Anda di halaman 1dari 13
ANALISIS KEBISAKAN PENEGAKAN HUKUM PADA PENGELOLAAN KEGIATAN PERTAMBANGAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN Ary Wahyono ‘taf Peneli Pusiitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan ‘Lembaga imu Pengetahuan Indonesia Abstract This paper facuses on policy analyte for lw enforcement on management of ‘mining activites: Such potcies nave Been lang established in Indonesia, ut the limplemeniaions tend not to be in the right drection. As @ result of centralised ‘regulation onenvironmental management most environmental regulations have boon ignored by tho companee-relsted mining This leads lo. many ‘naccounlabe as well 2s iresponsble management in mining actives. It ‘Would presumably precede environmental deterioration in meny Ways. PENDAHULUAN Pembangunan pada dasamya merupakan suatu upaya rekayasa untuk mencapai suatu {ujuan tertentu. Pembanguan suatu negara lazimnya merupakan rekayesa di bidang sosial, ekonomi, polit dn budaya, agar mampu mencapai suatu tahapan tujuan yang telah dicita-citaken suatu negara. Pembangunan berwawasan lingkungan diharepkan cilakukan sejak wal perencanaan dan pemanfeatan sumberdaya, khususnya setelah ‘melakukan pertimbangan factor-faktor lingkungan. Ini artinye pembangunan harus dilakukan engan mempertimbangkan foktor sumberdaya secara bijaksana, dimane pembengunan harus berkesinambungan dan mampu meningkatkan kualtas hidup generasi Ke generasi (Emil Salim, 1986). Dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan, maka pengelolaan fingkungan hidup mempunyai rilai yang strategis kerena melalui pengelolaan lingkungan hidup depat cilakukan upaya memadukan kontradiksi antara pembangunan dar pelestarian kemampuan lingkungan. Karena, kenyataan yang masih ada pemihakan yang timpang terhadap pembangunan dan pelestarian kemampuan lingkungan_yang ditunjukan dengan sikap dualistik. Kebjakan pembangunan yang sudah digariskan seharusnya tidak mendua tetapi justru saling dipertautkan agar salah satu aspek tidak dikorbankan, tetapi merupekan suatu kebijakan yang terpadu. Pengelolaan lingkungan akan meminimaiken konfik sehingga kebjjakan yang eken berdampak pada ketegangan antara negara dan masyarekat (Zaidun, 1995). Pertambargan merupakan industri tertua kedua setelah pertanian. Proyek-proyek industri pertambangan diharapkan dapat menjadi kutub pertumbuhan atau growth pole bagi daerah sekitarnya. Asumsi di balik harapan ini adaish bahwa akan terjadi efek “penetesan” dalam pertumbuhen ended st Pembangunan X11 2) 2000 a ‘ekonomi dari proyek industri pertambangan. Ketergantungan masyarakat primitif akan hesil-nasil penggalian bahen tambang telah lama diketahul ‘Sejak tahun 1970-an, pengembangan industri pertambengan ai Indonesia ‘meningkat dengan capat, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri ‘maupun ekspor. Berbagai komoditi_digarap mulai dari pertarbangan minyak dan gas bumi, batubara, timah, emas dan perak. Juga bahan galian seperti pasirbatu/batu gamping, bahkan tidak hanya penambangan ‘nineral saja yang meningkat tetapi juga dikuti dengan pertumbuhan industri pengolahan {an pembuaten barang jadi Pertumbuhan industri pertambangan ini sudah tentu menimbulkan masaleh fingkungan hidup. Dampak ingkungan dari kegiatan penambangan antara satu Komiociti dengan Komoditi lain berbeda. Barang tembeng atau mineral memilki citi penyebaran yang tidak merata. Bahan galan ini dapat diumpai di puncak gunung, di hutan primer, di tepi pentai atau di tengah permukiman kota. Ciri lain dari tambang adaich tidak dapat diperbaruinya (non renewable). Dampak dan pengelolean lingkungan yang ditimbulkan tentu saja tidak sama dengan sumberdaya yang dapat diperbaharui, misainya hhutan. Begitu banyaknya jenis bahen gelian yang dapat ditambang, make berarti beragam pula dampak yang ditimbulkan tethadap lingkungan hidup. Beragamnya jenis bahan galian jelas akan mempersulit penentuan baku mutu Jingkungan, terutama yang berkenaan dengan penentuan ambang batas buangan dari setiap jenis bahan galian. Ini berarti potensi pencemaran yang ditimbulkan behan-bahan gatian terhadap lingkungan juga berbeda, Makalah ini mencoba menelaah seberapa jauh aspek penegakan hhukum pengolalaan lingkungan hidup telah diatur ateu tertampung dalam betbagei peraturan perundang-undangan yang berlaku. REGULASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI TINDAKAN KEBIJAKAN Regulasi-tegulesi yang dikeluarkan dalam rangka penegakan hukum pengelolean jingkungan hidup adalah suatu tindakan kebijakan. Secara mum tindakan kebijakan mempunyai dua tujuan utama: reguiasi dan alokasi Tindakan regulasi adalzh tindakan yang dirancang untuk menjamin kepatuhan terhadap standar atau prosedur tertentu, misainye jenis-jenis usaha atau kegialan yang wajb dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan, atau indeks standar pencemaran yang harus dipatuhi, dan sebagainya, Sebaliknya tindeken alokatif adalah. tindakan yang membutunkan masuken berupa uang, waktu, personil dan alat. Baik tindakan regulatif maupun tindakan alokatif dapat memberikan akibat yang bersifat distributif_maupun redistributi. Tindakan distributif_ maupun redistributif diimplementasikan oleh badan-badan pemerintah (Willam N Dunn, 1998). 64 Penduduk st Pembangunan X11) 2000 = (> _ Reguiatif Tindakan Kebijakan > Riokatit Badan” — Program Proyer™ PENGERTIAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Undang-Undang No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup memberikan definisi pengelolaan lingkungan hidup sebagai upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebjaksanean penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemelinaraan, pemulinan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup. Wewenang melakukan pengelolaan lingkungan hidup tersebut berada di tangan pemerintah dan diatur melalui Peraturan Pemerintah (Pasal 8, UU No. 23 Tahun 1997). Adapun wewenang pemerintah dalem pengelolaan lingkungan hidup metiput @ — mengalur dan mengembangkan kebijakan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup; b. —-mengatur penyediaan, _peruntukan, penggunean, _pengeloleen lingkungan hidup, dan pemanfaatan kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya genetixa; ¢. —-mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/ atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya genetke; d, _ mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial; fe. — mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi fingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang beraku. Prinsip keterpaduan merupakan azas pokok dalam pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dianut UU No. 23 Tahun 1997. Keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup disebutkan pada Pasal 9, adalah antera instansi_pemerintah, masyarakat dan peleku pembengunen. Kerudiar tahap perencanaan dan pelaksanaan kebijakan nasional pengelola: lingkungan hidup yang dikoordinasi oleh pemerintah pusat (menteri Ketentuan ini tidak Jaun berbeda dengan pasal 18 UU No, 4/1982 tentang Lingkungan Hidup, sebagai berikut: Pendud 6 Pembangunan XY 142? 2000 65