Anda di halaman 1dari 28

2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biologi Udang Vannamei 2.1.1. Taksonomi Udang vanname termasuk kelas crustacean ordo decapoda yang dicirikan dengan memiliki 10 kaki, hewan berkulit ini memiliki persamaan seperti halnya udang laut lainnya. Udang ini termasuk ke dalam genus Litopenaeus, karena memiliki tipe telikum terbuka, yaitu pemijahan terjadi di luar tubuh udang (tipe telikum terbuka) Menurut Haliman dan Adijaya (2005), taksonomi udang vaname adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Subfilum Kelas Subkelas Superordo Ordo Subordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Eumalacostraca : Eucarida : Decapoda : Dendrobrachiata : Penaeidae : Litopenaeus : Litopenaeus vannamei

Udang vanamei termasuk dalam Penaeidae, karena itu sifat dari udang umumnya memilki ruas-ruas pada setiap ruangnya terdapat sepasang anggota badan. Angota badan ini pada umumnya bercabang dua atau biramus.

2.1.2. Morfologi Tubuh udang secara morfologi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu cephalotorax atau bagian kepala dan abdomen atau bagian perut. Bagian cephalotorax terlindungi oleh kulit chitin yang dinamakan carapace. Pada bagian perut (abdomen) terdapat lima pasang kaki renang yang telah berubah menjadi dua pasang ekor kipas atau sirip ekor (urupoda) dan stu ruas lagi ujungnya runcing membentuk ekor yang disebut telson. Dibawah pangkal ujung dubur terdapat lubang dubur (anus). Sedangkan bagian cephalotorax terdapat beberapa anggota tubuh yang berpasang-pasangan antara lain anula, sirip kepala (scophocerit), sungut besar (mandibula), alat pembantu rahang (maxilla) yang berjepit kecil pada ujungnya (chela) yang dua pasang periopoda belakangnya tidak terjepit (Haliman dan Adijaya (2005). Morfologi selengkapnya dituangkan dalam Gambar 1. sebagai berikut:

Gambar 1. Morfologi Udang vaname (Wyban and Sweeney, 1991 dalam Subaidah dkk, 2006) Menurut Subaidah dkk (2006), Ciri khusus pada udang vannamei adalah gigi rostrum bagian bawah dua buah sehingga diperoleh rumus gigi 8/2 dan warna

dari udang vannamei ini adalah putih transparan dan warna biru yang terdapat pada bagian uropoda dan dekat telson. 2.1.3. Habitat dan Penyebarannya Menurut Darmono (2002), udang vaname hidup di dua habitat dalam siklus hidupnya. Udang dewasa hidup dan bertelur di laut. Telur akan menetas menjadi nauplius, kemudian setelah 45-60 jam akan berkembang menjadi mysis setelah lima hari. Mysis berkembang menjadi post larva setelah empat atau lima hari. Selama stadia nauplius sampai dengan post larva, hidupnya mengikuti gerakan air dan arus laut. Post larva yang hidup dipantai-pantai berkembang menjadi udang muda (juvenile) di rawa-rawa air payau. Setelah dewasa, udang beruaya ke laut untuk memijah. Dijelaskan oleh (Wyban dan Sweeney, 1991 Murtidjo, 2003). Siklus hidup udang vanname dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Siklus Hidup Udang Vanname (Erwinda, 2008)

2.1.4. Makan dan kebiasan udang vaname Menurut (Farchan, 2006), Spesies ini cenderung suka berenang di badan air dari pada didasar perairan, melawan arus dan pada umur 40 hari udang vaname sering ditemukan melompat keluar perairan, apabila terdapat cahaya atau peerubahan lingkungan. Sehingga tambak pertumbuhan plankton yang padat dapat mengurangi resiko udang yang melompat dan tidak mudah stress apa bila terjadi perubahan lingkungan. Udang vaname besifat omnivora atau detritus feeder. Pada tambak intensif hampir tidak terdapat jasad renik, sehingga udang vaname akan memangsa makanan yang diberikan, detritus dan sesama udang itu sendiri (Subaidah, 2006). 2.2. Pengertian Budidaya Udang Secara Intensif Budidaya udang secara intensif adalah budidaya yang dilakukan dengan mengunakan teknologi yang lebih maju, lebih mengutamakan pakan buatan dari pada pakan alami. Sumber air yang tersedia dengan baik, sarana dan perasarana lebih lengkap dan cenderung memilki lahan yang sempit namun memiliki padat penebaran lebih tinggi. Budidaya udang intensif dilakukan dengan teknik yang lebih propesionl dan memerlukan biaya investasi yang besar, maka untuk menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran diperlukan peningkatan volume produksi yang tinggi pula (Suyanto dn Enny, 2009). 2.3. Tahapan Pemesaran Udang Vaname

2.3.1. Penentuan target produksi Jumlah benur yang akan ditebar sangat berkaitan erat dengan besarnya produksi yang ingin dicapai. Target produksi diperoleh berdasarkan hasil survei

pasar (pasar domestik atau internasional). Peluang pasar yang ada harus diketehui sebab berhubungan dengan keuntungan yang akan diperoleh (Suyanto dan Enny, 2009). Perihal yang harus dipahami adalah sifat biologis udang vaname. Seorang pengusaha harus paham baik tentang komoditi yang akan dibudidayakan, antara lain pengetahuan tentang tingkat kelangsungan hidup (survival rate), teknologi yang digunakan, daya dukung tambak (carring capacity), sarana prasarana, sumber daya manusia, kelangsungan usaha, hingga mampu menganalisis dampak kerusakan yang terjadi dari kegiatan usaha budidaya tersebut. 2.3.2. Persiapan wadah pemeliharaan A. Perbaikian kontruksi tambak Sebelum tambak digunakan perlu dilakukan perbaikan kontruksi tambak yang meliputi perbaikan pematang dilakukan dengan menutup bocoran, memperlebar dan memadatkan pematang agar kuat dan tidak poros (Amri dan Iskandar, 2008). B. Pengeringan tambak Pengeringan tambak umumnya dilakukan tergantung cuaca, sampai dasar tambak benar-benar kering. Pengeringan dilakukan dengan tujuan untuk membunuh bibit penyakit yang masih ada ditambak (Amri dan Iskandar, 2008). Pengeringan dasar tambak sangat berguna untuk disenfeksi dasar tambak dari organisme pathogen dengan cara penyinaran mataharisecara langsung serta membunuh telur, larva, stadia dewasa hama dan penghilangan lapisan filamen algae yang tidak di inginkan.

1. 2.

Persiapan media pemeliharaan Penyediaan air Air sebagai media pemeliharaan memegang peranan yang sangat penting

dalam menentukan keberhasilan kegiatan budidaya. Air yang digunakan harus memenuhi kriteria fisika, kimia, dan biologi yang sesuai dengan kebutuhan udang. Menurut Buwono (1993), sebaiknya kualitas sumber air untuk pembesaran udang memenuhi standar baku kualitas air seperti pada Tabel 1. berikut: Tabel 1. Kualitas Air Baku Pemeliharaan Udang Vaname
Parameter Salinitas (ppt) Suhu (0 C) Kecerahan (cm) pH air OksigenTerlarut (mg/liter) NH4-N (mg/l) NO2-N (mg/l) H2S (mg/liter) Fe2 (mg/l) Vibrio sp CFU/ml
+

Batas toleransi 20-30 26-32 25-60 7,5-8,7 3-10 1,0 0,25 0,001 0-0,03 <10
2

Optimum 30-34 29-30 30-40 8,0-8,5 4-7 0 0 0 0,01 <102

Sumber : Buwono (1993) Kondisi air yang bebas dari organisme pathogen pada awal pemeliharaan dapat diperoleh melalui tahapan sterilisasi (Raharjo et al., 2003). Rangkaian dalam kegiatan sterilisasi dapat dilakukan dengan aplikasi disinfektan untuk memberantas hama yang dapat bersifat predator, kompetitor maupun carrier penyakit. Pemberantasan ikan liar dapat dilakukan dengan aplikasi saponin 15 mg/l (Kokarkin et al., 2001).

A.

Pengisian air Tatanan proses pengisian air menurut Farchan (2006), mengatakan bahwa

setelah lahan siap kemudian pemasukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pengiian air laut dilakukan sedalam 20-30 cm, kemudian dibiarkan selama 24 jam kemudian dibuang. Tujuan adalah untuk membuang sisa-sisa obat, kotoran dan gas yang bersifat racun. Dan selanjutnya air di isi kembali hingga ketinggian yang diinginkan. Tambak intensif mempunyai kedalaman 1,2 m, kemudian biarkan hngga 3 hari dengan tujuan mengendapkan partikel dan mengontrol masih kemungkinan terjadi kebocoran atau perembasan. 2. setelah baku mutu air tercapai dan kualitas air dianggap steril maka penebaran benur siap dilakukan. 3. Pemasangan kincir (Paddel whell) Kincir ialah suatu alat bantu memasukan O2 bebas dengan bantuan kipas yang digerakan oleh dinamo sehingga terjadi difusi udara kedalam air. Penentuan jumlah kincir disesuaikan dengan padat penebaran udang, satu kincir dengan spesifikasi 1 hp mampu mensuplai oksigen untuk jumlah udang seberat 600 kg (Farchan, 2006). Selain itu dijelaskan pula (Facrhan, 2006), Selain untuk mensuplai kandungan oksigen terlarut di tambak, kincir berfungsi untuk menghilangkan stratifikasi suhu permukaan, badan dan dasar tambak, sehingga sebaran suhu diseluruh bagian tambak dapat merata.

4. 5.

Benur yang akan ditebar Asal benur Biasanya benur yang akan ditebar, yang diperoleh dari panti benih

(hatchery). Sehingga untuk menjamin kualitas benih tersebut panti benih haruslah sudah memperoleh sertifikasi. Standarisasi merupakan standar sistem mutu perbenihan yang harus diterapkan oleh pembenih ikan dalam memproduksi benih ikan yang bermutu, dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau persyaratan teknis lainnya, serta memperhatikan biosecurity, mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety) A. Kualitas benur Kualitas benur memegang peranan penting dalam menentukan

keberhasilan budidaya karena akan menentukan kualitas udang setelah panen (Haliman dan Adijaya, 2008). Benur yang memiliki kualitas baik dapat diperoleh dari induk yang sehat, besar, pertumbuhannya baik dan selama pemeliharaan sampai siap tebar tidak terkontaminasi atau terserang penyakit yang dapat membahayakan kelangsungan usaha budidaya. Menurut (Haliman dan Adijaya, 2008), benur yang digunakan adalah benur ukuran post larva 10 (PL10) dan telah memiliki sertifikat benur yang bebas virus (spesifik patogen free) terutama dari infeksi White Spote Sindrome virus (WSSV), Taura Sindrome Virus (TSP) dan bebas dari Infection Hypodermal Necrosis Virus (IHHNV).

B.

Padat Penebaran Padat penebaran adalah jumlah (biomassa) benih yang ditebarkan per

satuan luas atau volume. Padat penebaran benih akan menentukan tingkat intensitas pemeliharaan. Semakin tinggi tingkat penebaran benih berarti semakin banyak atau jumlah biomassa benih per satuan luas maka semakin intens tingkat pemeliharaannya. Pada tingkat penebaran yang tinggi menyebabkan terjadinya persaingan dalam ruang gerak, pemakaian oksigen dan perolehan makanan. Haliman dan Adijaya (2008), menganjurkan yaitu benur vaname bisa ditebar dengan kepadatan 100-125 ekor/m2 pada pemeliharaan secara intensif. C. Aklimatisasi dan penebaran benur Menurut Darmono (2002), sebelum benur ditebar dilakukan proses aklimatisasi untuk penyesuaian suhu dan kadar garam antara media kantong dan tambak serta untuk memperkecil peluang matinya benur pada saat penebaran. Waktu penebaran sebaiknya pada pagi atau sore hari dimana suhu air rendah. Sebelum penebaran perlu dilakukan aklimatisasi, Aklimatisasi yang penting dilakukan yaitu aklimatisasi suhu dan salinitas (Haliman dan Adijaya, 2008). Aklimatisasi dilakukan dengan cara mengapungkan kantong pengangkutan di permukaan air dalam wadah pembesaran sedangkan aklimatisasi peubah lingkungan lainnya dilakukan dengan memasukkan air ke dalam kantong pengangkutan udang sedikit demi sedikit (Darmono, 1991). Lamanya waktu aklimatisasi tergantung pada perbedaan antara air di dalam kantong benur dengan air tambak. Setiap selisih 10C temperatur, 0,5 pH atau salinitas 1 ppt diperlukan aklimatisasi selama 15 menit dan apabila salinitas lebih dari 2 ppt, suhu 20C dan

pH melebihi maka lama waktu aklimatisasi (ferdinand hukama takwa, daniel djokosetiyono, ridwan affandi, 2008) umumnya adalah 15 hingga 20 menit (Hukama dkk 2008). 6. 7. Manajeman pengelolaan air tambak Kuantitas air Kuantitas air adalah jumlah air yang digunakan untuk pemeliharaan udang. Sumber air pemeliharaan ataupun untuk melakukan pergantian harus berasal dari air tendon yang telah siap pakai dan stril, sebaiknya setiap air yang akan disalurkan melalui melalui saluran pemasukan disaring terlebih dahulu dengan saringan dengan ukuran 200 mikron (PT. Citra Pertiwi Bahari). A. Kulaitas air Untuk memperoleh air yang steril dan kualitas yang terjamin maka penyediaan air di tambak mutlak untuk dilakukan, hal ini untuk memenuhi standar baku mutu air bagi persyaratan tumbuh dan kelangsungan hidup, sehingga sesuai dengan parameter kimia, fisika dan biologi air udang vaname. a. Parameter kimia Beberapa parameter kimia yang mempengaruhi pertumbuhan udang vaname sebagai berikut : 1. Kadar Garam (Salinitas) Menurut Farchan (2006), pengertian kadar garam ialah jumlah garam yang terlarut dalam 1 kg air laut, dengan satuan promil (). Udang vaname termasuk hewan euryhalin yaiitu hewan yang memiliki toleransi terhadap salinitas yang luas.

Haliman dan Adijaya (2008), menyebutkan bahwa udang muda yang berumur 1-2 bulan memerlukan kadar garam 15-25 ppt agar pertumbuhannya optimal. Setelah umurnya lebih dari 2 bulan, pertumbuhan relatif baik pada kisaran salinitas 5-30 ppt. Pada salinitas tinggi, pertumbuhan udang menjadi lambat karena proses osmoregulasi terganggu. Apabila salinitas meningkat maka pertumbuhan udang akan melambat karena energi lebih banyak terserap untuk proses osmoregulasi dibandingkan untuk pertumbuhan. Menurut Darmono (1991), salinitas berpengaruh terhadap tekanan

osmotik dari sel-sel organisme, perubahan yang drastis dan melewati batas toleransi dapat menyebabkan kematian bagi organisme yang ada pada perairan. salinitas air terlalu tinggi dapat menghambat terjadinya proses ganti kulit (moulting). Pertumbuhan udang akan lebih cepat pada salinitas antara 5-10 ppt tapi lebih sensitif terhadap penyakit (Farchan, 2006) 2. Derajat keasaman (pH) Menurut Kordi dan Tancung (2007), meyatakan bahwa derajat keasaman atau pH (singkatan dari puissance nagatif de H), yaitu logaritma dari kepekatan ionion hydrogen (H+) yang terlepas dalam suatu cairan. Apabila konsentrasi ion (OH-) meningkat dalam air, makin rendah ion H+ dan makin tinggi nilai pHnya maka cairan bersifat alkalis. Sebaliknya semakin banyak ion H+, makin rendah pH cairan dan bersifat asam. Menurut Chamberlain dalam Ekwandi (2010), bahwa tingkat pH atau derajat keasaman air bisa berpengaruh secara dramatis atas tingkat toksisitas amonia dan hidrogen sulfida (H2S).

Farchan (2006), mengatakan bahwa pada sore hari pH air biasanya lebih tinggi dari pada pagi hari. Penyebabnya adalah kegiatan fotosintetis fitoplankton dalam air yang menyerap CO2. Oleh kegiatan fotosintetis itu CO2 menjadi sedikit, sedangkan di pagi hari CO2 banyak sebagai hasil dari kegiatan pernapasan binatang maupun fitoplankton dan juga pembusukkan di dalam air. Kisaran nilai pH yang ideal untuk pertumbuhan udang adalah 7,5-8,5 (Darmono 1991). 3. DO (Dissolved Oxygen) Kordi dan Tancung (2007) menjelaskan bahwa oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) yang sering disingkat DO merupakan parameter hidrobiologis dan dianggap sangat penting karena merupakan kebutuhan primer bagi organisme atau salah satu faktor pembatas bagi udang yang dibudidayakan. Air dengan oksigen terlarut hingga 200% jenuh dapat menyebabkan timbulnya gas bubble disease. Tingkat kejenuhan ditentukan oleh suhu dan salinitas air. Semakin tinggi suhu air maka kapasitas jenuh oksigen akan semakin besar, sebaliknya semakin tinggi salinitas kapasitas jenuh oksigen di air menurun. Kelarutan oksigen dalam air merupakan salah satu faktor utama yang menentukan pertumbuhan dan meningkatkan nafsu makan. Kelarutan oksigen yang baik bagi kehidupan udang adalah 5-7 mg/l (Wyban dan Sweeney, 1991; Kordi dan Tancung, 2007). 4. Ammonia (NH3 ) Ammonia (NH3) ialah salah satu dekompoisi bahan oraganik. Pada media perairan budidaya nitrogen mempunyai dua bentuk yaitu ammonia (NH3) bukan ion dan ammonium (NH4 +) yang merupakan ion. NH3 merupakan racun bagi udang dan ikan sedangkan NH4+ tidak berbahaya kecuali dalam konsentrasi tinggi

yaitu > 2 ppm. Daya racun NH3 akan meningkat bila kadar olsigen rendah (Kordi dan Tancung, 2007). Kandungan ammonia 0,03-0,05 mg/l merupakan level optimal bagi pertumbuhan udang (Farchan, 2006). b. 1. Parameter fisika Suhu Suhu ait sangat erat hubungannya dengan konsentrasi oksigen yang terlarut dalam air dan laju kebutuhan oksigen hewan air. Suhu berbanding terbalik dengan konsentrasi jenuh oksigen terlarut (Boyd, 1979 dalam Ekwandi, 2010). Peningkatan suhu mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4 (Huslam dalam Effendi, 2003) Menurut Farchan (2006), suhu air optimal bagi udang berkisar antara 28 31 0C dan pada suhu tersebut konsumsi oksigen mencapai 2,2 mg/g berat tubuh/jam. Pada suhu 18 25 0C udang masih bisa hidup, namun nafsu makannya menurun. Lebih lanjut dikatakan bahwa, selain berpengaruh langsung suhu air juga berpengaruh secara tidak langsung terhadap udang. Laju reaksi kimia dalam air berlipat dua untuk setiap kenaikan 10 0C. Pada suhu tinggi bersamaan pH yang tinggi, laju keseimbangan amoniak lebih cepat sehingga cenderung terjadi peningkatan NH3 sampai pada konsentrasi yang mempengaruhi pertumbuhan udang. Suhu pertumbuhan udang antara 26-32 0 C. Jika suhu lebih dari angka optimum maka metabolisme dalam tubuh udang akan berlangsung cepat (Haliman dan Adijaya, 2008).

Effendie (2003), mengatakan bahwa suhu sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Selanjutnya (Boyd, 1979 dalam Ekwandi, 2010), mengatakan pada suhu tinggi laju reaksi keseimbangan amoniak lebih cepat sehingga cenderung terjadi peningkatan konsentrasi NH3. Peningkatan ini dapat mengakibatkan kematian pada udang akibat keracunan. 2. Kecerahan Menurut Kordi dan Tancung (2007), kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan kedalam air sehingga kecerahan indentik dengan kepadatan plankton dan warna air. Kecerahan yang baik pada udang berkisar 30 40 cm. Sedangkan warna air untuk budidaya udang adalah hijau muda dan coklat muda karena mengandung banyak diatomae dan clorophyta (Effendi, 2003). B. Parameter biologi Perubahan mutu air biologi adalah berkaitan dengan plankton, Plankton adalah organisme (tumbuhan dan hewan) yang hidup melayang didalam air tanpa mempunyai kemampuan untuk melawan arus (Nugroho 2006). Beberapa plankton jenis diatom, chlorophyceaea, crustacea, kecil dan

zooplankton merupakan makanan alami yang baik untuk udang. Namun demikian, banyak jenis cyanophyceae, dinophyceaea serta protozoa tidak baik bahkan merugikan udang. Oleh karena itu keberadaannya harus selalu dimonitor (Drmono, 1991). C. Pengelolaan kualitas air Beberapa hal yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas air (Farchan, 2006) adalah sebagai berikut :

1.

Pengangkatan plankton yang mati Pada tambak yang berumur 30 hari sudah mulai terdapat banyak plankton

yang mati dan mengapung di permukaan air. Pada awal akan terlihat mengapung dan mengumpul pada pojokan yang petakan tambak karena terbawa oleh tiupan angin. Kandungn berbagai macam organism ini mengandung senyawa yang beracun dan dapat mengancam pertumbuhan udang (Farchan, 2006). Plankton yang mati ini harus segera di angkat karena berpotensi menghasilkan senyawa beracun seperti H2S, NH3, karena telah mengalami perombakan (dekomposisi) dan juga akan menyebabkan penurunan kualitas air, yang pada akhirnya dapat menggangu kesehatan dan menimbulkan penyakit bagi udang. Pada kondisi yang sangat fatal dapat menyebabkan mortalitas pada udang (Farchan, 2006). 2. Pergantian air Kualitas air yang optimal sangatlah di butuhkan dalam budidaya udang, maka selama pemeliharaan berlangsung dilakukan pergantian air secara berkala dan terprogram dengan memperhatikan parameter kualitas air. Pergantian air harus mengunakan air yang steril dengan volume air yang tepat, yang ditinjau dari kuantitas maupun kualitas (Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, 2003). 3. Pemberian probiotik Probiotik berasal dari kata pro berarti mendukung dan biotik berarti lingkungan hidup. Jadi, probiotik adalah mikroorganisme hidup yang sengaja diberikan dengan harapan memberikan efek yang menguntungkan bagi kesehatan inang (FAO/WHO. 2001 dalam Anton, 2010).

Menurut Suprapto (2005), pemberian probiotik dalam tambak udang intensif, dapat dilakukan dengan dua cara, pertama melalui lingkungan (air media dan dasar tambak) yang akan bekerja melalui mekanisme bioremediasi dan bioinhibitor. Kedua melalui oral (dicampur dengan pakan) yang akan bekerja dalam meningkatkan kekebalan tubuh, memperbaiki pencernaan,

menyeimbangkan mikroflora dalam usus dan sebagai protein sel tunggal. 8. Manajeman pakan Udang termasuk jenis hewan pemakan terus-menerus (Continuous feeder), sehingga diperlukan manajemen pakan meliputi penyimpanan pakan, metoda pemberian pakan, pakan pertama (blind feeding), pakan setelah sebulan pertama dan control anco (PT. Citra Pertiwi Bahari, 2005). Pakan merupakan komponen terpenting dalam mempengaruhi pertumbuhan udang, karena biaya pakan lebih dari 50 % dari biaya oprasional (Farchan 2006). 9. 1. Jenis-jenis pakan Pakan Buatan Pakan ikan adalah campuran dari beberapa bagian bahan pangan, baik itu nabati maupun hewani yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga mudah dimakan dan dicerna sebagai sumber nutrisi bagi ikan. (Djarijah, 1995). Bebrapa jenis nutrisi uang dibutuhkan udang dalam pakan buatan. Nutrisi tersebut meliputi: 10. Protein Pertumbuhan udang sangat dipengaruhi oleh komposisi nutrisi pakan yang dikonsumsi oleh udang tersebut. Salah satu komponen yang mampu mempercepat

pertumbuhan antara lain adalah protein dan asam amino esensial yang dimana mutu dari protein dipengaruhi antara lain oleh tyrosine, aeginine, histidine leucine, isoluecine, lysine, methionin, phenylalanine, threonine, dan valine. (Farchan, 2006). Dampak dari kekurangan protein di dalam pakan dapat mengganggu bahkan menghentikan pertumbuhan atau kehilangan bobot udang. Selanjutnya dinyatakan oleh Darmono (1991), kebutuhan protein udang vannamei berkisar antara 38 % - 45 %. Tabel 2. Kandungan protein pada pakan udang
Berat udang (gram) 03 3-5 15-40 Kandungan protein (%) 40 38 36

Sumber Akiyama dan Chawang dalam Ekwandi 2010 a. Lemak Lemak merupakan sumber energi yang mempunyai peranan penting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Asam lemak juga berfungsi sebagai pelarut vitamin (Mudjiman, 2004). Menurut Ekwandi (2010) lemak adalah senyawa organic yang mengandung unsur carbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O) sebagai unsure utama. Beberapa kandungan unsur diantaranya mengandung Nitrogen (N) dan Fospor (P). sehingga sacara umum lemak biasa disebut juga lipia, yang merupakan sumber energi paling tinggi dalam pakan. Menurut Djarijah, 1995. kandungan lemak yang sebaiknya di dalam pakan udang adalah 7 %.

b.

Vitamin Vitamin adalah senyawa organik yang dibutuhkan oleh udang agar

pertumbuhan dan kesehatan udang dalam keadaan baik. Vitamin berfungsi sebagai katalisator dalam proses-proses kimia yang berlangsung dalam tubuh (Mujiman, 2009). c. Serat Serat merupakan campuran dari selulosa, hemiselulosa, lignin, pentosan dan bagian dari pakan yang umumnya tidak dapat dicerna oleh udang. Dalam beberapa hal serat berguna untuk membentuk gumpalan ampas makanan menjadi feases yang mudah dikeluarkan melalui saluran pencernaan (Mudjiman, 2004). Menurut Farchan (2006), sebaiknya kandungan serat pada pakan udang tidak melebihi 4 %. d. Air Air walaupun bukan makanan namun juga diperlukan untuk proses metabolisme dan pembentukan cairan tubuh. Kandungan air dalam makanan ikan berkisar antara 70 90 % berat basah, tanpa menghiraukan kandungan bahanbahan kerasnnya. Pertumbuhan udang akan baik dengan kadar air dalam pakan maksimal 10 % (Mudjiman, 2004). 2. Pakan alami Pakan hidup adalah organisme hidup dalam tambak yang berfungsi sebagai pakan udang. Pada umumnya jenis pakan ini adalah pankton.menurut Effendi (2003) fungsi plakton dalam air sebagai berikut :

1. Penghasil oksigen (O2) 2. Pakan alami udang 3. Pelindung (Buffer) Beberapa jenis pakan alami yang bermanfaat sebagai pakan alami udang antara lain yaitu: Branchionus sp, Artemia,Cheatoceros, Skeletonema dan Beberapa jenis zooplankton yang terdapat dalam air. Menurut Farchan (2006), Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk melihat jenis plankton pada suatu perairan : 1. Warna air hijau kecoklatan didominasi oleh Plankton jenis Chorella dan Dunalilella, 2. Warna air hijau tua didominasi oleh Plankton jenis Spirulina, Microcystis dan Oscillatoria 3. Warna air kekuningan didominasi oleh Plankton jenis skeletonema, Chaetoceros, melosire, Navicula, Nitzchia dan Gyrosigma. 4. Warna air cerah didominasi oleh Noctiluca. 3. Pakan tambahan (supplemntal food) Menurut Sunarto (2006), Peningkatan kekebalan tubuh dapat dilakukan dengan pemberian vitamin, suplemen pakan, trace element dan imunostimulan. Dikatakan juga vitamin C, A dan E, trace element (selenium), caratenoid (astaxanthin) dan HUFA (hightly unsurated fatty acid) terbukti mampu meningkatkan kekebalan udang terhadap penyakit infeksi pathogen.

11.

Pemilihan pakan Akyama dan Cwang dalam Ekwandi (2010), mengemukakan bahwa ada

beberapa cara yang biasanya digunakan untuk menentukan dalam cara pemilihan pakan udang cara tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Aroma dan Rasa Pakan dengan kandungan nutrient yang seimbang akan menjadi tidak bermanfaat apa bila tidak dapat di makan oleh udang tersebut. Cara mengetahui aroma dan rasa pakan dapat diperhatikan pada pengujian sekala kecil mengunakan akuarium. Apabila dalam dua menit udang yang diberikan pakan sangat aktif bergerak kearah pakan tersebut maka pakan terebut memiliki aroma yang baik begitu juga dengan sebaliknya apabila udang tidak menunjukan respon terhadap makan maka pakn tersebut kurang memiliki aroma dan rasa yang baik.(Akiyama dan Cwang dalam Ekwandi, 2010). 2. Stabilitas pakan didalam air Proses udang dalam mengkonsumsi makanan memiliki waktu yang cukup lama, oleh karena itu diperlukan pakan yang memiliki tingkat kestabilitas yang tinggi didalam air. Pelepasa aroma (atraktan) dari pellet sangat penting bagi udang dan seluruh atraktan harus sudah terlepas kedalam air dalam kurun waktu 1 sampai 2 jam. Karena itu pakan harus memiliki kestabilan dalam air sekurangkurangnya 2,5 jam. (Akiyama dan Cwang dalam Ekwandi, 2010). 3. Ukuran pellet Ukuran pellet tergantung dari ukuran mulut udang, namun demikian diperlukan pellet dengan ukuran yang sedang sehingga mudah untuk dimakan dan

dibawa oleh udang. Menurut (Darmono, 1991) sebaiknya pakan yang diberikan tidak kurang dari 2,5 pertikel pellet dikonsumsi seekor udang setiap sekali penberian pakan. B. Jumlah dan frekuensi pemberian pakan Sifat udang adalah aktif pada malam hari (nocturnal). Kebiasaan makan udang tersebut menentukan cara pemberian pakan, sehingga diperlukan beberapa kali pemberian pakan setiap harinya dengan porsi yang lebih besar pada malam hari (PT.Central Pertiwi Bahari, 2005). Jadwal pemberian pakan dapat dilihat pada Tabel 3.
Berat Udang (gram) 0,1-1,0 1,1-2,5 2,6-5,0 5,1-8,0 8,1-14.0 14,1-18,0 18,1-20,0 20,1-22,5 Bentuk pakan Dosis pakan 75-25 25-15 15-10 10-7 7-5 5-3 5-3 4-2 Frekuensi pemberian pakan 3 4 5 5 5 5 5 5

Umur udang (hari) 1-15 16-30 31-45 45-60 61-75 76-90 91-106 106-120

Fine crumble Crumble Crumble Pellet Pellet Pellet Pellet Pellet

Sumber SNI 01 7246- 2006 12. Penyimpanan pakan Penyimpanan pakan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam mempertahankan kualitas pakan, berikut syarat penyimpanan pakan (CPB), sebagai berikut : 1. Tempat penimpanan harus dalam kondisi kering, tidak lembab, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

2. Aman dari binatang pengerat, unggas dan serangga. 3. Memiliki alas/ landasan (pellet). 4. Penumpukan tidah lebih dari 10 sak 5. Agar tidak terjadi kontaminasi, tempat penyimpanan pakan harus terpisah dari bahan-bahan lain misalnya minyak, oli, bahan kimia. 6. Ama penyimpanan maksimal 10 hari.

C.

Kontrol pakan Menurut Ekwandi (2010), Pengontrolan pakan dimaksudkan agar

kebutuhan udang vaname akan pakan tercukupi, dan mencehag tejadinya limbah pakan yang disebabkan kelebihan pakan yang tidak dimakan oleh udang. Kontrol pakan dapat dilakukan dengan mengunkan anco yang diberikan dengan dosis tertentu. Disamping itu dapat juga digunakan untuk mengamanti respon udang terhadap pakan, pertumbuhan, kesehatan dan tingkat keangsungan hidup udang (Farchan, 2006). 13. Pertumbuhan dan kesehatan udang Pengamatan pertumbuhan udang dilakukan dan pemerikasaan pada anco atau dengan penjalaan, setelah itu dilakukan penngambilan sampel udang. Untuk pengamatan pertubuhan dan kelangsungan hidup dilakukan sampling jala 7-10 hari setelah udang berumur 30 hari. Data yang terkumpul selanjutnya digunakan untuk menentukan jumlah pakan (dosis) harian pada hari berikutnya. Pengambilan contoh sampel udang dimaksudkan untuk mengetahui ABW (Average Body Weight), ADG (Average Daily Gain), SR (Survival Rate) dan total biomassa. (Ferchan 2006).

Menurut (Wyban dan Sweeney, 1991 dalam Ekwandi, 2010), menemukan pertumbuhan udang vannamei pada wadah terkontrol dengan kepadatan 100 ekor/m2 adalah 2 gram/minggu sebelum udang mencapai berat lebih dari 20 gram sedangkan setelah udang mencapai berat lebih dari 20 gram pertumbuhan udang 1 gram/minggu. Laju pertumbuhan harian udang vannamei adalah gram/hari A. Monitoring kesehatan Udang yang sehat diciirikan dengan normalnya fungsi fisiologis yang secara fisik dapat dilihat dari nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ, saluran pencernaan. Untuk mengetahui kondisi ini dapat dilakukan di laboratorium secara visual. Menurut penjelasan penerapan SOP (PT. Citra Pratiwi Bahari, 2005), menjelaskan pengamatan secara visul untuk udang yang sehat terdiri dari : 14. Gerakan aktif, berenang normal dan meloncat bila anco diangkat. 15. Responsive terhadap arus air, cahaya, bayangan dan sentuhan 16. Tubuh berwarna cerah. 17. Tubuh bersih licin, tidak terdapat kotoran yang menempel. 18. Tubuh tidak keropos dan lengkap. 19. Uropoda mengembang. 20. Insang bersih Pengamatan dilakukan secara berkala dengan cara mengunakan anco untuk melihat abnormalis udang dan kesehatan udang. Kemmpuan mengendalikan faktor penyebab stress dan antisipasi yang tepat terhadap potensi terjadinya 0,15-0,18

penyakit akan menentukan kualitas dan kuantitas udang pada akhir massa pemeliharaan hingga panen. 2.3.8. Hama dan Penyakit A. Hama Hama adalah organisme yang keberadaannya didalam wadah produksi tidak dikehendaki karena bersifat kompetitor atau predator terhadap biota yang dibudidayakan. Predator adalah jenis hewan yang dapat memangsa udang vannamei yang dipelihara dalam petakan tambak (Haliman dan Adijaya, 2008). Beberapa jenis predator udang vannamei yaitu jenis ikan, seperti ikan kakap dan ikan kerong kerong, jenis crustace, seperti kepiting dan jenis reptil seperti ular. Untuk menjaga masuknya ikan dan udang liar ke dalam tambak, perlu dipasang jaring pada bagian inlet air laut agar tidak bisa masuk ke dalam tambak. Untuk mencegah masuknya ular, bisa dipasang pagar di sekeliling tambak. Selain itu, ikan yang berada didalam tambak bisa dibasmi dengan saponin (Effendi, 2003). B. Penyakit Haliman dan Adijaya (2008), menyebutkan penyakit dapat muncul dan menyerang udang vannamei. Beberapa jenis penyakit yang menyerang udang vannamei disebabkan oleh parasit, bakteri dan jamur, dan virus. 1. Parasit Parasit mudah menyerang udang vannamei bila kualitas air yang kurang baik, terutama pada kondisi kandungan bahan organik yang tinggi. Pada kondisi yang lebih parah, parasit bisa menempel pada permukaan tubuh udang Haliman dan Adijaya (2008). Parasit akan terlepas dari tubuh udang vannamei bila udang

tersebut mengalami moulting. Pencegahan keberadaan parasit pada udang vannamei bisa dilakukan dengan pergantian air tambak. Bakteri dan Jamur Bakteri dan jamur tumbuh optimal di perairan yang mengandung bahan organik tinggi (sekitar 50 ppm). Bakteri yang perlu diwaspadai pada budidaya udang vannamei yaitu bakteri vibrio yang menyebabkan penyakit vibriosis. Jamur sering dijumpai pada udang sakit. Infeksi jamur lebih sering menyerang tubuh udang bagian luar, seperti karapak dan insang bagian dalam, terutama stomack. Umumnya, cendawan menyerang sebagai infeksi sekunder dari serangan utama oleh bakteri atau pathogen lain seperti virus. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan probiotik yang mampu berkompetisi dengan bakteri patogen, seperti bakteri 2. Virus Virus adalah mikroorganisme yang sangat kecil, lebih kecil dari pada inti sel udang itu sendiri (Darmono, 1991). Beberapa virus yang perlu di waspadai pada budidaya vaname yaitu white spot syndrome virus (WSSV), Taura syndrome virus (TSV) dan Infectious Hypodermal Hematopoetic Necrosis virus (IHHNV) Haliman dan Adijaya (2008). Faktor pemicu munculnya virus yaitu faktor nutrisi, lingkungan, dan genetika. Sejauh ini belum ditemukan metode pengobatan, sehingga yang dapat dilakukan yaitu pencegahan. Upaya pencegahan antara lain dengan pemakaian imunostimulan, menjaga kualitas air yang baik agar stabil sehingga udang tidak Bacillus sp. dan bakteri fotosintesis.

stres, pemakaian benih kualitas unggul (SPF/SPR), dan secara rutin (Haliman dan Adijaya, 2008). 2.3.9. Pemanenan

monitoring penyakit

Udang vannamei dapat dipanen setelah berumur sekitar 120 hari dengan berat tubuh berkisar 16-20 gram/ekor (Haliman dan Adijaya, 2005). Terdapat dua cara pemanenan yang umumnya dipakai yaitu panen persial (sebagian) dan panen total. Panen sebagian dilakukan menggunakan jala tanpa melakukan pengurangan air, sedangkan panen total dilakukan dengan menurunkan dan menguras habis air di dalam petekan tambak (Darmono, 1991). 2.10 Aspek Finansial Biaya Investasi Investasi dalam suatu usaha adalah alokasi dana ke dalam usaha yang bersangkutan, dimana investasi tersebut meliputi penggunaan dana untuk pengadaan sarana dan prasarana produksi (Winanto, 2004). 3. 4. 2.10.2 Biaya Produksi a. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan dengan produksi nol, atau biaya tidak berubah meskipun volume produksi berubah. Biaya dikatakan tetap dilihat dari besarnya jumlah biaya bukannya biaya per unit.

b. Biaya Variabel Biaya variabel merupakan biaya yang nilainya selalu berubah sesuai dengan volume produksi seperti biaya pembesaran, peralatan pengoperasian dan peralatan yang lainnya (Umar, 1997). 5. 2.10.3 Analisa Laba/Rugi Menurut Soeharto (1997), menyatakan bahwa analisa Laba atau Rugi adalah selisih jumlah total pendapatan dengan total biaya, meliputi biaya tidak tetap dan biaya tetap (Variabel cost) yang digunakan untuk menghasilkan produksi. 6. 2.10.4 Benefit Cost Ratio Analisis B/C ratio dapat digunakan untuk menilai layak tidaknya suatu usaha untuk dijalankan. Bila nilai B/C yang diperoleh adalah 1, dan berarti usaha tersebut belum mendapat keuntungan sehingga perlu pembenahan. Kelayakan suatu usaha untuk dapat dikerjakan diperoleh saat B/C ratio lebih dari 1 (Rausin et al., 2001). 7. 2.10.5 Break Even Point (BEP) Break even point merupakan titik impas, adalah suatu alat analisi yang digunakan untuk menegetahui hubungan antar beberapa variable di dalam kegiatan perusahaan, seperti luas produksi atau tingkat produksi yang dilaksanakan, biaya yang dikeluarkan, serta pendapatan yang diterima dari kegiatan yang telah dilakukan (Umar, 1997).

2.10.6 Analisa Payback Period (PP) Analisa Payback Period adalah suatu periode yang perlu kan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas, dengan kata lain payback period yang dimana hasilnya diperoleh ialah satuan waktu (Umar, 1997).