Anda di halaman 1dari 6

PENGUJIAN AUDIT (AUDIT TEST) Dalam audit, auditor melakukan berbagai macam pengujian (test), yang secara garis

besar dapat dibagi menjadi 3 golongan berikut ini : 1. Pengujian analitik (analytical tests) 2. Pengujian pengendalian (tests og control) 3. Pengujian substantif (substantive tests) PENGUJIAN ANALITIK Pengujian ini dilakukan oleh auditor pada tahap awal proses audit dan pada tahap reviw menyeluruh terhadap hasil audit.Pengujian ini dilakukan oleh auditor dengan cara mempelajari perbandingan antara data yang satu dengan yang lain.Pada tahap awal p;roses audit,pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klaen dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif.Sebelum auditor melaksanakan audit sesara rinci dan mendalam terhadap objek audit,ia harus memperoleh gambaran yang menyeluruhmengenai perusahaan yang diaudit.Untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan secara garis besar mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha klaen auditor menggunakan analisis ratio,analisis laba bruto,analisis terhadap laporan keuangan perbandingan ( comparative financial statements ) PENGUJIAN PENGENDALIAN Pengujian pengendalian adalah : prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan evektivitas desain dan/atau operasi pengendalian intern. Dalam hubungannya dengan desain pengendalian intrn, pengujian pengendalian yang dilakukan oleh auditor berkaitan dengan apakah kebijakan dan prosedur telah didesain memadai untuk mencegah ayau mendeteksi salah saji material dalam asersi tertentu laporan keuangan. Dalam hubungannya dengan operasi suatu pengendalian intern, pengujian pengendalian yang dilakukan oleh auditor berkaitan dengan apakah kebijakan dan prosedur sesungguhnya berjalan dengan baik. Pengujian pengendalian merupakan prosedur audit yamg dirancang untuk memverifekasi efektifitas pengendalian intern klaen.Pengujian pengendalian terutama ditujukan untuk mendapatkan informasi mengenai :

1. Frekuensi pelaksaan aktifitas pengendalian yang ditetapkan 2. Mutu pelaksaan aktivitas penendalian tersebut. 3. Karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut. Perancangan Pengujian Pengendalian Auditor dapat memilih pengujian pengendalian bersamaan atau pengujian pengendalian tambahan atau pengujian pengendalian yang direncanakan, auditor dapat memilih jenis proses yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengujian pengendalian, saat dan lingkup pengujian. Jenis Pengujian Pengendalian Jenis pengujian pengendalian yang dapat dipilih auditor dalam pelaksanaan pengujian pengendalian adalah : 1. Permintaan keterangan 2. Pengamatan 3. Inspeksi 4. Pelaksanaan kembali Waktu Pelaksanaan Pengujian Pengendalian Waktu pelaksanaan pengujian pengendalian berkaitan dengan kapan prosedur tersebut dilaksanakan dan bagian periode akuntansi mana prosedur tersebut berhubungan. Pengujian pengendalian tambahan dilaksanakan dalam pekerjaan interim, yang dapat dalam jangka waktu beberapa bulan sebelum akhir tahun yang diaudit. Oleh karena itu pengujian pengendalian hanya memberikan bukti efektivitas pengendalian intern dalam periode sejak tanggal awal tahun yang diaudit sampai tanggal pengujian. Lingkup Pengujian Pengendalian Lingkup pengujian pengendalian secara langsung dipengaruhi oleh taksiran tingkat resiko pengendalian yang direncanakan. Diperlukan pengujian dengan lingkup yang lebih luas untuk taksiran tingkat resiko pengendalian moderat atau rendah. PENGUJIAN SUBTANTIF Pengujian subtantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian pelaporan keuangan.

Sifat Pengujian Substantif Sifat pengujian substantive mencakup jenis dan efektivitas prosedur audit yang dilakukan oleh auditor yaitu : 1. Jika tingkat resiko deteksi yang dapat diterima adalah rendah, auditor harus menggunakan prosedur audit yang lebih efektif, dan biasanya memerlukan biaya yang lebih tinggi 2. Jika tingkat resiko deteksi yang dapat diterima adalah tinggi, auditor dapat menggunakan prosedur audit yang kurang efektif, dan biasanya memerlukan biaya yang lebih rendah Jenis-jenis pengujian substantive : 1. Prosedur Analitik Prosedur analitik menunjukkan bahwa efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari suatu prosedur analitik dalam mengidentifikasi kemungkinan salah saji tergantung atas : Sifat asersi Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksi suatu hubungan Tersedianya dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan harapan Ketepatan harapan.

Jika hasil prosedur analitik sesuai dengan yang diharapkan, dan tingkat resiko deteksi yang dapat diterima adalah tinggi, auditor tidak perlu melakukan pengujian terhadap transaksi atau saldo akun rinci. 2. Pengujian Terhadap Transaksi Rinci Dalam pengujian terhadap transaksi rinci yang menjadi fokus auditor adalah menemukan kemungkinan kekeliruan atau salah saji moneter, bukan penyimpangan dari pengendalian intern 3. Pengujian Terhadap Saldo Rinci Pengujian terhadap saldo rinci difokuskan untuk memperoleh bukti secara langsung tentang suatu saldo akun, bukan pendebitan dan pengkreditan secara individual ke dalam akun tersebut. Lingkup Pengujian Lingkup pengujian sunstantif menunjukan jumlah pos atau besarnya sample yang diuji. Besarnya sample merupakan masalah pertimbangan professional dalam menentukan besarnya sample untuk mencapai tingkat resiko deteksi tertentu. Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan kemungkinan yang terjadi karena kesalahan dalam :

1. Penerapan prinsip akutansi berterima umum di Indonesia 2. Tidak di terapkannya prinsip akutansi berterima uang 3. Ketidakkonsistensian dalam penerapan prinsip akutansi berterima umum di Indonesia 4. Ketidaktepatan pisah batas (cutoff) pencatatan transaksi 5. Perhitungan (penambahan, pengurangan, pengalian dan pembagian) 6. Pekerjaan penyalinan, penggolongan dan peringkasan informasi 7. Pencantuman pengungkapan (disclosure) unsur tertentu dalam laporan keuangan. Sebagai contoh, dalam pengujian substantif terhadap pendapatan penjualan (sale revenues) auditor melakukan prosedur audit untuk menemukan: 1. Kemungkinan terjadinya kesalahan klien dalam menerapkan prinsip akutansi berterima umum di Indonesia, sehingga berakibat angka pendapatan penjualan dalam laporan laba rugi menjadi lebih rendah atau lebih tinggi dari jumlah yang seharusnya. 2. Adanya kemungkinan klien menyajikan informasi pendapatan penjualan yang tidak berdasarkan prinsip akutansi berterima umum di Indonesia sehingga dapat mengakibatkan pemakai laporan keuangan salah dalam membuat keputusan. 3. Kemungkinan klien mengubah prisip akutansi yang digunakan dalam menyajikan angka pendapatan penjuialan dan tidak memberikan pengukapan mengenai akibat perubahan penerapan prinsip tersebut terhadap angka laba bersih, sehingga hal ini dapat mengakibatkan tidak dapat diperbandingkan laporan keuangan klien tahun yang diaudit dengan laporan keuangan klien yang disajikan dalam tahun sebelumnya. 4. Kemungkinan klein melakukan pisah batas (cutoff) transaksi penjualan tidak tepat dan tidak konsisten dengan yang digunakan dalam tahun sebelumnya. Misalnya transaksi penjualan tahun 20X1 dicatat oleh klien sebagai pendapatan jual tahun 20X2. Contoh lainnya adalah dalam tahun yang diaudit, klien menggunakan tanggal 24 Desember sebagai tanggal pisah batas (cutoff) untuk memisahkan transaksi penjualan tahun yang diaudit dengan tahun yang akan dating. Sedangkan dalam tahun sebelumnya klien menggunakan tanggal 31 Desember sebagai tanggal pisah batas. Hal ini akan berakibat terhadap terjadinya kesalahan penyajian angka pendapatan penjualan dalam laporan laba rugi 5. Kemungkinan terjadinya kesalahan moneter dalam menyajikan angka pendapatan penjualan karena terjadinya kesalahan pekerjaan klerikal (clerical works). Pengumpulan informasi

penjualan mencakup kegiatan menyalin informasi dari berbagai dokumen ke dalam jurnal: kegiatan menjumlah, mengurangi, mengalikan dan membagi: kegiatan meringkas informasi dalam jurnal dan memindahkan jumlahnya untuk di posting ke dalam akun-akun buku besar:kegiatan menyajikan informasi dalam laporan keuangan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan klerikal. Dalam pengujian substantive, auditor melakukan kesalahan pekerjaan klerikal ini. 6. Kemungkinan tidak cukupnya pengungkapan dari klien yang seharusnya dicantuntumkan dalam laporan keuanganyang dapat mengakibatkan pemakai laporan keuangan salah dalam mengambil keputusan. Misalnya klien menyajikan angka pendapatan penjualan dalam tahun yang diaudit sebesar Rp.500.000.000.- Informasi tersebut misalnya disajikan oleh klien dalam laporan laba rugi tanpa pengungkapan lebih lanjut. Dari pengujian substantive misalnya auditor menemukan informasi bahwa 75% dari jumlah tersebut merupakan pendapatan penjualan klien dari transaksi penjualan produk kepada anak perusahaannya. Karena sebahagian besar angka pendapatan penjualan tersebut terjadi dari transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa (hubungan induk-anak perusahaan), maka auditor harus mengusulkan kepada klien untuk menambahkan pengungkapan (disclosure) mengenai informasi tersebut dalam laporan keuangan klien.

Perbandingan antara pengujian pengendalian dengan pengujian substantive : Jenis Tujuan Sifat pengukuran pengujian Prosedur audit yang dapat diterapkan Saat pelaksanaan Komponen resiko audit Standar pekerjaan lapangan pokok Diharuskan oleh standar auditing Pengujian Pengendalian Bersamaan (concurrent) Tambahan Penentuan efektivitas desain dan operasi pengendalian intern Frekuensi penyimpangan dari pengendalian intern Permintaan keterangan, Inspeksi, Pelaksanaan kembali, dan teknik audit berbantuan computer Terutama padapekerjaan interim Resiko pengendalian Kedua Tidak Pengujian Substantif Prosedur analitik Pengujian terhadap transaksi rinci Pengujian terhadap akun rinci Penentuan kewajaran aserasi laporan keuangan signifikan Kekeliruan rupiah dalam transaksi dan saldo akun Sama dengan pengujian pengendalian ditambah dengan prosedur analitik, perhitungan, konfirmasi, pengusutan dan pemeriksaan bukti. Terutama pada atau mendekati tanggal neraca Resiko deteksi Ketiga Ya