Anda di halaman 1dari 24

ANALISIS KEUNTUNGAN USAHA IKAN ASIN DI PASAR TOMOHON

HASIL PENELITIAN

OLEH : KRISTIANUS OKOS NIM : 0761023

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TOMOHON 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Hasil perikanan merupakan komoditas yang mudah mengalami proses

kemunduran mutu dan pembusukan. Penyebabnya adalah daging ikan mempunyai kadar air yang sangat tinggi, pH netral, teksturnya lunak dan kandungan gizinya tinggi, sehingga menjadi medium yang sangat baik untuk menghindari kebusukan terutama bakteri. Proses kemunduran ini mulai terjadi setelah ikan ditangkap. Dengan demikian perlu penanganan yang cepat, tepat dan benar untuk menjaga kualitasnya. Sebelum dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen, maka perlu adanya pengawetan untuk memperpanjang daya awet. (Susianawati, dkk. 2010 dan Anonim, 2010) Nelayan di Indonesia sejak jaman dahulu telah melakukan langkahlangkah untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan mereka yang berlebihan dan tidak habis dikonsumsi dan di jual. Proses pengawetan yang dilakukan oleh masyarakat/nelayan merupakan proses pengawetan ikan secara tradisional. Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberi kesempatan bagi bakteri untuk berkembang. Untuk mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakukan yang baik selama proses pengawetan seperti : Menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan Menggunakan ikan yang masih segar, dan Serta garam yang bersih.

Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara : penggaraman, pengeringan, pengasapan, peragian, dan pendinginan ikan. (Anonim, 2009) Ikan asin adalah bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat. (Anonim, 2011)

Sebagai salah satu bentuk hasil pengawetan ikan dengan cara penggaraman, ikan asin merupakan salah satu jenis hasil olahan yang digemari oleh masyarakat. Selain memiliki rasa yang khas, ikan asin juga memiliki daya tahan yang cukup tinggi sehingga sering menjadi alternative pilihan masyarakat untuk menjadi sumber protein dalam menu makan sehari-hari. Pasar Tomohon merupakan pasar semi tradisional yang menjadi salah satu lokasi perdagangan berbagai jenis ikan hasin dari berbagai daerah yang ada di Sulawesi Utara maupun dari daerah lain. Banyaknya jenis ikan asin yang diperdagangkan, tidak didukung dengan informasi penting bagi konsumen tentang kondisi ikan yang dijual untuk keamanan dan kesehatan konsumen yang mengkonsumsi ikan tersebut. Berdasarkan permasalahan dan uraian di atas, maka akan dilakukan penelitian tentang Analisis Keuntungan Usaha Ikan Asin di Pasar Tomohon.

1.2.

Perumusan Masalah Berapakah keuntungan ikan asin di Pasar Tomohon ?

1.3.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keuntungan usaha pada ikan

asin yang diperdagangkan di Pasar Tomohon.

1.4.

Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan akan diperoleh informasi dan data

tentang analisis keuntungan usaha pada ikan asin yang diperdagangkan di Pasar Tomohon.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Ikan Asin Ikan asin merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat

selain sebagai komoditas ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan lain. Bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati menyebabkan pembusukan. Mutu olahan ikan sangat tergantung pada mutu bahan mentahnya. Selanjutnya, yang dimaksud denan cara penggaraman dan pengeringan. Penggaraman dengan menggunakan banyak garam baik secara basah ataupun secara kering. (Anonim, 2009) Prinsip pengawetan dalam pembuatan ikan asin merupakan kombinasi penambahan garam dan pengeringan. Dalam jumlah yang cukup, garam dapat mencegah terjadinya autlisis, yaitu kerusakan ikan yang disebabkan oleh enzimenzim yang terdapat di dalam ikan, dan mencegah terjadinya pembusukan oleh jasad renik. Daya pengawetan garam ini, disebabkan karena garam atau NaCl memiliki sifat osmotic yang tinggi. Garam menyebabkan nenaturasi dan kuagulasi protein dan enzim, sehingga terjadi pengerutan daging ikan, akibatnya air akan terperas keluar. Konsentrasi garam yang tinggi akan menyebabkan kematian ikan pathogen dan pembusukan yang pada umumnya sangat sensitif terhadap garam. (Anonim, 2010).

2.2

Pembuatan Ikan Asin Menurut Afrianto dan Liviawaty (2000), proses penggaraman ikan dapat

dilakukan dengan tiga cara, yaitu : a. Penggaraman Kering (Dry Salting) Penggaraman kering dapat digunakan baik untuk ikan yang berukuran besar maupun ikan yang berukuran kecil. Penggaraman ini menggunakan garam yang berbentuk Kristal. Ikan yang akan diolah ditaburi garam lalu disusun secara berlapis-lapis. Setiap lapisan ikan

diselingi lapisan garam. Selanjutnya lapisan garam akan menyerap cairan di dalam tubuh ikan, sehingga Kristal garam berubah menjadi larutan garam yang dapat direndam seluruh lapisan ikan. b. Penggaraman Basah (Wet Salting) Proses penggaraman secara basah merupakan proses penggaraman dengan menggunakan larutan garam sebagai media untuk merendam ikan. Lauratan garam akan mengisap cairan tubuh ikan sehingga konsentrasinya menurutn dan ion-ion garam akan masuk ke dalam tubuh ikan.

c. Kench Salting Proses penggaraman ini merupakan proses penggaraman yang hamper sama dengan penggaraman kering. Perbedaannya, metode ini tidak menggunakan bak kedap air. Ikan hanya ditumpuk dengan menggunakan keranjang. Untuk mencegah ikan tidak di kerumuni lalat. Seluruh permukaan ikan ditutup dengan lapisan garam.

Menurut Djarijah (1995), proses pengolahan ikan asin atau proses penggaraman ikan secara basah adalah sebagai berikut : a. Penyediaan Bahan Baku 1. Ikan yang akan diproses diseleksi dan dibersihkan. Selanjutnya dikupas sisiknya, dipotong siripnya, dan dibuang isi perutnya serta insangnya. Ikan dibelah pada bagian punggung ke arah perut. Bagian kepala ikan juga dibelah, tetapi bagian perut dan rahang bawahnya disisakan agar kedua belahnya tidak terpisah. 2. Ikan yang telah bersih ditampung dalam kerangjang agar sebagian airnya menetes keluar. Selanjutnya ikan dan garam yang dibutuhkan ditimbang. b. Penyediaan Wadah Sebelum digunakan, wadah harus dibersihkan. Wadah harus kedap air. Penutup wadah juga harus bersih. c. Proses Penggaraman

Dibuat larutan garam sesuai dengan selere. Selanjutnya ikan dimasukan dalam wadah yang telah disiapkan dan ditutup rapat. d. Waktu Penggaraman Lamanya proses penggaraman sekitar 1-3 hari. Dimana hasil dari penggaraman diukur menurut kekenyalan ikan yang telah diproses. Akibat penetrasi garam, daging ikan akan menjadi lebih padat. Selanjutnya ikan akan ditiriskan dalam keranjang sampai air tidak menetes lagi dan ikan siap untuk dijemur. e. Pengeringan Pengeringan ikan yang telah melalui proses penggaraman dilakukan di panas sinar matahari sampai kering.

2.3

Analisis Keuntungan (B/C Ratio) Data yang dikumpulkan dan dibatasi dengan pendekatan analisis diskriptif

dan matematik yaitu analisis biaya produksi dan keuntungan serta analisis break even point (BEP). Analisis keuntunan ikan asin dilakukan untuk menguraikan secara kualitatif dalam bentuk tabelaris dan presentase. Metode keuntungan yang digunakan sebagai berikut : 1. Untuk menghitung keuntungan petani perikanan tentang analisis keuntungan usaha ikan asin di Pasar Tomohon. Digunakan formulasi menurut Kadarin (1983) sebagai berikut (Persamaan) : = TR TC .................................................................................... (1) Keterangan : = Keuntungan TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya) Menurut Hartono (2003), mengatakan bahwa untuk menguji apakah tingkat keuntungan yang diterima dari suatu usaha secara rasional, maka perlu dilakukan perhitungan dengan mengetahui besarnya nilai Return Cost (R/C), nilai R/C merupakan perbandingan antara total dengan total biaya yang dikeluarkan. Formulasi model analisis ini adalah (Persamaan) :

R/C Ratio

 

.................................................. (2)

2. Untuk menganalisis Biaya Volume laba dilakukan penentuan break even point atas dasar volume produksi dan harga. Menurut Ibrahim (2003) break even point (BEP) adalah titik pulang pokok atau titik impas usaha, dimana total revenue semua dengantotal cost, tanpa dilakukan dengan menggunakan formulasi (Persamaan) : BEP Volume Produksi
  

........................... (3)

BEP Harga ?????????????????

 

........................................................ (4)

2.4

Faktor Pemasaran Menurut Stanto (1988), pasar didefinisikan sebagai tempat orang yang

mempunyai kebutuhan untuk dipuaskan, mempunyai uang untuk dibelanjakan dan kemauan untuk membelanjakan. Menurutnya ada 3 faktor yang harus diperhatikan dalam permintaan pasar untuk produk jasa yaitu : orang dengan kebutuhannya, daya beli dan perilaku daya beli konsumen. Sedangkan pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, memproduksikan, mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Sumarni dan Suprianto, 1955). Pemasaran dapat juga disimpulkan sebagai usaha terpadu untuk mengembangkan rencana strategi yang diarahkan pada usaha pemasaran kebutuhan dan keinginan pembeli, guna mendapatkan penjualan yang

menghasilkan laba. (Asri, 1989). Sistem pemasaran adalah kumpulan lembaga-lembaga yang melakukan tugas pemasaran barang dan jasa, serta factor-faktor lingkungan yang saling memberikan pengaruh dan membentuk serta mempengaruhi hubungan perusahaan dan produsen pasarnya (Stanton, 1988). Sistem komponen pemasaran yang

termasuk di dalamnya produsen, konsumen, lembaga-lembaga pemasaran dan pemerintah dalam melakukan kegiatan untuk suatu jangka waktu yang lama. Untuk keberhasilan usaha produk ikan asin maka merupakan factor yang sangat menentukan sebab menyangkut dengan segi keuntungan dan kerugian. Pemasaran ini sangat tergantung dari besar kecilnya permintaan konsumen dan tersedianya pasar (Rifai, 1981). Pemasaran ikan merupakan salah satu factor penentu dalam pengembangan perikanan di Indonesia, sebab produksi yang baik jika diikuti oleh pemasaran yang kurang baik, maka tidak ada artinya (Reksohadipodjo, 1985). Informasi harga pasar komoditi ikan asin di Kota Tomohon pada tahun 2010 disajikan pada table 2.

Table 1. Rata-Rata harga pasar komoditi ikan asin di Kota Tomohon Tahun 2010. No 1 2 3 Jenis Komoditi Ikan Pulo Ikan Malalugis Ikan Antoni Harga (Rp) Terendah 25.000 15.000 20.000 Tertinggi 35.000 20.000 30.000

Sumber : Dinas Perikanan Kota Tomohon Tahun 2010

2.5

Konsep Biaya Produksi Ikan Asin Menurut Kartasapoetra (1988), biaya produk adalah semua pengeluaran

yang harus dikeluarkan produsen untuk memperoleh factor-faktor produksi yang didayagunakan agar produk-produk tertentu yang telah direncanakan dapat terwujud dengan baik. Biaya produksi terdiri dari semua jenis ikan yang dikeluarkan dalam pengaturan dan penyelenggaraan suatu proses produksi (Tohir, 1986). Selanjutnya Boediono (1982) mengatakan bahwa biaya terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap yaitu merupakan investasi yang dikeluarkan seperti kolam dan peralatannya. Sedangkan biaya variable adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sesudah investasi ada seperti bibit/induk ikan, pakan perikanan, vitamin dan lain-lain.

Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan seorang petani perikanan, atau nelayan dalam proses produksi serta membawahnya menjadi produk, termasuk didalamnya barang yang dibeli atau jasa yang dibayar. Menurut Beattie dan Taylor (1994), fungsi biaya dinyatakan dalam output sebagai variable independen (bebas). Selanjutnya dikatakan bahwa biaya tetap yang dinyatakan sebagai berikut : VC = C (Q) Didefinisikan sebagai biaya minimum yang dibutuhkan untuk

menghasilkan Q satuan output dalam suatu periode produksi. Biaya total (TC) secara sederhana tidak tetap ditambah komponen biaya tetap b, yaitu : TC = c (Q) + b Nicholson (1999) memandang biaya sebagai pengeluaran yang

sepantasnya atau sewajarnya untuk menghasilkan sesuatu barang atau jasa. Menurut Kay (1981), dalam jangka pendek terdapat satu atau lebih input produksi sebagai biaya tetap yang tidak dapat berubah dalam suatu periode. Dalam jangka panjang, biaya didefinisikan sebagai kuantitas dari semua input produktif dapat berubah sepanjang satu periode produksi.

BAB III METODE PENELITIAN

3. 1

Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Tomohon sebagai lokasi ????????

sampel dan analisis keuntungan usaha ikan asin di Pasar Tomohon, dengan waktu yang dibutuhkan untuk penyusunan rencana kerja sampai penyusunan Laporan direncanakan selama 3 bulan (November 2011 Januari 2012).

3. 2

Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian adalah : ikan asin, bahan

dan alat tulis menulis.

3. 3

Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yang merupakan ikan asin

dengan melakukan analisis keuntungan ikan asin yang diperdagangkan di Pasar Tomohon, dan terdiri atas tiga (3) jenis ikan asin (pulo, malalugis dan antoni) setiap sampel diulang sebanyak tiga (3) kali x sehingga terdapat 9 unit perhitungan total biaya produksi dan total biaya tetap.

3. 4

Metode Pengambilan Data Metode pengambilan data menggunakan pendekatan metode survey pada

kawasan pengembangan petani perikanan ikan asin. Data dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Adapun data-data tersebut dikumpulkan melalui beberapa pendekatan sebagai berikut : 1. Data primer merupakan data yang diperoleh dengan wawancara langsung dengan penjual ikan asin/perikanan responden di lokasi, dengan menggunakan daftar pertanyaan meliputi : Identitas keluarga penjual ikan asin, pemakaian factor-faktor produksi, jumlah produksi, harga factor produksi, modal yang digunakan, tenaga kerja serta data lainnya yang digunakan sesuai kebutuhan penelitian.

2. Data sekunder yaitu data yang diambil dari instansi pemerintah Kota Tomohon tahun 2010-2011, berhubungan dengan penelitian. Data terebut diperoleh dari Dinas Perikanan Kota Tomohon, Dinas Perikanan Provinsi Sulawesi Utara serta data lainnya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Keadaan Umum Wilayah Penelitian 1. Kondisi Umum Kota Tomohon Kota Tomohon merupakan salah satu Kota di Provinsi Sulawesi Utara. Sulawesi Utara terletak di daerah bagian Indonesia tengah dengan batas wilayah sebelah timur berbatasan dengan Samudera Pasifik, sebelah selatan dengan Kabupaten Minahasa, Tondano, sebelah barat Kabupaten Minahasa Utara dan sebelah timur Minahasa Tengah. Dengan kedudukan seperti itu, Kota Tomohon mempunyai strategis sebagai Pusat kegiatan Nasional (PKN) yaitu sebagai jalur arus perpindahan barang dan jasa dari barat dan timur Sulawesi Utara. Ditinjaudari astronomi Kota Tomohon terletak pada 12,40-50 Bujur Timur (BT) dan Lintang 15,1015 (LU), mempunyai luas wilayah 1407,2178 Km2. Kota Tomohon secara administrasi terdiri atas 5 Kecamatan dan 35 Kelurahan, luas wilayah . Kota Tomohon berdasarkan Kecamatan dapat dilihat dalam Tabel 3. Secara umum Kota Tomohon mempunyai topografi, wilayah bergelombang dan berbukit dengan ketinggian ..meter di atas permukaan laut.

Tabel 2. Luas Wilayah Kota Tomohon Berdasarkan Kecamatan/Distrik No 1 2 3 4 5 Kecamatan/Distrik Kecamatan Tomohon Utara Kecamatan Tomohon Tengah Kecamatan Tomohon Selatan Kecamatan Tomohon Barat Kecamatan Tomohon Timur Luas/Km2 Persentase (%)

Sumber : BPS Kota Tomohon, 2010

Jumlah penduduk Kota Tomohon Tahun 2010-2011 berdasarkan data dari BPS Kota Tomohon berjumlah 91,553 jiwa, yang terdiri .. penduduk laki-laki dan .... jiwa penduduk perempuan. Jika dibandingkan dengan penduduk tahun sebelumnya (2009) jiwa, maka penduduk Kota Tomohon terlihat mengalami peningkatan yang cukup pesat, demikian juga dapat dilihat menurut kecamatan, hal ini disebabkan karena kondisi dan situasi yang semakin konduktif.

2. Keadaan Populasi Perikanan Di Kota Tomohon Jenis ikan asin yang banyak terjual/diusahakan oleh masyarakat Kota Tomohon yaitu ikan pulo, ikan malalugis, antoni dan beberapa jenis ikan yang terjual di Pasar Tomohon.

Tabel 3. Populasi Perikanan Menurut Jenis Ikan dan Kecamatan (Per Kg) Tahun 2010
Kecamatan/Distrik Kecamatan Tomohon Utara Kecamatan Tomohon Tengah Kecamatan Tomohon Selatan Kecamatan Tomohon Barat Kecamatan Tomohon Timur Jumlah Sumber : Dinas Perikanan Kota Tomohon 2011 Pulo Malalogis Antoni (Per/Kg) Per Tahun

Table 3, nampaknya bahwa populasi analisis keuntungan ikan asin dengan jumlah terbanyak semakin berkurang walaupun tidak begitu signifikan dari 120 ekor pada tahun 2010 menjadi . Pada tahun 2011. Namun demikian, populasi ikan asin lain meningkat setiap tahunnya. Populasi ikan asin menurut data tahun 2010 dari 4 kecamatan yang paling tinggi terdapat di Kecamatan Tanawangko sebesar ..........

3. Komoditi Perikanan di Kota Tomohon Pembangunan perikanan di Kota Tomohon pada prinsipnya untuk meningkatkan produksi ikan asin guna mendapatkan pendapatan petani perikanan dan upaya pemerataan pembangunan pedesaan. Produksi ikan asin dalam bentuk segar maupun kering pada tahun 2010 mencapai .. ton, dengan rata-rata produksi 30,81 kwintal/kg. sentra produksi di Kota Tomohon terdapat di Kecamatan Tomohon Utara. Dengan keuntungan usaha ikan asin sebesar Ha dan produksi atau .. persen dari total produksi ikan asin tahun 2010 diseluruh Kota Tomohon. Produksi penghasilan lainnya menonjol di Kota Tomohon adalah Ubi Kayu. Namun pada tahun 2009 produksi ubi kayu mencapai 19.018 ton dari luas 1.344 Ha. Sentra komoditi Ubi Kayu terdapat di Kecamatan Tomohon Tengah.

4. Karakteristik Responden Usaha Ikan Asin Hasil penelitian menunjukan bahwa umur responden sampul bervariasi dari umur 30 69 tahun (table 4). Dalam table 6 memperlihatkan bahwa kelompok umur 45 54 tahun adalah kelompok umur yang presentasenya tertinggi yaitu 30,76 %, diikuti oleh kelompok umur 35 44 tahun dan 55 64 tahun sebesar 23,07 persen (6 orang), kelompok umur 25 34 tahun sebesar 15,40 persen (4 orang) dan kelompok umur > 65 tahun sebesar 7,70 % (2 orang).

Table 5. Karakteristik Responden Usaha Ikan Asin berdasarkan Kelompok Umur di Lokasi Penelitian. No 1 2 3 4 5 Umur (Tahun 25 34 35 44 45 54 54 64 >65 Jumlah Jumlah (orang) 4 6 7 6 2 26 Persentase (%) 15,40 23,07 30,7 23,07 7,70 100,00

Menurt Rusli (1995), mengelompokkan umur yaitu pada umur belum produktif 0 12 tahum umur produktif 15 64 tahun dan umur tidak produktif > 65 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada kategori produktif, tetapi dari jumlah responden

terdapat 2 orang yang berumur di atas 5 tahun. Dan pada umur 25 44 tahun dikategorikan cepat mengadopsi akan menerapkan hal-hal yang baru dalam aktivitas usaha sedangkan petani perikanan berumur 45 54 tahun dikategorikan lambat mengadopsi hal yang baru, tetapi petani perikanan tersebut mempunyai kemauan untuk mencoba hal-hal yang baru. Petani perikanan yang berumur di atas 55 tahun dikategorikan sebagai petani perikanan yang hanya menerima dan sadar akan hal-hal yang baru tetapi petani perikanan kurang mengadopsi karena masih terakumulir dengan total yang dianulirnya misalnya kebiasaan bertani/perikanan maupun budaya yang telah menjadikan mereka tidak berubah dalam sistem bertani/perikanan. Hasil penelitian pada petani perikanan yang dijadikan sampel ternyata sebagian besar masih tergantung dalam sistem

bertani/perikanan. Hasil penelitian pada perikanan yang dijadikan sampel ternyata sebagian besar masih tergantung pada budaya tradisional produksi ikan asin.

5. Tingkat Pendidikan Hasil penelitian diperoleh tingkat pendidikan petani perikanan ikan asin dikategorikan rendah karena sebagian besar tingkat pendidikannya Sekolah Dasar sebesar 50 38 % (17 orang), responden dengan pendidikan SMP sebesar 7,7 % (2 orang), sedangkan perguruan tinggi tidak ada. Menurut Direktorat Jendral Perikanan (1998), tingkat pendidikan perikanan sangat menentukan keberhasilan usaha perikanan karena dengan membekali pengetahuan melalui jenjang pendidikan akan mempengaruhi usaha perikanan sehingga peran sumberdaya manusia dalam pembangunan perikanan merupakan unsur yang sangat penting. Tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada table 4.

Tabel 4. Karakteristik Petani Perikanan Berdasarkan Tingkat Pendidikan No 1 2 3 4 Pendidikan SD SMP SMA PT Jumlah 6. Pengalaman Usaha Ikan Asin Salah satu dari internal yang mempengaruhi produktivitas usaha ikan asin adalah pengalaman dalam perikanan. Pengalaman dalam pemeliharaan petani perikanan ikan tidak terlepas dari keberadaan usaha ikan asin yang sifatnya turun-temurun dari orang tua kepada anakanaknya. Akibatnya petani perikanan maupun pengalaman pemeliharaan cukup lama tetapi karena lingkungan yang masih bersifat tradisional dan mewarisi budaya yang berkembang, maka produktivitas usahanya rendah sehingga output yang dihasilkan juga rendah. Masalah lain yang dihadapi petani perikanan adalah usaha ikan asin merupakan usaha sampingan, sehingga responden lebih mencurahkan pekerjaannya pada usaha petani perikanan. Namun petani perikanan menyadari bahwa ada keterkaitan antara usaha ikan asin, sehingga saling menopang dalam usaha lainnya. Pengalaman responden petani perikanan ikan asin dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6 menunjukkan bahwa responden yang lama bertani perikanan 4 10 tahun paling banyak yaitu sebesar 57,69 persen (15 orang) diikuti lama bertani perikanan 11 20 tahun sebesar 34,61 persen (9 orang), responden dengan lama bertani perikanan 21 30 tahun sebesar 7, 70 % (2 orang). Jumlah (orang) 17 7 2 0 26 Persentase (%) 6, 538 26, 92 7, 70 0 100,00

Tabel 6. Karakteristik Petani Perikanan Berdasarkan Pengalaman No 1 Uraian Bertani Perikanan : a. 4 10 tahun b. 11 20 tahun c. 21 30 tahun d. > 31 tahun Jumlah 2 Bertani Perikanan a. 4 10 tahun b. 11 20 tahun c. 20 30 tahun d. > 31 tahun Jumlah 15 9 2 0 26 57,69 34,61 7,70 0,00 100,00 3 10 9 4 26 11,53 38,46 34,61 15,40 100,00 Jumlah (orang) Persentase (%)

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa, proses pemasaran ikan asin di pasar blantik menjadi antara petani perikanan dengan blantik dengan memperlihatkan performans ikan kemudian terjadi tawar-menawar untuk menetapkan harga jual. Dari hasil wawancara diperoleh bahwa petani perikanan membutuhkan adanya penetapan harga jual ikan hidup maupun yang ikan olahan yang sesuai, karena selama ini mereka tergantung harga pasar yang ditentukan oleh para blantik.

Gambar 1. Jalur Pemasaran Petani Ikan Asin di Lokasi Penelitian Perikanan Perikanan

Blantik Kampung

Blantik Kecamatan

Penjagal / Ikan Asin

Pasar Swalayan/Restoran/Hotel

Pasar Swalayan/Restoran/Hotel

Konsumen Akhir Pada gambar 1 di atas, nampaknya bahwa petani perikanan biasanya di jual dalam bentuk hidup baik langsung ke blantik maupun dijual pada perikanan lain untuk dilanjutkan. Harga pemasaran keuntungan ikan asin biasanya disesuaikan dengan kondisi dan ikan yang akan dijual. Untuk ikan dewasa ini harga berkisar antara 500 1.000.000 juta rupiah di Pasar Tomohon.

4.2.

Analisis Biaya Produksi, Keuntungan dan Break Even Point 1. Analisis Biaya Produksi Biaya dalam usaha ikan asin terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Menurut Soerkartawi (2001), bahwa biaya tetap diperlukan bagi biaya faktor produksi yang sifatnya tetap seperti penyusutan dan peralatan usaha produksi maupun pajak atas usaha, sedangkan biaya tidak tetap adalah biaya yang diperuntu bagi pembiayaan faktor produksi yang sifatnya berubah-ubah dalam satu proses produksi seperti biaya makanan petani perikanan, obat-obatan dan tenaga kerja. Biaya yang dimaksud dalam penelitian ini ialah biaya keuntungan usaha ikan asin yang sudah dijual oleh petani perikanan responden selang waktu satu tahun terakhir

dan perkiraan harga berlaku untuk ikan asin yang masih dimiliki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata besarnya biaya tetap yang digunakan responden dalam keuntungan usaha ikan asin untk skala usaha kecil sebesar Rp .., biaya tetap rata-rata untuk skala usaha kecil Rp selama satu tahun. Pada analisis keuntungan usaha kecil ikan asin menengah rata-rata biaya tetap sebesar Rp ., dengan rata-rata biaya tidak biaya tetap tidak sebesar tetap Rp

, Rp.,

dengan

rata-rata

sebesar

Biaya tetap dalam penelitian ini yaitu biaya peralatan bibit ikan, kolam ikan, biaya penyusutan alat, dan lain-lain. Sedangkan biaya tidak tetap mencakup biaya pakan, biaya tenaga kerja dan obat-obatan. Rata-rata penggunaan biaya produksi pada masing-masing usaha ikan asin dapat diliat pada tabel 7.

Tabel 7. Rata-Rata Biaya Produksi Usaha Ikan Asin


No 1 2 3 Jumlah Lokasi (Kg) 3 -5 6 10 > 11 Skala Usaha Kecil Menengah Besar Biaya Tetap (Rp) Biaya Tidak Tetap (Rp) Total Biaya Produksi (Rp)

2. Analisis Keuntungan Masing-Masing Usaha Ikan Asin Keuntungan yang diperoleh adalah hasil penjualan ikan asin selama satu tahun. Sejalan dengan pernyataan Kadarsan (1992) mengatakan bahwa keuntungan atau penerimaan bersumber dari

pemasaran atau penjualan hasil usaha, seperti hasil produksi dari petani perikanan dan bahan olahannya. Hasil penelitian pada petani perikanan menunjukkan bahwa pada usaha skala kecil rata-rata keuntungan usaha ikan asin selama satu tahun Rp . Skala usaha menengah sebesar Rp .. (Lihat Tabel 10). Penerimaan yang diperoleh bersumber dari hasil penjualan ikan

asin dan perkiraan harga jual dari ikan yang berlaku di lokasi penelitian, total keuntungan yang diperoleh perikanan responden merupakan selisih antara penerimaan total dikurangi dengan total biaya produksi yang dikeluarkan dalam usaha ikan asin. Berdasarkan hasil wawancara dengan perikanan responden bahwa pemanfaatan hasil lain dari ikan asin seperti kotoran ikan, menggunakan air yang bersih bahan dan alat, dan ikan yang belum dimanfaatkan untk menambah penghasilan. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan responden dalam memanfaatkan potensi yang dimiliki petani perikanan.

Tabel 8. Rata-Rata Keuntungan usaha Ikan asin pemeliharaan per tahun


No 1 2 3 Jumlah Lokasi (Kg) 3 -5 6 10 > 11 Skala Usaha Kecil Menengah Besar Total Biaya Produk (Rp) Total Penerimaan (Rp) Keuntungan (Rp)

Berdasarkan Bab II dapat diketahui bahwa analisis keuntungan usaha ikan asin kecil rata-rata pemilikan 4 kg, maka besarnya biaya pengolahan ikan asin per kg mencapai Rp .. per tahun dan analisis usaha menengah rata-rata pemilik ikan asin 8 kg besarnya pengolahan per kg mencapai Rp per tahun, sedangkan pada usaha skala besar rata-rata 14 kg Rp 35.000 dikali 1 bulan 1 tahun ikan asin diperoleh besarnya biaya pengolahan per Kg mencapai Rp . Per tahun. Apabila hubungan dengan tingkat keuntungan per kg masingmasing skala usaha menunjukkan bahwa skala usaha menengah memberikan tingkat keuntungan yang lebih baik dibandikan dengan skala usaha kecil maupun skala usaha besar. Salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu bila dilihat dari komponen biaya yang dikeluarkan pada usaha menengah dan usaha besar, maka komponen biaya tidak tetap seperti biaya pakan nilainya lebih tinggi dari pada usaha besar. Hal ini dapat dijelaskan bahwa, untuk usaha kecil rata-rata nilai keuntungan ikan

asin sebesar Rp .. per kg per tahun, untuk usaha besar rata-rata nilai keuntungan sebesar Rp per kg per tahun sedangkan usaha besar rata-rata nilai keuntungan sebesar Rp .. per kg per tahun.

Tabel 9. Rata-Rata Biaya dan Keuntungan Pada Masing-Masing Skala Usaha Ikan Asin Per Tahun
Jumla pemeliharaan Usaha Ikan Asin (Kg) 35 6 10 > 11 Rata-Rata Usaha Rata-Rata Nilai Ikan Asin (Kg) Biaya (Rp) 4 8 14 Rata-Rata Nilai Keuntungan (Rp)

Untuk menguji tingkat keuntungan yang diperoleh melalui analisis keuntungan usaha ikan asin di atas, maka perlu dilanjutkan dengan menggunakan metode analisis R/C ratio sebagaimanan Nampak pad atabel 10 berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa nilai R/C ratio pada masing-masing usaha yaitu skala kecil sebesar Rp skala menengah sebesar Rp .. dan skala usaha besar Rp .. nilai-nilai tersebut mempunyai pengertian bahwa, untuk setiap perubahan nilai perubahan pegneluaran untuk biaya produksi usaha ikan asin besar Rp . Pada usaha kecil akan memperoleh tambahan penerimaan sebesar Rp dengan demikian usaha ikan asin. Di Kota Tomohon memberikan tingkat keuntungan bagi petani perikanan baik pada usaha kecil, usaha menengah maupun usaha besar. Hal ini sejalan dengan Siregar (1995), bahwa usaha pengolahan ikan asin memberikan keuntungan bila R/C ratio yang lebih dari satu dan apabila nilai R/C ratio semakin besar akan memberikan tingkat keuntungan yang semakin besar.

Tabel 10. Nilai Reveneu Cost Ratio Usaha Pengolahan Ikan Asin.
No 1 2 3 Jumlah Tempat 3 -5 6 10 > 11 Skala Usaha Kecil Menengah Besar R/C Ratio

Berdasarkan rumusan hipotesis, maka hasil analisis menunjukkan bahwa hipotesis awal (Ho) ditolak sedangkan hipotesis (H1) diterima, hal ini dibuktikan bahwa tingkat keuntungan petani perikanan berdasarkan pada masing-masing usaha diperoleh nilai R/C ratio lebih besar dari satu.

3. Nilai Break Even Point Break even dapat diartikan suatu keadaan dalam usaha perusahaan, perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (Munawir, 1999). Nilai BEP pada masing-masing usaha dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Nilai Break Even Point Masing-Masing Usaha Ikan Asin
No 1 2 3 Jumlah Ikan (Kg) 3 -5 6 10 > 11 Skala Usaha Kecil Menengah Besar Nilai BEP Per Kg BEP Harga (Rp)

Berdasarkan hasil perhitungan nilai break even point pada masingmasing skala usaha diperoleh nilai BEP untuk skala usaha kecil pada pengolahan ikan asin 3 kg ikan asing dengan biaya sebesar

Rp. untuk skala usaha menengah nilai BEP pada pengolahan 6 kg ikan asin dengan biaya pendapatan Rp . Sedangkan untuk usaha besar nilai BEP pada pengolahan 9 kg ikan asin dengan biaya pendapatan sebesar Rp . Dengan demikian usaha pengolahan ikan asin di Kota Tomohon dengan skala usaha besar

nilai BEP nya sebanyak 9 kg. untuk memperjelas nilai BEP pada maingmasing skala usaha ikan asin dapat dijelaskan melalui gambar/grafik yang disajikan dalam lampiran 10. Berdasarkan rumusan hipotesis maka hipotesis awal (Ho) diterima sedangkan hipotesis alternative (H1) ditolak, hal ini dibuktikan dengan hasil analisis keuntungan usaha ikan asin bahwa nilai BEP baik volume produksi dan harga masih berada pada nilai yang menguntungkan petani perikanan (Lihat Lampiran 11).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan 1. Besarnya biaya produksi yang dikorbankan petani perikanan

berdasarkan pada masing-masing skala usaha pemilikan ikan asin di Kota Tomohon, dikategorikan relatif efisien yang dibuktikan dengan tingkat keuntungan yang diperoleh petani perikanan ikan asin. 2. Usaha pengolahan ikan asin berdasarkan pada masing-masing skala usaha memberikan tingkat keuntungan yang lanjut kepada petani perikanan yang dibuktikan denan nilai Revenue Cost Ratio (R/C) lebih besar dari satu. 3. Usaha pengolahan ikan asin berdasarkan pada masing-masing skala usaha, pemilik belum mencapai nilai Break Even Point (BEP) baik volume produksi maupun dari aspek harga.

5.2.

Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka disarankan agar kedepan perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui prospek analisis keuntungan usaha ikan asin di Pasar Tomohon mengingat potensi sumberdaya cukup tersedia, sehingga perlu adanya program terpadu kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat petani perikanan dalam mewujudkan pertanian yang berbasis agribisnis.