Anda di halaman 1dari 6

Bab 5 - A r t i k e l

B. Krisis Subprime Mortgage: Sudut Pandang IMF


Oleh: Azhari Firmansyah dan Sari H. Binhadi

Perkembangan Krisis Subprime Sejak awal 2007 kestabilan keuangan global menghadapi masa sulit dengan terjadinya turbulensi di sektor keuangan sebagai dampak krisis subprime yang disebabkan rendahnya displin dalam pengembalian kredit. Turbulensi tersebut mencapai intensitas yang tinggi pada kuartal ketiga tahun 2007, dimana resiko pasar keuangan dan kredit meningkat sejalan dengan memburuknya kondisi pasar subprime AS yang terjadi dalam waktu yang sangat cepat dari ekspektasi semula yang dampaknya menyebar cepat pula ke berbagai segmen pasar keuangan. Kurangnya perhatian investor pasar keuangan terhadap resiko yang tidak menguntungkan menyebabkan pasar rentan terhadap kemungkinan volatility shock yang pada gilirannya diperparah dengan meningkatnya linkage antara pasar dan produk keuangan. Kolaps yang terjadi akibat transaksi produk keuangan yang sifatnya high-profile dapat meningkatkan exposure bank yang mendorong reappraisal terhadap resiko yang lebih luas diantara produk-produk pinjaman. Disamping itu, leverage buyout perusahaan yang terancam macet juga berpotensi menimbulkan kerentanan terhadap gangguan

ekonomi (Global Financial Stability Report/

GFSR, Oktober, 2007).


Di satu sisi resiko yang timbul akibat krisis subprime mortgate menyebabkan tingginya tingkat imbal hasil pada surat-surat berharga beresiko tinggi yang pada gilirannya semakin mengetatnya kondisi kredit secara keseluruhan. Di sisi lain ketidakpastian distribusi kerugian akibat krisis subprime menyebabkan terjadinya kekeringan likuditas di berbagai segmen pasar keuangan. Hal ini mendorong beberapa bank sentral di negara yang terkena dampak langsung seperti BoJ dan ECB menginjeksi likuditas di pasar keuangan dalam rangka menjaga kestabilan tingkat suku bunga jangka pendek. Pengamat ekonomi ternama, Nouriel Rubini mengungkapkan bahwa krisis subprime ini adalah krisis pertama dari globalisasi keuangan dan sekuritisasi, sehingga apabila peminjam yang beresiko di AS mengalami

default di pinjaman perumahannya,


dampaknya dapat terasa bagi investor-investor di Eropa, Asia ataupun Australia yang membeli

Mortgage Backed Securities (MBS) AS tersebut.


Potensi resiko krisis subprime ini tidak hanya mengancam sebagian negara-negara maju yang memiliki keterkaitan langsung dengan pasar MBS. namun juga negara-negara

93

Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional - Triwulan III 2007

emerging sejalan maraknya aliran modal


masuk ke negara berkembang, baik sebagai konskuensi dari repricing of risk produk-produk di pasar keuangan, credit crunch maupun dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi AS. Perkembangan krisis sub prime inipun tidak terlepas dari perhatian lembaga-lembaga multilateral termasuk IMF yang berperan menjaga stabilitas keuangan intenasional. Uraian berikut ini mengulas sudut pandang IMF serta kritisi terhadap peran IMF.

keuangan. De Rato juga mengungkapkan bahwa nilai dollar yang undervalued berpotensi menyebabkan volatiltas yang tinggi di pasar keuangan. Dalam WEO Oktober 2007, IMF memproyeksikan bahwa terdapat kemungkinan kenaikan downside risks perekonomian dunia. Meningkatnya downside risks terhadap pertumbuhan dunia kemungkinan disebabkan memburuknya kondisi keuangan global dan ketidakpastian permintaan domestik di AS dan Eropa Barat. Jepang dan Eropa yang sebelumnya pada WEO bulan April 2007 diperkirakan mengalami upside risks, pada WEO

Krisis Subprime Mortgage: Sudut Pandang IMF Pandangan IMF mengenai dampak krisis subprime terhadap pertumbuhan ekonomi bersifat kondisional, bergantung pada kondisi pasar keuangan dalam beberapa bulan kedepan. Dengan asumsi kondisi pasar keuangan lebih stabil beberapa bulan ke depan, tingkat pertumbuhan ekonomi global akan tidak jauh berbeda dengan yang dicapai beberapa tahun belakangan ini. Namun jika kondisi keuangan tidak semakin stabil, outlook perekonomian tahun 2008 diperkirakan akan lebih buruk dibanding tahun sebelumnya. Menurut perspektif IMF yang diutarakan oleh mantan Managing Director IMF Rodrigo De Rato 1 , prospek perekonomian tahun 2008 sangat bergantung pada perkembangan pasar

September kali ini dilaporkan mengalami

downside risks. Berbeda dengan Eropa Barat


dan AS, kondisi perekonomian negara-negara

emerging justru merupakan satu-satunya


sumber peningkatan upside risks terhadap pertumbuhan ekonomi dunia (lihat Gambar 1). Akibat turbulensi di pasar keuangan, IMF menurunkan baseline projection terhadap pertumbuhan ekonomi global sejak update
Global Risk Factors (percentage points of global GDP growth) 0.08 0.06 0.04 0.02 0.00 -0.02 -0.04 -0.06 -0.08 -0.10 -0.12 Financial Domestic Domestic Emerging conditions demand in demand in markets Europe the U.S. and Japan Inflation risks Oil market Global imbalance Downside risk to global growth Upside risk to global growth April 2007 WEO July 2007 update Current WEO
2

1 Managing Director IMF Rodrigo de Rato digantikan oleh mantan Menteri Keuangan Perancis, Dominique StarussKhan sejak 1 November 2007.

Source: IMF staff estimates.

Gambar 1 US Unemployment Rate

94

Bab 5 - A r t i k e l

WEO pada Juli 2007. Perekonomian global diproyeksikan tumbuh sebesar 5,2 persen pada tahun 2007 dan 4,8 persen pada tahun 2008 atau tumbuh lebih rendah 0,4 persen dari proyeksi tahun 2008 sebelumnya. Bahkan revisi proyeksi pertumbuhan terbesar adalah AS, yaitu pada tahun 2008 direvisi menjadi hanya tumbuh sebesar 1,9 persen, selisih -0,9 persen dari proyeksi sebelumnya. Proyeksi pertumbuhan juga direvisi negatif di negaranegara yang terkena dampak langsung krisis

pinjaman terus berlangsung dan meluas, yang akan mempengaruhi baik sektor konsumsi maupun korporasi. Mengapa demikian? Gejolak subprime yang menyebabkan kontraksi permintaan terhadap asset-backed-

commercial-paper
meningkatnya

(ABCP)

berakibat

short-term cost serta

menurunnya ketersediaan pembiayaan baik konsumsi maupun korporasi yang bersumber dari portofolio ABCP ini. Kedua, jika bank yang sifatnya systematically important terkena dampak krisis subprime dan menemukan hambatan dalam meningkatkan penyaluran kredit. Di satu sisi terdapat beberapa lembaga keuangan bank dan non bank yang akan fokus terhadap manajemen likuditas saat mengases dan me-manage cakupan kerugian keuangan mereka. Di sisi lain terdapat beberapa bank yang perlu menyerap kembali sejumlah obligasi yang diterbitkan dengan harga yang lebih rendah. Bahkan ada pula beberapa bank lain yang menyisihkan sebagaian likuditas mereka sebagai kontinjensi. Implikasinya, ketiga hal tersebut membatasi secara temporer kapasitas bank ataupun lembaga keuangan lain untuk meng-offset aliran kredit yang hilang melalui non-bank channel, terutama kepada peminjam yang tergolong sub-investment grade. Bagaimana pandangan IMF mengenai perkembangan pasar keuangan akibat krisis

subprime terutama Kanada dan Meksiko,


namun proyeksi pertumbuhan negara-negara

emerging Asia justru mengalami revisi positif


untuk tahun 2007, menyiratkan optimisme IMF terhadap pertumbuhan di kawasan Asia dan ketahanan kawasan terhadap krisis subprime. De Rato meyakini bahwa hal ini mencerminkan adanya decoupling antara AS khususnya, dan negara-negara maju pada umumnya, dengan negara-negara emerging. Lebih jauh, De Rato mengungkapkan bahwa terjadinya credit crunch akibat krisis

subprime tidak dapat dipandang sebelah mata


dengan berpikir bahwa permasalahan krisis kredit ini akan berhenti di sektor perbankan. De Rato bahkan menghimbau para pengambil kebijakan di setiap negara untuk merubah secara substansial rencana anggaran mereka. Hal tersebut mengingat krisis kredit yang sifatnya seriusini akan menjalar ke sektor riil dan tentunya mempengaruhi pelaksanaan anggaran di setiap negara. Menurut IMF, terdapat dua hal yang memungkinkan permasalahan ini merembet ke sektor riil. Pertama, jika hambatan terhadap

subprime saat ini? Chief Economist IMF, Simon


Johnson, mengatakan bahwa kekhawatiran di pasar keuangan kemungkinan telah memasuki fase kedua yang dapat berujung pada berlanjutnya pengetatan kredit. Untuk itu IMF selalu terus berupaya mengawasi credit

95

Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional - Triwulan III 2007

market. IMF juga mendukung langkah yang


dilakukan oleh bank-bank sentral negaranegara maju serta strategi kebijakan moneter yang diambil diantaranya langkah beberapa bank sentral yang menginjeksi likuditas dalam mengatasi turbulensi di pasar keuangan. Meskipun demikian, IMF tetap mengingatkan kepada beberapa bank sentral tersebut untuk tetap memfokuskan terhadap pencapaian stabilitas harga dengan terus mewaspadai ancaman inflasi global akibat kenaikan harga komoditas bahan makanan, harga minyak serta faktor-faktor terkait lainnya. Bagaimanapun, seperti yang

mempertanyakan peran IMF sebagai trusted

advisor dalam menjaga stabilitas moneter.


Beberapa ED, terutama dari negara-negara Amerika Latin yang pernah menjadi pasien IMF, mengkritik IMF yang hanya memberikan rekomendasi kepada negara-negara yang terkena krisis di Asia, namun cenderung diam terhadap krisis subprime yang terkait dengan pasar keuangan terjadi di negara-negara maju. IMF seperti diungkapkan di atas, hanya menganalisa dan menunggu perkembangan selanjutnya tanpa memberikan rekomendasi kepada negara-negara maju dimaksud. Para Menteri Keuangan negara-negara

diungkapkan Simon Johnson, IMF belum pada posisi untuk memberikan rekomendasi langkah-langkah yang sebaiknya diambil oleh negara-negara anggota dalam rangka mengatasi kondisi kredit yang semakin ketat. IMF masih berada pada tahap menunggu perkembangan yang ada dan menganalisis implikasinya.

emerging yang tergabung dalam kelompok


G-24 juga menyesalkan ketidakmampuan IMF dalam memprediksi terjadinya krisis subprime. Seperti halnya kritik para ED dari negara Amerika Latin, para Menteri Keuangan negara G-24 juga menyalahkan IMF yang menetapkan standar ganda dalam pelaksanaan surveillance. Secara tegas, para menteri tersebut menyatakan Rich countries get pass, while

the poorer nations get put on austerity diets


Kritik terhadap peran IMF Terjadinya krisis subprime juga menyadarkan kita bahwa tidak ada satu negara pun yang kebal dari goncangan krisis. Krisis subprime juga memunculkan kembali berbagai kritik kepada IMF, terutama dalam kaitan pelaksanaan kegiatan surveillance. Kritik ini dikemukakan sebagian besar Executive

when they get in trouble. Theyre tired of being lectured to by the rich countries about their financial systems. G-24 juga menghimbau
IMF untuk fokus mengevaluasi kerentanan terhadap krisis di negara-negara maju, seperti halnya IMF lakukan terhadap negara-negara yang terkena krisis Asia 1997. Mengingat peran pentingnya lembaga IMF, Jean Lemierre, presiden the European Bank for Reconstruction

Director (ED) IMF menjelang pertemuan


tahunan IMFC Oktober 2007. Meskipun para

Development (EBRD) bahkan menyarankan


agar baik EBRD maupun IMF melibatkan partisipasi negara berkembang yang lebih luas

Executive Director (ED) IMF memuji isi GFSR


yang dianggap cukup cautious , mereka

96

Bab 5 - A r t i k e l

dalam pengambilan keputusan, sejalan dengan semakin pentingnya posisi negara berkembang dalam perekonomian dunia. Lebih jauh, IMF diharapkan dapat menjadi pengawas ( watchdog ) keuangan global. IMF selama ini dikritisi lebih banyak mendedikasikan waktunya untuk mensurvei perekonomian negara individual (Article IV

produk-produk keuangan yang mempunyai hubungan dengan subprime dimaksud. Namun demikian, banyak pihak yang menganggap bahwa munculnya isu subprime mortgage di GFSR, April 2007 muncul setelah terjadinya krisis subprime . Pada GFSR enam bulan sebelumnya yaitu bulan Oktober 2006, tidak di-highlight potensi resiko akibat bubble yang terjadi di subprime mortgage, melainkan hanya dibahas dampak penurunan sektor perumahan AS terhadap pertumbuhan.

Consultation ) dikenal dengan bilateral surveillance, daripada memfokuskan pada isu


menyeluruh seperti debt dan currencies . Penekanan IMF hanya pada bilateral

surveillance menyebabkan kurangnya


perhatian terhadap dampak rambatan (spillover) dari satu negara ke negara lain. IMF juga diharapkan memberikan kontribusi penting berupa langkah nyata dalam merespon terhadap situasi keuangan yang terjadi saat ini, dan lebih luas dalam mendukung stabilitas keuangan global. Disamping itu, IMF setidaknya dapat mengurangi gap informasi pasar keuangan dalam aktivitas surveillance mereka. Menanggapi kritik tersebut, Rodrigo de Rato membantah bahwa mereka tidak sepenuhnya gagal dalam memprediksi terjadinya krisis ini. De Rato menekankan bahwa dalam GFSR April 2007, IMF telah mengingatkan terdapat lax supervision dan lack

Antisipasi negara berkembang terhadap dampak krisis subprime Terlepas dari berbagai tudingan yang dialamatkan kepada IMF, berbagai inisiatif IMF untuk meningkatkan kualitas asesmen perekonomian global patut mendapat apresiasi, diantaranya melalui penguatan multilateral

consultation sebagai bagian dari kegiatan surveillance yang lebih fokus terhadap cross country surveillance , penetapan prioritas surveillance, integrasi financial sector issues
dengan macroeconomic analysis dan bilateral

surveillance. Begitupula dengan inisiatif IMF


untuk memperkuat ketahanan sektor keuangan melalui Financial Sector Assessment Program

(FSAP) , perlu mendapat dukungan positif


terutama dari negara-negara berkembang. Bagaimanapun, saat ini yang lebih penting bagi negara berkembang adalah meningkatkan resiliensi perekonomian sebagai upaya mengurangi kerentanan akibat negative

of transparency di pasar surat berharga yang


berbasis subprime mortgage. Pernyataan dalam GFSR tersebut menyiratkan pentingnya negara anggota terutama yang memiliki keterkaitan dengan pasar MBS di AS untuk memonitor dampak subprime mortgage terhadap pasar keuangan dan transparansi mengenai resiko

spillover krisis subprime. Guna memperkuat


pasar keuangan, berbagai kerangka juga patut

97

Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional - Triwulan III 2007

diperhatikan oleh policy maker dan market

Tumbuhnya pasar privately placed

participant meliputi: (i) peningkatan


transparansi, (ii) monitoring resiko yang lebih baik, (iii) peningkatan rating, serta (iv) penilaian yang lebih baik terhadap produk-produk di pasar keuangan. Mengapa peningkatan transparansi dan monitoring penting? Larry Hatheway, chief

syndicated loans perusahaan-perusahaan


di negara-negara berkembang serta pesatnya pertumbuhan kredit domestik yang dibiayai pinjaman asing. Meningkatnya pinjaman asing yang sifatnya carry trade dan meningkatnya penggunaan produk kredit yang sangat kompleks. Semakin maraknya kegiatan hedge funds yang juga berpotensi memicu resiko di pasar keuangan. Negara berkembang diharapkan juga dapat meningkatkan permintaan domestik sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap perekonomian AS yang mengalami perlambatan pertumbuhan. Dalam hal mengelola aliran modal masuk ke negara berkembang yang menyiratkan berbagai tantangan, penguatan insitusi keuangan dan

economist UBS AG mengestimasi bahwa dari


USD 2 triliun mortgage terdapat kemungkinan default sekitar USD 200 miliar. Dengan kenyataan tersebut, ketidakpastian terkait transparansi dan monitoring produk MBS yang diperdagangkan dapat menyebabkan sudden

flight para investor dari produk MBS tersebut


yang pada gilirannya menyebabkan pasar kolaps. yang Sementara timbul bagi bank yang mencatatkan MBS di off-balance sheet, resiko menyebabkan mereka memindahkan pencatatannya pada on balance

sheet yang akhirnya menghambat penyaluran


kredit mereka. Disamping berbagai upaya tersebut di atas, beberapa fenomena yang bekembang saat ini juga patut diwaspadai dan perlu mendapat perhatian dalam kegiatan

domestic financial deepening merupakan


faktor kunci dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut. Dengan memperhatikan hal-hal di atas, diharapkan negara berkembang, khususnya Indonesia dapat mengantisipasi dampak lebih buruk dari krisis

surveillance di negara berkembang seperti:

subprime.

98