Anda di halaman 1dari 4

Batimetri (dari bahasa Yunani: , berarti kedalaman, dan , berarti ukuran) merupakan ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah

air dan studi tentang tiga dimensi lantai samudra atau danau. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief lantai atau dataran dengan garis-garis kontur (contour lines) yang disebut kontor kedalaman (depth contours atau isobath), dan dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi permukaan. Awalnya, batimetri mengacu kepada pengukuran kedalaman samudra. Teknik-teknik awal batimetri menggunakan tali berat terukur atau kabel yang diturunkan dari sisi kapal. Keterbatasan utama teknik ini adalah hanya dapat melakukan satu pengukuran dalam satu waktu sehingga dianggap tidak efisien. Teknik tersebut juga menjadi subjek terhadap pergerakan kapal dan arus (wikipedia). Peta batimetri sendiri dapat diartikan Peta yang menggambarkan bentuk konfigurasi dasar laut dinyatakan dengan angka-angka kedalaman dan garis-garis kedalaman. Peta batimetri ini dapat divisualisasikan dalam tampilan 2 dimensi (2D) maupun 3 dimensi (3D). Visualisasi tersebut dapat dilakukan karena perkembangan teknologi yang semakin maju, sehingga penggunaan komputer untuk melakukan kalkulasi dalam pemetaan mudah dilakukan. Data batimetri dapat diperoleh dengan penggunaan teknik interpolasi untuk pendugaan data kedalaman untuk daerah-daerah yang tidak terdeteksi merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan. Teknik interpolasi yang sering digunakan adalah teori Universal Kriging dan teori IRFK (Intrinsic Random Function of Order K) (David et al., 1985 dalam Defilmisa, 2003). Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan RI

Kepulauan Indonesia merupakan gugusan pulau yang terdiri dari lima pulau besar (Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan/Borneo, Sulawesi dan Papua) dan gugusan pulau Nusatenggara, Maluku serta ribuan pulau kecil tersebar dalam untaian yang serasi dan indah di sekitar garis lintang nol derajat (khatulistiwa). Perairan yang terletak di antara pulau-pulau tersebut memiliki kedalaman laut yang sangat bervariasi. Di sebelah barat Pulau Sumatera dan sebelah selatan Pulau Jawa terdapat palung (trench) yang merupakan pertemuan lempeng samudera dan lempeng benua dan memiliki kedalaman laut antara 2500 meter hingga 5000 meter. Perairan di antara Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan yang terletak pada paparan Sahul, memiliki kedalaman yang relatif dangkal (kurang dari 500 meter, bahkan kurang dari 200 meter). Di Selat Makassar kedalaman bervariasi relatif berubah secara gradual. Dari pantai timur Kalimantan kedalaman laut bertambah secara perlahan, sementara di pantai barat Sulawesi kedalaman laut bertambah secara cepat, sehingga bagian laut yang terdalam dari Selat Makassar (sekitar 2000 meter) terletak lebih dekat dengan Pulau Sulawesi. Selanjutnya ke arah timur Maluku dan Papua, termasuk Bali dan Nusatenggara memiliki kondisi batimetri bervariasi yang sangat mencolok hingga lebih dari 5000 meter. Indonesia memiliki fenomena yang sangat unik yakni adanya pertemuan tiga lempeng besar (lempeng Eurasi, Lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik) yang bertemu di Laut Banda. Pada daerah ini dikenal dengan zona tumbukan kompleks (complex collision zone), sehingga terdapat laut yang sangat dalam berbentuk palung (trench) dengan kedalaman lebih dari 7000 meter. Lokasi ini terdapat di sebelah tenggara Pulau Banda dan di antara Pulau Seram dan Pulau Yamdena.

A. Indonesia Bagian Barat Penentuan Bagian barat Indonesia di sini bukan berarti pembagian wilayah secara kaku (rigid) akan tetapi memudahkan untuk dalam menjelaskan mengingat begitu luasnya cakupan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk keperluan ini digunakan garis bujur 116o BT. Di wilayah ini terdapat Pulau Sumatera (termasuk kepulauan Riau dan Bangka Belitung), Jawa dan Kalimantan. Perairan yang tercakup di Indonesia bagian Barat ini meliputi perairan Laut Andaman, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Bangka, Selat Gelasa, Selat Karimata, Selat Sunda, Laut Jawa, Selat Bali, Laut Bali dan Samudera Hindia. Perairan Indonesia bagian barat didominasi dengan adanya paparan Sahul (Jawa, Sumatera dan Kalimantan) sehingga perairan di antara pulau-pulau tersebut termasuk perairan dangkal (kurang dari 200 meter). Sementara di sebelah barat Sumatera dan selatan Jawa terdapat palung yang dalam dan merupakan pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kedalaman palung bervariasi antara 2500 meter hingga 5000 meter. B. Indonesia Bagian Timur Perairan Indonesia bagian Timur adalah yang terletak dibelah timur garis bujur 116o BT. Perairan yang tercakup di Indonesia bagian Timur ini meliputi perairan Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, Laut Banda, Laut Aru. Laut Afaruru, Laut Timor, Laut Sawu, Selat Lombok, Selat Makassar, Selat Ombai, Selat Sumba, Selat Sape, Teluk Tomini, Teluk Bone, Teluk Cendrawasih, Teluk Berau/Bintuni, dan masih banyak selat dan teluk kecil lainnya. Indonesia bagian timur terdapat Pulau Sulawesi, Papua serta gugusan pulau Nusatenggara dan Maluku. Perairan di kawasan ini memiliki variasi yang sangat beragam dan hampir tidak ditemukan perairan yang dangkal, kecuali di sebelah barat daya Papua, yakni Laut Aru yang memiliki kedalaman kurang dari 500 meter. Sedangkan di Laut Banda merupakan laut terdalam di Indonesia. Selanjutnya apabila ditinjau lebih detail kondisi batimetri di sekitar pulau-pulau besar dan gugusan pulau maka akan dapat terlihat betapa beragamnya kondisi batimetri yang ada di perairan Indonesia. 1. Perairan sekitar Pulau Sumatera. Pulau Sumatera (termasuk Kepulauan Riau dan Bangka Belitung) adalah pulau besar yang terletak di bagian barat Indonesia yang terbentang dari 95o BT hingga sekitar 108o BT dan dari 6o LU hingga sekitar 6o LS. Perairan di pantai barat sebelah utara antara Pulau Sumatera dengan Pulau Simeulue, Pulau Nias, Kepulauan Mentawai dan Kepulauan Pagai, relatif datar dengan kedalaman terdalam bervariasi antara 500 hingga 1500 meter. Sementara di pantai barat Sumatera bagian selatan hingga ujung tenggara dengan Pulau Enggano, kondisi batimetrinya bervariasi hingga kedalaman 2000 meter. Palung laut dengan kedalaman 2500 meter hingga 4500 meter membentang di sisi sebelah barat gugusan pulau dan menerus hingga ke selatan Pulau Jawa. Perairan di sebelah utara Pulau Sumatera (sekitar Laut Andaman) memiliki kedalaman bervariasi hingga 2000 meter. Sementara perairan Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna hingga Selat Karimata memiliki kedalaman yang relatif dangkal (kurang dari 200 meter). 2. Perairan sekitar Pulau Jawa Pulau Jawa terletak di sebelah timur dari ujung tenggara Pulau Sumatera yang dibatasi

oleh Selat Sunda hingga sebelah barat Pulau Bali yang dibatasi oleh Selat Bali. Pulau Jawa (termasuk pulau-pulau sebelah timur Pulau Madura) terbentang dari 105o BT hingga sekitar 116o BT. Perairan Selat Sunda yang merupakan penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Jawa memiliki kondisi batimetri yang sangat bervariasi. Pada umumnya perairan sebelah Timur bagian utara selat Sunda cukup dangkal dengan kedalaman rata-rata berkisar antara 10 hingga 80 meter sedangkan untuk perairan sebelah Barat bagian selatan Selat Sunda pada umumnya masih terpengaruh oleh kedalaman dari Samudera Hindia di mana kedalamannya berkisar antara 100 hingga 1000 meter. Pantai yang mencakup Selat Sunda hampir sebagian besar landai yang terdiri karang terutama di pantai Barat Pulau Jawa dan di pantai sebelah tenggara Pulau Sumatera. Perairan di pantai selatan Pulau Jawa merupakan kelanjutan palung dari pantai barat Pulau Sumatera dengan kedalaman terdalam bervariasi antara 2500 hingga 4500 meter. Perairan Selat Bali memiliki kondisi batimetri yang hamper sama dengan Selat Sunda, dimana sebelah utara merupakan perairan yang sangat sempit dan meluas ke arah selatan. Perairan di utara Pulau Jawa adalah Laut Jawa yang cukup dangkal dengan kedalaman ratarata berkisar antara 10 meter sampai 80 meter dan memiliki pantai yang hampir seluruhnya landai. 3. Perairan sekitar Pulau Kalimantan/Borneo Pulau Kalimantan adalah pulau terbesar yang terbentang dari 108o BT hingga sekitar 118o BT dan dari 7o LU hingga sekitar 4o LS. Kalimantan dikelilingi oleh Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Sulawesi. Perairan Laut Natuna, Selat Karimata dan Laut Jawa memiliki kondisi batimetri yang relatif dangkal. Variasi kedalaman yang cukup signifikas ditemukan di perairan Selat Makassar dan Laut Sulawesi. Perairan Selat Makassar di sebelah timur Kalimantan memiliki perubahan kedalaman yang relatif landai hingga jauh ke tengah poros Selat Makassar dengan kedalaman hingga 2000 meter. Demikian juga Laut Sulawesi yang memiliki perubahan kedalaman secara perlahan ke arah timur hingga mencapai 4000 meter. 4. Perairan sekitar Pulau Sulawesi Pulau Sulawesi adalah salah satu pulau besar yang terbentang dari 118o BT hingga sekitar 126o BT dan dari 2o LU hingga sekitar 6o LS. Sulawesi dikelilingi oleh Selat Karimata, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Teluk Tomini, Laut Banda, Teluk Bone dan Laut Flores. Perairan Selat Makassar di sebelah barat Sulawesi memiliki perubahan kedalaman yang relatif besar dibanding dengan pantai timur Kalimantan. Bagian terdalam dari Selat Makassar (sekitar 2000 meter) di bagian utara terletak di antara Kalimantan dan Sulawesi, kemudian mendekat ke arah Sulawesi di bagian selatan. Laut Sulawesi terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi dengan kondisi batimetri yang membentuk cekungan besar. Perubahan kedalaman yang relatif besar ditemukan di dekat pantai utara Sulawesi hingga sebelah barat kepulauan Sangihe. Bagian terdalam Laut Sulawesi memiliki kedalaman lebih dari 5000 meter. Di sekitar Pulau Miangas, perubahan kedalaman sangat besar dan kedalaman 5000 meter berjarak tidak jauh dari pulau tersebut. Selanjutnya perairan Laut Maluku memiliki variasi kedalaman terdalam antara 2000 meter hingga 4000 meter. Teluk Tomini yang terletak di sebelah barat kaut Maluku merupakan cekungan dengan kedalaman terdalam sekitar 2000 meter. Selain Laut Maluku, di sebelah timur Sulawesi, khususnya bagian selatan terdapat Laut Banda yang memiliki kedalaman 2000 meter hingga 5000 meter. Perairan Laut Banda di sekitar kepulauan sebelah tenggara Sulawesi memiliki perubahan kedalaman yang sangat cepat, sehingga cukup terjal. Sementara Teluk Bone memiliki kondisi batimetri yang

relatif simetri mengikuti bentuk pantai di sekitarnya dan kedalaman terdalam hampir di tengah Teluk Bone bagian selatan. Perairan bagian selatan Pulau Sulawesi adalah Laut Flores yang memiliki kedalaman laut bervariasi secara cepat dengan kedalaman terdalam lebih dari 4500 meter. 7. Perairan sekitar Pulau Papua Pulau Papua adalah salah satu pulau besar yang terbentang dari 130o BT hingga sekitar 141o BT (wilayah Indonesia) dan dari 0o LU hingga sekitar 9o LS. Papua dikelilingi oleh Samudera Pasifik, Laut Seram dan Laut Aru. Disamping itu juga terdapat beberapa teluk, antara lain Teluk Cendrawasih, Teluk Bintuni/Berau serta teluk-teluk kecil lainnya. Samudera Pasifik yang terletak di sebelah utara Papua memiliki kondisi batimetri dengan perubahan kedalaman yang cepat terjadi di sebelah utara kepala burung, Biak dan Jayapura. Kedalaman terdalam bervariasi antara 4000 meter hingga lebih dari 5000 meter yang terdapat di utara Biak. Laut Seram yang berada di sisi barat Papua memiliki kelandaian yang signifikan dengan kedalaman kurang dari 500 meter. Laut Seram bertemu dengan Teluk Berau/Bintuni yang juga merupakan laut dangkal. Seperti dijelaskan terdahulu bahwa Laut Aru di pantai baratdaya Papua merupakan batimetri yang dangkal dan pantai yang sangat landai. http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/fisik_lingkungan/batimetri_umum.php Kamus Oseanografi ISBN 979-420-392-0 Penulis Heryoso Setiyono Penerbit GMUP Tahun Terbit 1996 Cetakan Ke-1 Colation 211 Tahun Terbit 1996 Berat 0 Stok 10 Discount 0 Harga Rp. 18,000.00