Anda di halaman 1dari 2

PROLOG

Seperti yang sudah sering sebelumnya, aku berjalan di padang sejuta bunga yang luas itu. Sambil sesekali membungkuk menyentuh kelopak Geranium biru. Aku menggenggam sesuatu, apakah itu kertas? Rasanya seperti itu, atau mungkin daun, karena terasa lebih dingin untuk permukaan kertas manapun yang kukenal. Dan juga sesuatu seperti pena, tapi aku tak yakin itu pena. Aku hanya yakin bahwa aku bersiap mencatat syair apapun yang akan kudengar, nada apapun yang akan ditangkap telingaku. Memangnya siapa yang bakal menyanyi? Aku tidak begitu tau tempat ini, hanya saja belakangan tempat ini jadi semakin familier karena dia terus saja membawaku kesini. Namun akhirnya akan selalu sama, aku akan sampai di gerbang yang dibentuk mawar hutan yang merangkai dirinya antara dua pohon besar, suara seseorang menyanyikan lagu yang indah, seperti lagu selamat datang di rumah , tersihir dan aku melupakan kertas dan penaku. Dan selanjutnya seseorang dari seberang gerbang menyibak juntaian mawar , dan itu dia, tersenyum, senyum yang membuatku bingung dan bertanya apa maksudnya? dan suaranya yang merdu berbisik selamat datang Emily-ku . Tunggu, kali ini jangan berakhir dulu, aku ingin penjelasan kenapa namaku jadi Emily-ku? Siapa kau? Apa nama tempat aneh ini? Namun percuma, seperti sebelumnya, aku mengantuk, dia tetap tersenyum. Dan detik selanjutnya aku tidak melihat apa-apa, mungkin aku sudah tertidur, dan saat membuka mata, aku di kamarku lagi. Mengumpat, aku melempar bantal ke dinding. Aku hampir gila. Apa yang dia ingingkan? Membunuhku?

Aku menyeret tubuhku ke kamar mandi, rutinitas membosankan dimulai. Siswa sma kelas 2. Hari ini telat lagi, seperti biasa. Aku jarang melakukan sesuatu tepat di jadwalnya. Semua hal, sekolah, janji, tidur, bangun. Mengenai mimpiku itu, well, aku sudah sering memimpikan tempat aneh sejak aku kecil. Karena aku penggemar fairy tale, jadi kupikir itu hanya salah satu efek sampingnya saja. Tapi semenjak sma mimpiku sudah agak tidak bisa diabaikan. Dalam mimpi tentang tempat-tempat aneh itu mulai muncul tokoh. Tokoh tunggal, dia. Aku mau saja mengabaikan mimpi itu atau bahkan dia. Tapi suara, senyum, dan panggilannya untukku, sama sekali tak bisa kuabaikan, bingung, penasaran. Zi!!!! Cepatttt!!!! Harsh .itu Dira. Sepupu cowokku yang juga tinggal di rumah ini. Ouh aku hampir lupa, ini rumah keluarga besar. Aku tinggal dengan nenek, kakek, seorang tante yang belum menikah, dan sepupu cowok yang lebih tua 7 tahun dari aku. ziaaaaaa!!!!!!!!!! iyaaaaaaa!!!!!! Well, itu rutin setiap hari sekolah. Karena aku tidak bisa bawa sepeda motor jadi setiap sekolah aku terpaksa pergi dengan orang yang ingin kubungkam mulutnya itu.

turun! thanks. Bye. Itu saja dialog rutin kami dan aku langsung melesat masuk ke halaman sekolah.