Anda di halaman 1dari 12

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsep merupakan gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (2007 : 588). Untuk memahami hal-hal yang ada dalam penelitian ini perlu dipaparkan beberapa konsep, yaitu konsep bahasa gaul dan tabloid Gaul.

2.1.1 Bahasa Gaul


Pergaulan di kalangan remaja mengenal apa yang disebut dengan budaya teman sebaya. Kelompok remaja yang sebaya itu umumnya mempunyai nilai serta karakteristik budaya yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan budaya orang dewasa. Mereka

merasa orang dewasa terlalu banyak mengatur dan mengontrol hidup mereka, sementara mereka merasa bukan anak-anak lagi. Maka, dalam upayanya memisahkan diri dari budaya orang dewasa, mereka membuat budaya tandingan, budaya yang khas remaja (Alatas, 2006: 59). Budaya khas remaja ini kemudian menciptakan sebuah bahasa yang biasa digunakan oleh kaum remaja untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa tersebut kemudian disebut bahasa gaul, sesuai dengan pengertian awalnya yakni bahasa yang digunakan untuk berteman dan bersahabat di tengah masyarakat (KBBI, 2007 : 296). Bahasa gaul adalah bahasa yang digunakan untuk bergaul dan berteman di tengah masyarakat. Bahasa gaul berasal dari bahasa prokem yang telah mengalami perkembangan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Kata prokem sendiri berasal dari istilah kaum pencoleng untuk menyebut kata preman. Istilah prokem itu kemudian digunakan untuk

Universitas Sumatera Utara

menyebut bahasa yang digunakan kaum pencoleng untuk berkomunikasi dengan sesama kaumnya sebagai bahasa rahasia (Sumarsono dan Paina, 2004: 154). Pengujar bahasa gaul umumnya adalah para remaja dan kaum selebritis. Biasanya bahasa gaul ini digunakan para remaja pada situasi tidak resmi atau santai. Bahasa gaul banyak digunakan pada sinetron-sinetron di televisi, majalah-majalah dan tabloid remaja. Di kalangan remaja sendiri kata gaul ini memiliki penilaian yang tinggi. Seorang remaja akan dikatakan gaul apabila ia memiliki beberapa kelebihan yang memungkinkan ia menjadi anak yang terkenal di antara teman-temannya, seperti: otak yang cerdas, memiliki fisik yang menarik, dan pergaulan yang luas. Jadi, seorang remaja pasti akan merasa bangga apabila predikat anak gaul dilekatkan padanya. Penelitian yang dilakukan oleh Sondang Manik (2004), membagi bahasa gaul ke dalam dua bagian yaitu bahasa gaul umum dan bahasa gaul khusus. Bahasa gaul umum adalah bahasa gaul yang sering digunakan oleh muda-mudi, khusususnya yang tinggal di daerah perkotaan untuk berteman di tengah masyarakat. Bahasa gaul umum banyak ditemukan pada sinetron-sinetron di televisi, majalah-majalah dan tabloid remaja. Bahasa gaul khusus pada awalnya merupakan bahasa rahasia antarsesama kaum waria. Penilaian masyarakat yang buruk terhadap kaum waria juga memberikan nilai yang buruk terhadap ragam bahasanya, hal inilah yang kemudian memicu penilaian bahwa setiap orang yang menggunakan bahasa kaum waria sama buruknya dengan komunitas penuturnya. Namun, seiring dengan masuknya ragam bahasa waria ke dalam lingkungan selebritis yang dibawa oleh para waria yang hampir sebagian besar berprofesi sebagai penata rias artis, sedikit demi sedikit penilaian masyarakat berubah terhadap ragam bahasa waria tersebut. Bahasa gaul khusus dapat dikategorikan sebagai bahasa rahasia, karena hanya dipakai oleh sekelompok orang tertentu, terutama kaum waria untuk berkomunikasi sesamanya.

Universitas Sumatera Utara

Bahasa gaul khusus biasanya dibentuk dengan menggunakan nama-nama orang (khususnya artis), marga, nama tempat/ negara, nama binatang, nama benda, dan kata-kata baru yang benar-benar asing. Kata-kata baru yang benar-benar asing maksudnya adalah kata-kata asing yang belum pernah kita dengar sebelumnya dan tidak kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bahasa gaul khusus ini pasti akan berubah kerahasiaanya apabila telah dimengerti dan dipakai oleh banyak orang secara umum dalam komunikasi sehari-hari. Contoh bahasa gaul umum dan bahasa gaul khusus: Bahasa Indonesia Memang Kamu Bahasa Gaul umum Emang Loe Bahasa Gaul Khusus Ember Anjani

2.1.2 Tabloid Gaul


Tabloid merupakan salah satu media cetak yang berperan dalam arus perputaran informasi. Tabloid adalah (1) surat kabar ukuran kecil (setengah dari ukuran surat kabar biasa) isinya memuat berita secara singkat, padat, bergambar, mudah dibaca umum; surat kabar sensasi; surat kabar kuning. (2) tulisan dalam bentuk ringkas dan padat (tentang kritik, paparan, dan sebagainya) (KBBI, 2007:1117). Mengingat betapa luas dan beragamnya konsumen, menyebabkan orang mengelompokkan tabloid ke dalam golongan-golongan tertentu. Seperti ada tabloid wanita, tabloid remaja, dan tabloid anak-anak, sehingga ragam bahasa yang digunakan pun berbeda-beda disesuaikan dengan konsumennya. Tabloid Gaul merupakan salah satu tabloid remaja ternama yang diterbitkan di ibu kota Jakarta. Seperti semua hal yang dikeluarkan dari ibu kota pada umumnya, tabloid ini juga berskala nasional. Tabloid ini menyajikan informasi-informasi yang berguna bagi para pembacanya. Tabloid Gaul merupakan tabloid remaja sehingga bahasa yang digunakan juga bahasa yang selalu digunakan oleh remaja, yaitu bahasa yang santai atau bahasa gaul. Ada

Universitas Sumatera Utara

beberapa rubrik seputar dunia remaja di dalam tabloid ini. Rubrik-rubrik tersebut meliputi : Sampul Gaul, Ada Apa, Surat Seleb, Mailbox, Musik, Gaul ilmiah, Gimana Dong, Cantik, Bintang Gaul, Cerpen, Hitz, Nonton, Cerita Cinta, Mama Gaul, Kata Bintang, Puisi, Sport, dan BOW ( Boy of The Week).

2.2 Landasan Teori


2.2.1 Variasi Bahasa
Bahasa menjadi beragam dan bervariasi karena penutur bahasa, meski berada dalam masyarakat tutur, tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen. Dari segi penutur, ragam bahasa dapat dibagi atas idiolek, dialek, kronolek, dan sosiolek. Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat perorangan. Variasi idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, dan sebagainya. Dialek merupakan variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Kronolek merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Variasi bahasa yang terakhir yaitu sosiolek, merupakan variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat golongan, status, dan kelas sosial penuturnya, variasi bahasa dapat dibagi atas akrolek (variasi bahasa yang dianggap lebih bergengsi atau lebih tinggi dibandingkan variasi bahasa yang lainnya, misal: bahasa yang dipakai oleh keluarga keraton Jawa), basilek ( variasi bahasa yang dianggap kurang bergengsi atau dianggap lebih rendah dibandingkan variasi bahasa yang lainnya, misal: bahasa para cowboy di Inggris), vulgar ( variasi bahasa yang digunakan oleh kaum kurang terpelajar atau kalangan yang tak berpendidikan), kolokial (variasi bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, jargon (variasi bahasa yang digunakan secara terbatas dalam kelompok sosial tertentu namun sifatnya tidak rahasia, misal: dalam istilah

Universitas Sumatera Utara

perbengkelan kita sering mendengar kata-kata dices, dilas, didongkrak, dibalans), argot ( variasi bahasa yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan bersifat rahasia, dan slang ( Chaer dan Agustina, 1995:80). Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu. Bahasa gaul digolongkan ke dalam kategori bahasa slang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, bahasa gaul semakin banyak dipakai sebagai bahasa lisan dalam percakapan sahari-hari oleh masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Bahasa gaul merupakan salah satu bentuk variasi bahasa yang timbul akibat perkembangan zaman. Bahasa gaul adalah bahasa yang digunakan untuk bergaul dan berteman di tengah masyarakat. Bahasa gaul berasal dari bahasa prokem yang telah mengalami perkembangan. Bahasa prokem yang pada awalnya merupakan bahasa rahasia antarsesama kaum pencoleng, pencopet, bandit dan sebangsanya, kemudian berkembang lebih luas dan dipakai oleh kaum muda, pelajar dan mahasiswa dengan inovasi-inovasi baru di kalangan mereka sendiri (Poedjosoedarmo, 2003:66). Bahasa gaul yang ada pada masyarakat juga berasal dari dialek Jakarta. Dialek Jakarta merupakan sistem kebahasaan yang digunakan oleh penduduk Jakarta untuk membedakannya dengan masyarakat lain. Dialek Jakarta berasal dari unsur bahasa Betawi, Sunda, dan

Sebagainya (Ikranegara, 1975: 3). Dialek Jakarta dianggap memiliki posisi yang lebih tinggi dari dialek-dialek lainnnya, karena posisi Jakarta sebagai ibu kota negara. Dialek Jakarta tidak hanya digunakan oleh masyarakat Jakarta tetapi juga digunakan sebagai bahasa gaul atau bahasa pergaulan anak muda saat ini.

Universitas Sumatera Utara

Contoh dialek Jakarta yang dijadikan bahasa gaul atau bahasa pergaulan anak muda saat ini adalah: - gue - bareng

2.2.2 Semantik
Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti tanda atau lambang. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti menandai atau melambangkan. Jadi, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti (Chaer,1995:2). Pengertian makna (sense- bahasa Inggris) berbeda dengan arti (meaning bahasa Inggris) di dalam semantik. Makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). Lyons (dalam Fatimah, 1999:5) menyebutkan bahwa mengkaji atau memberikan makna suatu kata ialah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubungan-hubungan makna yang dibuat kata tersebut, berbeda dengan kata-kata lain. Arti dalam hal ini menyangkut makna leksikal dari kata-kata itu sendiri yang cenderung terdapat di dalam kamus sebagai leksem. Sebagai istilah, kata semantik digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda atau lambang-lambang dengan hal-hal yang ditandainya, yang disebut makna atau arti. Dengan kata lain, semantik adalah salah satu bidang linguistik yang mempelajari makna atau arti, penggunaannya, perubahan makna atau arti, dan perkembangan dari makna atau arti tersebut (Sudaryat, 2009:3). Penggunaan suatu bahasa adalah bagaimana suatu bahasa yang dimaksud tersebut digunakan atau bagaimana makna dari suatu kata. Mempelajari suatu makna pada hakikatnya berarti mempelajari bagaimana setiap pengguna bahasa dalam suatu kelompok masyarakat

Universitas Sumatera Utara

bahasa dapat saling mengerti. Makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar harus sesuai dengan kesepakatan para pemakainya. Semantik juga merupakan cabang linguistik yang mempunyai hubungan erat dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi dan antropologi. Sosiologi mempunyai kepentingan dengan semantik karena sering dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata-kata tertentu untuk mengatakan sesuatu makna dapat menandai identitas kelompok dalam masyarakat. Kata besar dan gede memiliki makna yang sama, tetapi penggunaannya dapat menunjukkan identitas kelompok yang menggunakannya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan semantik untuk melihat bagaimana katakata bahasa gaul yang terdapat dalam tabloid Gaul digunakan. Contoh: - bokap Kata bokap digunakan sebagai istilah untuk menyatakan atau sebutan kepada orang tua laki-laki dan tidak dapat digunakan untuk panggilan seorang anak kepada orang tua lakilakinya. Kata bokap sendiri dapat berarti ayah, bapak, atau papa.

2.2.3 Gejala Bahasa


Gejala bahasa ialah peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala proses pembentukannya (Badudu,1985:57). Beberapa gejala bahasa yang ditemukan dalam bahasa gaul pada penelitian sebelumnya berupa penghilangan fonem (aferesis, sinkop, apokop), penambahan fonem (protesis, efentesis, paragog), gejala adaptasi, monoftongisasi, akronim, dan singkatan.

1. Penghilangan fonem terdiri atas: a.Aferesis yaitu penghilangan sebuah fonem atau lebih pada awal kata. Contoh: - umudik menjadi mudik

Universitas Sumatera Utara

- Stani (Sansekerta) menjadi tani Contoh gejala aferesis dalam bahasa gaul: - ntar dari sebentar

- emang dari memang

b. Sinkop yaitu proses penghilangan sebuah fonem atau lebih di tengah kata. Contoh: -bahasa menjadi basa - sahaya menjadi saya Contoh gejala sinkop dalam bahasa gaul: - blom dari belom - asik dari asyik

c. Apokop yaitu proses penghilangan sebuah fonem atau lebih pada akhir kata. Contoh: - import menjadi impor - eksport menjadi ekspor Contoh gejala Apokokop dalam bahasa gaul: - cape dari capek - dikasi dari dikasih

2. Penambahan fonem terdiri atas: a. Protesis yaitu peristiwa penambahan sebuah fonem atau lebih di awal kata. Contoh: - mas menjadi emas - stri (sansekerta) menjadi istri

b. Epentetis yaitu peristiwa penambahan sebuah fonem atau lebih di tengah kata.

Universitas Sumatera Utara

Contoh: - kapak menjadi kampak - sajak menjadi sanjak

c. Paragog adalah peristiwa penambahan sebuah fonem atau lebih di akhir kata. Contoh : - hulubala menjadi hulubalang - ina menjadi inang

3. Gejala Adaptasi Adaptasi artinya penyesuaian. Kata-kata pungut yang diambil dari bahasa asing berubah bunyinya sesuai dengan pendengaran atau ucapan orang Indonesia. Beberapa contoh adaptasi menurut Badudu: Dari bahasa Belanda: - persekot dari Voorschot - supir dari chaufferr

Dari bahasa Arab: - perlu dari fardhu - mupakat dari muwafakat

Contoh adaptasi bahasa asing menjadi bahasa gaul: - merit dari married (Inggris) - plis dari please (Inggris)

Universitas Sumatera Utara

4. Monoftongisasi Monoftongisasi adalah proses perubahan suatu diftong menjadi monoftong. Contoh monoftongisasi: - bakau menjadi bako

5. Hiperkorek Gejala hiperkorek merupakan gejala pembentukan kata yang menunjukkan sesuatu yang salah, baik ucapan, maupun ejaan (tulisan). Contoh gejala hiperkorek: - zaman menjadi jaman - paham menjadi faham

6. Singkatan dan Akronim 6.1 Singkatan Singkatan adalah kependekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan dengan mengikuti bentuk lengkapnya (Sugihastuti, 2000:35). Contoh singkatan yang dilafalkan huruf demi huruf: - BRI dari Bank Rakyat Indonesia - SMA dari Sekolah Menengah Atas Contoh singkatan yang dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya: - dsb. dari dan sebagainya Contoh singkatan dalam bahasa gaul: - MBA dari Married By Accident (Hamil di luar Nikah) - TP dari Tebar Pesona

Universitas Sumatera Utara

6.2 Akronim Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan awal, gabungan suku kata, yang ditulis dan dilafalkan seperti halnya kata biasa. Contoh akronim : - Depkeu dari Departeman Keuangan - Pilkada dari Pemilihan Kepala Daerah

Contoh akronim dalam bahasa gaul: - Curhat dari Curahan Hati - Ortu dari Orang tua

2.3 Tinjauan Pustaka


Tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, pendapat sesudah menyelidiki atau mempelajari (KBBI, 2007: 1198). Pustaka adalah kitab, buku, buku primbon (KBBI, 2007: 912). Berdasarkan studi pustaka yang dilakukan, ada sejumlah sumber yang relevan untuk dikaji dalam penelitian ini yakni, sebagai berikut: 1. Sukmi (2006), dalam skripsinya yang berjudul Bahasa Gaul, menganalisis proses pembentukan kata dan perubahan makna kata dalam bahasa indonesia menjadi bahasa gaul yang terdapat di dalam Kamus Bahasa Gaul (Kamasutra Bahasa Gaul; 2003) yang disusun oleh Debby Sahertian. Dalam penelitiannya, dia

menjelaskan bahwa bahasa gaul terbagi atas bagian, yaitu bahasa gaul umum (bahasa yang sering digunakan muda-mudi di perkotaan untuk bergaul), dan bahasa gaul khusus (bahasa yang sering dipakai para waria). Selanjutnya dia menyatakan bahwa bahasa yang terdapat di dalam Kamus Bahasa Gaul

Universitas Sumatera Utara

merupakan bahasa gaul khusus, sehingga pembentukan kata dan makna bahasa gaul lebih dikhususkan pada bahasa gaul khusus yang terdapat dalam kamus.

2. Azwida (2007), dengan judul skripsinya Pemakaian bahasa gaul pada iklan produk komersial Televisi, melakukan penganalisisan terhadap pembentukan bahasa gaul yang terdapat pada iklan produk komersial televisi, bagaimana pesan atau makna yang ingin disampaikan pegiklan khususnya penulis naskah iklan (copy writer) serta bagaimana pengaruh dari pemakaian bahasa gaul pada iklan produk komersial televisi terhadap konsumen sebagai pemakai bahasa Indonesia.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang diteliti oleh Sukmi dan Azwida di atas. Pada penelitian terdahulu dibicarakan tentang pembentukan bahasa gaul yang terdapat dalam kamus bahasa gaul dan dalam iklan produk komersial Televisi. Pada penelitian ini, pembahasannya fokus pada penggunaan kosa kata bahasa gaul serta pembentukan bahasa gaul yang terdapat dalam tabloid Gaul.

Universitas Sumatera Utara