Anda di halaman 1dari 6

Hakikat Jodoh.. Baca smp akhir ya.. (Mau nangis wktu membacanya :') Smoga terinspirasi..

by Rabithah Alam Islamy on Monday, October 18, 2010 at 11:18pm Notes ini saya dapatkan dari teman saya "Dharmo Birowo San" td pagi jam 09.16 seteLah saya meLakukan shoLat Dhuha DaLam shoLat, saya "curhat" kepada Allah mengenai kegaLauan hati yang mendera saya minggu2 ini Setiap seLesai shoLat saya seLaLu berdoa (kaLau ingat.. hehehe <(^^p) spy didekatkan dgn Allah siapa yg bakaL mnjadi jodoh saya & dijauhkan kLo memng dia bukan jodoh saya & smg Allah memberi hamba kekuatan untuk mupakannya..

Saya resah krn akhir2 ini didekatkan dgn seorang cew yg brhsiL mmpesona saya & keLuarga saya. SeLain dia cantik, pintar, dia jg shoLehah Orng tua saya mengakuinya & bangga saja kLo memiLiki mantu sperti dia (sLm ini tidak ada kerahasiaan antara saya dgn orang tua saya, jika saya dekat dgn cew, sy sLL mncritaknny kpd Ortu saya & sLLu brkhr dgn GojLok2an antara Ayah, Ibu, dan anak cowok satu2nya.. (-____-;) Yg mmbuat hati saya resah adLh tnyt Bukan nama saya yg terpaut d Hatinya.. ..Sbuah aLasan kLasik kLo ada indikasi kami gak berjodoh.. ^_^

OLeh krn itu sy sLL Curhat kpd Allah "Who eLse Ya Allah?? Klo bukan dia, dia, dia, & dia, dia, dia,siapa Lagi?"

Allah sgera mnjwb curhatku ini dgn menggerakkan hati hamba mmbaca Notes FB yg sbntr Lg jg akan kaLian baca :)

OLeh karena itu stLh membaca Notes ini, sy Lgsung Updt sttus "Subhanallah.. Benar2 Allah mmiLiki bnyk cara untuk menjawab doa & kegaLauan hati Qt.. ^_^"

-------------------------------------------SeLamat membaca ^_^ Smoga kisah ini menginspirasi kaLian jg------------------------------------------

Aku ingin terbang ke langit. Cuma sayang, sayapku cuma satu. Bagaimana kalau salah satu sayap itu adalah kamu?

oleh Dharmo Birowo San pada 18 Oktober 2010 jam 9:16

Sebuah Kisah pengalaman Ust.Arifin Ilham tentang hakikat jodoh yang ia alami dan rasakan.

Kalau memang jodoh, tidak akan ke mana-mana! Begitu petuah orang tua. Kisah itulah yang terjadi pada pasangan Arifin dengan Wahyuniati Al-Waly, putri ketiga dari enam bersaudara dari mantan anggota DPR, Drs. Teuku Djamaris. Arifin pertama kali bertemu Yuni saat usai berceramah di kediaman keluarga H. Yusuf di Depok, bulan September 1997. Saat itu Arifin tengah duduk menunggu antrean makan, begitu juga Yuni. Jarak di antara mereka sekitar tiga-empat meter. Tibatiba di antara keduanya saling beradu pandang dan keduanya pun saling tersenyum. Hanya beberapa detik saja adu pandang itu berlangsung dan setelah itu mereka pun pulang. Setelah itu, mereka pun tidak pernah saling bertemu, apalagi saling berbicara.

Malam itu Yuni tidak pulang ke rumah orang tuanya di Kompleks DPR di Kalibata, karena ia memang berniat menginap di rumah sahabatnya, Fitrah, di Depok. Semula ia tidak berniat mengikuti pengajian itu, karena niatnya memang hanya ingin kangen-kangenan ke rumah sahabatnya yang sama-sama dari Padang itu. Karena itu, ia pun pergi ke pengajian dengan pakaian seadanya, yaitu celana jins, baju berwarna biru, dan kerudung putih. Tapi, ia tidak merasa rugi mendatangi pengajian itu. Ustadnya masih muda, cakep, dan materi ceramahnya pun lumayan menarik, kenangnya.

Meski yakin matanya tidak salah saat melihat kecantikan gadis itu, Arifin tidak mau mengumbar perasaannya. Ia tak berusaha mencari tahu siapa dan dari mana gadis itu. Ia biarkan kehidupannya mengalir sesuai kehendak-Nya. Sebagai makhluk yang berusaha menyerahkan seluruh kehidupannya hanya untuk Allah, dalam urusan jodoh pun ia pasrahkan seutuhnya kepada Sang Mahakuasa. Setiap malam dia bangun kemudian salat tahajud dan berserah diri kepada-Nya.

Sejak masih kuliah di Universitas Nasional, kemudian lulus kuliah, dan selanjutnya menjadi dosen di Universitas Borobudur, sudah beberapa kali ia berteman dengan wanita. Tapi, sejauh itu selalu saja gagal sampai ke pelaminan.

Hari-hari pun berjalan, ternyata Tuhan belum pula menunjukkan tanda-tanda akan hadirnya seorang pujaan hati. Suatu hari, ada salah seorang temannya, Hasan Sandi, yang menawarinya berkenalan dengan seorang gadis. Katanya, Ustad Arifin... mau tidak kalau saya kenalkan dengan seorang gadis. Dia seorang putri ulama. Mau, anaknya tinggal di mana? Arifin balik bertanya. Di Kalibata. Tapi, lebih baik kita ketemu di tempat lain saja, deh.

Suatu hari di bulan Februari 1998 Hasan menghubungi Arifin lagi. Ia mengundang Arifin untuk memberikan ceramah dalam acara syukuran menempati rumah baru. Nanti saya kenalkan sekalian dengan gadis itu, kata Hasan. Saat memasuki rumah itu, Arifin kaget ketika melihat salah satu foto yang terpampang di kamar

tamu, yang rupanya pernah dia kenal. Ini, lho, foto gadis itu, kata Hasan sambil menunjuk foto itu.

Bertepatan dengan tangan Hasan menunjuk foto gadis itu, seperti disihir, gadis itu keluar bersama kedua orang tuanya. Hanya beberapa detik, karena setelah itu gadis yang mengenakan celana biru, baju biru, dan kerudung putih itu langsung masuk ke dalam lagi. Saat itu Arifin baru ingat bahwa ia pernah bertemu dengan gadis itu sekitar enam bulan yang lalu, saat ia berceramah di Depok. Kali ini Arifin benarbenar jatuh cinta. Sejak kedua kalinya bertemu gadis itu, ada perasaan yang aneh di hatinya. Bayang-bayang gadis kerudung putih itu terus mengusik kesendiriannya. Tapi, berbeda dengan kebanyakan muda-mudi lain, ia menyampaikan perasaan hatinya kepada Sang Maha Pencipta. Setiap kali bangun malam, ia langsung bersujud dan bersimpuh di hadapan-Nya. Sambil berdoa ia menangis dan memohon petunjuk agar diberikan pendamping hidup yang terbaik untuknya. Selama ini, ia memang selalu memanfaatkan sepertiga malam yang terakhir untukNya. Hanya, kini kualitas dan kuantitas penghambaannya kepada Allah itu kian ditingkatkan.

Setiap malam ia salat malam delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat. Memasuki hari kesebelas, ia tiba-tiba mengalami kelelahan yang luar biasa hingga ia pun tertidur. Di tengah kelelapan tidurnya, ia bermimpi seolah menjalankan ibadah umroh bersama gadis itu tepat tanggal 1 Muharam. Arifin percaya, mimpinya kali ini bukan sekadar kembang tidur. Ini adalah petunjuk Allah yang Arifin terjemahkan untuk menikah tanggal 1 Muharam, tegasnya. Pagi-pagi, usai salat subuh, ia langsung menelepon gadis itu. Aku Muhammad Arifin Ilham, katanya memulai pembicaraan. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kamu. Pertama, aku ingin menikah dengan kamu tanggal 1 Muharam. Kedua, niatku ini karena Allah. Ketiga, karena sunah Rasul. Keempat, aku ingin terbang ke langit. Cuma sayang, sayapku cuma satu. Bagaimana kalau salah satu sayap itu adalah kamu? Kelima, aku butuhkan jawabanmu besok pukul 5 pagi. Gadis itu terduduk lunglai. Berbagai perasaan menyelimuti kalbunya. Di satu sisi ia merasa tersanjung dan bahagia, tapi di sisi lain ia juga merasa sedih dan khawatir.

Bagaimanapun, ia belum mengenal lelaki itu, walaupun ia seorang ustad. Sebagai gadis, selama ini ia belum pernah pacaran atau pergi berduaan dengan lelaki.

Selain tidak suka pergi-pergi iseng, pendidikan ayahnya pun sangat ketat. Sudah beberapa kali ia dilamar, tapi selalu ditolak oleh kedua orang tuanya. Karena itu, awalnya ia gamang saat ingin menyampaikan lamaran Arifin itu.

Apa boleh buat, lamaran mengagetkan dari ustad muda itu harus segera dia sampaikan kepada kedua orang tuanya, karena esok subuh sudah ditunggu jawabannya. Untunglah kedua orang tuanya menyetujuinya. Saat esok harinya, pukul 5 pagi, Arifin telepon dan yang menerima Yuni sendiri, ia yakin lamarannya bakal diterima. Satu bulan kemudian, tepat tanggal 1 Muharam (28 April 1998), Arifin dan Yuni menikah di Masjid Baiturrahman di Kompleks DPR Kalibata. Dua sejoli ini ternyata banyak kesamaannya. Antara lain, Arifin maupun Yuni adalah alumni Pesantren Darunnajah dan Universitas Nasional. Hanya tenggang waktu mereka yang berbeda. Kedua kakek mereka sama-sama memiliki pesantren, yang namanya juga sama, Darussalam.

Sumber : Renungan kisah Inspiratif.

=========================================================== ====== HaLo.. brjumpa Lgi dgn ALam.. :p Thanx dh baca smp akhir :) Ini ad sdikit petuah dr Ibu saya (orang yg paLing enak untuk curhat, steLah curhat kpd Allah) Ibu berpesan kpd saya begini stLh mndngr curhat2 saya minggu2 ini (dgn sedikit perubahan):

"Nak.. Cinta itu Gak bisa dibeLi. Sbrapapun kayamu, ketampananmu, kepandaian, maupun kepopuLeranmu. KLo Allah gak menggerakkan hatinya untuk mencintaimu ya tetap aja dia gak akan cinta ma kamu.

Jodoh gak bisa dipaksain. Biarkan saja mengaLir ssuai kehendak-Nya. Klo toh dia jodohmu. Allah akan menentukan waktu kapan hati kaLian bertemu. Tapi jagan Lupa seLain berdoa juga berusaha (ta'aruf). Udah jadi kodrat LeLaki untuk mencari dan menyatakan cinta. Nyatain Cinta tuh kaya berdagang pakaian, siap "untung" siap "rugi". Tetapi menanggapi cinta tuh GAK sperti membeLi pakaian, yg kLo gak cocok bisa seenaknya dikembaLikan PercayaLah.. Allah udah mempersiapkan jodoh yg terbaik buatmu. Gak seLamanya yg kamu anggap Baik itu yg terbaik untukmu Ibu aja Yakin kamu bakaL dapat Jodoh sing tepak. Seperti keyakinan Ibu kamu bisa luus dari STAN ^_^"

Thanx Bu.. jadi pingin nangis wktu mengetiknya :') Maafin anakmu ini yg gak sabaran dan Lupa mensyukuri nikmat2 Allah yg tak terhitung jumLahnya hanya karena masaLah keciL. beLum nemu jodoh

OK teman2 Trims banget dah mw ndenger curhatku :P *Smoga Qt smua bisa mnjd makhLuk Allah yg ikhLas, sabar, & tidak Lupa bersyukur.. Amin.. Amin.. Amin.. Ya RobbaL.aLamin.. :)

Beri Nilai