P. 1
Pembelajaran Menulis Puisi Dengan Menggunakan Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung Pada Siswa Kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon

Pembelajaran Menulis Puisi Dengan Menggunakan Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung Pada Siswa Kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon

3.0

|Views: 4,810|Likes:
Dipublikasikan oleh Tomy Indra

More info:

Published by: Tomy Indra on Jan 13, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2013

pdf

text

original

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGAMATAN OBJEK SECARA LANGSUNG PADA SISWA KELAS X MAN KALIMUKTI

PABEDILAN CIREBON TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012

SKRIPSI diajukan untuk menempuh gelar sarjana pendidikan pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

oleh TOMY INDRA GUNAWAN 107050032

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI (UNSWAGATI) CIREBON 2011

ABSTRAK
Tomy Indra Gunawan, Pembelajaran Menulis Puisi dengan Menggunakan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung pada Siswa Kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011/2012. Pengajaran sastra di sekolah-sekolah, khususnya materi menulis puisi lebih menekankan pada teori dibandingkan praktik. Dengan metode ceramah siswa diajak untuk mengenali bentuk puisi, ciri-ciri puisi dan contoh puisi karya sastrawan dan selalu seperti itu. Dengan sistem pembelajaran yang seperti ini, proses pembelajaran menulis puisi menjadi kurang efektif. Akhirnya, timbullah kejenuhan siswa pada pembelajaran menulis puisi yang berakibat kurang sukanya siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi. Sebenarnya, pembelajaran menulis puisi dengan memerhatikan kriteria puisi yang baik yakni ; bunyi (rima dan irama), kata atau pilihan kata (diksi), larik atau baris, bait, dan tipografi, tentu akan membuat sebuah puisi memiliki nilai estetik, apalagi didukung dengan pembelajaran menulis puisi yang tidak monoton dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, siswa tidak merasa jenuh dan bosan karena pembelajaran ini lebih dipusatkan dengan melakukan pembelajaran di luar kelas yang tentu akan membuat imajinasi siswa menjadi lebih berkembang dibandingkan dengan di dalam kelas. Penelitian ini beranjak dari pokok permasalahan yaitu Apakah pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung pada siswa kelas X MAN Kalimukti tahun pelajaran 2011 / 2012 efektif? Berdasarkan pokok permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas X MAN Kalimukti tahun pelajaran 2011 / 2012. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MAN Kalimukti tahun pelajaran 2011 / 2012 yang berjumlah 161 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sample atau sampel bertujuan. Dengan demikian, sampel penelitian adalah siswa kelas X-4 yang berjumlah 40 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas X-3 yang berjumlah 40 siswa sebagai kelas kontrol. Penggunaan metode penelitian yakni eksperimen semu atau kuasi. Kemudian, data yang digunakan yakni berupa tes, observasi, dan angket. Fungsi dari ketiga data tersebut adalah untuk mengetahui kemampuan siswa terhadap penulisan puisi. Berdasarkan hasil penelitian, baik dari hasil perbandingan tes awal dan tes akhir kelas eksperimen, maupun perbandingan hasil tes awal dan tes akhir kelas kontrol dan kelas eksperimen menunjukkan bahwa pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dinyatakan efektif untuk dijadikan sebagai teknik pembelajaran dalam menulis puisi. Hal itu dapat dibuktikan berdasarkan hasil statistik uji t yaitu : nilai thitung = - 35,091 lebih besar dibandingkan dengan ttabel = 1,994.

i

Ku persembahkan skripsi ini untuk

Ayahanda tersayang (Alm) MAKSUM, S.Pd. yang telah memberikan semangat baik moril, materil maupun spiritual selama beliau masih hidup sampai dengan nafas

terakhirnya.

Ibunda tercinta HESTI RAHAYU yang tidak henti-hentinya memberikan kasih sayang serta spirit dan bimbingan mental yang menjadikan pacuan bagi penulis dalam menyelesaikan karya terbaik ini.

Adinda Muhammad Maulana Rizki yang memberikan warna dalam canda, cita dan cinta dalam sehari-hari.

Dan untuk keluarga besar mimih dan abah sebagai pelabuhan kasih sayang penulis.

Serta keluarga kecil Yayu dan Toding yang menjadi benteng pertahanan dan support mental yang tak henti-hentinya kepada penulis.

iv

MOTTO
Pergunakanlah Masa Mudamu Sebaik Mungkin Karena Masa Tuamu Adalah………… Hasil dari Apa yang Kau Buat Pada Masa Mudamu Dan Waktu Tidak Akan Mungkin Bisa Kembali Lagi

MAN JADA WA JADDA Barang Siapa Yang Bersungguh-sungguh Maka Allah SWT. Akan BersungguhMengabulkannya.

Hal Mudah Akan Terasa Sulit Jika Yang Pertama Yan ang Diipikirkan Adalah Kata Sulit. Yakinlah Bahwa Kita Memiliki Kemampuan Dan Kekuatan.

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pembelajaran Menulis Puisi dengan Menggunakan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung pada Siswa Kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011/2012 beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Cirebon,

Desember 2011

Yang Membuat Pernyataan,

Tomy Indra Gunawan NPM 107050032

LEMBAR PENGESAHAN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGAMATAN OBJEK SECARA LANGSUNG PADA SISWA KELAS X MAN KALIMUKTI PABEDILAN CIREBON TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI diajukan untuk menempuh gelar sarjana pendidikan pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia oleh Tomy Indra Gunawan 107050032 Disetujui dan disahkan oleh Pembimbing I,

Dr. Dede Endang Mascita, M.Pd NIP 19680514 199403 1 003 Pembimbing II,

Sobihah Rasyad, Dra NIP 19581005 198503 2 001 Dekan FKIP Unswagati Cirebon, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

Prof. Dr. H. Rochanda Wiradinata, M.P NIP 19590718 198503 1 004

Jaja, Drs., M.Hum NIP 19660205 199203 1 003

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Allah swt, yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita masih diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan segala aktivitasnya. Solawat serta salam semoga tetap tercurah untuk Nabi Muhammad saw, untuk keluarganya, sahabat-sahabatnya, juga umatnya sampai akhir zaman. Amin. Judul skripsi ini adalah Pembelajaran Menulis Puisi dengan

Menggunakan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung pada Siswa Kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011/2012. Adapun maksud dan tujuan penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjana pendidikan pada Universitas Swadaya Gunung Jati, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Terselesaikannya skripsi ini, tentunya, tidak lepas dari bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Untuk itu dalam kesempatan ini dan dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada nama-nama sebagai berikut. 1. Prof. Dr. H. Rochanda Wiradinata M., M.P, selaku dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unswagati Cirebon. 2. Jaja, Drs., M.Hum, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unswagati. 3. Dr. Dede Endang Mascita, M.Pd, selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, petunjuk serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. ii

4. Dra. Sobihah Rasyad, selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan masukan, arahan, dan bimbingan hingga terselesaikannya skripsi ini. 5. KH. Drs. Usamah Manshur, selaku Kepala MAN Kalimukti dan dewan guru serta staf dan karyawan tata usaha. 6. Alm. ayahanda tersayang dan ibunda tercinta serta adinda yang telah memberikan banyak bimbingan serta memberikan arti kehidupan. 7. Teman-teman dan semua pihak yang dengan penuh perhatian dan dorongan sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik. Semoga amal baik yang diberikan mendapat balasan yang setimpal dari Allah swt. Amin. Dalam penulisan skripsi ini, tentu masih banyak kekurangannya. Untuk itu, penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kebaikan penulisan selanjutnya. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa sebagai reverensi. Terima kasih.

Cirebon, Penulis

Desember 2011

iii

DAFTAR ISI ABSTRAK …………………………………………………………………... i KATA PENGANTAR ……………………………………………………….. ii UNTAIAN PERSEMBAHAN ………………………………………………. iv MOTTO ………………………………………………………………………. v DAFTAR ISI …………………………………………………………………. vi DAFTAR TABEL ……………………………………………………………. x BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ………………………………………………………… 1 1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………… 4 1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………………………. 5 1.4 Manfaat Penelitian ……………………………………………………… 5 1.5 Anggapan Dasar ……………………………………………………… 6 1.6 Hipotesis ………………………………………………………………. 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pembelajaran Menulis Puisi ……………………………………………. 8 2.1.1 Pembelajaran Menulis Puisi Berdasarkan Pendapat Para Ahli … 8 2.1.2 Kriteria Puisi yang Baik 2.1.3.1 2.1.3.2 ……………………………………… 9 2.1.3 Pembelajaran Menulis Puisi Berdasarkan Kurikulum ………… 12 Tujuan Pembelajaran ……………………………………. 12 SK dan KD Pembelajaran Menulis Puisi ……………….. 13 ……..……………………………… 14 ……..………………………. 16

2.2 Menulis Puisi …………………………………………………………… 14 2.2.1 Pengertian Menulis Puisi 2.2.2 Langkah-Langkah Menulis Puisi

2.3 Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung …………………………… 19 vi 2.3.1 Pengertian ………….………………………………………….. 19

2.3.2 Tujuan Pembelajaran Menulis Puisi Menggunakan Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung 2.4.1 Tujuan …………………………. 21 2.4 Desain Pembelajaran …………………………………………………… 22 ………………………………………………………… 22 ……………………………………………………. 23 …………………………………………………… 24 2.4.2 Materi Ajar 2.4.3 Peran Siswa

2.4.4 Peran Guru …………………………………………………….. 24 2.4.5 Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis Puisi dengan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung ….………………………. 25 2.4.6 Penilaian ……………………………………………………… 27

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ……………………………………………………… 28 3.2 Populasi dan Sampel ……………………………………………………..28 3.2.1 Populasi 3.2.2 Sampel ………………………………………………………. 28 ………………………………………………………… 29

3.3 Desain Penelitian ………………………………………………………. 29 3.4 Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………… 30 3.4.1 Tes ……………………………………………………………….. 31 3.4.2 Observasi ……………………………………………………….. 31 3.4.3 Angket …………………………………………………………… 31 3.5 Teknik Pengolahan Data ……………………………………………….. 32 3.5.1 Analisis Data Uji t-test ………………………………………….. 32 3.5.2 Analisis Data Angket Siswa …………………………………….. 32 3.6 Uji Hipotesis …………………………………………………………… 33 3.7 Instrumen Penelitian ……………………………………………………. 33 3.7.1 Instrumen ………………………………………………………. 34 3.7.1.1 Soal Tes ………………………………………………….. 34 3.7.1.2 Aspek dan Bobot Penilaian ………………………………. 34 3.7.2 Instrumen Observasi ……………………………………………. 35

3.7.3 Instrumen Angket ………………………………………………. 39 3.7.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ……………………………. 41 BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA 4.1 Data …………………………………………………………………… 51 4.1.1.1 Proses Pembelajaran di Kelas Kontrol …………………… 51 4.1.1.2 Proses Pembelajaran di Kelas Eksperimen ………………. 52 4.1.2 Data Hasil Observasi …………………………………………… 53 4.1.2.1 Hasil Observasi Siswa …………………………………… 53 4.1.2.2 Hasil Observasi Guru ……………………………….......... 57 4.2 Analisis Data Angket Motivasi Siswa …………………………………. 60 4.2.1 Hasil Respons Motivasi Siswa…………………………………… 61 4.2.2 Analisis Angket Motivasi Siswa ………………………………… 61 4.3 Data Hasil Tes ………………………………………………………….. 83 4.3.1 Pengolahan Hasil Tes …………………………………………… 84 4.4 Analisis Data ……………………………………………………………. 89 4.4.1 Analisis Proses Pembelajaran …………………………………… 90 4.4.2 Analisis Hasil Observasi Siswa dan Guru ………………………. 91 4.4.3 Analisis Hasil Angket Motivasi Siswa …………………………. 91 4.4.4 Analisis Hasil Tes ………………………………………………. 92 4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ………………………………………….. 93 4.6 Hubungan Antara Pembelajaran dan Hasil Belajar …………………….. 94 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ….………………………………………………………… 96 5.2 Saran …………………………………………………………………… 97 Daftar Pustaka Lampiran 4.1.1 Data Proses Pembelajaran ……………………………… ………. 51

Daftar Tabel Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 4.1 Table 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 78 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Data Hasil Tes Awal dan Akhir Pembelajaran Menulis Puisi pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen…………………..83 Paired Samples Statistics…………………………………. Paired Samples Test ……………………………………. 85 86 Jumlah Siswa …………………………………………… Analisis Data ……………………………………………. Klasifikasi Penafsiran Data ……………………………. Hasil Observasi Menulis Puisi Baru di Kelas X3 (Kelas Kontrol) …………………………………………. Hasil Observasi Menulis Puisi Baru di Kelas X4 (Kelas Eksperimen) …………………………………….. Hasil Respons Motivasi Siswa …………………………. Data Motivasi Siswa terhadap Pembelajaran Menulis Puisi Menggunakan Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung … 55 61 53 28 32 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Proses belajar siswa merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun sebuah pemahaman. Untuk itu, peran guru sangat sentral sebagai pemacu semangat (motivator) siswa, baik dalam pembelajaran maupun kegiatan non pembelajaran. Guru juga berperan sebagai pemrakarsa dan fasilitator. Seperti yang tertuang dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan atau yang lebih dikenal dengan KTSP, bahwasannya guru tidak memberikan materi secara utuh lagi, tetapi guru bertindak sebagai fasilitator. Pembelajaran merupakan suatu proses. Proses yang baik akan tercipta hasil yang baik pula. Proses pembelajaran yang baik hanya bisa diciptakan dengan perencanaan yang baik dan tepat (Hakim, 2007 : 1). Untuk itu agar terciptanya pembelajaran yang baik, sebagai pendidik perlu mematangkan perencanaan pembelajaran yang baik dan benar. Isjoni (2010 : 11) menambahkan bahwasannya pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Upayaupaya tersebut dikemas dalam perencanaan pembelajaran yang matang dan kreatif serta imajinatif. Proses keberhasilan sebuah pembelajaran bukan hanya dari proses pembelajaran antara guru dan siswa saja, tetapi metode atau teknik juga menjadi peran penting dalam proses pembelajaran. Penggunaan metode atau teknik yang 1

menarik, kreatif, dan inovatif akan menjadi sebuah pembelajaran yang menyenangkan dan mengena. Dalam pembelajaran bahasa dan sastra ada empat aspek keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek ini sifatnya saling terkait dan tentu erat hubungannya. Rahmanto (2004 : 16-17) menambahkan bahwa mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu peserta didik dalam keterampilan menyimak dengan sedikit ditambah keterampilan berbicara, membaca, dan menulis, yang masingmasing erat hubungannya. Keterkaitan keempat aspek ini berpengaruh besar dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Tanpa pengikutsertaan keempat keterampilan itu pembelajaran bahasa dan sastra menjadi kurang lengkap. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif (Tarigan, 2008 : 3). Dengan menulis, berarti siswa belajar menyampaikan gagasan yang berada dalam pikiran dirinya. Terlebih-lebih dalam pembelajaran menulis kreatif yakni menulis puisi, tentu siswa bukan hanya menyampaikan gagasan yang ada dalam pikirannya saja tetapi juga menyampaikan imaji-imaji dan ide kreatif yang terkadang semua itu muncul dari pikiran dasar ataupun pikiran bawah sadar mereka. Sebenarnya dalam kurikulum siswa terdapat pembelajaran menulis, baik menulis kreatif maupun menulis nonkreatif, semuanya diajarkan sejak sekolah dasar. Untuk itu seharusnya siswa sudah pandai dalam menulis. Namun, pada hakikatnya siswa masih saja mengalami kesulitan dalam menulis, khususnya menulis kreatif yaitu menulis puisi.

Pada kenyataannya menulis puisi itu sesuatu yang mudah. Rohmad (2007 : 6) mengatakan bahwa menulis puisi itu tidak mesti memiliki jiwa seni atau perlu memiliki daya sastra yang tinggi. Sebab pada kenyataannya orang menangis, bersedih, tertawa dan gembira pun bisa menciptakan sebuah puisi lewat perasaan yang sedang dialaminya. Tidak seperti yang dikatakan banyak orang bahwa menulis puisi sama halnya dengan belajar ilmu eksak. Pembelajaran menulis puisi memang menjadi sesuatu yang sulit bagi siswa. Semua kesulitan itu terjadi karena siswa sulit untuk menemukan ide dan gagasan yang akan menjadi awal dari penulisan puisi mereka. Ditambah kurang kreatifnya guru terhadap penggunaan metode atau teknik pada pembelajaran menulis puisi sehingga siswa menjadi jenuh dan bosan pada pembelajaran menulis puisi. Oleh karena itu, guru dituntut kreatif dalam penggunaan metode atau teknik pada pembelajaran menulis puisi. Dengan harapan pembelajaran menulis puisi akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan memudahkan siswa. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, pada kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon dan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, rata-rata kemampuan anak dalam menulis puisi itu masih rendah. Hal itu dapat dibuktikan berdasarkan rata-rata nilainya yang hanya mencapai 60 dari kriteria ketuntasan minimal yakni 70. Faktor utama yang menyebabkan masih rendahnya kemampuan menulis puisi pada siswa MAN Kalimukti adalah penggunaan metode yang kurang tepat dalam pembelajaran. Pada pembelajaran menulis puisi di MAN

Kalimukti masih menggunakan metode ceramah dengan cara siswa diberikan materi pengertian puisi dan salah satu contoh puisi. Padahal, penggunaan metode ceramah menuntut konsentrasi yang terus menerus dan tentunya membatasi siswa berpartisipasi dalam pembelajaran, yang tentunya bertolak belakang pada peran guru dalam kurikulum KTSP yaitu sebagai fasilitator. Dengan metode ceramah tersebut, siswa akan merasa jenuh dan bosan. Pada proses kegiatan ini, siswa diberi tugas untuk membuat puisi, kemudian pada minggua selanjutnya tugas dikumpulkan. Dengan rangkaian kegiatan yang seperti ini tentu siswa akan merasa jenuh dan tertekan sehingga sulit dalam menemukan ide dikarenakan tidak adanya bimbingan secara langsung oleh guru dan akhirnya siswa merasa kesulitan dalam menulis puisi. Dari permasalahan tersebut, peneliti mencoba menerapkan teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi ini dalam penelitian yang berjudul “Pembelajaran Menulis Puisi dengan Menggunakan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung pada Siswa Kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011/2012”.

1.2 Rumusan Masalah 1) Apakah penggunaan teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas X MAN Kalimukti efektif? 2) Apakah teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi dapat memotivasi siswa dalam belajar menulis puisi?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis dapat merumuskan tujuan penelitian ini adalah
1) untuk mengetahui keefektivitasan pembelajaran menulis puisi dengan

menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung; 2) untuk mengetahui motivasi siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dibuktikan melalui hasil lembar angket.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru, dan penulis.
1) Bagi Siswa

Penelitian ini bermanfaat bagi siswa karena secara langsung atau tidak langsung menghilangkan persepsi akan kejenuhan dan kebosanan siswa terhadap pembelajaran menulis, khususnya menulis puisi. Selain itu, menghilangkan anggapan bahwa menulis puisi itu sulit.

2) Bagi Guru

Penelitian

ini

memberikan

inspirasi

dan

alternatif

terhadap

pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung.

3) Bagi Penulis

Dengan ini penulis dapat mengembangkan wawasan dan pengalaman di bidang penelitian, khususnya mengenai pembelajaran sastra.

1.5 Anggapan Dasar

Anggapan dasar penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Menulis puisi merupakan suatu kompetensi yang perlu diajarkan kepada siswa. 2) Menulis puisi merupakan sesuatu yang sulit bagi siswa dalam pembelajaran. Kebanyakan dari siswa, belajar menulis puisi sama halnya dengan belajar ilmu eksak. 3) Teknik pengamatan objek secara langsung merupakan salah satu teknik pembelajaran yang bertolak pada apa yang siswa lihat (objek) untuk kemudian diamati dan diekspresikan siswa melalui sebuah kata-kata yang bernilai estetik dan puitis.

1.6 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut. Ho : Pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung pada kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon tidak efektif. Hi : Pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung pada kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon efektif.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran Menulis Puisi 2.1.1 Pembelajaran Menulis Puisi Berdasarkan Pendapat Para Ahli Pembelajaran menulis puisi merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dipelajari oleh siswa karena dengan menulis puisi banyak hal yang dilakukan, dari menuangkan sebuah ide dan gagasan hingga menuliskan imajinasi ke dalam bentuk kata-kata. Hutabarat (2010 : 4) menambahkan dengan melaksanakan pembelajaran menulis puisi berarti siswa membuka perspektif baru, menawarkan kenyataan yang unik daripada kenyataan keseharian yang cenderung instan. Bukan hanya itu melakukan pembelajaran menulis puisi juga membenahi sistem penalaran dan logika siswa saat melihat dan menganalisis realitas. Pembelajaran menulis puisi dilakukan secara bertahap sampai menciptakan hasil yang memuaskan. Munandar dalam Sahriadi (2011) menyimpulkan ada empat tahap dalam proses pemikiran kreatif untuk pembelajaran menulis puisi, yaitu : 1) tahap persiapan dan usaha, 2) tahap inkubasi atau pengendapan, 3) tahap iluminasi, 4) tahap verifikasi.

8

Pada tahap persiapan dan usaha siswa akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Makin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki siswa mengenai masalah atau tema yang akan dikembangkan, makin memudahkan dan melancarkan pelibatan dirinya dalam proses tersebut. Tahap inkubasi atau pengendapan, setelah semua informasi dan pengalaman yang dibutuhkan serta berusaha dengan pelibatan sepenuhnya untuk menimbulkan ide-ide sebanyak mungkin, maka biasanya diperlukan waktu untuk mengendapkan semua gagasan tersebut, diinkubasi dalam alam prasadar. Tahap iluminasi, siswa akan mencoba mengekspresikan masalah tersebut dalam bentuk puisi. Tahap selanjutnya adalah tahap verifikasi yaitu siswa melakukan penilaian secara kritis terhadap karyanya sendiri. Verifikasi juga dapat dilakukan dengan cara membahas atau mendiskusikannya dengan temannya untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan karya tersebut maupun karya selanjutnya.

2.1.2 Kriteria Puisi yang Baik Sebuah puisi akan lebih disebut puisi karena bentuk dan pembacaannya; dan itu yang menjadikan letak perbedaan yang jelas dari karya sastra lain (Djuanda&Iswara, 9 : 2006). Aminudin (136 : 2009) untuk mengatakan sebuah puisi itu baik atau kurang baik, maka puisi tersebut harus memiliki unsur sebagai berikut : 1) bunyi, 2) diksi, 3) larik atau baris, 4) bait, dan 5) tipografi.

1) Bunyi Bila kita berbicara mengenai bunyi dalam puisi maka kita harus memahami beberapa konsep berikut. Rima Secara umum rima merupakan persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, maupun akhir baris puisi. Sedangkan Irama merupakan nada dari sebuah puisi (Siswanto, 2008 : 122). Faktor kata-kata disusun sesuai dengan rimanya adalah untuk mempermudah pengucapan, nyaman didengar, dan mudah diingat (Rohmad, 2007 : 4). Irama Irama merupakan paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras lunak, tinggi rendah, panjang pendek, dan kuat lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta makna tertentu (Aminudin, 2009 : 137). Bunyi itu memiliki peranan dalam sebuah puisi yakni sebagai pencipta keindahan lewat unsur musikalitas atau kemerduan, untuk mengetahui makna yang terkandung dari sebuah puisi yang diciptakan penyairnya, dan untuk mengetahui perwujudan batin yang diciptakan penyair lewat sebuah puisi.

2) Diksi Pemilihan kata untuk menyampaikan penggunanya itu disebut diksi. Diksi juga berarti kemampuan untuk menemukaan bentuk yang sesuai dengan situasi dan sesuai pula dengan nilai rasa (Wiyanto, 2005 48-49). Diksi itu

merupakan pemilihan kata yang tepat agar terciptanya kata yang puitis dalam sebuah puisi, sehingga kata-kata itu seakan-akan hidup. Peranan diksi dalam puisi sangat penting karena kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi. Untuk itu sebuah puisi harus memiliki kata-kata yang bersifat estetik (memiliki keindahan). Dalam menciptakan kata yang estetik perlunya pemilihan kata yang baik sehingga terciptanya kata-kata yang penuh dengan pengemasan baik.

3) Larik atau Baris Sebenarnya istilah larik atau baris dalam puisi, pada dasarnya sama dengan istilah kalimat dalam prosa. Namun meskipun sama tapi tidak seutuhnya disamakan begitu saja. Hal itu karena bila di dalam prosa, kalimat akan diawali dengan huruf besar dan diakhiri dengan tanda baca. Hal yang seperti itu tidak selamanya dijumpai dalam sebuah puisi. Selain itu, struktur kalimat dalam sebuah puisi sebagai suatu baris, tidak selamanya sama dengan struktur kalimat dalam karya prosa. Seperti halnya kalimat, larik pada umumnya merupakan satuan yang lebih besar dari pada kata sebagai suatu kelompok kata yang telah mendukung satu makna tertentu (Aminudin, 2009 144). Maka dari itu sebagai salah satu elemen dari puisi, larik meskipun pada umumnya merupakan satu kesatuan yang lebih besar dari kata, pertalian makna antara larik yang satu dengan yang lain sangat erat hubungannya.

4) Bait Satuan yang lebih besar dari larik biasa disebut dengan bait. Bait adalah kesatuan larik yang berada dalam satu kelompok dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya (Aminudin, 2009: 146). Keberadaan bait sebagai kumpulan larik tidaklah mutlak, karena tidak banyak juga puisi-puisi yang tidak sesuai dengan ketentuan bait pada umumnya. Peranan terpenting bait dalam puisi adalah sebagai pembentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya.

5) Tipografi Peranan tipografi dalam puisi yakni untuk menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat diamati secara visual. Selain untuk menampilkan aspek artistik visual, juga untuk menciptakan nuansa makna dan suasana tertentu. Di sisi lain, tipografi juga berperan dalam menunjukkan adanya loncatan gagasan serta memperjelas adanya satuan-satuan makna tertentu yang ingin dikemukakan penyairnya.

2.1.3 Pembelajaran Puisi Berdasarkan Kurikulum 2.1.3.1 Tujuan Pembelajaran Di dalam kurikulum 2006 atau lebih dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), bahwasannya bahasa dan sastra memiliki dua sasaran, yakni kemampuan dalam bidang kebahasaan dan kemampuan dalam

bidang kesastraan siswa. Secara umum tujuan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah sebagai berikut. 1) Siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara. 2) Siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan. 3) Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial. 4) Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (menulis dan berbicara) 5) Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra seperti cerpen, puisi, dan prosa untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. 6) Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. 2.1.3.2 SK dan KD Pembelajaran Menulis Puisi Standar kompetensi merupakan dasar dalam setiap awal sebuah pembelajaran. Begitu pula kompetensi dasar yang menjadi tolak ukur atau acuan dalam pembelajaran setelah standar kompetensi. Untuk itu tanpa adanya kedua penunjang ini, pembelajaran tidak akan berjalan sesuai dengan sistematika

pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada hakikatnya, kedua komponen ini bertolak pada kurikulum. Dalam pembelajaran menulis puisi sebenarnya terdapat dua kompetensi dasar yakni : 1) menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima; 2) menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima. Pada kesempatan ini peneliti akan menggunakan kompetensi dasar yang kedua.

2.2 Menulis Puisi 2.2.1 Pengertian Menulis Puisi Sebenarnya menulis puisi termasuk jenis keterampilan karena menulis puisi merupakan menulis kreatif. Seperti halnya keterampilan yang lain pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih. Makin sering belajar dan makin giat berlatih tentu makin cepat terampil dalam menulis sebuah puisi (Wiyanto, 2005 : 48). Menulis puisi merupakan sesuatu yang sangat sulit menurut anggapan banyak orang. Menurut mereka menulis puisi itu harus memiliki jiwa seni dan memiliki daya sastra yang tinggi agar terciptanya puisi yang memiliki nilai estetik. Namun anggapan semua itu bisa dibenarkan namun juga bisa dikatakan kurang tepat. Rohmad (2007 : 6) mengatakan bahwa menulis puisi itu tidak mesti memiliki jiwa seni atau perlu memiliki daya sastra yang tinggi. Namun pada kenyataannya orang menangis, bersedih, tertawa, dan gembira pun bisa menciptakan sebuah puisi lewat perasaan yang sedang dialaminya. Jadi pada dasarnya menulis puisi itu tidak memerlukan keahlian khusus. Hutabarat (2010 :

17) menambahkan bahwa menulis puisi itu hal mudah, ringan, dan menyenangkan. Menulis puisi itu menyampaikan gagasan yang ada di dalam pikiran ke dalam pikiran dan hati pembaca. Dengan demikian diharapkan tidak ada anggapan lagi bahwa menulis puisi itu hal sulit seperti yang banyak orang katakan. Menulis puisi berarti memaparkan sebuah kisah yang menawarkan suatu teologi, ideologi, dan sesuatu yang mencerahkan ataupun menghentakkan hati. Di dalam penulisannya memuat unsur-unsur penting yaitu harus indah, baik dalam kriteria umum alias puitik, bukan karangan ilmiah, dan merupakan bahasa hati (Thoha, 2009 : 29). Menulis puisi bisa dianggap sama dengan berbicara, karena sama-sama memberdayakan fungsi bahasa. Menulis puisi juga berarti menumbuhkan ide-ide yang keluar dari dalam pikiran kita melalui imajinasi (Aspahani, 2007 : 1). Thoha (2009 : 43) berpendapat bahwa, terdapat tiga mainstream paradigmatik dalam penulisan puisi, yakni naratif, simbolik, dan filosofis. Masing-masing paradigma tersebut, memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri dan selain ketiga paradigma tersebut, biasanya ada pula karakteristik puisi yang menggabungkan ketiga paradigma tersebut, yakni paradigma integratif. Pada dasarnya kelebihan dan kekurangan atas penciptaan sebuah puisi tergantung kepada daya imajinasi seorang penyair akan kebiasaannya menciptakan sajak. Semakin sering penyair menciptakan sebuah sajak maka semakin bermutulah hasil sajak-sajaknya itu. Begitu pula sebaliknya, semakin

jarang penyair menciptakan sajak maka semakin kurang bermutulah sajak-sajak yang diciptakannya.

2.2.2 Langkah-langkah dalam Menulis Puisi Pada dasarnya ketika kita akan menulis puisi, yang pertama dilakukan adalah siap. Siap dalam artian kesiapan kita ketika hendak menulis sebuah puisi. Apa jadinya kalau sebuah puisi dihasilkan dengan setengah hati maka akan menjadi sebuah puisi yang kurang nilai estetik. Hal kedua yang dilakukan adalah mencari ide. Proses penemuan ide puisi bisa datang dari mana saja, bisa dari sebuah objek yang dilihat, peristiwa yang ada serta kejadian-kejadian di sekitar kita. Hal ketiga yang dilakukan adalah memerhatikan keadaan sekitar (peristiwa). Peristiwa atau kejadian yang terkadang sepintas kita temukan bisa juga menjadi inspirasi awal dalam penulisan sebuah puisi. Meski puisi merupakan laporan dari peristiwa dan kejadian yang kita lihat, tetapi puisi bukan sebuah reportase. Setelah ketiga hal tersebut dilakukan, barulah kita memulai menulis puisi yaitu bisa dengan memulai menulis judul terlebih dahulu, kemudian menulis kata demi kata hingga tersusun dalam baris dan kemudian menjadi bait demi bait. Ketika proses penciptaan puisi, jangan sampai lupa yaitu menggunakan bahasa perumpamaan atau majas serta dalam penulisan puisi, kita juga harus membayangkan apabila puisi kita dibaca oleh orang lain (Aspahani, 2007 : 39-43). Wiyanto (2005 : 48) menyatakan bahwa dalam penulisan sebuah puisi ada dua tahapan awal yang harus dilakukan. Pertama adalah menentukan sebuah

tema (mengungkapkan pokok persoalan yang akan kita kemukakan dalam bentuk puisi). Pada hakikatnya penciptaan sebuah puisi bisa dimulai dengan menuliskan judul terlebih dahulu bisa juga dengan menentukan tema terlebih dahulu. Hal ini tergantung pada kebutuhan puisi yang akan diciptakannya. Tema itu lahir atau tercipta dari berbagai hal, apapun bisa menjadi tema karena tema itu lahir dari apa yang kita lihat (objek) seperti lingkungan, peristiwa ataupun kejadian. Hal kedua yang dilakukan adalah mengembangkan tema tersebut menjadi pokok pembicaraan. Mengembangkan hal-hal apa yang akan kita kemukakan. Dalam pengembangan itu, dicari melalui pengamatan atau pemikiran. Pengembangan itu meliputi beberapa hal sehingga terciptanya sebuah puisi yang indah, antaranya sebagai berikut. 1. Diksi Pemilihan kata untuk menyampaikan penggunanya itu disebut diksi. Diksi juga berarti kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan sesuai pula dengan nilai rasa (Wiyanto, 2005 : 48-49). Diksi itu merupakan pemilihan kata yang tepat agar terciptanya kata yang puitis dalam sebuah puisi sehingga kata-kata itu seakan-akan hidup. Peranan diksi dalam puisi sangat penting karena kata-kata sangat berperan dalam puisi. Kata merupakan salah satu bahasa ungkap manusia dalam

kehidupannya, tanpa kata manusia akan menjadi bisu (Rohmad, 2007 : 7).

Karena pada hakikatnya dalam puisi imajis, kata-kata sebagai pendukung dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi seorang penyair (Sayuti, 2010 : 143). Dengan diksi, kita akan mengetahui makna denotatif dan konotatif dalam sebuah puisi yang kita temui atau kita tulis. Di sisi lain dengan adanya diksi, kita juga dapat menemukan penyimpangan kalimat atau biasa dikatakan penggunaan kalimat dengan pola menyimpang (Djuanda, Iswara, 2006 : 61). Diksi merupakan pemilihan kata yang dilakukan oleh penyair untuk mengetengahkan perasaan-perasaan yang bergejolak dalam diri seorang penyair (Sayuti, 1985 : 62).

2. Majas Sesuai dengan hakikat puisi sebagai pemusatan dan pemadatan ekspresi, bahasa kias (figurative) dalam puisi berfungsi sebagai sarana pengendapan sesuatu yang berdimensi jamak dalam bentuk yang sesingkatsingkatnya. Di samping itu, sebagai akibat bentuknya yang singkat, bahasa kias (figurative) juga berfungsi membangkitkan tanggapan pembaca (Sayuti, 2010: 195). Majas ini yang menjadi bagian dari kepuitisan sebuah puisi. Puitis tidaknya sebuah puisi tergantung banyak tidaknya kita menggunakan kata-kata yang bermajas. Penggunaan majas bertujuan agar dalam karya sastra yang

diciptakannya memiliki nilai estetik, tidak biasa-biasa saja. Dengan majas pun pengucapan sajak akan menjadi lebih indah, enak didengar dengan makna yang tepat. Majas atau bahasa kias di dalam sebuah puisi itu selain sebagai penggugah

tanggapan pembaca, juga untuk mengetengahkan sesuatu yang berdimensi banyak dalam bentuk yang sesingkat-singkatnya (Djuanda, Iswara, 2006 : 66).

3. Rima dan Irama Secara umum rima merupakan persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, maupun akhir baris puisi. Sedangkan Irama merupakan nada dari sebuah puisi (Siswanto, 2008 : 122). Faktor kata-kata disusun sesuai dengan rimanya adalah untuk mempermudah pengucapan, nyaman didengar dan mudah diingat (Rohmad, 2007 : 4). Djuanda dalam kesusastraan Indonesia, irama merupakan turun naiknya suara teratur sedangkan rima adalah persamaan bunyi. Irama dibangun salah satunya dengan paralelisme sedangkan rima dibangun dari persamaan bunyi di awal, tengah dan akhir baris.

2.3 Teknik Pengamatan Objek secara Langsung 2.3.1 Pengertian Pada hakikatnya keberhasilan sebuah pembelajaran bertumpu pada keberhasilan pencapaian dari sebuah metode yang terfokus pada tujuan pembelajaran, dan penunjangnya adalah teknik dan taktik dalam

mengimplementasikan sebuah metode (Endah, dkk, 2009 : 2). Teknik pembelajaran tidak akan berhasil apabila tidak ada metode yang benar-benar cocok untuk pembelajaran tersebut. Untuk itu peneliti menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung.

Teknik pengamatan objek secara langsung merupakan sebuah metode yang dilakukan dengan mengamati sebuah objek secara langsung. Proses pengamatan objeknya itu bisa sebuah benda, peristiwa, atau kejadian secara langsung. Dalam pengamatan, objeknya itu bervariasi sesuai dengan tema pembelajaran. Teknik ini dapat dijalankan secara perseorangan maupun kelompok (Suyatno, 2004 : 82). Teknik pengamatan objek secara langsung ini dekat sekali dengan alam lingkungan sekitar. Pada kenyataannya siswa menyukai alam sebagai tempat dalam proses pembelajarannya. Realita serta apa yang dilihat akan jauh lebih diingat oleh siswa, ketimbang sebuah gambaran abstrak yang diberikan guru dalam proses pembelajaran yang hanya berkutat dengan berceramah. Untuk itu siswa tentu akan jauh lebih peka terhadap apa yang dirasakan dan dilihatnya secara langsung oleh dirinya ketimbang melalui lamunan-lamunannya. Proses pembelajaran ini berlangsung tidak hanya berkutat di dalam kelas saja, namun akan banyak menggunakan waktu di luar kelas. Dengan melakukan pembelajaran di luar kelas tentu akan menambah hasil imaji siswa terhadap objek-objek yang dilihat atau dirasakannya. Teknik ini sangat bermanfaat dalam pembelajaran menulis puisi (Sudjana&Rivai, 2010 : 210). Teknik pengamatan objek secara langsung ini dapat menggugah siswa dalam berekspresi. Ekspresi itu dituangkan dalam sebuah puisi dengan cara siswa mengamati sebuah objek alam, misalnya pohon, langit, atau peristiwa dan kejadian.

2.3.2 Tujuan Pembelajaran Menulis Puisi dengan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung Banyak tujuan yang didapat dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung ini. Namun, tujuan terpenting penggunaan teknik pengamatan objek secara langsung ini yakni agar siswa dapat menulis puisi dengan cepat dan tepat berdasarkan objek yang dilihatnya secara langsung. Siswa menulis puisi berdasarkan objek langsung yang dilihatnya. Siswa diajak ke luar kelas untuk melihat objek yang mereka senangi kemudian menuliskannya ke dalam puisi. (Suyatno, 2004 : 146). Banyak keuntungan yang diperoleh dari melakukan pembelajaran di luar kelas. Misalnya, untuk menghilangkan tingkat kejenuhan siswa selama proses belajar mengajar di kelas, kegiatan belajar akan lebih menarik, hakikat belajar akan lebih bermakna dengan siswa dihadapkan pada objek-objek, peristiwa, serta kejadian yang nyata (Sudjana&Rivai, 2010 : 208). Dari objek tersebut siswa dapat membuat tulisan yang imajinatif berdasarkan objek yang dilihatnya. Objek-objek ini bervariasi sesuai dengan tema yang akan diterapkan dalam pembelajaran tersebut. Dalam teknik ini diharapkan sekali penentuan objek yang ditunjuk oleh guru sesuai dengan objekobjek yang berada di sekitar sekolah karena pada hakikatnya apabila penentuan tema sesuai dengan objek-objek yang ada dan eksplisit maka akan lebih mempermudah siswa dalam membuat sebuah puisi (Suyatno, 2004 : 82).

2.4 Desain Pembelajaran

2.4.1 Tujuan Keterampilan menulis puisi wajib dikuasai oleh siswa karena dengan menulis puisi siswa dapat mengekspresikan pikiran, perasaaan, pengalaman, dan imajinasinya melalui kegiatan menulis puisi secara kreatif. Hutabarat (2010 : 9) menambahkan menulis puisi wajib karena bertujuan sebagai berikut. 1) Agar siswa dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan serta pengalaman yang dimilikinya ke dalam bentuk sajak-sajak puisi. 2) Dengan menulis puisi berarti siswa menyalurkan imajinasi yang dimilikinya ke dalam proses berpikir yang kreatif. 3) Proses pengimajian atau pengembangan pengalaman lahir dan batin merupakan awal dari proses pendewasaan siswa dalam dirinya. 4) Proses berpikir kreatif tersebut kemudian dilanjutkan dengan

pengekspresian imajinasi ke dalam rangkaian kata-kata yang disebut dengan istilah puisi. 5) Membenahi sistem penalaran atau logika siswa saat melihat dan menganalisis realitas. 6) Siswa akan lebih jernih dan sistematis nalar bepikirnya kalau mereka terbiasa menuliskan imajinasi dan impresi. 7) Dengan menulis puisi, maka akan terbukanya perspektif baru,

menawarkan kenyataan dari lapis yang lebih dalam, lebih tajam, dan lebih unik daripada kenyataan keseharian yang cenderung instan dan binal.

8) Dengan menulis puisi, maka akan menyadarkan siswa bahwa kenyataan hidup itu sedemikian luas dan dalam serta kenyataan yang ada pada diri manusia juga begitu kompleks. 9) Dengan menulis puisi akan mengantarkan otak siswa pada batas paling jauh dari imajinasinya dan; 10) Dengan puisi akan megajarkan siswa untuk lebih rendah hati melihat dirinya sendiri. Jadi, pada dasarnya tujuan pembelajaran menulis puisi itu sangat banyak fungsinya bagi siswa di sekolah. Seperti yang telah dipaparkan oleh Hutabarat (2010 : 9) bahwa dengan menulis puisi, siswa menjadi terbuka imajinasinya, mengajarkan sifat rendah hati, mengajarkan arti luasnya sebuah kehidupan dan masih banyak lagi yang didapat dari pembelajaran menulis puisi.

2.4.2 Materi Ajar Materi ajar merupakan bahan utama sebagai informasi, alat, dan acuan dalam sebuah perencanaan pembelajaran agar terciptanya pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Pada kesempatan ini materi ajar yang akan disampaikan meliputi beberapa hal yakni, mengenai kriteria puisi yang baik dan contoh puisi dengan memperhatikan bait, rima, dan irama, dan cara menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung.

2.4.3 Peran Siswa Dalam proses pembelajaran, siswa merupakan subyek yang terlibat dalam proses tersebut. Tindakan dan perilaku siswa adalah hakikat dari belajar. Dimyati & Mudjiono (2006 : 7) menambahkan peran siswa adalah bertindak belajar, yaitu mengalami proses belajar, mencapai hasil belajar, dan menggunakan hasil belajar yang digolongkan sebagai dampak pengiring. Dengan belajar, maka kemampuan mental kita akan semakin meningkat. Hal itu sesuai dengan perkembangan siswa yang beremansipasi diri sehingga ia menjadi utuh dan mandiri. Jadi, dengan belajar seseorang akan memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.

2.4.4 Peran Guru Dalam proses pelaksanaan pembelajaran, guru berperan memberikan informasi mengenai pembelajaran menulis puisi serta penggunaan teknik pengamatan obyek secara langsung. Ketika siswa telah mampu dan memahami pembelajaran, kemudian siswa melaksanakan tugas yang diberikan. Di sini guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pada akhirnya ketika siswa telah mampu mengerjakan dan melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru, siswa diberikan kesempatan untuk melaporkan hasil kerjanya.

2.4.5 Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis Puisi dengan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran menulis puisi ini terbagi menjadi dua langkah yakni : a) Langkah persiapan dan; b) Langkah pelaksanaan (Suyatno, 2004 : 146). Adapun secara menyeluruh dari dua langkah di atas adalah sebagai berikut. a. Langkah Persiapan Ada beberapa hal yang harus ditempuh pada langkah persiapan ini, yaitu sebagai berikut. 1) Guru menentukan tujuan yang diharuskan dicapai para siswa. 2) Menentukan objek yang akan diamati. Dalam hal ini guru menentukan objek yang sekiranya cocok untuk pembelajaran menulis puisi. Diusahakan objek yang diamati adalah objek yang dekat dengan lingkungan sekolah agar tidak membutuhkan waktu yang lama. 3) Menentukan cara belajar siswa dalam mengamati objek. Dengan itu siswa dapat bekerja dengan baik dan dapat mengerjakan sesuai dengan yang diharapkannya. b. Langkah Pelaksanaan pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Pada langkah ini dilakukan kegiatan pembelajaran di tempat objek yang telah dipilih. 1) Siswa mengamati objek secara langsung yang berada di halaman sekolah (MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon). Objek yang diamati oleh siswa, berupa objek nyata seperti pepohonan, bebatuan, pot

bunga, bunga, rumput ilalang, tiang bendera, langit, awan dll. Bisa juga berupa objek kasat mata yang dirasakan siswa, seperti angin, dll. 2) Kemudian siswa mengungkapkan apa yang dilihat dan dirasakan oleh siswa pada saat melakukan pengamatan terhadap objeknya itu. 3) Pengungkapan perasaan atau objek yang dilihatnya dituangkan dalam kata-kata serta bahasa yang puitis. Misalnya, seperti puisi Sutan Takdir Alysahbana yang berjudul Pohon Beringin. POHON BERINGIN Tinggi melangit puncakmu bermegah, Melengkung memayung daunmu bodi Berebut akar mencecah tanah Masuk membenam ke dalam bumi Lemah mendesir daunmu bernyanyi Gemulai berbuai dibelai angin Nikmat lindap menyerap di kaki Mengundang memanggil leka berangin Puisi di atas menggambarkan keadaan luar dari pohon beringin. Di sini penyair mengemasnya dengan bahasa yang penuh makna dan nilai estetik serta puitik. 4) Setelah melakukan pengamatan objek dan mengerjakan yang ditugaskan oleh guru yaitu siswa menulis puisi berdasarkan objek secara langsung, siswa diharapkan untuk kembali ke kelas. 5) Dalam kelas tersebut, guru mencoba melihat hasil karya siswa dengan melihat puisi yang telah dituliskan oleh siswa.

6) Agar seluruh siswa mengetahui karya yang telah ditulisnya, maka guru menyuruh salah satu siswa untuk membacakan hasil puisinya itu. Setelah itu siswa yang lainnya menilai atau mengoreksi pekerjaan temannya.

2.4.6 Penilaian Dalam setiap kegiatan pembelajaran tentu perlu adanya penilaian. Fungsi dari penilaian tersebut untuk mengukur hasil dari proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru. Penilaian yang dilakukan oleh peneliti pada pembelajaran menulis puisi memiliki lima aspek yang dinilai, yakni : 1) Bunyi. Dengan berbicara bunyi berarti kita menilai tentang rima dan irama. Rima berarti menilai persamaan bunyi, sedangkan irama berarti menilai tinggi rendahnya nada yang dihasilkan dari sebuah puisi. 2) Kata. Kata merupakan bagian terpenting dalam sebuah puisi, tanpa kata maka tidak ada puisi. Pemilihan-pemilihan kata yang tepat juga akan berpengaruh terhadap hasil dari sebuah puisi yang diciptakan. 3) Larik atau baris. Sebuah puisi harus memiliki baris. Semua itu untuk membedakan antara sebuah puisi dan prosa. Baris atau larik sebuah puisi selalu memiliki makna. 4) Bait. Setelah baris tentu ada bait, agar terciptanya puisi yang rapi. Bait berfungsi untuk membedakan makna dalam setiap larik dalam puisi. 5) Tipografi. Peranan tipografi ini berfungsi untuk menampilkan unsur visual serta untuk terciptanya makna dalam setiap kata-katanya sehingga menjadikan sebuah puisi lebih memiliki nilai keindahan atau biasa disebut dengan estetik.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu. Metode penelitian ini dikatakan semu atau kuasi karena bukan merupakan eksperimen murni, tetapi seperti murni, seolah-olah murni. Karena berkenaan dengan pengontrolan variabel yang kemungkinan sukar dilakukan dalam eksperimen murni. Eksperimen semu dapat mengontrol satu variabel saja (Sukmadinata, 2010 : 207).

3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi

Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011 / 2012 yang berjumlah 161 siswa. Tabel 3.1 Jumlah Siswa Kelas X MAN Kalimukti Tahun Pelajaran 2011 / 2012
No 1 2 3 4 Kelas X1 X2 X3 X4 Jumlah Siswa Jumlah Siswa 40 41 40 40 161

28

3.2.2

Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti (Riduwan, 2010: 56). Dalam pengambilan sampel, yang dilakukan oleh peneliti kali ini adalah dengan menggunakan sampel bertujuan (purposive sample). Pengambilan sampel bertujuan (purposive sample) ini dilakukan karena berdasarkan pertimbangan kelas-kelas yang memiliki nilai cukup baik dan nilai kurang baik terhadap pembelajaran menulis puisi. Semua itu diketahui berdasarkan nilai tes awal yang dilakukan sebelum penelitian. Setelah dilakukan pertimbangan, akhirnya terpilih kelas X3 sebagai kelompok kontrol karena memiliki nilai yang cukup baik; dan kelas X4 sebagai kelompok eksperimen yang memang memiliki nilai kurang baik dalam pembelajaran menulis puisi. Jumlah siswa pada kelas X3 (kelompok kontrol) adalah 40 siswa, dan jumlah siswa di kelas X4 (kelompok eksperimen) adalah 40 siswa.

3.3 Desain Penelitian

Desain yang digunakan adalah nonequivalent control group design menurut Sugiyono (2009 : 116). Artinya, penelitian ini selain kelompok eksperimen ada juga kelompok lain sebagai pembanding yang disebut kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan berupa pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, sedangkan kelompok control yang tidak diberi perlakuan melakukan pembelajaran seperti biasanya menggunakan metode ceramah.

Pola ∶

Keterangan : E K O1 O2 O3 O4 X : Kelompok eksperimen : Kelompok Kontrol : Hasil tes awal kelompok eksperimen : Hasil tes akhir kelompok eksperimen : Hasil tes awal kelompok kontrol : Hasil tes akhir kelompok kontrol : Perlakuan (treatment)

(Sugiyono, 2009 : 116)

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini ada tiga jenis teknik pengumpulan data yang digunakan yakni : a) tes, b) observasi, dan c) angket (kuisoner). Ketiga jenis data ini digunakan karena peneliti ingin mengetahui kemampuan siswa terhadap penulisan puisi yang dibuktikan lewat nilai yang dihasilkan siswa. Kemudian, observasi digunakan untuk mengamati siswa dan guru dalam proses pembelajaran serta angket untuk mengetahui motivasi siswa dalam menulis puisi setelah diberi perlakuan.

3.4.1

Tes

Digunakannya teknik pengumpulan data berupa tes dalam penelitian ini berfungsi untuk mengetahui kemampuan siswa terhadap pembelajaran menulis puisi, baik sebelum diberi perlakuan maupun setelah diberi perlakuan. Tes yang peneliti gunakan dalam penelitian ini berupa uraian bebas yang berisi pertanyaan yang jawabannya berupa puisi yang sesuai dengan objek yang diamati.

3.4.2

Observasi

Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran dalam penelitian ini, peneliti menggunakan lembar observasi. Lembar observasi ini berfungsi untuk mengamati secara langsung kegiatankegiatan yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran. Dengan penggunaan lembar observasi ini tentu proses pembelajaran menjadi lebih terorganisasi dan terkontrol dengan baik.

3.4.3

Angket

Penggunaan angket di sini bertujuan untuk mengetahui motivasi siswa terhadap pembelajaran menulis puisi setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, yang sebelumnya memang pembelajaran menulis puisi ini kurang diminati oleh siswa. Untuk itu, penggunaan angket sangat penting dalam penelitian ini serta penggunaan angket ini sejalan dengan rumusan masalah yang peneliti ajukan. Penggunaan angket ini juga berfungsi untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik

pengamatan objek secara langsung. Dengan adanya angket, penelitian menjadi lebih mudah dan memperkuat data yang diperoleh dari lapangan melalui instrumen penelitian.

3.5 Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data yang akan dilakukan oleh peneliti meliputi beberapa aspek, yaitu sebagai berikut. Tabel 3.2 Analisis Data
No 1 2 3 Tes Observasi Angket Instrumen Data Angka / Nilai Lembar Observasi Lembar Angket Analisis Statistik Deskripsi Centang

3.5.1

Analisis Data Uji t-test

Data dari instrumen berupa tes yang terkumpul kemudian diolah dengan uji statistik uji t (t-test) penghitungannya menggunakan SPSS 15.0 sebagai cara untuk menguji kesignifikansian perbedaan mean antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

3.5.2

Analisis Data Angket Siswa

Untuk mengukur data angket digunakan rumus sebagai berikut.
P= 100%

Keterangan : P : Persentase alternatif jawaban

f n

: Alternatif jawaban : Jumlah sampel atau siswa

Tabel 3.3 Klasifikasi Penafsiran Data
Persentase (%) 0 1 – 25 26 – 49 50 51 – 75 76 – 99 100 Penafsiran Data Tidak ada Sebagian kecil Hampir setengahnya Setengahnya Lebih dari setengahnya Sebagian besar Seluruhnya

Sumber : Kuntjaraningrat (dalam Suherman, 2001 : 6)
3.6 Uji Hipotesis

Hasil dari pengolahan data dengan menggunakan rumus di atas selanjutnya akan dijadikan dasar menguji hipotesis yang telah ditentukan yaitu.
1) Jika kelas eksperimen (KE) > kelas kontrol (KK) maka HO ditolak dan metodenya dinyatakan efektif. 2) Jika kelas eksperimen (KE) < kelas knntrol (KK) maka HO diterima dan metodenya dinyatakan tidak efektif.

3.7 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan suatu alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen penelitian ini merupakan bukti yang valid dalam sebuah penelitian. Hasil instrumen penelitian ini diolah ke dalam pengumpulan data.

3.7.1

Instrumen Tes 3.7.1.1 Soal Tes

Kerjakan soal-soal di bawah ini.
Setelah kamu memahami cara-cara menulis puisi, sekarang buatlah sebuah puisi berdasarkan objek yang kamu lihat, dengan ketentuan sebagai berikut. 1) Tulislah puisimu itu berdasarkan bait, rima, dan irama! 2) Pergunakanlah diksi yang tepat dalam penulisan puisimu! 3) Agar puisimu terlihat lebih memiliki nilai estetik dan menarik, pergunakanlah kata-kata bermajas dalam penulisan puisimu! 3.7.1.2 Aspek dan Bobot Penilaian No 1 Aspek Bunyi (adanya rima dan irama) Diksi kata) Penempatan larik atau baris (pemilihan Deskriptor Sesuai Kurang sesuai Tidak sesuai Tepat Kurang tepat Tidak tepat Tepat Kurang tepat Tidak tepat Tepat 4 Berbentuk bait Kurang tepat Tidak tepat Skor 5 3 0 5 3 0 5 3 0 5 3 0 5 5 5 5 Skor Maksimum

2

3

Keterangan :
a. Dikatakan sesuai/tepat apabila : - Rima dalam puisi yang dituliskan terdapat pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Pengulangannya itu baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulis mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut memiliki intonasi nada yang baik. - Pemilihan katanya tepat sehingga menciptakan sebuah puisi yang memiliki nilai estetik.

-

Terciptanya larik yang baik dengan memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian larik satu dengan lainnya saling berkaitan makna. Setiap baitnya mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya.

3.7.2

b.Dikatakan kurang sesuai/tepat apabila : - Rima dalam puisi yang dituliskan tidak semuanya mengalami pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Serta pengulangan bunyinya hanya vokal ataupun bunyi konsonan saja. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulis kurang mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut kurang memiliki intonasi nada yang baik. - Pemilihan katanya kurang tepat sehingga kurang menciptakan sebuah puisi yang memiliki nilai estetik. - Kurang terciptanya larik yang baik dengan tidak memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian tidak semuanya larik satu dengan lainnya saling berkaitan makna. - Setiap baitnya kurang mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. c. Dikatakan tidak sesuai/tepat apabila : - Rima dalam puisi yang dituliskan tidak mengalami pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Serta tidak terdapatnya pengulangan bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulispun tidak mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut tidak memiliki intonasi nada yang baik. - Pemilihan katanyapun tidak tepat sehingga menciptakan sebuah puisi yang tidak memiliki nilai estetik. - Tidak terciptanya larik yang baik dengan tidak memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian larik satu dengan lainnya tidak saling berkaitan makna. - Setiap baitnya tidak mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. Instrumen Observasi

Lembar Observasi Siswa Sekolah Tanggal Kelas
No 1

: : :
Jenis perilaku Fokus Observasi 1. Siswa semangat dan sungguh-sungguh mengikuti penjelasan guru 2. Siswa serius dalam memperhatikan penjelasan/pertanyaan dari guru SB B C K

Keaktifan siswa mendengarkan penjelasan guru/ apersepsi

2

Keaktifan siswa selama proses pembelajaran menulis puisi

3. Siswa aktif bertanya, berkomentar tentang materi yang diajarkan. 4. Siswa membuat catatan mengenai hal-hal yang penting. 1. Siswa aktif bertanya dan bersungguh-sungguh mendengarkan penguatan dari guru 2. Siswa mengamati objek yang ada di dalam lingkungan sekolah (halaman sekolah MAN Kalimukti). 3. Siswa serius dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. 4. Adanya saling interaksi antara siswa satu dan yang lainnya dalam mengerjakan tugas dari guru. 5. Siswa memperhatikan hasil puisinya dengan memperhatikan bait, rima dan irama.

Keterangan : SB B C T : Sangat baik : Baik : Cukup : Kurang

Lembar Observasi Guru Mata Pelajaran Tanggal Kelas
No

: : :
Aspek yang Diamati Aspek Penilaian SB B C K Ket

Pendahuluan 1 2 3 Menyiapkan sumber belajar yang diperlukan secara lengkap Mengawali pelajaran dengan ceria Menunjukkan kegunaan kompetensi dasar (KD) yang akan dibahas dalam kehidupan sehari-hari atau hubungannya dengan mata pelajaran yang lain. 4 Memberi permasalahan yang menantang sehingga membangkitkan keinginan siswa untuk memecahkannya 5 Mengajukan pertanyaan mengenai materi pelajaran yang lalu yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas. 6 Menyampaikan baik lisan maupun tertulis KD/Indikator yang harus dikuasai siswa setelah selesai pembelajaran 7 Menyiapkan bahan ajar, baik berupa buku teks, modul, kaset/CD pembelajaran, dsb. Kegiatan Pokok 8 9 10 11 12 Mantap, percaya diri, dan tidak raguragu dalam menyajikan pembelajaran Pertanyaan-pertanyaan siswa dijawab dengan tepat Kebenaran konsep-konsep yang disampaikan Kemudahan bagi siswa untuk berinteraksi dengan guru Kemudahan bagi siswa untuk berinteraksi antarteman

13

Terdapat kemudahan bagi siswa; bahan ajar, dan alat-alat pembelajaran (sumber belajar)

14 15

Menggunakan waktu sesuai alokasi yang disediakan Waktu yang tersedia lebih banyak digunakan untuk kegiatan siswa dibandingkan dengan kegiatan guru

16 17 18 19

Menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Langkah-langkah pembelajaran dilakukan secara tertib dan sistematis Kegiatan pembelajaran menggunakan metode yang bervariasi Terampil, efektif, dan efisien dalam menggunakan alat Bantu/ media pembelajaran (sumber belajar) yang telah disiapkan

20

Memberi kesempatan/ memfasilitasi siswa untuk melakukan berbagai kegiatan dalam upaya pencapaian indikator/kompetensi dasar

21 22 23 24

Selalu siap membantu siswa Mengajukan pertanyaan kepada semua siswa Memberi waktu tunggu bagi siswa untuk berpikir Dalam menanggapi pertanyaan/jawaban siswa, sikap guru menunjukkan sabar mendengarkan sampai selesai (tidak memotong pertanyaan/jawaban siswa)

25

Tidak mencemooh siswa walaupun pertanyaan/jawaban siswa kurang tepat,

dan tidak langsung menyalahkan pendapat siswa 26 27 28 29 Memberi penghargaan pada pertanyaan yang berbobot/ jawaban yang tepat Menulis pokok-pokok penting saja Teknik menulis tidak membelakangi siswa Hubungan guru dan siswa dalam pembelajaran tampak akrab dan saling menghormati 30 Hubungan antarsiswa dalam pembelajaran tampak akrab dan saling menghormati 31 Selurah siswa aktif melaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran Penutup 32 Pertanyaan-pertanyaan guru yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran/indikator/KD, baik yang disampaikan selama pembelajaran maupun di akhir pembelajaran, sebagian besar (> 75%) dapat dijawab oleh siswa dengan baik. 33 Siswa membuat dengan dibimbing oleh guru

Keterangan : SB B C K : Sangat baik : Baik : Cukup : Kurang

3.7.3

Instrumen Angket

ANGKET MOTIVASI SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN MENULIS PUISI Mata Pelajaran Hari/tanggal Nama siswa : Bahasa dan Sastra Indonesia : Kelas :X

Materi : Menulis Puisi

Petunjuk
1. Pada angket ini terdapat 12 pernyataan. Pertimbangkan baik-baik setiap pernyataan dalam kaitannya dengan materi pembelajaran yang baru selesai kamu pelajari, dan tentukan kebenarannya. Berilah jawaban yang benar-benar cocok dengan pilihanmu. 2. Berilah lingkaran pada angka-angka yang sesuai dengan pernyataan yang kamu rasakan pada saat melakukan pembelajaran menulis puisi.

Keterangan Pilihan Jawaban 1 2 3 4 5 : sangat tidak setuju : tidak setuju : ragu-ragu : setuju : sangat setuju

No 1

Pertanyaan Saya senang belajar menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung.

Pilihan Jawaban 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5

2

Pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung yang saya ikuti menarik. 1 2 3 4 5

3

Belajar dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, memotivasi saya untuk menulis puisi. 1 2 3 4 5

4

Saya merasa mudah dan terbantu dalam menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung. 1 2 3 4 5

5

Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dapat membantu saya dalam menuangkan ide dan gagasan. 1 2 3 4 5

6

Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dapat menumbuhkan kreasi dan imajinasi saya. 1 2 3 4 5

7

Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung memudahkan saya menuangkan katakata yang ekspresif dan estetik. 1 2 3 4 5

8 9

Saya lebih senang pembelajaran seperti ini daripada pembelajaran biasa. Perubahan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam pembelajaran menulis puisi membuat kegiatan pembelajaran tidak membosankan.

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

10 11

Penyajian materi yang disampaikan oleh guru mudah untuk dipahami. Saya merasa terbantu saat guru memberikan bimbingan cara menulis puisi yang baik pada saat proses menulis puisi berlangsung.

1

2

3

4

5

1 1

2 2

3 3

4 4

5 5

12

Penggunaan “objek lingkungan sekolah”

membantu saya dalam pembelajaran menulis puisi sehingga tidak menjenuhkan.

3.7.4

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Kelas Eksperimen MATA PELAJARAN PROGRAM ALOKASI WAKTU TATAP MUKA KKM
STANDAR KOMPETENSI

: Bahasa dan Sastra Indonesia : Umum : 2 x 45 Menit (90 Menit) : 1 x Tatap Muka : 70

KELAS / SEMESTER : X (Sepuluh) / (Gasal)

MENULIS 7. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi

KOMPETENSI DASAR

7.2 Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI (IPK) Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

I ·

TUJUAN PEMBELAJARAN Siswa dapat menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

II

MATERI PEMBELAJARAN

Pembelajaran menulis puisi dilakukan secara bertahap-tahap sampai menciptakan hasil yang memuaskan. Munandar dalam Sahriadi (2011) menyimpulkan ada empat tahap dalam proses pemikiran kreatif untuk menulis puisi, yaitu sebagai berikut.
tahap persiapan dan usaha tahap inkubasi atau pengendapan tahap iluminasi tahap verifikasi Pada tahap persiapan dan usaha siswa akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Makin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki siswa mengenai masalah atau tema yang akan dikerjakannya, makin memudahkan dan melancarkan pelibatan dirinya dalam proses tersebut. Tahap inkubasi atau pengendapan, setelah semua informasi dan pengalaman yang dibutuhkan serta berusaha dengan pelibatan sepenuhnya untuk menimbulkan ideide sebanyak mungkin, maka biasanya diperlukan waktu untuk mengendapkan semua gagasan tersebut, diinkubasi dalam alam prasadar. Tahap iluminasi, siswa akan mencoba mengekspresikan masalah tersebut dalam bentuk puisi. Tahap selanjutnya adalah tahap verifikasi yaitu siswa melakukan penilaian secara kritis terhadap karyanya sendiri. Verifikasi juga dapat dilakukan dengan cara membahas atau mendiskusikannya dengan temannya untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan karya tersebut maupun karya selanjutnya. 1. 2. 3. 4.

III

METODE PEMBELAJARAN

1. 2. 3.

Pendekatan Strategi Metode

: Student Centered Approach (SCA) : Pembelajaran Berbasis Simulasi : · Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung · Penugasan · Tanya Jawab

IV

KEGIATAN PEMBELAJARAN

a. Kegiatan Pendahuluan (10 Menit) 1) Orientasi : Memusatkan perhatian siswa terhadap materi yang akan dipelajari dengan menuliskannya di papan tulis. 2) Apersepsi : Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan dengan mengaitkan materi tersebut dengan materi yang lampau. 3) Motivasi : Menuliskan KD di papan tulis dan menjabarkan tujuan pembelajaran sekarang. yang dihasilkan dalam pembelajaran

b. Kegiatan Inti : (70 Menit)

1) Eksplorasi Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang bait, rima, dan irama; dan cara menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek langsung. Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang proses pembelajaran selama menciptakan puisi dengan teknik pengamatan objek secara langsung. Siswa diajak untuk keluar kelas Siswa diperintahkan untuk memperhatikan objek lingkungan sekitar (peristiwa, kejadian atau objek langsung) 2) Elaborasi : Siswa melakukan pengamatan terhadap objek sesuai dengan tema yang dipilihnya. Siswa membuat puisi berdasarkan teknik pengamatan objek secara langsung dengan memperhatikan bait, rima, dan irama Siswa mengidentifikasi hasil puisinya berdasarkan bait, rima, dan irama Beberapa siswa melaporkan hasil kerjanya

3) Konfirmasi : Siswa diberi kesempatan untuk bertanya. Siswa dan guru melakukan refleksi

c. Kegiatan Penutup : (10 Menit) Siswa dan guru menyimpulkan materi yang telah dibahas

V

SUMBER PEMBELAJARAN

a. Sumber Belajar

·

Buku Ajar : Aktif dan Kreatif Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas X SMA/MA karangan Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan. BSE (Buku Standar Elektronik)

·

Lingkungan Sekolah

b. Media Ajar : · Lingkungan

c. Alat/Media Belajar · Buku Pelajaran

VI

PENILAIAN : Uraian : Uraian Bebas : Deskriptor Sesuai Kurang sesuai Tidak sesuai Tepat Kurang tepat Tidak tepat Tepat Kurang tepat Tidak tepat Tepat 4 Berbentuk bait Kurang tepat Tidak tepat Skor 5 3 0 5 3 0 5 3 0 5 3 0 5 5 5 5 Skor Maksimum

a. Teknik Penilaian b. Bentuk lnstrumen c. Instrumen Penilaian No 1

Aspek Bunyi (adanya rima dan irama) Diksi kata) Penempatan larik atau baris (pemilihan

2

3

Keterangan :
a. Dikatakan sesuai/tepat apabila :

-

-

Rima dalam puisi yang dituliskan terdapat pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Pengulangannya itu baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulis mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut memiliki intonasi nada yang baik. Pemilihan katanya tepat sehingga menciptakan sebuah puisi yang memiliki nilai estetik. Terciptanya larik yang baik dengan memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian larik satu dengan lainnya saling berkaitan makna. Setiap baitnya mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya.

b.Dikatakan kurang sesuai/tepat apabila : - Rima dalam puisi yang dituliskan tidak semuanya mengalami pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Serta pengulangan bunyinya hanya vokal ataupun bunyi konsonan saja. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulis kurang mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut kurang memiliki intonasi nada yang baik. - Pemilihan katanya kurang tepat sehingga kurang menciptakan sebuah puisi yang memiliki nilai estetik. - Kurang terciptanya larik yang baik dengan tidak memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian tidak semuanya larik satu dengan lainnya saling berkaitan makna. - Setiap baitnya kurang mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. c. Dikatakan tidak sesuai/tepat apabila : - Rima dalam puisi yang dituliskan tidak mengalami pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Serta tidak terdapatnya pengulangan bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulispun tidak mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut tidak memiliki intonasi nada yang baik. - Pemilihan katanyapun tidak tepat sehingga menciptakan sebuah puisi yang tidak memiliki nilai estetik. - Tidak terciptanya larik yang baik dengan tidak memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian larik satu dengan lainnya tidak saling berkaitan makna. - Setiap baitnya tidak mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya.

Skor Maksimal 25 Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut : Nilai Akhir = ℎ (25) 100

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Kelas Kontrol MATA PELAJARAN PROGRAM ALOKASI WAKTU TATAP MUKA KKM
STANDAR KOMPETENSI

: Bahasa dan Sastra Indonesia : Umum : 2 x 45 Menit (1 x Pertemuan) : 1 x Tatap Muka : 70

KELAS / SEMESTER : X (Sepuluh) / (Gasal)

MENULIS 7. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi

KOMPETENSI DASAR

7.2 Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI (IPK) Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

I ·

TUJUAN PEMBELAJARAN Siswa dapat menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

II

MATERI PEMBELAJARAN

Pembelajaran menulis puisi dilakukan secara bertahap-tahap sampai menciptakan hasil yang memuaskan. Munandar dalam Sahriadi (2011) menyimpulkan ada empat tahap dalam proses pemikiran kreatif untuk menulis puisi, yaitu sebagai berikut.
1. tahap persiapan dan usaha

2. tahap inkubasi atau pengendapan 3. tahap iluminasi 4. tahap verifikasi Pada tahap persiapan dan usaha siswa akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Makin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki siswa mengenai masalah atau tema yang akan dikerjakannya, makin memudahkan dan melancarkan pelibatan dirinya dalam proses tersebut. Tahap inkubasi atau pengendapan, setelah semua informasi dan pengalaman yang dibutuhkan serta berusaha dengan pelibatan sepenuhnya untuk menimbulkan ideide sebanyak mungkin, maka biasanya diperlukan waktu untuk mengendapkan semua gagasan tersebut, diinkubasi dalam alam prasadar. Tahap iluminasi, siswa akan mencoba mengekspresikan masalah tersebut dalam bentuk puisi. Tahap selanjutnya adalah tahap verifikasi yaitu siswa melakukan penilaian secara kritis terhadap karyanya sendiri. Verifikasi juga dapat dilakukan dengan cara membahas atau mendiskusikannya dengan temannya untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan karya tersebut maupun karya selanjutnya.

III

METODE PEMBELAJARAN

1. Pendekatan 2. 3. Strategi Metode

: Teacher Centered Approach (SCA) : Pembelajaran Berbasis Berbagai Sumber : · Ceramah · Penugasan · Tanya Jawab

IV

KEGIATAN PEMBELAJARAN

a. Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)

1) Orientasi

: Memusatkan perhatian siswa terhadap materi yang akan dipelajari dengan menuliskannya di papan tulis.

2) Apersepsi

: Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan dengan mengaitkan materi tersebut dengan materi yang lampau.

3) Motivasi

: Menuliskan KD di papan tulis dan menjabarkan tujuan pembelajaran sekarang. yang dihasilkan dalam pembelajaran

b. Kegiatan Inti : (70 Menit) 1) Eksplorasi Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang bait, rima, dan irama Siswa diberikan contoh sebuah puisi modern karya sastrawan (Chairil Anwar) Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang proses pembelajaran selama menciptakan puisi dengan lamunan Siswa diperintahkan untuk memikirkan apa yang ada di dalam pikirannya untuk dituangkan dalam sebuah puisi yang akan ditulisnya 2) Elaborasi : Siswa membayangkan sesuatu agar bisa menciptakan sebuah puisi Siswa membuat puisi berdasarkan apa yang ada di dalam pikirannya dengan memperhatikan bait, rima, dan irama Siswa mengidentifikasi hasil puisinya berdasarkan bait, rima, dan irama Beberapa siswa melaporkan hasil kerjanya

3) Konfirmasi : Siswa diberi kesempatan untuk bertanya. Siswa dan guru melakukan refleksi

c. Kegiatan Penutup : (10 Menit)

-

Siswa dan guru menyimpulkan materi yang telah dibahas

V

SUMBER PEMBELAJARAN

a. Sumber Belajar · Buku Ajar : Aktif dan Kreatif Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas X SMA/MA karangan Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan. BSE (Buku Standar Elektronik) · Kumpulan Puisi Sastrawan

b. Bahan Ajar : · · Contoh puisi karya Chairil Anwar Senja di Pelabuhan Kecil Laptop c. Alat/Media Belajar

VI

PENILAIAN : Uraian : Uraian Bebas : Deskriptor Sesuai Kurang sesuai Tidak sesuai Tepat Kurang tepat Tidak tepat Skor 5 3 0 5 3 0 5 5 Skor Maksimum

a. Teknik Penilaian b. Bentuk lnstrumen c. Instrumen Penilaian No 1

Aspek Bunyi (adanya rima dan irama) Diksi kata) (pemilihan

2

3

Penempatan larik atau baris

Tepat Kurang tepat Tidak tepat Tepat Kurang tepat Tidak tepat

5 3 0 5 3 0 5 5

4

Berbentuk bait

Keterangan :
a. Dikatakan sesuai/tepat apabila : - Rima dalam puisi yang dituliskan terdapat pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Pengulangannya itu baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulis mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut memiliki intonasi nada yang baik. - Pemilihan katanya tepat sehingga menciptakan sebuah puisi yang memiliki nilai estetik. - Terciptanya larik yang baik dengan memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian larik satu dengan lainnya saling berkaitan makna. - Setiap baitnya mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. b.Dikatakan kurang sesuai/tepat apabila : - Rima dalam puisi yang dituliskan tidak semuanya mengalami pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Serta pengulangan bunyinya hanya vokal ataupun bunyi konsonan saja. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulis kurang mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut kurang memiliki intonasi nada yang baik. - Pemilihan katanya kurang tepat sehingga kurang menciptakan sebuah puisi yang memiliki nilai estetik. - Kurang terciptanya larik yang baik dengan tidak memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian tidak semuanya larik satu dengan lainnya saling berkaitan makna. - Setiap baitnya kurang mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. c. Dikatakan tidak sesuai/tepat apabila : - Rima dalam puisi yang dituliskan tidak mengalami pengulangan bunyi baik di awal, tengah, dan akhir. Serta tidak terdapatnya pengulangan bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Irama yang ada di dalam puisi yang ditulispun tidak mengandung unsur musikalitas sehingga puisi tersebut tidak memiliki intonasi nada yang baik. - Pemilihan katanyapun tidak tepat sehingga menciptakan sebuah puisi yang tidak memiliki nilai estetik. - Tidak terciptanya larik yang baik dengan tidak memiliki satuan lebih besar dari kata. Kemudian larik satu dengan lainnya tidak saling berkaitan makna.

-

Setiap baitnya tidak mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya.

Skor Maksimal 25 Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut : Nilai Akhir = ℎ 100

BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA

4.1 Data

Pada bab ini penulis akan menguraikan data penelitian Pembelajaran Menulis Puisi dengan Menggunakan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung pada Siswa Kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011 / 2012. Rumusan masalah penelitian ini yakni : 1) Apakah pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung pada siswa kelas X MAN Kalimukti efektif? 2) Apakah pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dapat memotivasi siswa dalam belajar menulis puisi?

4.1.1

Data Proses Pembelajaran

4.1.1.1 Proses Pembelajaran di Kelas Kontrol

Proses pembelajaran dilakukan pada siswa kelas X3 MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon sebagai kelas kontrol, dengan standar kompetensi mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi. Proses pembelajaran dilakukan dalam satu kali pertemuan. Pada kegiatan awal guru mengondisikan kelas, menyampaikan tujuan pembelajaran, bersama dengan siswa melakukan apersepsi, dan memberikan tes awal menulis puisi berdasarkan pengamatan objek secara langsung. Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi, memberikan contoh puisi, kemudian siswa ditugasi guru untuk membuat puisi

54

berdasarkan lamunannya (objek). Di akhir pembelajaran guru dan siswa melakukan refleksi pembelajaran dan mengambil kesimpulan dari pembelajaran.

4.1.1.2 Proses Pembelajaran di Kelas Eksperimen

Proses pembelajaran dilakukan pada siswa kelas X4 MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon sebagai kelas eksperimen dengan standar kompetensi mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi. Proses pembelajaran dilakukan satu kali pertemuan. Tahap pertama dimulai dengan kegiatan awal yaitu guru mengondisikan kelas, menyampaikan tujuan pembelajaran, bersama dengan siswa melakukan apersepsi, dan memberikan tes awal menulis puisi berdasarkan objek yang dilihat. Kegiatan inti dilakukan dalam beberapa tahap. Sebelum masuk ke tahap-tahap pengamatan objek langsung, terlebih dahulu guru menjelaskan tentang kriteria puisi yang baik dengan memperhatikan rima, irama, dan bait serta menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung. Pada tahap selanjutnya, guru mengajak semua siswa keluar kelas. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengamati objek-objek yang terdapat di halaman sekolah. Siswa membuat puisi berdasarkan objek yang dilihat, dirasakan, atau peristiwa dan kejadian. Pada kegiatan akhir guru dan siswa menyimpulkan materi yang sudah dibahas.

4.1.2

Data Hasil Observasi

4.1.2.1 Hasil Observasi Siswa

Selama proses pembelajaran, peneliti tidak hanya melakukan tes, tetapi juga melakukan nontes berupa observasi untuk mengetahui aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran menulis puisi baru. Peneliti melakukan observasi dengan menggunakan tabel observasi yang telah dibuat dan disiapkan sebelum melakukan proses belajar mengajar. Di bawah ini merupakan tabel data hasil observasi yang diperoleh peneliti. Tabel 4.1 Tabel Hasil Observasi Menulis Puisi Baru di Kelas X – 3 (Kelas Kontrol) MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011 / 2012
No 1 Jenis perilaku Keaktifan siswa mendengarkan penjelasan guru/ apersepsi Fokus Observasi 5. Siswa semangat dan sungguh-sungguh mengikuti penjelasan guru 6. Siswa serius dalam memperhatikan penjelasan/pertanyaan dari guru 7. Siswa aktif bertanya, berkomentar tentang materi yang diajarkan. 8. Siswa membuat catatan mengenai hal-hal yang penting. Jumlah 30 Persentase 75%

28

70%

4

10%

10 2 Keaktifan siswa selama proses pembelajaran menulis puisi 6. Siswa aktif bertanya dan bersungguh-sungguh mendengarkan penguatan dari guru 7. Siswa mengamati objek yang ada di dalam kelas. 8. Siswa serius dalam mengerjakan tugas yang 10

25% 25%

20

50%

diberikan guru. 9. Adanya saling interaksi antara siswa satu dengan yang lainnya dalam mengerjakan tugas dari guru. 10. Siswa memperhatikan hasil puisinya dengan memperhatikan bait, rima dan irama.

25

62.5%

5

12.5%

15

37.5%

=

Jumlah siswa aktif ℎ ℎ (40)

100%

Melalui tabel di atas, dapat diketahui beberapa sikap siswa selama proses pembelajaran. Pada kegiatan awal, jumlah siswa yang semangat mengikuti penjelasan dari guru sebesar 75% yaitu 30 siswa dari jumlah siswa 40 siswa. Jumlah siswa yang serius dalam memperhatikan dan penjelasan dari guru sebesar 70% yaitu 28 siswa. Siswa yang aktif bertanya, berkomentar tentang materi yang diajarkan sebesar 10% atau hanya 4 siswa adapun jumlah siswa yang membuat catatan mengenai hal-hal yang penting sebesar 25% atau sejumlah 10 siswa saja. Pada kegiatan inti, jumlah siswa yang aktif bertanya dan bersungguhsungguh mendengarkan penguatan dari guru sebesar 25% atau berjumlah 10 siswa. Siswa yang mengamati objek yang ada di dalam kelas sejumlah setengahnya sebesar 50% atau 20 siswa dari 40 siswa. Di sisi lain siswa yang serius dalam mengerjakan tugas dari guru sebesar 62.5% atau 25 siswa. Siswa yang berinteraksi antara siswa satu dengan yang lainnya sebesar 12.5% atau

sejumlah 5 siswa. Adapun siswa yang menulis puisi dengan memperhatikan rima, irama dan bait sebesar 37.5% atau sejumlah 15 siswa dari 40 orang siswa. Sesuai dengan hasil observasi itu, dapat diketahui bahwa selama proses pembelajaran berlangsung di kelas kontrol, masih banyak siswa yang kurang serius dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan kejenuhan pada penggunaan metode yang monoton atau konvensional. Ketika menulis puisi baru, beberapa siswa tidak memperhatikan bait, rima, dan irama pada penulisan puisinya.

Tabel 4.2 Tabel Hasil Observasi Menulis Puisi Baru di Kelas X – 4 (Kelas Eksperimen) MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011 / 2012
No 1 Jenis perilaku Keaktifan siswa mendengarkan penjelasan guru/ apersepsi Fokus Observasi 1. Siswa semangat dan sungguhsungguh mengikuti penjelasan guru 2. Siswa serius dalam memperhatikan penjelasan/pertanyaan dari guru 3. Siswa aktif bertanya, berkomentar tentang materi yang diajarkan. 4. Siswa membuat catatan mengenai hal-hal yang penting. Jumlah 38 Persentase 95%

35

87.5%

15

37.5%

20 2 Keaktifan siswa selama proses pembelajaran menulis puisi 1. Siswa aktif bertanya dan bersungguh-sungguh mendengarkan penguatan dari guru 2. Siswa mengamati objek yang ada di halaman sekolah (MAN kalimukti). 3. Siswa serius dalam 22

50% 55%

33

82.5%

mengerjakan tugas yang diberikan guru. 4. Adanya saling interaksi antara siswa satu dengan yang lainnya dalam mengerjakan tugas dari guru. 5. Siswa memperhatikan hasil puisinya dengan memperhatikan bait, rima, dan irama.

30

75%

20

50%

25

62.5%

=

Jumlah siswa aktif ℎ ℎ (40)

100%

Melalui tabel di atas, dapat diketahui beberapa sikap siswa selama proses pembelajaran. Pada kegiatan awal, siswa yang semangat mengikuti penjelasan dari guru sebesar 95% yaitu 38 siswa dari jumlah siswa 40 siswa. Jumlah siswa yang serius dalam memperhatikan dan penjelasan dari guru sebesar 87.5% yaitu 35 siswa. Siswa yang aktif bertanya, berkomentar tentang materi yang diajarkan sebesar 37.5% atau hanya 15 siswa. Adapun jumlah siswa yang membuat catatan mengenai hal-hal yang penting sebesar 50% yaitu 20 siswa atau setengah dari jumlah siswa yakni 40 siswa. Pada kegiatan inti, jumlah siswa yang aktif bertanya dan bersungguhsungguh mendengarkan penguatan dari guru sebesar 55% atau berjumlah 22 siswa. Siswa yang mengamati objek yang ada di halaman sekolah (MAN Kalimukti) sebesar 82.5% atau 33 siswa dari 40 siswa. Di sisi lain siswa yang

serius dalam mengerjakan tugas dari guru sebesar 75% atau sejumlah 30 siswa. Siswa yang berinteraksi antara siswa satu dengan yang lainnya sebesar 50% atau sejumlah 20 siswa setengah dari jumlah siswa. Adapun siswa yang menulis puisi dengan memperhatikan rima, irama, dan bait sebesar 62.5% atau sejumlah 25 siswa dari 40 orang siswa. Sesuai dengan hasil observasi pembelajaran di kelas eksperimen, hasilnya dapat dibandingkan dengan hasil observasi di kelas kontrol yaitu banyak perilaku siswa yang baik selama pembelajaran menulis puisi baru di kelas eksperimen. Hal itu disebabkan guru memberikan perlakuan kepada kelas eksperimen berupa teknik pengamatan objek secara langsung. Adapun pada kelas kontrol guru hanya menggunakan model konvensional dengan cara berceramah, proses pembelajaran ini tidak menimbulkan adanya keaktifan siswa atau dapat disimpulkan proses pembelajarannya hanya bergerak satu arah. Oleh karena itu, siswa kurang berperan aktif selama proses pembelajaran sehingga banyak siswa yang kurang serius dalam mengikuti pembelajaran.

4.1.2.2 Hasil Observasi Guru No Aspek yang Diamati Pendahuluan 1 2 3 Menyiapkan sumber belajar yang diperlukan secara lengkap Mengawali pelajaran dengan ceria Menunjukkan kegunaan Kompetensi Dasar (KD) yang akan dibahas dalam √ √ √ Aspek Penilaian SB B C K Ket

kehidupan sehari-hari atau hubungannya dengan mata pelajaran yang lain. 4 Memberi permasalahan yang menantang sehingga membangkitkan keinginan siswa untuk memecahkannya 5 Mengajukan pertanyaan mengenai materi pelajaran yang lalu yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas. 6 Menyampaikan baik lisan maupun tertulis KD/Indikator yang harus dikuasai siswa setelah selesai pembelajaran 7 Menyiapkan bahan ajar, baik berupa buku teks, modul, kaset/CD pembelajaran, dsb. Kegiatan Pokok 8 9 10 11 12 13 14 15 Mantap, percaya diri, dan tidak raguragu dalam menyajikan pembelajaran Pertanyaan-pertanyaan siswa dijawab dengan tepat Kebenaran konsep-konsep yang disampaikan Kemudahan bagi siswa untuk berinteraksi dengan guru Kemudahan bagi siswa untuk berinteraksi antarteman Kemudahan bagi siswa bahan ajar, dan alat-alat pembelajaran (sumber belajar) Menggunakan waktu sesuai alokasi yang disediakan Waktu yang tersedia lebih banyak digunakan untuk kegiatan siswa dibandingkan dengan kegiatan guru √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

16 17 18 19

Menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Langkah-langkah pembelajaran dilakukan secara tertib dan sistematis Kegiatan pembelajaran menggunakan metode yang bervariasi Terampil, efektif, dan efisien dalam menggunakan alat Bantu/ media pembelajaran (sumber belajar) yang telah disiapkan

√ √ √

20

Memberi kesempatan/ memfasilitasi siswa untuk melakukan berbagai kegiatan dalam upaya pencapaian indikator/kompetensi dasar √

21 22 23 24

Selalu siap membantu siswa. Mengajukan pertanyaan kepada semua siswa memberi waktu tunggu bagi siswa untuk berpikir Dalam menanggapi pertanyaan/jawaban siswa, sikap guru menunjukkan sabar mendengarkan sampai selesai (tidak memotong pertanyaan/jawaban siswa)

√ √ √

25

Tidak mencemooh siswa walaupun pertanyaan/jawaban siswa kurang tepat, dan tidak langsung menyalahkan pendapat siswa √

26 27 28 29

Memberi penghargaan pada pertanyaan yang berbobot/ jawaban yang tepat Menulis pokok-pokok penting saja Teknik menulis tidak membelakangi siswa Hubungan guru dan siswa dalam

√ √ √ √

pembelajaran tampak akrab dan saling menghormati 30 Hubungan antar siswa dalam pembelajaran tampak akrab dan saling menghormati 31 Selurah siswa aktif melaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran Penutup 32 Pertanyaan-pertanyaan guru yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran/indikator/KD, baik yang disampaikan selama pembelajaran maupun di akhir pembelajaran, sebagian besar (> 75%) dapat dijawab oleh siswa dengan baik. 33 Siswa membuat rangkuman dengan dibimbing oleh guru √ √ √ √

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan kepada guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada saat penelitian dengan materi pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, kesiapan guru dalam mempersiapkan segala yang diperlukan dalam proses pembelajaran sudah cukup baik. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan dua metode yakni teknik pengamatan objek secara langsung dan metode ceramah sudah dijalankan sesuai dengan baik. Meskipun terdapat beberapa kekurangan dalam penyampaian materi. Meski kesiapan dirasa sudah cukup namun pengajar masih memiliki beberapa catatan, yakni : 1) penguasaan materi yang perlu ditingkatkan;

2) pengesetan waktu ke waktu pada sistematika selama proses pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung. Semua itu akan jauh lebih berhasil apabila guru lebih mempersiapkan lagi ketika akan mengajar dengan pembelajaran ini. Meski begitu, peneliti merasa proses pembelajaran yang dilaksanakan sudah cukup maksimal itu dibuktikan dengan hasil yang baik pada kelas eksperimen dengan nilai tes akhir yang cukup memuaskan. Sedikit yang perlu dibenahi dan menjadi catatan bagi guru, yakni perlunya pengesetan waktu yang baik dan penguasaan materi yang benar-benar sehingga menjadikan

pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung ini menjadi pembelajaran yang baik untuk siswa.

4.2 Analisis Data Angket Motivasi Siswa

Angket yang dianalisis adalah angket yang mengungkap respons motivasi siswa terhadap pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung sehingga akan tampak perbedan di antara kedua metode tersebut. Berikut ini akan disajikan secara deskriptif setiap pernyataan yang dikategorikan dalam kesesuaian motivasi siswa.
4.2.1 Hasil Respons Motivasi Siswa

Di bawah ini merupakan hasil respons motivasi siswa pada pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung pada kelas eksperimen adalah sebagai berikut.

Tabel 4.3 Hasil Respons Motivasi Siswa
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Skor SS 14 16 9 18 16 19 8 16 21 16 19 16 S 24 22 28 20 22 20 29 23 17 23 20 21 R 2 2 3 2 2 1 3 1 2 1 1 3 TS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 STS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Keterangan : SS S R TS STS
4.2.2

: : : : :

Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju
Analisis Angket Motivasi Siswa

Berdasarkan pada rumus persentase = Contoh :
1. Pernyataan nomor 1

100% didapat :

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 14 Jumlah siswa yang memilih jawaban S = 24

Jumlah siswa yang memilih jawaban R

=2

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 14 40

100%

= 35%
b. Persentase jawaban S

= = 24 40

100%

= 60%
c. Persentase jawaban R

= = 2 40

100%

= 5%

d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

2. Pernyataan nomor 2

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 16 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 22 =2

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 16 40

100%

= 40%
b. Persentase jawaban S

= = 22 40

100%

= 55%
c. Persentase jawaban R

=

100%

=

2 40

= 5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

3. Pernyataan nomor 3

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 9 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 28 =3

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 9 40

100%

= 22.5%
b. Persentase jawaban S

= = 28 40

100%

= 70%
c. Persentase jawaban R

= = 3 40

100%

= 7.5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
4. Pernyataan nomor 4

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 18 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 20 =2

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0

a. Persentase jawaban SS

= = 18 40

100%

= 45%
b. Persentase jawaban S

= = 20 40

100%

= 50%
c. Persentase jawaban R

= = 2 40

100%

= 5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

5. Pernyataan nomor 5

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 16 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 22 =2

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 16 40

100%

= 40%
b. Persentase jawaban S

= = 22 40

100%

= 55%
c. Persentase jawaban R

ㅢ 2 = 40 = 5%

=

100%

d. Persentase jawaban R

=

100%

=

0 40

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

6. Pernyataan nomor 6

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 19 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 20 =1

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 19 40

100%

= 47.5%
b. Persentase jawaban S

= = 20 40

100%

= 50%

c. Persentase jawaban R

= = 1 40

100%

= 2.5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
7. Pernyataan nomor 7

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 8 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 29 =3

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 8 40

100%

= 20%
b. Persentase jawaban S

= = 29 40

100%

= 72.5%
c. Persentase jawaban R

= = 3 40

100%

= 7.5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

8. Pernyataan nomor 8

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 16 Jumlah siswa yang memilih jawaban S = 23

Jumlah siswa yang memilih jawaban R

=1

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 16 40

100%

= 40%
b. Persentase jawaban S

= = 23 40

100%

= 57.5%

c. Persentase jawaban R

= = 1 40

100%

= 2.5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

9. Pernyataan nomor 9

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 21 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 17 =2

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 21 40

100%

= 52.5%
b. Persentase jawaban S

= = 17 40

100%

= 42.5%
c. Persentase jawaban R

=

100%

=

2 40

= 5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

10. Pernyataan nomor 10

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 16 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 23 =1

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 16 40

100%

= 40%
b. Persentase jawaban S

= = 23 40

100%

= 57.5%
c. Persentase jawaban R

= = 1 40

100%

= 2.5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

11. Pernyataan nomor 11

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 19 Jumlah siswa yang memilih jawaban S = 20

Jumlah siswa yang memilih jawaban R

=2

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 19 40

100%

= 47.5%
b. Persentase jawaban S

= = 20 40

100%

= 50%
c. Persentase jawaban R

= = 1 40

100%

= 2.5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

12. Pernyataan nomor 12

Jumlah siswa yang memilih jawaban SS = 16 Jumlah siswa yang memilih jawaban S Jumlah siswa yang memilih jawaban R = 21 =3

Jumlah siswa yang memilih jawaban TS = 0 Jumlah siswa yang memilih jawaban STS = 0
a. Persentase jawaban SS

= = 16 40

100%

= 40%
b. Persentase jawaban S

= = 21 40

100%

= 52.5%
c. Persentase jawaban R

=

100%

=

3 40

= 7.5%
d. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%
e. Persentase jawaban R

= = 0 40

100%

= 0%

Perhitungan data di atas untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4.4 Data Motivasi Siswa terhadap Pembelajaran Menulis Puisi Menggunakan Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung
RESPONDEN SISWA NO PERNYATAAN f Saya senang belajar menulis puisi menggunakan 1 teknik pengamatan objek secara langsung. Pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik 14 35 24 60 2 5 0 0 0 0 SS p f S p f R p f TS p STS f p

2

16

40

22

55

2

5

0

0

0

0

pengamatan objek secara langsung yang saya ikuti menarik. Belajar dengan menggunakan teknik 3 pengamatan objek secara langsung, memotivasi saya untuk menulis puisi. Saya merasa mudah dan terbantu dalam menulis 4 puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung. Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek 5 secara langsung dapat membantu saya dalam menuangkan ide dan gagasan. Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan 6 teknik pengamatan objek secara langsung dapat menumbuhkan kreasi dan imajinasi saya. Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek 7 secara langsung memudahkan saya menuangkan kata-kata yang ekspresif dan estetik. 8 20 29 72.5 3 7.5 0 0 0 0 19 47.5 20 50 1 2.5 0 0 0 0 16 40 22 55 2 5 0 0 0 0 18 45 20 50 2 5 0 0 0 0 9 22.5 28 70 3 7.5 0 0 0 0

Saya lebih senang 8 pembelajaran seperti ini daripada pembelajaran biasa. Perubahan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam 9 pembelajaran menulis puisi membuat kegiatan pembelajaran tidak membosankan. Penyajian materi yang 10 disampaikan oleh guru mudah untuk dipahami. Saya merasa terbantu saat guru memberikan 11 bimbingan cara menulis puisi yang baik pada saat proses menulis puisi berlangsung. Penggunaan “objek lingkungan sekolah” 12 membantu saya dalam pembelajaran menulis puisi sehingga tidak menjenuhkan. 16 40 21 52.5 3 7.5 0 0 0 0 19 47.5 20 50 1 2.5 0 0 0 0 16 40 23 57.5 1 2.5 0 0 0 0 21 52.5 17 42.5 2 5 0 0 0 0 16 40 23 57.5 1 2.5 0 0 0 0

Dari tabel di atas terlihat respons motivasi siswa terhadap teknik pengamatan objek secara langsung adalah sebagai berikut.
1. Saya senang belajar menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, lebih dari setengahnya siswa menyatakan setuju (60%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju (35%), meski terdapat pilihan yang

menyatakan ragu-ragu (5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 2. Menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung yang saya ikuti menarik, lebih dari setengahnya siswa menyatakan setuju (55%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju (40%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 3. Belajar dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, memotivasi saya untuk menulis puisi, lebih dari setengahnya siswa menyatakan setuju (70%) dan sepertiganya menyatakan sangat setuju (22.5%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (7.5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 4. Saya merasa mudah dan terbantu dalam menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, setengahnya siswa menyatakan setuju (50%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju (45%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 5. Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dapat membantu saya dalam menuangkan ide dan gagasan, lebih dari setengahnya siswa menyatakan setuju (55%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju (40%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 6. Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dapat menumbuhkan kreasi dan imajinasi, setengahnya siswa menyatakan setuju (50%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju

(47.5%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (2.5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 7. Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung memudahkan saya menuangkan kata-kata yang ekspresif dan estetik, tiga perempat siswa menyatakan setuju (72.5%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju (20%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (7.5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 8. Saya lebih senang pembelajaran seperti ini daripada pembelajaran biasa, lebih dari setengahnya siswa menyatakan setuju (57.5%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju (40%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (2.5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 9. Perubahan metode yang dilakukan guru dalam pembelajaran menulis puisi membuat kegiatan pembelajaran tidak membosankan, kurang dari setengahnya siswa menyatakan setuju (42.5%) dan lebih dari setengahnya menyatakan sangat setuju (52.5%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 10. Penyajian materi yang disampaikan oleh guru mudah untuk dipahami, lebih dari setengahnya siswa menyatakan setuju (57.5%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju (40%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (2.5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 11. Saya merasa terbantu saat guru memberikan bimbingan cara menulis puisi yang baik pada saat proses menulis puisi berlangsung, setengahnya siswa menyatakan setuju (50%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju

(47.5%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (2.5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%). 12. Penggunaan “objek lingkungan sekolah” membantu saya dalam pembelajaran menulis puisi sehingga tidak menjenuhkan, lebih dari setengahnya siswa menyatakan setuju (52.5%) dan hampir setengahnya menyatakan sangat setuju (40%), meski terdapat pilihan yang menyatakan ragu-ragu (7.5%), namun tidak terdapat adanya pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju (0%).

Dapat ditarik kesimpulan bahwa, motivasi siswa terhadap pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung sangatlah baik dan dapat mendorong siswa dalam melakukan pembelajaran. Dengan adanya perubahan metode yang dilakukan guru terhadap sebuah pembelajaran, tentu dapat mengubah gaya belajar siswa serta memotivasi siswa dalam proses pembelajaran.
4.3 Data Hasil Tes

Data yang penulis peroleh dari siswa kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon berupa tes awal dan tes akhir pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data tersebut penulis analisis semua kriteria yang telah ditentukan.

Tabel 4.5 Data Hasil Tes Awal dan Akhir Pembelajaran Menulis Puisi pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen.
Kode Siswa S-1 Kelas Eksperimen Tes Awal 60 Tes Akhir 80 Kelas Kontrol Tes Awal 60 Tes Akhir 65

S-2 S-3 S-4 S-5 S-6 S-7 S-8 S-9 S-10 S-11 S-12 S-13 S-14 S-15 S-16 S-17 S-18 S-19 S-20 S-21 S-22 S-23 S-24 S-25 S-26 S-27 S-28 S-29 S-30 S-31 S-32 S-33 S-34

50 60 50 55 55 50 40 60 60 60 55 60 50 40 55 50 60 50 55 55 50 55 55 55 60 60 50 50 55 60 55 60 50

80 90 80 85 95 85 75 90 80 85 80 80 80 75 80 80 90 80 80 75 75 80 80 80 85 80 85 75 80 90 85 80 75

55 55 65 60 60 60 60 60 60 50 60 60 60 50 50 60 60 60 60 50 60 60 55 60 60 60 65 55 60 50 60 50 60

60 60 70 70 65 65 65 65 70 60 70 65 65 60 60 65 75 65 65 60 70 65 70 65 65 70 70 60 70 60 70 60 60

S-35 S-36 S-37 S-38 S-39 S-40 Jumlah Rata-rata

50 50 55 60 60 60 2180 54.5

80 80 80 90 90 80 3275 81.95

60 60 60 60 60 60 2330 58.25

75 65 70 65 70 65 2630 65.75

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai tes awal kelas eksperimen secara keseluruhan adalah 2180 dan nilai tes awal kelas kontrol secara keseluruhan adalah 2330, sedangkan nilai tes akhir kelas eksperimen secara keseluruhan adalah 3275 dan nilai tes akhir kelas kontrol secara keseluruhan adalah 2630. Data tersebut diperoleh dari jumlah nilai keseluruhan 40 siswa kelas eksperimen dan 40 siswa kelas kontrol.

4.3.1

Pengolahan Hasil Tes

Data hasil tes pada tabel 4.5 kemudian diolah menggunakan program penghitungan statistik SPSS 15.0. Uji statistik yang penulis terapkan untuk mengolah data hasil tes siswa adalah Paired Sample T-test, yaitu uji t sampel untuk dua populasi normal yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan apakah signifikan atau tidak (Zulaela, dkk, 2003 : 28) Setelah data-data tersebut dimasukkan dan diolah menggunakan program penghitungan statistik SPSS 15.0 diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 4.6 Paired Samples Statistics

Kelas Eksperimen
Mean 54,50 81,88 N 40 40 Std. Deviation 5,287 5,024 Std. Error Mean ,836 ,794

Pair 1 Tes_Awal Tes_Akhir

Kelas Kontrol
Pair 1 Tes_Awal Tes_Akhir Mean 58,25 65,75 N 40 40 Std. Deviation 4,011 4,319 Std. Error Mean ,634 ,683

Dari tabel di atas, diketahui nilai rata-rata hasil tes awal kelas eksperimen sebelum diberikan perlakuan teknik pengamatan objek secara langsung sebesar 54,50 dengan standar deviasi sebesar 5,287 dan rata-rata standar kesalahan sebesar 0,836 sedangkan nilai rata-rata tes akhir setelah diberikan perlakuan teknik pengamatan objek secara langsung sebesar 81,88 dengan standar deviasi sebesar 5,024 dan rata-rata standar kesalahan sebesar 0,794. Nilai rata-rata hasil tes awal kelas kontrol sebelum diberikan perlakuan metode ceramah sebesar 58,25 dengan standar deviasi sebesar 4,011 dan rata-rata standar kesalahan sebesar 0,634 sedangkan nilai rata-rata hasil tes akhir setelah diberikan perlakuan metode ceramah sebesar 65,75 dengan standar deviasi sebesar 0,4319 dan rata-rata kesalahan sebesar 0,683. Maka, dengan ini dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata hasil tes kelas eksperimen mengalami kenaikan setelah diberikan perlakuan teknik pengamatan objek secara langsung dan nilai rata-rata hasil tes kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan nilai ratarata kelas kontrol. Dengan perbedaan tindakan pada pembelajaran dalam kelas eksperimen dan kelas kontrol, yaitu diberikan perlakuan pada kelas eksperimen

dan tidak diberi perlakuan pada kelas kontrol maka terdapat perbedaan hasil kemampuan siswa. Untuk mengetahui signifikansi perbedaan rata-rata hasil tes kedua kelompok adalah dengan menggunakan uji t dua sampel berpasangan (Paired Sample T-tes) dengan langkah-langkah sebagai berikut. Tabel 4.7 Paired Samples Test Kelas Eksperimen
Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Error Std. Deviation Mean Lower Upper 4,934 ,780 -28,953 -25,797 Sig. (2tailed) t -35,091 df 39 ,000

Mean Pair 1 Tes_Awal Tes_Akhir -27,375

Kelas Kontrol
Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean 3,397 ,537 -8,586 -6,414 Sig. (2tailed) t -13,964 df 39 0,000

Mean Pair 1 Tes_Awal Tes_Akhir -7,500

Berdasarkan tabel 4.7 di atas dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara perlakuan di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen diperoleh thitung sebesar -35,091 dengan derajat kebebasan (df) = N1-1 = 39 dan nilai probabilitas (Sig.) sebesar 0,000. Sedangkan pada kelas kontrol diperoleh thitung sebesar -13,964 dengan derajat kebebasan (df) = N1-1 = 39 dan nilai probabilitas (Sig.) sebesar 0.000. Berdasarkan data di atas terdapat perbedaan yang signifikan terhadap

kemampuan siswa. Pembuktian perbedaan itu terdapat pada lebih besarnya nilai thitung yakni (-35,091) dibandingkan dengan ttabel = 1,994. Semua itu dikarenakan nilai rata-rata dari kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan nilai ratarata kelas kontrol yakni E 81,95 > K 65,75.

1) Perumusan Hipotesis H0 : Nilai rata – rata tes awal sama dengan nilai rata – rata tes akhir H1 : Nilai rata – rata tes akhir lebih besar dibandingkan nilai rata – rata tes awal 2) Kriteria Pengujian a) Jika nilai probabilitas (sig.) < 0,05, maka H0 ditolak b) Jika nilai probabilitas (sig.) > 0,05, maka H0 diterima 3) Pengambilan Keputusan Dengan mengambil taraf nyata α = 5 %, kelas eksperimen diperoleh nilai probabilitas (Sig.) = 0,000. Oleh karena 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak atau H1 diterima. 4) Kesimpulan Mengacu pada tabel 5.7, diketahui nilai thitung sebesar -35,091 dan nilai p (sig. (2-tailed)) sebesar 0,000. Karena nilai p (sig. (2-tailed)) lebih kecil dari taraf kepercayaan 95 % (α = 5 %), 0,000 < 0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes awal dan tes akhir kelas eksperimen. Artinya hasil belajar tes akhir kelas eksperimen lebih baik daripada tes awal. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan teknik pengamatan objek secara langsung berpengaruh terhadap hasil belajar (tes akhir) siswa di kelas

eksperimen setelah perlakuan diberikan dibandingkan dengan hasil belajar (tes awal) sebelum perlakuan diberikan.

Untuk menguji hipotesis penelitian ini diperlukan juga besaran nilai thitung dan ttabel yang kemudian besaran – besaran tersebut dibandingkan. Pada tabel hasil pengolahan data menggunakan SPSS 15.0, diketahui bahwa nilai thitung sebesar -35,091. Setelah diketahui besaran nilai thitung, langkah berikutnya adalah menentukan besaran ttabel, untuk mengetahui besaran ttabel diperlukan besaran derajat bebas (df). Dari tabel 4.7, diketahui nilai derajat bebas (df) sebesar 39 + 39 = 78. Kemudian besaran derajat bebas (df) = 78 ini dicari pada tabel uji t dengan taraf kepercayaan 95 % ( α/2 = 5 % / 2 = 0,025 ). Namun, besaran derajat bebas (df) = 78 dengan taraf kepercayaan 95 % ( α/2 = 5 % / 2 = 0,025 ) terdapat dalam tabel uji t. Namun, agar lebih jelas nilai taraf kepercayaan yang nantinya disesuaikan dengan tabel uji t. t60 = 2,000 t120 = 1,980 C1 – C0 = 1,980 – 2,000 = - 0,020 B1 – B0 = 120 – 60 = 60 Selisih = df – B0 = 78 – 60 = 18

ttabel

= t60 +

x selisih

= 2,000 +

,

,

x 18

= 2,000 + ( - 0,020 x 18)
= 2,000 + ( - 0,006) = 1,994 Kemudian nilai ttabel tersebut dibandingkan dengan nilai thitung. Hasilnya adalah: ttabel = 1,994 thitung = - 35,091

thitung = - 35,091 Daerah Penolakan H0 Daerah Penerimaan H0 -1,994 1,994 Daerah Penolakan H0

Jadi, thitung > ttabel = - 35,091 > 1,994 atau diluar penerimaan H0, maka diputuskan H0 ditolak. Hal ini berarti terjadi perbedaan yang signifikan antara hasil tes awal dengan hasil tes akhir.
4.4 Analisis Data

Data penelitian ini diambil dari hasil tes awal dan tes akhir pembelajaran menulis puisi baru pada kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon tahun pelajaran 2011/2012. Kelas X-4 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X-3 sebagai kelas kontrol yang masing-masing berjumlah 40 siswa.

4.4.1 Analisis Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran di kelas sangat baik karena di samping siswa dapat mengikuti pelajaran secara maksimal, guru juga memiliki potensi dalam mengajar. Di antaranya guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam materi pembelajaran menulis puisi baru pada kelas eksperimen dan memilih metode ceramah untuk kelas kontrol. Di sisi lain guru dapat membangkitkan motivasi belajar siswa dengan pembelajaran yang nyata tidak abstrak, terarah mendekati sifat-sifat yang nyata, tidak dengan penguatanpenguatan yang bersifat materi saja tapi lebih kepada praktik dan kesistematisan kegiatan pembelajaran yang membuat siswa merasa memiliki tahapan dalam setiap kegiatan belajarnya. Sedikit kelemahan pada teknik pengamatan objek secara langsung ini adalah singkatnya waktu pertemuan sehingga siswa tidak bisa lebih intens lagi dalam mengamati objek-objek yang dilihat, dirasakan, dan peristiwa atau kejadian yang mereka alami untuk mereka ciptakan dalam bentuk kata-kata berupa puisi dengan hasil yang maksimal dan tidak setengah-setengah. Namun semuanya tidaklah menjadi masalah yang sangat berarti karena dengan hasil yang ada telah membuktikan bahwa adanya perubahan nilai dengan menggunakan metode yang baru dibandingkan dengan metode yang lama.

4.4.2 Analisis Hasil Observasi Keaktifan Siswa dan Guru

Selama melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam proses pembelajaran di kelas, peneliti menilai kemampuan siswa dalam hal menyimak

pembelajaran sudah sangat baik, memperhatikan penjelasan guru, bertanya dan berkomentar, dan semangat siswa selama mengerjakan tugas dari guru sudah jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. Hal ini merupakan cara belajar yang berbeda dari biasanya, yaitu mereka diajarkan cara menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dan proses pembelajarannya dilakukan di luar kelas dengan suasana yang rindang, sejuk, dan tidak jenuh seperti di dalam kelas yang pengap dan tidak banyak inspirasi. Mereka senang dan termotivasi. Setelah mengamati sebuah objek, mereka merangkai kata-kata melalui objek yang mereka lihat, rasakan, dan peristiwa atau kejadian yang mereka alami.

4.4.3 Analisis Hasil Angket Motivasi Siswa

Proses pembelajaran yang berlangsung dengan metode yang berbeda dari biasanya membuat siswa termotivasi dalam melakukan pembelajaran menulis puisi. Hal itu dibuktikan melalui pemberian angket motivasi, lebih dari lima puluh persen siswa sangat setuju pembelajaran ini dengan menggunakan teknik yang baru, dan tiga perempat dari siswa setuju pembelajaran ini dilakukan di luar kelas melalui proses pengamatan terlebih dahulu. Meski terdapat beberapa siswa yang merasa ragu pada metode ini namun tidak adanya siswa yang tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap metode ini berarti menghilangkan persepsi ketidaksetujuan pembelajaran dengan menggunakan metode yang baru. Dengan data yang ada, berarti terbukti siswa merasa termotivasi pada

pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung.

4.4.4 Analisis Hasil Tes

Uji coba yang penulis lakukan dengan model pembelajaran teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi, efektif. Hal ini dikarenakan dalam menulis puisi siswa sudah baik, mampu mengembangkan gagasan dengan baik, menggunakan kata-kata yang memiliki nilai estetik, meskipun masih ada beberapa siswa yang kurang mampu dalam menciptakan puisi dengan kata-kata yang memiliki nilai estetis. Berdasarkan hasil tes dapat dilihat perbedaan secara keseluruhan kemampuan siswa kelas X antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Nilai tes awal siswa kelas eksperimen yang mendapatkan nilai 40 berjumlah 2 orang, siswa yang mendapat nilai 50 berjumlah 12 orang, siswa yang mendapat nilai 55 berjumlah 12 orang, siswa yang mendapat nilai 60 beerjumlah 14 orang dan tidak ada siswa yang mendapat nilai 70. Nilai tes akhir siswa kelas eksperimen yang mendapatkan nilai 75 berjumlah 6 orang, siswa yang mendapat nilai 80 berjumlah 21 orang, siswa yang mendapat nilai 85 berjumlah 6 orang, siswa yang mendapat nilai 90 berjumlah 6 orang, siswa yang mendapat nilai 95 berjumlah 1 orang, dan tidak ada siswa yang mendapat nilai 100. Sedangkan nilai tes awal untuk kelas kontrol siswa yang mendapatkan nilai 50 berjumlah 6 orang, siswa yang mendapat nilai 55 berjumlah 4 orang, siswa yang mendapat nilai 60 berjumlah 28 orang, siswa yang mendapat nilai 65

berjumlah 2 orang, dan tidak ada siswa yang mendapat nilai 70. Nilai tes akhir siswa kelas control yang mendapatkan nilai 60 berjumlah 10 orang, siswa yang mendapat nilai 65 berjumlah 16 orang, siswa yang mendapat nilai 70 berjumlah 11 orang, siswa yang mendapat nilai 75 berjumlah 2 orang, dan tidak ada siswa yang mendapat nilai 80. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung lebih dibandingkan dengan pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan metode ceramah.

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas X MAN Kalimukti tahun pelajaran 2011 / 2012. Penilaian proses dilakukan untuk melihat aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran, dan penilaian hasil dilakukan untuk melihat keberhasilan atau efektif tidaknya suatu kegiatan pembelajaran serta penilaian angket untuk mengetahui motivasi siswa terhadap teknik yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi. Berdasarkan hasil tes pembelajaran menulis puisi dapat dilihat perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan siswa. Kemampuan siswa kelas X-4 MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon dalam pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung memperoleh rata-rata 81.95 lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai rata-rata pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan metode ceramah yaitu 65.75. Selain itu, hasil perhitungan uji t juga membuktikan bahwa thitung kelas

eksperimen (- 35,091) lebih besar dibandingkan dengan ttabel = 1,994. Keputusan ini diambil berdasarkan daerah penerimaan dan penolakan H0. Berdasarkan hasil uji hipotesis di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran teknik pengamatan objek secara langsung efektif untuk dijadikan sebagai model pembelajaran menulis puisi.

4.6 Hubungan Antara Pembelajaran dan Hasil belajar

Berdasarkan hasil analisis data observasi dan analisis data hasil belajar serta analisis data angket siswa diketahui bahwa terdapat perubahan yang sama antara data hasil observasi dan data hasil belajar serta peningkatan motivasi siswa terhadap pembelajaran. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran menentukan tingkat hasil belajar dan angket siswa mengetahui motivasi siswa terhadap pembelajaran. Kesimpulan ini diambil berdasarkan data kelas eksperimen dan kelas kontrol. Proses pembelajaran dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung menghasilkan nilai yang lebih baik dibandingkan dengan proses pembelajaran yang menggunakan metode ceramah. Hal ini dikarenakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung siswa diajak untuk keluar kelas dan mengamati sebuah objek sekitar halaman sekolah dan dapat mencari tempat di mana pun mereka mau sehingga hasil yang didapatkan mengalami perluasan-perluasan gagasan dan ide yang kemudian memudahkan siswa dalam menulis kata-kata yang memiliki nilai estetik dan menghasilkan puisi yang estetis. Pada pembelajaran dengan metode

ceramah siswa tidak dapat leluasa mengungkapkan gagasan dan idenya karena siswa hanya berada di dalam kelas dengan segala keterbatasan keadaan kelas dan sesuatu hal yang bias menumbuhkan ide dan gagasannya dan itu berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal inilah yang menjadikan perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen yang mendapatkan perlakuan model pembelajaran teknik pengamatan objek secara langsung dan kelas kontrol yang mendapat perlakuan metode ceramah. Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar, diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa kelas eksperimen dan hasil belajar kelompok kontrol. Simpulan ini diambil mengacu pada hasil analisis uji t yang menunjukkan bahwa nilai thitung = - 35,091 lebih besar dibandingkan dengan ttabel = 1,994. Dengan demikian, hipotesis penelitian ini diterima, model pembelajaran teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas X MAN Kalimukti 2011/2012 efektif. Pabedilan Cirebon tahun pelajaran

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan akhirnya dapat menjawab rumusan masalah yang ada dan dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1) Pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung dinyatakan efektif. Hal itu dibuktikan dari nilai rata-rata awal kelas eksperimen sebesar 54.5 dan mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 81.95. Berbeda dengan nilai dari kelas kontrol, hasil awal rata-ratanya sebesar 58.25 dan mengalami peningkatan yang kurang signifikan yakni sebesar 65.75. Dengan demikian peningkatan hasil rata-rata nilai kelas eksperimen jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. 2) Dari hasil perbedaan rata-rata antara tes awal dan tes akhir pada kelas eksperimen dan kelas kontrol ini berarti menjawab hipotesis yang ada, bahwa apabila kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol maka hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis kerja (Hi) diterima atau dengan kata lain metodenya dinyatakan efektif. 3) Melalui hasil dari lembar observasi yang peneliti peroleh, dapat disimpulkan bahwa kegiatan proses pembelajaran di kelas eksperimen lebih mendapatkan respons yang positif dibandingkan dengan kegiatan proses pembelajaran di kelas kontrol yang memiliki hasil kurang memuaskan. Adanya teknik baru yang diterapkan oleh peneliti membuat siswa lebih bersemangat dalam melakukan

99

pembelajaran menulis puisi dan lebih aktif melakukan kegiatan selama proses pembelajaran.

4) Dalam pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung juga memotivasi siswa dalam belajar menulis puisi. Hal itu diketahui melalui hasil lembar angket yang peneliti berikan kepada siswa. Kebanyakan dari siswa termotivasi dalam menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung, dibuktikan dengan rata-rata lebih kurang 90% siswa memilih jawaban mengalami kemudahan dalam menulis puisi menggunakan teknik ini.

Penggunaan teknik ini akan bermanfaat bagi siswa yang merasa pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah, khususnya menulis puisi merupakan hal menjenuhkan. Dengan adanya teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi, mengubah model pembelajaran menulis puisi seperti biasanya.

6.2 Saran

Berdasarkan simpulan tersebut, penulis hendak menyampaikan saran bagi yang akan menerapkan teknik pengamatan objek secara langsung dalam pembelajaran menulis puisi, khususnya pada guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, hendaknya dalam penggunaan teknik pengamatan objek secara langsung ini harus benar-benar dipersiapkan berbagai hal seperti pengesetan waktunya sehingga tidak melebihi waktu pelajaran, penguasaan materi yang benar-benar dipahami agar tidak kesulitan pada saat menjelaskan materi, interaksi yang intens kepada siswa untuk terciptanya puisi yang baik dan memiliki nilai estetik. Selain itu pengondisian tingkah laku siswa diperlukan sehingga tidak adanya siswa yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru

atau mengerjakan tugas dengan main-main yang berpengaruh pada hasil dari penulisan puisinya. Diharapkan dengan adanya teknik ini, dapat menghilangkan persepsi bahwa pembelajaran menulis puisi sangat menjenuhkan menjadi pembelajaran menulis puisi sangat menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. (2009). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Algesindo. Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian. Jakarta : PT Rineka Cipta. Aspahani, H. (2007). Menapak ke Puncak Sajak Jangan Menulis Puisi Sebelum Baca Buku Ini. Depok : Koekoesan. Balitbang Depdiknas. Pusat Kurikulum : Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta : Depdiknas Dimyati & Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta Djuanda, D & Prana D. I. (2006). Apresiasi Sastra Indonesia. Bandung : UPI Press. Endah, dkk. (2009). Metodologi Pembelajaran. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. Hakim, L. (2007). Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV Wacana Prima. Hutabarat, A.P. (2010). Menanam Benih Kata Tentang Menulis Puisi. Lampung : Dewan Kesenian Lampung (DKL) Isjoni. (2010). Cooperative Learning. Bandung : Alfabeta. Rahmanto. (2004). Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta : Kanisius. Riduwan. (2010). Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung : Alfabeta. Rohmad, M.Y. (2007). Cara Cepat Menulis Puisi dengan Daftar Kata Berdasarkan Rima. Jakarta : Studia Press. Sahriadi, M. (2011). Menulis Puisi dengan Pengamatan Langsung. (online). Http://smpn1banjang.blogspot.com/2011/01/menulis-puisi-denganteknik-pengamatan.html. 11 Januari 2011. Sayuti, S. A. (1985). Puisi dan Pengajarannya. Semarang : IKIP Semarang Press. Sayuti, S. A. (2010). Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta : Gama Media. Siswanto, W. (2008). Pengantar Teori Sastra. Jakarta : Grasindo. Sudjana, N & Ahmad R. (2010). Media Pengajaran. Bandung : Sinar Algesindo. Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Sukmadinata, N.S. (2010). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Suyatno. (2004). Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC. Tarigan, H.G. (2008). Menulis. Bandung : Angkasa Thoha, Z.A. (2009). Aku Menulis Maka Aku Ada Panduan Praktis Menulis Puisi, Cerpen, Novel, Esei Sastra, Opini, Kolom, dan Buku. Yogyakarta : CV Kutub Wacana. Wiyanto, A. (2005). Kesusastraan Sekolah Penunjang Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP dan SMA. Jakarta : PT Grasindo. Zulaela, dkk. (2003). Modul Praktikum Metode Statistika. Yogyakarta : Laboratorium Komputasi Fakultas MIPA UGM.

RIWAYAT HIDUP

Tomy

Indra

Gunawan

lahir

pada

tanggal

22 November 1989 di Desa Barisan Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon. Sebuah desa yang kecil di wilayah perbatasan provinsi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Anak pertama dari dua bersaudara, pasangan dari Bapak Maksum, S.Pd dan Ibu Hesti Rahayu serta kakak dari Muhammad Maulana Rizky. Riwayat pendidikan yang penulis tempuh yakni bersekolah di TK Pertiwi Losari lulus tahun 1995. Kemudian melanjutkan ke SD Negeri 1 Losari Kidul Cirebon lulus tahun 2001. Lalu melanjutkan ke SLTP Negeri 1 Losari Cirebon lulus pada tahun 2004 dan dilanjutkan ke SMA Negeri 1 Losari Brebes dan lulus pada tahun 2007. Kemudian dengan adanya keinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan dorongan yang kuat dari alm. ayahanda untuk menjadi seorang guru akhirnya penulis melanjutkan kejenjang perguruan tinggi yakni di UNSWAGATI dengan mengambil Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dengan tekad yang kuat, akhirnya penulis telah menyelesaikan skripsi berjudul “Pembelajaran Menulis Puisi dengan Menggunakan Teknik Pengamatan Objek secara Langsung pada Siswa Kelas X MAN Kalimukti Pabedilan Cirebon Tahun Pelajaran 2011/2012”. Karya terbaik yang penulis susun saat ini dipersembahkan dengan istimewa untuk (Alm) ayahanda Maksum, S.Pd dan ibunda Hesti Rahayu serta untuk adinda Muhammad Maulana Rizky.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->