Anda di halaman 1dari 62

Skripsi ini di Download dari -----------------------------------------------

Datakomputer.Com

--------------------------------------------------------------------------------------------------

RIBUAN FILE SKRIPSI GRATIS GAK USAH BAYAR


Software, Skripsi, Tutorial, Shop, Forum, Media sosial
1

BAB I PENDAHULUAN

A. ALASAN PEMILIHAN JUDUL Setiap perusahaan yang didirikan baik perusahaan dagang, perusahaan industri maupun perusahaan jasa memiliki satu tujuan utama yaitu mencapai laba maksimal. Setiap perusahaan berusaha untuk menerapkan strategi yang tepat sehingga dapat secara cepat merespons perkembangan pasar untuk dapat mempertahankan dan sekaligus merebut pasar dan peluang yang ada dimana terdapat para pesaing dari bidang usaha sejenis yang ketat berkompetisi. Informasi-informasi bisnis harus secara cepat dapat diperoleh sehingga pihak perusahaan dapat segera mengambil kebijakan yang diperlukan. Di samping kecepatan, keakuratan dari informasi yang diperoleh juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dan menjadi aset yang sangat berharga bagi perusahaan dalam menerapkan kebijakan dan strategi-strateginya. Akan tetapi kecepatan dan keakuratan informasi tidak akan berharga jika tidak dapat dianalisis dan diinterpretasikan dengan baik dan tepat dalam kebijakan dan strategi yang dibuat oleh perusahaan. Hal ini menuntut kemampuan dan kejelian pihak manajemen perusahaan dalam menganalisis dan menginterpretasikan informasi tersebut khususnya informasi keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan.

Informasi mengenai kegiatan di masa yang lalu dianalisa dan disesuaikan dengan keadaan di masa sekarang untuk dijadikan dasar kebijaksanaan yang berguna sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan demikian, suatu keputusan tersebut tidak hanya didasarkan pada intuisi manajer belaka, melainkan suatu keputusan yang tepat dan lebih rasional. Laporan keuangan adalah salah satu sumber informasi yang penting dalam hal pengambilan keputusan oleh pihak manajemen perusahaan karena menyangkut tentang posisi keuangan perusahaan baik dari segi likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, hasil-hasil atau kerugian yang dialami oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dengan informasi dari laporan keuangan periode yang lalu, manajemen perusahaan dapat mengambil keputusan untuk kebijakan-kebijakan yang lebih tepat, membuat perencanaan yang lebih baik untuk periode yang akan datang memperbaiki sistem pengawasannya. Salah satunya adalah untuk membuat perencanaan laba pada periode yang akan datang serta bagaimana cara untuk mencapai target laba yang sudah ditetapkan oleh perusahaan karena tingkat laba perusahaan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan dan kemajuan perusahaan. Hal menarik inilah yang menjadi salah satu alasan penulis memilih judul ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA P.D.UNION MEDAN serta

B. PERUMUSAN MASALAH Setiap perusahaan yang didirikan tidak akan terlepas dari berbagai masalah yang akan dihadapi. Banyaknya masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan seketika, tetapi memerlukan suatu analisis data yang benar-benar tepat dan akurat. Selain itu juga memerlukan kemampuan, waktu dan tenaga yang cukup dalam menyelesaikan masalah yang timbul. Sesuai dengan topik yang dipilih oleh penulis, maka pokok permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Sejauh mana peranan analisis laporan keuangan sebagai alat perencanaan laba yang dilakukan oleh pihak manajemen P.D.UNION Medan .

C. TUJUAN PENELITIAN Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis untuk mengetahui peranan dan pengaruh dari analisis laporan keuangan yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan sebagai alat perencanaan laba perusahaan untuk periode yang akan datang.

D. HIPOTESIS Berikut merupakan salah satu definisi dari hipotesis/hipotesa: Hipotesa ialah suatu proporsi kondisi atau prinsip yang untuk sementara waktu dianggap benar dan barangkali tanpa keyakinan, agar bisa ditarik suatu konsekuensi yang logis dan dengan

cara ini kemudian diadakan dalam pengujian (testing) tentang kebenarannya dengan mempergunakan data empiris (empirical data) hasil penelitian. 1 Jadi hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis juga menyatakan hubungan apa yang kita cari atau yang ingin kita pelajari dan dipergunakan sebagai petunjuk untuk tujuan pengumpulan dan analisa data yang relevan. Dari uraian-uraian yang penulis paparkan pada sub pendahuluan di atas, maka penulis membuat hipotesis sebagai acuan penulisan ini adalah sebagai berikut: Analisis laporan keuangan memiliki peranan yang penting dalam perencanaan dan pencapaian laba yang dilakukan oleh pihak manajemen P.D.UNION Medan.

E. METODE PENELITIAN Dalam pengumpulan data dan informasi yang diperoleh untuk menyusun skripsi ini , penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut: 1. Metode Pengumpulan Data a. Data primer adalah data yang diperoleh dengan mendatangi langsung objek penelitian dimana hasilnya aktual dan validalitasnya dapat dipertanggungjawabkan. b. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui sumber-sumber informasi yang berhubungan dengan objek penelitian.

J. Supranto, Metode Riset: Aplikasinya dalam Pemasaran, LPFE-UI, Jakarta, 1981, hal. 23.
1

2. Metode Penelitian a. Penelitian Kepustakaan ( Library Research ) adalah metode penelitian dengan cara membaca buku-buku / literatur-literatur yang berhubungan dengan judul penelitian. Tujuannya adalah sebagai tinjauan teoritis yang digunakan untuk dasar perbandingan dan pengevaluasian pembahasan. b. Penelitian Lapangan ( Field Research ) adalah metode penelitian dengan mengumpulkan data-data / informasi yang diperlukan langsung dari pihak perusahaan tempat penulis melakukan penelitian (pimpinan perusahaan, staf, dan karyawan/i perusahaan). 3. Alat dan Teknik Pengumpulan Data a. Pengamatan / Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung terhadap cara kerja Departemen Keuangan dan Pemasaran perusahaan b. Wawancara / Interview yaitu mengadakan komunikasi secara langsung dengan pimpinan, staf, dan karyawan/i perusahaan.

10

BAB II URAIAN TEORITIS

A. PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN Pada era globalisasi ini, kemampuan untuk bersaing dan menguasai pasar sangat dibutuhkan dalam bisnis, segala sesuatunya menuntut kecepatan dan ketepatan termasuk dalam hal penyampaian dan penerimaan informasi bisnis. Di sinilah peran akuntansi semakin berkembang sebagai bahasa bisnis atau bahasa pengambilan keputusan. Semakin baik penguasaan bahasa ini maka semakin baik pula pengambilan keputusan dalam aspek keuangan yang bisa dicapai. Semakin rumitnya variabel-variabel yang harus dihadapi oleh pihak manajemen membuat mereka semakin tergantung kepada informasi akuntansi dalam hal pengambilan keputusan. Oleh karena itu, keakuratan dan validitas dari informasi akuntansi merupakan syarat mutlak dalam proses pengumpulan dan pengolahan datadata akuntansi. Dalam akuntansi , transaksi transaksi keuangan yang terjadi diolah sedemikian rupa sehingga menjadi laporan yang siap digunakan untuk pengambilan keputusan manajemen. Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas dari perusahaan tersebut. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap posisi keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan yaitu para pemilik perusahaan, manajemen perusahaan, para kreditur, para investor, instansi pemerintah di

11

mana perusahaan tersebut berdomisili, dan pihak- pihak lainnya seperti organisasi buruh dan kelompok masyarakat tertentu termasuk masyarakat akademis. Laporan keuangan adalah merupakan : Pertanggungjawaban tugas-tugas manajemen Laporan kepada pemilik perusahaan Laporan kepada pihak luar seperti kreditur, investor, dan petugas pemerintah (petugas pajak) 2 Bagi manajemen perusahaan, laporan keuangan tersebut merupakan alat untuk mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada para pemilik perusahaan atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Pertanggungjawaban pimpinan perusahaan itu dituangkan dalam bentuk laporan keuangan dengan penyajian secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha dalam suatu periode tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang dilaksanakan secara konsisten. Di samping itu laporan keuangan dapat digunakan oleh pihak manajemen perusahaan untuk: Mengukur tingkat biaya dari berbagai kegiatan perusahaan Menentukan / mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas dari tiap-tiap bagian, proses atau produksi serta untuk menentukan margin keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan tersebut dalam periode tertentu. Menilai dan mengukur tingkat produktivitas dan kinerja dari tiap individu yang telah didelegasikan wewenang dan tanggung jawab. A.O. Simangunsong, Akuntansi Keuangan Intermediate, Tingkat Dasar Dua, PT. Dharma Karsa Utama, Cetakan Pertama, Yogyakarta, 1995, hal. 74.
2

12

Menentukan perlu tidaknya digunakan kebijaksanaan atau prosedur yang baru untuk mencapai hasil yang lebih baik. Mengukur tingkat penyimpangan yang terjadi dan mengambil keputusan untuk mengantisipasi hal tersebut agar tidak terjadi di periode yang akan datang. Definisi lain menyatakan bahwa laporan keuangan adalah suatu laporan yang dibuat oleh pimpinan perusahaan pada waktu tertentu yang menggambarkan posisi keuangan pada satu tanggal tertentu dan laba rugi operasi dalam satu periode tertentu3 Dari pengertian di atas menunjukkan bahwa laporan keuangan disusun oleh pimpinan perusahaan yang menggambarkan posisi keuangan (financial position) dari perusahaan yang dipimpinnya. Laporan keuangan biasanya disusun dan disajikan sekurang-kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai. Beberapa di antara pemakai ini memerlukan dan berhak untuk memperoleh informasi tambahan di samping yang tercakup dalam laporan keuangan. Namun demikian, banyak pemakai sangat tergantung pada laporan keuangan sebagai sumber informasi utama dan karena itu laporan keuangan tersebut seharusnya disusun dan disajikan dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka. Pemilik perusahaan sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaannya untuk menilai sukses tidaknya manajemen dalam memimpin perusahaannya yang biasanya dinilai berdasarkan laba yang diperoleh perusahaan. Dari penilaian kinerja tersebut dapat diambil keputusan berkaitan dengan manajemen apakah mereka tetap Selamat Sinuraya, Dasar-Dasar Akuntansi, Pieter, Medan, 1987, hal. 4.

13

dipertahankan atau diganti. Dalam hal ini, analisis mereka terhadap laporan keuangan perusahaan sangat berguna dalam kegiatan pengambilan keputusan. Pimpinan perusahaan atau manajer dengan mengetahui posisi keuangan perusahaannya akan dapat menyusun rencana / anggaran yang lebih baik, memperbaiki sistem pengawasannya, dan menentukan kebijakan-kebijakan manajemen yang lebih akurat. Analisa yang dilakukan oleh manajemen perusahaan disebut juga analisa intern.Analisa ini berkaitan dengan pendapat ahli lain yang menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan data yang dapat dipakai untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan baik dipandang dari sudut rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio rentabilitas, rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio pertumbuhan maupun hasil-hasil atau kerugian yang dialami oleh suatu perusahaan4 Para investor (penanam modal jangka panjang) sangat memerlukan laporan keuangan perusahaan di mana mereka menanamkan modalnya dalam rangka penentuan kebijaksanaan investasinya, apakah perusahaan tersebut mempunyai prospek yang cukup baik dan apakah akan diperoleh keuntungan (rate of return) yang cukup baik. Para kreditur sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan, perlu mengetahui terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Keadaan keuangan perusahaan debitur akan dapat diketahui melalui penganalisisan laporan keuangan perusahaan tersebut

Suad Husnan, Manajemen Keuangan : Alat-alat Pengendalian dan Analisa Keuangan, Liberty, Yogyakarta, 1982, hal 28-29.
4

14

sehingga dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang dan bebanbeban bunganya. Selain itu instansi-instansi pemerintah khususnya bagian perpajakan juga berkepentingan terhadap laporan keuangan untuk menentukan berapa besar kewajiban (pajak) yang harus dibayar oleh perusahaan.

B. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN Tujuan pelaporan keuangan antara lain: 1. Informasi untuk pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. 2. Penaksiran prospek arus kas di masa yang akan datang. 3. Informasi mengenai sumber daya perusahaan dan tuntutan-tuntutan terhadap sumber daya untuk menghadapi persaingan dalam pasar dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 4. Informasi mengenai prestasi dan keuntungan perusahaan 5. Informasi mengenai bagaimana dana diperoleh dan dipergunakan (alokasi dana).
6.

Tujuan-tujuan tambahan seperti informasi yang memuat penjelasan dan

interpretasi-interpretasi untuk membantu para pemakai memahami informasi keuangan yang disajikan5

Dengan kata lain, tujuan laporan keuangan secara umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja serta arus kas perusahaan yang bermanfaat Jay M. Smith dan K. Fred Skousen, Akuntansi Intermediate, Volume Komprehensif, Jilid I, Edisi Kedelapan, Terjemahan Nugroho Widjajanto, Erlangga, Jakarta, 1991, hal. 91-93.
55

15

bagi sejumlah besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusankeputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliputi: a. Aktiva b. Kewajiban c. Ekuitas d. Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian,dan e. Arus kas Informasi tersebut di atas beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas pada masa depan khususnya dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas. C. UNSUR-UNSUR LAPORAN KEUANGAN Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini: 1. Neraca 2. Laporan laba-rugi 3. Laporan perubahan ekuitas 4. Laporan arus kas dan 5. Catatan atas laporan keuangan6

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juni 1999, Salemba Empat, Jakarta, 1999, PSAK No. 1, paragraf 7.
6

16

Dari ke lima komponen laporan keuangan di atas, dua hal yang menjadi sasaran utama dari setiap bisnis, yakni solvensi (kemampuan untuk membayar hutang yang segera jatuh tempo) dan profitabilitas (kemampuan untuk menghasilkan laba) dapat tergambar pada laporan keuangan yang disajikan dan disusun manajemen perusahaan. Laporan keuangan yang berhubungan dengan solvensi adalah daftar neraca dan yang berhubungan dengan profitabilitas perusahaan adalah daftar laba rugi. Berikut ini merupakan unsur-unsur laporan keuangan yang baku : 1. Neraca Di dalam suatu neraca terdapat pembagian antara aktiva lancar dengan aktiva tidak lancar dan hutang jangka pendek dengan hutang jangka panjang. Neraca perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur posisi keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Neraca, minimal mencakup pos-pos berikut: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Aktiva berwujud Aktiva tidak berwujud Aktiva keuangan Investasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas Persediaan Piutang usaha dan piutang lainnya Kas dan setara kas Hutang usaha dan utang lainnya Kewajiban yang diestimasi Kewajiban berbunga jangka panjang

17

k. l.

Hak minoritas, dan Modal saham dan pos ekuitas lainnya7

Ibid., paragraf 9

18

15

Pos, judul, dan sub-jumlah lain disajikan dalam neraca apabila diwajibkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau apabila penyajian tersebut diperlukan untuk menyajikan posisi keuangan perusahaan secara wajar. Pertimbangan mengenai pos-pos tambahan disajikan secara terpisah didasarkan atas penilaian dari: a. b. c. Sifat, likuiditas dan materialitas aktiva Fungsi pos-pos tersebut dalam perusahaan Jumlah, sifat dan jangka waktu kewajiban

Bentuk atau susunan dari neraca tidak ada keseragaman di antara perusahaan-perusahaan tergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai, tetapi bentuk neraca yang umum digunakan adalah sebagai berikut: Bentuk laporan (Report Form) Bentuk perkiraan (Account Form) Bentuk posisi keuangan (Financial Position Form)8 Dalam bentuk vertikal (report form) ini semua aktiva nampak di bagian atas yang selanjutnya diikuti dengan hutang jangka pendek, hutang jangka panjang serta modal. Bentuk neraca vertikal adalah neraca yang susunan perkiraannya berurutan ke bawah, yang dimulai dengan perkiraan aktiva lancar dan diakhiri dengan perkiraan modal. Contoh dari neraca yang berbentuk laporan ini dapat dilihat seperti yang ditampilkan dalam Tabel 2.1 S. Hadibroto, dan Sudradjat Sukadam, Akuntansi Intermediate, PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta, 1982, hal. 41.
8

16

Bentuk skontro (account form), di mana semua aktiva tercantum di sebelah kiri atau bagian debet dan hutang seta modal tercantum di sebelah kanan atau bagian kredit di mana disesuaikan dengan kedudukan atau posisi keuangan perusahaan. Bentuk ini bertujuan agar kedudukan atau posisi keuangan yang dikehendaki nampak dengan jelas, misalnya besarnya modal kerja netto (net working capital) atau jumlah modal kerja perusahaan. Contoh dari neraca yang berbentuk skontro ini

dapat dilihat dalam Tabel 2.2.

2. Laporan Laba Rugi Daftar laba rugi adalah suatu daftar yang mengikhtisarkan aktivitas-aktivitas usaha untuk suatu periode tertentu dan melaporkan laba atau rugi bersih hasil operasi dan dari aktivitas tertentu lainnya.9 Laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos berikut : a. b. c. d. e. f.
9

Pendapatan Laba rugi usaha Beban pinjaman Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang Beban pajak Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan

diperlakukan menggunakan metode ekuitas

10

Smith, Jay M. dan K. Fred Skousen, Op. Cit., hal. 115 Ikatan Akuntan Indonesia, Op. Cit., paragraf 56

17

g. h. i.

Pos luar biasa Hak minoritas, dan Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan10

Sama halnya dengan daftar neraca, daftar laba-rugi dapat disusun dalam bentuk skontro ataupun stafel. Cara penyusunan ini tergantung pada tujuan penggunaannya. Bentuk stafel digunakan untuk memudahkan dalam penganalisisan laporan keuangan, karena laporan dalam bentuk ini menggambarkan pengklasifikasian dalam penetapan pengukuran laba: i. Laba kotor atas penjualan ii. Laba usaha operasi perusahaan iii. Laba sebelum potongan pajak penghasilan iv. Laba bersih sesudah potongan pajak penghasilan Pada bentuk langkah tunggal (single step) tidak ada pengukuran laba yang berbeda-beda seperti pada neraca bentuk langkah jamak. Seluruh pendapatan dimasukkan dalam satu kelompok dan seluruh biaya dalam satu kelompok juga. Selisih antara jumlah kelompok pendapatan dengan jumlah kelompok biaya merupakan laba atau rugi perusahaan. Jadi hanya ada satu pengukuran pendapatan laba. Contoh perhitungan laba rugi bentuk langkah tunggal dapat dilihat dalam tabel 2.3 Bentuk urutan ke bawah (stafel) dapat dibagi dua, yakni langkah jamak (multiple step) dan langkah tunggal (single step). Pada bentuk langkah jamak, pos hasil dan biaya dikelompokkan untuk memperoleh pengukuran pendapatan laba yang
10

18

berbeda-beda seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Contoh perhitungan laba rugi dengan bentuk langkah jamak dapat dilihat dalam tabel 2.4

3. Laporan Perubahan Ekuitas Secara garis besar perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan keuangan yang menunjukkan: a. b. c. d. Modal awal perusahaan Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan Pengambilan prive oleh pemilik modal Pertambahan atau pengurangan modal / ekuitas yang menyebabkan

terjadinya perubahan ekuitas perusahaan e. Modal akhir perusahaan

Perubahan ekuitas perusahaan menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan. Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan pembayaran dividen, menggambarkan jumlah keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan selama periode yang bersangkutan. Laporan perubahan ekuitas yang lengkap menurut PSAK No. 1 dalam Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juni 1999 dapat dilihat dalam tabel 2.5

19

4. Laporan Arus Kas Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro. Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid berjangka pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan. Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi atau tujuan lain. Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Perusahaan harus melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode berikut ini: a) Metode langsung : dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto diungkapkan; atau b) Metode tidak langsung: dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengkoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi dimasa lalu dan masa depan, dan unsur penghasila atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.

20

Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau setara kas harus dikeluarkan dari laporan arus kas. Contoh laporan arus kas dengan menggunakan metode langsung dapat dilihat dalam tabel 2.6 sedangkan laporan arus kas dengan menggunakan metode tidak

langsung dapat dilihat dari tabel 2.7

5. Catatan Atas Laporan Keuangan Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis, mulai dari neraca, laporan laba rugi, sampai dengan laporan arus kas. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas. Catatan atas laporan keuangan juga mencakup informasi yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam PSAK serta pengungkapan-pengungkapan lain yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

21

Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain, maka catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: a. Pengungkapan mengenai dasar pengukuran dan kebijakan akuntansi yang

diterapkan b. Informasi pendukung pos-pos laporan keuangan sesuai urutan

sebagaimana pos-pos tersebut disajikan dalam laporan keuangan dan urutan penyajian komponen laporan keuangan c. Pengungkapan lain termasuk kontingensi, komitmen dan pengungkapan

keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non keuangan Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonominya. Kelompok besar ini merupakan unsur laporan keuangan. Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban dan ekuitas. Sedang unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja dalam laporan rugi laba adalah penghasilan dan beban. Laporan perubahan posisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur neraca. Aktiva (assets) adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.

22

Perusahaan biasanya menggunakan aktiva untuk memproduksi barang atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan dan keperluan pelanggan. Banyak jenis aktiva dalam perusahaan yaitu: aktiva tetap yang memiliki bentuk fisik maupun non fisik seperti hak paten dan hak cipta, piutang dan property termasuk hak milik esensial dan hak milik yang tidak esensial misalnya property yang diperoleh melalui sewa guna usaha, serta aktiva perusahaan yang berasal dari transaksi atau persitiwa lain yang terjadi di masa lalu baik yang diperoleh melalui pembelian atau produksi sendiri dan peristiwa lain yang juga dapat menghasilkan aktiva misalnya property yang diterima perusahaan dari pemerintah sebagai bagian dari program untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dalam suatu wilayah. Kewajiban (liabilities) merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. Dari definisi di atas, kewajiban merupakan suatu tugas atau tanggung jawab untuk bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu dan dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak mengikat atau peraturan perundangan. Penyelesaian kewajiban yang ada sekarang dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan: a. b. c. d. Pembayaran kas Penyerahan aktiva lain Pemberian jasa Penggantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain, atau

23

e. f.

Konversi kewajiban menjadi ekuitas Cara lain, seperti kreditor menghapus kewajiban tersebut dengan

membebaskan atau membatalkan haknya. Ekuitas (equity) adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Meskipun sebagai residual, ekuitas dapat disubklasifikasikan dalam neraca. Misalnya, dalam perseroan terbatas, setoran modal oleh para pemegang saham, saldo laba (retained earnings), penyisihan saldo laba dan penyisihan penyesuaian pemeliharaan modal masing-masing disajikan secara terpisah. Klasifikasi tersebut dapat menjadi relevan untuk kebutuhan pengambilan keputusan pemakai laporan keuangan. Jumlah ekuitas yang ditampilkan dalam neraca tergantung pada pengukuran aktiva dan kewajiban. Penghasilan bersih (laba) atau profit seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi ukuran yang lain seperti imbalan investasi (return on investment) atau penghasilan per saham (earnings per share). Unsur yang langsung berkaitan dengan pengukuran penghasilan bersih (laba) adalah penghasilan dan beban. Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal. Dari definisi tersebut penghasilan (income) meliputi baik pendapatan (revenues) maupun keuntungan (gains). Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan

24

yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, royalty, dan sewa. Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal. Dari definisi tersebut, beban mencakup baik kerugian seperti bencana alam, berkurangnya manfaat ekonomi; maupun beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa meliputi beban pokok penjualan, gaji dan penyusutan. Beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas (dan setara kas), persediaan dan aktiva tetap.

D. TEKNIK ANALISIS LAPORAN KEUANGAN I. Analisis Perbandingan Analisis perbandingan adalah teknik analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara menyajikan laporan keuangan secara horizontal dan membandingkan antara satu dengan yang lain dengan menunjukkan informasi keuangan atau data lainnya dalam nilai mata uang atau dalam unit, dapat juga dalam persentase atau perbandingan (dalam bentuk angka perbandingan atau rasio). Perbandingan antara pos laporan keuangan dapat dilakukan melalui : - Perbandingan dalam dua atau beberapa tahun.

25

- Perbandingan dengan perusahaan yang dianggap terbaik. - Perbandingan dengan angka-angka standar industri yang berlaku. - Perbandingan dengan budget / anggaran. - Perbandingan dengan bagian, divisi atau seksi yang ada dalam suatu perusahaan. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan analisis perbandingan yaitu : a. Standar penyusunan laporan keuangan harus sama. b. Ukuran / size perusahaan yang akan dibandingkan harus diperhatikan jenis dan bentuknya. c. Periodisasi laporan keuangan yang dibandingkan harus sama khususnya untuk laporan laba rugi. Analisis perbandingan dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu : Analisis Trend Analisis Indeks Berseri (Time Series Index) Analisis Common Size

1. Analisis Trend Analisis Trend dilakukan untuk mengetahui kecenderungan perkembangan perusahaan melalui rentang perjalanan waktu yang sudah lalu dan memproyeksikan situasi tersebut ke masa depan. Berdasarkan data historis itu dicoba untuk melihat kecenderungan yang mungkin akan muncul di masa yang akan datang. Teknik ini biasanya menggunakan tiga periode laporan keuangan.

26

Analisis Trend dapat dilakukan melalui : 1. Metode statistik dengan cara menghitung garis trend dari laporan keuangan beberapa periode. 2. Menggunakan angka indeks. Analisis Trend merupakan bagian dari analisis horizontal yang membandingkan perubahan dari beberapa periode akuntansi.

2. Analisis Indeks Berseri (Time Series Index) Analisis Indeks Berseri (Time Series Index) menyajikan laporan keuangan beberapa tahun kemudian angka-angka laporan dikonversikan ke angka indeks dengan cara : 1.Menentukan tahun dasar Kriteria tahun dasar berdasarkan momen yang penting dalam perusahaan (tahun berdiri, tahun perubahan, tahun terbaik, dan tahun bersejarah lainnya). 2.Menghitung angka indeks tahun-tahun lainnya dengan ketentuan tahun dasar nilai indeksnya 100. 3.Memprediksikan kecenderungan yang mungkin terjadi berdasarkan perkiraan laporan keuangan yang dianalisis. 4. Mengambil keputusan mengenai hal-hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi masalah-msalah yang mungkin terjadi.

27

Analisis Indeks Berseri merupakan bagian dari analisis horizontal yang membandingkan perubahan dari beberapa periode akuntansi.

3. Analisis Common Size Analisis Common Size sering disebut dengan laporan bentuk awam. Teknik ini menggunakan pola penyederhanaan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan. Proses ini memerlukan angka dasar yang ditetapkan sebagai dasar perhitungan angka konversi. Umumnya, jika laporan keuangan berbentuk neraca maka angka dasar yang biasa dipakai adalah total aktiva di sebelah aktiva dan total hutang, ekuitas di sebelah pasiva. Jika laporan keuangan berbentuk laporan laba rugi maka angka dasar adalah penjualan dan jika laporan keuangan berbentuk laporan arus kas maka angka dasar adalah arus kas dari kegiatan operasi. Analisis Common Size ini dilakukan untuk melihat struktur keuangan dari daftar neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas. Analisis ini sering disebut sebagai analisis vertikal yang membandingkan perkiraan laporan keuangan dalam satu periode saja.

II. Analisis Rasio Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti), misalnya antara hutang dan modal, antara kas dan total aktiva, antara

28

harga pokok produksi dengan total penjualan,dan lain-lain. Rasio keuangan sangat penting dalam melakuka analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan. Rasio keuangan hanya menyederhanakan informasi yang menggambarkan pos tertentu dengan pos lainnya sehingga dapat dinilai secara cepat hubungan antara pos tadi dan dapat dibandingkan dengan rasio lain. Perbedaan jenis perusahaan dapat menimbulkan perbedaan rasio-rasio yang penting, misalnya rasio ideal mengenai likuiditas untuk perusahaan bank tidak sama dengan rasio pada perusahaan industri, perdagangan, atau jasa. Analisis rasio memiliki keunggulan dan kelemahan dibandingkan dengan teknik analisis lainnya. Keunggulan analisis rasio yaitu : 3. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. 4. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat inci dan rumit. 5. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain. 6. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi (Z-score). 7. Menstandarisir size perusahaan. 8. Lebih mudah membandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau time series.

29

9. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang. Adapun keterbatasan dari analisis rasio yaitu : 1. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya. 2. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjadi keterbatasan teknik ini seperti : a. Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung taksiran dan judgment yang dapat dinilai bias atau subyektif. b. Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar. c. Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio. d. Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda 3. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan kesulitan menghitung rasio. 4. Sulit jika data yang tersedia tidak sinkron. 5. Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karena itu jika dilakukan perbandingan bisa menimbulkan kesalahan.

30

Adapun rasio keuangan yang sering digunakan yaitu : Rasio Likuiditas Rasio Solvabilitas Rasio Rentabilitas / Profitabilitas Rasio Leverage Rasio Aktivitas

1. Rasio Likuiditas Rasio Likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar. Beberapa rasio likuiditas antara lain : 1.1 Rasio Lancar (Current Ratio) Rasio ini menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajibankewajiban lancar. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

31

Rasio Lancar = Aktiva Lancar Hutang Lancar

Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini dapat dibuat dalam bentuk berapa kali atau dalam bentuk persentase. Apabila rasio lancar ini 1:1 atau 100% ini berarti bahwa aktiva lancar dapat menutupi semua hutang lancar. Rasio lancar yang lebih aman adalah jika berada di atas 1 atau di atas 100%. Artinya aktiva lancar harus jauh di atas jumlah hutang lancar. 1.2 Rasio Cepat (Quick Ratio) Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Rasio Cepat = Aktiva Lancar Persediaan Hutang Lancar

Berfungsi sebagai pelengkap terhadap rasio lancar dalam menganalisa likuiditas. Rasio ini mirip dengan rasio lancar tetapi dalam komputasinya hanya menyertakan aktiva yang paling likuid seperti kas, surat berharga dan piutang dagang. Dengan demikian rasio cepat ini tidak memasukkan persediaan dan beban dibayar di muka dalam perhitungannya. Persediaan tidak dimasukkan karena persediaan biasanya dijual secara kredit (dikonversikan menjadi piutang dagang) dan kemudian piutang

32

dagang ini haruslah ditagih terlebih dahulu sebelum menjadi kas. Sedangkan beban dibayar di muka tidak disertakan karena pos ini jumlahnya relatif kecil dan habis dipakai dalm kegiatan-kegiatan usaha daripada dikonversikan menjadi kas. Semakin besar rasio ini semakin baik karena menunjukkan bahwa dalam keadaan darurat, perusahaan akan dapat memenuhi kewajiban lancarnya. Rasio ini disebut juga Acid Test Ratio. Angka rasio ini tidak harus 1:1 atau 100%. 1.3 Rasio Kas atas Aktiva Lancar Rasio ini menunjukkan porsi jumlah kas dibandingkan dengan total aktiva lancar. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Rasio Kas atas Aktiva Lancar = Kas Aktiva Lancar

Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kas sebagai aktiva paling likuid yang dapat digunakan sehingga bila ada keadaan perusahaan yang membutuhkan dana segar, perusahaan tidak perlu meminjam dari bank atau pihak ketiga. Cadangan kas yang banyak akan membantu dalam memperlancar aktivitas perusahaan karena tidak memiliki unsur ketergantungan seperti dana pinjaman lain.

1.4 Rasio Kas atas Hutang Lancar Rasio ini menunjukkan porsi kas yang dapat menutupi hutang lancar. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Rasio Kas atas Hutang Lancar = Kas Hutang Lancar

33

Semakin tinggi rasio ini semakin baik yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk menutupi Rp 1 hutang lancar dengan Rp 1 kas. Ini berarti bahwa jika terjadi keadaan darurat perusahaan bisa memenuhi kewajiban lancarnya dan masih bisa beroperasi secara maksimal. 1.5 Rasio Aktiva Lancar atas Total Aktiva Rasio ini menunjukkan porsi aktiva lancar atas total aktiva. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Rasio Aktiva Lancar atas Total Aktiva = Aktiva Lancar Total Aktiva Semakin tinggi rasio ini berarti bahwa perusahaan memiliki dana segar yang dapat digunakan setiap saat yang tidak memerlukan waktu untuk dikonversikan ke bentuk lain yang lebih likuid. Di samping itu dengan porsi aktiva lancar yang lebih besar perusahaan tidak perlu untuk mencari pinjaman dari luar.

2 .Rasio Solvabilitas Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya apabila ada perusahaan dilikuidasi. Rasio ini dapat dihitung dari pos-pos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan hutang jangka panjang . Beberapa rasio solvabilitas yaitu : 2.1 Rasio Hutang atas Modal Rasio ini menggambarkan sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-

Rasio Hutang atas Modal = Total Hutang Modal (Equity)

34

hutang kepada pihak luar. Rasio ini disebut juga rasio leverage. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Semakin kecil rasio ini semakin baik. Untuk keamanan pihak luar, rasio terbaik jika jumlah modal lebih besar dari jumlah hutang atau minimal sama. Namun bagi pemegang saham atau manajemen rasio ini sebaiknya besar. 2.2 Rasio Hutang atas Aktiva Rasio ini menggambarkan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva lebih besar rasionya lebih aman ( solvable ). Bisa juga dibaca berapa porsi hutang dibanding dengan aktiva. Agar aman, porsi hutang terhadap aktiva harus lebih kecil. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Rasio Hutang atas Aktiva = Total Hutang a Total Aktiva Semakin besar persentase pendanaan berasal dari ekuitas pemegang saham maka semakin besar bantalan perlindungan bagi pemberi pinjaman. Semakin besar rasio ini maka semakin besar resiko keuangan yang harus ditanggung oleh perusahaan.

3. Rasio Rentabilitas / Profitabilitas Rasio rentabilitas atau disebut juga profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan

35

sebagainya. Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut Operating Ratio. 3.1 Margin Laba (Profit Margin) Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh setiap penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus : Margin Laba = Laba Bersih Setelah Pajak Penjualan Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi. Rasio ini menggambarkan bagian dari setiap rupiah penjualan yang menunjukkan laba bersih. 3.2 Asset Turn Over (Return on Asset) Rasio ini menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volumepenjualan.Rasio ini dapat dihitung dengan rumus : Asset Turn Over = Laba Bersih Setelah Pajak Total Aktiva Semakin besar rasio ini semakin baik. Hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk dikonversikan menjadi kas. Rasio ini merupakan suatu ukuran seberapa efektif manajemen telah memenuhi tanggung jawab atas penggunaan aset-aset perusahaan dalam memberikan laba bagi para pemiliknya. Ukuran rasio ini tepat bila manajemen mempertimbangkan investasi pada perusahaan dengan mencakup kewajiban lancar, kewajiban jangka panjang dan ekuitas pemilik, yang merupakan keseluruhan sumber dana yang diinvestasikan dalam

36

aktiva-aktiva. 3.3 Basic Earning Power Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba diukur dari jumlah laba sebelum dikurangi bunga dan pajak dibandingkan dengan total aktiva. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus : Basic Earning Power = Laba sebelum Bunga dan Pajak Total Aktiva Semakin besar rasio ini semakin baik karena menunjukkan perusahaan memiliki bagian laba yang besar dari seluruh aset perusahaan. 3.4 Contribution Margin Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan melahirkan laba yang akan menutupi biaya-biaya tetap atau biaya operasi lainnya. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus : Contribution Margin = Laba Kotor Penjualan

Dengan pengetahuan atas rasio ini, kita dapat mengontrol pengeluaran untuk biaya tetap atau biaya operasi sehingga perusahaan dapat menikmati laba.

4. Rasio Leverage Rasio ini menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap modal maupun asset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal ( equity ).

37

Perusahaan yang baik mestinya memiliki komposisi modal yang lebih besar dari hutang. Rasio ini bisa juga dianggap bagian dari rasio solvabilitas. Leverage. Rasio menggambarkan kemampuan hutang dalam meningkatkan modal perusahaan. Semakin kecil rasio ini semakin baik. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Leverage = Hutang x 100% Modal

5. Rasio Aktivitas Rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Ada beberapa jenis rasio aktivitas antara lain : 5.1 Inventory Turn Over Rasio ini menunjukkan berapa cepat perputaran persediaan dalam siklus produksi normal. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Inventory Turn Over = a Harga Pokok Penjualan a

Rata-rata Persediaan Barang

Rata rata persediaan barang dapat dihitung dengan rumus : Rata rata Persediaan Barang =PersediaanAwal + Persediaan Akhir 2

Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap bahwa kegiatan penjualan berjalan cepat. Besarnya investasi dalam persediaan dan putaran persediaan tergantung

38

pada faktor-faktor seperti jenis bisnis dan waktu. Rasio ini merupakan suatu pernyataan dari lamanya waktu penjualan dari saldo persediaan rata-rata dan kemudian digantikan selama tahun tersebut. Selain itu juga merupakan suatu ukuran kecukupan persediaan dan seberapa efisien persediaan itu dikelola. 5.2 Fixed Asset Turn Over Rasio ini menunjukkan berapa kali nilai aktiva berputar bila diukur dari volume penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Fixed Asset Turn Over = a Penjualan Aktiva Tetap Bersih a

Semakin tinggi rasio ini semakin baik. Artinya, kemampuan aktiva tetap menciptakan penjualan tinggi. 5.3 Total Asset Turn Over Rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Total Asset Turn Over = a Penjualan a Total Asset Semakin tinggi rasio ini semakin baik dan menunjukkan bahwa semua aset perusahaan telah dimanfaatkan semaksimal mungkin dan seefisien mungkin. Dengan kata lain tidak ada aset perusahaan yang mengganggur yang tentunya akan sangat membantu dalam menekan biaya perusahaan karena ada umpan balik dari semua biaya yang terjadi dalam perusahaan.

5.4 Periode Penagihan Piutang

39

Rasio ini menunjukkan berapa lama perusahaan melakukan penagihan piutang. Rasio ini sejalan dengan informasi yang digambarkan Receivable Turn Over.Rasio ini dapat dihitung dengan rumus : Periode Penagihan Piutang = Piutang ( rata-rata ) Penjualan per hari

Semakin pendek periodenya semakin baik karena turn over dari piutang tinggi sehingga cepat berubah menjadi kas. Walaupun begitu rasio yang didapat harus disesuaikan dengan kebijakan kredit perusahaan karena bisa saja periode yang terlalu pendek disebabkan oleh kebijakan kredit ketat perusahaan. Hal ini berdampak baik karena kas dapat cepat diperoleh tetapi juga bisa menimbulkan penurunan tingkat penjualan dan membatasi perkembangan perusahaan.

E. PERENCANAAN LABA Setiap perusahaan memiliki perencanaan dalam segala aspek aktivitas perusahaan dan berdasarkan perencanaan tersebut perusahaan menetapkan sasaran sasaran utama yang ingin dicapai secara spesifik dan merumuskan kebijakan berupa program program baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk merealisasikan sasaran sasaran tersebut. Begitu juga halnya dengan laba, perencanaan yang berkaitan dengan laba harus dilakukan dengan dasar pertimbangan dan analisis yang kuat agar sasaran yang hendak dicapai realistis dan memiliki unsur tantangan, tidak terlalu rendah dan juga tidak terlalu

40

tinggi sehingga setiap unsur organisasi yang terlibat dalam pencapaian target laba memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan mereka. Pada dasarnya, perencanaan laba memiliki beberapa variabel di antaranya : 2. Besarnya laba yang diinginkan. 3. Volume produksi yang terjual. 4. Harga jual produksi yang dihasilkan. 5. Biaya produksi, harga pokok produksi yang terpakai. Perencanaan laba juga mengandung unsur estimasi yang realistis tentang tingkat laba yang diharapkan akan dicapai perusahaan dalam periode yang akan datang melalui perencanaan yang matang serta analisis internal dan eksternal perusahaan yang terantisipasi dengan baik. Perencanaan laba adalah gambaran keuangan dan naratif mengenai hasil yang diharapkan dari keputusan perencanaan. Hal ini disebut rencana laba (anggaran) karena secara eksplisit menyatakan sasaran dalam ukuran waktu dan hasil keuangan yang diharapkan (pengembalian investasi, laba dan biaya) untuk setiap bagian dari perusahaan. Dua rencana laba yang sejalan biasanya dikembangkan yaitu rencana laba strategis (jangka panjang) dan rencana taktis (jangka pendek). Rencana laba strategis biasanya luas dan umum, laba mencakup periode dua atau tiga tahun ke depan (jangka panjang) dan tanggung jawabnya secara luas. Rencana laba taktis biasanya rinci dan mencakup waktu selama satu tahun, ke tahun yang akan datang dan tanggung jawabnya ada pada setiap tingkatan.

41

Berikut merupakan karakteristik dari perencanaan laba : 1. Rencana laba didasarkan pada taksiran. Kelebihan dan kelemahan program perencanaan tergantung pada seberapa realistik dasar yang digunakan dalam membuat taksiran. Taksiran harus dibuat berdasarkan data yang ada dan pertimbangan yang wajar, baik. Menaksir pendapatan dan biaya bukanlah ilmu eksak. Akan tetapi dengan teknik statistik, matematika dan teknik lain maka akan dihasilkan taksiran yang baik apabila digabungkan dengan pertimbangan yang matang dan wajar. Bila diyakini bahwa taksiran dapat dibuat senyata mungkin, maka usaha yang serius akan memberikan hasil yang memuaskan. Karena perencanaan laba didasarkan sepenuhnya pada hasil taksiran dan pertimbangan, maka dalam menggunakan dan mengartikan hasil, diperlukan fleksibilitas. 2. Program perencanaan harus terus menerus disesuaikan dengan perubahan keadaan.

Program anggaran yang menyeluruh tidak dapat dimulai dan dibuat sempurna dalam waktu yang singkat. Teknik perencanaan laba harus terus menerus disesuaikan, tidak hanya bagi perusahaan tertentu , tapi juga bagi bagian- bagian atau departemen di dalam perusahaan tersebut. Bermacam-macam teknik harus dicoba, diperbaiki atau dibuang dan diganti dengan teknik lainnya. Dengan kata lain, perencanaan dan pengendalian laba harus dinamis. Biasanya akan memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk mendapatkan program yang realistik, dan manajemen tidak boleh berharap terlalu banyak pada periode ini. Pelatihan anggaran yang terus menerus diperlukan, terutama pada saat pembentukan program ini. 3. Pelaksanaan perencanaan laba tidak akan terjadi secara otomatis.

42

Perencanaan laba akan efektif hanya bila semua pihak yang bertanggung jawab melaksanakan usaha yang terus menerus dan agresif untuk mencapai tujuan. Manajer pusat harus menerima tanggung jawab untuk mencapai atau melampaui sasaran departemen yang tercantum di perencanaan laba. Seluruh tingkatan manajemen harus mengerti program, harus menyadari relevansi rencana bagi pelaksanaan fungsinya, dan harus berpartisipasi dalam penerapannya dengan cara yang tepat. 4. Perencanaan laba bukan merupakan pengganti menajemen. Perencanaan laba tidak dapat menggantikan manajemen. Perencanaan laba ini merupakan sistem yang dapat membantu melaksanakan proses manajemen. Manual anggaran sebuah perusahaan terkemuka menyatakan :Perencanaan laba harus dianggap bukan sebagai tuan(master) tetapi sebagai pembantu (servant). Salah satu alat terbaik untuk meningkatkan hubungan antara perusahaan dengan para individu yang ada di perusahaan tersebut, dalam berbagai kegiatan manajerial. Namun tidak berarti bahwa setiap perencanaan laba adalah sempurna. Pertimbangan paling penting yang harus dibuat adalah keyakinan bahwa dengan penggunaan perencanaan laba yang cermat dan baik, maka seluruh laba dapat diperoleh. Ada beberapa elemen umum yang terkait dengan perencanaan laba, salah satunya adalah penyusunan induk anggaran (master budget). Induk anggaran (master budget) adalah sebuah anggaran komprehensif yang menyatakan keseluruhan rencana bisnis bagi keseluruhan perusahaan untuk suatu periode yang mencakup satu tahun atau kurang.

Induk anggaran :

43

- Mengakui hubungan-hubungan di antara aktivitas-aktivitas yang berinteraksi dari departemen-departemen yang ada di dalam perusahaan. - Merangkum masing-masing anggaran dari departemen-departemen tersebut. - Memadukan masing-masing anggaran tersebut ke dalam gabungan yang harmonis bagi perusahaan secara keseluruhan. Induk anggaran terdiri dari dua komponen utama yaitu anggaran operasi dan anggaran keuangan. Anggaran operasi (operating budget) merupakan deskripsi rinci pendapatan dan biaya yang dibutuhkan untuk mencapai hasil laba yang memuaskan. Anggaran operasi ini menggambarkan aktivitas-aktivitas yang mengalirkan laba bagi perusahaan : penjualan, produksi dan persediaan barang jadi. Hasil akhir dari anggaran operasi adalah laporan laba rugi dianggarkan. Anggaran keuangan (financial budget) memperlihatkan ekspektasi arus kas dan posisi keuangan dengan kegiatan-kegiatan usaha yang terencana. Arus masuk dan arus keluar kas yang direncanakan muncul dalam anggaran kas. Posisi keuangan yang diharapkan pada akhir periode anggaran diungkapkan dalam neraca dianggarkan. Induk anggaran untuk sebuah perusahaan pabrikasi akan mengandung anggaran-anggaran berikut : Anggaran Operasi - Anggaran penjualan - Anggaran produksi - Anggaran bahan baku langsung - Anggaran tenaga kerja langsung - Anggaran overhead pabrikasi

44

- Anggaran persediaan akhir barang jadi - Anggaran beban penjualan dan administrasi Anggaran Keuangan - Anggaran kas - Laporan laba rugi dianggarkan - Neraca dianggarkan Pada perusahaan dagang, anggaran yang dibuat meliputi anggaran penjualan, anggaran pembelian, anggaran kas, laporan laba rugi dianggarkan, neraca dianggarkan. Anggaran Penjualan Anggaran penjualan (sales budget) adalah skedul rinci yang memperlihatkan penjualan yang diharapkan untuk periode-periode yang akan datang. Anggaran penjualan berasal dari estimasi-estimasi permintaan dan kesanggupan untuk memasok produk-produk perusahaan pada harga-harga tertentu. Anggaran Pembelian Anggaran pembelian (purchase budget) adalah skedul rinci tentang rencana pembelian barang dagangan pada periode yang akan datang yang didasarkan pada estimasi permintaan yang direncanakan melalui data-data periode sebelumnya. Anggaran Kas Anggaran kas (cash budget) adalah suatu rencana rinci yang memperlihatkan bagaimana sumber-sumber daya kas akan diperoleh dan digunakan selama periode waktu tertentu. Suatu anggaran kas yang rinci akan memaparkan kapan perusahaan mempunyai kas untuk diinvestasikan dan kapan harus meminjam dana dari kreditur.

45

Hal ini memungkinkan perusahaan memperoleh bunga maksimal atas kelebihan dana dan menghindari biaya-biaya yang tidak perlu dari peminjaman dana. Laporan Laba Rugi Dianggarkan Laporan laba rugi dianggarkan (budgeted income statement) adalah salah satu skedul kunci dalam proses anggaran dan memaparkan estimasi-estimasi pendapatan dan beban dari aktivitas-aktivitas menghasilkan laba untuk periode anggaran tertentu. Tujuan laporan laba rugi dianggarkan ini adalah untuk mengantisipasi laba setelah pajak perusahaan. Neraca Dianggarkan Neraca dianggarkan (budgeted balance sheet) mengestimasi kondisi keuangan pada akhir periode anggaran. Neraca dianggarkan disusun dengan memulainya dari neraca sekarang dan menyesuaikannya dengan data yang tertera pada anggaran-anggaran sebelumnya. Neraca dianggarkan mengasumsikan bahwa semua anggaran operasi dan rencana-rencana keuangan dipenuhi.

46

BAB III HASIL PENELITIAN PADA P.D.UNION

A. SEJARAH SINGKAT PERUSAHAAN P.D.UNION merupakan suatu perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang usaha baut, mur dan kawat las yang berlokasi di Jl.Surakarta No.12/32 Medan. P.D.UNION yang berdiri pada tahun 1974 berperan sebagai supplier dan distributor untuk barang-barang tersebut. Pasar utama perusahaan meliputi toko-toko besi, bengkelbengkel, perusahaan-perusahaan lain dan kontraktor-kontraktor yang membutuhkan baut mur dan kawat las untuk proyek mereka. Pembelian barang-barang dilakukan langsung dengan pabrik-pabrik yang kebanyakan berlokasi di Jakarta. Selain itu ada yang diimpor dari Singapura, RRC, Taiwan dan Jepang. Adapun daerah pemasaran P.D.UNION meliputi pulau Sumatera seperti daerah NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Merek barang yang dipasarkan antara lain Imax, Nissei, GS , Panaports untuk baut mur serta Kobe Steel, Nikko Steel, Metaweld, Indoweld untuk kawat las dan berbagai merek lainnya.

B. STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN DAN PEMBAGIAN TUGAS Struktur organisasi merupakan suatu sistem/cara yang dapat digunakan untuk membantu pengaturan dan pengarahan dalam pelaksanaan kegiatan organisasi sehingga kegiatan tersebut dapat terkoordinasi dengan baik dan konsisten dengan sasaran/tujuan

47

organisasi. Struktur organisasi juga dapat dipandang sebagai kerangka yang menyeluruh yang merangkaikan hubungan-hubungan maupun fungsi-fungsi dari seluruh bagian dan menciptakan hubungan yang tepat antara sesama karyawan berdasarkan fungsi masingmasing bagian. Dengan adanya struktur organisasi, pegawai/karyawan dapat mengetahui dengan jelas ruang lingkup kewenangannya, aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan, kepada siapa harus bertanggungjawab, memberi perintah serta bekerjasama sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam proses pelaksanaannya. Struktur organisasi berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dilatarbelakangi oleh perbedaan bidang usaha, jenis kegiatan, dan luas daerah operasinya. P.D.UNION menganut bentuk struktur organisasi garis dan dalam bentuk ini perusahaan telah memasukkan semua bidang keahlian atau jabatan-jabatan yang diperlukan dalam perusahaan. Hal yang paling menonjol yaitu sudah adanya pembagian tugas antara bagian yang menangani direct selling (penjualan secara langsung) dan penjualan ke pasar utama perusahaan serta penjualan pada agen di luar kota. Hal ini dilakukan karena pengetahuan dan cara kerja masing-masing bentuk penjualan ini berbeda dan memerlukan keahlian tersendiri. Adapun pembagian tugas dan fungsi dari masing-masing bagian adalah sebagai berikut: 1. Manager Menyusun rencana kerja dalam anggaran tahunan perusahaan. Mengkoordinir pelaksanaan kerja para pegawai yang menjadi bawahan.

48

Mengadakan hubungan kerjasama yang baik antara perusahaan dengan instansi-intansi lain. Mengkoordinir berbagai laporan yang diperlukan untuk pertanggungjawaban kepada pemilik perusahaan. Mewakili perusahaan dalam hubungan dengan pihak luar perusahaan (pemerintah, produsen, pelanggan). 2. Sekretaris Bertanggung jawab atas surat menyurat perusahaan. Mengatur jadwal dan tempat rapat. Menyusun dan mengatur pertemuan tamu-tamu manager. Membantu manager dalam menerima telepon. Menerima pesan yang disampaikan kepada manager jika manager tidak berada di tempat. Mengatur hal-hal yang berhubungan dengan perjalanan dinas manager (hotel, tiket pesawat, restoran dan lain-lain) 3. Supervisor Accounting and Finance Bertanggung jawab atas keuangan dan pembukuan perusahaan. Mengatur cara, sistem, dan jumlah pengorderan barang. Menyusun laporan cash flow perusahaan. Membawahi dan mengatur tugas dari bagian sebagai berikut:

49

a. Finance

: mengatur penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan,

membayar gaji karyawan, membayar tagihan kepada supplier, bertugas dalam penyetoran dan penarikan uang di bank. b. Accounting : mencatat transaksi penjualan harian dan penjualan

kredit, menyusun laporan keuangan perusahaan. c. Purchasing : membawahi dan mengatur ketersediaan barang

dagangan, mengorder barang yang diminta oleh bagian pemasaran, mencek harga, syarat pembayaran, kualitas barang, dan melakukan negosiasi dengan supplier. d. Auditing : mencek laporan keuangan beserta bukti-bukti

pendukung, memberikan pendapat atas penyajian laporan keuangan perusahaan dan saran untuk memperbaiki kekurangan yang terdapat dalam laporan keuangan, memeriksa jumlah dan jenis persediaan barang (stock opname), mengawasi pelaksanaan prosedur kerja dalam perusahaan. e. Collector : mengatur penagihan piutang kepada pelanggan,

menyelesaikan masalah piutang yang sulit ditagih. 4. Supervisor Marketing Bertanggung jawab atas penjualan kepada agen pemasaran dalam kota. Mengatur jumlah, jalur pemasaran, pangsa pasar agen dalam kota. Mengawasi perkembangan pangsa pasar dalam kota melalui laporan dari para salesman

50

5.

Supervisor Direct Selling Bertanggung jawab atas penjualan dengan sistem direct selling di toko. Mempromosikan produk baru kepada calon pembeli dan dalam

pelaksanaannya dibantu oleh beberapa orang. 6. Supervisor Luar Kota Mengatur penjualan kepada agen luar kota. Mengawasi perkembangan pangsa pasar luar kota dan dalam pelaksanaannya dibantu oleh beberapa salesman.

7.

Salesman Mencapai target penjualan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Mengunjungi pelanggan dalam rangka pencarian order dan sekaligus membina hubungan baik dengan pelanggan. Melakukan survei pasar mengenai harga, situasi produk saingan. Mencari informasi mengenai pelanggan baru yang potensial. Menyusun laporan mengenai perkembangan pangsa pasar dalam kota kepada supervisor marketing.

8. Ekspedisi Mengirim barang orderan untuk daerah dalam kota. Mengatur jadwal pengiriman barang ke pengangkutan untuk barang orderan dari luar kota.

51

9. Gudang Menerima dan memeriksa barang dari supplier. Membantu dalam pengeluaran barang untuk keperluan toko. Menyusun laporan tentang jumlah dan kondisi fisik persediaan. 10. Maintenance Menjaga kebersihan dan kondisi alat transportasi agar selalu siap bila diperlukan. 11. Office Boy Menjaga kebersihan toko dan kantor. Menyediakan minuman bagi tamu dan membantu dalam hal-hal lain bila diperlukan.

C. TEKNIK ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN Tidak seperti perusahaan besar lainnya yang membuat secara lengkap lima jenis laporan keuangan, P.D.UNION hanya membuat dua jenis laporan keuangan yaitu neraca dan laporan laba rugi. Laporan keuangan lainnya seperti laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan tidak dibuat dikarenakan P.D.UNION merupakan perusahaan yang berskala kecil yaitu sebagai perusahaan dagang dilihat dari bentuk badan hukumnya bila dibandingkan dengan P.T.(Perseroan Terbatas).

52

Laporan neraca P.D.UNION periode 31 Desember 2002 dan 2003 dapat dilihat pada tabel 3.1 dan 3.2; sedangkan laporan laba rugi dapat dilihat pada tabel 3.3 dan 3.4 Teknik analisis laporan keuangan yang diterapkan oleh perusahaan yaitu : 1. Analisis Perbandingan 1.1 Analisis Trend 1.2 Analisis Indeks Berseri (Time Series Index) 1.3 Analisis Common Size 2. Analisis Rasio 2.1 Rasio Likuiditas 2.2 Rasio Solvabilitas 2.3 Rasio Rentabilitas / Profitabilitas 2.4 Rasio Leverage 2.5 Rasio Aktivitas Adapun analisis laporan keuangan perusahaan tahun 2002 dan 2003 dapat dilihat pada tabel 3.5 ; 3.6 untuk analisis trend, tabel 3.7 ; 3.8 untuk analisis indeks berseri dan tabel 3.9 dan 3.10 untuk analisis common size. Sedangkan analisis rasio dapat dilihat pada tabel 3.11.

D. PERENCANAAN LABA

Berikut merupakan perencanaan yang terkait dengan laba untuk tahun 2002 dan 2003 yang disusun oleh manajemen perusahaan pada bulan Agustus 2001 dan 2002 :

53

- Anggaran Penjualan Perusahaan menyusun anggaran penjualan berdasarkan hasil riset pasar yang dilakukan oleh para salesman yang memberikan informasi mengenai rencana pembelian pelanggan pada tahun berikutnya dan rencana proyek yang akan dijalankan pada tahun berikutnya. Dengan demikian perusahaan dapat menyusun strategi untuk memenangkan tender proyek tersebut. Pada kondisi tertentu di mana harga produk tidak stabil, perusahaan bisa mengadakan kontrak dengan pelanggan untuk barang yang hendak disupplai ke pelanggan dengan persyaratan tertentu. Hal ini akan memudahkan kedua belah pihak karena pelanggan tidak perlu khawatir dengan fluktuasi harga sedangkan perusahaan dapat memperoleh gambaran yang pasti tentang jumlah stok barang dan perkiraan margin keuntungan yang bisa didapat pada kondisi tersebut. Di samping itu perusahaan juga melakukan analisis terhadap keinginan pelanggan, produk pesaing, dan kegiatan promosi perusahaan dan pesaing. Anggaran penjualan perusahaan dibagi menjadi empat kuartal dengan pertimbangan sebagai berikut : Kuartal I : Pada awal tahun biasanya terjadi perubahan harga oleh pabrik yang

disesuaikan dengan perubahan harga bahan baku dan kurs mata uang asing mengingat sebagian besar bahan baku berasal dari luar negeri. Selain itu kondisi pasar baik nasional mapun internasional juga ikut mempengaruhi fluktuasi harga sehingga pada kuartal ini biasanya perusahaan membuat anggaran dengan tingkat penjualan yang tidak terlalu tinggi.

54

Kuartal II

: Pada kuartal ini anggaran penjualan dibuat jauh lebih tinggi karena

proyek-proyek mulai berjalan dan kondisi harga yang sudah stabil akan menciptakan permintaan yang tinggi khususnya untuk proyek-proyek tertentu yang membutuhkan produk yang khusus. Kuartal III : Perusahaan membuat anggaran penjualan yang tidak jauh berbeda

dengan kuartal II karena masih banyak proyek yang berjalan. Akan tetapi kemungkinan untuk bertambahnya permintaan dan berkurangnya permintaan juga mungkin terjadi karena mendekati hari raya banyak pelanggan yang mengurangi pembeliannya karena dananya dialokasikan untuk hal yang lain. Walaupun begitu banyak juga pelanggan yang membeli barang dalam jumlah yang cukup banyak untuk mempertahankan operasional perusahaan mereka khususnya pelanggan dari luar kota berhubung banyak ekspedisi yang libur panjang sehingga barang yang mereka butuhkan tidak bisa diantar. Kuartal IV : Anggaran dalam perhitungan yang wajar karena meskipun banyak hari raya tetapi cukup banyak pelanggan yang menambah stok barang mengingat pada awal tahun berikutnya harga bisa mengalami kenaikan. Untuk lebih jelasnya anggaran penjualan tahun 2002 dan 2003 dapat dilihat pada tabel 3.12 dan 3.13. - Anggaran Pembelian Perusahaan menyusun anggaran pembelian barang dagangan dengan

pembagian empat kuartal. Anggaran ini disusun berdasarkan data permintaan dari pelanggan dan kondisi harga produk. Biasanya jika pabrik hendak menaikkan harga

55

maka akan diberitahukan terlebih dahulu kepada perusahaan sehingga perusahaan dapat segera mendata barang-barang yang diperlukan. Pertimbangan untuk setiap kuartal yaitu : Kuartal I : Pembelian dianggarkan dalam jumlah yang wajar karena adanya

kenaikan harga produk setiap awal tahun. Permintaan terhadap barang dagangan perusahaan sangat rentan terhadap perubahan harga. Kuartal II : Kondisi harga yang sudah stabil dan permintaan yang tinggi dari

pelanggan akan menaikkan jumlah pembelian barang sehingga pada kuartal ini pembelian barang mencapai puncak tertinggi. Kuartal III : Pada kuartal ini, pembelian barang dalam jumlah yang wajar dan

menunjukkan kecenderungan penurunan akibat penurunan permintaan dari pelanggan. Kuartal IV : Anggaran pembelian pada kuartal ini tinggi karena perusahaan

melakukan stock opname dan menambah stok barang yang sudah berkurang. Bila pabrik memberitahukan adanya kenaikan harga maka kuantitas meningkat. Anggaran pembelian tahun 2002 dan 2003 dapat dilihat pada tabel 3.14 dan 3.15. - Anggaran Beban Penjualan dan Administratif Anggaran ini disusun dengan angka hasil estimasi yang berdasarkan pada data tahun sebelumnya. Data yang digunakan antara lain laporan beban operasional perusahaan khususnya beban penjualan dan administratif .Anggaran untuk tahun 2002 dan 2003 ini dapat dilihat pada tabel 3.16 dan 3.17. pembelian akan

56

- Anggaran Kas Anggaran kas dibagi dalam empat kuartal dengan berdasarkan pada data piutang dagang yang akan ditagih pada periode berikutnya dan pembebanan biayabiaya administrasi dan penjualan, pajak dan biaya-biaya operasional lainnya. Anggaran kas untuk tahun 2002 dan 2003 dapat dilihat pada tabel 3.18 dan 3.19 - Laporan Laba Rugi Dianggarkan Laporan ini disusun dengan mengestimasi pendapatan dan beban yang terjadi dalam perusahaan dengan berdasarkan pada data historis. Laporan laba rugi dianggarkan dapat dilihat pada tabel 3.20 dan 3.21. - Neraca Dianggarkan Neraca ini disusun untuk memperoleh gambaran tentang kondisi keuangan perusahaan dengan berdasarkan pada data-data hasil estimasi. Neraca dianggarkan dapat dilihat pada tabel 3.22 dan 3.23.

57

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI

A. ANALISIS RASIO KEUANGAN

Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang sangat penting bagi manajemen perusahaan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan dan strategi-strategi dalam proses aktivitas perusahaan. Melihat pentingnya peranan tersebut maka keakuratan dan validitas dari data-data yang diolah harus diperhatikan. Selain itu kemampuan manajemen perusahaan dalam menganalisis dan menginterpretasikan informasi keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan juga harus diperhatikan dan ditingkatkan secara kontinu.

Hasil-hasil dari analisis dan interpretasi laporan keuangan tersebut biasanya digunakan antara lain untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan membayar kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang serta mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas dari alokasi dana dan sumber daya yang tersedia di perusahaan. Selain itu juga dapat menilai berapa besar kontribusi dari unsurunsur organisasi kepada perusahaan dan sebaliknya, tingkat produktivitas karyawan dan tingkat pertumbuhan perusahaan dari tahun ke tahun.

58

P.D.UNION merupakan perusahaan yang berskala kecil dari segi bentuk badan hukum dan masih menganut asas kekeluargaan dalam proses aktivitas perusahaan. Oleh karena itu perusahaan hanya membuat dua jenis laporan keuangan yaitu neraca dan laporan laba rugi sebagai dasar penilaian untuk kinerja manajemen perusahaan.

Adapun analisa yang digunakan adalah analisa rasio keuangan anatara lain rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio rentabilitas / profitabilitas, rasio leverage, rasio aktivitas.

Berikut merupakan hasil analisis rasio keuangan untuk periode tahun 2002 : 1. Rasio likuiditas 1) Rasio Lancar (Current Ratio) = Aktiva Lancar = 1.817.623.088 = 7,47 Hutang Lancar 243.476.625

2) Rasio Cepat (Quick Ratio) = Aktiva Lancar Persediaan = 1.817.623.088 246.786.600 = 6,45 Hutang Lancar 3) Rasio Kas atas Aktiva Lancar = Kas a = 462.277.500 = 0,25 1.817.623.088 243.476.625

Aktiva Lancar

59

4) Rasio Kas atas Hutang Lancar = Kas Hutang Lancar = 462.277.500 = 1,9 243.476.625

5) Rasio Aktiva Lancar dan Total Aktiva = Aktiva Lancar = 1.817.623.088 = 0,3 Total Aktiva 2. Rasio Solvabilitas 1) Rasio hutang atas modal = a Total Hutang Modal ( Equity ) = 855.636.625. ==== == 5.284.209.213 6.139.845.838

60

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN A. KESIMPULAN Berikut merupakan kesimpulan yang dibuat penulis berdasarkan hasil analisis dan evaluasi pada bab sebelumnya sebagai berikut : 1. Kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya meningkat (likuid) dilihat dari peningkatan rasio lancar 1,92x atau 192% , rasio cepat 1,54x atau 154%, rasio kas atas aktiva lancar 0,02x atau 2%, rasio kas atas hutang lancar 0,61x atau 61% dan rasio lancar dan total aktiva 0,02x atau 2%. 2. Kemampuan perusahaan dalam membayar semua kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi masih rendah tetapi stabil (solvable) dilihat dari rasio hutang atas modal 0,16x atau 16% dan rasio hutang atas aktiva 0,14x atau 14%. 3. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba menurun dilihat dari margin laba 0,06x atau 6%, asset turn over 0,008x atau 0,8%, basic earning power 0,01x atau 1%, tetapi contribution margin meningkat 0,01x atau 1%. 4. Perusahaan masih lebih banyak dibiayai oleh hutang dari pihak luar dengan komposisi yang lebih besar daripada modal perusahaan sendiri dan meningkat 0,07% untuk modal perusahaan sendiri. 5. Aktivitas perusahaan berjalan dengan intensitas yang tinggi dilihat dari inventory turn over meningkat 0,12x atau 12%, fixed asset turnover 0,14x atau 14%, total asset turn over 0,08x atau 8%, dan perpendekan periode penagihan piutang dari 39 hari menjadi 35 hari.

61

B. SARAN-SARAN Adapun saran-saran penulis kepada perusahaan sebagai berikut : 1. Perusahaan sebaiknya mengoptimalisasi semua sumber dana dan

mengalokasikannya secara efektif dan efisien sehingga tidak perlu melakukan pinjaman lagi. 2. Dalam keadaan di mana terjadi penurunan permintaan oleh pelanggan, perusahaan sebaiknya mengambil kebijakan untuk mempertahankan intensitas penjualan dengan margin keuntungan yang lebih rendah. Hal ini dilakukan agar perputaran persediaan bisa meningkat sehingga tidak menambah beban operasi. 3. Perusahaan harus mengambil kebijakan untuk menekan biaya operasi dengan mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak terlalu penting. Di samping itu kebijakan mengenai bonus, komisi dan insentive juga harus disesuaikan dengan keadaan perusahaan karena walaupun tujuannya untuk menambah laba tetapi kenaikan untuk variabel ini menambah beban operasi. 4. Hutang yang meningkat harus diimbangi dengan peningkatan modal yang disetor karena walaupun laba ditahan telah ditambah tetapi fokusnya lebih ke operasional perusahaan. 5. Perusahaan sebaiknya menekan penyusutan sekecil mungkin dengan melakukan penyeleksian terhadap aktiva-aktiva perusahaan untuk mengetahui apakah masih atau tidak bisa digunakan lagi dan apakah bila masih bisa digunakan akan efisien atau malah menambah beban perusahaan.

62

Skripsi ini di Download dari -----------------------------------------------

Datakomputer.Com

--------------------------------------------------------------------------------------------------

UNTUK LEBIH LENGKAPNYA DAPAT ANDA DONWLOAD PADA LINK DI BAWAH INI http://adf.ly/4k6HE Software, Skripsi, Tutorial, Shop, Forum, Media sosial

Anda mungkin juga menyukai