Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Latar Belakang Orang Utan (Pongo pygmaeus) Orangutan hidup di dataran rendah dan rawa-rawa hutan tropika di wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Gambar 1. Orang Utan

Istilah "orang utan" diambil dari bahasa Melayu, yang berarti manusia (orang) hutan. Orang utan mencakup dua spesies, yaitu orang utan sumatera (Pongo abelii) dan orang utan kalimantan (borneo) (Pongo pygmaeus). Yang unik adalah orang utan memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, dimana orang utan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4%. Ciri-Ciri Mereka memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tidak mempunyai ekor. Orangutan memiliki tinggi sekitar 1.25-1.5 meter. Tubuh orangutan diselimuti rambut merah kecoklatan.Mereka mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi. Berat orangutan jantan sekitar 50-90 kg, sedangkan orangutan betina beratnya sekitar 30-50 kg. Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari-jari panjang ditambah 1 ibu jari. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia. Orangutan masih termasuk dalam spesies kera besar seperti gorila dan simpanse. Golongan kera besar masuk dalam klasifikasi

mammalia, memiliki ukuran otak yang besar, mata yang mengarah kedepan, dan tangan yang dapat melakukan genggaman. Klasifikasi Spesies dan Subspesies 1. Ada 2 jenis spesies orangutan, yaitu orangutan Kalimantan/Borneo (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatra (Pongo abelii). 2. Keturunan Orangutan Sumatra dan Kalimantan berbeda sejak 1 sampai 2, 3 juta tahun yang lalu. 3. Subspecies
y

Pembelajaran genetik telah mengidentifikasi 3 subspesies Orangutan Borneo : P.p.pygmaeus, P.p.wurmbii, P.p.morio. Masing-masing subspesies berdiferensiasi sesuai dengan daerah sebaran geografisnya dan meliputi ukuran tubuh.

Orangutan

Kalimantan

Tengah

(P.p.wurmbii)

mendiami

daerah

Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Mereka merupakan subspesies Borneo yang terbesar.
y

Orangutan Kalimantan daerah Timur Laut (P.p.morio) mendiami daerah Sabah dan daerah Kalimantan Timur. Mereka merupakan subspesies yang terkecil.

Saat ini tidak ada subspecies orangutan Kalimantan yang berhasil dikenali.

Lokasi dan habitat Orangutan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia. Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan. Di Borneo, orangutan dapat ditemukan pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan kerabatnya di Sumatra dilaporkan dapat mencapai hutan pegunungan pada 1.000 m dpl. Orangutan Sumatra merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatra. Orangutan di Sumatra hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai

dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan. Keberadaan hewan mamalia ini dilindungi Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. Di Sumatra, salah satu populasi orangutan terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatra Utara. Populasi orangutan liar di Sumatra diperkirakan sejumlah 7.300. Di DAS Batang Toru 380 ekor dengan kepadatan pupulasi sekitar 0,47 sampai 0,82 ekor per kilometer persegi. Populasi orangutan Sumatra (Pongo abelii lesson) kini diperkirakan 7.500 ekor. Padahal pada era 1990 an, diperkirakan 200.000 ekor. Populasi mereka terdapat di 13 daerah terpisah secara geografis. Kondisi ini menyebabkan kelangsungan hidup mereka semakin terancam punah. Saat ini hampir semua Orangutan Sumatra hanya ditemukan di Provinsi Sumatra Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba sebagai batas paling selatan sebarannya. Hanya 2 populasi yang relatif kecil berada di sebelah barat daya , yaitu Sarulla Timur dan hutan-hutan di Batang Toru Barat. Populasi orangutan terbesar di Sumatra dijumpai di Leuser Barat (2.508 individu) dan Leuser Timur (1.052 individu), serta Rawa Singkil (1.500 individu). Populasi lain yang diperkirakan potensial untuk bertahan dalam jangka panjang (viable) terdapat di Batang Toru,Sumatra Utara, dengan ukuran sekitar 400 individu. Orangutan di Borneo yang dikategorikan sebagai endangered oleh IUCN terbagi dalam tiga subspesies: Orangutan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio. Di Borneo, orangutan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam. Makanan Meskipun orangutan termasuk hewan omnivora, sebagian besar dari mereka hanya memakan tumbuhan. 90% dari makanannya berupa buah-buahan. Makanannya antara lain adalah kulit pohon, dedaunan, bunga, beberapa jenis serangga, dan sekitar 300 jenis buah-buahan Selain itu mereka juga memakan

nektar,madu dan jamur. Mereka juga gemar makan durian, walaupun aromanya tajam, tetapi mereka menyukainya. Orangutan bahkan tidak perlu meninggalkan pohon mereka jika ingin minum. Mereka biasanya meminum air yang telah terkumpul di lubang-lubang di antara cabang pohon. Biasanya induk orangutan mengajarkan bagaimana cara mendapatkan makanan, bagaimana cara mendapatkan minuman, dan berbagai jenis pohon pada musim yang berbeda-beda. Melalui ini, dapat terlihat bahwa orangutan ternyata memiliki peta lokasi hutan yang kompleks di otak mereka, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan tenaga pada saat mencari makanan. Dan anaknya juga dapat mengetahui beragam jenis pohon dan tanaman, yang mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara memproses makanan yang terlindungi oleh cangkang dan duri yang tajam. Predator Predator terbesar orangutan dewasa ini adalah manusia. Selain manusia, predator orangutan adalah macan tutul, babi, buaya, ular phyton, dan elang hitam. Cara melindungi diri Orangutan termasuk makhluk pemalu. Mereka jarang memperlihatkan dirinya kepada orang atau makhluk lain yang tak dikenalnya. Reproduksi Orangutan betina biasanya melahirkan pada usia 7-10 tahun dengan lama kandungan berkisar antara 8,5 hingga 9 bulan; hampir sama dengan manusia. Jumlah bayi yang dilahirkan seorang betina biasanya hanya satu. Bayi orangutan dapat hidup mandiri pada usia 6-7 tahun. Kebergantungan orangutan pada induknya merupakan yang terlama dari semua hewan, karena ada banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa bertahan hidup, mereka biasanya dipelihara hingga berusia 6 tahun. Orangutan berkembangbiak lebih lama dibandingkan hewan primata lainnya, orangutan betina hanya melahirkan seekor anak setiap 7-8 tahun sekali. Umur orangutan di alam liar sekitar 45 tahun, dan sepanjang gidupnya orangutan betina hanya memiliki 3 keturunan seumur hidupnya. Dimana itu berarti reproduksi orangutan sangat lambat.

Cara bergerak Orangutan dapat bergerak cepat dari pohon ke pohon dengan cara berayun pada cabang-cabang pohon, atau yang biasa dipanggil brachiating. Mereka juga dapat berjalan dengan kedua kakinya, namun jarang sekali ditemukan. Orang utan tidak dapat berenang. Cara Hidup Tidak seperti gorila dan simpanse, orangutan tidak hidup dalam sekawanan yang besar. Mereka merupakan hewan yang semi-soliter. Orangutan jantan biasanya ditemukan sendirian dan orangutan betina biasanya ditemani oleh beberapa anaknya. Walaupun oranutan sering memanjat dan membangun tempat tidur dipohon, mereka pada intinya merupakan hewan terrestrial(menghabiskan hidup ditanah). Ancaman Ancaman terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah habitat yang semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang untuk diambil kayunya. Orangutan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Tak jarang mereka juga dilukai dan bahkan dibunuh oleh para petani dan pemilik lahan karena dianggap sebagai hama. Jika seekor orangutan betina ditemukan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh dan anaknya kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal. Pusat rehabilitasi didirikan untuk merawat oranutan yang sakit, terluka dan yang telah kehilangan induknya. Mereka dirawat dengan tujuan untuk dikembalikan ke habitat aslinya. Pembukaan Lahan dan Konversi Perkebunan Di Sumatra, populasinya hanya berada di daerah Leuser, yang luasnya 2.6 juta hektare yang mencakup Aceh dan Sumatra Utara. Leuser telah dinyatakan sebagai salah satu dari kawasan keanekaragaman hayati yang terpenting dan ditunjuk sebagai UNESCO Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera pada tahun 2004. Ekosistemnya menggabungkan Taman Nasional Gunung Leuser, tetapi kebanyakan para Orangutan tinggal diluar batas area yang dilindungi, dimana luas hutan berkurang sebesar 10-15% tiap tahunnya untuk dijadikan sebagai area penebangan dan sebagai kawasan pertanian.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami berkurangnya jumlah hutan tropis terbesar didunia. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan berkurangnya laju deforestasi. Sekitar 15 tahun yang lalu, tercatat sekitar 1.7 juta hektare luas hutan yang terus ditebang setiap tahunnya di Indonesia, dan terus bertambah pada tahun 2000 sebanyak 2 juta hektare. Konflik mematikan yang sering terjadi di perkebunan adalah saat dimana Orangutan yang habitatnya makin berkurang karena pembukaan hutan harus mencari makanan yang cukup untuk bertahan hidup. Spesies yang dilindungi dan terancam punah ini seringkali dipandang sebagai ancaman bagi keuntungan perkebunan karena mereka dianggap sebagai hama dan harus dibunuh. Orangutan biasanya dibunuh saat mereka memasuki area perkebunan dan merusak tanaman. Hal ini sering terjadi karena orangutan tidak bisa menemukan makanan yang mereka butuhkan di hutan tempat mereka tinggal. Perdagangan Ilegal Secara teori, orangutan telah dilindungi di Sumatra dengan peraturan perundang-undangan sejak tahun 1931, yang melarang untuk memiliki, membunuh atau menangkap orangutan. Tetapi pada prakteknya, para pemburu masih sering memburu mereka, kebanyakan untuk perdagangan hewan. Pada hukum internasional, orangutan masuk dalam Appendix I dari daftar CITES(Convention on International Trade in Endangered Species) yang melarang dilakukannya perdagangan karena mengingat status konservasi dari spesies ini dialam bebas. Namun, tetap saja ada banyak permintaan terhadap bayi orangutan, baik itu permintaan lokal, nasional dan internasional untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan. Anak orangutan sangat bergantung pada induknya untuk bertahan hidup dan juga dalam proses perkembangan, untuk mengambil anak dari orangutan maka induknya harus dibunuh. Diperkirakan, untuk setiap bayi yang selamat dari penangkapan dan pengangkutan merepresentasikan kematian dari orangutan betina dewasa. Menurut data dari website WWF, diperkirakan telah terjadi pengimporan orangutan bernama ke Taiwan sebanyak 1000 ekor yang terjadi antara tahun 1985 dan 1990. Untuk setiap orangutan yang tiba di Taiwan, maka ada 3 sampai 5 hewan lain yang mati dalam prosesnya. Perdagangan orangutan dilaporkan juga

terjadi di Kalimantan, dimana baik orangutan itu hidaup atau mati juga masih tetap terjual. Status Konservasi Orang Utan Orangutan Sumatra telah masuk dalam klasifikasi Critically Endangered dalam daftar IUCN. Populasinya menurun drastis dimana pada tahun 1994 jumlahnya mencapai lebih dari 12.000, namun pada tahun 2003 menjadi sekitar 7.300 ekor. Data pada tahun 2008 melaporkan bahwa diperkirakan jumlah Orangutan Sumatra di alam liar hanya tinggal sekitar 6.500 ekor. Secara historis, orangutan ditemukan di kawasan hutan lintas Sumatra, tetapi sekarang terbatas hanya didaerah Sumatra Utara dan provinsi Aceh. Habitat yang sesuai untuk Orangutan saat ini hanya tersisa sekitar kurang dari 900.000 hektare di pulau Sumatra. Saat ini diperkirakan orangutan akan menjadi spesies kera besar pertama yang punah di alam liar. Penyebab utamanya adalah berkurangnya habitat dan perdagangan hewan. Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi. Orangutan

memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan bijibijian yang mereka makan. Hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan. Hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orangutan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagain macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.

Tujuan Penulisan 1. Memahami permasalahan konflik antara manusia dengan Orang Utan 2. Mampu memberikan solusi berupa argument-argumen yang kuat dalam memecahkan masalah konflik antara manusia dan satwa

KONFLIK MANUSIA DENGAN ORANG UTAN

Gambar 2. Orang Utan (Pongo pygmaeus)

Konflik Manusia vs Orangutan, Demi Perluasan Lahan Kelapa Sawit Berbagai konflik masyarakat desa dengan orangutan dan hilangnya kawasan hutan secara cepat menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian orangutan. Padahal orangutan merupakan binatang unik yang hanya bisa ditemukan di Indonesia dan sebagian kecil Sabah, Malaysia. Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan 17 Non Government Organsation (NGO) konservasi di tiga provinsi di Kalimantan yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Beberapa NGO yang terlibat antara lain FK3I, Yayasan Palung, Yayasan Riak Bumi, Yayasan Sangkur Huta, WWF, Perhimpunan Teropong, Suar Institute, Titian dan Akar, dan lainnya. Peneliti dari Asosiasi Pemerhati dan Ahli Primata Indonesia Sri Suci Atmoko mengatakan, dari 725 desa yang di teliti, mayoritas masyarakat melaporkan pernah terjadi konflik antara manusia dan orangutan. "Kalimantan merupakan propinsi dengan tingkat konflik tertinggi karena 18 persen melaporkan frekuensi konflik cukup tinggi," katanya saat konferensi pers ringkasan eksekutif Potret Orangutan Kalimantan di Jakarta, Selasa (1/11). Menurut dia, konflik orang utan terjadi karena orang utan memasuki kebun atau ladang yang menjadi hama pengganggu tanaman sehingga orang utan banyak diburu manusia. Secara statistik laporan terjadinya konflik cenderung terjadi di desa yang berdekatan dengan kawasan perkebunan kelapa sawit, sawah atau kawasan hutan tanaman industri (HTI). "Ketika konflik terjadi, kebanyakan

masyarakat hanya mencoba mengusir dengan menakut-nakuti, dan hanya 5 persen yang mencoba membunuh," katanya. Dalam rentang waktu 2000 sampai 2008, sekitar 2,3 juta hektar hutan telah hilang di Kalimantan, menjadikan tingkat deforestasi yang terbesar kedua setelah Sumatera. Sementara itu, Direktur Program The Nature Consevation (TNC) Niel Makinuddin mengatakan hanya 30 persen habitat orang utan terlindungi melalui status kawasan lindung, sementara 70 persen sisanya dalam kondisi sangat rentan karena habitatnya ada di luar kawasan konservasi. Ia mengatakan konflik terjadi ketika orangutan masuk kebun atau ladang dan memakan buah hasil kebun masyarakat. Selain itu, konflik lainnya terjadi karena pembelaan diri masyarakat atau karena perlindungan adat. Masyarakat menganggap orangutan sebagai hama karena memakan buah hasil kebun mereka, katanya. Bahkan fakta mengejutkan lainnya, 54 persen melaporkan kalau orang utan dibunuh untuk dimakan dagingnya karena tidak adanya sumber protein daging lainnya yang mereka temukan di hutan. Banyak dari masyarakat yang bilang kalau daging orangutan itu enak, ada juga yang membunuh orangutan karena alasan mistik atau tidak menemukan binatang ketika mereka berburu di hutan sehingga orangutan yang menjadi sasaran, katanya. Ia mencatat, sejak 2007, sekitar 750-1.800 orangutan mati di Kalimantan. Sementara tahun ini, sebanyak 691 orangutan dilaporkan mati terbunuh. Kebanyakan masyarakat, kata dia, mengaku telah membunuh 1-2 orangutan per tahun. Semakin banyak mereka membunuh malahan ada yang semakin bangga, kata dia. Menanggapi hal tersebut, Kasubdit Spesies Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Konservasi Alam (PHKA) Agus SB Sutito mengatakan perlu adanya semacam tim koordinasi di setiap daerah yang dipimpin oleh bupati dan gubernur untuk menangani konflik satwa besar liar yang dilindungi seperti gajah, harimau, dan orangutan. Harusnya ada penanganan konflik tiap daerah khususnya yang terdapat banyak satwa dilindungi, kata dia.

******************************

PEMBAHASAN
Salah satu dampak konflik antara manusia dan orangutan adalah meningkatnya perburuan orangutan untuk diperdagangkan. Konversi hutan untuk berbagai kepentingan (misalnya perkebunan) dan pembangunan infrakstruktur menyebabkan akses perburuan orangutan semakin mudah. Pembukaan lahan dan perburuan akan menyebabkan orangutan keluar dari habitatnya dan bergerak ke daerah-daerah pinggiran sungai atau perkebunan, kondisi ini terjadi karena orangutan ketakutan dan kehilangan sumber pakan. Bahkan pada beberapa kasus orangutan memasuki daerah pemukiman masyarakat atau perkebunan, dan terjadi konflik antar keduanya yang mengakibatkan orangutan menjadi korban.

Adakah cara untuk menangani konflik orangutan vs manusia? Belum terdapat solusi terbaik yang dilakukan untuk mengatasi konflik antar manusi dan orangutan. Pada perkebunan, langkah pertama dapat ditempuh adalah melaukuan perencanaan penggunaan lahan secara terpadu, pembangunan kawasan lindung, pembuatan koridor, pembuatan batas rintangan, penjagaan tanaman, dan langkah terakhir namun tidak direkomendasikan adalah translokasi. Hal ini sangat penting dilakukan untuk mencegah munculnya potensi konflik antara manusia dengan orangutan yang telah menjadi perhatian internasional. Dengan demikian segala rencana pembangunan, termasuk perkebunan (misalnya kebun sawit) sebaiknya tidak dilakukan di dalam kawasan habitat potensial orangutan atau harus mengikuti aturan yang ditetapkan dalam RSPO, prioritas CTDPs, dan HCVF dalam pendekatan BMP. Selain itu, izin pembangunan perkebunan baru baik perkebunan skala besar atau kecil sebaiknya hanya di lahan terlantar atau di lahan tidur, bukan di hutan alam yang mengandung keanekaragaman hayati. Terkait upaya itu Indonesia sudah mengembangkan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Ada pula Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang memiliki tujuan sama. Bisa kita lihat bahwa orangutan itu hidupnya tergantung pada dua hal, habitat dan pakan. Ketika habitat itu dirubah menjadi kebun yang monokultur dan dirubah menjadi tambang batu bara, maka orangutan akan lari ke

10

tempat lain, lari itu dua kemungkinan. Ke dalam hutan, kalau didalamnya sudah ada orangutan maka akan ada konflik dengan orangutan lain. Tapi kalau lari ke kampung, kebun masyarakat, ladang maka ini akan menjadi konflik dengan masyarakat. Jadi situasinya seperti itu, artinya habitat orangutan yang terancam membuat orangutan itu harus ada konflik dengan masyarakat.

Gambar 2. Bangkai dan Tengkorak Orang Utan Yang Ditemukan

Dugaan pembantaian terhadap orang utan itu terjadi lantaran primata cerdas tersebut dianggap sebagai hama, atau pengganggu areal perkebunan kelapa sawit, sehingga menjadi alasan pembenaran terjadinya pembunuhan terhadap puluhan orang utan, meski banyak yang menduga masih banyak orang utan lain yang juga dibunuh tapi tidak terungkap. telah terjadi perbedaan perspektif antara konservasionis orang utan dengan perusahaan kelapa sawit. Sebagian besar dari pengusaha perkebunan sawit masih menempatkan orang utan sebagai hama, sehingga tindakan yang dilakukan sama persis dengan memberantas hama. Penyetaraan orang utan sebagai hama didasarkan pada asumsi, dalam satu hari satu individu orang utan dapat menghabiskan 30 hingga 50 tanaman sawit yang berusia di bawah satu tahun. Jika diasumsikan, harga tanaman sawit yang berusia di bawah satu tahun Rp20 ribu per tanaman, maka setidaknya setiap individu orang utan dapat menyebabkan kerugian Rp600 ribu hingga Rp1 juta. Dalam konteks ini, sangat jelas terlihat konflik orangutan di areal perkebunan sawit dibanding dengan fungsi kawasan lainnya, perubahan pola konsumsi itu akibat adanya konversi habitat orang utan menjadi kebun sawit. Hal ini terjadi lantaran konversi kawasan tersebut dilakukan tanpa perencanaan konservasi orang utan yang matang, maka dalam perkembangannya menjadikan

11

kelapa sawit sebagai salah satu sumber pakan bagi primata tersebut. Kondisi ini yang akhirnya menimbulkan konflik antara orang utan dengan pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit, hingga adanya tindakan pemberantasan `hama` (orang utan) ini dianggap sebagai cara mudah menyelamatkan perkebunan sawit mereka. Populasi orang utan terus mengalami penurunan, saat ini tersisa 2.500 hingga 3. 000 ekor yang hidup di `lanscape` Kutai atau kawasan Huatan Tanaman Industri (HTI) kebun sawit, tambang dan Taman Nasional Kutai (TNK) di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Kota Bontang. Selain faktor perburuan dan pembantaian, ancaman paling serius yang dihadapi populasi orang utan adalah, adanya fragmentasi atau degradasi habitat orang utan yang terjadi secara umum di Pulau Kalimantan. Pongo Pygmaeus Morio terfragmentasi ke dalam 32 kelompok habitat orang utan yang hidup di kawasan yang terfragmentasi, mempunyai ancaman kelestarian populasi lebih tinggi dibanding orangutan yang hidup pada kawasan yang utuh dan luas. Di sisi lain, saat ini hanya 20 persen orang utan yang hidup di kawasan hutan primer sedangkan 80 persen di kawasan hutan sekunder. Bila dilihat keberadaan orang utan berdasarkan fungsi kawasannya, hanya 25 persen saja yang hidup di kawasan konservasi, sementara lebih 75 persen hidup di luar kawasan konservasi yang keberadaannya sangat terancam, yakni akibat dariproses konvensi lahan menjadi Hutan Tanaman Industri, perkebunan kelapa sawit maupun pertambangan. Banyak cara untuk mengatasi persoalan orang utan yang menyerang lahan kelapa sawit selain harus membunuhnya. Jika kawasan tersebut belum dibuka menjadi kebun, maka sebaiknya ada survei HCVF (High Conservation Value Forest) untuk melihat apakah kawasan itu punya nilai sosial dan lingkungan. Survei ini mencakup potensi keanekaragaman hayati wilayah serta potensi sosial, misalnya kuburan adat, pohon yang dikeramatkan, hewan yang dikeramatkan dan sebagainya. Cara ini akan mampu meminimalisasi risiko penyerangan orangutan. Jika lahan sudah terlanjur dibuka dan orang utan sudah menyerang sekalipun, masih ada cara-cara bijak untuk mengusir atau merelokasinya, yakni bisa dilakukan dengan cara tembak bius, kemudiaan satwa tersebut dipindahkan ke habitatnya, atau ditaruh ke tempat rehabilitasi. cara perkebunan menangani satwa

12

langka dan masalah sosial adalah wujud misi mengembangkan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan. Kebijakan dan Aturan Yang Terkait Dengan Orangutan Salah satu undang-undang yang sangat penting adalah Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, termasuk turunannya yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar dan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar. Daftar Perundangan dan Peraturan 1. UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya 2. UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan 3. UU No. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati) 4. UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan 6. PP No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan 7. PP No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Perlindungan Alam 8. PP No. 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru 9. PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa) 10. PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar 11. PP No. 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan 12. Keppres No. 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Flora & Fauna) 13. Keppres No. 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional 14. Kepmenhut No. 460/Kpts-II/1990 Tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. 62/Kpts-II/1998 Tentang Tata Usaha Peredaran Tumbuhan Dan Satwa Liar

13

15. Kepmenhut No. 882/Kpts-II/92 Tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa Yang Dilindungi 16. Undang-Undang Disamping Jenis-Jenis Satwa Yang Telah Dilindungi 17. Kepmenthut No. 36/Kpts-II/1996 tentang Penunjukan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Selaku Pemegang Kewenangan Pelaksanaan (Managment Authoriy) CITES) 18. Kepmenhut No. 617/Kpts-II/1996 tentang Pemasukan Satwa Liar Dari Wilayah Lain Dalam Negara Republik Imdonesia Ke Taman Buru dan Kebun Buru 19. Kepmenhut No. 479/Kpts-II/1998 Tentang Lembaga Konservasi

Tumbuhan Dan Satwa Liar 20. Kepmenhut No. 241/Kpts-II/1999 Tentang Pemberian Izin Kepada Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas Selamanik Banjarnegara, Kabupaten Daerah Tingkat II Banjarnegara Sebagai Lembaga Konservasi Ex-situ Satwa Liar Dalam Bentuk Kebun Binatang 21. Kepmenhut No. 242/Kpts-II/1999 Tentang Pemberian Izin Kepada Taman Safari Indonesia Sebagai Lembaga Konservasi Ex-situ Satwa Liar Dalam Bentuk Kebun Binatang 22. Kepmenhut No. 250/Kpts-II/1999 Tentang Pemberian Izin Kepada Yayasan Bina Wisata Kasang Kulim Pekanbaru Riau Sebagai Lembaga Konservasi Ex-situ Satwa Liar Dalam Bentuk Kebun Binatang

14

PENUTUP

Salah satu langkah yang dapat diambil untuk mengurangi konflik adalah dengan merelokasi orangutan ke lokasi baru yang diperkirakan lebih aman dan mempunyai daya dukung yang cukup untuk menjamin keberlangsungan populasi orangutan di tempat itu. Relokasi memerlukan biaya tidak sedikit, yang meliputi tindakan penyelamatan di lokasi konflik (rescue), proses rehabilitasi, pencarian lokasi baru, dan pemindahan orangutan ke tempat baru (reintroduksi). Untuk itu, diperlukan kerjasama dari semua pihak yang terlibat untuk mengatasi persoalan konflik. Hal terpenting yang perlu dipahami dan disadari adalah, bahwa konflik dapat dihindari dandicegah dengan pengelolaan kawasan yang memperhatikan unsur ekologi dan tingkah laku orangutan. Melalui pengelolaan yang tepat, seperti sistem zonasi yang dibatasi penghalang alami, pembuatan koridor, dan pengayaan habitat, para pihak dapat menjadikan relokasi sebagai pilihan terakhir dalam upaya mereka meredakan konflik dengan orangutan. Untuk mengetahui lebih lanjut tindakan yang perlu diambil oleh para pengelola kawasan (pemerintah daerah, HPH, HTI, perkebunan dan pertambangan) di lokasi konflik, Peraturan Menteri Kehutanan tentang Pedoman Penanggulangan Konflik dapat dijadikan acuan. Selain itu diperlukan strategi dan rencana aksi yang dilaksanakan secara terpadu dan selalu di monitoring, adapun strategi dan rencana aksi konservasi tersebut adalah: A. Strategi dan Program Pengelolaan Konservasi Orangutan Pengelolaan konservasi orangutan dibagi ke dalam 3 strategi utama, yaitu : 1. Strategi meningkatkan pelaksanaan konservasi insitu sebagai kegiatan utama penyelamatan orangutan dihabitat aslinya 2. Strategi mengembangkan konservasi eksitu sebagai bagian dari dukungan untuk konservasi insituorangutan 3. Strategi meningkatkan penelitian untuk mendukung konservasi orangutan B. Strategi dan Program Aturan dan Kebijakan Pada bidang aturan dan kebijakan, ada 2 (dua) strategi utama, yaitu :

15

1. Strategi mengembangkan dan mendorong terciptanya kawasan konservasi daerah berdasarkan karakteristik ekosistem, potensi, tata ruang wilayah, status hukum dan kearifanmasyarakat 2. Strategi Meningkatkan implementasi dan menyempurnakan berbagai peraturanperundangan orangutan C. Strategi dan Program Kemitraan dan Kerjasama dalam Mendukung Konservasi Orangutan Indonesia Dalam kemitraan dan kerjasama untuk mendukung konservasi orangutan Indonesia, ada 3 strategi utama, yaitu : 1. Strategi meningkatkan dan memperluas kemitraan antara pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan orangutan Indonesia 2. Strategi mengembangkan kemitraan lewat pemberdayaan masyarakat 3. Strategi menciptakan dan memperkuat komitmen, kapasitas dan untuk mendukung keberhasilan konservasi

kapabilitas pihak pelaksana konservasi orangutan di Indonesia D. Strategi dan Program Komunikasi dan Penyadartahuan Masyarakat untuk Konservasi Orangutan E. Pendanaan untuk Mendukung Konservasi Orangutan Strategi meningkatkan dan mempertegas peran pemerintah, pemda, lsm serta mencari dukungan lembaga dalam dan luar negeri untuk penyediaan dana bagi konservasi orangutan Indonesia

16

REFERENSI

Departemen Kehutanan. 2007. Strategi Dan Rencana Aksi Konservasi Orang Utan Indonesia 2007- 2017 Groves, Colin (16 September 2005). Wilson, D. E., dan Reeder, D. M. (eds). ed. Mammal Species of the World (edisi ke-edisi ketiga). Johns Hopkins University Press. hlm. 183-184. ISBN 0-801-88221-4. IUCN. 2007. http://www.iucn.org/search.cfm?uSearchTerm=pongo+pygmaeus Nellemann, C., Miles, L., Kaltenborn, B. P., Virtue, M., and Ahlenius, H. (Eds). 2007. The last stand of the orangutan State of emergency: Illegal logging, fire and palm oil in Indonesias national parks. United Nations Environment Programme, GRID-Arendal,Norway, www.grida.no. ISBN 978-82-7701-043-5

17