Anda di halaman 1dari 28

Agustus 2005

RASCAL321 STATUS PENDERITA No. catatan medik Masuk RS Pukul : 01234567 : 20 Februari 2011 : 11.00 WIB

Identitas Nama Umur Jenis kelamin Anak ke Berat badan Alamat : An. O : 4 bulan : Perempuan : 12 dari 12 bersaudara : 4,7 kg : Cibiuk Nama Ibu Umur Pendidikan Pekerjaan : Ny. N : 42 tahun : SD : IRT Nama Ayah Umur Pendidikan Pekerjaan : Tn.U : 49 tahun : SD : Dagang

I.

ANAMNESIS

: Alloanamnesis (dengan ibu pasien) Tanggal 23 Februari 2011 : Bengkak pada seluruh tubuh

Keluhan utama

Keluhan tambahan : Buang air besar mencret Riwayat Penyakit Sekarang Pasien dibawa dengan keluhan bengkak pada seluruh tubuh sejak 7 hari SMRS, bengkak semakin lama semakin bertambah. Keluhan bengkak dimulai dari wajah, perut, kaki, dan akhirnya seluruh tubuh. Keluhan bengkak tidak berkurang pada waktu pagi, siang maupun malam hari dan tidak disertai dengan sesak nafas. Selama bengkak pasien juga mengeluh buang air kecilnya menjadi jarang dan sedikit. Sebelum bengkak pasien buang air kecilnya sering dan banyak. Keluhan buang air kecil berwarna merah (seperti air teh) disangkal. Bila menangis atau melakukan aktiviasnya penderita tidak terlihat biru. Riwayat alergi obat-obatan disangkal. Sejak 1 bulan SMRS, Penderita mengeluh mencret yang terus-menerus. Keluhan mencret delapan kali sehari, cairan berwarna kuning, sebanyak dua sendok makan perkali. Mencret tidak disertai lendir maupun darah. Keluhan disertai muntah dan setiap kali diberi minum penderita muntahkan kembali. Keluhan muntah mencret tidak disertai adanya kejang maupun hilang kesadaran. Keluhan disertai panas badan yang hilang timbul, tidak begitu tinggi nafsu untuk minum yang menurun, batuk dan pilek. Keluhan tidak disertai dengan penurunan berat badan yang drastis. Sejak 7 hari SMRS keluhan bengkak disertai dengan kulit yang tampak kering dan mengkilap. Keluhan timbul bercak-bercak putih disekitar mulut penderita dan bercak-bercak kemerahan pada daerah bokong penderita dan menurut ibu penderita, rambut penderita berwarna coklat dan tidak lebat serta penderita sering rewel tanpa alasan. Karena keluhan di atas penderita dibawa ke puskesmas dan diberi obat tablet berwarna kuning 3 x , merah muda 3 x tablet, oralit, sirup dan karena tidak tidak ada perbaikan penderita dibawa ke RSU dr.Slamet Garut. Sejak lahir penderita diberikan air tajin sebanyak delapan kali perhari, masing-masing pemberian sebanyak 80 cc air tajin ditambahkan satu sendok makan tepung. Bila keluarga pasien mempunyai uang lebih, pasien diberikan susu formula SGM dengan takaran tiga sendok susu dengan jumlah 100 cc setiap kali minum. Penderita tidak mendapatkan ASI sejak lahir karena ASI ibu tidak keluar. Ibu penderita mengaku bekerja sebagai pembantu rumah tangga keluarga berkewarganegaraan jerman, ibu pasien mengaku bahwa selama bekerja disana, ibu pasien tidak mengetahui merawat anak nya setelah dilahirkan,yang merawat penderita dirumah anakanaknya.

Riwayat penyakit dahulu Pasien baru pertama kali menderita keluhan seperti ini.

Riwayat penyakit keluarga Tidak ada keluarga yang menderita sakit yang sama Riwayat Kehamilan Pasien merupakan anak keduabelas dari duabelas bersaudara, selama kehamilan ibu penderita memeriksakan dirinya kebidan. Riwayat sakit-sakitan selama hamil disangkal. Riwayat persalinan Pasien lahir ditolong bidan, dengan usia kehamilan sembilan bulan, lahir spontan kepala lahir terlebih dahulu. Bayi lahir langsung menangis dengan berat badan lahir 2900 gram dan panjang badan 49cm. Riwayat kuning dan kebiruan pada bayi disangkal. Riwayat kontak Ada keluarga pasien yang menderita batuk lama dan pengobatan paru yaitu ayah pasien, namun pengobatan telah selesai (9 bulan). Riwayat sosial-ekonomi Ayah pasien bekerja sebagai dagang, penghasilan rata-rata Rp.700.000/bulan. Pasien tinggal dirumah berukuran 8 x 8 m, rumah status milik ayah pasien, dengan 3 kamar tidur, 2 pintu masuk, 1 dapur, 1 ruang tamu, dan 6 jendela. Kamar mandi di dalam, lantai semen. Riwayat imunisasi Pasien belum mendapatkan imunisasi lima dasar lengkap Anamnesis makanan Pasien tidak mendapatkan ASI sejak lahir karena ASI ibu tidak keluar, tetapi pasien diberi air tajin dan susu formula. Air tajin dengan tambahan satu sendok makan tepung pada 80 cc diberikan sebanyak 8 kali perhari. Bila keluarga pasien mempunyai uang lebih, pasien diberikan susu formula SGM dengan takaran tiga sendok susu dengan jumlah 100 cc setiap kali minum. Anamnesa pertumbuhan Umur 4 bulan Perkembangan Motorik Mengangkat Kepala Adaptasi Perkembangan bahasa Perkembangan sosial Memperhatikan wajah orang sekitar

Tangan Bersuara, menggengam bila tersenyum dipegang

PEMERIKSAAN FISIK Status Present Keadaan umum Kesadaran : Composmentis Kesan Sakit : Tampak sakit sedang Ukuran Antropometri Berat Badan : 4,7 kg Tinggi Badan : 53 cm Lingkar Perut : 42 cm Lingkar Kepala : 39 cm Status Gizi BB kering = BB sekarang (edema x BB sekarang) = 4,7 kg (25% x 4,7 kg) = 4,7 kg- 1,17 kg = 3,52 kg BB/U = 3,52/6,0 x 100% = 58,6% PB/U = 53/61 x100% = 86,8% LK/U = 39/41 x100% = 95,1% Kesimpulan : BB//U kisaran <60% KEP berat (menurut Gomez 1956) Tanda Vital Nadi : 120 x/menit Reguler, equal, isi cukup Respirasi : 46 x/menit Suhu : 36,5 C Status Generalis Kelainan mukosa kulit/ subkutan yang menyeluruh: Pucat : (-) Kering dan mengkilap : (+) Sianosis : (-) Ikterus : (-) Perdarahan : (-) Edema umum : (+) Turgor : kembali cepat Pembesaran KGB generalisata : (-) KEPALA Bentuk : Bulat, simetris Rambut : Hitam kecoklatan, lurus, mudah dicabut, pertumbuhan jarang Kulit : Tidak ada kelainan Mata : konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, refleks cahaya (+/+), isokor, air mata (+/+) Telinga : Bentuk normal, simetris, liang lapang Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), pernapasan cuping hidung (-) Mulut : Bibir basah, sianosis (-), chelossis(+) Wajah : Moon face

LEHER Bentuk Trakhea KGB THORAKS Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi ABDOMEN Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi

: Simetris : Di tengah : Tidak membesar : Bentuk simetris, retraksi sela iga (-), tidak ada kelainan, : fremitus taktil simetris pada kedua hemitoraks : sonor pada kedua hemitoraks : - Pulmo : VBS Ka=Ki - Cor : bunyi jantung I & II reguler murni

: Permukaan tampak datar, Retraksi epigastrium (+) : BU (+) Normal : Terdengar timpani di ke empat kuadran abdomen : NT (-) Hepar : teraba 4 cm BAC, permukaan rata, konsistensi kenyal, tepi tajam Lien : Tidak membesar Turgor : Kulit kembali cepat GENETALIA EXTERNA Kelamin : Perempuan, tidak ada pembesaran kelenjar inguinal EKSTREMITAS Superior : Oedem (+/+), non piting odem Inferior : Oedem (+/+), non piting odem Hasil laboratorium Tanggal 21-2-2011 Darah Rutin Hb Ht Leukosit Diff. count Trombosit LED Urine Berat Jenis urine Ph urine Nitrit Urine Protein urine Glukosa urine Keton urine Urobilinogen urine Bilirubin urine Eritrosit Lekosit

: 10,3 gr% : 33 % : 18600/ mm3 : 0/4/3/70/20/3 : 173.000/ mm3 : 3/5 mm/jam : 1.025 : 5.5 : Negatif : Positif (++) : Negatif : Negatif : Normal : Negatif : 1-3 : 3-5

Sel epitel Bakteri Kristal Silinder

: 1-3 : Negatif : Negatif : Coral 2-3

DIAGNOSA BANDING 1. KEP berat ec primer tipe Kwashiorkor + Diare persisten 2. KEP berat ec primer tipe Marasmic-Kwashiorkor + Diare persisten 3. Sindrom nefrotik DIAGNOSIS KERJA - KEP berat ec primer tipe Kwashiorkor + Diare persisten PENATALAKSANAAN Terapi Umum Pertahankan suhu 36,50c-37,50c PASI (susu rendah laktosa) = 100 x 3,52/70 x120 = 624 cc pemberian PASI = 10 x 63 cc Terapi Khusus Cotrimoxazol 50 mg/kgBB/hari (diberikan selama 10 hari) 50 mg x 3,52 kg x 5ml= 4 ml 2 x 1/2 cth (po) 240mg Vitamin A 50.000 SI (1 x pemberian) Multivitamin Asam folat 5 mg pada hari pertama, kemudian 1mg/hari Zinc = 2 x 3,52 = 7,04 mg 1 x 3/4 tablet Tembaga (Cu) = 0,25 x 3,52 = 0,88 mg 1 mg Sulfas ferrosus = 10 x 3,52 = 35,2 mg 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik) Untuk bercak putih pada sekitar mulut dan bercak kemerahan disekitar pantat/bokong diberikan : - Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit - Beri salep/krim (Zn dengan minyak kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering Edukasi Memperlihatkan cara membuat susu yang benar, sesuai dengan kebutuhan pasien pada orangtua Terapi bermain terstruktur selama 15-30 menit Membawa anaknya untuk kembali kontrol secara teratur Ingatkan pemberian imunisasi lengkap Pemberian vitamin A setiap 6 bulan USULAN PEMERIKSAAN -Kultur feses

- Kimia darah : albumin, kolesterol, gula darah sewaktu, protein total, bilirubin, elektrolit (Na, K). -Urin : Kultur, Urea N, Hidroksiprolin -Apus Rektal

Thorak Foto

II. PROGNOSIS Quo ad vitam : dubia ad bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam Quo ad sanationam : dubia ad bonam

FOLLOW UP
TANGGAL KELUHAN 21 Februari 2011 Bengkak (+),BAK tidak lancar (+),Mencret (+) 5x, cair, kuning 2sdm/mencret, lendir (-), darah (-),Bercak merah disekitar bokong (+) KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 120x/mnt R = 36 x/mnt S = 36,7C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat 22 Februari 2011 Bengkak (+),BAK tidak lancar (+), Mencret (+) 2x, cair, kuning 2sdm/mencret, lendir (-), darah (-),Bercak merah disekitar bokong (+) KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 140 x/mnt R = 36 x/mnt S = 36,5 C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat 23 Februari 2011 Bengkak (+), tidak BAK tidak lancar (+), Mencret (+) 3x, cair, kuning 2sdm/mencret, lendir (-), darah (-), Bercak merah disekitar bokong (+) KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 140x/mnt R = 36 x/mnt S = 36,5C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat

PEMERIKSAAN FISIK

kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh Hasil lab Darah rutin Hb= 10,3 g/dl Ht= 33 % Leukosit= 18600/mm3 Trombosit= 173000/ mm Eritrosit= 4,24 juta/ mm LED = 3/5 mm/jam Hitung Jenis Leukosit B/E/B/S/L/M= 0/4/3/70/20/3 Kimia Urin Berat jenis urin= 1.025 pH urin= 5,5 Nitrit urin= Negatif Protein urin= Positif (++) Glukosa urin= Negatif Keton Urin= Negatif Urobilinogen urine= Normal Bilirubin Urine= Negatif Mikroskopis Urine Eritrosit= 1-3/lpb Leukosit= 5-7/lpb Sel epitel= 2-4/lpb Bakteri= Negatif Kristal= Negatif Silinder= GRNC 2-4 D/ KERJA
3 3

kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh Hasil lab Kimia Urin Berat jenis urin= 1.025 pH urin= 5,5 Nitrit urin= Negatif Protein urin= Positif (++) Glukosa urin= Negatif Keton Urin= Negatif Urobilinogen urine= Normal Bilirubin Urine= Negatif Mikroskopis Urine Eritrosit= 1-3/lpb Leukosit= 5-7/lpb Sel epitel= 2-4/lpb Bakteri= Negatif Kristal= Negatif Silinder= GRNC 2-4

kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh

TERAPI

KEP berat ec primer tipe KEP berat ec primer tipe KEP berat ec primer tipe Kwashiorkor + Diare Kwashiorkor + Diare Kwashiorkor + Diare persisten persisten persisten PASI = 10 x 63 PASI = 10 x 63 PASI = 10 x 63
cc cc cc

Cotrimoksazol syr = 2 x 1/2cth (po)

Cotrimoksazol syr = 2 x 1/2cth (po)

Cotrimoksazol syr = 2 x 1/2cth (po)

Vitamin A 50.000 SI Multivitamin

Multivitamin

Multivitamin

-Asam folat 1 mg pada hari -Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10

-Asam folat 1 mg pada hari -Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10

-Asam folat 5 mg pada hari

-Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik)

tablet(Bila berat badan mulai naik)

tablet(Bila berat badan mulai naik)

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

- -Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

- -Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

- -Kompres pada bagian yang 1% selama 10 menit - Beri s-Salep/krim (Zn dengan minyak kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

terkena dengan larutan KMnO4 s-Salep/krim (Zn dengan minyak s-Salep/krim (Zn dengan minyak - Beri - Beri

TANGGAL KELUHAN

25 Februari 2011 Bengkak (+), BAK tidak lancar (+), Mencret (+) 3x, cair, kuning 2sdm/mencret, lendir (-), darah (-), Bercak merah disekitar bokong (+) KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 120x/mnt R = 34 x/mnt S = 36,7C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan

28 Februari 2011 Bengkak (+), BAK lancar(+), Mencret (+) 2x, cair, kuning 2sdm/mencret, lendir (-), darah (-), Bercak merah disekitar bokong (+) KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 120x/mnt R = 34 x/mnt S = 36,3C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan

4 Maret 2011 Bengkak (+), tidak BAK lancar (+), Mencret (+) 3x, cair, kuning 1sdm/mencret, lendir (-), darah (-), Bercak merah disekitar bokong (+)berkurang KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 142x/mnt R =36 x/mnt S = 37,8C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan

PEMERIKSAAN FISIK

dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh Hasil lab Kimia Urin Berat jenis urin= 1.020 pH urin= 5,5 Nitrit urin= Negatif Protein urin= Positif (+) Glukosa urin= Negatif Keton Urin= Negatif Urobilinogen urine= Normal Bilirubin Urine= Negatif Mikroskopis Urine Eritrosit= 2-3/lpb Leukosit= 10-15/lpb Sel epitel= 3-6/lpb Bakteri= Negatif Kristal= Negatif Silinder= 2-4 granular D/ KERJA

dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh Hasil lab Kimia Urin Berat jenis urin= 1.015 pH urin= 5,5 Nitrit urin= Negatif Protein urin= Negatif Glukosa urin= Negatif Keton Urin= Negatif Urobilinogen urine= Normal Bilirubin Urine= Negatif Mikroskopis Urine Eritrosit= 0-1/lpb Leukosit= 2-3/lpb Sel epitel= 1-3/lpb Bakteri= Negatif Kristal= Negatif Silinder= Negatif

dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh Hasil lab Kimia Klinik Protein Total= 4.59 g/dL Albumin= 2.13 mg/dL Kolesterol Total=142 mg/dL

KEP berat ec. Primer tipe KEP berat ec. Primer tipe KEP berat ec primer tipe Kwashiorkor + Diare Kwashiorkor + Diare Kwashiorkor + Diare persisten persisten persisten

TERAPI

PASI = 10 x 63 cc Cotrimoksazol syr = 2 x 1/2cth (po)

PASI = 10 x 63 cc Cotrimoksazol syr = 2 x 1/2cth (po)

PASI = 10 x 63 cc Cotrimoksazol syr = 2 x 1/2cth (po)

Multivitamin

Multivitamin

Multivitamin

-Asam folat 1 mg pada hari -Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik)

-Asam folat 1 mg pada hari -Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik)

-Asam folat 1 mg pada hari -Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik)

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

- -Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

- -Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

- -Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

- Beri s-Salep/krim (Zn dengan minyak s-Salep/krim (Zn dengan minyak s-Salep/krim (Zn dengan minyak - Beri - Beri

TANGGAL KELUHAN

7 Maret 2011 Bengkak berkurang (+), BAK lancar(+), Mencret (+) 2x, cair, kuning 1sdm/mencret, lendir (-), darah (-), Bercak merah disekitar bokong (+)berkurang KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 120x/mnt R = 34 x/mnt S = 36,5C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas

8 Maret 2011 Bengkak berkurang (+), tidak BAK lancar (+), Mencret (+) 1x, cair, kuning 1sdm/mencret, lendir (-), darah (-), Bercak merah disekitar bokong (+)berkurang KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 120x/mnt R = 32 x/mnt S = 36,5C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas

9 Maret 2011 Bengkak (+), BAK lancar (+), Mencret (-), Bercak merah disekitar bokong (+) berkurang

PEMERIKSAAN FISIK

KU = tampak sakit sedang KS = CM N = 128x/mnt R = 34 x/mnt S = 36,6C Kepala : UUB: datar belum menutup Rambut: hitam kecoklatan, tidak mudah lepas

Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh Hasil lab Kimia Urin Berat jenis urin= 1.010 pH urin= 7,5 Nitrit urin= Negatif Protein urin= Negatif Glukosa urin= Negatif Keton Urin= Negatif Urobilinogen urine= Normal Bilirubin Urine= Negatif Mikroskopis Urine Eritrosit= 0-2/lpb Leukosit= 2-4/lpb Sel epitel= 1-3/lpb

Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh Hasil lab Kimia Klinik Protein Total=5.10 g/dL Albumin= 4.20mg/dL

Mata: CA (-/-), SI (-/-) Hidung : PCH (-), sekret (-/-) Mulut: SPO (-), mukosa bibir lembab Leher : dbn Thoraks I : hemitoraks kanan dan kiri simetris dalam keadaan dinamis P: fremitus taktil simetris dikedua hemitoraks P: Terdengar sonor pada kedua lapang paru A: pulmo : VBS Ka=Ki Rh basah sedang nyaring +/+ , Wh-/Cor: BJ I dan II murni reg Abdomen I: Permukaan tampak datar A: BU (+) P: hepar teraba 4 BAC, Lancip, permukaan rata lien tidak teraba pembesaran P: timpani di keempat kuadran abdomen Ekstremitas Akral: teraba hangat. Oedem + pada seluruh tubuh

Bakteri= Negatif Kristal= Negatif Silinder= Negatif D/ KERJA

TERAPI

KEP berat ec primer tipe Kwashiorkor + Diare persisten (dalam perbaikan) PASI = 10 x 63
cc

KEP berat ec primer tipe Kwashiorkor + Diare persisten (dalam perbaikan) PASI = 10x 63
cc

KEP berat ec primer tipe Kwashiorkor + Diare persisten (dalam perbaikan) PASI = 10 x 63
cc

Multivitamin

Multivitamin

Multivitamin

-Asam folat 1 mg pada hari -Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik)

-Asam folat 1 mg pada hari -Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik)

-Asam folat 1 mg pada hari -Tembaga (Cu) = 1 mg -Sulfas ferrosus = 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik)

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

Untuk bercak kemerahan disekitar pantat/boko ng diberikan :

- -Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

- -Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

- -Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering

- Beri s-Salep/krim (Zn dengan minyak s-Salep/krim (Zn dengan minyak s-Salep/krim (Zn dengan minyak - Beri - Beri

RESUME Anak perempuan, 4 bulan, BB 4,7 kg, dibawa ke poli anak RSU dr. Slamet dengan keluhan bengkak pada seluruh tubuh sejak 7 hari SMRS. Keluhan bengkak dimulai dari wajah, perut, kaki, dan akhirnya seluruh tubuh. Keluhan bengkak tidak berkurang pada waktu pagi, siang maupun malam hari dan tidak disertai dengan sesak nafas. Selama bengkak pasien juga mengeluh buang air kecilnya menjadi jarang dan sedikit. Sebelum bengkak pasien buang air kecilnya sering dan banyak. Keluhan buang air kecil berwarna merah (seperti air teh) disangkal. Bila menangis atau melakukan aktiviasnya penderita tidak terlihat biru.

Sejak 1 bulan SMRS, Penderita mengeluh mencret yang terus-menerus delapan kali sehari, cair berwarna kuning, sebanyak 2 sendok makan perkali, tanpa lendir maupun darah. Keluhan disertai muntah, badan yang hilang timbul, tidak begitu tinggi, nafsu untuk minum yang menurun, kulit yang tampak kering dan mengkilap, bercak-bercak putih disekitar mulut penderita, bercak-bercak kemerahan pada daerah bokong penderita dan menurut ibu penderita, rambut penderita berwarna coklat dan tidak lebat serta penderita sering rewel tanpa alasan. Penderita tidak mendapatkan ASI sejak lahir karena ASI ibu tidak keluar, tetapi penderita diberi air tajin dan susu formula. Penderita baru pertama kali mendapatkan keluhan seperti ini. Riwayat alergi obat-obatan disangkal. Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga tidak ada. Riwayat kontak dengan penderita batuk lama ada. Pasien belum pernah mendapatkan imunisasi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: Status gizi penderita didapatkanBB//U kisaran <60% KEP berat (menurut Gomez 1956). Kelainan mukosa kulit/ subkutan yang menyeluruh: Kering dan mengkilap : (+) Edema umum : (+) Turgor : kembali cepat Rambut : Hitam kecoklatan, lurus,mudah dicabut, pertumbuhan jarang Mulut : cheilosis(+) Wajah : Moon face Hepar : teraba 4 cm BAC, permukaan rata, konsistensi kenyal, tepi tajam Ekstremitas Superior : Oedem (+/+), non piting odem Inferior : Oedem (+/+), non piting odem DIAGNOSIS KERJA - KEP berat ec Primer tipe Kwashiorkor + Diare persisten PENATALAKSANAAN Terapi Umum Pertahankan suhu 36,50c-37,50c PASI (susu rendah laktosa) = 100 x 3,52/70 x120 = 624 cc pemberian PASI = 10 x 63 cc Terapi Khusus Cotrimoxazol 50 mg/kgBB/hari (diberikan selama 10 hari) 50 mg x 3,52 kg x 5ml= 4 ml 2 x 1/2 cth (po) 240mg Vitamin A 50.000 SI (1 x pemberian) Multivitamin Asam folat 5 mg pada hari pertama, kemudian 1mg/hari Zinc = 2 x 3,52 = 7,04 mg 1 x 3/4 tablet

Tembaga (Cu) = 0,25 x 3,52 = 0,88 mg 1 mg Sulfas ferrosus = 10 x 3,52 = 35,2 mg 1 x 1/10 tablet(Bila berat badan mulai naik) Untuk Untuk bercak putih pada sekitar mulut dan bercak kemerahan disekitar pantat/bokong diberikan : - Kompres pada bagian yang terkena dengan larutan KMnO4 1% selama 10 menit - Beri salep/krim (Zn dengan minyak kastor) - Usahakan agar daerah perineum tetap kering Edukasi Menerangkan cara membuat susu yang benar, sesuai dengan kebutuhan pasien pada orangtua Terapi bermain terstruktur selama 15-30 menit Membawa anaknya untuk kembali kontrol secara teratur Ingatkan pemberian imunisasi lengkap Pemberian vitamin A setiap 6 bulan

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam

: dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

PEMBAHASAN 1. Pasien ini didiagnosa sebagai KEP berat tipe kwashiokor karena dari pemeriksaan ditemukan : Usia pada saat ditemukan 4 bulan a) Anamnesa : - Bengkak pada seluruh tubuh dimulai dari wajah, perut, kaki, dan akhirnya seluruh tubuh - Muntah - Diare - Bercak putih disekitar mulut dan bercak kemerahan yang mengelupas disekitar pantat/bokong. - Kulit terlihat kering dan mengkilap diseluruh tubuh - Kadang-kadang keluhan juga disertai panas badan, batuk dan pilek yang hilang timbul. - Pasien tidak mendapatkan ASI sejak lahir, tetapi pasien diberi air tajin dan susu formula b) Pemeriksaan fisik :

Kesadaran : Compos Mentis Status Gizi : BB//U kisaran < 60% KEP berat (menurut Gomez 1956) Kelainan mukosa kulit/ subkutan yang menyeluruh: Kering dan mengkilap: (+)

Edema umum : (+) Kepala : Rambut :Hitam kecoklatan, lurus,mudah dicabut, pertumbuhan jarang Mulut : cheilosis Wajah : Moon face

Abdomen Palpasi : Hepar : teraba 4 cm BAC, permukaan rata, konsistensi kenyal, tepi tajam Ekstremitas : edema + + piting odem (-) + +

c) Pemeriksaan laboratorium : Tanggal 7/3/2011 Kimia Urin Berat jenis urin= 1.010 pH urin= 7,5 Nitrit urin= Negatif Protein urin= Negatif Glukosa urin= Negatif Keton Urin= Negatif Urobilinogen urine= Normal Bilirubin Urine= Negatif Mikroskopis Urine Eritrosit= 0-2/lpb Leukosit= 2-4/lpb Sel epitel= 1-3/lpb Bakteri= Negatif Kristal= Negatif Silinder= Negatif Diagnosis Banding - KEP berat tipe Marasmic-Kwashiorkor 1. Bengkak tidak hilang selama pengobatan awal 2. Wajah tidak seperti orang tua 3. Tidak ada baggy pants Sindrom Nefrotik, tetapi: 1. Tidak ada keluhan bengkak pada pagi hari saat bangun tidur disangkal Tanggal 8/3/2011 Kimia Klinik Protein Total=5.10 g/dL Albumin= 4.20mg/dL

2. Tidak ada hipoalbumin 3. Tidak ada hiperkolesteromia

PEMBAHASAN

Kwashiorkor adalah suatu gejala defisiensi gizi yang dialami biasanya oleh anak-anak. Proses metabolik anak pada dasarnya sama dengan orang dewasa, tetapi relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa. Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut, seperti kebutuhan tubuh anak yang diperlukan untuk pertumbuhan. Selain itu tingkah laku anak-anak normal yang cenderung lebih aktif pada usianya, sehingga memerlukan energi yang besar. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila kondisi lingkungan anak tersebut memenuhi syarat, terutama dalam hal penyediaan bahan makanan yang cukup, sehat dan bergizi oleh keluarga ataupun penyediaan stok oleh pemerintah. Tubuh dalam hal ini seperti mesin yang memerlukan bahan bakar. Penyediaan makanan yang mengandung cukup kalori, protein, mineral, air, vitamin dan bahan-bahan lain yang esensial dan non esensial sangat dibutuhkan untuk menyokong pertumbuhan yang optimal bagi anak.

Beberapa waktu terakhir ini, diberitakan tentang kasus defisiensi gizi pada beberapa daerah di Indonesia. Merupakan hal yang sulit mengingat dibutuhkannya generasi yang sehat untuk menopang Indonesia saat ini dan mendatang.

Epidemiologi
Marasmus dan Kwashiorkor merupakan kondisi yang sering ditemukan pada negaranegara miskin bahkan pada negara berkembang. Jarang sekali ditemukan pada negara-negara maju mengingat penyediaan diet cukup gizi bagi anak serta tingkat pendidikan yang dimiliki orang tua dalam memilih dan menyediakan makanan. Pada tahun 1989, gizi kurang diderita oleh 37,5% anak balita. Pada tahun 2000, prevalensi gizi kurang adalah 24,6%. Yang menjadi masalah adalah penderita gizi buruk, yang terlihat tidak terjadi penurunan prevalensi. Prevalensi gizi buruk pada anak balita terlihat meningkat dari 6.3% pada tahun 1989, menjadi 11,5% pada tahun 1995, kemudian turun menjadi 7,5% pada tahun 2000. Terlepas dari kejadian krisis ekonomi tahun 1997, memasuki tahun 2000, masalah gizi kurang masih ditemui pada sebagian besar penduduk. Masih ditemukan 20 kabupaten dengan prevalensi gizi kurang pada anak balita diatas 40%, 60 kabupaten dengan prevalensi antara 30-40%, dan 141 kabupaten dengan perevalensi antara 20-30%. Menurut WHO (World Health Organization), 49% dari 10,4 juta anak-anak dibawah 5 tahun meninggal. Terjadi terutama pada negara-negara miskin dan berkembang yang berhubungan dengan malnutrisi energi protein. Tetapi bukan berarti tidak menimpa negaranegara maju. Di negara dengan jumlah penduduk yang besar dan kondisi sosial-ekonomi rendah, anak dengan penyakit kronis dan anak-anak terlantar juga ditemukan keadaan malnutrisi.

PATOFISIOLOGI

Etiologi
Kwashiorkor : Kwashiorkor atau busung lapar adalah salah satu bentuk dari gangguan gizi yang disebabkan oleh kekurangan asupan protein. Bisa disertai oleh kekurangan kalori dan atau tidak disertai. Ditandai dengan edema disertai gejala kwashiorkor lainnya. Pada saat sekarang ini, kedua keadaan diatas digolongkan menjadi satu untuk memudahkan menentukan derajat malnutrisi. Oleh Jelife (1959) disebut Malnutrisi Energi

Protein atau MEP. Terbagi atas tiga, yaitu MEP marasmus, MEP kwashiorkor dan MEP marasmik kwashiorkor.

Fisiologis
Beberapa hal yang dapat kita nilai apakah anak tersebut mengkonsumsi cukup nutrisi sesuai dengan kondisi tubuh anak. Gol Umur 0-6 Bln 7-12 Bln 1-3 Th 4-6 Th 7-9 Th BB (Kg) 5,5 Kg 8,5 Kg 12 Kg 18 Kg 24 Kg TB (Cm) 60 Cm 71 Cm 90 Cm 110 Cm 120 Cm Energi 560 kkal 800 kkal 1250 kkal 1750 kkal 1900 kkal Protein 12 g 15 g 23 g 32 g 37 g

Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1998 Tabel diatas berdasarkan rata-rata kebutuhan normal anak di Indonesia

Kebutuhan energi sehari pada tahun pertama 100 200 kkal/KgBB. Untuk tiap 3 tahun pertambahan umur, kebutuhan energi turun 10 kkal/KgBB. Berdasarkan tabel diatas, anak normal yang diberi nutrisi cukup diharapkan memenuhi standart untuk tumbuh kembang anak. Dinilai dari berat badan; tinggi badan; bentuk anatomis tubuh anak; luas permukaan anak; diameter dan panjang tulang anak; diameter kepala anak; dan perkembangan mental serta intektual anak.

Patofisiologi
Kwashiorkor : Pada kwashiorkor, gangguan metabolik dan perubahan sel menyebabkan edema dan perlemakan hati. Keadaan ini merupakan gelaja yang mencolok. Pada penderita defisiensi protein, tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan, karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori yang cukup dalam dietnya. Namun kekurangan protein dalam dietnya akan menimbulkan gejala kekurangan asam amino esensial untuk sintesis. Oleh karena intake karbohidrat cukup, maka produksi insulin tidak terganggu dan sebagian asam amino dari dalam serum yang jumlahnya sudah berkurang akan dibawa ke otot. Asam amino yang kurang dalam serum menyebabkan produksi albumin juga berkurang oleh hepar, hasil akhirnya berupa edema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan lipoprotein-B sebagai pembawa lemak karena kurangnya asam amino. Transport lemak dari hati ke depot akan terganggu dengan akibat perlemakan hati.

GEJALA DAN TANDA


Klasifikasi Ada beberapa klasifikasi : 1. Klasifikasi MEP menurut The Welcome Trust Party, 1970 Membedakan tipe malnutrisi berdasarkan berat badan dan edema, yaitu : Berat badan diatas 60% dari normal & edema = Kwashiorkor Berat badan dibawah 60% dari normal & edema = Marasmik kwashiorkor Berat badan dibawah 60% dari normal tanpa edema = Marasmus 2. Klasifikasi MEP menurut Waterlow, 1973 Derajat malnutrisi Derajat 1 Derajat 2 BB% terhadap st. BB/TB 80 - 90 70 - 80

Derajat 3
Ilmu Gizi Klinis (Pudjiani S)

< 70

3. Scoring system menurut McLaren, 1967 Gejala Klinik Edema Dermatosis Edema + dermatosis Hair chance Hepatomegali Serum albumin/total protein < 1,00 / < 3,25 1,00 1,49 / 3,25 3,99 1,5 1,99 / 4,00 4, 74 4,75 2,49 / 4,75 5,49 2,50 2,99 / 5,50 6,24 3,00 3,49 / 6,25 6,99 3,50 3,99 / 7,00 7,74 > 4,00 / > 7,75
Ilmu Gizi Klinis (Pudjiani S)

Skor 3 2 6 1 1 Skor 7 6 5 4 3 2 1 0

Penilaian : Skor 0 3 : Marasmus Skor 4 8 : Marasmus Kwashiorkor Skor 9 15 : Kwashiorkor Gejala Klinis Gejala pada marasmus adalah : 1. Pertumbuhan berkurang atau terhenti 2. Anak masih menangis walaupun sudah disusui 3. Sering terbangun malam 4. Konstipasi atau diare 5. Bercak hijau tua terdiri dari lendir dan tinja 6. Hilangnya jaringan lemak dibawah kulit Hilangnya turgor kulit dan keriput 7. Lemak pipi menghilang, wajah nampak tua 8. Vena superfisialis tampak lebih jelas, ubun-ubun besar cekung, tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol, mata besar dan dalam 9. Ujung tangan dan kaki sianosis dan dingin 10. Perut cekung dengan gambaran usus yang jelas 11. Otot atrofi 12. Mula-mula anak penakut, tetapi akan menjadi apatis. Pemeriksaan fisik : Biasanya dengan melihat, mudah sekali untuk mencurigai gejala marasmus. Tetapi perlu dinilai adanya edema, hepatomegali, dehidrasi, pemeriksaan turgor kulit dan penentuan derajat malnutrisi. Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan lab umumnya tidak perlu, kecuali pada kondisi marasmus berat atau disertai kwashiorkor. Menurut WHO yaitu : 1. Glukosa darah : Hipoglikemia jika kadar lebih rendah dari 3 mmol/L. 2. Hemoglobin : Kadar dibawah 40 g/L di indikasikan sebagai anemia berat.

3. Pemeriksaan urin dan kultur : Lebih dari 10 leukosit per lapang pandang besar di indikasikan sebagai infeksi. 4. Mikroskopis : Pemeriksaan parasit dan darah untuk disentri dan infeksi lainnya. 5. Albumin: Walaupun tidak berguna untuk diagnosis, teetapi digunakan sebagai prognosis. Jika albumin lebih rendah dari 35 g/L, maka prognosis buruk. Untuk penentuan kwashiorkor juga. 6. Test HIV : Tidak diharuskan untuk memeriksa, kecuali dicurigai adanya infeksi. 7. Electrolit : Mengukur kadar elektrolit bisa membantu. Biasanya ditemukan keadaan hiponatremia. Pemeriksaan radiologi : Biasanya digunakan sebagai pemeriksaan penunjang tes laboratorium. Radiologi thorak menunjukkan infeksi paru seperti lesi TBC, kardiomegali, dll. Catt : Skin test tuberkulosis sering memberikan hasil negatif palsu, akibat malnutrisi. Gejala pada kwashiorkor adalah : 1. Pertumbuhan badan terganggu. Otot mengecil. 2. Perubahan mental, cengeng dan menjadi apatis. 3. Ditemukan edema. Wajah membulat dan sembab. Mata sayu. Perut menjulang kedepan. 4. Gejala gastrointestinal. Anoreksia yang hebat sering ditemukan, sehingga sulit untuk makan. Biasanya diberi sonde lambung. Diare pada sebagian besar penderita, mungkin karena gangguan fungsi hati, pankreas dan usus. Intoleransi laktosa kadang ditemukan, hati-hati pemberian susu yang bisa memperburuk diare. 5. Perubahan rambut. Khas mudah dicabut, kusam, kering dan warnanya menjadi putih. 6. Kulit penderita biasanya kering dan menunjukkan garis kulit yang dalam dan lebar. Crazy pavement dermatosis, merupakan bercak putih atau merah muda pada daerah yang sering mendapat tekanan terus menerus dan lembab. Menandakan prognosis buruk. 7. Anemia ringan. Disebabkan oleh berkurangnya sistem eritropoetik dalam sumsum tulang karena defisiensi protein dan juga infeksi menahun. Faktor asupan vitamin dan zat besi serta kerusakan hati dan imbalance hormon juga berpengaruh. 8. Pada biopsi hati ditemukan perlemakan hati. Sering ditemukan tanda fibrosis, nekrosis dan infiltrasi sel mononukleus. 9. Hasil autopsi penderita kwashiorkor yang berat menunjukkan hampir semua organ mengalami perubahan berupa degenerasi. 10. Syok dan koma pada keadaan lanjut.

Penatalaksanaan
Pasien MEP berat dirawat inap dengan pengobatan rutin sebagai berikut : 1. Atasi/cegah hipoglikemia. Periksa kadar gula darah bila ada hipotermia (aksila <35C, rektal <35,5C). Pemberian makanan lebih sering untuk menghindari gejala tersebut. Bila kadar gula darah dibawah 50mg/dL, berikan : a. 50mL bolus glukosa 10% atau larutan sukrosa 10 % secara oral atau pipa nasogastrik. b. Selanjutnya berikan larutan setiap 30 menit selama 2 jam. c. Berikan antibiotik sebagai profilaksis. d. Secepatnya berikan makan setiap 2 jam, siang dan malam. 2. Atasi/cegah hipotermia Bila suhu rektal <35,5C :

a. b. c. d.

Segera beri makan cair/formula khusus (mulai dengan rehidrasi bila perlu) Hangatkan anak dengan pakaian atau selimut sampai menutup kepala. Berikan antibiotik sebagai profilaksis Suhu diperiksa sampai mencapai >36,5C

3. Atasi/cegah dehidrasi Jangan gunakan jalur intravena kecuali pada syok. Lakukan pemberian infus dengan hatihati, tetesan pelan-pelan untuk menghindari beban sirkulasi dan jantung. Gunakan larutan garam khusus yaitu Resonal (Rehydration Solution for Malnutrition) atau penggantinya. Anggap semua anak dengan MEP berat dengan diare encer mengalami dehidrasi, sehingga hatus diberi : a. Cairan Resomal/pengganti sebanyak 5mL/KgBB setiap 30 menit selama 2 jam secara oral atau pipa nasogastrik. b. Selanjutnya beri 5-10mL/KgBB/jam selaa 4-10 jam berikutnya. Jumlah yang tepat untuk anak harus diberikan sesuai dengan banyaknya kehilangan/keluarnya cairan. c. Ganti Resomal/pengganti pada jam ke-6 dan ke-10 dengan formula khusus sejumlah yang sama, bila keadaan rehidrasi menetap/stabil. d. Selanjutnya mulai beri formula khusus. 4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit Pada semua MEP berat terjadi kelebihan natrium tubuh, walaupun kadar plasma rendah. Defisiensi kalium dan magnesium sering terjadi. Ketidakseimbangan ini ikut mempengaruhi terjadinya edema. Jangan berikan diuresis. Berikan : a. Tambahan kalium 2-4mEq/KgBB/hari atau 150-300mg KCl/KgBB/hari. b. Tambahan magnesium 0,3-0,6mEq/KgBB/hari (7,5-15mg KCl/KgBB/hari). c. Siapkan makanan tanpa diberi garam. Tambahan K dan Mg dapat disiapkan dalam bentuk cair dan ditambahkan pada makanan. Penambahan 20mL dalam 1 Liter formula. 5. Obati/cegah infeksi Antibiotik dengan spektrum luas menjadi pilihan. a. Bila tanpa komplikasi, kotrimoksazol 5mL, suspensi pediatri secara oral, 2 kali sehari selama 5 hari. (2,5mL bila berat badan < 4Kg. b. Bila anak sakit berat (apatis, letargi) atau ada komplikasi, beri ampisilin 50mg/KgBB/IM/IV setiap 6 jam delama 2 hari. Kemudian secara oral amoksisilin 15mg/KgBB setiap 8 jam selama 5 hari. Bila amoksisilin tidak ada, teruskan ampisilin 50mg/KgBB setiap 6 jam secara oral. Tambahkan pula : - Gentamisin 7,5mg/KgBB IM, IV sekali sehari selama 7 hari. - Bila dalam 48 jam tidak ada kemajuan, tambahkan kloramfenikol 25mg/KgBB IM, IV setiap 6 jam selama 5 hari. - Bila terdeteksi kuman yang spesifik, beri pengobatan spesifik. - Bila anoreksia menetap selama 5 hari, lengkapi antibiotika menjadi 10 hari. - Vaksinasi campak bila umur anak > 6 bulan dan belum pernah diimunisasi (tunda bila syok). Ulangi pemberian vaksin setelah keadaan gizi anak menjadi baik. 6. Koreksi defisiensi nutrien mikro Berikan setiap hari : a. Tambahan multivitamin b. Asam folat 1mg/hari (5mg hari pertama) c. Seng (Zn) 2mg/KgBB/hari d. Tembaga (Cu) 0,2mg/KgBB/hari e. Bila berat badan mulai naik : Fe 3mg/KgBB/hari atau sulfas ferosus 10mg/KgBB/hari

f. Vitamin A oral pada hari ke-1, 2 dan 14 Umur > 1 tahun : 200,000 SI Umur 6-12 bulan : 100,000 SI Umur 0-5 bulan : 50,000 SI Bila ada ulserasi pada mata, beri tambahan perawatan mata untuk mencegah prolaps lensa : a. Beri kloramfenikol atau tetrasiklin tetes mata, setiap 2-3 jam selama 7-10 hari. b. Teteskan atropin tetes mata, 3 kali 1 tetes sehari selama 3-5 hari. c. Tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali. 7. Mulai pemberian makan Pada fase awal perlu berhati-hati karena keadaan faal anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang. Pemberian nutrisi harus dimulai segera dsan dirancang memenuhi kebutuhan energi dan protein. a. Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa. b. Oral atau nasogastrik. (jangan dimulai dengan parenteral) c. Energi : 100kkal/KgBB/hari. d. Protein : 1-1,5g/KgBB/hari. e. Cairan : 130mL/KgBB/hari (100mL/KgBB bila ada edema berat) f. Bila anak mendapat ASI, teruskan dengan diaali pemberian formula khusus dahulu. Berikan formula dengan cangkir/gelas. Bila anak terlalu lemah, berikan dengan sendok atau pipet. Jadwal dan cara pemberian yang dianjurkan adalah volume makanan ditambah secara bertahap disertai pengurangan frekuensi pemberian makanan. Contoh : Hari keFrekuensi Vol/Kg/kali makan Vol/Kg hari 1-2 Tiap 2 jam 1,5 sendok mkn 130mL 3-5 Tiap 3 jam 2 sendok mkn 130mL 6-7 Tiap 4 jam 3 sendok mkn 130mL Pada anak denganselera makan baik dan tidak edema, jadwal dapat diselesaikan dalam 23 hari saja. Jangan berikan makan lebih dari 100kkal/KgBB/hari pada fase ini. Bila asupan makanan kurang dari 80kkal/KgBB/hari, berikan sisanya melalui pipa nasogastrik. 8. Fasilitas tumbuh kejar Pada masa pemulihan, dibutuhkan berbagai pendekatan secara gencar agar tercapai asupan makanan yang tinggi dan pertambahan berat badan > 10g/KgBB/hari. Awal fase rehabilitasi biasanya ditandai dengan timbulnya selera makan (biasanya 1-2 minggu setelah dirawat).Transisi secara perlahan dianjurkan untuk menghindari resiko gagal jantung. Pada periode transisi ubah formula khusus awal ke formula khusus lanjutan a. Ganti formula khusus awal (energi 75kkal dan protein 0,9g per 100mL) dengan formula khusus lanjutan (energi 100kkal dan protein 2,9g per 100mL) dalam jangka waktu 48 jam. Modifikasi bubur dapat digunakan. b. Kemudian naikkan dengan 10mL setiap kali, sampai ada sedikit formula tersisa. Biasanya saat tercapai jumlah 30mL/KgBB/kali (200mL/KgBB/hari) Bila terjadi peningkatan frekuen nafas > 5 kali per menit dan denyut nadi > 25 kali per menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturut-turut, kurang volume pemberian formula. Setelah normal kembali, ulangi menaikkan volume seperti diatas. Setelah periode transisi dilewati, anak diberi : a. Makanan atau formula dengan jumlah tidak terbatas dan sering. b. Energi : 150-220kkal/KgBB/hari c. Protein : 4-6g/KgBB/hari.

d. Bila anak masih mendapat ASI, teruskan. Tetapi diawali dengan pemberian formula karena energi dan proteindari ASI tidak mencukupi. Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan berat badan : a. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan. b. Setiap minggu, kenaikan berat badan dihitung (g/KgBB/hari) Bila kenaikan berat badan : a. Kurang (< 5 g/KgBB/hari), perlu evaluasi menyeluruh. b. Sedang (5-10 g/KgBB/hari), periksa apakah asupan makanan mencapai target atau apakah infeksi telah teratasi. 9. Sediakan stimulasi sensorik dan dukungan mental serta emosional. Berikan perlakuan berupa kasih sayang, lingkungan ceria, terapi bermain terstruktur selama 15-30 menit, aktifitas fisik segera setelah sembuh, keterlibatan ibu, dll. 10. Siapkan follow up setelah sembuh. Bila berat badan anak sudah mencapai 80%BB/U, dapat dikatakan anak sembuh. Pemberian saran gizi anak perlu bagi orang tua. Bawa kembali anaknya untuk kontrol dan berikan imunisasi ulang serta pemberian vitamin.

Komplikasi
Komplikasi yang paling sering adalah defisiensi vitamin A, tuberkulosis paru, bronkopneumonia, askariasis, dll.

Prognosis
Pengobatan dini biasanya memberikan prognosis yang baik. Pengobatan yang telat dapat menimbulkan cacat dan penurunan intelektual. Tanpa pengobatan atau terlalu telat, akan menyebabkan kondisi yang fatal.

Beri Nilai