Anda di halaman 1dari 8

3.

Jaringan pada Otot JARINGAN OTOT adalah daging tubuh dan tersusun dari banyak dinding organ berongga dan pembuluhpembuluh tubuh. Sel-sel jaringan otot, yang dinamakan serabut, sangat terspesialisasi untuk kontraktilitas. 5 a. Karakteristik umum i. Sel-sel terelongasi (serabut) mengandung banyak miofibril yang tersusun dari miofilamen-miofilamen kontraktil. ii. Nukleus sel-sel otot terbentuk dengan baik. iii. Sitoplasma disebut sarkoplasma, membran sel disebut sarkoplasma, dan retikulum endoplasma halus disebut retikulum sarkoplasma. iv. Serabut otot dapat membesar, walaupun demikian, kecuali untuk kemampuan terbatas sel otot polos pada lokasi tertentu, sel ini tidak membelah untuk berproliferasi setelah lahir. b. Secara struktural, otot diklasifikasi menjadi otot lurik (dengan garis-garis menyilang) atau polos (tidak bergaris). Lurik-lurik tersebut akan terlihat dalam pemeriksaan potongan mikroskopik serabut. c. Berdasarkan struktur dan fungsinya, jaringan otot diklasifikasi ke dalam golongan berikut: otot polos, otot rangka, dan otot jantung. i. Otot polos adalah otot involunter dan otot tidak berlurik. 1. Distribusi. Otot polos terbentuk pada area berikut: a. Dinding organ berongga b. Dinding duktus dan pembuluh c. Organ seperti kulit, limpa, dan penis. 2. Struktur a. Sel berbentuk spindel sangat bervariasi panjangnya, tetapi panjangnya tetap lebih pendek dan diametemya juga lebih kecil daripada sel otot rangka. b. Setiap sel mengandung satu nukleus sentral. c. Serabut tersebut disatukan dalam unit atau lembar (lapisan). ii. Otot rangka merupakan otot volunter dan otot lurik. 1. Distribusi. Serabut individual akan bergabung menjadi berkas untuk membentuk kelompok fungsional yang disebut otot, yang melekat pada rangka dan bertanggung jawab untuk pergerakan. 2. Struktur a. Satu serabut panjangnya berkisar antara 10 mm sampai 40 mm. b. Serabut yang banyak memiliki nukleus ditemukan di bawah sarkolema pada bagian perifer sel. c. Lurik menyilang tersusun pada pita I (isotropik) yang terang dan pita A (anisotropik) yang lebih gelap. iii. Otot jantung adalah otot involunter dan otot lurik. 1. Distribusi. Otot jenis ini hanya ada di jantung. 2. Struktur a. Serabut otot jantung bercabang dan membentuk jaringan. b. Nukleusnya tunggal dan terletak di sentral. c. Lurik menyilang saling berdekatan dan tidak terlihat sejelas di otot rangka. d. Diskus interkalasi, yang terlihat di bawah mikroskop sebagai pita tebal bersilangan, merupakan ciri khas otot jantung. Diskus ini merupakan sambungan antara sel otot jantung dan area yang tahanan listriknya rendah untuk memperluas kontraksi. 5 4. Pembahasan tentang otot Fungsi sistem muskular a. Pergerakan. Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak dalam bagian-bagian organ internal tubuh. b. Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi.

c. Produksi panas. Kontraksi otot secara metabolis menghasilkan panas untuk mempertahankan suhu normal tubuh. Ciri-ciri otot a. Kontraktilitas. Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau mungkin juga tidak melibatkan pemendekan otot. Serabut akan terelongasi karena kontraksi pada setiap diameter sel berbentuk kubus atau bulat hanya akan menghasilkan pemendekan yang terbatas. b. Eksitabilitas. Serabut otot akan merespons dengan kuat jika distimulasi oleh impuls saraf. c. Ekstensibilitas. Serabut otot memiliki kemampuan untuk meregang melebihi panjang otot saat relaks. d. Elastisitas. Serabut otot dapat kembali ke ukurannya semula setelah berkontraksi atau meregang. 5 5. Jenis serabut otot Otot rangka manusia memiliki tiga jenis serabut yang berbeda dalam kecepatan berkontraksi, resistensinya terhadap keletihan, dan kemampuan untuk menghasilkan ATP. a. Serabut merah kedut lambat. Mengandung konsentrasi pigmen merah pernapasan yang sangat banyak, mioglobin, yang mengikat molekul oksigen untuk memfasilitasi pernapasan aerob. Serabut ini berdiameter kecil, dikelilingi banyak kapiler yang menyediakan oksigen dan nutrisi, kontraksinya lambat, dan resisten terhadap keletihan. Otot postural di area punggung, beradaptasi untuk melakukan aktivitas konstan dan sebagian besar tersusun dari serabut merah yang lambat. b. Serabut putih kedut cepat Tidak memiliki mioglobin, mitokondria dan kapilarnya juga lebih sedikit tetapi simpanan glikogen dan enzimnya lebih banyak. Simpanan ini meningkatkan kapasitasnya untuk melakukan glikolisis anaerob. Serabut lebih tebal, mampu menghasilkan ATP dengan kecepatan tinggi, tetapi cepat letih jika simpanan glikogennya menipis. Serabut putih yang cepat ini sesuai untuk melakukan aktivitas muskular yang melonjak. seperti berlari. c. Serabut pertengahan berwarna merah. Serabut ini mengandung miog-lobin dan memiliki sifat serta resistensi keletihan tingkat menengah dibandingkan kedua jenis serabut sebelumnya. 5 6. Perlekatan dan penyusunan otot rangka a. Origo (pangkal) otot adalah titik perlekatan yang lebih kuat pada tulang dan biasanya merupakan ujung proksimal. b. Insersi otot adalah titik perlekatan yang lebih dapat bergerak dan biasanya merupakan ujung distal. i. Badan otot (bagian kontraktil) adalah bagian otot antara origo dan insersi. ii. Fungsi tandingan dari origo dan insersi mungkin saja terjadi, bergantung pada gerakan. Misalnya, pektoralis mayor, yang berawal pada klavikula, sternum, dan iga, berinsersi ke humerus dan mengaduksi lengan. Tetapi saat otot digunakan untuk menarik tubuh ke atas, seperti memanjat tali, maka lengan dan tangan mengencang sementara tubuh merupakan bagian yang dapat bergerak. 5 7. Kontrol gerakan motorik pada otot Kontrol terhadap setiap gerakan motorik bergantung pada tingkat aktivitas di semua masukan sinaps yang berjalan ke neuron motorik yang mempersarafi berbagai otot. Berbagai masukan tersebut datang dari tiga sumber: (1) jalur refleks spinalis, yang berasal dari neuron aferen; (2) sistem desendens kortikospinalis, yang berasal dari korteks motorik primer dan terutama berperan pada gerakan tangan yang diskret dan halus; dan (3) sistem desendens multineuron, yang berasal dari batang otak dan terutama terlibat dalam penyesuaian postur dan gerakan involunter badan dan anggota badan. Keluaran motorik akhir dari batang otak dipengaruhi oleh serebelum, nukleus basal, dan korteks serebrum.

Pembentukan dan penyesuaian perintah-perintah motorik bergantung pada masukan aferen yang terus menerus diberi-kan, terutama umpan balik mengenai perubahan-perubahan panjang otot (dipantau oleh gelendong otot) dan ketegangan otot (dipantau oleh organ tendon Golgi).6 8. Penyusunan tendon otot a. Pada otot pararel. fasikulus tersusun paralel terhadap aksis longitudinal otot dan berujung pada suatu tendon pipih untuk membentuk otot menyerupai pita, seperti pada otot sartorius. b. Pada otot peniform, fasikulus tersusun seperti kumpulan bulu di sepanjang sisi tendon otot. Otot peniform memiliki kontraksi yang sangat kuat karena seluruh daya yang dimiliki miofibers dikonsentrasikan pada tendon. c. Pada otot unipeniform, semua fasikulus berada di salah satu sisi tendon, seperti pada otot semimembranosa. d. Otot bipeniform memiliki fasikulus yang menyatu di kedua sisi tendon, seperti pada otot rektus tungkai. e. Otot multipeniform memiliki fasikulus yang menyatu pada banyak tendon, seperti pada otot deltoideus.5 9. Pembentukan panas di otot Secara termodinamika, energi yang tersalur ke otot harus setara dengan keluaran energi. Keluaran energi ini timbul sebagai kerja otot, ikatan fosfat berenergi tinggi untuk penggunaan berikut, dan sebagai panas. Efisiensi mekanis otot rangka secara menyeiuruh (kerja/penggunaan energi total) berkisar sampai 50% ketika mengangkat beban selama kontraksi isotonik dan hanya 0% selama kontraksi isometrik. Simpanan energi pada ikatan fosfat merupakan faktor kecil. Dengan demikian. pembentukan panas merupakan faktor penting. Panas yang timbul di otot dapat diukur dengan tepat menggunakan thermocouples yang sesuai. Panas istirahat (resting heat), panas yang dilepaskan saat istirahat, merupakan manifestasi eksternal proses metabolik basal. Panas yang dihasilkan sebagai kelebihan panas istirahat selama kontraksi, dinamakan panas awal (initial heat). Panas awal ini terdiri dari panas aktifitas (activation heat), panas yang dihasilkan otot saat berkontraksi, dan panas pemendekan (shortening heat), yang sebanding dengan besarnya pemendekan otot. Panas pemendekan timbul karena beberapa perubahan pada susunan otot selama pemendekan otot. Setelah kontraksi, pembentukan panas sebagai kelebihan panas istirahat berlangsung selama 30 menit. Panas pemulihan (recovery heat) ini adalah panas yang dilepaskan melalui proses metabolik yang mengembalikan otot ke keadaan sebelum kontraksi. Recovery heat otot kira-kira setara dengan initial heat; artinya panas yang dihasilkan selama pemulihan setara dengan panas yang dihasilkan selama kontraksi. Bila otot yang telah berkontraksi isotonik di-kembalikan ke panjang semula, terjadi panas tambahan disamping recovery heat yaitu panas relaksasi = relaxation heat. Harus dilakukan kerja luar pada otot untuk mengembalikan ke panjang semula, dan panas relaksasi terutama merupakan manifestasi kerja tersebut.1 10. Observasi klinis terhadap aktifitas otot a. Kekuatan Otot Mintalah pasien melakukan gerakan-gerakan yang terutama dilakukan oleh otot-otot yang akan diperik-sa. Lalu, mintalah pasien untuk melakukan masing-masing gerakan melawan tahanan dan bandingkan kekuatan otot-otot pada kedua sisi. Putusnya saraf tepi yang mempersarafi otot atau penyakit yang me-ngenai sel-sel columna anterior grisea (misalnya po-liomielitis) akan mengurangi kekuatan atau me-lumpuhkan otot-otot terkait. b. Atrofi Otot (Muscle Wasting) Atrofi otot terjadi dalam waktu 2 sampai 3 minggu setelah saraf motorik terputus. Di ekstremitas, atrofi mudah diperiksa dengan mengukur diameter ekstremitas di suatu titik di atas otot yang terkena dan membandingkan hasil pengukuran yang didapat di tempat yang sama pada ekstremitas sisi lain c. Fasikulasi Otot

Kedutan kelompok serabut otot paling sering terlihat pada pasien dengan penyakit kronik yang mengenai sel cornu anteriormisalnya atrofi otot progresif. d. Kontraktur Otot Kontraktur otot umumnya terjadi pada otot-otot yang secara normal beroposisi dengan otot-otot yang mengalami paralisis. Otot-otot tersebut berkontraksi dan mengalami pemendekan permanen. e. Tonus Otot Sebuah otot tanpa tonusbila lengkung refleks se-derhana tidak berfungsitidak dapat berkontraksi dan pada palpasi teraba lunak seperti adonan. Dera-jat penurunan tonus dapat diuji secara pasif dengan menggerakkan sendi-sendi dan membandingkan re-sistensi terhadap gerakan yang dilakukan otot di kedua sisi tubuh. Peningkatan tonus otot dapat terjadi setelah menghilangkan inhibisi cerebri pada formatio reticularis (lihat halaman 187). f. Koordinasi Otot Jika pasien tidak bisa menyentuh puncak hidung dengan menggunakan ujung jari telunjuk dengan mata tertutup. Jika pasien tidak bisa meletakkan satu tumit pada lutut kaki lain-nya dengan mata tertutup.6 11. Mekanisme kontraksi otot secara umum Inisiasi dan eksekusi kontraksi otot berlangsung dalam tahap-tahap ber-urutan berikut a. Potensial aksi menjalar di sepanjang suatu saraf motorik hingga ke ujungnya di serat otot; dan saraf tersebut mengeluarkan sejumlah kecil bahan neurotransmiter asetilkolin. b. Asetilkolin bekerja pada suatu daerah di membran otot untuk membuka saluran bergerbang-asetilkolin, yang memungkinkan ion natrium meng-alir kc dalam serat otot. c. Potensial aksi berjalan di sepanjang membran serat otot, menyebabkan retikulum sarkoplasma membebaskan ion kalsium yang telah tersimpan di retikulum ke dalam miofibril. d. Ion kalsium memicu gaya-gaya tarik antara filamen aktin dan miosin, menyebabkan keduanya saling bergeser (sliding); ini adalah proses kontraksi. e. Setelah sepersekian detik, ion kalsium dipompa kembali ke dalam reti-kulum sarkoplasma, tempat ion-ion ini disimpan sampai datang poten-sial aksi otot; pengeluaran ion kalsium dari miofibril ini menyebabkan kontraksi otot berhenti.7 Energetika Kontraksi Otot Kontraksi Otot Memerlukan ATP untuk Melaksanakan Tiga Fungsi Utama Sebagian besar ATP digunakan untuk mengaktifkan mekanisme walk-along pada kontraksi otot. Kalsium dipompa balik ke dalam retikulum sarkoplasma setelah kontraksi berakhir. Ion natrium dan kalium dipompa melalui membran serat otot untuk mem-pertahankan lingkungan ionik bagi penjalaran potensial aksi. Terdapat Tiga Sumber Utama Energi untuk Kontraksi Otot. Konsentrasi ATP di serat otot hanya memadai untuk mempertahankan kontraksi penuh selama 1 sampai 2 detik. Setelah ATP diuraikan menjadi adenosin difosfat (ADP), ADPmengalami refosforilasi untuk membentuk ATPbaru. Terdapat beberapa sumber energi untuk reaksi refosforilasi ini. Fosfokreatin membawa suatu ikatan berenergi-tinggi serupa dengan yang terdapat pada ATP tetapi energi bebasnya lebih besar. Energi yang dibebaskan dari ikatan ini menyebabkan melekatnya ion fosfat bam ke ADP untuk membentuk kembali ATP. Energi kombinasi ATP dan fosfokreatin mampu menghasilkan kontraksi otot maksimal hanya selama 5 sampai 8 detik. Penguraianglikogenmenjadi asam piruvatdan asam laktatmembebaskan energi yang kemudian digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Reaksi glikolitik dapat berlangsung meskipun tidak terdapat oksigen. Laju pembentukan ATP oleh proses glikolitik adalah sekitar 2,5 kali lebih cepat dibandingkan pembentukan ATP ketika bahan makanan sel bereaksi dengan oksigen. Glikolisis saja dapat mempertahankan kontraksi otot maksimal hanya sekitar 1 menit. Metabolisme oksidatif terjadi ketika oksigen berikatan dengan berbagai bahan makanan seluler untuk membebaskan ATP. Lebih dari 95 persen energi yang digunakan oleh otot untuk melakukan kontraksi

menetap jangka-panjang berasal dari sumber ini. Bahan makanan yang dikonsumsi adalah karbohidrat, lemak, dan protein.8 12. Mekanisme kontraksi otot rangka Penjumlahan Gaya Adalah Penambahan Masing-masing Kontraksi Kedut (Twitch) untuk Meningkatkan Intensitas Kontraksi Otot Keseluruhan. Penjumlahan berlangsung dalam dua cara. a. Penjumlahan unit motorik multipel. Jika sistem saraf pusat mengirim suatu sinyal lemah untuk mengontraksikan otot, unit-unit motorik di otot yang mengandung serat otot paling kecil dan paling sedikit akan lebih dirangsang dibandingkan dengan unit motorik yang lebih besar. Kemudian, seiring dengan bertambahnya kekuatan sinyal, unit-unit motorik besar juga mulai tereksitasi, dan unit motorik terbesar sering memiliki kekuatan kontraksi hingga 50 kali dibandingkan dengan unit terkecil. b. Penjumlahan jrekuensi dan tetanisasi. Seiring dengan meningkatnya frekuensi kontraksi otot, tercapai suatu titik di mana setiap kontraksi baru terjadi sebelum kontraksi sebelumnya berakhir. Akibatnya, kontraksi kedua ditambahkan secara parsial ke kontraksi pertama, sehingga kekuatan kontraksi total meningkat progresif seiring dengan meningkatnya frekuensi. Ketika frekuensi mencapai suatu titik kritis, kontraksi-kon-traksi yang berurutan menyatu dan kontraksi otot tampak mulus; hal ini dinamai tetanisasi.7 13. Langkah-langkah penggabungan eksitasi-kontraksi dan relaksasi a. Asetilkolin yang dikeluarkan dari ujung terminal neuron motorik mengawali potensial aksi di sel otot yang merambat ke seluruh permukaan membran. b. Aktivitas listrik permukaan dibawa ke bagian tengah (sentral) serat otot oleh tubulus T c. Penyebaran potensial aksi ke tubulus T mencetuskan pelepasan simpanan Ca++ dari kantung-kantung lateral retikulum sarkoplasma di dekat tubulus. d. Ca++ yang dilepaskan berikatan dengan troponin dan mengubah bentuknya, sehingga kompleks troponin-tropomiosin secara fisik tergeser ke samping, membuka tempat pengikatan jembatan silang aktin. e. Bagian aktin yang telah terpajan tersebut berikatan dengan jembatan silang miosin, yang sebelumnya telah mendapat energi dari penguraian ATP menjadi ADP + Pi + energi oleh ATPase miosin di jembatan silang. f. Pengikatan aktin miosin di jembatan silang menyebabkan jembatan silang menekuk, menghasilkan suatu gerakan mengayun kuat yang menarik filamen tipis ke arah dalam. Pergeseran ke arah dalam dari semua filamen tipis yang mengelilingi filamen tebal memperpendek sarkomer (yaitu kontraksi otot). g. Selama gerakan mengayun yang kuat tersebut, ADP dan Pi dibebaskan dari jembatan silang. h. Pelekatan sebuah molekul ATP baru memungkinkan terlepasnya jembatan silang, yang mengembalikan bentuknya ke konformasi semula. i. Penguraian molekul ATP baru oleh ATPase miosin kembali memberikan energi bagi jembatan silang. j. Apabila Ca++ masih ada sehingga kompleks troponin-tropomiosin tetap bergeser ke samping, jembatan silang kembali menjalani siklus pengikatan dan penekukan, menarik filamen tipis selanjutnya. k. Apabila tidak lagi terdapat potensial aksi lokal dan Ca++ secara aktif telah kembali ke tempat penyimpanannya di kantung lateral retikulum sasrkoplasma, kompleks troponin-tropomiosin bergeser kembali ke posisinya menutupi tempat pengikatan jembatan silang aktin, sehingga aktin dan miosin tidak lagi berikatan di jembatan silang, dan filamen tipis bergeser kembali ke posisi istirahat seiring dengan terjadinya proses relaksasi.6 14. Tonus otot dan kerja otot Sebuah unit motorik terdiri dari satu neuron motorik di columna (cornu) anterior grisea medulla spinalis dan semua serabut otot yang dipersarafinya (Gambar 3-41). Pada otot bokong yang besarseperti m.gluteus maximus, yang tidak memerlukan kontrol halus neuron motorik dapat mempersarafi sampai 200 serabut otot. Sebaliknya, otot yang membutuhkan kontrol halus seperti otot-otot kecil di tangan atau otot-otot ekstrinsik bola mata, satu serabut saraf hanya mempersarafi beberapa serabut otot. Setiap otot rangkapada waktu istirahatberada dalam keadaan kontraksi parsial. Kondisi ini disebut tonus

otot. Karena tidak ada keadaan intermediate, serabut otot harus berada dalam keadaan kontraksi penuh atau relaksasi; keadaan ini menyebabkan beberapa serabut otot di dalam otot selalu berkontraksi penuh. Untuk menimbulkan keadaan tersebut, serta menghindari kelelahan otot, beberapa kelompok unit motorik yang berbeda, jadi beberapa kelompok serabut otot yang berbeda, bekerja secara bergantian. Keadaan ini terjadi dengan adanya pelepasan impuls saraf yang tidak bersamaan pada neuron motorik di dalam cornu anterior grisea medulla spinalis. Pada dasarnya, tonus otot bergantung pada inte-gritas lengkung refleks monosinaptik sederhana yang terdiri dari dua neuron di susunan saraf. Pemanjangan dan pemendekan otot dideteksi oleh ujung-ujung sensorik yang sensitif dan disebut muscle spindle (lihat halaman 102), sedangkan tegang-an dideteksi oleh tendon spindle (lihat halaman 105). Impuls saraf berjalan di dalam serabut aferen besar menuju medulla spinalis. Di sana, serabut aferen ber-sinaps dengan neuron motorik yang terletak pada cornu anterior grisea, yang kemudian mengirimkan impuls melalui akson-aksonnya ke serabut-serabut otot (lihat Gambar 3-42). Muscle spindle sendiri dipersarafi oleh serabut eferen gamma kecil yang meng-atur respon muscle spindle; bertindak secara sinergis dengan peregangan eksternal. Dengan cara ini, tonus otot dipertahankan secara refleks dan disesuaikan dengan kebutuhan postur dan gerakan. Jika jaras-jaras aferen dan eferen lengkung refleks terpotong, otot akan segera kehilangan tonusnya dan menjadi/facad. Pada palpasi, otot yang flaccid terasa seperti adonan donat dan sama sekali tidak memiliki ketahanan. Otot segera mengalami atrofi dan ber-kurang volumenya. Penting untuk disadari bahwa tingkat aktivitas sel-sel motorik cornu anteriordengan demikian derajat tonus ototbergantung pada penjumlahan impuls-impuls saraf yang diterima oleh sel-sel tersebut dari neuron-neuron lain susunan saraf. Gerakan otot dicapai dengan peningkatan jumlah unit motorik yang bekerja danpada waktu bersamaanmenurunkan aktivitas unit motorik otot-otot yang melakukan gerakan oposisi atau antagonis. Bila di-butuhkan kerja maksimum, semua unit motorik sebuah otot akan bekerja. 8 iii. Peranan saraf pada otot ekstremitas atas SISTEM SARAF SEBAGAI EFEKTOR Susunan saraf dapat dibayangkan sebagai him-punan kompleks sirkuit saraf yang berfungsi teruta-ma untuk mengatur aktivitas efektor-efektor tu-buh: otot-otot dan kelenjar-kelenjamya. Hanya dengan merangsang otot untuk berkontraksi (atau berelaksasi) dan kelenjar untuk mensekresi, susunan saraf itu dapat menyatakanclirinya secara ter-buka. Susunan saraf somatik mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktivitas otot-otot seran-lintang (sadar), sedangkan susunan saraf otonom (viseral) (Bab 6) berperan untuk mempengaruhi jantung, otot polos (tidak-sadar), dan sel kelenjar. Sikap-tubuh ialah sikap yang merupakan dasar bagi aktivitas motorik somatik yanw kompleks. Sikap-tubuh masing-masing dipertahankan melalui deretan refleks dan reaksi yang rumit yang n.eng-gunakan sirkuit umpan-balik yang bekerja sinambung melalui beberapa tingkat segmen kontrol. Arus lancar aktivitas otot seran-lintang dari sikap tubuh satu ke sikap tubuh lain ialah suatu gerak. Dalam konteks ini, sikap-tubuh ialah rangka bagi semua gerak, baik yang kasar, stereotip, mahir (skilled), atau sadar.9 Persarafan Otot Rangka Otot rangka dipersarafi oleh satu atau lebih saraf. Persarafan pada ekstremitas, kepala, dan leher biasa-nya tunggal, tetapi pada otot-otot besar dinding abdomen persarafannya multipel. Otot-otot dinding abdomen mempertahankan segmen-segmen persarafan embrioniknya. 8 Persarafan dan vaskularisasi ke sebuah otot ma-suk melalui tempat yang kurang lebih sama yang disebut hilus neurovaskular. Saraf yang menuju otot terdiri dari serabut-serabut motorik dan sensorik. Serabut motorik terdiri dari tiga jenis: a. Serabut ber-mielin alfa yang besar b. Serabut bermielin gamma yang kecil c. Serabut tidak bermielin C halus. Akson yang bermielin besar pada sel-sel alfa cornu anterior mempersarafi serabut-serabut ekstrafusal yang membentuk massa otot utama. Serabut bermielin gamma kecil mempersarafi serabut intrafusal

neuromuscular spindle. Serabut halus yang tidak bermielin adalah eferen postganglionik otonom yang mempersarafi otot polos di dinding pembuluh darah. Serabut saraf sensorik terdiri dari tiga tipe: a. serabut bermielin, yang berasal dari annulospiral dan flower endings neuromuscular spindle b. serabut bermielin, yang berasal dari neurotendinous spindle; dan c. serabut bermielin dan tidak bermielin, yang berasal dari berbagai ujung sensorik di jaringan ikat otot8 UNIT MOTORIK Unit motorik dapat didefinisikan sebagai sebuah neuron motorik alfa dengan serabut-serabut otot yang dipersarafinya (Gambar 3-31). Serabut otot sebuah unit motorik tersebar luas di seluruh otot. Bila dibutuhkan kendali otot yang tepat dan halusseperti pada otot ekstraokular atau otot-otot kecil pada tanganunit motorik hanya memiliki beberapa serabut otot. Namun, pada otot ekstremitas yang besarseperti pada m. gluteus maximusyang tidak dibutuh-kan kendali akurat, sebuah saraf motorik yang dapat mempersarafi beratus-rafus serabut saraf. 8 Taut Neuromuskular pada Otot Rangka Setiap serabut saraf bermielin alfa yang besar yang masuk ke otot rangka membentuk banyak cabang. Jumlah cabang bergantung pada ukuran unit motorik-nya. Selanjutnya, sebuah cabang akan berakhir pada otot rangka di tempat yang disebut taut neuromuskular (neuromuscular junction) atau motor end-plate (Gambar 3-32 dan 3-33). Sebagian besar serabut-serabut otot hanya dipersarafi oleh satu motor endplate. Saat mencapai serabut otot, saraf kehilangan selubung mielinnya dan pecah membentuk cabangcabang halus. Masing-masing saraf berakhir sebagai akson yang terbuka dan membentuk unsur neural motor end-plate (Gambar 3-34). Akson akan sedikit melebar serta me-ngandung banyak mitokondria dan vesikel-vesikel (berdiameter sekitar 45 nm). Pada motor end-plate, per-mukaan serabut otot sedikit meninggi serta membentuk unsur otot dan sering disebut sole plate (Gambar 3-32). Elevasi terjadi akibat akumulasi setempat sarkoplasma granular di bawah sarkolema serta ter-dapat banyak inti dan mitokondria. Akson terbuka yang melebar terletak pada alur permukaan serabut otot. Masing-masing alur dibentuk oleh lipatan sarkolema ke dalam. Alur-alur tersebut dapat bercabang-cabang, masing-masing cabang mengandung bagian akson. Penting untuk disadaribah-wa akson benar-benar terbuka; sel Schwann hanya bertindak sebagai penutup atau atap dari alur dan tidak pernah menonjol ke dalamnya. Dasar alur dibentuk oleh sarkolema yang membentuk lipatan-lipatan yang disebut junctional fold; lipatan-lipatan tersebut berfungsi untuk memperluas area permukaan sarkolema yang terletak di dekat akson yang terbuka (Gambar 3-35). Membran plasma akson (aksok ma atau membran prasinaps) dipisahkan dari men bran plasma serabut otot (sarkolema atau membra pascasinaps) oleh ruangan selebar 30-50 nm. Ruar ini merupakan celah sinaps. Celah sinaps terisi d ngan membrana basalis akson dan serabut oh (Gambar 3-32). Motor end-plate diperkuat oleh sarui jaringan ikat serabut sarafendoneuriumyang m nyambung dengan sarung jaringan ikat serabut otc yaitu endomisium. Suatu impuls saraf (potensial aksi), pada saat me capai membran prasinaps motor end-plate, membu) kanal-kanal voltage-gated Ca2+ yang memungkink ion-ion Ca2+ masuk ke dalam akson. Keadaan menstimulasi penggabungan beberapa vesikel sina tik dengan membran prasinaps dan menyebabk pelepasan asetilkolin ke celah sinaps. Selanjutnj asetilkolin dilepaskan ke celah sinaps melalui pros eksositosis dan segera menyebar ke dalam celah u tuk mencapai reseptor Ach tipe nikotinik di me bran pascasinaps junctional fold. Membran pascasina memiliki banyak pintu kanal Ach. Begitu pintu kanal terbuka, membran pascasina menjadi lebih permeabel terhadap ion Na+ ya mengalir ke dalam sel-sel otot dan terjadi potens lokal yang disebut end-plate potential. (Pintu kar Ach juga permeabel terhadap ion K+ yang keluar d sel, namun dalam jumlah yang lebih kecil). Jika en plate potential sudah cukup besar, kanal voltage-ga untuk ion Na+ terbuka dan timbul potensial aksi ya menyebar sepanjang permukaan sarkolema. Gelo bang depolarisasi diteruskan ke serabut otot o sistem tubulus T menuju miofibril yang kontrak Hal ini menyebabkan pelepasan ion-ion Ca+ dari re kulum sarkoplasma yang akan menimbulkan kontra otot. Jumlah asetilkolin yang dilepaskan di motor ei plate sesuai dengan jumlah impuls yang diterima ujung-ujung

saraf. Begitu melewati celah sinaps c memicu kanal-kanal ion di membran pascasina asetilkolin akan mengalami hidrolisis akibat adan enzim asetilkolinesterase (AChE) (Gambar 3-: Enzim tersebut melekat pada serabut-serabut kolag membrana basalis di dalam celah; sebagian asetil lin juga berdifusi keluar dari celah sinaps. Asetilko melekat pada membran pascasinaps sekitar 1 milii tik, dan segera dihancurkan untuk mencegah reel tasi serabut otot. Setelah konsentrasi asetilkolin celah sinaps berkurang, kanal-kanal ion menutup d tetap tertutup sampai asetilkolin datang lebih banyak. 8 III. Penutup a. Simpulan Sel bukan-otot melakukan pelbagai tipe kerja mekanis yang dilaksanakan oleh struktur yang merupakan sitoskeleton. Struktur ini mencakup filamen aktin (mikrofilamen), mikrotubulus (yang terutama tersusun dari a-tubulin serta (3-tubulin), dan filamen intermedia. Yang disebutkan terakhir ini mencakup keratin, protein mirip-vimentin, neurofilamen dan lamin.3 Tremor pada ekstremitas atas dipengaruhi oleh peranan saraf yang mempengaruhi kerja otot.