Anda di halaman 1dari 5

Menelaah Understanding Mahzab Keilmuan Sigit Pamungkas

Pengatar Tulisan ini merupakan refleksi dari hasil analisa penulis terhadap sebuah karya ilmiah yang berjudul Persoalan-Persoalan Rekrutmen Kepala Daerah. Karya ini ditulisan oleh Sigit Pamungkas salah seorang dosen sekaligus pengamat politik di Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM. Melalui tulisan ini penulis akan mencoba melacak cara berfikir serta konsitensi paradigma keilmuan Sigit sebagai seoarang ilmuwan. Secara umum ada dua tradisi paradigma yang dikenal di kalangan paran scientist pertama paradigma positvis kedua paradigma non- positivis. Dari hasil hemat secara seksama penulis, penulis mengidentifikasi bahwa Sigit Pamungkas adalah salah seorang penganut mahzab positivis. Judgement tersebut dilandaskan atas beberapa kriteria yang melekat pada corak paradigma positvis. Kriteria itu menurut Neuman (2003) pertama, dapat dilihat dari alasan peneliti, alasan para penganut paham positivisme untuk menemukan sebab akibat prilaku manusia agar dapat diramalkan dan dikendalaiakan. Kedua asumsi mereka tentang sifat realitas sosial, mereka mempercayai ada pola yang stabil dan berulang ulang-ulang yang dapat ditemukan. Ketiga mereka berasumsi bahwa sifat manusia itu mementingkan diri sendiri, rasional, dan dibentuk oleh kekuatan-kekuatan yang ada di lingkungannya. Keempat, peran common sense berbeda dengan ilmu dan kurang valid. Kelima, Sifat teori yang dihasilkan berisikan definisi, aksioma, dan hukum yang terkait secara logis-deduktif. Keenam penjelasan yang baik/benar terkait secara logis dengan hukum-hukum dan berdasarkan fakta. Ketuju, bukti yang dianggap baik adalah Tidak bias, terukur secara tepat, netral, dapat diulangi hasilnya. Kedelapan, nilai-nilai pribadi pelaku dalam ilmu dan penelitian harus bebas nilai. Dan yang kesembilan, metode penelitian yang digunakan Alat-alat kuantitatif dalam bentuk survai, kuesioner, model matematis, dan uji statistik (Chariri, 2009)

Realitas pembuktian sang positivis sigit pamungkas Dari karakteristik ilmuwan positvis yang telah dijelaskan disini akan disebutkan kembali beberapa ciri pokok untuk membuktikan bahwa Sigit adalah seorang iluwan positivis. Berikut adalah penjelasanya:  Penemuan hukum sebab akibat (kausalitas) Menurut Sigit buruknya kepemimpinan kepala daerah sebagian adalah disumbang oleh buruknya model rekruitmen kepala daerah yang dimiliki partai politik (Pamungkas 2011hh.1). Argumentasi ini menunjukan bahwa buruknya kepemingpinan kepala daerah adalah merupakan akibat dari pola rekrutmen yang dilakuka oleh partai politik yang buruk sehingga menghasilkan kepemingpinan kepala daerah yang buruk pula. Fenomena seperti itu menunjukan hukum kausalitas sebagai salah satu karakteristik seorang ilmuwa positivistik.  Pola realitas sosial yang teratur serta berulang-ulang Sigit mengasumsikan pola rekrut kepemingpinan kepala daerah merupakan sesuatu yang teratur dan memiliki pola tertentu. Asumsi bahwa realitas sosial itu bersifat stagnan sehingga pola fikir yang dibangun setiap momen rekrut kepala derah memiliki pola tertentu yang akan menghasilkan karakter kepala daerah yang sama dikarnakan penyebab yang sama pula. Dia tidak melihat bahwa rekrutmen kepala daerah tersebut melibatkan banyak aktor dan terletak dalam struktur yang kompleks serta saling mempengaruhi. Hal itu dapat kita lihat dengan analisa pencarian titik masalah yang dia lakukan dan solusi yang ditawarkannya. Beliau mengidentifikasi ada empat faktor urgen yang harus segera dibenahi. Persoalanpersoalan tersebut di antaranya adalah: (1) sentralisasi pengambilan keputusan; (2) birokratisasi kandidat; (3) kaderisasi partai gagal; (4) spektrum waktu kandidasi terbatas. Utuk mengtasi masalah-masalh tersebut beliau mengajukan empat

rekomendasi sebagai solusi dari empat persoalan di atas, rekomendasi itu adalah sebagai berikut:
...pertama, demokratisasi rekruitmen. Rekruitmen kandidat harus melibatkan anggota partai...kedua, desentralisasi. Proses rekruitmen kepala daerah harus berhenti di level lokal...Ketiga, pencalonan oleh partai harus berasal dari partai... keempat, masa waktu rekruitmen harus jauh-jauh hari

dipersiapkan. Setidaknya dua tahun sebelum masa pendaftaran di KPU harus sudah dilakukan proses rekruitmen (Pamungkas 2011, hh. 1-6).

 Asumsi bahwa sifat manusia itu mementingkan diri sendiri, rasional, dan dibentuk oleh kekuatan-kekuatan yang ada di lingkungannya
sentralisasi memberi insentif perilaku jalan pintas dan oportunistik ke pusat. Demi untuk mendapat dukungan partai dalam kandidasi,kandidat atau pendukung kandidat cenderung membangun kedekatan dengan elit partai pusatdibandingkan dengan partai lokal (Pamungkas 2011 hh.2)

Fakta itu terjadi menurutnya karena manusia merupakan makhlik yang rasional bagaimana dia membaca kesempatan yang mampu memberikan serta

mendukung cita-citanya.  Metode kuantitaif, survei, dan kuisioner Para ilmuwan positivis selalu mengunakan metode penelitian (riset) untuk mendpatka data primer sebagai acuan dasar untuk memahami relita, hal ini dilakukan juga oleh beliau yang menggunakan data yang di keluarkan oleh Mendagri.
Dikatakan bahwa tidak kurang dari 17 gubernur berstatus tersangka dan 155 bupati/walikota sedang menjalani proses hukum (Kompas, 18/1/2011). Data lain juga menunjukkan maraknya pencalonan dari anak, istri dan saudara dari petahana (incumbent) menjadi calon kepala daerah sehingga melahirkan aristokrasi dan oligarki partai. Banyak pula kepala daerah yang bekerja atas dasar business as usual sehingga gagal melakukan inovasi pelayanan publik (Pamungkas hh.1).

Data tersebut sudah sudah jelas dihasil dari data yang menggunak metonde survei dan data satatistik di lapangan. Kesimpulan Kiranya penulis yakin bahwa dari bebrapa ciri poko yang telah diidentifikasi di atas bahwa sigit adalah seorang positivis.

Refersnsi Chariri, A 2009, Landasan filsafat dan metode penelitian kualitatif peper disajikan pada Workshop Metodologi Penekitian Kualitatif dan Kuantitatif, Laboratorium Pengembangan Akuntansi (LPA), Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang, 31 Juli-1 Agustus 2009.

Pamungkas, S 2011, Persoalan-persoalan rekruitmen kepala daerah Peper disajikan pada diskusi akademis dengan tema Politik rekruitmen kepala daerah, di JPP Fisipol UGM, di Gd PAU LT.3 sayap timur yogyakarta, 19 Juli 2011.