Anda di halaman 1dari 6

Teori-Teori Feminis: a.

Feminisme Liberal Tokoh aliran ini antara lain Margaret Fuller (1810-1850), Harriet Martineau (1802-1876), Anglina Grimke (1792-1873), dan Susan Anthony (1820-1906). Dasar pemikiran kelompok ini adalah semua manusia, laki-laki dan perempuan, diciptakan seimbang dan serasi dan mestinya tidak terjadi penindasan antara satu dengan lainnya. Feminisme liberal diinspirasi oleh prinsip-prinsip pencerahan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai kekhususan-kekhususan. Secara ontologis keduanya sama, hak-hak laki-laki dengan sendirinya juga menjadi hak perempuan. Meskipun dikatakan feminisme liberal, kelompok ini tetap menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa hal, terutama yang berhubungan dengan fungsi reproduksi, aliran ini masih tetap memandang perlu adanya pembedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun juga, fungsi organ reproduksi bagi perempuan membawa konsekwensi logis di dalam kehidupan bermasyarakat. Kelompok ini termasuk paling moderat diantara kelompok feminis. Kelompok ini membenarkan perempuan bekerja bersama laki-laki. Mereka menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total di dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Dengan demikian tidak ada lagi suatu kelompok jenis kelamin yang lebih dominan. Kelompok ini beranggapan bahwa tidak mesti dilakukan perubahan struktural secara menyeluruh, tetapi cukup melibatkan perempuan di dalam berbagai peran, seperti dalam peran sosial, ekonomi, dan politik. Organ reproduksi bukan merupakan penghalang terhadap peran-peran tersebut. b. Feminisme Marxis-Sosialis Aliran ini mulai berkembang di Jerman dan Rusia dengan menampilkan beberapa tokohnya, seperti Clara Zetkin (1857-1933) dan Rosa Luxemburg (1871-1919). Aliran ini berupaya menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara kedua jenis kelamin itu sesungguhnya lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Aliran menolak anggapan tradisional dan para teolog bahwa status perempuan lebih rendah daripada laki-laki karena faktor biologis dan latar belakang sejarah. Agak mirip dengan teori konflik, kelompok ini menganggap posisi inferior perempuan berkaitan dengan struktur kelas dan keluarga dalam masyarakat kapitalis. Feminis sosialis berpendapat bahwa ketimpangan jender di dalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalis yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan di dalam rumah tangga. Isteri mempunyai ketergantungan lebih tinggi pada suami daripada sebaliknya. Perempuan senantiasa mencemaskan keamanan ekonominya, karenanya, mereka memberikan dukungan kekuasaan kepada suaminya. Struktur ekonomi atau kelas di dalam masyarakat memberikan pengaruh efektif terhadap status perempuan, karena itu, untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan supaya seimbang dengan laki-laki, diperlukan peninjauan kembali struktural secara mendasar, terutama dengan menghapuskan dikotomi pekerjaan sektor domestik dan sektor publik.

Bedanya dengan teori konflik dan Marx-Engels, teori ini tidak terlalu menekankan faktor akumulasi modal atau pemilikan harta pribadi sebagai kerangka dasar ideologi sebagaimana halnya dalam teori konflik, tetapi teori ini lebih menyoroti faktor seksualitas dan jender dalam kerangka dasar ideologinya. c. Feminisme Radikal Aliran ini muncul di permulaan abad ke-19 dengan mengangkat isu besar, menggugat semua lembaga yang dianggap merugikan perempuan seperti lembaga patriarki yang dinilai merugikan perempuan, karena term ini jelas-jelas menguntungkan laki-laki. Lebih dari itu, di antara kaum feminis radikal ada yang lebih eksterm, tidak hanya menuntut persamaan hak dengan laki-laki tatapi juga persamaan seks , dalam arti kepuasan seksual juga bisa diperoleh dari sesama perempuan sehingga mentolerir praktek lesbian. Menurut kelompok ini, perempuan tidak harus tergantung kepada laki-laki, bukan saja dalam hal pemenuhan kepuasan kebendaan tetapi juga pemenuhan kebutuhan seksual. Perempuan dapat merasakan kehangatan, kemesraan, dan kepuasan seksual kepada sesama perempuan. Kepuasan seksual dari laki-laki adalah masalah psikologis. Melalui berbagai latihan dan pembiasaan kepuasan itu dapat terpenuhi dari sesama perempuan. Aliran ini juga mengupayakan pembenaran rasional gerakannya dengan mengungkapkan fakta bahwa laki-laki adalah masalah bagi perempuan. Laki-laki selalu mengeksploitasi fungsi reproduksi perempuan dengan berbagai dalih. Ketertindasan perempuan berlangsung cukup lama dan dinilainya sebagai bentuk penindasan yang teramat panjang di dunia. Penindasan karena ras, perbudakan, dan warna kulit dapat segera dihentikan dengan resolusi atau peraturan, tetapi pemerasan secara seksual teramat susah dihentikan, dan untuk itu diperlukan gerakan yang lebih mendasar. Aliran ini mendapat tantangan luas, bukan sja dari kalangan sosiolog tetapi juga di kalangan feminis sendiri. Tokoh feminis liberal yang banyak berfikir realistis tidak setuju sepenuhnya dengan pendapat ini. Persamaan total pada akhirnya akan merepotkan dan merugikan perempuan itu sendiri. Lak-laki yang tanpa beban organ reproduksi secara umum akan sulit diimbangi oleh perempuan. Yang menjadi inti perjuangan semua aliran feminisme tersebut di atas ialah berupaya memperjuangkan kemerdekaan dan persamaan status dan peran sosial antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak lagi terjadi ketimpangan di dalam masyarakat.

TRADISI KRITIS Banyak teori komunikasi memiliki sebuah kecenderungan untuk menormalkan lembaga dan struktur yang dibentuk dalam interaksi sosial. Dengan ini, kita bermaksud bahwa teori sering menjabarkan hasil dari interaksi sosial tanpa mempertanyakan semua hal ini. Tradisi ini mencuat untuk meniadakan kecenderungan ini yang dijelaskan dengan istilah kritis. Walaupun menyebar dan sulit untuk diatur, tradisi ini membawa satu hal-ide di mana pengaturan sosial dan budaya dibebankan untuk menjalankan kekuatan dari pemegang tertentu dengan cara mendominasi dan bahkan menindas orang lain. Kemudian, karya dalam tradisi ini melihat jalan di mana power tidak seimbang, hegemoni dan dominasi yang dibentuk dalam interaksi sosial, serta karya ini membayangkan kemungkinan lainnya yang manusiawi dan berorientasi sangat demokratis. Sebagian besar para ahli teori kritis sekarang ini memandang proses sosial sebagai overdetermined, yang berarti mereka disebabkan oleh banyak sumber. Pemikir kritis menguak kekuatan yang menindas dengan analisis dialetika yang membongkar isi perjuangan antara kekuatan yang berlawanan. Walaupun populasi umumnya merasakan sejenis perintah akan suatu hal, pemikir kritis menunjukan kontradiksi yang ada. Hanya dengan menjadi sadar akan dialektika dari kekuatan lawan dalam sebuah perjuangan karena power dapat membebaskan individu dan bebas untuk mengubah aturan. Jika tidak, mereka hanya akan dikucilkan dari satu sama lainnya dan memilih ke dalam penindasannya sendiri. Banyak ahli teori kritis yakin bahwa kontradiksi, tekanan, dan konflik adalah aspek yang tidak dapat dielakkan dari aturan sosial dan tidak dapat dihapuskan. Negara ideal adalah sebuah lingkungan sosial yang setiap suara dapat didengar sehingga tidak ada kekuatan yang mendominasi yang lainnya. Bahasa adalah sebuah batasan penting bagi ekspresi individu karena bahasa kelas yang mendominasi menyulitkan kelompok pekerja untuk memahami situasi mereka dan untuk mengatasinya. Dengan kata lain, bahasa dominan mendefinisikan dan mengabadikan penekanan pada kelompok pinggiran. Ini adalah tugas para ahli teori kritis untuk menciptakan pola baru bahasa yang akan membuat ideologi yang unggul menjadi terkuak dan mendengarkan ideologi yang sedang bersaing. Sejujurnya, bagian ini sulit untuk diatur karena tradisi kritis sendiri menyebar dan jangkauannya luas. Tidak ada skema yang sempurna, tetapi kegunaan dari keempat kategori umum teori telah sangat membantu kita dalam memisahkan bagian utamanya. Kategorikategori ini adalah ( 1 ) teori modernis; ( 2 ) teori post modern; ( 3 ) post strukturalisme; dan ( 4 ) post kolonialisme. Singkatnya, teori modernis bergantung pada asumsi bahwa masyarakat terdiri atas struktur sebelumnya yang menentukan penyusunan kekuasaan di antara kelompok. Teori post modern bergantung pada ide bahwa struktur adalah selalu dalam formasi, dibentuk dan dibentuk kembali dengan praktik komunikasi yang digunakan pada saat tertentu dalam sejarah. Post- strukturalisme sebenarnya adalah sebuah variasi post-modernisme, sebuah variasi yang fokus pada bahasa dan kekuasaan. Akhirnya, post-kolonialisme adalah sebuah pergerakan yang fokus pada kekuatan yang menekan, utamanya kolonialisme dan imperialisme Eropa atau Amerika. MODERNISME

Perbedaan antara pergerakan modern dan post- modern menandai sebuah kesalahan yang signifikan dalam tradisi kritis. Versi modern sering menunjukan sebagai struktural memusatkan pada proses struktur sosial yang sedang terjadi yang dianggap nyata dan kekal, walaupun mereka mungkin tersembunyi di balik kesadaran setiap orang. Pemikir kritis dalam kelompok berusaha untuk menamai dan menguak semua penyusunan penekanan ini. Sebaliknya, versi post- modern mengajarkan bahwa tidak ada struktur nyata atau inti makna dan struktur yang menekan adalah hanya berlangsung sebentar. Ada sebuah perjuangan, tetapi ini bukan sebuah perjuangan antara minat yang tidak tetap dan ideologi-ideologi monolitik. Ini adalah perjuangan antara minat yang tidak tetap dan ide-ide yang diciptakan dalam praktik komunikasi. Tradisi struktural dalam ilmu kritis sosial sangat teoritis dalam hubungannya bahwa ini menyajikan sebuah versi kehidupan sosial untuk menjelaskan bagaimana struktur yang menekan bekerja. Tradisi post- modern agak antiteoritis karena menyangkal keberadaan struktur khusus dari waktu ke waktu. Dalam bagian ini, kita lihat pada marxisme sebagai nenek moyang dari cabang modern tradisi kritis. Kita juga mengacu pada paham Frankfurt dan pendekatan modernis sampai ilmu pengetahuan feminis. Marxisme. Salah satu kajian yang paling pandai di abad ke- 20 adalah teori dasar sosial Marxis. Berasa l dari ide-ide Karl Marx dan Friedrich Engels yang menulisnya pada abad ke- 19, pergerakan ini terdiri atas sejumlah teori bebas yang menantang aturan masyarakat dominan. Pemikiran ini memengaruhi secara nyata semua cabang ilmu sosial, termasuk komunikasi. Marx meyakini bahwa mayarakat adalah sarana produksi yang menentukan struktur dari masyarakat itu. Disebut hubungan superstruktur dasar ( base superstructur ), gagasan ini adalah ide bahwa ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Marx paling prihatin dengan akibat kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi, memercayai bahwa keuntungan berasal dari produksi. Kemudian, buruh hanya sebuah alat untuk menghasilkan keuntungan, sampai kekuatan akhir pekerja. Semua institusi yang mengabadikan pola dominasi ini dimungkinkan dengan sistem ekonomi seperti ini. Ekonomi berasal dari politik, yang oleh Marxisme klasik sering disebut kritik ekonomi politik ( the critique of political economy ). Tujuan utama Marx adalah revolusi, di mana para pekerja sekarang sadar terhadap keadaan mereka akan meningkatka perlawanan bunga modal untuk mengubah aturan masyarakat. Ia yakin bahwa kebebasan akan berjalan secara alamiah, dimana kekuatan yang berlawanan akan berselisih. Beberapa ahli teori kritis ini adalah Marxis, istilah ini sangat klasik, tetapi tidak ada pertanyaan bahwa Marx berpengaruh kuat dalam paham ini. Termasuk menyangkut konflik dialektika, dominasi dan penindasan. Untuk alasan inilah kebanyakan dari karya ini dinamakan neomarxist . Sebagai sebuah pergerakan, Marxisme sangat menekankan pada maksud dari komunikasi dalam sosial. Praktik komunikasi adalah sebuah hasil dari tekanan antara kreativitas individual dan batasan sosial pada kreativitas tersebut. Hal ini terjadi hanya ketika individu benat-benar bebas untuk menunjukkan diri mereka sendiri dengan kejelasan dan alasan akan terjadinya pembebasan serta kondisi yang tidak dapat diciptakan dalam sebuah masyarakat kelas dasar.

Istilah ideologi penting untuk sebagian besar teori kritis. Sebuah ideologi adalah sekumpulan ide-ide yang menyusun sebuah kelompok nyata, sebuah representasi dari sistem atau sebuah makna dari kode yang memerintah bagaimana individu dan kelompok melihat dunia. Dalam Marxisme klasik, sebuah ideologi adalah sekumpulan ide-ide keliru yang diabadikan oleh kekuatan politik dominan. Bagi Marxis klasik, ilmu harus digunakan untuk menguak kebenaran dan supaya mengatasi kesadaran yang salah ( false consciounness ) tentang ideologi. Para ahli teori yang lebih terkini cenderung menegaskan bahwa tidak ideologi dominan satu pun, tetapi kelas dominan tersebut dalam masyarakat disusun oleh mereka sendiri dengan sebuah perjuangan antara beberapa ideologi. Kebanyakan pemikir saat ini menolak ide bahwa sebuah elemen terisolasi dalam sistem sosial; daripada, ideologi ditambahkan dalam bahasa dan semua proses sosial dan budaya lainnya. Louis Althusser seorang pengamat Marxis asal Prancis mempersembahkan pandangan ini. Bagi Althusser, ideologi merupakan kehadiran dari struktur masyarakat itu sendiri dan mencuat dari praktik sebenarnya yang dijalankan oleh institusi dalam masyarakat. Seperti hal tersebut, ideologi sebenarnya membentuk kesadaran individu dan menciptakan pemahaman subjektif seseorang terhadap pengalaman. Dalam model superstruktur ( organisasi sosial ) yang menciptakan ideologi ini, yang berpengaruh pada gagasan individu tentang kenyataan. Menurut Althusser, superstruktur ini terdiri atas aparat Negara represif ( repressive state apparatuses ), seperti pendidikan, agama, dan media massa. Mekanisme represif menjalankan sebuah ideologi ketika terancam oleh tindakan menyimpang dan perangkat ideologi memproduksi kembali lebih rumit dalam aktivitas komunikasi sehari-hari dengan membuat sebuah ideologi kelihatan normal. Kita hidup dalam sekumpulan kondisi materi nyata, tetapi kita biasanya tidak memahami hubungan kita dengan kondisi sebenarnya, kecuali dengan ideologi. Keberadaan kondisi sesungguhnya hanya dapat diamati melalui ilmu pengetahuan, yang Althusser menentang ideologi tersebut. Ide ini sangat kontroversial karena berdasarkan pada gagasan realis tentang kebenaran yang juga kebanyakan para ahli teori kritis saat ini menentangnya. Teori-teori Marxis cenderung melihat kenyataan sebagai dasar untuk sebuah perjuangan di antara minat dengan satu ideologi yang mendominasi lainnya. Hegemoni adalah proses dominasi, di mana sebuah ide menumbangkan atau membawahi ide lainnya- sebuah proses dimana satu kelompok dalam masyarakat menggunakan kepemimpinan untuk menguasai yang lainnya. Penganut Marxis asal Itali, Antonio Gramsci, awalnya menguraikan konsep hegemoni. Hegemoni dapat terjadi dalam berbagai cara dan berbagai keadaan; intinya, hal ini terjadi ketika peristiwa atau teks diartikan dengan sebuah cara yang mengangkat ketertarikan dari satu kelompok terhadap yang lainnya. Hal ini dapat menjadi proses cerdik dalam memaksakan untuk memilih minat dari sebuah kelompok bawah menjadi kelompok yang mendukung semua ideologi dominan. Sebagai contoh, pemasang iklan sering bermain dengan tema pembebasan wanita , membuatnya terlihat seperti kerja sama yang mendukung hak-hak wanita. Apa yang terjadi disini adalah minat wanita yang diartikan kembali atau dibenarkan untuk meningkatkan minat modal ekonomi. Ideologi memainkan perannya dalam proses ini karena hal ini membentuk cara masyarakat memahami pengalaman mereka sehingga ideologi membentuk bagaimana mereka mengartikan peristiwa.

Saat ini, teori Marxis, kebalikan dari cabang lain tentang tradisi kritis, digolongkan dengan identifikasinya terhadap struktur aktual sosial yang menentukan atau menyebabkan, dominasi dan menjadikan tekanan. Alur karya ini sangat berorientasi strukturalis. Dalam komunikasi, kebanyakan karya saat ini kurang berfokus terhadap ekonomi atau kondisi materi yang menciptakan penekanan dan lebih pada pembentukan wacana yang berkontribusi untuk penciptaan struktur penekanan alienasi. Kedua aspek ini adalah bukti dalam karya Marx.