Anda di halaman 1dari 4

PROFIL PT BADAK NGL PT BADAK NGL SEBAGAI NON PROFIT COMPANY

Gambaran Umum Kilang LNG Badak adalah satu dari dua fasilitas gas alam cair yang mendukung bisnis LNG di Indonesia, terletak di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Nama Badak diambil dari nama lokasi tempat sumer utama ditemukan. PT Badak Natural Gas Liquefactions lebih dikenal dengan PT Badak NGL adalah perusahaan penghasil LNG (Liquid Natural Gas) terbesar di Indonesia dan di dunia. Perusahaan ini memiliki 8 (delapan) process train (A-H) yang mampu menghasilkan 22,5 juta metrik ton LNG per tahun. PT Badak NGL merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia maupun Bontang. Pada saat ini PT Badak NGL memiliki pekerja sebanyak 1.250 orang dan pekerja kontraktor sebanyak 2500 orang. Sebagai perusahaan LNG terbesar di dunia, PT Badak NGL sejak awal didirikan berupaya agar kilangnya dapat beroprasi dan memproduksi LNG secara aman, handal, efisien, berkualitas, berwawasan lingkungan, serta dapat memenuhi jadwal yang ditentukan berkualitas. PT Badak NGL memiliki Visi menjadi perusahaan energi yang dipandang dan disegani di dunia. Adapun Misi PT Badak NGL adalah: Memproduksi LNG secara aman, handl, efisien dan ramah lingkungan, menutamakan pemberdayaan SDM secara maksimal, meningkatkan pertumbuhan ekonomi Nasional serta memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). Selain visi dan misi PT Badak juga menerapkan tata nilai dalam pelaku probadi maupun bisnis. Tata nilai yang diterapkan adalah Profesional, Komitmen, Intergritas dan Moralitas. Tata nilai bisnis: Handal, Kualitas Terbaik, Kompetitif, Kesehatan, Keselamatan, dan Ramah Lingkungan, Terfokus, Kepuasan Pelanggan Transoaran dan Citra. Organisasi PT Badak NGL dipimpin oleh Presiden Director yang berkedudukan di Jakarta. Sedangkn di Plant Site Bontang dipimpin oleh seorang Director/ General Manager yang bertanggung jawab dalam mengelola oprasional kilang LNG Badak. Di lingkungan PT Badak NGL terdapat dua serikat pekerja yakni SP-FPLB (Serikat Pekerja Forum Pekerja LNG Badak) dan SP-LNG Badak (Serikat Pekerta LNG Badak). Sejak tahun 2001 telah diperlalukan perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Perusahaan dengan Serikat Pekerja yang berlaku dan ditinjau ulang setiap 2 (dua) tahun. PT Badak NGL adalah operator dan non profit Company yang diserahi tanggung jawab oleh pemilik asset untuk memelihara dan mengoprasikan asset dengan biaya at cost . Seluruh asset PT Badak NGL, kecuali pekerja, awalnya adalah milik pemerintah yang dikelolakan PT Pertamina dan sesui dengan UU Migas NO 22/2001, asset menjadi milik BP Migas. Program kerja dan anggaran tahunan merupakan kesepakatan antara PT Badak NGL sebagai Operator dan Gas Producers (Total, VICO, Chevron, dan Pertamina yang disetujui oleh shareholder. Mengingat PT Badak NGL adalah operator pengolahan sumberdaya alam di bagian hilir, bukan perusahaan yang langsung mengekspliotasi dan menjual sumberdaya alam seperti yang dimaksud dalam UU NO. 40 tahun 2007 tettang Perseroan Terbatas, maka dalam hal ini PT Badak NGL tidak mendapatkan keuntungan dari oprasionalnya melainkan hanya mengoprasikan kilang milik pertamina dan stakeholder dengan biaya oprasional yang diajukan setiap tahun kepada owner

(pemilik asse). Oleh karena itu kewajiban CSR sepeti dalam UU No. 40 tahun 2007 dijalankan dalam bentuk COMDEV. Partnership Bisnis PT Badak NGL Partnership The Plant Operator The Gas Producers Nama Perusahaan PT Badak NGL y Pertamina y VICO Indonesia y Total E&P Indonesia y Chevron Indonesia y The Chubu Electric Power Co y The Kansai Elektric Power Co y The Kyushu Electric Power Co y Nippon Steel Corp y Osaka Gas Co Ltd y Toho Gas Co Ltd y Chinese Petroleum Corporation y Korea Gas Corporation y Tokyo Gas Co Ltd y Hirosima Gas Co y Nippon Gas Co y Nippon Patroleum Gas Co Ltd y Mitsubishi Corp. y Lasmo Oil Co Ltd y Showa Shell Sekiyu KK y Mitsui Liquified Gas Co y Kyodo Oil Co Ltd y Demitsu Kosan Ltd y Burmah Gas Transport (Transporter) y Energy Tanspotation Corp (Operator) y Badak LNG Transportation (Transporter) y Kawasaki Kisen Kaisha (Operator) y Nippon Yuses Kabushiki Kasiha (Operator) y Mitsui OSK Lines (Operator) y Nissho Iwai Co Ltd (Buyers Agent) y Nusantara Gas Service Co Inc (Sallers Agent)

The LNG Buyers

The LPG Buyers

The Transporters

The Agents

Sekilas Sejarah PT Badak NGL Penemuan Gas Alam Raksasa Perjalannan proyek LNG Badak dimulai ketikan Huffco (sekaran VICO Indonesia), sebuah perusahaan kontraktor migas dengan PSC pada Pertamina, berhasil menemukan cadangan gas alam raksasa di lapangan muara Badak, Kalimantan Timur pada Februari 1972, setelah sebelumnya ditemukannya juga cadangan gas alam raksasa serupa di lapangan Arun, Aceh oleh Exxon Mobil. Saat itu bisnis LNG belum banyak dikenal dan hanya ada 4 (empat) kilang LNG di seluruh dunia dengan pengalaman 3-4

tahun pengoprasial. Walau tanpa pengalaman sebelumnya di bidang LNG Pertamina, Mobil Oil, dan Huffco Inc. Bersepakat untuk mengembangkan proyek LNG yang dapat mengekspor gas alam cari dalam jumlah yang besar. Dengan penuh kerja keras disertai optimisme dan ambisius yang kuat, akhirnya membuahkan hasil dengan disepakatinya kontrak penjualan LNG kepada 5 (lima) perusahaan jepang: Chubu Electric Co, Kansai Electric Power Co, Kyushu Electric Power Co, Nippon Steel Corp dan Osaka Gas Co pada 5 Desember 1973. Kontrak ini kemudian dikenal sebagai The 1973 Contract yang berisi komitmen dari para pembeli untuk mengimpor LNG Indonesia selama 20 tahun. Berkat kerjasama bebagai pihak, proyek besar ini pun terlaksana. Hal itu tentu tidak tidak lepas dari adanya dukungan perusahaan-perusahaan asing, bank, lembaga0lembaga keuangan yang melibatkan kerjasama 3 (tiga) negara: Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat. Berbekal optimisme, ambisi dan kerja keras, tinta sejarahpun telah digoreskan dan PT Bafak NGL tercatat secagai tonggak sejaran industri LNG Indonesia.

Pendirian dan Perkembangan Perusahaan PT Badak NGL dibentuk pada 26 November 1974, dengan pemegang sahamnya adalah Pertamina, Vico, dan Jilco. Perusahaan ini dipercayakan untuk mengoprasikan pablik LNG Badak. Nama perusahaan diambil dari nama daerah tempat ditemukan cadangan gas alam raksasa tersebut. Dengan komposisi kepemilikan saham Pertamina 55%, VICO 20%, JILCO 15%, Total 10%. Kilang LNG di Bontang dibangun berdasarkan pada proyek pendanaan yang menyediakan seluruh biaya investasi denggan pengembalian yang seluruhnya diperoleh dari hasil penjualan LNG. Oleh karena itu tugas meyakinkan para pemegang saham bahwa kilang LNG akan selalu beroprasi tanpa kendala, menjadi hal yang sangan penting sehingga alhirnya salah satu pemegang saham yaitu JILCO mengajukan diri sebgai financier atau penjamin pembiayaan.

Kilang LNG Badak Konstruksi kilang dimulai pada tanggal 26 November 1974 dan selesai 36 bulan kemudian tanggal 5 Juli 1977, dengan dibangunya train LNG pertama (train A). Kilang pertama ini diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1977 dan pengapalan LNG pertama dilakukan pada 9 Agustus 1977 ke Senboku, Jepang dengan kapal LNG Aquarius. PT Badak NGL mempunyai 4 (empat) jalur pipa paralel berukuran 36 dan 42 yang berfungsi mengirimkan gas alam dari ladng-ladang gas untuk bahan baku LNG dan LPG, yang sebelumnya hanya mempuyai satu jalur pipa berukuran 36 pada masa awal perusahaan berdiri. Selama 25 tahun, pabik LNG Badak yang pada mulanya hanya memiliki 2 (dua) train, sekarang sudah menjadi 8 (delapan) train, dan ditambah dengan fasilitas penghasil LPG seiring dengan ditemukannya cadangan gas alam yang tak kalah besar di sekitar Lapangan Muara Badak. Jika beroprasi pada kapasitas penuh, kilang LNG Badak dapat memproduksi rata-rata 140.000m3 gas alam cair (LNG) per harinya. Total produksi gas alam setahunnya berhasil ditingkatkan dari 3,3 juta

ton LNG per tahun di tahun 1977 menjadi 5 juta ton LNG dan 1,2 ton LPG per tahun. Produksi gas alam di PT Badak NGL meupakan yang terbesar di seluruh dunia sampai saat ini.

Perkembangan Produksi Sejak tahun 2001, Produksi LNG dari Bontang mulai menurun. Dari 397 kargo pada tahun 2001 menjadi 341 kargo di tahun 2005. Penurunan produksi ini menyebabkan PT Badak NGL tidak mampu lagi memenuhi komitmentnya kepada oembeli. Produksi LPG pun terpaksa dihentikan semetara melihat berkurangnya pasokan gas ke PT Badak NGL, terhitung sejak tahun 2006. Menurut perkiraan beberapa pakar/ahli, berdasarkan data ketersediaan gas alam yang ada pada awal tahun 2008, diperkirakan pada tahun 2010, PT Badak NGL akan beroprasi hanya dengan 7 (tujuh) train). Kemudian tahun 2011, yang beroprasi 5 (lima) train, dan rentang 2012 dan 2014 yang beroprasi 4 (empat) train. Pada tahun 2015-2017 hanya beroprasi sebanyak 1 (satu) train saja. Pasca tahun 2017 sampai saat ini belum ada kepastiannya.