppositional reading, dimana khalayak menolak sepenuhnya mitos-mitos dan peran yang disediakan. (Setiowati,2008:542) Teori efek terbatas media yang dikembangkan oleh Lazarfeld semakin mempertegas bahwa media tidak sepenuhnya memiliki kekuatan untuk memberikan pengaruh kepada khalayak karena ada banyak faktor yang menjadi hambatan media untuk memberikan efek kepada khalayak. Beberapa kesimpulan penting yang dirangkum Lazarfeld mengenai efek terbatas media dari tahun 1945 sampai 1960 adalah : 1. Media jarang memengaruhi individu secara langsung. Sebagian besar orang terlindungi dari manipulasi langsung media oleh keluarga, temanteman, rekan kerja, dan kelompok sosial. Jika mereka menemukan idea tau 45

informasi baru, maka mereka akan beralih ke orang lain untuk meminta saran dan kritik. 2. Ada dua langkah aliran dari pengaruh media. Media massa hanya akan berpengaruh jika opinion leader sebagai seseorang yang mengarahkan pengikutnya dipengaruhi terlebih dahulu. Oleh karena opinion leader adalah pengguna media yang canggih dan kritis, tidak mudah dimanipulasi oleh konten media. Mereka bertindak secara efektif sebagai gatekeepers dan membuat halangan terhadap pengaruh media. 3. Ketika sebagian besar orang tumbuh dewasa, mereka memilih komitmen yang kuat terhadap kelompok seperti partai politik dan afiliasi agama. Afiliasi ini memberikan halangan yang efektif melawan pengaruh media. 4. Ketika efek media terjadi, biasanya sangat lemah dan terlalu spesifik. Terlepas dari besar atau tidaknya pengaruh media terhadap khalayak, sulit dibantahkan lagi bahwa pada kenyataannya hampir semua media menjalankan fungsi hiburan. Hal inilah yang dimanfaatkan Korea untuk mendapatkan berbagai keuntungan dari produk hiburan yang mereka tawarkan. Beberapa tahun terakhir ini, Korea sangat gencar memasarkan produk hiburan mereka berupa film, drama maupun musik ke berbagai negara Asia maupun Eropa dan Amerika. Hasilnya sangat menjanjikan, ekspor produk hiburan Korea menghasilkan keuntungan berlipat-lipat dari segi finansial maupun citra Korea di mata dunia.

D. Ideologi Menempati Ruang-Ruang Produk Hiburan Kapitalisme Ideologi pertama kali diperkenalkan oleh Destutt de Tracy sebagai nama ilmu tentang ide dan sensasi pada tahun 1796. Dalam pandangannya 46

kita tidak dapat mengetahui benda-benda dalam dirinya dengan hanya melalui ide-ide yang terbentuk berdasarkan sensasi kita terhadap benda-benda tertentu. Jika ide dan sensasi akan dianalisis secara sistematis, syaratnya adalah kita harus memiliki pengetahuan ilmiah yang memadai dan dapat menarik kesimpulan secara praktis. De Tracy kemudian mengusulkan nama ideology atau ilmu tentang ide. Saat itu, ideologi bermakna positif, berguna dan sesuatu yang benar-benar teliti dan tepat. Namun, dalam

perkembangannya, semakin banyak yang mengkaji secara mendalam, muncullah Karl Marx yang mengaitkan ideologi dengan segala sesuatu yang bersifat negatif. Karl Marx menganggap bahwa ideologi memiliki kaitan erat dengan kapitalisme yang saat itu posisinya semakin memperkuat cengkeramannya pada tatanan masyarakat. Kapitalisme menurut Marx pada dasarnya serangkaian struktur yang membuat batas pemisah antara individu dan proses produksi, produk yang diproses dan orang lain; dan akhirnya memisahkan individu itu sendiri. Hal ini merupakan makna dasar dari alienasi. Lebih lanjut Marx mengatakan bahwa ideologi bekerja melalui tatanan sosial yang melakukan pemalsuan realitas terhadap individu anggotanya. Hal ini kemudian melahirkan sebuah represi sistematik terhadap sebuah kelompok masyarakat di mana pada akhirnya masyarakat dibutakan oleh tatanan yang telah mapan. Dalam bukunya A Contribution to The Critique of Political Economy , Marx mengatakan ideologi berasal dari kondisi ekonomi dan relasi kelas dalam produksi. Hal ini oleh Marx biasa diistilahkan dengan epifenomena. Ideologi dalam konteks ini merupakan sistem ide yang

mengekspresikan keinginan kelas dominan dan mencerminkan relasi antar 47

kelas dalam bentuknya yang ilusi. Itu berarti ideologi mengekspresikan keinginan kelas dominan dalam artian bahwa ide-ide yang membentuk ideologi adalah ide-ide yang periode sejarah tertentu mengartikulasikan ambisi, perhatian dan pertimbangan kelompok sosial dominan sebagai suatu cara melindungi dan mempertahankan posisi dominannya (Putra,2006;66-67) Bagi marx, ideologi merupakan suatu konsep yang relatif langsung. Ideologi merupakan sarana yang digunakan untuk ide-ide kelas dominan yang berkuasa sehingga bisa diterima oleh keseluruhan masyarakat sebagai alami dan wajar. Semua pengetahuan adalah berbasis kelas : pengetahuan dituliskan di dalam asal-usul kelasnya dan bekerja untuk melebih-lebihkan kepentingan kelasnya. Marx memahami bahwa para anggota kelas subordinat, yakni kelas pekerja, digiring untuk memahami pengalaman sosial dan relasi sosial mereka sehingga memahami mereka sendiri dengan menggunakan serangkaian gagasan yang bukan miliknya sendiri, yang datang dari kelas yang kepentingan ekonomi, dan kepentingan sosial serta politiknya, tidak hanya berbeda dari mereka tetapi juga secara aktif bertentangan dengan mereka. Teori-teori ideologis menekankan bahwa semua komunikasi dan semua makna memiliki dimensi sosio-politik dan bahwa komunikasi dan makna itu tak bisa dipahami di luar konteks sosialnya. Kerja ideologis ini selalu mendukung status quo, mendukung kelas-kelas dengan kuasa dominasi produksi dan distribusi bukan hanya barang, tapi juga gagasan dan makna. Sistem ekonomi pun diorganisasikan sesuai dengan kepentingannya, dan sistem ideologi bersumber dari sistem ekonomi itu dan bekerja untuk mendorong, menaturalisasikan, dan menyembunyikan kepentingan tadi. Apapun perbedaannya, semua teori ideologi sepakat bahwa ideologi bekerja 48

untuk menjaga dominasi kelas. Perbedaan diantara teori-teori ideologi itu hanya berkenaan dengan cara-cara menjalankan dominasi tersebut, yaitu derajat efektivitasnya dan meluasnya resistensi yang dihadapinya. Ada dua aspek dalam tulisan Marx yang dapat dijadikan landasan untuk menelusuri pemikiran-pemikiran sistem ide yang mengekspresikan keinginan kelas dominan dan mencerminkan relasi antar kelas dalam bentuknya yang ilusi atau diistilahkan sebagai kesadaran palsu. Pertama, Marx berpendapat bahwa ide-ide yang dominan dalam masyarakat adalah ide kelas berkuasa. Kelas berkuasa pada zaman modern seperti ini menggunakan media hiburan sebagai alat untuk mempertahankan posisinya sebagai kelas penguasa. Kedua, dia menyatakan bahwa apa yang kita persepsi sebagai karakter sejati relasi sosial di dalam kapitalisme sebenarnya adalah mistifikasi pasar. Jadi, kita menerima gagasan bahwa kita bebas menjual tenaga kita, dan bahwa kita mendapat harga yang pantas untuk itu. Namun, Marx berpendapat bahwa kapitalisme melibatkan eksploitasi pada level produksi melalui pemerasan nilai surplus dari kelas proletar. Walhasil, permukaan relasi egaliter pasar menutupi struktur eksploitasi yang ada di dalam. Di sini kita memiliki dua versi ideologi yang melegitimasi kepentingan sepihak kelas berkuasa, yaitu: y Ide sebagai pernyataan koheren tentang dunia dan dominannya ide-ide borjuis atau kapitalis y Pandangan dunia yang merupakan hasil sistematis dari struktur kapitalisme yang mengarahkan kita kepada pemahaman yang tidak tepat tentang dunia sosial. (Barker,2009;58) 49

Konsep ideologi sebagai kesadaran palsu tampaknya sangatlah penting dalam teori Marx karena hal ini menjelaskan mengapa mayoritas dalam masyarakat kapitalis menerima sebuah sistem sosial yang tak menguntungkan mereka. Teori Marx tentang ideologi sebagai kesadaran palsu terkait dengan basis ekonomi masyarakat dan menempatkan kepalsuannya itu pada kondisi-kondisi material kelas pekerja yang tak pelak lagi merupakan hasil dari runtuhnya tatanan ekonomi yang memproduksinya. Marx melihat itu sebagai beban gagasan minoritas dominan yang ditimpakan pada mayoritas subordinat. Kelompok mayoritas ini pada akhirnya mesti melihat melalui kesadaran palsu ini dan merubah tatanan sosial yang dipaksakan terhadap mereka. Mereka mengikuti kebutuhan pasar tanpa memiliki kekuatan lebih untuk melawan. Bahkan kadang tanpa sadar mereka menjadi penikmat pasar kapitalis karena begitu hebatnya kaum kapitalis menciptakan kesadaran palsu melalui hiburan yang tersedia melalui media. Menurut Marx, ideologi kelas dominan atau yang disebut Marx kelas borjuis berusaha menjaga para pekerja atau kaum proletar, tetap berada dalam kesadaran palsu. Kesadaran manusia tentang siapa dirinya, bagaimana mereka berelasi dengan bagian lain dari masyarakat, dan karena itu pengertian mereka tentang pengalaman sosialnya dihasilkan oleh masyarakat, bukan oleh alam atau biologi. Kesadaran kita ditentukan oleh masyarakat tempat kita dilahirkan, bukan oleh alam atau psikologi individu

(Fiske,2010:239). Kesimpulan Raymond Williams juga tidak berbeda jauh dengan pemikiran Marx, Ia mengategorikan definisi ideologi ke dalam tiga penggunaan utama, yaitu: 50

1. Suatu sistem keyakinan yang menandai kelompok atau kelas tertentu 2. Suatu sistem keyakinan ilusioner, gagasan palsu atau kesadaran palsu, yang bisa dikontraskan dengan pengetahuan sejati atau pengetahuan ilmiah 3. Proses umum produksi makna dan gagasan Menurut Williams, dalam praktik ideologi, poin 1 dan 2 di atas tak pelak lagi akan saling berbaur. Karena itu, ideologi menjadi kategori-kategori ilusi dan kesadaran palsu yang berdasarkan hal tersebut kelas berkuasa menjaga dominasinya terhadap kelas pekerja. Karena kelas yang berkuasa mengontrol sarana-sarana pokok tempat ideologi digandakan dan

disebarluaskan pada seluruh masyarakat, maka ideologi bisa membuat kelas pekerja melihat subordinasinya itu sebagai hal yang alami maka benar. Di sinilah terletak kekeliruannya. Media ideologis tersebut mencakup sistemsistem pendidikan, politik, dan hukum serta media massa dan penerbitan buku. Berbicara mengenai upaya dominasi ideologi berarti juga terkait dengan hegemoni. Hegemoni terjadi jika kelompok dominan dalam masyarakat, yang biasanya secara fundamental merupakan kelas yang sedang memerintah, memelihara dominasinya dengan melindungi persetujuan spontan dan kelompok subordinat, termasuk kelas pekerja, melalui pembentukan sebuah konsensus politik dan ideologi yang dinegosiasikan yang berhubungan baik dengan kelompok dominan maupun kelompok yang mendominasi. (Setiowati:2008,538) Ideologi sebagai pengalaman yang dihidupi dan ide sistematis yang berperan mengorganisasi dan secara bersama-sama mengikat satu blok yang terdiri dari berbagai elemen sosial juga bertindak sebagai perekat sosial dalam 51

pembentukan blok hegemoni dan blok kontra hegemoni. Meski ideologi dapat berbentuk serangkaian ide koheren, ia lebih sering muncul sebagai maknamakna yang terfragmentasi dari nalar awam yang terkandung di dalam berbagai representasi. Bagi Gramsci, semua orang bercermin dari dunia, dan melalui nalar awam kebudayaan pop, mereka mengorganisasi kehidupan dan pengalaman mereka. Jadi, nalar awam menjadi arena krusial bagi konflik ideologis , dan khususnya perjuangan untuk membentuk logika yang baik, yang bagi Gramsci, berupa pengakuan atas karakter kelas dalam kapitalisme. Nalar awam merupakan arena paling penting dalam perjuangan ideologis karena ia menjadi lahan bagi hal-hal yang diterima apa adanya, suatu kesadaran praktis yang memandu tindakan dalam semesta keseharian. Serangkaian ide filosofis yang lebih koheren diperjuangkan dan

ditransformasikan dalam domain nalar awam. Jadi, Gramsci menaruh perhatian pada karakter pemikiran populer dan kebudayaan pop. Seperti kata Gramsci : Setiap aliran filosofis meninggalkan endapan nalar awam; endapan ini adalah catatan-catatan tentang seberapa efektif aliran tersebut. Nalar awam tidak rigid dan kaku namun terus-menerus mentransformasikan dirinya, memperkaya dirinya dengan gagasangagasan ilmiah dengan opini filosofis yang telah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Nalar awam menciptakan folk-lore masa depan, yaitu suatu fase pengetahun populer yang relatif rigid pada ruang dan waktu tertentu (Barker,2009; 63-64) Konsep hegemoni ideologi juga sangat bermanfaat dalam tataran budaya pop. Dari perspektif teori hegemoni, budaya pop menempati posisi khusus dan signifikan sebagai area tukar menukar antara sarana dominan dan subordinan dalam masyarakat. Hal ini dapat dianalisa dengan beberapa gambaran berbeda; gender, generasi, ras, daerah dan sebagainya. Budaya pop 52

terartikulasikan sebagai suatu lingkup terstruktur dari tukar menukar dan negosiasi antarbudaya antara unsur inkorporasi dan resistensi, suatu pergulatan antara usaha untuk menguniversalkan kepentingan dominan dan resistensi subordinan. Menurut perspektif ini, budaya pop adalah campuran kontradiktif antara berbagai kepentingan dan nilai-nilai yang saling bersaing, bukan antara menengah atau buruh, rasis atau bukan, sexis atau bukan, homopobik atau homopilik dan sebagainya, namun selalu sebagai posisi

imbangan antara keduanya. Budaya komersial yang tercipta dari budaya industri diarahkan, dibentuk dan diarahkan kembali melalui strategi seleksi konsumsi dan produksi pembacaan serta artikulasi yang seringkali tidak disengaja atau diramalkan oleh produsennya. Dengan menggunakan analisis Neo-Gramscian, budaya pop tidak lain kecuali adalah konsumsi aktif orang-orang terhadap teks dan praktik industri budaya. Subkultur pemuda bisa jadi merupakan contoh paling jelas mengenai proses ini. Hebdige memaparkan secara gamblang dan meyakinkan tentang proses bricolage dimana subkultur pemuda memamah biak komoditi komersial yang ada demi mencapai tujuan dan menemukan makna mereka sendiri. Produk itu digabungkan atau ditransformasikan dengan cara-cara yang tidak dikehendaki oleh produsennya. Komoditi itu diartikulasikan kembali untuk mencipta makna yang berlawanan. Contohnya, Teddy Boys yang memakai jaket Saville Row Edward, Mod yang memakai pakaian Italia. Dengan cara ini (dan melalui pola perilaku, cara berbicara selera musik yang berbeda dan sebagainya) subkultur pemuda masuk dalam bentuk simbolik resistensi terhadap budaya dominan dan orang tuanya. Kultur pemuda menurut model ini selalu bergerak dari orisinalitas dan oposisi pada 53

inkorporasi komersial dan pertahanan ideologis hingga akhirnya industri budaya berhasil dalam pemasaran resistensi subkultur untuk konsumsi dan keuntungan umum (Storey,176;2003). Seperti halnya Teddy Boys dan Mod yang memiliki ciri khas tersendiri yang akhirnya dikomersialkan oleh industri budaya, budaya Korea juga mengalami hal serupa, menjelma menjadi industri budaya pop yang mendunia dan digandrungi secara luas, tentunya dengan bantuan media massa. Ideologi tergantung pada material atau kepentingan ekonomi dari suatu kelompok tertentu yang dipelihara oleh kelompok tersebut untuk mencerminkan ideologi kelompok mereka. Suatu ideologi menjadi kuat karena dilegalkan, didistribusikan salah satunya lewat media massa. Ideologi diangkat dan dijelaskan oleh media massa, diberi legitimasi yang sangat baik, dan didistribusikan secara persuasif, kadang secara glamour kepada khalayak. Media memiliki kemampuan dalam mengundang perhatian khalayak untuk menyimak secara seksama simbol-simbol yang pasti, pribadi-pribadi, dan ideide secara efektif. Penyebarannya dengan image system, karena pesan-pesan tersebut ada dalam sistem dan by design. Media massa secara bersama-sama memberikan pengulangan terus menerus kepada masyarakat untuk

menyebarkan ideologi tertentu. Ada dua macam image system, yaitu : a) Ideational Systems : sesuatu yang nampak sebagai hiburan sebetulnya memiliki ideologi yang dominan. Ideologi dominan ini berulang-ulang membawa misi untuk mempengaruhi khalayak lewat media massa. b) Mediation Systems : disebarkan lewat teknologi atau menyebar melalui sosial.

54

Kata ideologi seringkali merujuk pada berbagai hal mengenai paham atau gagasan sistematis yang diartikulasikan sekelompok masyarakat tertentu. Namun, ideologi jika dipandang dari segi budaya pop dapat diartikan sebagai bentuk ideologis untuk menarik perhatian pada cara-cara yang selalu digunakan teks ( fiksi TV, lagu-lagu pop, novel, film-film roman, dan sebagainya) untuk mempresentasikan citra tertentu tentang dunia. Definisi ini sangat menggantungkan dirinya pada gagasan bahwa masyarakat adalah sesuatu yang bersifat konfliktual ketimbang konsensual. Dalam konflik ini, sadar atau tidak sadar, teks seringkali terjebak pada persoalan keberpihakan . Seorang dramawan Jerman, Bertolt Brecht mencoba meringkaskan persoalan ini dengan menyatakan: Baik atau jahat, sebuah drama selalu melibatkan sebuah citra tentang dunia..... Tidak ada pertunjukkan drama dan teater yang tidak mempengaruhi berbagai disposisi dan konsepsi para audiensnya. Tidak pernah ada seni tanpa konsekuensi. Ungkapan Brecht ini dapat digeneralisasikan untuk kemudian diterapkan pada seluruh teks budaya. Dengan cara lain bisa dikatakan bahwa pada akhirnya seluruh teks budaya bersifat politis.(Storey;2003:7) Seperti yang kita ketahui bersama, dalam kasus penyebaran budaya pop Korea juga memiliki muatan politis terhadap pemerintahan Korea Selatan. Mereka membangun citra negara mereka melalui industri budaya. Selain itu, perbaikan ekonomi melalui jalan industri hiburan juga sangat menguntungkan bagi negara tersebut. Budaya pop Korea yang marak di Indonesia sepertinya memang ditujukan untuk melegalkan ideologi Korea. Meskipun tujuan penyebarluasan budaya pop Korea pada mulanya ditujukan untuk menyaingi impor budaya 55

luar terutama budaya Jepang yang pada saat itu masih menguasai pasar di Korea, namun karena pasar Asia ternyata potensial sejalan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia, maka penyebaran budaya pop Korea ini menjadi sarana untuk melanggengkan kapitalisme Korea. Melalui ideational system yang dijalankan oleh berbagai media seperti film, drama, maupun musik, juga aneka festival Korea yang secara rutin digelar dengan dukungan Pusat Kebudayaan Korea, yang terus menerus diedarkan dan ditujukan kepada para remaja, ideologi dan nilai-nilai bangsa Korea tanpa sadar akan mempengaruhi para remaja ini. Penggemar budaya pop Korea merupakan pihak yang tersubordinasi oleh produsen industri budaya pop Korea. Korea sebagai salah satu negara maju memiliki kekuatan untuk melakukan dominasi dan melanggengkan pengaruhnya. Melalui media, produsen industri budaya pop Korea menciptakan suatu hagemoni yang membuat para penggemar budaya pop Korea tidak sadar bahwa mereka telah menjadi objek dari imperialisme budaya. Tanpa sadar mereka menyerap ideologi yang dilancarkan pihak yang dominan ini dan merasakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan sehari-hari mereka. E. Menggagas Sub-Kultur Secara sosiologis, sebuah subkultur adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, dan/atau gender, dan dapat pula terjadi karena

56

perbedaan aesthetik, religi, politik, dan seksual; atau kombinasi dari faktorfaktor tersebut (http://.en.wikipedia/org/wiki/Subkultur) Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukkan studi tentang simbolisme (pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya. Sebuah subkultur selalu hadir dalam ruang dan waktu tertentu, ia bukanlah satu gejala yang lahir begitu saja. Kehadirannya akan saling kait mengkait dengan peristiwa-peristiwa lain yang menjadi konteksnya. Thornton dalam usaha pendefinisian subkultur menjelaskan bahwa atribut subkultur diberikan berdasarkan pembedaan antara suatu kelompok sosial atau budaya tertentu dengan masyarakat atau kebudayaan yang lebih luas. Penggunaan kata sub sendiri berkonotasi dengan perbedaannya

dengan masyarakat dominan atau mainstream (Sosang,2009:26) Subkultur seringkali diidentikkan dengan budaya kaum muda. Menurut Johanna and Rob White, sebagai subjek dalam masyarakat, kaum muda seringkali didefinisikan dalam bingkai usia sebagai sebuah fase dalam kehidupan manusia. Saat dimana mereka mulai tertarik memperbincangkan hal-hal mengenai seksualitas, dan menemukan cara-cara mengekspresikan kemandirian mereka. Tindakan dan perhatian dalam hal ini dilihat sebagai kesadaran generasi. Namun pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa terdapat banyak jenis subkultur dan mengapa orang-orang memilih jenis subkultur tertentu (Sosang,2009:29) 57

Tidak

dipungkiri,

kebanyakan

dari

kita

menganggap

dan

mengidentikkan subkultur dengan suatu kegiatan yang sifatnya negatif. Geng motor, musik underground, anak jalanan dan perilaku amoral lainnya. Padahal, kalaulah kita tahu dan sadar akan arti dan tujuan kata tersebut dialamatkan, maka kita akan sadar dengan sendirinya bahwa subkultur tidak selalu ditujukan untuk hal yang negatif. Pesantren barangkali salah satu subkultur yang nyata dan jelas juga berkesan positif. Pesantren yang dimaksud adalah pesantren yang kiai dan sistem pendidikannya tidak mengacu pada sistem pendidikan nasional. Contoh lain selain pesantren adalah klub/komunitas pecinta sepeda motor yang mewadahi para pecinta atau pengendara sepeda motor ke arah yang lebih positif, subkultur anime yang mewadahi para pecinta komik atau korea lovers yang merupakan subkultur penggemar hiburan Korea. Konsep subkultur merupakan hal yang berdaya mobilitas

mengkonstitusi obyeknya dari studi. Hal ini merupakan suatu istilah klasifikatori yang mencoba memetakan dunia sosial didalam suatu tindakan terhadap representasi. Keakuratan sub kultur bukan pada sejauh mana mampu berfungsi dalam pemakaiannya. Kata Sub bermakna sebagai istilah dan menunjukkan pembedaan dengan jelas arus utama budaya dominan dalam masyarakat. Dengan kata lain, sub kultur dimaksudkan agar bagian masyarakat tertentu mampu memaknai hidup secara baru sehingga dapat menikmati kesadaran menjadi yang lain dalam perbedaan terhadap budaya dominan masyarakat. Dalam suatu subkultur, identitas kultural menjadi suatu cerminan dari suatu kelompok walaupun kita tidak bisa memungkiri dalam suatu kelompok 58

itu terdapat karakter individual yang berbeda satu sama lain diantara para anggotanya. Identitas kultural sendiri adalah suatu karakter tertentu dari sebuah sistem komunikasi kelompok yang timbul ketika orang menyatakan dirinya sebagai anggota sebuah kelompok di dalam situasi, kegiatan, atau konteks komunikasi tertentu. Dalam perspektif komunikasi, identitas diletakkan dalam proses komunikasi dimana pesan-pesan dibentuk, diperkuat, dipertandingkan, dan ditantang. Sebuah perspektif komunikasi juga

mencakup perhatian terhadap penciptaan identitas kultural melalui produk, kata-kata, dan gambar-gambar yang dikirimkan melalui media atau kanalkanal teknologi. Pada level kelompok, subkultur Korea Lovers dijadikan sebagai basis politik identitas. Aktivitas khalayak media dan penggemar adalah bagian aktivitas subkultur yang paling cepat pertumbuhannya. Yang menjadi perekat pada kelompok subkultur penggemar budaya pop Korea adalah media, dalam hal ini film, drama dan musik Korea itu sendiri meskipun anggota kelompok ini mungkin memiliki identitas lain di luar kelompok ini. Konsumsi budaya pop Korea secara kolektif, kesenangan yang mereka dapatkan, dan kekritisan mereka terhadap budaya dominan yaitu Barat juga membentuk identitas pada level transnasional dan membentuk komunitas bervisi sama yang beroperasi di luar batasan negara. Ini dapat dilihat dari partisipasi penggemar dalam forum-forum internasional dan persamaan nilai dan praktik budaya pada penggemar budaya pop Korea di negara lain. Terbentuknya identitas dalam sebuah subkultur tentu saja menyeret anggotanya pada kegiatan konsumsi tanda atau simbol yang menunjukkan identitas mereka sebagai bagian dari sebuah subkultur. Konsumsi subkultural 59

adalah konsumsi pada tahapnya yang paling diskriminatif. Melalui suatu proses perakitan , subkultur-subkultur mengambil berbagai komoditas yang secara komersial tersedia untuk tujuan dan makna subkultur itu sendiri. Produk-produk dipadukan atau diubah dengan cara yang tidak diniatkan oleh produsennya; komoditas diartikulasikan kembali untuk menghasilkan maknamakna oposisional. Contoh-contoh seperti komunitas Teddy Boys yang mengenakan Jaket Savile Row Edwardian, komunitas mod yang mengenakan setelan Italia. (Storey,2007:152). Seperti halnya komunitas di atas, Korea Lovers juga merupakan sebuah komunitas yang memiliki ciri khas tersendiri dengan menunjukkan identitas ke-Korea-an mereka, baik melalui pakaian, cara mereka bicara maupun pernak-pernik yang dapat memperkuat identitas mereka sebagai penggemar budaya pop Korea. Judith K. Martin dan Thomas K. Nakayama mengatakan terdapat tiga perspektif tentang identitas yaitu: perspektif psikologi sosial, perspektif komunikasi dan persfektif kritis. Dalam kasus pembentukan identitas dari para penggemar budaya pop Korea, untuk menganalisis pada skala mikro yaitu pada tataran individu, peneliti menggunakan persfektif komunikasi dimana proses avowal dan ascription merupakan hal yang penting. Seorang penggemar budaya pop Korea bisa saja melakukan avowal tentang identitas dirinya, namun jika proses ascription dari orang lain di lingkungannya itu bertentangan dengan apa yang digambarkan oleh dirinya, seorang penggemar budaya pop Korea yang termasuk dalam dominant reader akan menarik diri dari lingkungan sosialnya dan lebih memilih mencari teman bermain atau masuk dalam kelompok yang akan melakukan ascription yang sesuai dengan avovalnya. Sementara penggemar budaya pop Korea yang termasuk 60

negotiated reader mungkin akan menegosiasikannya dan akan menyesuaikan identitas kulturalnya ke dalam identitas kultural yang dominan di lingkungannya, atau dengan kata lain ia akan menyesuaikan proses avowalnya dengan proses ascription orang-orang di lingkungannya (Setiowati,2008:544). Sementara itu dalam analisis skala meso, peneliti akan menggunakan persfektif kritis karena identitas para penggemar Korea ini tercipta karena latar belakang sejarah, ekonomi, politik dan wacana yang beredar saat ini. Maraknya serbuan hiburan budaya pop Korea saat ini akan menciptakan suatu identitas kultural bagi penggemar budaya pop Korea. Berdasarkan pengamatan, identitas para penggemar budaya pop Korea akan Ke-Koreaan tiap individu dalam kelompok memang berbeda-beda baik dari segi jenis maupun tingkatannya. Cara pembacaan teks yang berbeda ini terjadi akibat proses sosialisasi yang berbeda dari tiap-tiap individu. Latar belakang keluarga, pendidikan, agama, dan aspek sosial lainnya pada tiap individu, amat berpengaruh pada cara pembacaan khalayak terhadap teks media. Cara pembacaan yang berbeda juga berpengaruh pada pembentukan identitas dari khalayak. Sesuai dengan teori perbedaan individual yang berpendapat bahwa karena karakter psikologis pada setiap orang sangat beragam dan karena mereka memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap sesuatu, pengaruh media berbeda-beda antara satu orang ke orang lain. Lebih spesifik, pesan media mengandung ciri stimulus tertentu yang memiliki interaksi yang berbeda dengan karakteristik pribadi masing-masing khalayak. Walaupun pada akhirnya individu tersebut membentuk suatu kelompok sosial atas dasar 61

kesamaan, perbedaan individu dalam kelompok tetap ada. Kelompok sosial hanya menjadi penguat apa yang diyakini oleh individu, namun tingkat hegemoni di dalam kelompok tidak akan utuh. Mereka memang memiliki kesamaan namun tidak dalam segala hal karena ada faktor lain yang turut andil dalam membentuk individu. Melvin D. Defleur dalam teorinya Individual Differences Theory of Mass Communication Effect menelaah perbedaan-perbedaan diantara individu-individu sebagai sasaran media massa ketika mereka diterpa sehingga menimbulkan efek tertentu. Anggapan dasar dari teori ini ialah bahwa manusia amat bervariasi dalam organisasi psikologisnya secara pribadi. Variasi ini sebagian dimulai dari dukungan perbedaan secara biologis. Tetapi ini dikarenakan pengetahuan secara individual yang berbeda. Manusia yang dibesarkan dalam lingkungan yang secara tajam berbeda, menghadapi titik-titik pandangan yang berbeda secara tajam pula. Dari lingkungan yang dipelajarinya itu, mereka menghendaki seperangkat sikap, nilai, dan kepercayaan yang merupakan tatanan psikologisnya masing-masing pribadi yang membedakannya dari yang lain. Teori perbedaan individual ini mengandung rangsangan-rangsangan khusus yang menimbulkan interaksi yang berbeda dengan watak-watak perorangan anggota khalayak. Oleh karena terdapat perbedaan individual pada setiap pribadi anggota khalayak itu,maka secara alamiah dapat diduga akan muncul efek yang bervariasi sesuai dengan perbedaan individual itu. Tetapi dengan berpegang tetap pada pengaruh variabel-variabel kepribadian (yakni menganggap khalayak memiliki ciri-ciri kepribadian yang sama) teori tersebut tetap akan memprediksi keseragaman tanggapan terehadap pesan tertentu. (jika variabel antara bersifat seragam). 62

Mary Jane Collier pun mempertegas dengan mengatakan, ketika kita menggunakan budaya sebagai pendekatan untuk melihat karakter atau identitas kelompok, kita harus menyadari bahwa tiap kelompok itu dibangun atas dasar pendapat-pendapat sekelompok individual. Selain itu, seseorang bisa mempunyai identitas yang beragam, tergantung peran apa yang sedang dijalankannya, sehingga kita harus menyadari bahwa identitas kultural itu kompleks dan diciptakan, dipelihara, dipertentangkan dan dipertandingkan pada saat kita melakukan hubungan dengan orang lain (Setiowati,2008:543).

F. Budaya Penggemar Para penggemar adalah bagian paling tampak dari khalayak teks dan dan praktik budaya pop. Penggemar selalu dicirikan sebagai suatu kefanatikan yang potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemar dilihat sebagai perilaku yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan. Jenson menunjukkan dua tipe khas patologi penggemar; individu yang terobsesi dan kerumunan histeris. Ia berpendapat bahwa kedua figur itu lahir dari pembacaan tertentu dan kritik atas modernitas yang tak diakui dimana para penggemar dipandang sebagai simptom psikologis dari dugaan disfungsi sosial. Para penggemar ditampilkan sebagai salah satu dari liyan yang berbahaya dalam kehidupan modern. Kita ini waras dan terhormat, mereka itu terobsesi dan histeris. (Storey,2003:157-158) Penggemar dipahami sebagai korban-korban pasif dan patologis dari media massa. Media massa mengkonstruksikan wacana kepada penggemar dan membentuk theatre of mind mereka. Hal ini menyebabkan penggemar tidak bisa mendiskriminasikan dan menciptakan jarak antara diri mereka dan 63

objek-objek kesenangan. Stereotip yang paling umum misalnya adalah kelompok-kelompok gadis dan perempuan histeris yang meneriaki para selebritis idola mereka, kelompok penggemar yang saling bersaing mengadopsi gaya idolanya atau kelompok penggemar yang rela melakukan apa saja demi bertemu idolanya. Kelompok penggemar (fandom) dipandang sebagai simptom

(patologis) yang tampak dari kemungkinan runtuhnya budaya, moral dan sosial yang tak terelakkan lagi mengikuti transisi dari masyarakat pedesaan dan agrikultural menuju masyarakat industrial dan urban. Pada tahapnya yang paling lunak, kelompok penggemar merepresentasikan satu upaya yang putus asa untuk mengompensasikan kelemahan kehidupan modern. Fandom cenderung selalu mengejar kepentingan-kepentingan, memamerkan selera dan preferensi sehingga sangat pas untuk berbagai teks dan praktik budaya pop. Para khalayak ini dapat dikatakan memamerkan kesenangan mereka hingga menimbulkan rasa emosional, sementara khalayak dominan senantiasa mampu menjaga jarak dan kontrol estetik yang terhormat. Hal ini memperlihatkan bagaimana pasifnya khalayak penggemar budaya pop dalam menerima isi media, sehingga mereka mau menggilai sesuatu yang dianggap tidak mempunyai nilai estetika seperti halnya budaya dominan. Namun Jenson tidak sependapat dengan istilah khalayak yang pasif sebab menurutnya, pandangan ini terbentuk karena adanya dominasi pemikiran sosial dari kelompok masyarakat yang lebih dominan. Menurut Jenson, terdapat tiga ciri utama dalam menandai moda pemberian makna budaya penggemar dalam teks-teks media, yaitu: (1) cara penggemar menarik teks mendekati ranah pengalaman hidup mereka; (2) peran yang dimainkan 64

melalui pembacaan kembali dalam budaya penggemar; (3) proses yang memasukkan informasi program ke dalam interaksi sosial secara terus menerus (Storey, 2003: 157-158) Paul Wills mengatakan bahwa dalam kehidupan remaja yang notabene adalah penggemar budaya pop, para individu dan kelompok berusaha untuk secara kreatif membuktikan kehadiran, identitas dan makna dari ungkapan perasaan, tanda dan simbol dalam kehidupan mereka, melalui suatu upaya yang disebut kreativitas simbolik. Mereka menciptakan suatu kreativitas simbolik dari apa yang mereka konsumsi dari media. Kreativitas simbolik sendiri merupakan bertumpuk cara dimana remaja menggunakan,

memanusiakan, menghiasi, dan menobatkan makna-makna dalam ruangruang kehidupan dan praktek-praktek sosial yang umum. Mereka

menciptakan gaya-gaya dan pilihan-pilihan pakaian, penggunaan musik, TV, majalah yang selektif dan aktif, hiasan kamar-kamar mereka, ritual-ritual percintaan dan gaya-gaya subkultural seperti gaya bicara dan senda gurau, serta penciptaan musik dan tarian (Setiowati, 2008:541). Untuk memuaskan hasrat sebagai bagian dari kelompok penggemar, individu dalam kelompok tersebut merasa dituntut untuk mengikuti gaya hidup kelompok penggemar tersebut. Tidak dapat dielakkan lagi, praktik konsumsi tidak bisa lepas dari mereka demi pemenuhan kebutuhan demi mendapat pengakuan dan menjadi bagian dari kelompok penggemar. Berbelanja menjadi sebuah solusi untuk memenuhi segala kebutuhan berupa atribut-atribut yang mencermikan mereka sebagai bagian dari kelompok penggemar.

65

Praktik konsumsi yang dilakukan kelompok penggemar sepertinya sejalan dengan pernyataan Bre Renada Aku membeli, maka aku ada... Menurut Bre Renada, dalam konteks kehidupan masyarakat modern sekarang ini, faktor konsumsilah yang menjadi dasar untuk menjelaskan realitas sekaligus meletakkan eksistensi manusia dalam kehidupan sosialnya. Konsumsi di era yang disebut Bre sebagai kapitalisme mutakhir ini telah mengalami pergeseran nilai dari tingkat konsumsi barang-barang kebutuhan atau benda-benda yang mempunyai kegunaan langsung dan mendesak, menjadi konsumsi simbol-simbol atau tanda-tanda. Meaghan Morris menegaskan bahwa pusat perbelanjaan digunakan oleh kelompok-kelompok berbeda secara berbeda. Terdapat praktik-praktik yang berbeda dalam menggunakan suatu pusat perbelanjaan pada suatu hari; sejumlah orang bisa ada di sana sekali seumur hidup mereka; terdapat pengguna-pengguna yang sesekali memilih pusat perbelanjaan itu dan bukan yang ini pada hari itu untuk alasan-alasan khusus atau cukup manasuka saja; orang mungkin belanja di satu pusat perbelanjaan dan pergi ke pusat perbelanjaan lainnya untuk bersosialisasi atau berkeliling-keliling. Penggunaan pusat-pusat perbelanjaan sebagai tempat pertemuan (dan kadang kala untuk berteduh dan bernaung gratis) oleh orang-orang muda, para pensiunan, pengangguran dan tunawisma adalah bagian familiar dari fungsi sosialnya yang kerap kali direncanakan, kini, oleh manajemen pusat perbelanjaan Ada sebuah perumpamaan yang mengatakan bahwa pusat-pusat perbelanjaan tidak lain merupakan katedral-katedral konsumsi. Konsumsi tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi belaka untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan material. Lebih dari itu, konsumsi juga berhubungan dengan mimpi dan hasrat, identitas dan komunikasi. Paul Willis dalam Storey (2003:171) berpendapat bahwa orang-orang membawa identitas hidup ke perdagangan dan konsumsi komoditas-komoditas kultural dan juga terbentuk 66

di sana. Mereka membawa pengalaman, perasaan, posisi sosial, dan keanggotaan sosial ke pertemuan mereka dengan perdagangan. Karenanya, mereka membawa tekanan simbolik kreatif yang dibutuhkan, tidak hanya untuk memahami komoditas kultural, tetapi sebagian melalui komoditas kultural itu mereka memahami kontradiksi dan struktur sebagaimana mereka mengalaminya di sekolah, college, produksi, pertetanggaan, dan sebagai anggota-anggota gender, ras, kelas, dan usia tertentu. Akibat dari kerja simbolik yang diperlukan ini boleh jadi cukup berbeda dengan apa pun yang pada awalnya terkode di dalam komoditas kultural. Willis berpendapat bahwa dorongan kapitalis akan keuntungan menghasilkan kontradiksi-kontradiksi yang bisa dimanfaatkan oleh kreativitas simbolik dalam ranah budaya bersama. Tetapi, lebih dari ini semua, dan lebih penting dari ini, dorongan kapitalis akan keuntungan menghasilkan kondisi-kondisi bagi produksi ranah budaya bersama itu sendiri. Barangkali catatan mutakhir paling menarik mengenai budaya penggemar dalam Cultural Studies adalah Textual Poachers karya Henry Jenkins. Dalam sebuah penelitian etnografis mengenai sebuah komunitas penggemar (yang sebagian besar, tetapi tidak semata-mata, perempuan kelas menengah kulit putih), Jenkins mendekati kelompok penggemar sebagai seorang akademikus (yang mengakses teori-teori budaya pop tertentu, seperangkat literatur kritis dan etnografis) maupun sebagai penggemar (yang memiliki akses terhadap pengetahuan tertentu dan tradisi-tradisi dalam komunitas tersebut). Sebagaimana Jenkins ingin tegaskan, kajian itu dituangkan dalam bentuk dialog aktif dengan komunitas penggemar:

67

Praktik saya dari permulaan adalah berbagi pengalaman dengan semua penggemar yang saya kutip pendapatnya di tiap-tiap bab serta mendorong kritisme mereka terhadap isinya. Saya telah menerima banyak surat dari para penggemar, yang menwarkan wawasan mereka mengenai isu-isu yang diangkat di sini dan saya sudah banyak belajar banyak dari reaksi mereka. Saya telah bertemu dengan kelompokkelompok penggemar dalam diskusi-diskusi terbuka mengenai suatu teks dan menyertakan pendapat mereka dalam revisi teks tersebut. Pada sejumlah kasus, saya memasukkan reaksi-reaksi mereka ke dalam teks, tetapi ketika ini tidak terjadi secara langsung dan eksplisit, haruslah dipahami bahwa teks ini ada dalam dialog aktif dengan komunitas penggemar tersebut.(Storey,2003:159-160)

Penelitian Jenkins ini bertujuan untuk menentang stereotip negatif mengenai penggemar sebagai sosok-sosok yang menggelikan atau

memprihatinkan

serta mendorong satu kesadaran yang lebih besar akan

kekayaan budaya penggemar. Kajian ini dapat dijadikan rujukan untuk meningkatkan pengetahuan akademis mengenai budaya penggemar serta menjadi sebuah penegasan bahwa kaum akademisi bisa belajar dari budaya penggemar. Melalui berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini oleh Jenkins, ia menyimpulkan tiga ciri utama yang menandai pemberian makna budaya penggemar dalam teks-teks media: pertama, cara penggemar menarik teks mendekati ranah pengalaman hidup mereka. Pembacaan penggemar dicirikan oleh sebuah intensitas keterlibatan intelektual dan emosional. Pembaca tidak ditarik ke dalam dunia fiksi yang belum ditetapkan, tetapi sebaliknya ditarik ke dalam suatu dunia yang telah dia ciptakan dari materimateri tekstual. Hanya dengan mengintegritasikan isi media kembali dalam kehidupan sehari-hari mereka, hanya dengan keterlibatan yang karib dengan

68

makna dan materinya, para penggemar bisa mengonsumsi fiksi dan menjadikannya sebagai sumber daya yang aktif. Kedua, peran yang dimainkan melalui pembacaan kembali dalam budaya penggemar. Penggemar tidak sekedar membaca teks, mereka senantiasa membaca kembali teks-teks itu. Pembacaan kembali atas teks-teks dapat mengubah pengalaman pembaca mengenai suatu teks. Pembacaan kembali dapat meruntuhkan operasi kode hermeneutik (cara di mana suatu teks mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mendorong hasrat untuk terus membaca). Pembacaan kembali dengan begitu menggeser perhatian pembaca dari apa yang akan terjadi menuju bagaimana sesuatu itu terjadi, mempertanyakan hubungan antartokoh, tema, narasi, produksi pengetahuan dan wacana sosial. Terakhir, proses yang dengannya informasi program dimasukkan ke dalam interaksi sosial yang terus-menerus. Sementara kebanyakaan

pembacaan adalah suatu proses soliter, yang dilakukan secara pribadi, para penggemar mengonsumsi teks-teks sebagai bagian dari suatu komunitas. Budaya penggemar berkenaan dengan penampilan publik dan sirkulasi produksi makna dan praktik-praktik pembacaan. Para penggemar mencipta makna-makna untuk berkomunikasi dengan para penggemar lain. Tanpa penampilan publik dan sirkulasi makna-makna ini, kelompok penggemar tidak akan menjadi kelompok penggemar. Seperti yang kita ketahui bersama, kelompok penggemar sifatnya terorganisir, barangkali pertama dan terutama, adaah suatu institusi teori dan kritik, suatu ruang semi-terstruktur dimana interpretasi-interpretasi yang bertanding dan evaluasi-evaluasi terhadap teksteks bersama dikedepankan, diperdebatkan, dan dinegosiasikan serta ruang 69

dimana pembaca berspekulasi mengenai hakikat media massa dan hubungan mereka sendiri dengan media massa. Sumber teoretis utama Jenkins adalah teoretikus budaya Perancis, Michel de Certeau yang membongkar istilah konsumen untuk menguak aktivitas yang terletak di dalam tindak konsumsi: apa yang dia sebut produksi sekunder. Konsumsi itu berliku-liku, ia tersebar, tetapi ia memperkenalkan dirinya di mana-mana, secara diam-diam dan hampit tidak kelihatan, sebab ia tidak memanifestasikan dirinya lewat produk-produknya sendiri, tetapi sebaliknya lewat caranya menggunakan produk-produk yang ditimpakan oleh tatanan ekonomi dominan. De Certeau mencirikan konsumsi aktif atas teksteks itu sebagai berburu: para pembaca adalah orang yang bepergian, mereka bergerak melintasi tanah milik orang lain, seperti orang-orang nomaden yang meretas jalan mereka melintasi medan-medan yang tidak mereka tulis. Gagasan de Certeau mengenai berburu merupakan sebuah penolakan atas model tradisional pembacaan ini, dimana tujuan pembacaan adalah penerimaan pasif terhadap maksud tekstual. Ia adalah model dimana pembacaan disederhanakan menjadi sebuah pertanyaan tentang salah atau benar. Menurut Jenkins: Apa yang signifikan dalam hubungannya dengan model de Certeau adalah bahwa mereka merupakan komunitas konsumen yang sangat aktif dan vokal yang aktivitas-aktivitasnya mengarahkan perhatian pada proses pemberian (makna) kultural ini...... Para penggemar tidaklah unik dalam status mereka sebagai pemburu tekstual, kendati demikian, mereka telah mengembangkan tindakan berburu menjadi sebntuk seni. (Storey,2003:161) Michel de Certeau berpendapat bahwa di dalam kelompok penggemar tidak terdapat pembedaan yang kaku antara pembaca dan penulis. Budaya penggemar adalah sebuah budaya konsumsi dan produksi. Kelompok 70

penggemar tidak hanya soal konsumsi, ia juga berkenaan dengan produksi teks, lagu, puisi, novel, fanzine (majalah yang dikelola secara amatir dan ditujukan bagi subkultur yang antusias pada minat tertentu), video dan lainlain yang dibuat secara respons atas teks media profesional mengenai kelompok penggemar (Storey,2003:162). Berbicara mengenai kelompok penggemar, bukan hanya mengenai komunitas-komunitas kumpulan pembaca teks yang antusias, lebih daripada itu, budaya penggemar juga berkenaan dengan produksi budaya. Mereka me re-cycle teks yang dikonsumsinya dengan berbagai cara. Misalnya saja melalui karya fiksi yang terinspirasi dari berbagai teks yang telah mereka konsumsi, membuat video-video musik di mana citra dari program favorit menjadi semacam panduan, atau bahkan membuat fanzine. Menurut Jenkins, kelompok penggemar merupakan suatu ruang yang didefinisikan berdasarkan penolakannya atas nilai dan praktik biasa, perayaannya atas emosi yang digeluti secara mendalam dan kesenangan yang direngkuh dengan penuh gairah. Eksistensi kelompok penggemar itu sendiri merepresentasikan kritik terhadap bentuk-bentuk konvensional budaya konsumen (Storey,2003:166). Jenkins menemukan cara kelompok

penggemar memberdayakan diri mereka yaitu dengan jalan perjuangan untuk menciptakan sebuah budaya partisipatoris dari kekuatan-kekuatan yang mengubah banyak orang menjadi penonton. Komunitas kelompok penggemar menurut Jenkins berjuang untuk menentang tuntutan terhadap yang biasa dan sehari-hari. Sementara berbagai subkultur kaum muda mendefinisikan diri mereka bertentangan dengan orang tua dan budaya-budaya dominan,

71

komunitas kelompok penggemar menempatkan diri sebagai beroposisi dengan pasivitas budaya sehari-hari dari praktik biasa.

G. Gaya Hidup Gaya hidup dapat dipahami sebagai adaptasi aktif individu terhadap kondisi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain. Kepribadian dianggap sebagai penentu gaya hidup, dan oleh karena kepribadian setiap manusia unik, gaya hidup pun unik. Gaya hidup dipahami sebagai tata cara hidup yang mencerminkan sikapsikap dan nilai dari seseorang. Namun, ketika satu gaya hidup menyebar kepada banyak orang dan menjadi mode yang diikuti, pemahaman terhadap gaya hidup sebagai suatu keunikan tidak memadai lagi digunakan. Gaya hidup bukan lagi semata-mata tata cara atau kebiasaan pribadi dan unik dari individu, tetapi menjadi suatu identitas yang diadopsi oleh sekelompok orang. Sebuah gaya hidup bisa menjadi populer dan diikuti oleh banyak orang. Mereka tak segan-segan mengikutinya jika dianggap baik oleh banyak orang (Hujatnikajennong,2006:37). Dalam pola kehidupan sosial, masalah gaya hidup tak bisa dilepaskan dari terminologi budaya. Seperti yang diungkapkan Kephart, budaya biasa didefinisikan sebagai Keseluruhan gaya hidup suatu masyarakat kebiasaan/adat istiadat, sikap dan nilai-nilai mereka, serta pemahaman yang sama yang menyatukan mereka sebagai suatu masyarakat. Namun definisi ini menurut Chaney merupakan penyalahgunaan gagasan tentang gaya hidup. Sementara gaya hidup tergantung pada bentuk-bentuk kultural, masingmasing merupakan gaya, tata krama, cara menggunakan barang-barang, 72

tempat dan waktu tertentu yang merupakan karakteristik suatu kelompok, tetapi bukanlah keseluruhan pengalaman sosial mereka. (Putra,2006:48) Dalam arus kultur kontemporer, gaya hidup memegang peranan penting dalam membangun eksistensi manusia yang hidup dalam kultur tersebut. Gaya hidup dianggap sebagai cerminan identitas diri seseorang atau sekelompok orang. Gaya hidup dalam arus kultur kontemporer ini kemudian memunculkan dua hal yang sama dan sekaligus berbeda, yaitu alternatif dan diferensiasi. Alternatif lebih bermakna resistensi atau perlawanan terhadap arus budaya mainstream sedangkan diferensiasi mengikuti arus mainstream. Alternatif adalah sebuah bentuk resistensi untuk tidak mengikuti arus kapitalisme sedangkan Diferensiasi adalah suatu pilihan untuk membuat diri berbeda dengan mengonsumsi barang-barang yang ditawarkan pemegang modal/kapitalis. Penggunaan waktu luang dan konsumsi atas barang dan jasa dapat dikatakan sebagai sebuah parameter untuk melihat gaya hidup. Pola konsumsi tersebut jelas lahir dari suatu ekspansi besar dari ideologi kapitalisme. Kapitalisme menaruh cengkeramannya di berbagai aspek kehidupan, seakan menemukan bentuk menifestasi yang sangat mantap pada budaya

mengonsumsi. Masyarakat seolah-olah dibuat butuh oleh kapitalisme untuk mengikuti pola konsumsi suatu benda atau jasa. Kesadaran masyarakat sengaja diracuni demi mencetak dollar bagi kelompok tertentu

(Putra,2006:53). Menurut Marxis, sifat produksi dalam sistem kapitalisme tidak semata komoditi dianggap sebagai benda guna (use value), akan tetapi sebagai objek yang mengandung kekuatan daya pesona tertentu dan membentuk pencitraan 73

diri melalui penciptaan icon, yang memberikan status tertentu pada orang yang memakainya. Itulah yang terjadi pada pengaruh budaya korea, menjadikan produk massal yang menyihir berbagai pihak untuk menjadikan pesona budaya korea begitu memikat dan memesona. Menurut Karl Marx, produk budaya adalah komoditas , fetisisme terhadap suatu icon terletak dalam nilai dan kualitas yang dikenakan terhadap produk-produk tersebut. Di era modern seperti sekarang ini, masyarakat sepertinya digiring menuju dunia gaya hidup konsumeristis: Aku adalah apa yang aku konsumsi. Piramida kebutuhan Maslow pun jungkir balik. Aktualisasi diri adalah kebutuhan pertama manusia seperti halnya Korea Lovers yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi pemenuhan akan kebutuhan yang semu. Alasan utama mereka membeli berbagai produk berbau Korea bukan untuk memenuhi kebutuhan utama yaitu bertahan hidup tapi demi sekedar pemenuhan hasrat untuk menjadi. Dalam pandangan Giddens yang menyatakan gagasan gaya hidup telah dikorupsi oleh konsumerisme, menunjukkan kebutuhan tentang gaya ini menjadi tidak wajar dan dibuat-buat. Istilah konsumerisme berasal dari kata consumption yang berarti konsumsi dan pemakaian. Konsumerisme pada Bahasa Latin: consumere atau consumo, sumpsi, sumptum, yang berarti menghabiskan, memakai sampai habis, memboroskan, menghambur-

hamburkan, menggerogoti sampai habis. Menurut James F. Engel, bahwa konsumerisme memiliki dua pemaknaan, pertama, dilihat sebagai gerakan atau kebijakan untuk melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual dan pengiklan; kedua, paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, 74

kesenangan, dan sebagainya. Pada opsi ini, konsumerisme termaknai sebagai gaya hidup yang boros dan bergaya hidup pada peningkatan pembelian barang-barang yang secara teori bukan kebutuhan pokok. Ia adalah mentalitas yang terbentuk oleh kondisi dan kebijakan sosial yang menyenangkan, sekaligus juga menyengsarakan. Iklan TV terus mencekoki kita dengan segala kebutuhan, keinginan dan naluri yang wajib untuk dipenuhi. Kebutuhan tersier bahkan berubah posisi menjadi kebutuhan primer. Akibatnya, orang-orang bersandar pada siklus keinginan yang tiada putusnya. Orang-orang diarahkan untuk selalu mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang baru, tanpa peduli apakah ia benar-benar membutuhkannya. Orang-orang berusaha mengikuti lingkatan setan konsumerisme secara terus menerus. Mereka bekerja ekstra keras untuk membeli segala sesuatu yang terbaru dan terbaik yang sebetulnya tidak

mereka butuhkan agar menurut mereka bisa menjadi manusia yang terbaik. Agar aliran pengabdian diri kepada segala sesuatu yang paling baru ini bisa diterima oleh umat manusia, maka para tokoh aliran yang mendewakan konsumerisme ini harus bekerja keras dalam mengajarkan agamanya. Mereka tidak sekedar menjajakan berbagai produk tetapi juga mengajarkan sebuah ideologi. Mereka mengembangkan suatu sistem nilai yang terus menerus membombardir masyarakat dengan pesan-pesan untuk memanjakan diri sendiri dan mendapat kepuasan secara instan . Untuk dapat memahami sistem nilai yang mereka kembangkan, seseorang hanya perlu melihat pada ungkapan-ungkapan seperti aku harus menjadi yang pertama atau aku harus memilikinya atau berikan itu kepadaku. Dewa konsumerisme inilah yang menciptakan dan menopang sistem kapitalis (Fredericks,100:2004). 75

Gaya hidup dalam masyarakat konsumsi dalam kacamata Baudrillard tak lebih dari pengaturan dan penampakan contoh diskriminasi sosial berdasarkan mode yang menciptakan ketakjuban sesaat (ephemeral

mystifications). Sebagai contoh, selain bermaksud memberikan makna dan tujuan hidup, fashion semata-mata merupakan kekacauan dan kedahsyatan yang tidak menandakan apapun sehingga dalam permainan struktural dari penandaan referensi diri (self-referential signification) terdapat anarki tanda yang mengancam karena tidak adanya tata tertib. (Ferica,2006:3). Dalam pandangan ini, sebagian besar kegiatan konsumsi adalah konsumsi tanda (signs). Kumpulan tanda tertanam dalam pertumbuhan kebudayaan komoditas dan penciptaan gaya hidup. Pernyataan yang kemudian muncul adalah seberapa pentingkah gaya hidup menurut kacamata penikmatnya? Tentu pertanyaan ini akan dekat sekali dengan, seberapa penting nilai-nilai trend dalam kehidupan dan urat nadi seorang penikmat gaya hidup. Menurut Giddens, perkembangan gaya hidup dan perubahan struktural modernitas saling terhubung melalui reflektifitas institusional; karena keterbukaan kehidupan sosial masa kini, pluralisasi konteks tindakan dan aneka ragam otoritas, pilihan gaya hidup semakin penting dalam penelusuran identitas diri dan aktifitas keseharian. Identitas diri tidak diwariskan atau statis, melainkan menjadi suatu proyek refleksif, yang menjadi sebuah nilai dari kehidupan seseorang. Dipertegas juga, bahwa identitas seseorang tidak dapat ditemukan dalam perilaku, maupun dalam reaksi orang lain, tetapi pada kemampuan untuk menjaga akan narasi tertentu. Pada wilayah ini, berbicara identitas diri semakin masuk pada wilayah ideologis tertentu, yang melandasi kenapa 76

seseorang harus bergaya. Gaya hidup yang muncul pada masa kini merupakan cerminan dan wajah kultural dari elemen kultural yang ada, sehingga identitas diri tersebut sudah masuk pada identitas kelompok, bahkan menjadi identitas kultural dalam wacana nasional. Bagi Hebdige, gaya bukanlah ekspresi lokasi kelas, ia adalah sistem yang menandai, yang mengomunikasikan identitas kultural dan perbedaan kultural. Subkultur-subkultur kaum muda mengomunikasikan identitas khas mereka dan perbedaan mereka dari dan dalam oposisi terhadap kelompok sebaya, orang tua serta budaya-budaya dominan melalui suatu politik gaya. Makna dari subkultur kaum muda senantiasa dimainkan melalui gaya dan bukannya sebagai suatu perjuangan yang sungguh-sungguh berlangsung di tempat lain. (Storey,2007:153) Melalui teori hegemoni Gramsci, Cohen berpendapat bahwa perjuangan subkultur kaum muda kini bisa diposisikan pada perjuangan kelas yang lebih luas. Hebdige menggeser penekanan dari politik kelas ke politik gaya. Seperti dijelaskan bahwa tentangan terhadap hegemoni yang direpresentasikan subkultur tidak dikemukakan secara langsung oleh mereka. Sebaliknya, tentangan itu diungkapkan secara tak langsung dalam gaya. (Storey,2007:151) Konsumsi subkultural adalah konsumsi yang pada tahapnya bersifat diskriminatif. Melalui suatu proses perakitan, subkultur-subkultur mengambil berbagai komoditas yang secara komersial tersedia untuk tujuan dan makna subkultur itu sendiri. Produk-produk dipadukan atau diubah dengan cara yang tidak diniatkan oleh produsennya; komoditas diartikulasikan kembali untuk menghasilkan makna-makna oposisional. (Storey,2007:152) 77

Melalui ritual konsumsilah subkultur membentuk identitas yang bermakna. Pemberian makna selektif dan penggunaan kelompok atas apa yang disediakan oleh pasar bekerja serentak untuk mendefinisikan, mengekspresikan, merefleksikan serta memperjelas perbedaan dan

pembedaan kelompok (Storey,2007:128) Setiap kelompok memiliki tanda-tanda yang membedakannya dengan kelompok lain. Tanda tersebut biasanya mereka ekspresikan melalui aktivitas konsumsi yang meliputi barang-barang atau gaya hidup tertentu. Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia sangat menggandrungi gaya ala Jepang yaitu Harajuku. Berbagai lapisan masyarakat terkena imbasnya termasuk beberapa musisi, salah satunya Maia Estianty yang bergaya Harajuku saat manggung. Seiring waktu, selera masyarakat berubah sejak munculnya tayangan hiburan Korea. Mereka mulai melirik Korea sebagai kiblat, bahkan adaptasi gaya hidup ala Korea ini masih bertahan sampai sekarang sejak kemunculannya di tahun 2002. Munculnya trend baru dalam mengkonsumsi tayangan hiburan ala Korea di berbagai penjuru negara, cukup banyak berpengaruh terhadap gaya hidup dan fashion yang diusung para penikmatnya. Ini tampak dari berbagai komoditas berbau Korea yang difetisasi untuk membebani konsumen demi kepentingan produsen semata. Sama halnya dengan sistem industri lain, kekuatan arbitrer industri hiburan Korea dan sosialisasi media massa berperan membentuk kebutuhan akan tayangan hiburan Korea beserta embel-embelnya serta mengendalikan perilaku konsumen dan menyediakan model gaya hidup mengkonsumsi segala hal berbau Korea. Media massa menjadi semacam sarana konsumsi 78

hiburan Korea yang memungkinkan terciptanya konsumsi. Sarana konsumsi yaitu media, tidak hanya tempat orang mengonsumsi tanda, tapi juga penting bagi dirinya sendiri sebagai struktur yang menggiring orang mengonsumsi hal-hal lain yang lebih banyak dan berbeda. Dalam konteks penelitian ini, media massa menjadi sarana konsumsi yang memfasilitasi gaya hidup Korea Lovers di Makassar. Perannya tak hanya sebagai latar tempat bagi konsumen untuk mengonsumsi tayangan hiburan Korea tetapi juga sebagai sebuah struktur yang mendorong konsumen terpengaruh untuk mengadopsi dan menerapkannya sebagai gaya hidup.

79

BAB III GAMBARAN OBJEK PENELITIAN

A. Dunia Hiburan, Peretas Jalan Budaya Pop Korea Korea adalah sebuah Negara tua yang terletak di bumi bagian timur yang merupakan penghubung antara Asia Timur Laut dengan dunia luar, terutama dengan Jepang. Semenanjung Korea terletak antara 33,60 dan 43 lintang utara serta 124,11 dan 131,52 bujur timur. Panjangnya +1000km, sedangkan lebarnya 216km. semenanjung ini dipisahkan pada sebelah utara Sungai Amnok (Yalu) dan Du-man(Tumen). Ditengah dua sungai itu terletak gunung Baek-du, yang berarti gunung bertopi putih (gunung suci). Korea beriklim sedang yaitu pertemuan antara suhu benua dengan suhu samudera. Semenanjung Korea pada masa lampau terkenal dengan sebutan Kerajaan Kaum Petapa dan Negeri Setenang Pagi atau Land Of The Morning Calm. Orang Korea dikenal sebagai orang-orang ramah dari Timur karena selalu menghormati orang yang usianya lebih tua yang dimaksudkan untuk menempatkan status orang yang baru dikenalnya dalam tata pergaulan. Sifat orang Korea yaitu tidak mau menambahkan harta bendanya sendiri dengan mengambil hak milik orang lain dan hanya memelihara dan mengambangkan hal yang sudah dimilikinya. Bangsa Korea senantiasa merasa puas pada negara dan bangsanya sendiri. Mereka mencoba mengembangkan apa yang mereka dapat tanpa menjauh dari yang asli atau awal. Republik Korea memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 15 Agustus 1945 dengan berkibarnya Tae-guk-ki, yaitu bendera Nasional Korea, 80

beda

dua

hari

dengan

kemerdekaan

Indonesia.

Korea

merebut

kemerdekaannya dari Jepang setelah dijajah selama 35 tahun. Namun tidak berhenti sampai disitu, penderiataan rakyat Korea terus berlanjut dengan perang saudara pada periode 1950-1953, periode diktator militer, dan periode perang dingin dengan Korea Utara. Hal ini menyebabkan rakyat Korea Selatan hidup dalam penderitaan karena keterbatasan sumber daya alam, iklim yang keras, perang dan kediktatoran. Tercatat pada tahun 1950, Korea Selatan adalah salah satu negara termiskin di dunia, sama miskinnya dengan negara-negara termiskin di Afrika dan Asia. Ekonominya hanya bersandar pada pertanian, belum lagi sempat hancur gara-gara pendudukan Jepang dan Perang Korea. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Bangsa Korea berhasil lepas dari keterpurukan. Dalam 4 dekade, Korea Selatan berubah cepat dari negara termiskin, menjadi salah satu Negara paling kaya dan tercanggih di dunia dengan nilai ekonomi Trilyunan dollar. Pada tahun 1963, GDP perkapitanya cuma $100. Kesuksesan ekonomi Korea Selatan dicapai pada akhir 1980-an ketika PDB berkembang dari rata - rata 8% per tahun (US$2,7 milyar) pada tahun 1962 menjadi US$230 milyar pada 1989. Jumlah ini kira - kira 20 kali lipat dari Korea Utara dan sama dengan ekonomi - ekonomi menengah di Uni Eropa. Goldman Sachs meramalkan Korea tahun 2050 nanti akan jadi negara terkaya nomor 2 di dunia, mengalahkan semua bangsa lainnya kecuali Amerika dengan pendapatan perkapita $81.000. Korea, juga tercatat sebagai bangsa dengan kecepatan pertumbuhan ekonomi tercepat sepanjang sejarah. Korea Selatan memiliki ekonomi pasar dan menempat urutan kelima belas berdasarkan PDB. Sebagai salah satu dari empat Macan Asia Timur, Korea 81

Selatan telah mencapai rekor ekspor impor yang memukau, nilai ekspornya merupakan terbesar kedelapan di dunia. Sementara, nilai impornya terbesar kesebelas. Kemajuan ekonomi ini dikenal dengan nama Keajaiban di

Sungai Han. Tidak cukup hanya di bidang industri, sejak terlepas dari pendudukan Jepang dan kestabilan ekonomi pun tercipta, Korea Selatan berupaya melakukan ekspansi budaya melalui tayangan hiburan berupa musik, film dan drama yang akhirnya mendunia dan dikenal dengan istilah Korean Wave (Penyebaran budaya pop Korea). Hal ini bertujuan untuk membentuk citra positif sekaligus sebagai peluang bisnis yang menguntungkan negara. Selain itu, Korea memanfaatkan dengan baik penyebaran budaya pop Korea sebagai media untuk peningkatan pemahaman budaya antar negara dan alat diplomasi. Selama ini budaya pop Korea telah mendukung keberhasilan Korea dalam hubungan diplomasinya dengan negara-negara di ASEAN. Contoh nyatanya, Film dan musik Korea telah mengubah persepsi orang Vietnam terhadap Korea yang menjadi sekutu Amerika Serikat waktu perang Vietnam. Perasaan benci berubah menjadi hubungan romantis dan sentimentil generasi muda Vietnam dengan artis dan musisi Korea. Banyak generasi muda Vietnam kini juga menjadikan Korea sebagai kiblat budaya pop, mode, dan standar kemakmuran. Sejak akhir 1990-an, peningkatan jumlah konten kebudayaan populer korea termasuk drama televisi, film, lagu-lagu pop dan sejumlah artis yang terkait telah memperoleh popularitas besar di negara-negara Timur dan Asia Tenggara. Media massa dan majalah bisnis telah mengakui munculnya budaya populer Korea di Asia dengan menyebut itu sebagai kepopuleran 82

budaya korea (Hallyu dalam bahasa Korea). Menurut Segers yang pernah meneliti booming budaya pop Korea, The Associated Press melaporkan di bulan Maret 2002: Sebut saja kim chic . Semua hal yang berbau Korea dari makanan dan musik sampai bentuk alis dan gaya sepatu menjadi tren di Asia, di mana budaya pop telah lama didominasi oleh Tokyo dan Hollywood. Menurut Hollywood Reporter, Korea telah berubah dari sebuah sinema lokal menuju pasar film terpopuler di Asia . Sekitar satu dekade yang lalu, budaya populer Korea tidak memiliki kapasitas ekspor, dan bahkan tidak diakui oleh para peneliti. Sebagai contoh, edisi 1996 The Oxford History of World Cinema tidak membuat referensi bioskop Korea, meskipun mereka memberikan perhatian kepada kepada Taiwan, Hong Kong, Cina dan film Jepang. Musik Korea juga diabaikan oleh para peneliti, seperti yang dapat dilihat dalam komentar berikut di World Music: The Rough Guide yang diterbitkan pada tahun 1994: Negara ini telah mengembangkan ekonomi dengan kecepatan yang mengejutkan, namun dalam hal musik tidak sebanding dengan perkembangan luar biasa pada suara kontemporer Indonesia, Okinawa, atau Jepang

Oleh karena itu, Orang Korea awalnya tidak percaya pada berita kepopuleran tayangan Korea yang kini banyak memikat orang orang luar negeri. Korea telah lama melakukan perjuangan untuk kelestarian budaya yang dihadapkan dengan serangkaian ancaman dominasi budaya asing. Karena mendalamnya kesadaran underdog kesadaran dalam hal pertukaran budaya, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk percaya berita tentang fenomena kepopuleran kebudayaan korea.

83

Dilaporkan bahwa Gelombang Korea mulai di Cina sekitar tahun 1997 ketika drama televisi Korea, What is Love All About membuat hit besar setelah siarannya di China Central Television Station (CCTV). Tayangan ini tercatat menjadi peringkat kedua tertinggi yang pernah ada dalam sejarah televisi Cina. Setelah hasil yang tak diduga ini, serangkaian drama Korea lainnya telah memikat penonton Cina. Sejak itu, drama televisi Korea banyak diminati dan mendapatkan waktu pemutaran khusus di saluran televisi di negara-negara seperti Taiwan, Singapura, Thailand, Vietnam dan Indonesia yang terlihat mulai diliberalisasi pada 1990-an. Selain itu, krisis ekonomi Asia pada akhir 1990-an membawa sebuah situasi di mana pembeli Asia lebih menyukai pemrograman Korea yang lebih murah; drama televisi Korea adalah seperempat dari harga Jepang, dan sepersepuluh dari harga drama televisi Hong Kong di tahun 2000. Angka ekspor program televisi Korea meningkat secara dramatis, pada tahun 2007 mencapai US $ 150.950.000, dari US $ 12,7 juta pada tahun 1999 (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2008). Film dan lagu dari Korea juga disertai dengan popularitas drama televisi Korea di Asia. Sebagai contoh, boy band H.O.T. menempatkan dirinya berada di urutan atas tangga lagu pop di Cina dan Taiwan pada tahun 1998, band ini sangat populer sehingga penjualan album terus berlanjut selama beberapa waktu bahkan setelah band mereka bubar pada pertengahan 2001. Pada tahun 2002, sensasi debut album remaja pop Korea BoA, mencapai urutan teratas di Oricon Weekly Chart, urutan tangga lagu Jepang yang setara dengan American Billboard Charts. Lagu-lagu dan gerakan tari dari band-band Korea seperti Wonder Girls, Super Junior dan Girls 84

Generation begitu populer di Kamboja dan Thailand saat ini, sehingga banyak fans dan penyanyi lokal juga meniru gerakan mereka. Sejak akhir 1990-an, film-film Korea juga telah menerima pujian penting dan menarik penonton yang besar di seluruh Asia. Hal ini tentunya akan menambah pemasukan Korea Selatan. Dengan latar belakang ini, bintang Korea telah membuat dampak besar pada budaya konsumsi, termasuk makanan, fashion, trend make-up, dan bahkan operasi plastik. Tidak sulit untuk menemukan remaja Asia yang menghias ransel mereka, notebook, dan kamar dengan foto-foto bintang Korea. (http://kyotoreviewsea.org) Melihat obsesi mereka dengan budaya Korea, para fans dari luar negeri ingin belajar bahasa Korea dan pergi ke Korea. Sebagai contoh, jumlah peserta uji kelancaran dalam berbahasa Korea (Test of Proficiency in Korean: TOPIK) di seluruh dunia telah meningkat menjadi 189.320 pada tahun 2009 dari 2.692 pada tahun 1997, sebagian besar disebabkan oleh drama televisi Korea. Biro pariwisata di Asia Tenggara menjual wisata kelompok bertema drama televisi Korea. Berkat Kepopuleran kebudayaan korea, Korea National Tourism Organization (KNTO) mengembangkan program perjalanan untuk mendapatkan lebih banyak wisatawan luar negeri. Program perjalanan ini berupa wisata ke tempat-tempat syuting film Korea. Hasilnya di luar ekspektasi, bahkan sangat luar biasa. Peningkatan jumlah wisatawan luar negeri meningkat pesat dari 1,5 juta di tahun 2000 menjadi 8,5 juta di akhir tahun 2010. Perkembangan industri media Korea dan kemajuan mereka ke dalam pasar regional merupakan tanda jelas dari pertahanan dari bawah dan 85

kontaminasi dari kekaisaran, mengingat konteks selama beberapa dekade telah didominasi Amerika melalui industri budaya global. Namun, fenomena kepopuleran kebudayaan Korea memberikan kita dua pertanyaan yang berbeda. Pertama, beberapa negara Asia melihat bahwa kepopuleran Korea adalah bentuk lain dari imperialisme budaya. Kedua, bagaimana kita bisa mendorong energi dari permintaan besar Asia terhadap budaya populer Korea untuk membentuk energi emosional untuk membangun masyarakat Asia Timur? Hukum kritik film yang berbasis di Hong Kong memiliki pandangan bahwa keberhasilan budaya populer Korea muncul dari kemampuannya untuk menyentuh titik yang tepat pada sentimen Asia, seperti nilai-nilai keluarga. Dalam menghadapi kemungkinan erosi budaya ciri khas mereka, Korea melakukan segala upaya untuk memperkuat industri budaya mereka. Dalam proses ini, hibridisasi budaya telah terjadi sebagai agen budaya lokal dan pelaku berinteraksi dan bernegosiasi dengan bentuk global,

menggunakannya sebagai sumber daya melalui cara membangun ruang budaya mereka sendiri. Dengan ini, globalisasi, khususnya realitas di bidang budaya populer, melahirkan bentuk kreatif hibridisasi yang bekerja untuk mempertahankan identitas lokal dalam konteks global. Korea bangga menampilkan budaya mereka melalui film. Misalnya saja kebiasaan orang Korea dalam mengkonsumsi kimchi tidak lepas dari berbagai scene di film. Kimchi merupakan makanan tradisional Korea dan masuk dalam daftar 5 makanan tersehat di dunia versi Health Magazine. Selain itu, mereka juga sering menampilkan scene adat istiadat perkawinan di Korea, atau baju tradisional mereka yaitu Hanbook lewat film. Hal ini

86

menyebabkan orang semakin mengenal bagaimana Korea sebenarnya, dan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi yang menyaksikannya. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang semakin

memudarkan nilai-nilai budaya tradisional, drama Korea secara konsisten menampilkan nilai-nilai budaya Korea dan Asia, seperti sopan santun, penghormatan pada orang tua, pengabdian pada keluarga, nilai kolektivitas atau kebersamaan, serta nilai kesakralan cinta dan pernikahan. Nilai-nilai ini ditampilkan secara unik dalam situasi kehidupan sehari-hari masyarakat Korea modern yang telah mengalami kemajuan teknologi dan ekonomi yang pesat. Secara unik, film dan drama-drama Korea tersebut ternyata dapat memberikan banyak hal yang berbeda pada setiap pribadi yang menontonnya. Memberikan perasaan hangat setelah lelah dengan rutinitas kehidupan, atau memenuhi kebutuhan akan sensasi emosional dalam luapan tawa atau tetesan air mata terharu. Sementara bagi sebagian orang, nostalgia indah akan nilainilai hidup yang berharga dihadirkan kembali. Untuk orang-orang yang lain, rangkaian gambar hidup itu juga dapat membawa perasaan simpati yang dalam, bahkan dapat menjadi refleksi akan pengalaman danpelajaran kehidupan yang seperti dialami sendiri. Banyak hati manusia juga tergugah, ketika inspirasi dan motivasi diberikan pada mereka lewat tampilan-tampilan dalam layar kaca tersebut, untuk berjuang mewujudkan impian yang belum tercapai. Konten drama harian yang disiarkan juga relatif aman dan bisa dikonsumsi semua umur. Ternyata dengan tema "aman" itulah drama Korea justru berhasil membentuk formula yang pas di hati penonton: kisah cinta 87

mengharukan. Bintang cantik, tampan, dan pemandangan alam Korea Selatan yang indah terutama diangkat ketika musim dingin dan semi-menjadi bagian dari ramuan cerita. Yang lebih memikat para penonton maaf, terutama perempuan adalah tokoh laki laki dalam serial Korea yang pantang menangis tersedu sedu dan menonjolkan sikap lemah tak berdaya bila jatuh cinta. Kekuatan berikutnya, bukan bintang perempuan yang cantik karena itu sudah biasa tapi wajah bintang laki laki yang "cantik". Pada akhir 1990 an mulai terkenal istilah Korea: kkotminam atau laki laki cantik. Ini untuk menggambarkan tren laki laki Korea yang "cantik" tapi tidak kemayu dan banci. Saat memikirkan Korea Selatan sebagai sebuah negara yang dinamis, tidak berlebihan jika mengatakan bahwa negara tersebut kini telah berkembang menjadi salah satu produsen drama televisi terbaik di dunia. Duduk di depan layar televisi dan menonton drama mungkin tidak lebih dari sebuah aktivitas untuk mendapatkan hiburan ringan bagi banyak orang dari berbagai macam latar belakang kultur di seluruh dunia. Namun Korea berhasil membuat drama televisi menjadi lebih dari sekedar hiburan ringan. Di dalam wilayah yang telah lama didominasi oleh budaya populer dari Hollwood dan Tokyo, Hallyu (Korean Wave) dari Seoul ini menjadi fenomena yang unik serta mengejutkan. Para jurnalis dan media dari berbagai negara kini ramai membicarakan fenomena ini, sementara para akademisi dan peneliti mulai membuat teori-teori ilmiah untuk menjelaskan gelombang tersebut. Memang tidak terduga, Korea Selatan yang pada satu dasawarsa lalu tidak berpengaruh dalam bidang industri budaya populer dan bahkan berposisi marginal dalam bidang tersebut, kini telah berhasil menjadi salah 88

satu negara cultural exporter di Asia. Korea telah menjadi sebuah negara dengan industri budaya yang kuat, mampu mengekspor produk-produk budaya populernya ke luar negeri dan menyebarkan pengaruh kultural. Umumnya negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Perancis yang melakukan ekspansi budaya sampai ke luar batas negara. Sebab, ekspansi budaya akan berkelanjutan jika fundamental perekonomian suatu negara sudah cukup kuat (Yang Seung-yoon, 2000). Lalu mengapa Korea kini melakukan ekspansi budaya pop dan bisa mencapai pengaruh yang luas di Asia? Ada beberapa sebabnya, antara lain: Pertama, Korea memang telah menjadi negara maju dan sejak tahun 1996 resmi menjadi anggota OECD. Kesuksesan industrialisasinya membawa pengaruh yang besar di Asia. Cina, Vietnam dan Indonesia adalah penerima investasi asing Korea dan pasar bagi produk-produk industri Korea. Ekspansi budaya umumnya mengawali atau mengikuti ekspansi ekonomi suatu negara dan menjadi salah satu strategi perluasan pasar. Kedua, budaya pop Korea mempunyai keunikan, yaitu meskipun memadukan elemen Amerika dan Jepang, terlihat segar dengan kandungan yang kuat budaya khas Korea-nya. Kemampuan mengharmoniskan nilai Timur dan Barat ini membuat drama dan film Korea lebih disukai di Cina. Sebaliknya, sinema Jepang tidak disukai di Cina karena dianggap mengandung elemen yang terlalu ekstrem dan kebarat-baratan. Lagu pop Korea juga sangat laris di Cina karena berirama dinamis, tidak konvensional, dan dianggap mampu memuaskan jiwa dan keinginan generasi muda yang tertekan di negeri tirai besi ini. Di Jepang, film layar lebar Korea disambut

89

hangat karena menawarkan tema-tema alternatif dan mengandung segi hiburan yang tinggi. Ketiga, perkembangan industri budaya pop di Korea sangat pesat sepuluh tahun terakhir ini. Tahun 1997 disebut sebagai tahun kebangkitan film Korea dengan digunakannya pendekatan baru dalam memproduksi film, yaitu lebih menonjolkan tema individualisme (yang merupakan

kecenderungan masyarakat Korea sekarang), kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Hasilnya muncul berbagai jenis tema, film, dan lahir pula sutradara-sutradara film independen. Pendekatan baru ini meningkatkan gairah untuk membuat film, termasuk film-film pendek yang didukung penayangannya oleh bioskop-bioskop lokal. Keempat, pertumbuhan industri film di Korea tak lepas dari peran pemerintah. Di samping memberlakukan kuota tayang (minimal 106 hari per tahun untuk film domestik), pemerintah Korea melakukan revitalisasi industri film domestik sejak tahun 1973 melalui Komisi Film Korea (KOFIC). Semakin populernya budaya pop Korea memiliki implikasi lebih dari sekadar mendapakan devisa asing, terutama bila kita mengingat bahwa negara ini memiliki beberapa friksi diplomatik dengan negara-negara tetangganya dalam beberapa dekade terakhir. Orang-orang Vietnam masih teringat bahwa tentara Korea berperang melawan tentara kemerdekaan mereka selama Perang Vietnam. Orang-orang Taiwan merasa dikhianati oleh Korea sejak Seoul tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Taipei pada saat membangun hubungan baru dengan Beijing pada tahun 1992. Dalam hal ini, bintang pop Korea telah memberikan kontribusi untuk meningkatkan hubungan luar negeri Korea. Satu contohnya, aktor Korea Jang 90

Dong-gun dan aktris Kim Nam-ju menikmati popularitas mereka di Vietnam karena orang-orang Vietnam menjuluki mereka dengan bintang nasional. Presiden Korea, Kim Dae Jung, bahkan mengundang pasangan tersebut pada acara makan malam untuk menjamu Presiden Vietnam Tran Duc Luong ketika akhirnya dia mengunjungi Korea pada tanggal 23 Agustus 2001. BoA, yang dimuat di sampul Le Monde Perancis pada bulan Juli 2002 sebagai ikon pertukaran budaya antara Korea dan Jepang, diundang ke konferensi kedua negara pada bulan Juni 2003 di Tokyo. Bahkan di Thailand, Secara keseluruhan, Korea telah sungguh-sungguh menyambut buah dari

kepopuleran kebudayaan Korea di tengah-tengah pemulihan krisis ekonomi tahun 1997, dan berikutnya restrukturisasi ekonomi arahan International Monetary Fund (IMF) sering mereka sebut sebagai penghinaan nasional.

B. Sejarah Sinema Korea Berbicara mengenai perfilman Asia pada dekade ini tak luput dari pembicaraan film dari negeri Ginseng, khususnya Korea selatan. Industri film Asia secara umum bergerak dinamis dalam perkembangannya. Sinema Korea adalah salah satu industri film Asia yang bergerak sangat pesat dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Berbicara mengenai sejarah film Korea, sungguh ironi, disaat perfilman mereka kini dipandang mentereng dalam peta persaingan film-film Asia, namun keberadaan sejarah dari perkembangan film-film mereka boleh dibilang nyaris musnah lantaran masa pendudukan Jepang serta perang sipil. Berbagai usaha dilakukan Korean Film Archieve, Korean Film Council serta Pusan International Film Festival untuk terus melakukan 91

pencarian film-film yang dianggap hilang. Lembaga-lembaga tersebut juga melakukan restorasi film-film yang rusak karena termakan oleh waktu maupun terbengkalai masa perang. Pada masa pendudukan Jepang, seluruh film-film Korea yang diproduksi harus melewati otoritas pengawasan badan sensor Jepang. Film-film yang bertema aman yang mampu lulus sensor, seperti film-film melodrama dan sejarah, serta film-film propaganda Jepang. Film-film yang dirasakan mengancam akan dicekal dan dimusnahkan.

1.

Masa Pendudukan Jepang The Righteous Revenge (Uirijeok Guto/1919) tercatat sebagai film

Korea pertama yang diproduksi di masa pendudukan Jepang. Film ini diistilahkan kino drama karena film hanya berfungsi sebagai latar dalam pertunjukan. Salah satu film yang dianggap sebagai film panjang Korea pertama adalah Chunhyang-Jeon (1922), kelak menjadi cerita rakyat yang paling sering difilmkan. Salah satu sutradara paling berpengaruh pada masa ini adalah Na Un-kyu melalui film pentingnya, Arirang (1926). Film ini merupakan bentuk sikap penolakannya terhadap pendudukan Jepang yang menginspirasi para pembuat film lainnya hingga otoritas Jepang kelak semakin memperkuat sensornya. Memasuki era film bicara, tercatat film bicara pertama adalah Chunhyang-Jeon (1935) arahan Lee Myeong-woo yang produksinya dibantu pemerintah Jepang. Selama periode ini produksi film-film Korea meningkat demikian pesat. Un-kyu pada era ini memproduksi beberapa film penting seperti Kanggeonneo maeul (1935), dan Oh Mong-nyeo (1937). Setelah Jepang menginvasi Cina pada tahun 1937, industri film Korea berubah 92

sepenuhnya menjadi mesin propaganda Jepang. Film-film barat yang dirilis mulai berkurang dan digantikan oleh film-film Jepang. Bahkan mulai tahun 1938, film-film Korea diproduksi langsung oleh pihak Jepang, dan puncaknya tahun 1942, film berbahasa Korea dilarang diproduksi sama sekali. Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, selama sesaat industri film Korea bersuka cita dalam era kebebasan, seperti tercermin dalam film Chayu Manse! (Viva Freedom!,1946). Namun kembali industri film Korea mengalami masa-masa sulit setelah pemisahan wilayah Utara-Selatan dan pecah perang sipil selama tahun 1950-1953. Selama tiga tahun ini tercatat hanya sedikit film Korea diproduksi dan nyaris semua film-film warisan masa silam musnah selama perang.

2.

Era Emas Industi Film Korea Perang sipil melumpuhkan industri film di Korea dan sebagian besar

peralatan produksi yang mereka miliki musnah. Setelah gencatan senjata tahun 1953, Presiden Korea Selatan, Rhee Syngman membebaskan pajak film-film Korea yang akan diproduksi dengan harapan industri dapat kembali pulih. Pihak asing pun turut mempercepat pulihnya industri dengan memberikan bantuan teknologi serta peralatan produksi. Kebangkitan sinema Korea ditandai melalui sukses film remake, Chunhyang-jeon (1955) arahan Lee Kyu-hwan yang ditonton lebih dari 200 ribu orang. Produksi film pun meningkat sangat tajam pada periode pertengahan 50-an hingga akhir 60-an, yang dianggap sebagai era kejayaan industri perfilman Korea. Sejak pertengahan dekade 50-an pada masa yang mulai kondusif ini bermunculan beberapa talenta berbakat, dan film-film Korea mulai mendapat 93

perhatian internasional. Sutradara seperti Yu Hyon-mok dan Kang Dae-jin terpengaruh oleh gerakan neorealisme dan mengangkat tema sosial pasca perang serta modernisasi melalui film-film mereka, Aimless Bullet (1961) dan The Coachman (1961). The Coachman tercatat sebagai film Korea pertama yang meraih penghargaan bergengsi dalam festival film internasional. Kim Ki-young memproduksi salah satu film Korea berpengaruh, yaitu Housemaid (1960). Kemudian Shin Sang-ok dikenal melalui film-filmnya seperti A Flower in Hell (1958) dan The Houseguest and My Mother (1961). Film yang terakhir memenangkan penghargaan Film Terbaik dalam Asian Film Festival tahun 1962 dan memantapkan reputasi Sang-ong sebagai salah satu sutradara papan atas Korea. Sejak tahun 1962, pemerintah Korea juga mulai berusaha mengontrol industri film. Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membatasi produksi film secara kuantitatif maupun substansial. Film-film yang diproduksi dan diimpor dibatasi melalui sistem kuota yang berakibat mengurangi jumlah studio produksi. Sensor film mulai bertambah ketat, terutama hal-hal yang terkait paham komunisme serta amoral. Sekalipun begitu tekanan dari kebijakan pemerintah tidak mengurangi minat penonton untuk membanjiri bioskop-bioskop dan film-film berkualitas pun secara kontinu semakin banyak diproduksi setidaknya hingga pertengahan dekade 70-an.

3. Era Kemunduran dan Kebangkitan Kontrol dan sensor pemerintah Korea Selatan terhadap industri film mencapai titik puncaknya pada pertengahan dekade 70-an. Sejak tahun 1973, 94

pemerintah bahkan mulai campur tangan dengan memaksa para pembuat film untuk memasukkan ideologi pemerintah ke dalam film-film mereka. Popularitas televisi yang meningkat sejak akhir dekade lalu ditambah munculnya film-film pro-pemerintah yang kurang disukai publik

mengakibatkan jumlah penonton menurun drastis hingga akhir 70-an. Sekalipun begitu pada periode kelam ini muncul beberapa sineas muda berbakat seperti Im Kwon-taek (Deserted Widows,1973), Kim Ki-young (Insect Woman), Le Jang-ho (Hometown Stars, 1974), serta Ha Kil-jong (March of Fools, 1975). Pada tahun 1979-1980 terjadi beberapa peristiwa penting di Korea Selatan, yakni pembunuhan presiden Park Cung-he, Kudeta Duabelas Desember, hingga Pembantaian Gwangju yang kelak mengarahkan rakyat Korea ke era demokrasi yang lebih terbuka. Pemerintah sedikit demi sedikit mulai mengurangi sensor serta kontrol terhadap industri film. Kebijakan penting dibuat oleh Presiden Roh Tae-Woo pada tahun 1988 yang menghilangkan campur tangan pemerintah terhadap tema politik di film. Para pembuat film mulai berani mengeksplorasi tema sosial dan politik dalam film-film mereka, salah satunya adalah Chilsu and Mansu (1988) arahan Park Kwang-soo yang memperlihatkan demonstrasi di jalanan pada klimaksnya. Walaupun sineas pada saat itu sudah mendapatkan sedikit kebebasan, namun masih ada hal yang cukup mengganjal. Di bawah tekanan AS, pada tahun 1988 pemerintah Korea memperbolehkan studio Hollywood untuk mendistribusikan film-film langsung ke teater lokal, sejak itu, lebih dari sepuluh importir film Korea telah menutup usaha mereka pada tahun 1994. Pembukaan pasar ke Hollywood ini mempengaruhi vitalitas industri film 95

lokal pada umumnya, sehingga jumlah film yang diproduksi setiap tahun turun dari 121 pada tahun 1991 ke 63 di 1994. Pada tahun 1994, pangsa pasar Hollywood di pasar lokal mencapai 80%, dari 53% pada tahun 1987. Oleh karena itu, film Korea, telah diabaikan oleh penonton lokal karena menganggap film korea buruk kualitasnya, membosankan, dan sering cengeng, sedang menghirup napas terakhir. Satu sutradara yang dianggap paling berpengaruh pada dekade ini adalah Im Kwon-taek. Sekalipun Im telah memproduksi puluhan judul film sebelum dekade ini namun setelah filmnya Mandala (1981), ia baru dikenal sebagai salah satu sutradara terbaik Korea. Im mencoba menggali budaya tradisional Korea yang telah lama dilupakan. Mandala berkisah tentang dua orang biksu yang mencari makna dan status ajaran Budhisme di masyarakat Korea. Setelah film ini meraih penghargaan di Hawaii Film Festival, Im menjadi sineas Korea pertama yang film-filmnya selalu dipertontonkan di festival-festival film di Eropa.

4. Era Baru Sinema Korea Awal hingga pertengahan dekade 90-an, sekalipun kondisi mulai membaik bagi industri film namun film-film Korea masih belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebesar 80% lebih film-film yang diputar di bioskop-bioskop adalah film-film asal Hollywood dan Hongkong. Satu momen penting pada dekade ini adalah pada tahun 1992 melalui film Marriage Story yang mendapat sponsor dari perusahaan elektronik terkemuka, Samsung. Ketika terbukti sukses, perusahaan besar lainnya mengikuti jejak yang sama. Film-film mulai diproduksi dengan bujet dan 96

promosi yang lebih besar serta peralatan studio produksi yang lebih memadai. Perlahan tapi pasti, film-film Korea mulai bersaing dengan film-film luar, seperti The Gingko Bed (1996) arahan Kang Je-gyu, hingga puncaknya tahun 1999, ketika Samsung mendanai produksi film aksi thriller, Shiri (1999) arahan Kang yang memecahkan rekor sebagai film terlaris Korea pada masanya. Film ini pun juga laris di luar Korea sehingga para produser lokal mulai melirik pasar internasional. Fenomena Shiri ternyata hanyalah awal dari segalanya. Film-film domestik silih berganti menempati posisi pemuncak box office. Film tentang persahabatan empat anak, Friend garapan Kwak Kyung-taek memecahkan rekor Shiri di tahun 2001. Berlanjut film garapan Park Chan-wook berjudul Joint Security Area (JSA, 2000), lalu Silmido (2003) garapan Kang Woo-suk, disusul lagi oleh film perang Korea garapan Kang Je-gyu, Tae Guk Gi (2004), hingga terakhir film monster unik, The Host (2006) menjadi film terlaris sepanjang masa (sejauh ini) dengan rekor mencapai 13 juta penonton lebih! Beberapa film, seperti drama komedi remaja, My Sassy Girl (2001) selain sukses domestik merupakan film Korea yang paling sukses di pasar internasional. Film-film Korea bahkan juga mulai dirilis di Amerika, seperti Chunhyang (2000) dan Chihwaseon (Painted Fire, 2002) keduanya garapan sineas kawakan, Im Kwon-taek. Sukses-sukses tersebut rupanya juga menarik perhatian Hollywood. Beberapa film-film populer mulai dibeli (hak remake) beberapa studio besar Hollywood untuk dibuat versi Amerika-nya. Film-film Korea seperti Il Mare (The Lake House/AS) serta My Sassy Girl beberapa waktu lalu remake-nya telah dirilis. Film-film laris lainnya yang telah dibeli hak remake-nya oleh 97

Hollwood antara lain, JSA, My Wife is a Gangster, Oldboy, hingga film horor psikologis, A Tale of Two Sister yang konon dibeli Dreamworks sebesar $2 juta. Di sisi lain juga bermunculan sineas-sineas berbakat yang film-film mereka sukses di berbagai ajang kompetisi internasional. Dipelopori oleh Oasis (2002) karya Lee Chang-dong yang sukses di Venice Film Festival. Kim Ki-duk dengan film-filmnya yang kontroversial mendapatkan perhatian internasional melalui Spring, summer, fall, winter and spring (2002), Samaritan Girl (2004), serta 3-Iron (2004). Park Chan-wook dikenal melalui trilogi Vengeance-nya yang berjudul, Symphati for Mrs. Vengeance (2002), Old Boy (2003), dan Lady Vegeance (2005). Film Kontroversial, Old Boy selain sukses komersil juga sukses dalam Festival film Cannes serta mendapatkan banyak pujian dari kritikus dimana-dimana. Hingga kini sineas-sineas berbakat dan film-film Korea berkualitas terus bermunculan yang berangkat dari pahit getir zaman dan tensi perpolitikan negaranya. Tak bisa dipungkiri, kini Korea menjadi salah satu industri perfilman terdepan dalam kancah perfilman Asia. Penghargaan tinggi atas usaha yang dilakukan Korean film Council, Korean Film Archive, dan Pusan International Film Festival yang terus merestorasi film-film klasik Korea hingga para sejarawan dan pengamat film mampu mengapresiasi karya-karya terbaik di era silam. Pertumbuhan industri film di Korea saat ini tak lepas dari peran pemerintah. Di samping memberlakukan kuota tayang (minimal 106 hari per tahun untuk film domestik), pemerintah Korea melakukan revitalisasi industri film domestik sejak tahun 1973 melalui Komisi Film Korea (KOFIC). 98

Aktivitas KOFIC dibagi dalam lima departemen yaitu, Departemen Promosi menyediakan dana dan berbagai bantuan untuk film lokal. Departemen Promosi Internasional bertugas mempromosikan film Korea di luar negeri. Departemen Pendidikan mengelola Akademi Film Korea dan Akademi Film Animasi Korea serta mendukung 40 institut perfilman di Korea. Departemen R&D yang membuat penelitian, statistik film, dan publikasi. KOFIC juga mengelola studio out-door dan in-door di Seoul Complex Studio untuk mendongkrak mutu visual sinema Korea. Beberapa kegiatan KOFIC yang menarik adalah lomba penulisan skenario film dua kali setahun, sedangkan untuk skenario film animasi sekali setahun. Pemenangnya mendapat hadiah uang yang lumayan besar. KOFIC menyeleksi dan mendanai film pendek, film dokumentasi, film independen dan film animasi. Untuk mempromosikan film Korea di luar negeri, KOFIC membuat terjemahan film Korea dalam berbagai bahasa seperti Perancis, Jerman, Itali, Jepang, Cina, Rusia, dan Spanyol. KOFIC mendukung ikut sertanya sinema Korea di festival-festival film internasional bergengsi, disamping Korea sendiri sering menjadi tuan rumah seperti di Busan Internasional Film Festival. Jika tahun 1999 sejumlah 80 film Korea diikutsertakan di 73 festival film internasional, maka tahun 2002 lalu jumlahnya meningkat menjadi 280 film (KOFIC, 2002). Di dalam negeri film Korea juga sukses mendatangkan banyak penonton. Statistik film yang dirilis KOFIC memperlihatkan film lokal mampu menggeser dominasi film impor, terutama dari Hollywood. Jika pada tahun 1991 di Korea pangsa penonton film lokal hanya 21 persen, maka pada tahun 2001 melonjak jadi 50 persen, justru saat kuota tayang makin 99

dikurangi. Dari 10 film terlaris di Korea tahun 2001, enam adalah buatan lokal dimana rangking satu sampai lima diduduki oleh film Korea. Film yang menjadi box office tahun 2001 adalah Friend yang ditonton 2,5 juta orang. Tahun 2002 lalu kembali film lokal menendang film Hollywood. Dari 10 film paling laris di Korea, lima di antaranya produksi lokal. Film The Way Home yang disutradarai oleh sutradara muda perempuan Lee Jeong-hyang menjadi box office dan ditonton lebih dari 1,5 juta orang di Korea. Film-film terlaris tahun 2001 dan 2002 bercerita tentang realitas sosial masyarakat Korea. Film Friend menuturkan hubungan pertemanan dan pergangster-an yang merupakan bentuk hubungan sosial dan kenyataan hidup di Korea. Sedangkan The Way Home yang diputar dalam Pekan Film Korea IV menyentil runtuhnya keagungan relasi anak-orang tua di Korea. Masyarakat Korea yang dulu menekankan pentingnya menghormati orang tua, kini terkesan mulai mengabaikan orang tua. Film ini membuat banyak orang Korea merasa sangat bersalah karena meninggalkan orang tua mereka yang jompo sendirian di kampung, sementara mereka sibuk dengan urusan masingmasing di kota besar.

C. Demam K-Pop Melanda Dunia

K-pop, kepanjangannya Korean Pop ("Musik Pop Korea"), adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Kegandrungan akan musik K-Pop merupakan bagian yang tak terpisahkan daripada Demam Korea (Korean Wave) di berbagai negara. Musik pop Korea pra-moderen pertama kali muncul pada tahun 1930an akibat masuknya musik pop Jepang yang juga turut memengaruhi unsur100

unsur awal musik pop di Korea. Penjajahan Jepang atas Korea juga membuat genre musik Korea tidak bisa berkembang dan hanya mengikuti

perkembangan budaya pop Jepang pada saat itu. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pengaruh musik pop barat mulai masuk dengan banyaknya pertunjukkan musik yang diadakan oleh pangkalan militer Amerika Serikat di Korea Selatan. Musik Pop Korea awalnya terbagi menjadi genre yang berbeda-beda, pertama adalah genre "oldies" yang dipengaruhi musik barat dan populer di era 1960-an. Pada tahun 1970-an, Genre lain yang cukup digemari adalah musik Trot yang dipengaruhi gaya musik enka dari Jepang. Selanjutnya musik rock diperkenalkan dengan pionirnya adalah Cho Yong-pil. Cho Yong-pil adalah seorang pionir rock yang memberikan pengaruh lain pada era musik korea dengan memperkenalkan musik rock pada tahun 1970 an. Budaya musik dari jepang juga masih memberikan pengaruh melalui gaya musik enka yang melahirkan genre musik Trot dan menjadi salah satu jenis musik yang digemari pada saat itu. Kemudian setelah era Cho Yong-Pil, kelompok musik Seo Taiji and Boys menandakan awal kemunculan era musik pop modern di korea pada tahun 1992 memberi sentuhan berbeda yang menggabungkan musik rap, techno dan rock Amerika yang kemudian menjadi K-pop saat ini. Kesuksesan kelompok musik Seo Taiji and Boys juga menginspirasi grup musik seperti Panic dan Deux yang pada akhirnya juga mendulang kesuksesan dengan musik K-pop. Berkat Seo Taiji and Boys serta Panic dan Deux yang telah menikmati kesuksesan k-pop akhirnya bermunculan grup dan kelompok 101

musik serta musisi baru yang juga berkualitas hingga saat ini. Pada tahun 90 an musik pop yang berkembang cenderung terpengaruh oleh musik dance dan hip hop. Sasaran utama musik pop pada era itu adalah anak muda, sehingga jangan heran dekade ini banyak grup teen idol yang bermunculan dan paling digandrungi seperti H.O.T, CLON, S.E.S, Sechs Kies, g,o.d. Namun sayang banyak dari grup musik ini pada akhirnya bubar dan personilnya pun bersolo karir untuk mencari kesuksesan masing-masing Di tahun 2000-an pendatang-pendatang baru berbakat mulai

bermunculan. Aliran musik R&B serta Hip-Hop yang berkiblat ke Amerika mencetak artis-artis semacam MC Mong, 1TYM, Rain, Big Bang yang cukup sukses di Korea dan luar negeri. Beberapa artis underground seperti Drunken Tiger, Tasha (Yoon Mi-rae) juga memopulerkan warna musik kulit hitam tersebut. Musik rock masih tetap digemari di Korea ditambah dengan kembalinya Seo Taiji yang bersolo karier menjadi musisi rock serta Yoon Do Hyun Band yang sering menyanyikan lagu-lagu tentang nasionalisme dan kecintaan terhadap negara. Musik techno memberi nuansa moderen yang tidak hanya disukai di Korea saja, penyanyi Lee Jung-hyun dan Kim Hyunjung bahkan mendapat pengakuan di Cina dan Jepang. Musik balada masih tetap memiliki pendengar yang paling banyak di Korea. Musik balada Korea umumnya dikenal dengan lirik sedih tentang percintaan, seperti yang dibawakan oleh Baek Ji Young, KCM, SG Wannabe, dan sebagainya. Musik balada umumnya digemari karena sering dijadikan soundtrack drama-drama televisi terkenal seperti Winter Sonata, Sorry I Love You, Stairway to Heaven dan sebagainya.

102

Berkat kepopuleran musik pop Korea atau K-pop di mata dunia, banyak artis dan kelompok musik korea yang menikmati kesuksesan di ranah musik internasional , sebut saja BoA yang telah mampu menembus pasar musik di jepang dan Negara lainnya. Setelah itu, muncul artis lainnya seperti Rain, Se7en, Shinhwa, Ryu Shi-won dan masih banyak lagi. Mereka berpacu dan bersaing untuk mememangkan pasar musik jepang dan Rain adalah artis Asia pertama yang sukses mengadakan konser internasional di Madison Square Garden pada tahun 2005 yang bertajuk Rainy Day. Tak ketinggalan pula, banyak peggemar musik k-pop dari berbagai belahan dunia seperti Amerika, Eropa, bahkan di negara Arab sekali pun membuat video amatir dengan melakukan lipsing lagu-lagu k-pop dan mengunduhnya di Youtube. K-pop di masa sekarang, lebih banyak didominasi boy-band dan girl band. Sebut saja Super Junior dan Wonder Girls yang menjadi icon dan paling banyak diminati di dalam maupun di luar Korea. Ciri khas boy band dan girl band K-pop adalah memadukan unsur menyanyi dengan dance. Hal inilah yang membuat banyak remaja tergila-gila. Tarian dance ala Korea pun banyak ditiru oleh para penggemarnya. Selain perpaduan musik, tari dan suara yang keren, wajah tampan dan cantik ikut menunjang kepopuleran boy band dan girl band Korea. Perjuangan mereka patut dicermati. Sukses dari program magang yang diadakan agensi musik di Korea seperti SM Entertainment dan DSP Entertainment selama beberapa tahun sebelum akhirnya mereka dapat mengeluarkan album sendiri. Menjadi seorang artis di korea tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus mereka korbankan. 103

Motto mereka penggemar adalah segalanya. Jadi, mereka berusaha menampilkan yang terbaik dan bahkan rela mematuhi kontrak untuk tidak pacaran atau bahkan menikah selama masih terikat kontrak demi menjaga perasaan para fans-nya. Artis Korea dituntut tidak hanya memiliki satu skill. Mereka juga dilatih untuk memiliki kemampuan akting plus nyanyi agar bisa bersaing di pasaran. Selain itu, dari segi skill saja tidak cukup, mereka juga wajib memiliki nilai raport di atas rata-rata bagi yang masih menempuh pendidikan dan menjaga agar nilai mereka tidak anjlok selama menjadi artis. Saat nilai sekolah anjlok, maka mereka harus bersiap-siap untuk dikeluarkan dari manajemen artis yang menaunginya. Tak pelak, kisah mereka juga menarik CNN World yang menurunkan fenomena Korean Wave dalam segment Talk Asia. Ternyata, Korean wave menyebar ke negara di luar Korea berkat teknologi canggih macam social networking yang sedang berkembang (Facebook, Twitter, Youtube). Hal ini membuat para idola semakin dekat dengan penggemar mereka yang berada di luar Korea. Agensi musik mereka pun juga membenarkan dengan adanya Youtube sangat membantu menyebarkan kiprah sang idola ke berbagai negara. Kepopuleran Youtube di dunia dapat menyebarkan videoklip musik terbaru dari idola mereka dengan cukup mengetikkan judul lagunya saja. Youtube membantu pasar agensi musik yang ada di luar Korea tanpa harus membuka cabang di negara tersebut. Dengan adanya Youtube, idola K-Pop banyak yang memiliki penggemar dari seluruh dunia. K-pop telah mampu membius pecinta musik dunia untuk terenyuh dengan alunan tembang-tembangnya nan romatis. Tak heran jika Indonesia 104

menjadi salah satu arena kepopuleran musik Korean pop, ini ditandai dengan kemunculan banyak kelompok musik yang beraliran k-pop di tanah air dan yang paling terkenal adalah SMASH. Kepopuleran K-pop di tanah air juga akhirnya memberikan angin segar bisnis musik di Indonesia, baru-baru ini saja telah banyak konser yang menghadirkan bintang pop dan kelompok musik k-pop dari korea untuk tampil di Indonesia, seperti 2AM, SUPER JUNIOR, GIRLS GENERATION, WONDER GIRLS yang merupakan kelompok musik aliran k-pop yang sangat tenar di korea dan mancanegara.

D. Korean Wave di Indonesia Korea Selatan adalah salah satu pemain baru yang sukses memasok produk-produk budayanya di pasar global. Gelombang kebudayaan modern Korea atau yang sering disebut Korean Wave/Hallyu sejak tahun 1990-an telah menyapu banyak negara di Asia dan kawasan lainnya. Di Indonesia sendiri, gelombang Hallyu mulai dirasakan sejak tahun 2000-an ketika filmfilm Korea banyak diputar di televisi nasional dan mendapat sambutan hangat dari para pemirsa. Sebelum diterjang oleh gelombang Korea, Indonesia juga sudah diterjang lebih dahulu oleh gelombang India, Jepang, Eropa, Latin, dan tentu saja Amerika. Masyarakat Indonesia pun menerima hal tersebut dengan tangan terbuka, bukan hanya dramanya saja yang dikenal di Indonesia, melainkan juga bahasa, produk, bahkan perusahaan-perusahaan Korea menjamur di Indonesia. Maka berbagai respon pun bermunculan menanggapi terjangan budaya asing di negeri kita. 105

Merebaknya Hallyu di negara-negara Asia Timur dan beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia telah menunjukkan adanya aliran budaya dari Korea ke negara-negara tetangganya. Terlepas dari dampak panjang yang akan terus berlanjut, Hallyu memang suatu fenomena tersendiri dalam dunia industri hiburan modern Korea. Dalam situasi dunia di mana pertukaran informasi terjadi hampir tanpa halangan apa pun, Korea telah menjejakkan pengaruhnya di kawasan Asia. Melihat meluasnya Hallyu ini, sekali lagi tidak bisa dilepaskan dari peran media massa yang baik secara sadar maupun tidak telah membantu terjadinya aliran budaya ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa dengan media massa-lah Hallyu memasuki semua sudut negara-negara Asia termasuk Indonesia. Perubahan yang dialami oleh industri budaya pop Korea, baik produk budaya televisi, film, maupun industri rekaman merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dikaji. Sebagai sebuah negara yang banyak

diperhitungkan kiprahnya di kawasan Asia, Korea tidak bisa begitu saja dilihat sebelah mata. Banyak hal yang bisa dipelajari dari fenomena itu, terutama bagaimana semua pihak di dalam negeri bersatu padu membuat fenomena tiba-tiba itu menjadi suatu komoditas yang berharga bagi bangsa. Sinetron dan film Korea yang ditayangkan televisi Indonesia mulai dapat dilihat perkembangannya sejak berlangsungnya Piala Dunia pada Juli 2002 yang lalu. Dengan adanya momentum tersebut beberapa stasiun televisi Indonesia mulai memperkenalkan sinetron dan film dari negara Korea. Setelah sukses dengan film seri drama Mandarin, Meteor Garden, stasiun televisi Indosiar menayangkan drama produksi Korea yaitu Endless Love 106

(2002). Sinetron produksi stasitun televisi KBS (Korean Broadcasting Station atau televisi pemerintah Korea) yang di negara asalnya meraih sukses yang besar telah dibeli hak siarnya untuk diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia saat itu. Dimulai dengan sinetron inilah ternyata sinetron Endless Love berhasil merebut hati masyarakat Indonesia. Bila Meteor Garden awalnya ditujukan bagi pemirsa dewasa namun ternyata disukai para remaja juga, Endless Love sebaliknya. Sinetron yang diputar tahun 2002 yang lalu itu tidak hanya digemari remaja, tetapi juga ibu-ibu. Berdasarkan survei AC Nielsen Indonesia, Endless Love rating-nya mencapai 10 (ditonton sekitar 2,8 juta pemirsa di lima kota besar), mendekati Meteor Garden dengan rating 11 (sekitar 3,08 juta pemirsa) (Kompas, 14 Juli 2003). Endless Love terbukti saat itu menjadi pilihan lain bagi penggemar sinetron Asia di tanah air. Sinetron dengan 18 episode ini telah menjadi semacam batu loncatan sinetron-sinetron Korea lainnya untuk bisa diterima di masyarakat Indonesia. Hal ini mengingatkan bagaimana pada tahun era 90-an akhir, televisi Indonesia dipenuhi dengan melambungnya pamor sinetron Jepang. Dengan sedikit perbedaan, hadirnya sinetron Korea di Indonesia merupakan sesuatu yang baru bagi masyarakat Indonesia, baik dari segi cerita maupun wajah-wajah para pemainnya yang tidak begitu Mandarin dan tidak begitu Jepang. Didukung oleh merebaknya teknologi dubbing dan bilingual programming, sinetron Korea yang ditayangkan dapat diterima oleh pemirsa televisi. Bahkan stasiun televisi lain pun juga mulai menayangkan sinetron Korea. Trans TV pada tahun 2002 yang lalu menayangkan sinetron Glass Shoes dan Lover. TV7 pada tahun 2003 menayangkan Beautiful Days. 107

Walaupun rating ketiga sinetron tersebut tidak sehebat sinetron Korea lainnya, hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2002-2003 mulai marak penayangan sinetron Korea. Selain Indosiar, Trans TV, dan TV7, SCTV pun selama kurun waktu 2002 -2003 juga menayangkan beberapa sinetron Korea berjudul Invitation, Pop Corn, Four Sisters, Successful Bride Girl, Sunlight Upon Me dan Winter Sonata. Namun, di antara sinetron-sinetron tersebut, yang paling popular dan mendapatkan hati di masyarakat Indonesia adalah sinetron Winter Sonata. Khusus sinetron yang disebut terakhir ini, SCTV telah menayangkannya pada tahun 2002 setiap Senin pukul 19.00. Sedangkan, sejak September 2004 ini, Indosiar juga menayangkan ulang sinetron ini setiap Senin Kamis sore pukul 15.30. Melihat fenomena seperti ini, satu hal yang bisa dilihat adalah besarnya keinginan sebagian masyarakat Indonesia untuk menonton sinetron ini walaupun telah ditayangkan sebelumnya. Melihat kesuksesan dari Sinetron Endless Love dan Winter Sonata di Indonesia dengan rating yang tinggi dalam perolehan jumlah penonton selama penayangannya, kedua sinetron ini juga telah memberikan warna baru dalam sinetron Asia yang marak ditayangkan di televisi-televisi tanah air. Selain drama, film Korea pun juga tidak luput dari incaran para stasiun televisi tanah air pada tahun 2002 yang lalu. Trans TV mulai pada tahun 2002 menayangkan film-film Asia terutama Korea pada Selasa malam. Beberapa contoh film produksi Korea yang telah tayang di Trans TV adalah Libera Me, Sorum, dan Joint Security Area. Yang patut diketahui adalah bahwa ketiga film tersebut bukan sekedar film biasa namun merupakan filmfilm box office di negerinya sendiri. 108

Hal yang menarik dari film-film tersebut adalah bahwa mereka diproduksi oleh perusahaan film kelas menengah dalam arti perusahaan film Korea tidaklah sebesar Sony (Jepang) atau Warner Bros (Hollywood) yang memang memiliki distribusi internasional yang luas. Namun demikian, terlepas dari kenyataan tersebut, mereka berhasil menjual produksi mereka ke pasaran negara lain, khususnya Asia termasuk Indonesia melalui jalur video dan VCD. Menurut Garin Nugroho dalam wawancaranya di Harian Suara Merdeka tanggal 13 Juli 2002, film-film Korea muncul dari sebuah negara yang sudah memiliki tradisi televisi sangat kuat. Dengan emosi Asia, dikemas dalam melodrama yang efektif dan efisien, film Korea jadi amat laris. Belum lagi rumus-rumus melodrama yang amat kuat di setiap ceritanya, seperti pertentangan kaya miskin, baik hati-keras kepala, dan pemainnya gantengganteng. Rumus-rumus melodrama semacam itu amat kental dalam film-film Korea. Belum lagi wajah kontinental yang memang sedang menjadi bagian dari budaya pop dunia, tidak terkecuali Indonesia. Satu hal lagi yang menarik untuk disimak tentang fenomena banyaknya film Korea yang diputar di televisi Indonesia, yaitu sulit dibedakannya film Korea dari film Hongkong atau Taiwan karena aktor atau artisnya mempunyai ciri-ciri fisik yang hampir sama. Kesulitan ini mengakibatkan tidak sadarnya masyarakat awam bahwa film yang mereka tonton sebenarnya adalah film Korea bukan film Hongkong yang memang lebih sering menghiasi layar kaca. Walaupun ada cara yang gampang untuk mengenalinya, yaitu dengan jenis huruf dan bahasanya (jika tidak di-dub), tetap saja bagi orang awam hal tersebut tetap saja membutuhkan kejelian bila 109

tidak ada pengetahuan apa pun tentang perbedaan bahasa Cina dan Korea sebelumnya. Dalam Bioskop Indonesia, setelah pemirsa Indonesia cukup akrab dengan wajah-wajah Korea lewat TV, film layar lebar produksi negeri Ginseng itu juga telah diputar di bioskop-bioskop 21 di beberapa kota Indonesia. Film Korea pertama yang mendapatkan kehormatan itu adalah My Sassy Girl ( Yeobgijeogin Geunyeo). Film yang di negara

asalnya sangat laris ini akhirnya dibeli hak putar bioskopnya oleh jaringan bioskop 21. Melihat suksesnya film ini di beberapa negara Asia, film ini ternyata juga mendapat sambutan dari label Hollywood yang berminat untuk melakukan re-make film tersebut. Film ini bisa dikatakan menandai keberhasilan pekerja film Korea mengolah film komedi, sebab selama ini Korea lebih dikenal "hanya" mampu melahirkan film-film melodrama. Tema cerita film Korea yang mulai berani dan beragam, mulai dari urusan cinta homoseksual, kekerasan di sekolah, sampai kehidupan aktivis generasi tahun 1980-an telah membuat industri film Korea menggeliat. Mulai akhir tahun 1990-an sampai 2004 ini film Korea tetap berhasil menarik perhatian penonton domestik dan bisa bersaing dengan film produksi negara lain. Setelah film dan drama Korea meneguk kesuksesan di Indonesia, akhir-akhir ini k-pop juga sepertinya mulai menjamur dan mewarnai musik Indonesia. Kehadiran idola baru yang membawa nuansa berbeda menjadi daya tarik tersendiri. Sebut saja Rain, Super Junior, Big Bang, Wonder Girls dan masih banyak lagi penyanyi Korea lain yang namanya tidak asing lagi di 110

telinga masyarakat Indonesia. Lagu-lagu mereka banyak menghiasi ponselponsel gadis remaja. Selain itu, stasiun televisi swasta tidak ketinggalan membuat chart khusus untuk lagu-lagu Korea demi memuaskan hasrat para pendengar yang mulai banyak menggandrungi musik pop asal Korea tersebut. Tidak bisa dipungkiri, budaya pop Korea memiliki efek domino bagi penikmatnya.Misalnya saja, saat menyaksikan sebuah drama korea, kita akan diseret tanpa sadar untuk menikmati film serta musiknya. Korean Wave memiliki kekuatan yang membuai kita untuk menikmati tidak hanya satu jenis hiburan saja. Berikut ini beberapa dampak Korean Wave bagi penikmatnya: 1. Mulai dikenalnya produk sinetron Korea di Indonesia 2. Mulai dikenalnya wajah-wajah baru pemain sinetron Korea 3. Munculnya klub-klub penggemar pemain sinetron Korea (Fans Club) 4. Munculnya forum tukar informasi seputar sinetron, film, berikut aktor dan aktris Korea di dunia maya (internet) 5. Munculnya situs-situs internet di Indonesia yang berhubungan dengan sinetron/drama Korea dan film Korea 6. Munculnya VCD, DVD film Korea, kaset, dan CD lagu-lagu sinetron Korea di pasaran Indonesia 7. Munculnya ringtone lagu-lagu sinetron Korea Para penggemar atau yang biasa disebut fandom Korea merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesuksesan Korean Wave. Fandom mendukung tetap hidup dan berkembangnya Korean Wave di berbagai negara termasuk di Indonesia. Dengan memelihara basis penggemarnya, Korean Wave mampu bertahan hingga sekarang. Fandom Korea ada dimana-mana. 111

Terbukti banyaknya situs dari berbagai bahasa yang membahas tentang Korea. Selain itu, menjamurnya video di Youtube dari berbagai negara yang meniru aksi idola k-pop mereka. Tak terkecuali di Makassar sebagai salah satu kota besar di indonesia, pengaruh korean wave kini juga jelas terlihat dengan merebaknya penjualan DVD/CD di mall-mall. Bahkan saat ini sudah ada terdapat tujuha fandom resmi yang terbentuk di Makassar dan aktif melakukan kegiatan gathering, yaitu: 1. ELF Makassar (Suju) dengan jumlah anggota 312, ketua Rifa 2. Sone (SNSD) dengan jumlah anggota 287, ketua Ayu Wandika 3. Shawol (SHINee) dengan jumlah anggota 2003, ketua Nisa 4. Triple S (SS501) dengan jumlah anggota 172, ketua A. Irma K. 5. V.I.P (Big Bang) dengan jumlah anggota 152, ketua Zerary 6. Cassiopea (TVXQ) dengan jumlah anggota 102, ketua Mitha 7. B3AUTY (Beast) dengan jumlah anggota 72, ketua A.Ummu

112

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Hasil Penelitian Data hasil penelitian diperoleh dari teknik wawancara dan observasi langsung ke lokasi yang menjadi tempat penelitian. Wawancara dilakukan terhadap enam orang responden yang dianggap representatif terhadap objek masalah dalam penelitian. Enam responden tersebut terdiri atas empat

perempuan dan dua laki-laki. Mereka merupakan anggota dari fandom Korea Lovers yang ada di Makassar dan mereka cukup aktif mengikuti kegiatan gathering. Budaya pop Korea yang ada sangat bervariasi dan luas, namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap fandom Korea di Makassar, konsumsi budaya pop Korea yang dominan dapat

dikategorisasikan menjadi tiga, yaitu: 1. 2. 3. Penggemar yang menyukai film Korea Penggemar yang menyukai k-drama Penggemar yang menyukai k-pop Peneliti melakukan kategorisasi terhadap tiga jenis budaya pop Korea tersebut karena dianggap paling banyak peminatnya dan mendominasi dibandingkan budaya pop Korea lainnya seperti kartun, atau komik dan bukubuku terjemahan Korea. Selain itu, sebagai penikmat budaya pop Korea, para responden ternyata menyukai ketiga jenis budaya pop ini. Mereka tidak hanya menikmati satu jenis budaya pop Korea, sehingga peneliti tidak akan 113

melakukan kategorisasi terhadap mereka yang menggemari musik, film atau drama mengingat budaya pop Korea memiliki efek domino. Penelitian ini bertujuan untuk mencari data pada level individu , yaitu para penggemar budaya pop Korea. Dengan kata lain, walaupun mereka adalah anggota dari sebuah fandom, mereka tetaplah individu yang berbeda dan unik dan memiliki perbedaan dalam menyikapi pengaruh budaya pop Korea. Setiap subjek dalam penelitian ini memiliki sisi lain yang unik. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi perbandingan satu sama lain dalam mencari faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab tingkat pengaruh media terhadap fanatisme mereka akan budaya pop Korea dan bagaimana mereka menyikapinya dalam kehidupan sehari-hari.

1. Pengaruh Tayangan Korea Terhadap Gaya Hidup Dalam penelitian ini terdapat enam orang responden dengan karakteristik sebagai berikut: a. Subjek 1 (Rifa): Perempuan, usia 23 tahun, Islam, menikah dengan dua anak, pegawai swasta, mengenal Korea sejak 2004. penggemar k-pop sebagai prioritas utama, juga menyenangi drama, film dan variety show Korea. Ketua ELF Makassar Rifa mengenal Korea sejak tahun 2004 melalui drama yang disiarkan televisi swasta saat itu. Sejak saat itu, Rifa menjadi penonton setia drama Korea. Awalnya ia hanya mengonsumsi drama Korea melalui stasiun nasional, tetapi tanpa sengaja Rifa menemukan channel KBS dan Arirang yang menayangkan Korea. Mulai dari situ Rifa mengonsumsi tayangan Korea dari stasiun tersebut. Selain menonton drama Korea, Rifa juga 114

akhirnya sering membeli DVD film Korea. Karena seringnya menonton sproduk hiburan Korea, Rifa jadi sering searching di internet dan membaca berbagai literature tentang tayangan hiburan Korea serta mendownload variety show Korea. Waktu sudah mulai akrab dengan Korea, saya rajin searching di internet karena penasaran. Kemudian, saya menemukan banyak artikel tentang Korea. Tidak menyangka saja bahwa Korea sepopuler itu (15/06/2011)

Dari kegemarannya internetan, ia akhirnya masuk berbagai forum penggemar Korea di beberapa website. Melalui forum inilah Rifa memiliki banyak teman sesama pecinta Korea. Mereka saling tukar menukar informasi seputar Korea. Bahkan dari sini pula Rifa diajarkan cara membuat kimchi. Dari pertemanan melalui dunia maya ini pula Rifa diperkenalkan dengan dunia k-pop. Rifa merasa artis k-pop ini sangat energetic dan keren. Saat itu, sedang booming-booming nya boy band Super Junior. Muali dari situ, Rifa memantapkan diri menjadi penggemar boy band ini. Rifa aktif mengikuti perkembangan Super Junior. Sampai suatu saat terbersit keinginan di hatinya untuk membuat sebuah perkumpulan penggemar Super Junior di Makassar. Langkah pertama yang dilakukan Rifa adalah menghubungi beberapa temannya yang ia tahu sennag dengan Korea dan mengajaknya nonton bareng. Awalnya sih cuma mau bikin perkumpulan kecil-kecilan. Saya mengajak teman saya menonton bareng di warung milik orang tua di Maros. Tak disangka setelah pertemuan itu, dari mulut ke mulut akhirnya tersebar. Setelah acara itu, banyak yang mengontak saya 115

untuk ikut bergabung. Anggotanya banyak yang berasal dari Makassar, jadi setiap pertemuan kami mengadakannya di Makassar (15/06/2011)

Realisasi pembentukan fandom akhirnya terwujud di tahun 2009. Awalnya hanya ada 60 orang yang bergabung. Mereka rutin mengadakan pertemuan tiap minggu. Namun, selang beberapa bulan kemudian tak disangka banyak yang tertarik untuk bergabung mengingat jumlah penggemar Super Junior di Makassar lumayan Banyak. Kini, jumlah anggota tetap Super Junior ada 312 orang. Akhirnya setelah terkumpul banyak anggota, fandom ini mengadakan gathering sebagai peresmian terbentuknya ELF. Bukan hanya di Makassar, Rifa juga punya banyak teman-teman dari ELF Pusat yaitu di Jakarta. Saya punya banyak teman ELF di Jakarta. Awanya kami kenal saat berangkat bersama-sama ke Malaysia menyaksikan Super Show 1 (15/06/2011)

Boleh dibilang Rifa tidak tanggung-tanggung mengeluarkan biaya untuk kegemarannya tersebut. Tercatat ia sudah dua kali menghadiri konser Suju yaitu tahun 2010 di Malaysia dan 2011 di Singapura sekali festival Kimchi yang harga tiketnya mencapai jutaan itu. Sebenarnya tiketnya mahal, tapi saya paksakan demi bisa menonton konser Suju. Saya memang nabung dari sisa gaji saya untuk menonton konser Suju (15/06/2011)

Berbeda dengan subjek yang lainnya, Rifa setia pada satu boy band saja yaitu Super Junior. Dia sangat fanatik dengan boy band ini dan menurutnya tak ada tandingannya jika dibandingkan dengan boy band lain. 116

Super Junior adalah boy band paling keren dan E.L.F adalah fandom paling oke. Lihat saja jumlah peminatnya, baru dua tahun saja ELF sudah menjadi fandom terbesar Korea di Makassar. (15/06/2011) Kefanatikannya pada Super Junior dibuktikannya dengan cara membeli kaset original Super Junior untuk mendukung kemajuan boy band ini. Semua kaset-kaset Super Junior di rumah saya beli lewat bantuan teman di sj-world.net yang berdomisili di Korea. Saya berpikir buat apa saya fans dengan Suju kalau saya tidak membeli kaset originalnya. Dengan membeli kaset original Suju maka akan berdampak pada rating kepopuleran Suju. Saya ingin Suju tetap menjadi boy band nomor satu di Korea. Saya juga menyarankan beberapa teman saya untuk membeli kaset originalnya. (15/06/2011)

Kefanatikannya

terhadap

Korea sebenarnya

kurang

mendapat

dukungan dari orang tuanya. Setelah sibuk dengan fandomnya, Rifa jarang di rumah. Lagipula, statusnya yang sudah berkeluarga menjadi hambatan baginya untuk memiliki waktu yang leluasa. Ditambah lagi, lingkungan sekitar yang kurang mendukung berhubung Rifa tinggal di daerah pesantren yang notabene warga di sana lebih aktif di organisasi keagamaan kompleksnya.

b. Subjek 2 ( Didi): Perempuan, usia 21 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswi, mengenal Korea sejak 2003, penggemar film Korea sebagai prioritas utama, juga menyukai drama, k-pop dan variety show Korea. Anggota ELF, Triple S, Shawol, Shone, V.I.P, Cassiopea Sebagai seorang anggota fandom, Didi mulai tergila-gila dengan budaya pop Korea sejak enam tahun lalu saat dia masih duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), tahun 2005. Saat itu, drama Winter Sonata sedang booming-boomingnya. Didi mengaku mulai 117

mengenal Korea di tahun 2003, namun saat itu dia belum begitu menggandrunginya karena seleranya lebih condong ke film-film Barat. Namun, saat menyaksikan serial Winter Sonata yang diputar di SCTV, ia merasa terhanyut dengan alur ceritanya. Para pemainnya yang memiliki wajah tampan membuat serial Korea ini dinanti para penggemarnya, tak terkecuali Didi yang saat itu mengidolakan Bae Yong Jun sang pemeran utama serial Winter Sonata. Saya mulai mengenal tayangan Korea sekitar tahun 2003. Waktu itu lagi booming-nya serial Endless Love, tapi saat itu saya masih sekedar menonton dan belum begitu tertarik berhubung serial semacam ini masih baru di Indonesia. Apalagi saat itu serial dari Jepang lebih mendominasi. Awal ketertarikan saya pada serial Korea ketika SCTV menayangkan sebuah drama Winter Sonata. Ceritanya sangat bagus ditunjang dengan wajah tampan pemainnya. Dari situ, saya akhirnya menjadi penonton setia tayangan Korea dan bahkan mengoleksi halhal yang berhubungan dengan Korea. (13/07/2011) Seiring banyaknya peminat serial Korea, menjamurlah serial-serial dari negeri ginseng tersebut di berbagai stasiun televisi. Didi yang saat itu memang sudah mulai menyukai serial korea, akhirnya menjadi penonton setia. Mulai dari situ, ia terus mengikuti perkembangan film Korea yang diputar di stasiun televisi nasional. Namun tidak hanya sampai disitu, ia juga mulai melirik film-film besutan sutradara Korea yang banyak dijual di mall-mall atau di toko kaset. Semakin banyak referensi film yang ia dapatkan membuatnya makin ketagihan menyaksikan film maupun drama Korea. Ia bahkan kini tidak lagi mesti menunggu jadwal penayangan film maupun drama Korea di televisi maupun di bioskop karena membeli DVD dianggapnya alternatif yang lebih bagus daripada harus mengikuti jadwal penayangan di stasiun 118

televisi. Hal ini juga didukung dengan menjamurnya penjualan DVD Korea. Menurut saya, agak membosankan menunggu jadwal tayang serial drama Korea setiap hari. Jadi, saya mencari DVD nya supaya bisa menonton sepuas hati. Mulai dari situ saya melihat ternyata DVD yang dijual tidak hanya drama Korea tapi juga film. Dari situ, saya mencoba untuk menonton filmnya. Ternyata film-film Korea punya cerita yang seru dan beragam. Sejak saat itu saya terus membeli DVD film dan drama Korea. Bahkan sekarang saya punya penjual langganan di mall yang selalu memberikan info jika ada DVD Korea terbaru (13/07/2011) Setelah mengoleksi berbagai kaset film, dan drama sekaligus, perhatiannya juga mulai terbagi pada boy band dan girl band Korea yang ikut menangguk kesuksesan dengan terkenalnya Korea di berbagai belahan dunia sebagai eksportir film dan drama. Selain mengkonsumsi drama dan film saya juga suka k-pop. Terutama Super Junior, SS501 dan Wonder Girls. Artis k-pop punya ciri khas tersendiri. Mereka memadukan musik dan dance yang keren (13/07/2011)

Awalnya, Didi mengaku tidak menyukai boy band dan girl band tersebut karena dianggap lebay dan sekumpulan orang yang hanya bisa menyanyi rombongan dengan mengandalkan penampilan fisik semata. Bahkan ia menganggap boy band Korea sebagai sekumpulan banci. Namun, pandangan negatifnya terhadap artis k-pop tersebut berubah setelah menyaksikan sebuah reality show di Youtube yang membahas tentang kehidupan para artisnya. Jujur, saat teman memperlihatkan video klip sebuah boy band Korea, saya ilfeel. Menurut saya aneh saja ada sekumpulan cowok menyanyi rombongan dengan menggunakan bedak dan lipgloss; seperti banci. Tapi pikiran saya berubah total saat menyaksikan sebuah reality show yang di download teman saya lewat Youtube. Reality show itu menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari para artis k-pop. 119

Ternyata mereka tidak seperti yang saya bayangkan. Mereka cukup macho dalam kesehariannya saat mereka tidak manggung. Berdandan saat di panggung ternyata memang sebuah tuntutan profesi dan mereka melakukan hal itu karena tuntutan profesi. (13/07/2011) Saat ada orang-orang di sekitarnya yang mulai mencemooh boy band dan girl band Korea seperti yang dilakukannya dulu, ia merasa gusar. Saya gampang kesal saat bertemu dengan orang yang menjelekjelekkan artis k-pop, walaupun awalnya saya juga dulu seperti itu. tapi hal ini memberikan saya sebuah pelajaran untuk tidak men-judge sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik. Saya harap orang lain juga berpikiran sama. Kita tidak berhak men-judge artis k-pop karena dandanannya. Mungkin itu sudah menjadi sebuah culture bagi para artis di sana untuk ber-make up, tidak peduli cowok maupun cewek (13/07/2011) Budaya pop Korea bisa dibilang sudah menjadi bagian dari siklus hidupnya. Setiap hari, rata-rata Didi mengonsumsi tayangan Korea kurang lebih enam jam. Ia mengaku hampir setiap hari setelah pulang kuliah, Didi langsung menonton film dan drama Korea dalam bentuk DVD atau menonton video klip dari Youtube. Bukan hanya Didi yang mengalami hal serupa, banyak temantemannya yang ternyata juga sangat menggandrungi budaya pop Korea. Tiap hari, pembicaraan mereka hanya berkisar tentang Korea mulai dari film, drama hingga musik. Berangkat dari kesamaan ini, ia dan temantemannya memutuskan untuk membuat grup dance k-pop ala boy band dan girl band Korea yang terkenal dengan ciri khas joget dance-nya Bisa dibilang Korea merupakan negara Asia yang sangat luar biasa. Strategi Korea melakukan ekspansi lewat tayangan hiburannya jelas sangat bermanfaat. Citra Korea akan baik di mata dunia dan mereka akan lebih mudah diterima di dunia Internasional. Saya sangat excited dengan negara satu ini. Contoh kecil saja, suatu kali saya pernah ke Lotte Mart. Di tempat itu dipajang bendera Korea ukuran besar. Hanya dengan melihat benderanya saja saya jadi sangat senang. Di rumah saya juga banyak mengoleksi pin, kipas, tas, DVD dan segala 120

hal yang berbau Korea. Saya juga mulai tertarik mengonsumsi makanannya seperti Kimchi yang sangat populer. Mungkin ini salah satu efek kegemaran saya mengonsumsi tayangan Korea. Kita merasa menjadi begitu dekat. Ternyata banyak teman-teman saya yang juga tergila-gila dengan Korea. Suatu hari, saat berbincang mengenai kpop, kami jadi punya ide untuk membentuk sebuah grup dance yang menirukan dance ala artis k-pop. Latihannya di Baruga A.P.PETTARANI karena kebetulan teman-teman saya sebagian besar anak UNHAS (13/07/2011) Tak disangka, setelah sering berkumpul dan latihan di UNHAS (Universitas Hasanuddin) mereka secara tidak sengaja bertemu dengan beberapa orang yang ternyata telah lebih dulu membentuk fandom Korea bernama Triple S yang merupakan fandom untuk boy band SS501 yang saat itu hanya berjumlah 20 orang. Didi akhirnya tertarik untuk menjadi anggota dari mereka. Saat sering berlatih di UNHAS tanpa sengaja kami bertemu dengan beberapa orang yang trenyata telah lebih dulu membentuk sebuah fandom bernama Triple S. Mereka adalah penggemar boy band SS501. Mereka mulai mengajak kami untuk bergabung menjadi anggota karena kebetulan saat itu anggota baru mencapai 20 orang dan rencananya mereka ingin membuat gathering. Akhirnya saya mendaftar dan menjadi bendahara di Triple S (13/07/2011) Triple S dirasakan Didi merupakan tempat yang benar-benar pas baginya untuk lebih memperdalam pengetahuannya seputar Korea. Sesama anggota Triple S biasanya saling tukar menukar informasi terbaru seputar perkembangan dunia hiburan Korea terutama mengenai SS501 Kebetulan saya suka beberapa boy band Korea termasuk Shinee. Jadi, saat bergabung di Triple S, kami sesama anggota Triple S pecinta Shinee bisa saling tukar menukar informasi yang berkaitan dengan Shinee. (13/07/2011)

121

Tidak hanya aktif di Triple S, setahun kemudian menyusul terbentuknya fandom Super Junior yang diberi nama E.L.F. Super Junior merupakan Boy band fenomenal yang beranggotakan tiga belas cowokcowok cakep. Kebanyakan dari mereka aslinya adalah aktor film maupun drama yang telah melambung namanya sebelum bergabung menjadi sebuah boy band. Tidak dipungkiri kiprah Super Junior melambung bak roket di berbagai negara, tidak terkecuali di Amerika dan negara-negara Eropa. Bahkan di Paris, seorang wanita bernama Gaia membuat sebuah web resmi Super Junior berskala global yaitu sj-world.net Dengan bergabung di dua fandom tersebut Didi bisa meng-up grade pengetahuannya tentang Korea melalui teman-teman sesama anggota. Ia merasa, hadirnya fandom seperti ini lebih memperkuat dan menambah kekagumannya terhadap Korea. Ia memiliki teman-teman yang punya selera sama dengannya. Fandom menjadikan saya lebih fanatik lagi terhadap Korea dibandingkan sebelumnya. Dengan keberadaan fandom, kecintaan saya akan tayangan hiburan Korea bisa tersalurkan. Bahkan, dalam fandom, kami sesama anggota menerapkan panggilan hyung,oppa,noona dan onnie dalam menyapa sesama anggota. Orang Korea juga saperti itu. Mereka sangat sopan dalam menyapa orang lain. (13/07/2011) Banyak hal positif yang ia dapatkan dari sini terutama persahabatan. Namun Didi juga tidak menampik ada sisi negatif dari kegiatannya tersebut. Menjadi seorang anggota fandom tentunya akan membuat kita lebih banyak link dan kita bisa saling diskusi serta tukar menukar informasi. Namun saya tidak menampik, sisi negatif pasti ada. Pertama sangat membuang banyak waktu dan kedua tentunya juga materi. Kita dituntut untuk meng-up grade pengetahun kita seputar dunia hiburan Korea, karena pasti ada perasaan minder saat kita ketinggalan 122

informasi. Dan tentunya ini mengurangi uang saku. Selain itu, kebanyakan kita kumpul-kumpul di tempat makan, belum lagi pengeluaran untuk membeli DVD terbaru (13/07/2011) c. Subjek 3 (Firman): Laki-laki, usia 20 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswa, mengenal Korea sejak 2009, penggemar k-pop sebagai prioritas utama juga film, drama dan fashion Korea, anggota ELF, Triple S, dan Shawol Firman adalah satu dari segelintir anggota fandom laki-laki. Firman merupakan anggota dari beberapa fandom yaitu E.L.F., Triple S dan Shawol. Rasio perbandingan jumlah anggota fandom laki-laki dan perempuan dalam fandom Korea memang lebih didominasi kaum hawa. Namun, Firman boleh dibilang tidak kalah dengan anggota fandom perempuan dalam hal kefanatikannya terhadap Korea. Firman boleh dibilang anggota baru dalam fandom Korea Lovers. Ia mulai menjadi seorang Korea Lovers dua tahun lalu sejak kuliah. Fikar, teman kuliahnya, yang memperkenalkan Korea padanya. Saat itu, Fikar menawarinya menonton film Korea berjudul A Moment To Remember. A Moment To Remember merupakan salah satu film yang mencetak rekor Box Office yang menjual kisah cinta tragis sepasang suami istri. Film ini menyuguhkan adegan yang menyentuh hati, perjuangan seorang suami mendampingi sang istri yang terkena Alzheimer. Fikar dan teman-teman saya yang lain banyak yang suka Korea. Mereka kemudian menawarkan sebuah DVD film Korea berjudul A Moment To Remember. Katanya bagus, jadi saya coba nonton. Ternyata ceritanya sangat mengharukan. Jujur, saya sampai menitikkan air mata menonton film nya. Ini pertama kalinya saya menangis saat menonton film. Benar-benar kisah cinta yang tragis. (20/05/2011)

123

Mulai dari situ, Firman sering meminjam koleksi DVD film Korea milik Fikar. Bahkan ia juga mulai mengoleksi sendiri beberapa DVD Korea atas rekomendasi temannya. Film-film Korea punya banyak varian cerita. Mulai dari komedi, cinta dan persahabatan semua terjalin dalam irama sopan santun khas Korea. Saya bisa betah menghabiskan tiga film Korea dalam sehari. Hal yang paling saya suka dari film Korea adalah mereka masih mempertahankan culture mereka di tengah arus globalisasi. Jadi, sentuhan Korea masih tetap ada di setiap filmnya. Misalnya cara mereka saling bertegur sapa, atau memberi pengormatan yang tinggi kepada orang tua.Berbeda sekali dengan film Indonesia yang sok kebarat-baratan. (20/05/2011) Sejak menggandrungi film dan drama Korea, Firman mulai

mengoleksi berbagai DVD Korea serta video variety show yang ia download melalui Youtube. Ia bahkan tidak lagi mengonsumsi tayangan film maupun drama lokal ataupun film import baik dari Jepang maupun Amerika yang menjadi saingan terberat produk hiburan Korea di Indonesia. Baginya tayangan Korea jauh lebih bagus. Karena seringnya menonton Korea, Ia mulai belajar bahasa Korea secara otodidak lewat kamus atau menggunakan sarana internet. Seringkali ia menerapkan dan melatih kemampuan bahasa Koreanya dengan sesama teman di kampus yang juga tahu sedikit bahasa Korea. Tidak hanya sampai disitu, Ia juga mulai menggandrungi fashion ala artis Korea yang sangat akrab dilihatnya melalui tayangan film maupun kdrama. Menurut saya fashion Korea itu bagus dan tidak kalah dengan Jepang. Bahkan sekarang gaya berbusana Korea juga menjadi perhatian publik Internasional. Cara busana mereka lucu dan unik. Kadang tidak pernah terpikirkan memadupadankan jaket dengan celana tiga perempat. Tapi di Korea banyak yang bergaya seperti itu. 124

Istilahnya mereka baju formal yang diberi nuansa santai. Atau kadangkadang mereka juga menggunakan baju bertumpuk-tumpuk. Biasanya kan kalo kita di Indonesia kalau sudah pake kaos oblong ya kaos oblong saja. Tapi kalo di Korea mereka bisa menggunakan kaos oblong, blazer, syal dan jas sekaligus. (20/05/2011)

Kesamaan selera terhadap Korea membuat Firman menjadi semakin akrab dengan kawannya Fikar yang sudah sangat addict terlebih dahulu dengan Korea. Fikar banyak memberikan informasi mengenai Korea termasuk k-pop yang belakangan ini sangat marak di Indonesia. Sahabatnya itu mengenalkan sebuah boy band Super Junior. Bukan cuma drama dan film, ternyata banyak juga orang yang mulai menyukai k-pop. Boy band pertama yang saya tahu adalah Super Junior, itu pun diberitahu Fikar. Saat memperhatikan penyanyinya, saya tidak asing lagi karena di Super Junior, rata-rata anggotanya adalah aktor drama maupun film. Dan yang paling utama dan terpenting adalah saya jatuh cinta dengan k-pop karena dance-nya. Sumpah, dance-nya keren. Terlebih lagi saya memang suka dance dari dulu (20/05/2011)

Firman menyukai dance sejak masih di Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun kegemarannya itu tak tersalurkan. Ia hanya berlatih di rumah, itu pun dengan gaya yang sangat sederhana. Bak gayung bersambut, Fikar yang saat itu merencanakan untuk membuat grup dance k-pop mengajaknya ikut bergabung. Akhirnya terbentuklah Evolution Boy. Evolution Boy terdiri dari lima anggota yang bertujuan untuk

menyalurkan bakat dance mereka dengan mengadopsi dance ala artis kpop, beserta busananya. Untuk masalah busana, mereka menjadikan referensi boy band Korea yang disaksikan lewat video klip atau membeli majalah yang mengulas trend busana Korea. Selain itu, mereka tidak 125

khawatir untuk mendapatkan busana karena di di Makassar sudah banyak toko-toko yang menjual pakaian yang diimpor langsung dari Korea. Atau kalau ingin yang lebih murah, mereka juga sering berbelanja baju bekas di beberapa market yang menjual baju bekas layak pakai dari berbagai Negara di Asia. Setelah merasa mahir dan kompak sebagai grup dance k-pop, Evolution Boy merasa tidak puas hanya sampai disitu. Mereka ingin perform dan menampilkan bakat mereka. Kebetulan, Fikar punya teman yang mengajaknya bergabung dengan fandom E.L.F. yang saat itu akan mengadakan gathering. Evolution Boy pun menawarkan diri untuk bisa menjadi salah satu bintang tamu grup dance K-pop. Panitia gathering ternyata menyetujui usulan tersebut. Kami pertama perform di hadapan banyak orang pada acara gathering Super Junior. Rasanya luar biasa. Latihan kami selama ini tidak sia-sia. Bahkan kami bisa langsung perform di hadapan fandom terbesar di Makassar. Sejak saat itu pula kami resmi menjadi bagian dari E.L.F Makassar. Kami jadi punya banyak teman dan ini sangat menyenangkan sekali. (20/05/2011)

Semenjak perform di acara gathering Super Junior, Evolution Boy mendapat banyak tawaran dari fandom lain untuk ikut bergabung dan menjadi dancer tamu. Bukan hanya di kalangan fandom, Evolution Boy juga kini terkenal di luar fandom. Mereka biasanya diminta untuk perform di berbagai acara festival atau PENSI di sekolah-sekolah maupun kampus. Kami tidak menyangka akan banyak yang suka dengan Evolution Boy. Berkat kecintaan kami pada k-pop, kami bisa menghasilkan uang dari situ (20/05/2011)

126

Walaupun banyak yang menyukai grup dancer-nya, Firman tidak menampik banyak juga yang kadang mencemooh. Ada beberapa orang yang menganggap bergaya ala boy band k-pop itu seperti banci. Tapi walaupun kesal, Firman selalu mencoba untuk tidak peduli. Kalau dibilang kesal iya, saya bukan banci. Tapi, kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk punya selera yang sama dengan kita. Kalau mereka tidak suka itu urusan mereka, yang jelasnya mereka tidak merugikan saya. Lagipula teman-teman baik saya dan keluarga mendukung saya. (20/05/2011)

d. Subjek 4 (Fitrah): Laki-laki, usia 23 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswa, mengenal Korea sejak 2008, penggemar film Korea sebagai prioritas utama, juga k-pop dan drama Korea, anggota ELF dan Shawol Awal Fitrah menyukai tayangan Korea kurang lebih tiga tahun lalu saat ia berkunjung ke rumah temannya Arif untuk meminjam DVD film Barat. Saat itu, kebetulan Arif sedang menonton film Korea berjudul Beautiful Girl milik kakaknya. Fitrah pun ikut larut menonton film tersebut dan merasa tertarik dengan alur ceritanya. Fitrah pun memutuskan untuk meminjam beberapa DVD Korea milik kakak perempuan Arif. Mulai dari situ, Fitrah intens menonton k-drama di beberapa stasiun televisi dan kadang membeli DVD film Korea yang banyak tersedia di mall. Ia juga mulai membaca berbagai referensi mengenai artis Korea melalui internet. Melalui searching di internet itulah, Fitrah menemukan sebuah blog yang membahas tentang berkembangnya k-pop. Dengan penuh rasa penasaran akan k-pop, Fitrah men-download video klip artis k-pop di Youtube. Awalnya, saat menyaksikan video klip Super Junior ia merasa 127

agak asing dengan gaya boy band ini. Maklum di Indonesia belum ada boy band seperti itu. Namun, semakin sering menyaksikan video klip k-pop ia merasa semakin menyukainya. Saya pertama kali kenal k-pop dari teman kemudian merasa penasaran dan mulai mencari referensi melalui internet. Awalnya saya hanya ingin mencari referensi artis Korea tapi tanpa sengaja masuk ke blog yang membahas demam k-pop. Saya mulai penasaran dan akhirnya menelusuri lewat Youtube. Awalnya kurang tertarik sih dengan mereka tapi lama-lama saya merasa musiknya easy-listening dan sangat atraktif. Saat mendengarkan k-pop dengan musiknya yang powerfull seakan mengajak kita untuk mengikuti dance mereka. Saya sangat suka dengan Super Junior, SHINee dan Girls Generation. (20/06/2011) Kini, Fitrah banyak mengoleksi lagu k-pop di handphone-nya. Bahkan, ia pernah menggunakan ringtone lagu Bonamana Super Junior di Handphone-nya. Fitrah mengaku yang paling disukai dari k-pop adalah dance-nya. Dia bahkan sering mengikuti tarian boy band atau girl band Korea. Tapi ia hanya sekedar berlatih di kamar dengan gerakan yang gampang saja karena tarian Korea cukup sulit untuk dipraktekkan. Ia tidak punya pikiran untuk membentuk grup dance karena menurutnya ia kurang berbakat. Ia hanya menjadikan tarian tersebut sebagai senam pagi untuknya. Untuk lebih bisa mengekspresikan kegemarannya akan Korea dan bertemu dengan teman sesama pecinta Korea, Fitrah diajak oleh temannya Arif mengikuti gathering k-pop. Di sini mereka bisa mendapatkan link beberapa fandom resmi yang ada di Makassar. Mulai dari situ, mereka tertarik untuk mengikuti setiap gathering yang diadakan fandom. Saya pertama kali ikut gathering k-pop dimana beberapa fandom bergabung membuat acara. Sejak saat itu, setiap dapat info mengenai gathering, saya dan Arif juga ikut. Acaranya seru dan kita bisa nonton 128

bareng dengan merchandise

sesama

anggota

fandom

dan

mendapatkan (20/06/2011)

Mengenai kegemarannya terhadap Korea, ia mengaku tidak banyak orang yang tahu. Keluarga pun tidak mengetahui hal ini, hanya beberapa teman dekat saja yang tahu. Fitrah tidak ingin banyak orang yang tahu hal ini dan berpikiran negatif tentangnya, jadi kesenangannya akan Korea tidak pernah diumbar. Tidak banyak yang tahu kalau saya suka Korea. Yang tahu hanya teman dekat, termasuk Arif. Bahkan orang di rumah juga tidak tahu. Biasanya saya nonton di kamar jadi tidak ada yang tahu. Kalau membeli DVD Korea juga begitu, biasanya saya sembunyi-sembunyi. Hal ini saya lakukan karena merasa risih. Banyak anggapan orang di luar kalau cowok yang suka Korea biasanya lebay. Tentu saja saya tidak ingin di-judge seperti itu (20/06/2011)

Fitra selalu berusaha menutupi bahwa dia seorang Korea Lovers. Hal ini karena di lingkungan kuliahnya, tidak ada teman laki-lakinya yang suka Korea kecuali Arif. Bahkan banyak dari temannya yang sering menertawakan orang yang terlalu fanatik dengan Korea dan mereka menjudge Korea itu sangat lebay dan banci tampil. Hal inilah yang menyebabkan Fitrah merahasiakan keanggotaannya sebagai fandom Korea.

e. Subjek 5 (Iga): Perempuan, usia 15 tahun, Protestan, belum menikah, pelajar, mengenal Korea sejak 2009, penggemar film Korea sebagai prioritas utama, juga drama, k-pop dan fashion Korea, anggota Primadona, Shawol, ELF Iga menjadi seorang Korea Lovers sejak tahun 2009 saat menyaksikan serial Boys Before Flowers di Indosiar. Ia mengaku daya tarik utama dari 129

serial ini adalah aktornya yang tampan. Iga yang saat itu mulai tergila-gila pada serial ini merasa penasaran dan mulai mengoleksi majalah-majalah remaja yang membahas tentang Korean Wave. Ia juga searching melalui internet untuk mencari info tentang artis-artis Korea. Selain melalui televisi, Iga juga sering membeli DVD film Korea. Hampir setiap weekend ia dan teman sekolahnya sesama Korea Lovers sering jalan bersama dan mencari DVD Korea untuk dikoleksi. Saat harihari biasa, Iga hanya mengonsumsi tayangan Korea maksimal dua jam. Namun, berbeda saat weekend, ia bisa tahan tujuh jam depan televisi untuk menonton. Dari hanya sekedar mengonsumsi k-drama di televisi nasional dan membeli DVD film Korea, Iga merasa kurang puas. Iga pun meminta orang tuanya memasang tv berlangganan di rumahnya agar bisa dengan puas menyaksikan siaran Korea seperti KBS, SBS dan Arirang. Setiap hari ia bisa kapan saja menyaksikan tayangan Korea melalui tiga stasiun tv tersebut. KBS dan SBS banyak menayangkan film dan drama Korea terbaru yang bahkan belum rilis di Indonesia. Sedangkan melalui Arirang ia ia banyak mengenal artis k-pop. Stasiun tv Arirang punya program musik Pops in Seoul. Melalui program ini Iga mendapatkan banyak referensi mengenai lagu-lagu Korea terutama boy band dan girl band Korea. Saya sangat suka program musik Pops In Seoul. Melalui acara ini saya jadi mengenal boy band FT. Island dan SHINee. Keduanya merupakan boy band favorit saya. Selain lagunya asyik, dancenya juga keren. Saya suka mempraktekkan dance mereka tapi tidak pernah berhasil, mungkin karena badan saya kaku dan tidak terbiasa dengan hal ini. (03/07/2011) 130

Saking sukanya dengan FT.Island dan SHINee, Iga mengoleksi berbagai hal mengenai boy band favoritnya tersebut, mulai dari pin, tas, kipas, note book dan poster. Ia mengaku menghabiskan sekitar 60% uang jajannya untuk membeli barang-barang tersebut. Bukan hanya mengoleksi benda-benda bergambar idolanya, ia juga suka meniru gaya berpakaian artis Korea. Saya suka fashion artis Korea, tapi tidak semuanya bisa saya pakai Berhubung saya jauh dari kesan feminine, saya hanya meniru beberapa mode pakaian mereka yang bias mencerminkan diri saya yang tomboy ini. Biasanya gaya berpakaian pria Korea lebih cocok dengan saya. (03/07/2011)

Iga bisa dibilang sangat mobile dengan sarana internet. Melalui situs internet, ia selalu up-date mengenai perkembangan idolanya tersebut.

Kegemarannya surving internet membuatnya mengenal fandom Primadona yang merupakan basis penggemar FT.Island. Saat surving di internet saya mendapatkan artikel mengenai keberadaan fandom FT. Island yaitu Primadona yang ada di Makassar. Lalu, saat itu juga saya mengajak teman saya ikut bergabung dengan fandom tersebut. (03/07/2011) Setelah resmi bergabung dengan Primadona, Iga jadi punya banyak kenalan. Dari info sesama rekan fandom, Ia tahu kalau di Makassar sudah ada sekitar tujuh fandom resmi. Sejak bergabung di Primadona saya jadi lebih banyak kenalan. Mereka adalah teman berbagi dan bertukar cerita tentang berbagai hal mengenai Korea terutama FT.Island. Di sini saya punya banyak onnieonnie baru dan banyak dapat info-info penting seputar Korea. Dari mereka juga saya tahu kalau banyak fandom lain yang sudah resmi terbentuk, salah satunya adalah Shawol. Shawol merupakan nama basis penggemar untuk boy band SHINee. Kebetulan saya juga sangat suka dengan Boy band yang satu ini. Jadi, saat saya mengetahui 131

Shawol mengadakan gathering, saya memutuskan untuk bergabung juga. Jadi, saat itu saya memegang dua kartu keanggotaan fandom. (03/07/2011) Menjadi seorang anggota fandom adalah kebanggaan tersendiri buat Iga. Menjadi bagian dari basis penggemar ia sadari adalah salah satu upaya menunjukkan kecintaannya terhadap idolanya. Beberapa teman dekat Iga juga banyak yang dia ajak untuk bergabung menjadi anggota fandom Korea Lovers. Namun, ia tidak menampik banyak juga yang kadang mencemooh. Ada beberapa teman saya yang sangat suka dengan Korea namun banyak juga yang tidak suka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang suka menggosipi kami, katanya kami terlalu over lah. Saya sebenarnya jengkel dengan mereka tapi mau apalagi, saya cuma bisa menghindar daripada terjadi perselisihan yang tidak diinginkan (03/07/2011)

f. Subjek 6 (Mitha): Perempuan, usia 19 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswi, mengenal Korea sejak 2006, penggemar k-pop sebagai prioritas utama, juga drama dan film Korea, Ketua Cassiopea dan nggota ELF, Shawol, Triple S, Shone Mitha mulai mengenal Korea sejak 2006 saat menonton serial Jewel In The Palace. Awalnya ia tertarik menonton film ini karena dilabeli True Story. Hal ini membuat Mitha penasaran dengan tokoh utamanya, Dae Jang Geum yang merupakan kepala dapur istana yang akhirnya menjadi seorang dokter wanita pertama di Korea. Karena rasa penasarannya itu, ia membeli tabloid yang mengulas tentang k-drama ini. Tabloid yang dibeli Mitha ini khusus membahas Asian Idol. Dari tabloid yang dibacanya, rasa penasarannya terhadap drama Jewel In The Palace akhirnya terbayarkan. Tabloid yang dibelinya juga banyak 132

membahas perkembangan dunia hiburan Asia. Salah satu artikelnya ada yang membahas tentang merebaknya k-pop di seantero Asia. Tabloid tersebut meyajikan profil boy band TVXQ dan Super Junior. Di tabloid itu, selain mendapatkan info tentang drama JewelIn the Palace saya juga mendapatkan artikel yang membahas TVXQ dan Super Junior yang sekarang jadi idola Asia. Setelah membaca profil mereka saya jadi tertarik. Dan kebetulan tabloid itu memberikan bonus CD yang berisi dua lagu; satu milik TVXQ dan satunya lagi adalah lagu dari Super Junior. (18/05/2011) Sejak saat itu, Mitha jatuh hati dengan kedua boy band itu dan mulai mencari tahu berbagai hal tentang mereka. Ia mulai searching di Youtube untuk melihat video klip mereka. Setelah menyaksikan koreografi menawan dari boy band tersebut, Mitha semakin mengagumi talenta mereka. Dance mereka keren sekali. Kebetulan saya memang suka dance jadi saat pertama kali melihat video klip mereka saya tidak menyangka betapa hebatnya mereka bisa nyanyi sambil dance seperti itu. (03/07/2011) Sejak saat itu, Mitha mengoleksi video klip artis k-pop yang dia download di Youtube. Ia mempraktekkan berbagai gerakan yang dicontoh lewat video klip secara otodidak sampai mahir menguasai puluhan gerakan. Bahkan, akhirnya ia terkenal di kalangan teman-temannya karena kemampuannya dance ala Korea. Melihat kemampuannya dance ala Korea, banyak teman-temannya sesama Korea Lovers tertarik untuk belajar koreografi dance Korea. Teman-teman saya minta tolong diajarkan dance Korea setelah melihat skill saya. Mereka bahkan menawarkan bayaran agar saya bersedia melatih mereka. Tarif yang dikenakan saat itu Rp.10.000/orang untk satu gerakan lagu. Kami mengadakan latihan di gedung IPTEKS Unhas waktu itu. (03/07/2011) 133

Menurut pengakuan Mitha, ada rasa bangga dalam dirinya karena ia mampu menghasilkan uang dari kemampuannya dance Korea. Ini menjadi suatu kebahagiaan tersendiri buat dirinya. Kesukaanya pada k-pop selama ini tidak sia-sia. Ia bahkan didaulat rekan-rekannya untuk menjadi ketua fandom Cassiopea yang merupakan basis penggemar TVXQ. Saat ini anggotanya sudah mencapai 102 orang. Bukan hanya menjadi ketua Cassiopea, Mitha juga menjadi anggota beberapa fandom dan aktif mengikuti gathering. Beberapa fandom yang dia ikuti adalah E.L.F, Triple S, Shawol, Sone dan V.I.P. Jujur, saya sangat suka dengan k-pop makanya saya menjadi anggota beberapa fandom di Makassar. Tapi hanya sebatas anggota saja. Kecuali di Cassiopea, saya diangkat menjadi ketua (03/07/2011)

Diantara subjek yang lain, Mitha bisa dibilang agak berbeda. Ia lebih fokus pada k-pop. Untuk urusan k-drama dan film Korea, ia suka tapi tidak terlalu fanatik seperti k-pop. Seleranya lebih condong ke film Barat. Kalau film dan drama Korea saya suka tapi dalam batas wajar saja, tidak sampai mengoleksi DVD nya. Paling kalau mau nonton saya pinjam punya teman. Saya lebih suka film Barat sebenarnya.Yang bikin saya tertarik dengan Korea sebenarnya adalah artis k-pop mereka. (03/07/2011) Mitha mengakui intensitas menonton film dan drama Korea jauh lebih sedikit dibandingkan temannya. Ia hanya menonton jika ada waktu senggang. Mitha juga tidak punya atribut-atribut Korea yang menjadi koleksi pribadinya. Hal ini dilakukan Mitha untuk membatasi dirinya agar tidak terlalu larut dalam kefanatikan berlebihan yang menurutnya akan sangat sulit dikontrol. 134

2. Efek Terbatas Media Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap subjek, dapat dilihat bagaimana mereka mengenal budaya pop Korea. Kelima subjek mulai mengonsumsi budaya pop Korea melalui media massa. Tak bisa ditampik bahwa arus globalisasi menyebabkan pemanfaatan teknologi dan komunikasi melalui media massa merupakan hal yang lumrah dan paling banyak digunakan masyarakat dewasa ini. Penyebaran budaya pop melalui media adalah solusi paling ampuh untuk menjalankan ekspansi budaya. Sebagaimana yang diungkapkan Didi bahwa ia mulai mengenal Korea melalui tayangan drama televisi. Korea sebagai salah satu Negara yang berhasil melakukan ekspansi budaya melalui tayangan hiburan tahu betul bagaimana memosisikan media sebagai alat untuk menyebarkan ideologinya yang dikemas dalam bentuk hiburan baik melalui drama, film dan k-pop. Saya mulai mengenal tayangan Korea sekitar tahun 2003. Waktu itu lagi booming-nya serial Endless Love, tapi saat itu saya masih sekedar menonton dan belum begitu tertarik berhubung serial semacam ini masih baru di Indonesia. Apalagi saat itu serial dari Jepang lebih mendominasi. Awal ketertarikan saya pada serial Korea ketika SCTV menayangkan sebuah drama Winter Sonata. Ceritanya sangat bagus ditunjang dengan wajah tampan pemainnya. Dari situ, saya akhirnya menjadi penonton setia tayangan Korea dan bahkan mengoleksi halhal yang berhubungan dengan Korea. Bukan hanya Didi yang mengenal Korea pertama kali lewat media massa. Keempat subjek yang lain pun seperti itu. Media massa sepertinya memang sangat jitu dalam penyebaran budaya pop. Ideologi yang disebarkan Korea melalui tayangan hiburan merupakan suatu strategi jitu. Ideologi di sini dipahami bukan untuk mendominasi 135

pemikiran dan pandangan melainkan untuk menanamkan secara tidak sadar image positif dari Negara Korea. Hal ini bertujuan agar dan berbagai produk ekonominya dapat diterima dengan mudah di dunia Internasional. Hal ini diutarakan oleh kelima informan: Subjek 01: Saya pikir, dengan semakin mendunianya nama Korea lewat tayangan hiburan, akan berdampak pula pada ekonominya. Misalnya saja produk-produk Korea yang dulunya tidak menjadi pilihan utama konsumen karena mereka lebih menyukai produk Jepang, kini mulai melirik produk Korea di pasaran. Saya juga begitu, saat menyaksikan artis idola saya menggunakan suatu produk tertentu, biasanya saya juga memiliki keinginan memilikinya. Saya jadi punya kepercayaan terhadap kualitas produk Korea karena merasa sudah tidak asing lagi, soalnya sering lihat di televisi Subjek 02: Dulunya, saya tidak begitu mengenal Korea. Tetapi semenjak merebaknya Korean Wave di Indonesia, banyak orang penasaran dengan Negara yang satu ini, termasuk saya sendiri. Negara yang semula sangat asing bagi saya kini menjadi akrab di telinga seiring makin banyaknya produk hiburan Korea. Hal ini tentu saja berefek terhadap penilaian saya mengenai Korea. Saya jadi memiliki kepercayaan terhadap berbagai produk Korea yang ada di pasaran. Subjek 03: Saya mulai akrab dengan tayangan hiburan Korea dua tahun yang lalu saat menyaksikan DVD film Korea. Awalnya, film Asia yang sering saya tonton hanya dari Hongkong, Cina dan Jepang. Tapi saat melihat kualitas film Korea, saya jadi suka. Saking tergila-gilanya dengan Korea, saya mengoleksi berbagai atribut yang berhubungan dengan Korea mulai dari sticker, pin, baju, tas dan poster. Selain produk hiburan mereka yang dikomersilkan, ternyata selama ini banyak produk kebutuhan mulai dari gadget, kosmetik, busana yang berlabel Korea tapi saya tidak menyadarinya. Baru setelah mengenal Korea dengan baik saya jadi sering memerhatikan berbagai merek produk yang beredar di pasaran. Jujur, saat memilih produk di pasaran saya jadi lebih suka menggunakan produk Korea. Misalnya saja ponsel. Dulunya saya tidak pernah menggunakan Samsung karena kita tahu sendiri, di Indonesia yang mempunyai pangsa pasar paling besar dengan brand image yang bagus hanya Nokia. Tapi sekarang, melihat banyak artis Korea menggunakan Samsung saya tertarik untuk menggunakannya juga seperti mereka. 136

Subjek 04:

Korea yang awalnya begitu asing bagi saya kini menjelma menjadi sebuah Negara penghasil budaya pop di Asia bersaing dengan Jepang. Semenjak menjamurnya tayangan Korea di Indonesia, banyak yang beranggapan positif dengan Negara ini. Hal ini tentu saja berefek pada ekonomi Korea karena orang tidak hanya tertarik dengan tayangan hiburannya, tapi sudah merembes pada penggunaan produk lainnya yang kini banyak di pasaran. Saya sangat terkesan dengan strategi Korea menguasai pasar dengan menggunakan industri hiburan sebagai sebuah media untuk menimbulkan rasa percaya dunia Internasional terhadap Korea. Dengan semakin akrabnya kita pada tayangan Korea sepertinya mampu menghancurkan batas geografis yang ada dan menciptakan kedekatan secara emosional. Jadi, segala hal yang berlabel Korea buat mereka yang sudah addict adalah mutlak untuk dimiliki Jujur, saya awalnya kurang tahu mengenai Korea, tapi kini saya menjadi salah satu orang sangat kagum dengan Korea terutama tayangan hiburannya. Mulai dari situ, saya mengoleksi pernak-pernik Korea. Saya juga jadi serig membeli produk makanan Korea yang banyak tersedia di supermarket soalnya saya penasaran dengan mereka. Fashion orang Korea pun sering saya tiru. Biasanya untuk mendapatkan baju ala Korea saya memesan secara online. Di Online shop banyak sekali pilihan yang ditawarkan. Saya juga mengganti ponsel saya dengan produk Korea yaitu Samsung. Pokokna saya ingin memiliki barang-barang yang berbau Korea Beberapa tahun terakhir ini, pamor Korea memang sedang menanjak menyaingi Jepang yang telah lebih dulu melakukan ekspansi budaya melalui media massa. Saya tidak menampik, citra Korea di mata saya kini sangat bagus. Ini mungkin karena saya adalah Korea Lovers dan sangat menyukai k-pop. Bukan hanya di Indonesia, Korean Wave benar-benar gila. Bahkan Amerika sebagai Negara penghasil budaya pop juga mulai melirik tayangan Korea yang bernuansa Asia namun dikemas secara modern. Ini tentu saja akan berdampak pada ekonomi Korea dan penerimaan Korea di kalangan Internasional.

Subjek 05:

Subjek 06:

Bisa dibilang, posisi Korea ini mencuat sebagai Negara maju yang menguasai pasar dunia. Negara dunia ketiga pada umumnya adalah sasaran yang empuk untuk memasarkan produk Korea. Pada level konsumen, 137

selain melalui produk hiburan, Korea juga mulai menjamah ruang pribadi individu dengan menyediakan berbagai macam produk kebutuhan seharihari di pasaran. Sebut saja Samsung yang merupakan merek gadget asal Korea yang menuai sukses di pasaran. Menurut situs www.kbs.co.kr, salah satu penyebab ketenaran Samsung saat ini adalah pengaruh drama dan film Korea dimana Samsung menjadi sponsor utama yang menyediakan ponsel buat para pemerannya. Seperti yang dituturkan Rifa: Saya dulunya bukan seorang pengguna Samsung. Apalagi mereka dulu, merek Samsung di Indonesia belum begitu popular jadi saya tidak pernah punya pikiran untuk membelinya karena khawatir kualitasnya kurang bagus. Tapi sejak melihat artis-artis Korea menggunakan ponsel Samsung saya jadi tertarik dan merasa ingin mengunakan ponsel itu juga. Mulai dari situ saya mencari tahu tentang ponsel Samsung. Ternyata, modelnya lucu-lucu dan kualitasnya oke, jadi saya memutuskan untuk membelinya Pengaruh produk budaya pada kehidupan sehari-hari baik produk hiburan maupun keperluan sehari-hari sebagaimana kita lihat, tidak bisa netral secara budaya. Produk apapun, sadar atau tidak, memiliki budaya yang menempel dari Negara yang memproduksinya. Namun, kebanyakan konsumen saat mengonsumsinya tidak terlalu memerhatikan Negara penghasil produk tersebut. Mereka menggunakannya sehari-hari dan menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupannya. Ketika akhirnya konsumen menyadarinya, mereka telah terperangkap dalam kebiasaan mengonsumsi media tersebut dengan segala aspek budayanya. Korea bisa dibilang dengan cerdiknya mampu memanfaatkan media massa untuk menyebarkan budaya pop Korea ke dunia Internasional. Dengan semakin maraknya tayangan Korea, jelas berimplikasi pada pemasukan Negara tersebut. Bukan hanya bagi para produsen yang 138

berkecimpung di dunia hiburan tetapi di segala aspek kehidupan. Orangorang mulai yakin untuk menggunakan berbagai produk Korea di pasaran karena sudah merasa tidak asing lagi. Keuntungan akan merebaknya Korean Wave bukan hanya milik pengusaha Korea semata. Dampak Korean Wave ternyata juga dapat meningkatkan jumlah wisatawan Korea. Hal ini menggerakkan

Departemen Pariwisata Korea untuk membuat paket liburan murah ke korea untuk mengunjungi tempat-tempat shooting drama dan film korea. Tak disangka peminatnya sangat banyak. Bukan hanya dari Asia tetapi banyak juga wisatawan yang berasal dari Eropa. Media massa memiliki peranan yang sangat penting dalam menyosialisasikan budaya pop Korea. Media memiliki kemampuan dalam mengundang perhatian khalayak untuk menyimak berbagai hal yang ditampilkan media. Dengan kemampuan media yang begitu besar, popularitas budaya pop Korea pun semakin menanjak. Hal ini menyebabkan munculnya basis penggemar Korea. Basis penggemar terdiri dari orang-orang yang telah menerima efek tayangan hiburan Korea melalui media massa dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dianggap sebagai kumpulan orang-orang yang menciptakan suatu kreatifitas simbolik dari apa yang telah mereka konsumsi dari media. Kreatifitas simbolik di sini merupakan cara mereka menggunakan, memanusiakan, menghiasi, menobatkan makna-makna dalam ruang-ruang kehidupan dan praktek-praktek sosial yang umum. Mereka menciptakan pilihan-pilihan pakaian, penggunaan musik, TV,

139

majalah yang selektif dan aktif, penciptaan gaya-gaya subkultur seperti gaya bicara dan senda gurau serta penciptaan musik dan tarian. Kelompok/fandom penggemar budaya pop Korea merupakan elemen penting yang sanngat dibutuhkan kehadirannya demi bertahannya eksistensi budaya pop Korea. Tanpa adanya fandom, mustahil budaya pop Korea masih bertahan hingga sekarang. Anggota fandom biasanya adalah orang-orang yang telah diterpa budaya pop secara berulang-ulang dan terus-menerus melalui media massa. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan ideologi untuk melanggengkan kapitalisme Korea dalam bentuk ideational system dimana sesuatu yang nampak sebagai hiburan (film, drama dan musik;misalnya) sebetulnya memiliki ideologi yang dominan untuk mempengaruhi khalayak lewat media massa. Budaya pop Korea yang marak di Indonesia saat ini memang ditujukan untuk melegalkan ideologi Korea agar mereka lebih mudah diterima dan manjadi pilihan utama di masyarakat. Meskipun tujuan penyebarluasan budaya pop Korea pada mulanya ditujukan untuk menyaingi impor budaya luar ke Negara Korea, namun karena pasar Asia dianggap potensial sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Negara-negara Asia, maka penyebaran budaya pop Korea ini dimanfaatkan untuk melanggengkan kapitalisme Korea. Anggota fandom Korea merupakan pihak yang sangat potensial untuk menyebarkan ideologi Korea melalui dunia hiburan. Mereka adalah pihak yang tersubordinasi oleh produsen industri budaya pop Korea. Melalui media, produsen indutri budaya pop Korea menciptakan suatu hegemoni yang membuat para penggemar tidak sadar bahwa mereka telah menjadi 140

sasaran empuk kapitalisme. Tanpa sadar pula mereka menyerap ideologi yang dilancarkan pihak yang dominan ini dan merasakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka bahkan menjadikan kebutuhan untuk menikmati produk Korea sebagai prioritas utama dalam hidup sehingga tidak jarang banyak yang menghabiskan 60% dari pendapatannya untuk menunjukkan eksistensinya akan kefanatikannya terhadap Korea. Iga sebagai salah seoranga nggota fandom boleh dibilang termasuk dalam golongan dominant reader dimana ia menganggap segala hal yang berbau Korea itu positif dan saking sukanya dengan segala hal berbau Korea ia rela menghabiskan 60% dari uang jajannya untuk memenuhi kesenangannya tersebut. Saya sangat fanatik dengan Korea. Di rumah saya punya banyak koleksi yang berhubungan dengan Korea. Kebanyakan barang-barang tersebut saya beli secara on line. Kalau dihitung-hitung, biasanya uang jajan saya sekitar 60% digunakan untuk belanja pernak-pernik atau kaset Korea. Namun, konsekuansinya saya harus pintar-pinta mengatur dan menggunakan uang jajan sisanya yang jumlahnya tinggal 40% itu. Agak sulit sih, tapi ini lah pengorbanan saya agar bisa mendapatkan barang-barang tersebut. Kefanatikan akan Korea memang sangat luar biasa. Sebagai seorang anggota fandom mereka rela menghabiskan banyak dana demi pemenuhan kebutuhan akan kegemarannya tersebut. Bisa dibilang media massa menghasilkan dampak yang luar biasa dengan menjadi media penyebaran budaya pop Korea. Media massa memiliki kekuatan dan fungsi transmisi untuk menyebarkan nilai-nilai budaya yang termuat dalam tayangan hiburan Korea dan mempengaruhi seluk-beluk kehidupan anggota fandom. Tak bisa ditampik, media massa memegang peranan penting dalam kesuksesan budaya pop Korea. Tapi sebenarnya, beberapa penelitian 141

mengungkapkan, media massa memang memegang peranan penting dalam penyebaran budaya pop tapi hanya sebatas itu saja. Media massa bukanlah satu-satunya faktor penentu yang memengaruhi sikap khalayak, dalam hal ini Korea Lovers. Ada banyak faktor yang menyebabkan tingkat pengaruh media terbatas dan berbeda satu sama lain diantara individu. Walaupun tergabung dalam sebuah fandom yang di dalamnya terbentuk penyeragaman rasa dan interaksi yan intens diantara para anggotanya, tetap saja kita harus mengingat bahwa tiap individu dalam sebuah fandom memiliki kehidupan lain di luar sub kultur Korea Lovers. Mereka juga memiliki latar belakang sosial, gender, usia dan tingkat pendidikan berbeda yang menyebabkan perbedaan tingkat pengaruh media yang terjadi pada mereka. media. Dari keenam subjek, Rifa, Didi, Mitha dan Fitra tidak mengadopsi segala hal yang dikonsumsinya melalui tayangan Korea. Mereka memilihmilih mana yang pantas untuk mereka dan mana yang tidak. Keempat subjek ini mengaku kurang mendapatkan dukungan dari lingkungannya Rifa: Jujur orang tua saya sebenarnya tidak suka saya seperti ini. Suami saya juga kurang suka kalau saya fanatik berlebihan. Jadi saya berusaha menjaga seminimal mungkin kefanatikan saya terhadap Korea. Saya hanya sekedar mengonsumsi tayangannya tapi untuk meniru segala halnya saya memilih-milih. Inilah yang disebut dengan efek terbatas

Didi : Saya addict dengan Korea dan mengoleksi atribut-atribut yang ada label Koreanya. Tapi kalau untuk masalah fashion kayaknya tidak berminat. Soalnya kita ini hidup dan besar di Makassar. Coba saja pakai busana ala Korea, pasti jadi pusat perhatian di mall-mall. Mungkin kalo untuk fashion Korea paling saya Cuma mengikuti gaya formalnya saja yang sering pake blazer atau cardigan. Selebihnya tidak.

142

Fitra:

Saya suka Korea, apalagi k-pop nya. Dance nya seru. Saya sering mempraktekkannya di rumah. Tapi jujur saja, tidak banyak orang yang tahu kalau saya seorang Korea Lovers. Bahkan, orang di rumah juga tidak tahu. Biasanya saya menonton di dalam kamar. Teman kampus apalagi, saya sengaja merahasiakannya. Berhubung saya kuliah di jurusan teknik yang orang-orangnya akan menertawai saya ketika mereka tahu bagaimana selera saya. Saya berusaha untuk tidak menunjukkan kalau saya penggemar Korea dengan menghindari segala atribut berbau Korea

Mitha: Kalau Korea saya paling suka k-pop nya. Tapi akalau untuk mengadopsi secara keseluruhan saya tidak bisa. Orang tua saya sebenarnya sangat tidak mendukung kefanatikan saya ini. Menurutnya, itu adala hal yang tidak penting, toh saya tidak akan bertemu idola saya itu, hanya menatapnya lewat layar kaca. Sekedar menjadi penonton saja saya sudah ditegur apalagi kalau sudah mengikuti fashion-fashion nya dan terjebak dengan konsumerisme berlebihan Pada dasarnya media memang bukanlah penentu sumber utama dari perubahan sosial dan budaya. Media secara bersama dengan latar belakang sejarah seseorang sedikit banyak menjadi konsisten dan menjadi sumber kedua untuk pembentukan gagasan-gagasan tentang masyarakat dan lingkungan tempat ia tinggal. Hasil interaksi antara media dan perubahan social dan budaya sangat bervariasi, tak bisa diprediksi, dan sangat berbeda antara satu keadaan dengan keadaan lainnya. Hal ini menyebabkan efek media yang terjadi pada tiap individu berbeda satu sama lain. Misalnya saja, peneliti membandingkan antara Iga dan Fitrah yang berbeda gender, usia, kehidupan sosial dan tingkat pendidikan. Pandangan mereka terhadap Korea jelas berada pada tingkatan yang berbeda, seperti misalnya cara mereka menyikapi kefanatikannya terhadap Korea : Iga : Teman-teman saya semuanya tahu kalau saya sangat fanatic dengan Korea. Bahkan saya sering dijadikan tempat bertanya teman-teman saya yang ingin mengetahui berbagai info seputar 143

Korea. Keluarga juga tahu dan mendukung selama hal ini positif da tidak menyimpang. Mereka malah senang karena saya jadi anak rumahan semenjak menggandrungi Korea, berbeda sekali saat dulu saya sering keluyuran tidak jelas sampai malam. Bagaimana tidak, sehabis pulang sekolah biasanya saya langsung mengambil posisi enak untuk menonton film Korea berjam-jam atau surving di internet serta mendownload video-video di Youtube. Fitra : Jujur, saya sangat suka tayangan Korea terutama k-pop. Yang paling saya sukai dari k-pop adalah dance-nya. Saya suka mempraktekkan koreografi dance k-pop di kamar. Kegemaran saya mengonsumsi tayangan Korea hanya diketahui oleh beberapa orang teman dekat. Bahkan keluarga pun tidak tahu kalau saya suka Korea dan sering mengikuti gathering fandom Korea. Lingkungan saya yang jarang menyukai tayangan semacam ini membuat saya agak risih membicarakannya. Jadi, saya merahasiakannya saja karena takut nanti ada yang salah persepsi, soalnya saya takut dituduh sembarangan karena tahu sendiri kan bagaimana image para boy band Korea di mata beberapa orang. Di lingkungan teman kampus saya banyak yang tidak suka dengan boy band Korea, karena mereka menganggap boy band Korea itu berdandan seperti banci dan kemayu.

Dari perbandingan kedua informan ini, kita dapat melihat bahwa teks media diinterpretasikan dengan banyak cara oleh khalayak. Pembacaan sebuah teks media dapat melibatkan proses penerimaan, penolakan atau negosiasi individu. Dapat dilihat dengan jelas bahwa Iga bisa digolongkan sebagai seorang dominant reader dimana dia menyerap secara penuh teks media, dalam hal ini budaya pop korea secara utuh. Sedangkan Fitra masuk dalam golongan negotiated reader dimana dia menegosiasikan pembacaan teks sesuai dengan keadaan dirinya. Keempat subjek yang lain juga seperti itu. Mereka memiliki tingkat pengaruh media yang berbeda.

144

B. Pembahasan Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap enam subjek yang berasal dari anggota fandom Korea Lovers di Makassar, peneliti mencatat bahwa subjek pertama kali mengenal Korea melalui technology mediation yaitu dengan media massa dan social mediation dimana mereka diperkenalkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Dari keenam subjek, Firman dan Fitrah mengenal Korea melalui perantaraan temannya. Informasi mengenai Korea didapatkan dari temannya yang telah lebih dulu menyukai tayangan Korea kemudian berlanjut dengan mencari berbagai hal mengenai tayangan Korea. Sedangkan keempat fandom lainnya secara tidak sengaja menyaksikan tayangan Korea di stasiun televisi. Keenam subjek ini mengaku setelah menyaksikan tayangan Korea untuk pertama kalinya, mereka langsung menyukainya. Menurut Kim Song Hwan, seorang pengelola sindikat siaran televisi Korea Selatan, produk budaya Korea berhasil menjerat hati penggemar di semua kalangan terutama di Asia disebabkan teknik pemasaran Asian Values-Hollywood Style. Artinya, mereka mengemas nilai-nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern. Istilah ini mengacu pada cerita-cerita yang dikemas bernuansakan kehidupan Asia, namun pemasarannya memakai cara internasional dengan mengedepankan penjualan nama seorang bintang atau menjual style. Perkembangan teknologi komunikasi memegang peranan penting dan menyebabkan penyebaran budaya pop Jepang bisa demikian pesatnya sehingga menjadi sebuah komoditas bagi perusahaan-perusahaan Korea. 145

Campur tangan pemerintah Korea juga turut andil dalam mendongkrak popularitas budaya pop Korea. Tujuan utamanya adalah untuk

melancarkan derasnya arus komunikasi dari Korea ke Negara-negara di Asia. Korea memanfaatkan popularitas tayangannya selain untuk mendapatkan keuntungan juga sebagai media menyebarkan ideologi agar mereka lebih mudah diterima dunia Internasional. Inilah yang dinamakan taktik ideational system dimana penyebaran ideologi dilakukan dengan sangat halus dan tanpa disadari oleh objek yang akan terkena imbasnya. Hal ini dikarenakan ideational system mengemas dengan baik sesuatu yang nampak sebagai hiburan padahal sebetulnya memiliki ideologi yang dominan. Ideologi dominan ini berulang-ulang membawa misi untuk memengaruhi khalayak media massa. Secara sadar atau tidak, budaya pop Korea yang disebarkan melalui media memproduksi apa yang disebut sebagai kesadaran palsu sehingga para penggemar Korea tak sadar bahwa mereka telah terhegemoni. Mereka menganggap bahwa budaya pop Korea adalah sesuatu yang bernilai dan berguna sehingga kebutuhan akan pemenuhannya menjadi salah satu prioritas utama dalam hidup. Keenam subjek merupakan Korea Lovers yang mejadikan tayangan Korea sebagai pilihan utama. Mereka adalah orang-orang yang memiliki intensitas meonton rata-rata enam jam setiap hari. Rifa, Firman dan Iga bahkan menjadikan tayangan Korea sebagai pilihan satu-satunya. Mereka mengaku tidak lagi mengonsumsi tayangan hiburan dari negara lain. Seperti yang dituturkan Firman:

146

Tayangan Korea baik itu drama, film atau pun musik merupakan suguhan yang sudah sangat komplit dan yang selama ini saya cari. Kalau untuk mengonsumsi tayangan lain kayaknya tidak. Saya bosan dengan film Barat yang kebanyakan tidak ada sisi moralitasnya atau sinetron Indonesia yang berbelit-belit ditambah lagi filmnya yang sangat tidak masuk akal Lain halnya dengan ketiga subejek lainnya. Mereka juga menjadikan tayangan Korea sebagai pilihan utamanya tetapi ketika dibandingkan dengan tayangan Barat, mereka sulit untuk memilih keduanya. Presentasi perbandingan kesukaan mereka terhadap Korea dan Barat tidak jauh berbeda. Saya suka tayangan Korea tapi juga suka film-film Barat. Kalau disuruh memilih sebenarnya susah, tapi bisalah dibandingkan 100% Korea, 99% Barat Kecintaan akan budaya pop Korea yang ditunjukkan oleh keenam responden terutama didominasi oleh drama, k-pop dan film. Mereka mengonsumsinya melalui media massa. Tidak cukup hanya melalui tayangan televisi swasta, mereka adalah orang-orang yang tidak sabar mengikuti jadwal rutin penayangan televisi setiap harinya sehingga mengambil keputusan untuk mengonsumsi tayangan tersebut melalui DVD yang banyak beredar di pasaran dengan harga terjangkau. Keenam subjek ini memiliki koleksi DVD Korea di rumah. Selain melalui televisi dan DVD, mereka juga mencari tahu berbagai hal mengenai Korea lewat internet. Mereka kebanyakan mengunjungi situs Youtube untuk mendownload video-video Korea. Keenam subjek ini juga menjadi anggota dari berbagai situs yang menyediakan forum bagi penggemar Korea Lovers. Dari diskusi-diskusi melalui internet, mereka memiliki banyak teman baru di dunia maya yang sejalan dengan mereka. 147

Bahkan Rifa yang merupakan ketua ELF sangat aktif dalam forum sjworld net. Situs ini merupakan jejaring sosial tempat berkumpulnya fandom Super Junior di selutuh dunia. Situs ini terbentuk atas prakarsa seorang warga Negara Perancis bernama Gaia yang kini mengganti kewarganegaraannya menjadi Korea Selatan saking fansnya dengan Super Junior. Saya merupakan anggota tetap di sj-world.net. Di situs ini kita bisa saling tukar menukar iformasi seputar SuJu (Super Junior). Melalui situs ini pulalah saya punya banyak teman dari berbagai Negara, termasuk Korea. Saya bahkan sering meminta tolong mereka yang berdomisili di Korea untuk membelikan kaset SuJu yang asli dari Korea langsung. Pertemanan kita di sini adalah sistem kepercayaan. Rifa mengaku sangat mengagumi SuJu sehingga untuk menunjukkan kalau dia adalah seorang fans sejati, ia pantang membeli kaset bajakan SuJu. Ia mengoleksi semua kaset original SuJu langsung dari Korea. Menurutnya, dengan membeli kaset original SuJu akan berdampak langsung terhadap jumlah penjualan kaset Suju. Bahkan, saking cintanya dengan boy band satu ini, Rifa mengaku telah menghadiri dua konser Suju bertajuk SuperShow pada tahun 2010 di Malaysia dan tahun 2011 di Singapura. Selain itu, bulan Juni lalu ia juga menghadiri festival kimchi di Jakarta. Bisa dibayangkan berapa besar jumlah pengeluarannya. Tentunya setiap kali konser harga tiket SuJu bernilai jutaan rupiah. Tapi sebagai penggemar fanatik, jumalh uang bukan masalah baginya walaupun harus merogoh kocek dalam-dalam. Untuk masalah dana ia menabung dari gajinya bekerja sebagai pegawai di Inti Tani. Selain konsumsi terhadap tayangan Korea yang kini begitu gampang diperoleh, akses individu terhadap pilihan produk Korea juga hadir sebagai 148

implikasi merebaknya Korean Wave. Berbagai produk berlabel Korea baik dari alat elektronik hingga kebutuhan sehari-hari kini beredar luas dan menjadi pilihan bagi mereka yang sudah tidak asing lagi dengan Korea. Keenam subjek yang diteliti pun demikian Selain tayangan Korea, produk Korea di pasaran juga kini tidak asing lagi bagi kami. Bahkan saat melihat ada produk yang berlabel Korea saya tertarik untuk membelinya. Semacam ada rasa kepercayaan terhadap produk tersebut. Mungkin karena sudah tidak asing lagi melihat barang-barang tersebut muncul di film-film Korea. Contohnya saja ponsel, saat mulai mengenal Korea saya jadi tertarik dengan merek ini dan menggunakannya. Padahal dulu saya tidak pernah menggunakan merek ini berhubung kurang terkenal dan kualitasnya kurang dipercaya. Korea yang kini menjadi Negara maju secara ekonomi mampu melakukan ekspansi lewat tayangan hiburannya. Dengan kekuatan ekonominya yang mengglobal, Korea memiliki kekuatan dan pengaruh yang cukup besar sebagai pemain dalam pasar budaya global. Sistem pasar bebas yang dianut secara global memosisikan Indonesia dan Korea menjalin kerja sama. Sistem ini memungkinkan transfer materi media termasuk budaya dan produk media alternatif dengan gampangnya masuk ke Indonesia sebagai pilihan alternatif baru. Sebagai seorang Korea Lovers, konsumsi tayangan hiburan Korea dengan intensitas yang cukup tinggi per harinya sedikit banyak akan memengaruhi gaya hidup mereka. Keenam subjek merasa perubahan yang paling signifikan setelah mengonsumsi tayangan Korea adalah gaya berbicara mereka. Karena keseringan menonton film Korea mereka kadang menyelipkan bahasa-bahasa Korea dalam pergaulannya. Mereka juga mengoleksi berbagai hal mengenai Korea. Selera musik mereka pun jadi berubah. Mereka kini lebih tertarik dengan gaya k-pop yang unik yang 149

memadukan musik dengan dance. Selera mereka dalam hal pemilihan produk dan cara berpakaian juga cukup berpengaruh.. Namun, pada taraf adopsi fashion Korea, hanya Iga dan Firman yang berani menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Rifa: Saya suka segala hal tentang Korea, termasuk fashionnya. Tapi, kalau untuk bergaya ala Korea seperti di film-film kayaknya kurang cocok buat saya. Apalagi keluarga pastinya tidak suka berhubung rumah saya berada di kompleks pesantren. Bisa-bisa tetangga saya kaget melihat penampilan saya Pada level kelompok, media budaya pop Korea juga dijadikan basis politik identitas. Aktivitas khalayak media dan penggemar adalah bagian aktivitas sub kultur yang paling cepat pertumbuhannya. Yang menjadi perekat pada sub kultur penggemar budaya pop Korea ini adalah media dalam bentuk tayangan hiburan Korea. Para individu Korea Lovers secara aktif memilih mengedepankan dan mengkonstruksi identitas mereka dengan menempatkan diri dalam komunitas penggemar Korea. Di komunitas ini mereka memperoleh dukungan dan perlindungan terhadap identitas mereka. Menjadi penggemar Korea juga berarti memunculkan hubungan afektif dan aktif terhadap tayangan Korea: mereka mengoleksi, menginterpretasi, menyirkulasi dan menciptakan kemabali teks-teks yang dikonsumsinya. Lalu, dengan mengonsumsi tayangan Korea mereka juga mengonsumsi representasi budaya di dalamnya. Kemudian mereka merealisasikan nilai-nilai, praktik dan representasi budaya dari tayangan Korea ke dalam gaya hidupnya. Nilai-nilai dan praktik diinternalisasi dari konsumsi tayangan Korea yang digunakan bersama secara ekslusif dalam lingkungan komunitas penggemar. Penelitian ini menemukan bahwa tayangan Korea merupakan 150

media yang dominan dalam kehidupan mereka. Mereka mengonsumsi musik, film dan drama Korea melalui media massa. Selain itu, mereka juga aktif mengikuti festival budaya Korea. Keenam subjek ini merupakan bagian dari fandom Korea Lovers di Makassar. Mereka adalah anggota aktif yang sering berinteraksi dengan sesama Korea Lovers lainnya. Semakin sering intensitas yang dilakukan dengan teman sesama fandom akan semakin memperkuat identitas keKorea-an mereka. Dalam fandom tersebut mereka menerapkan panggilan onnie,oppa,hyung dan noona sebagai adopsi dari apa yang dikonsumsinya melalui tayangan Korea. Fandom Korea yang ada di Makassar seperti halnya fandom yang ada di kota-kota besar lainnya menjadikan gathering sebagai agenda utamanya dimana semua anggota berkumpul dan menonton bareng idola mereka. Selain itu juga, gathering menjadi ajang melakukan pertunjukkan bagi anggota fandom yang ingin menunjukkan dance skill ala k-pop Dari keenam fandom tersebut, Mitha dan Firman adalah seorang dancer yang menjadi tamu kehormatan acara saat gathering. Mereka

berdua sering menunjukkan kebolehannya ber-dance ala k-pop. Seperti yang diungkapkan Mitha Yang paling saya suka dari Korea adalah k-pop nya dimana kita bisa berekspresi melalui gerakan tarinya. Kebetulan saya sangat suka dance. Sejak mengenal k-pop, saya dan teman saya tertarik membuat grup dance dengan meniru gaya para artis k-pop. Dari ketekunan saya berlatih akhirnya banyak orang yang mengakui kemampuan dance saya bahkan mereka ingin belajar. Dari sini saya bisa menghasilkan uang dengan mengajar mereka teknik dance ala Korea. Pada level makro, yaitu hubungan sub-kultur dengan orang-orang di luar komunitas penggemar Korea, keenam subjek diajukan penelitian 151

tentang bagaimana reaksi mereka saat menemukan orang-orang yang beranggapan bahwa Korea tidak sebagus apa yang dipikirkan mereka. Keenam subjek tersebut merasa terganggu dan tidak suka bahkan kalau perlu akan mengambil jarak dengan mereka. Seperti yang diungkapkan Didi: Mereka tidak boleh men-judge Korea seperti itu dong. Mereka harus tahu dulu sebelum berpikiran yang tidak baik. Korea itu tidak lebay kok. Menurut saya mereka adalah orang-orang yang romantis. Intinya Donjudge the book by its cover Keenam responden ini mengaku tidak nyaman saat ada orang di sekitar mereka yang menjelek-jelekkan Korea.

1. Penyebaran Nilai Budaya Pop Korea Globalisasi merupakan wacana yang populer sejak abad ke-21. Komponen utama dari globalisasi adalah perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat sehingga mampu menjangkau lebih banyak khalayak dengan waktu lebih singkat. Perkembangan teknologi dan komunikasi menyebabkan penyebaran budaya pop korea bisa demikian pesatnya sehingga menjadi sebuah komoditas bagi perusahaan-perusahaan Korea. Campur tangan pemerintah Korea dalam mendongkrak ekspansi budaya melalui tayangan hiburan makin melancarkan derasnya arus komunikasi Korea ke Negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Komoditas budaya pop Korea yang disebarkan oleh media memproduksi apa yang disebut sebagai kesadaran palsu, sehingga para penggemar tak sadar bahwa mereka terhegemoni oleh budaya pop Korea. Para remaja penggemar budaya pop Korea 152

menganggap bahwa budaya pop Korea yang mereka gemari ini sebagai sesuatu yang memang bernilai dan berguna. Bahkan, mereka memandang sebelah mata pada pada budaya pop Indonesia. Komodifikasi media yang dilakukan pemerintah Korea menjadikan penggemar budaya pop Korea juga menjadi komoditi bagi perusahaanperusahaan media yang ikut menyebarkan budaya pop Korea sehingga menjadi sebuah industri yang sangat potensial dan menjanjikan. Semakin banyak pihak yang menyebarkan budaya pop Korea, maka semakin banyak pula khalayak yang menjadi komoditi mereka, yang bisa dijual pada para pemasang iklan di medianya. Hasilnya, Korea saat ini masuk daftar sepuluh besar ngara produsen film terbanyak. Korea dengan kerja sama pengusaha media dan pemerintah mampu memproduksi seratus lebih film per tahun. Tidak bisa disangkal bahwa perkembangan industri budaya pop Korea memang dipicu oleh industri media yang dengan gencarnya memberikan berbagai alternatif informasi dan aneka jenis budaya pop Korea, karena industri media menganggap khalayak penggemar budaya pop Korea sangat potensial bukan saja dari segi jumlah tetapi juga dari sisi fanatismenya terhadap budaya pop Korea. Akibatnya berbagai media berlomba untuk menyajikan berbagai jenis informasi dan pilihan akan budaya pop Korea dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan khalayak konsumen. Padahal khalayak ini adalah komoditas yang memang harus dipelihara dan jika mungkin ditambah jumlahnya, demi keuntungan ekonomi dari pihak pemilik media.

153

Serbuan budaya pop Korea dari berbagai media mengakibatkan para penggemarnya terhegemoni. Mereka merasa bahwa budaya pop Korea memang suatu hal yang mereka inginkan, sesuatu yang ideal, yang mereka butuhkan. Mereka tidak merasakan bahwa sebenarnya pihak kapitalis telah memanfaatkan mereka dengan menciptakan kesadaran-kesadaran palsu tersebut. Mereka merasa nyaman-nyaman saja mengonsumsi budaya pop Korea sehingga terbentuklah hubugan simbiosis mutualisme antara penikmat budaya pop Korea dengan pemilik media. Budaya pop Korea menerpa penggemarnya dengan segala nilai-nilai Korea yang menciptakan suatu gaya hidup yang mencerminkan identitas dari para penikmatnya, mulai dari gaya berbicara, cara memilih produk, dan fashion mereka. Hal ini disebabkan karena pemaknaan simbolik yang ditangkap melalui media. Akibatnya mereka menjadi suatu sub kultur penggemar budaya pop Korea dengan menciptakan identitas yang membedakannya dengan identitas remaja pada umumnya. Dalam kasus ini, konsumsi budaya pop Korea berefek domino dimana penggemar dituntun untuk menjadi penikmat berbagai produk berlisensi Korea. Penggemar tidak akan dibiarkan menikmati hanya satu macam produk budaya pop Korea. Seperti yang terjadi pada keenam subjek. Mereka menikmati berbagai macam tayangan hiburan seni Korea mulai dari film, drama hingga musik. Bukan hanya sampai disitu, dalam ranah teknologi, pemilihan terhadap produk juga berpengaruh terhadap subjek. Mereka menjadi lebih akrab dengan berbagai produk teknologi Korea seperti Samsung, LG atau Hyundai atau Yong-Ma yang saat ini pamornya di Indonesia sedang naik daun. Sebelum mengenal Korea melalui tayangan 154

hiburan, mereka mengaku tidak terlalu memperdulikan produk-produk tersebut berasal dari Negara mana. Selain dalam bidang teknologi, produk makanan Korea juga menjadi incaran Korea Lovers. Apalagi, saat ini makanan Korea begitu mudahnya dijumpai di berbagai tempat perbelanjaan. Bahkan ada dua subjek yang mengaku mengetahui cara membuat makanan khas Korea yaitu kimchi. Dari segi fashion juga tidak ketinggalan. Produk-produk impor dari Korea seperti pakaian , sepatu tas dan alat kosmetik asal Korea kini banyak diminati sehingga bisa dipastikan, Negara Korea banyak menangguk keuntungan dari penyebaran Korean Wave ini. Ini belum dihitung dari keuntungan pemerintahnya dalam program Tahun Wisata di Korea yang selalu dipadati turis asing. Industri pop Korea tak akan berkembang demikian pesatnya jika bukan karena basis penggemarnya yang sangat fanatik dan aktif dalam menyebarkan budaya pop Korea melalui internet dengan membuka situssitus atau portal web yang menjadi sarana penyebaran budaya pop Korea. Situs-situs ini biasanya berbasis komunitas dengan fasilitas chat room, forum atau mailinglist dan mempunyai ribuan penggemar budaya pop Korea yang bergabung di dalamnya. Tabel 1 Kategori Adopsi Nilai-Nilai Budaya Korea Melalui Tayangan Korea
No 1 Subjek Rifa Selera Musik Mengonsumsi k-pop tetapi tidak mempraktekkan dance-nya Gaya Berpakaian Hanya sekedar menyukai fashionnya tetapi tidak mengadopsinya Nilai-nilai Moral Mengambil hal positif tentang penghormatan kepada yang lebih tua dan menerapkannya Konsep Diri Representasi mengenai korea Melalui tayangan Korea, kita dapat melihat bagaimana sebenarnya Korea Bahasa Otodidak melalui kamus dan film serta interaksi sesama anggota fandom

155

Didi

Mengonsumsi k-pop dan mempraktekkan dance-nya

Menyukainya tetapi memilihmilih mana yang pantas dan mana yang tidak

Mengambil hal positif tentang penghormatan kepada yang lebih tua dan menerapkannya

Firman

Mengonsumsi k-pop dan mempraktekkan dance-nya

Menyukai fashionnya dan menerapkannya agar tampil unik

Mengambil hal positif tentang penghormatan kepada yang lebih tua dan menerapkannya

Merasa lebih toleran terhadap segala hal baru serta menjadikan icon-icon Korea sebagai role model

Fitra

Mengonsumsi k-pop dan mempraktekkan dance-nya

Hanya sekedar menyukai fashionnya tetapi tidak mengadopsinya

Mengambil hikmah tentang kesetiaan dan pengorbanan

Menjadi Korea Lovers membuat saya sadar bahwa Negara yang dulunya sangat miskin kini bangkit menjadi salah satu Negara yang diperhitungkan. Ini bisa menjadi acuan bagi kita orang Indonesia Korea hebat dalam melakukan ekspansi budaya melalui tayangan Korea. Tayangannya tidak tergerus globalisasi dan masih mempertahankan nilai-nilai Asia Korea membuat saya sadar bahwa menangis buat seorang pris bukalah hal yang tabu

Otodidak melalui kamus dan film serta interaksi sesama anggota fandom

Otodidak melalui kamus dan film serta interaksi sesama anggota fandom

Iga

Mengonsumsi k-pop dan mempraktekkan dance-nya

Menyukai fashionnya dan menerapkannya agar tampil unik

Mengambil hal positif tentang penghormatan kepada yang lebih tua dan menerapkannya

Merasa lebih toleran terhadap segala hal baru serta menjadikan icon-icon Korea sebagai role model

Mitha

Mengonsumsi k-pop dan mempraktekkan dance-nya

Hanya sekedar menyukai fashionnya tetapi tidak mengadopsinya

Mengambil hal positif tentang penghormatan kepada yang lebih tua dan menerapkannya

Dapat memahami bagaimana pemikiran orang Korea setelah menjadi Korea Lovers. Saya juga bisa mencontoh mereka melalui tayangannya Setiaknya saya dapat memahami bagai mana Korea sebenarnya. Dapat mengetahui kejelekan dan kebaikan orang Jepang

Otodidak melalui kamus dan film serta interaksi sesama anggota fandom Kursus bahasa Korea

Otodidak melalui kamus dan film serta interaksi sesama anggota fandom

Dalam pembentukan identitas Ke-Korea-an para penggemarnya, memang tidak bisa lepas dari yang namanya pembacaan teks media. Pembacaan teks media yang berbeda akan menyebabkan efek yang berbeda pada tiap individu. Cara pembacaan teks yang berbeda biasanya terjadi akibat proses sosialisasi yang berbeda dari tiap-tiap individu. Latar belakang keluarga, pendidikan, agama, dan aspek sosial lainnya. Keenam subjek memiliki kriteria yang berbeda satu sama lainnya. 156

Lazarfeld sebagai salah satu pencetus gagasan efek terbatas media mengungkapkan bahwa media tidak lagi sedigdaya yang pernah ditakuti sebelumnya. Lazarfeld menemukan bahwa masyarakat memiliki beragam cara untuk dapat meminimalisir pengaruh media serta mengonsumsinya sesuai kebutuhannya saja sesuai Uses and Gratification. Media bukan lagi penentu utama perubahan individu tetapi, perubahan sikap mereka dibentuk oleh berbagai macam faktor yang saling memengaruhi, seperti keluarga, teman, usia, gender, pekerjaan, agama dan lain-lain. Dari pernyataan keenam subjek, lingkungan dan keluarga merupakan faktor utama yang memengaruhi perbedaan pembacaan teks dari keenam subjek. Jadi, media bukanlah penentu utama dari pengambilan sikap khalayak terhadap budaya pop Korea yang dikonsumsinya. Media memiliki keterbatasan memberikan efek terhadap subjek karena sebagai khalayak media, subjek bersifat aktif terhadap budaya pop Korea yang menerpa dirinya. Masing-masing khalayak sebelum mengenal budaya pop Korea telah ditanamkan sebuah identitas yang ada sejak kecil di lingkungannya dan identitas ini mengiringi pertumbuhannya. Jadi, saat budaya pop Korea dengan segala nilai-nilainya muai menggerus identitas yang ada sebelumnya, di sini budaya pop Korea tidak serta merta dengan gampangnya bisa menguasai secara utuh subjek. Ada banyak nilai-nilai yang sebelumnya telah ada diri tiap subjek. Adopsi nilai- nilai Korea di sini bisa masuk secara utuh tergantung seberapa kuat identitas yang ada sebelumnya dan bagaimana lingkungan di sekitarnya memakluminya.

157

2. Analisis Skala Mikro Pada skala level mikro, yaitu menganalisis subjek pada level individu, kita dapat melihat bagaimana ideologi Korea disebarkan dalam bentuk produk hiburan (ideational system) melalui media massa. Keenam subjek yang diteliti adalah generasi-generasi yang lahir pada era munculnya televisi swasta di Indonesia. Dimana mereka sejak lahir telah disajikan aneka informasi yang beragam. Meskipun mereka sadar bahwa tujuan utama penyebaran budaya pop Korea adalah dalam sektor ekonomi dengan membentuk suatu kesadaran palsu, namun mereka tetap saja menganggap bahwa semua itu sangat berguna dalam kehidupan mereka. Untuk melihat bagaimana penyebaran ideologi Korea masuk ke dalam benak subjek, peneliti menggunakan image system dari James Lull yang diformulasikan jawaban tentang tentang awal mengonsumsi budaya pop Korea dan tentang sarana mengonsumsi budaya pop Korea (lihat tabel 2). Tabel 2 penyebaran budaya pop Korea melalui image system.
Subjek 1 Awal mengonsumsi Budaya Pop Korea
Ideational system: Awalnya tanpa sengaja menyaksikan drama Korea kemudian berlanjut pada k-pop nya

Subjek 2
Ideational system: Mula-mula dramanya lalu film dan musik k-pop nya

Subjek 3
Ideational system: Mula-mula DVD film Korea kemudian berlanjut dengan drama di televisi dan kemudian kpopnya

Subjek 4
Ideational system: Mula-mula meminjam DVD film Korea dari teman lalu selanjutnya menonton drama di televisi, dan berlanjut dengan mengon sumsi k-pop

Subjek 5
Ideational system: Menonton drama di televisi kemudian berlanjut pada k-pop dan film korea

Subjek 6
Ideational system: Menonton drama kemudian berlanjut menjadi penggemar berat k-pop

158

Sarana mengonsumsi budaya pop Korea

Technology Mediation: Melalui televisi, DVD dan sarana internet Sosial mediation: Mendirikan fandom E.L.F

Technology Mediation: Melalui televisi, DVD dan sarana internet

Technology Mediation: Melalui televisi DVD dan sarana internet Social Mediation: Teman menawarkan DVD Film Korea

Technology Mediation: Melalui televisi DVD dan sarana internet Social Mediation: Meminjam DVD Film Korea teman

Technology Mediation: Melalui televisi DVD, majalah dan sarana internet

Technology Mediation: Melalui televisi DVD dan sarana internet

Pandangan terhadap adopsi nilai budaya pop Korea

Banyak hal positif yang bisa dipelajari dari mengonsumsi tayangan Korea. Tapi tidak semua hal juga bisa kita tiru. Kembali lagi, budaya kita tidak sama dengan mereka walaupun sama-sama Asia

Banyak hal positif yang saya dapatkan semenjak menjadi Korea Lovers. Selain bisa menikmati produk hiburan yang menarik dari Korea, saya juga jadi punya banyak teman sesama penggemar Korea. Banyak hal positif yang bisa kita adopsi dari Korea tetapi kita juga harus memilahmilah mana yang cocok buat kita

Korea merupakan sebuah Negara yang sangat keren. Produk hiburannya berkualitas. Saya paling suka fashionnya. Ini adalah contoh Negara maju yang pantas ditiru. Saya suka semua hal dari Korea dan mengadopsinya dalam kehidupan sehari-hari

Saya hanya sekedar menjadi penikmat tayangan hiburan korea. Menurut saya tayangan Korea itu dikemas dengan cerita menarik khas kehidupan Asia, Mungkin inilah salah satu daya tariknya. Tapi untuk mengadopsi hal-hal yang saya dapatkan dari mengonsumsi tayangan Korea, kayaknya saya kurang tertarik karena culture kita dan mereka berbeda jadi

Saya suka tayangan Saya suka korea tapi segala hal lebih tentang kepada kKorea sejak pop nya. menjadi Kalau penikmat drama dan tayanganfilm sih nya. Dari saya tayangan masih tersebut lebih suka saya bisa film Barat. mengetahui Kalau berbagai hal masalah tentang meniru Korea dan hal-hal mengadopsi- yang saya dapatkan nya dalam dari kehidupan tayangan sehari-hari. Korea Apalagi saya rasa orang tua juga tidak mendukung. karena kita kurang cocoklah. Apa kata orang nanti kalau tibatiba saya sok-sok bergaya Korea. Paling saya Cuma

159

sulit untuk menerapkannya di sini.

belajar dance ala artis k-pop saja

Bagi peneliti, penggemar budaya pop Korea hanya bisa dikategorikan menjadi dominant reader dan negotiated reader saja. Sebab untuk oppositional reader terhadap budaya pop Korea tentunya tidak akan terhegemoni oleh budaya pop Korea, karena mereka adalah orang-orang yang sepenuhnya menolak mitos-mitos dan peran yang disediakan oleh budaya pop Korea yang disebarkan melalui media, karena mereka telah terhegemoni oleh budaya lain. Berdasarkan tabel di atas, dapat diidentifikasi bahwa subjek 1,2,4,dan 6 adalah orang-orang yang menyukai budaya pop Korea tapi masih dalam batas negotiated reader. Mereka adalah penikmat tayangan Korea yang tidak sepenuhnya mengambil posisi yang ditawarkan oleh apa yang dikonsumsinya. Subjek yang masuk dalam kategori negotiated reader akan menegosiasikan dan menyesuaikan identitas kulturalnya ke dalam identitas cultural yang dominan di lingkungannya, atau dengan kata lain ia akan menyesuaikan proses avowalnya dengan proses abscription orang-otang di lingkungannya. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Rifa (subjek 1) adalah orang yang dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan memiliki keluarga yang pondasi agama Islamnya kuat. Lingkungannya tentu saja sangat memengaruhi pilihan dia untuk mengadopsi nilai-nilai mana saja yang bisa ia praktekkan. Kalau fashion Korea saya tidak ikut-ikutan. Apa kata keluarga saya. Lagipula pejilbab seperti saya tidak cocok memakai busana-busana Korea seperti itu 160

Menurut Didi juga demikian, ia tidak bisa mengadopsi secara keseluruhan apa yang dia lihat melalui tayangan Korea. Tayangan Korea sebenarnya tidak semuanya bisa ditiru. Mereka memang menonjolkan sopan santu khas Asia dalam drama atau film, tetapi ada nilai-nilai yang cukup berbenturan dengan adat kita di sini. Orang di Korea itu menghargai hubungan sesama jenis. Banyak film Korea yang mengangkat tema seperti itu. Mereka bahkan berusaha merubah mindset kita dengan memperlihatkan perspektif lain dari hubungan sejenis. Saya tidak suka hal itu. Fitrah dan Mitha juga mengungkapkan bahwa lingkungan di sekitarnya merupakan hal utama yang perlu diperhatikan sebelum mengadopsi nilai-nilai Korea yang ditontonnya. Negotiated reader adalah mereka yang tingkat hegemoni budaya Koreanya tidak terlalu tinggi, hanya pada tataran simbolik saja. Mereka bisa menegosiasikan teks apa saja yang diterimanya untuk kemudian diterapkan. Mereka yang termasuk negotiated reader adalah mereka yang telah lebih dulu terhegemoni dengan kuat dengan budaya lain, baik budaya Barat maupun budaya

keluarganya yang didapatkan dari hasil sosialisasi. Mereka mempunyai nilai dan norma lain yang cukup kuat mengakar pada diri mereka, sehingga tingkat hegemoni budaya pop Korea yang didapatkannya akan disesuaikan dengan budaya lain yang telah lebih dulu mereka terima. Berbeda dengan Rifa, Didi,Fitrah dan Mitha, Iga dan Firman bisa dikategorikan sebagai dominant reader. Subjek yang masuk kategori dominant reader bisa saja melakukan avowal tentang identitas dirinya, namun jika proses abscription dari orang lain di lingkungannya itu bertentangan dengan apa yang digambarkan oleh dirinya, seorang penggemar budaya pop Korea yang termasuk dominant reader akan menarik diri dari lingkungan sosialnya dan lebih memilih mencari teman 161

yang akan melakukan ascription sesuai dengan avowalnya. Semua tayangan Korea menurutnya bernilai positif. Kedua subjek yang dikategorikan dominant reader, Iga dan Firman sama sekali tidak dapat melihat sisi negatif sekecil apa pun dari Korea. Bahkan mereka mengaku ingin sekali menjadi orang Korea. Kedua subjek ini menganggap bahwa tidak ada yang salah dengan Korea. Banyak hal yang mereka dapatkan dari mengonsumsi tayangan Korea. Selain itu, mereka juga berani tampil beda dengan mengadopsi fashion Korea karena menurutnya unik, seperti penuturan Iga: Saya suka Korea dan segala hal tentangnya terutama fashionnya. Orang tua saya juga mendukung. Apalagi gaya busana Korea itu kebanyakan feminine jadi mama suka membelikannya untuk saya demi mengubah sifat tomboy saya. Saya sih asyik-asyik saja, Soalnya bisa berdandan ala gadis Korea.

Kedua subjek yang masuk kategori dominant reader ini adalah orangorang yang memiliki keluarga yang egaliter dan mampu menerima segala perbedaan dan hal-hal baru. Firman dan Iga bisa dibilang berasal dari keluarga yang demokratis dimana mereka mendapat kebebasan dari orang tua bahkan dukungan penuh. Orang tua Firman memiliki latar belakang pendidikan Barat yang memungkinkan keluarganya sangat terbuka dengan hal-hal baru. Selain itu, Kedua orang tuanya awalnya memiliki perbedaan agama dimana ibunya seorang etnis China beragama Budha akhirnya memeluk Islam sebelum menikah dengan ayahnya. Perbedaan kultur dan agama yang awalnya ada dalam lingkup keluarganya memungkinkan Firman dan

162

keluarganya memiliki sikap demokratis untk memilih hal-hal yang menurut mereka sesuai dengan hidupnya. Seperti halnya Firman, Iga juga demikian. Iga berasal dari leluhurnya yang etnis China dan telah sekian lama beriteraksi dan beradaptasi dengan budaya-budaya Indonesia. Kedua orang tuanya merupakan lulusan perguruan tinggi Australia dengan kata lain telah menerima pendidikan Barat yang menghargai setiap hal-hal baru. Hal ini diterapkan dalam kehidupan keluarganya. Sosialisasi keluarga ini yang ala Barat

membebaskan anak-anaknya untuk memilih hal-hal yang mereka sukai tanpa ada arahan-arahan khusus, terhegemoni oleh budaya pop Korea . Subjek yang masuk kategori dominant reader cenderung memilih identitas yang amat drastis. Ia memilih identitas sebagai seorang Korea Lovers sejati dan sangat bangga dengan hal itu. Bahkan, kalau perlu dan mereka diberi kesempatan untuk lahir kedua kalinya, mereka ingin lahir sebagai orang Korea. Sebagai seorang Korea Lovers sejati, mereka bahkan berusaha mempelajari bahasa Korea melalui kursus bahasa Korea. Saat melakukan wawancara denga kedua orang ini, peneliti juga menangkap bagaimana mereka memosisikan dirinya sebagai Korea Lovers. Ketika disuruh membandingkan antara Korea dengan Indonesia, mereka terkesan menyepelekan produk hiburan Indonesia dan selalu menyatakan maaf kepada peneliti. Tampaknya, mereka tidak mau menyinggung peneliti yang dianggapnya memang berbeda dengan mereka. Subjek menganggap peneliti adalah orang Indonesia dan mereka melakukan avowal terhadap dirinya sebagai orang Korea. 163 membuat subjek lebih mudah

Melihat bagaimana subjek memilih diri mereka sebagai negotiated reader atau dominant reader, sepertinya lingkungan keluarga sangat berperan. Apabila nilai dan norma dari keluarga tidak cukup kuat terhadap subjek, kemungkinan besar mereka akan terhegemoni dengan budaya pop Korea dan menjadi dominant reader. Mereka adalah subjek yang berasal dari keluarga yang egaliter dimana mereka diberi kebebasan dan hak penuh untuk memilih segala sesuatu yang baik menurut mereka. Sementara, jika sosialisasi keluarga cukup kuat terhadap subjek, dengan aneka nilai dan norma budaya lokal yang melekat, mereka akan menegosiasikannya dengan budaya pop Korea yang diterimannya. Kemungkinan besar mereka hanya akan terpengaruh pada tataran simbolik saja, hanya merupakan hegemoni selera saja, dimana hal ini biasanya diakibatkan pengaruh dari peer group.

3.

Analisis Skala Meso Dilihat dari skala meso, Para penggemar budaya pop Korea menempatkan dirinya sebagai sub kultur, dimana mereka mendapatkan banyak dukungan dalam kelompok tersebut karena memiliki selera yang sama. Dalam sub kultur budaya pop Korea, para penggemar menganggap budaya pop Korea adalah sesuatu yang pantas untuk mereka dan sangat dibutuhkan. Bahkan mereka menjadikan kebutuhan akan pemenuhan budaya pop Korea menjadi salah satu prioritas utama dalam hidup. Serbuan budaya pop Korea juga semakin meluas dengan gencarnya media menayangkan tayangan Korea. Televisi swasta berlomba-lomba untuk menyiarkan drama Korea, belum lagi acara musik Indonesia 164

menyiapkan tangga lagu khusus Korea dalam acaranya. Radio juga ikutikutan membuat program chart tangga lagu Korea. Belum lagi acara festival Korea yang hampir setiap tahunnya diadakan untuk

mempromosikan kebudayaan Korea. Ini membuktikan semakin banyaknya peminat tayangan Korea di Indonesia. Para penggemar budaya pop Korea merupakan sub kultur tersendiri dari remaja yang juga sudah dianggap sebagai sub kultur karena penciptaan gaya hidup dan perilaku khas dibandingkan umumnya masyarakat. Mereka membentuk komunitas-komunitas atau yang lebih dikenal sebagai fandom Korea Lovers yang sesuai dengan minat mereka akan jenis-jenis budaya pop Korea. Di Makassar sendiri, fandom Korea Lovers atau komunitas penggemar budaya pop Korea yang resmi ada tujuh, yaitu: 1. ELF Makassar (Suju) dengan jumlah anggota 312, ketua Rifa 2. Sone (SNSD) dengan jumlah anggota 287, ketua Ayu Wandika 3. Shawol (SHINee) dengan jumlah anggota 2003, ketua Nisa 4. Triple S (SS501) dengan jumlah anggota 172, ketua A. Irma K. 5. V.I.P (Big Bang) dengan jumlah anggota 152, ketua Zerary 6. Cassiopea (TVXQ) dengan jumlah anggota 102, ketua Mitha 7. B3AUTY (Beast) dengan jumlah anggota 72, ketua A.Ummu Dalam fandom ini, para anggotanya amat erat terkait secara emosi. Perasaan bahwa mereka adalah komunitas non-dominan membuat ketertarikan emosional antara penggemar budaya pop Korea sangat kuat, sehingga jika mereka bertemu dengan orang-orang yang sama-sama menggemari budaya pop Korea, maka mereka akan merasakan suatu daya 165

tarik masing-masing untuk mengakrabkan diri. Mereka menciptakan gaya hidup, dan gaya bicara yang khas dengan selipan istilah-istilah Korea, beberapa dengan gaya busana yang khas, juga mengguakan nama-nama panggilan yang bernuansa Korea. Sebagai sebuah komunitas, selain berinteraksi melalui group di Facebook, mereka juga kerap melakukan tatap muka atau gathering, karaoke bareng, dan pergi ke tempat-tempat yang mengadakan festival budaya pop Korea. Untuk menjadi bagian dari komunitas ini, persyaratannya cukup mudah yaitu anda adalah penggemar dari artis tersebut dan rajin mengikuti gathering yang diadakan. Untuk menjadi anggota resmi juga disediakan member card yang dapat diperoleh dengan mengeluarkan biaya Rp.45.000 dengan bonus atribut-atribut bergambar artis Korea yang diidolakan. Keberadaan sub kultur merupakan hal yang penting dalam

pembentukan identitas para penggemar budaya pop Korea. Komunitas penggemar budaya pop Korea memiliki serangkaian nilai dan praktik budaya eksklusif bersama, di luar budaya dominan lainnya. Mereka mempunyai gaya bicara yang serta cara menyapa yang khas. Biasanya mereka satu tipe, heboh. Selain itu mereka menggunakan adat Korea dalam menyapa satu sama lain yaitu menggunakan kata onnie (seorang perempuan untuk kakak perempuan), noona (laki-laki memanggil kakak perempuan), hyung (laki-laki memanggil kakak laki-laki), oppa

(perempuan memanggil kakak laki-laki). Mereka juga terkadang tanpa sadar meniru gerakan dan mimik khas orang-orang Korea.

166

Selain menjadi anggota dari komunitasnya, subjek yang diteliti juga aktif dalam berbagai forum on-line lokal maupun internasional. Di Indonesia ada ratusan forum on line yang membahas tentang budaya pop Korea. Forum ini ada yang dibuat perseorangan atau lembaga tertentu, sebut saja komunitas Kafe Gaul dan Lautan Indonesia yang difasilitasi oleh Indosiar sebagai stasiun televisi swasta yang paling banyak menayangkan drama dan film Korea. Para penggemar budaya pop Korea ini juga tampaknya dijadikan ajang bisnis bagi para pemilik portal web yang jeli membidik pasar yang potensial dari para penggemar budaya pop Korea. Sebut saja kaskus.com dan indowebster.com yang menyediakan forum bagi para Korea Lovers untuk berinteraksi serta menyediakan berbagai pernak-pernik dan cakram DVD yang ditawarkan kepada mereka untuk dijual. Selain itu, para pemilik portal web juga bisa menjual jumlah anggotanya kepada para pemasang iklan di situs mereka. Keenam subjek ini juga mengaku bahwa mereka banyak membeli produk-produk Korea lewat on line. Seperti penuturan Iga Saya lebih sering membeli DVD, baju-baju ala Korea lewat on line karena ada banya pilihan dan sulit didapatkan di pasaran. Portal web banyak menawarkan berbagai produk yang saya inginkan Salah satu subjek, yaitu Rifa bahkan mengaku aktif dalam forum on line berskala Internasional yaitu sj-world.net. Portal ini merupakan kumpulan para penggemar Super Junior dari seluruh dunia. Melalui web ini, Rifa sering memesan berbagai kaset DVD atau merchandise Super Junior.

167

3. Analisis Skala Makro Di zaman media dan komunikasi tanpa kabel terlihat akselerasi dan intensifikasi globalisasi. Ini juga tidak lepas dari karakteristik teknologi media elektronik dan digital: komunikasi tanpa kabel dapat menjangkau lebih banyak khalayak dengan waktu lebih singkat. Teknologi internet juga mempermudah individu mendapatkan data yang sebelumnya tidak terjangkau. Teknologi mempercepat, mempermudah dan membuka saluran penyebaran budaya pop Korea sehingga ratusan situs yang didedikasikan pada tayangan hiburan Korea dapat beroperasi. Penggemar, baik berkelompok maupun pribadi, bebas menyebarkan dan mendapatkan informasi terkait dengan tayangan Korea. Hal ini didukung dengan semakin banyaknya situs yang menyediakan link untuk mendownload tayangan Korea secara gratis seperti kaskus.com,

mediumquality.blogspot.com, dramakoreaterbaru.com dan masih banyak lagi situs lainnya. Tak terkecuali dengan keenam subjek. Mereka juga mempergunakan fasilitas internet untuk mendapatkan drama, film atau lagu-lagu Korea. Cara ini memang bisa dibilang illegal, tapi tidak menyurutkan produksi produksi hiburan Korea. Bahkan, tercatat Korea sebagai sepuluh besar Negara produsen film dengan jumlah lebih dari seratus film per tahunnya. Selain itu, pemerintahnya pun tak segan-segan mengucurkan dana US$ 350 juta untuk industri film. Walaupun situs-situs illegal untuk mendownload tayangan Korea semakin marak, secara mengejutkan pembajakan tersebut justru

menyuburkan industry ini. Melalui internet,baik melalui situs, forum 168

komunitas, dokumen dan informasi tayangan Korea dalam bentuk data digital sangat mudah diperjualbelikan dan dipertukarkan. Data-data ini biasanya juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa (umumnya bahasa Inggris) agar dapat dinikmati orang banyak. Dokumen yang dipertukarkan oleh penggemar biasanya tidak memerlukan biaya apa pun. Penggemar biasanya mengelak bahwa ini tindakan illegal dengan alas an bahwa dokumen tidak diperjualbelikan dan hanya dikonsumsi secara pribadi. Begitu pula dengan kelima subjek kecuali Rifa (subjek 1). Rifa sadar bahwa menikmati film Korea di internet secara gratis hukumnya illegal karena secara materi, tidak langsung memberikan keuntungan apa-apa bagi si empunya film. Meski begitu, Rifa mengaku masih sering mendownload hanya untuk tayangan-tayangan yang sulit didapatkan. Rifa mengaku, biasanya dia membeli secara legal hanya untuk hal-hal yang berhubungan dengan Super Junior. Ini dikarenakan ada situs resmi sj-world.net yang memfasilitasi agar dia bisa mendapatkan produk original Super Junior. Bermunculannya komunitas on line penggemar budaya pop Korea di Indonesia juga menjadi wadah pertemuan dan diskusi diantara mereka . Mereka dapat berinteraksidengan sesama penggemar budaya pop Korea di belahan dunia lain. Dengan begini, budaya pop Korea telah menjadi budaya yang mengglobal walau tidak dominan.

169

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitianyang telah dilakukan mengenai pengaruh budaya pop Korea terhadap gaya hidup Korea Lovers di Makassar dengan mengambil enam subjek sebagai sampel, maka setidaknya ada dua hal yang dapat disimpulkan, yaitu: 1. Pada kasus penyebaran budaya pop Korea di Makassar, terjadi hegemoni dalam hal selera dimana pemilihan tayangan hiburannya lebih dominan pada Korea, sehingga terjadi homogenisasi selera akan segala sesuatu yang bernuansa Korea. Hegemoni selera terhadap penggemar budaya pop Korea pada segala sesuatu yang bernuansa Korea ternyata juga mempunyai tingkatan pada tiap subjek. Interpretasi teks yang diperoleh melalui media tergantung dari latar belakang mereka sehingga bisa membedakan cara mereka memroses pesan yang diterimanya. Tiap subjek memiliki tingkatan yang berbeda dalam mengadopsi budaya pop Korea. Di sini terjadi pemilahan mana yang cocok dan mana yang tidak untuk diterapkan dalam kehidupan sehari- hari. Biasanya, dalam sebuah fandom penggemar Korea, hal yang paling menonjol dari mereka adalah terpengaruhnya gaya berbicara mereka karena keseringan menonton

tayangan Korea. Selain itu pemilihan produk juga mempengaruhi. Keenam subjek merasa, ia kini menjadikan produk Korea di pasaran sebagai barang incaran untuk mengikuti mode para artis Korea. Fashion Korea juga banyak berpengaruh terhadap selera para penggemar budaya 170

pop Korea. Mereka memiliki keinginan untuk mengikuti gaya berbusana Korea yang mereka anggap keren dan unik. 2. Pengaruh sosialisasi keluarga dan lingkungan cukup kuat pada diri subjek, dengan aneka norma dan nilai budaya lokal yang melekat dalam praktek sosial sehari-hari, memengaruhi tingkat dominasi budaya pop korea terhadap diri subjek. Dalam pembentukan identitas, dominant reader adalah orang yang amat terobsesi pada Korea. Dalam kasus ini, ada dua subjek yang digolongkan sebagai dominant reader. Tingkat hegemoni media para subjek ini amat tinggi. Dalam pembentukan pribadinya, narasumber merasakan identitas Ke-Korea-an mereka sebagai sesuatu yang ekslusif, subjek melakukan avowal sebagai seseorang yang sangat Korea dan tidak memperdulikan description orang lain terhadap dirinya. Mereka juga adalah tipe orang yang hanya nyaman bergaul dengan sesama penggemar Korea. Jadi, bila ia menemukan orang di sekitarnya yang tidak menyukai Korea, maka ia akan meninggalkannya. Sementara empat subjek lainnya masuk dalam klasifikasi negotiated reader. Mereka adalah orang-orang yang mengkondisikan penerimaan nilai-nilai budaya pop Korea dengan lingkungan sekitarnya. Jadi, mereka tidak serta merta menerima secara keseluruhna budaya pop Korea. Ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya pop Korea yang disebarkan melalui media berbeda pada tiap individu. Jadi jelas bahwa media di sini bukan faktor penentu utama dalam menentukan sikap khalayak media yang aktif. Banyak

pertimbangan-pertimbangan yang menjadi hambatan bagi media untuk memengaruhi keinginan khalayak.

171

B. Saran Implikasi dari penelitian ini adalah bagaimana media dengan kekuatannya menyebarkan budaya pop Korea dan menarik banyak peminat di berbagai belahan dunia. Bertitik tolak dari pembahasan ini, maka ada

beberapa poin yang bisa dijadikan saran atau setidaknya bahan pertimbangan: 1. Sebagai khalayak media, kita sebaiknya harus melek media dan tidak serta merta menganggap segala yang ditawarkan media itu bersifat positif buat kita. Perlu adanya pertimbangan-pertimbangan terhadap setiap program yang kita saksikan melalui media massa untuk menghindarkan diri kita agar tidak terjebak dengan kebutuhan-kebutuhan palsu yang diciptakan kapitalis dan disebarkan melalui media massa 2. Perlu adanya suatu kebijakan dan upaya dari pemerintah untuk menambah anggaran di bidang pendidikan kebudayaan agar generasi-generasi bangsa menjadi bangga terhadap budayanya sendiri. Saat ini banyak anak muda di Indonesia yang tidak terlalu mengenal budayanya sendiri dikarenakan pemerintah kurang perhatian dalam mengembangkannya. Pendidikan kebudayaan hanya dijadikan ekstra kurikuler dan bukan merupakan suatu kewajiban. Hal ini menyebabkan banyak diantara kita yang tidak lagi memahami budaya lokal

172

173