P. 1
SKRIPSI

SKRIPSI

5.0

|Views: 741|Likes:
Dipublikasikan oleh Mas Hisyam BrotherSharks

More info:

Published by: Mas Hisyam BrotherSharks on Jan 15, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2013

pdf

text

original

Sections

  • 3.1.3 Konsep Perawatan Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
  • 3.2 Mutu Pelayanan
  • 3.2.2 Pengukuran Mutu
  • 3.2.3 Indikator Mutu
  • 3.4 Karakteristik Pasien
  • 3.4.1 Usia
  • 3.4.2 Jenis Kelamin
  • 3.4.3 Tingkat pendidikan
  • 3.4.4 Tingkat ekonomi
  • 3.5 Keadaan umum
  • 3.6 Jenis Penyakit
  • 3.7 Tingkat Keparahan Penyakit
  • 3.8 Response time
  • 3.9 Supervisi
  • 3.10 Evaluasi
  • 4.1 Kerangka Konseptual
  • 5.1 Jenis dan Rancang Bangun penelitian
  • 5.2 Populasi Penelitian
  • 5.3.1 Sampel
  • 5.3.2 Besar Sampel
  • 5.3.3 Cara Penentuan Sampel
  • 5.3.4 Cara Pengambilan Sampel
  • 5.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
  • 5.5 Kerangka Operasional
  • 5.6 Variabel Penelitian
  • 5.7 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel
  • 5.8 Teknik Analisis
  • 6.2 Karakteristik Pasien
  • 6.2.1 Usia
  • 6.2.2 Jenis Kelamin
  • 6.2.3 Tingkat Pendidikan
  • 6.2.4 Tingkat Ekonomi
  • 6.3 Kondisi Pasien Waktu Masuk Rumah Sakit
  • 6.3.1 Keadaan Umum
  • 6.3.2 Jenis Penyakit
  • 6.3.3 Tingkat Keparahan
  • 6.4 Response Time
  • 6.4.1 Kecepatan diagnosis dan tindakan
  • 6.4.2 Ketepatan Diagnosis
  • 6.5 Supervisi
  • 6.6 Evaluasi
  • 6.7 Isu Strategis
  • 7.1 Faktor Pasien
  • 7.1.1 Usia
  • 7.1.2 Jenis Kelamin
  • 7.1.3 Tingkat Pendidikan
  • 7.1.4 Tingkat Ekonomi
  • 7.1.5 Keadaan umum
  • 7.1.6 Jenis Penyakit
  • 7.1.7 Tingkat Keparahan
  • 7.2 Faktor Proses Pelayanan
  • 7.2.1 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan
  • 7.2.2 Ketepatan diagnosis
  • 7.3 Supervisi
  • 7.4 Evaluasi
  • Total

SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB NET DEATH RATE TINGGI DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD BANGIL

.........

Oleh :

INDRYA AYU NURFANY NIM. 100730351

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT SURABAYA 2009

i

SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB NET DEATH RATE TINGGI DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD BANGIL

.........

Oleh :

INDRYA AYU NURFANY

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT SURABAYA 2009

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

Oleh :

INDRYA AYU NURFANY NIM. 100730351

Surabaya, Agustus 2009 Mengetahui, Ketua Departemen, Menyetujui, Pembimbing,

Dr.Thinni Nurul Rochmah, Dra.Ec., M.Kes NIP. 196502111991032002

Prof. Dr. Stefanus Supriyanto, dr., M.S NIP. 194509161978021001

iii

PENGESAHAN

Dipertahankan di Depan Tim Penguji Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga dan diterima untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) pada tanggal 13 Agustus 2009

Mengesahkan Universitas Airlangga Fakultas Kesehatan Masyarakat

Dekan,

Prof. Dr. J. Mukono, dr., M.S., M.PH NIP. 194706171978021001

1. 2. 3.

Tim Penguji: Sudarmaji, S.KM., M.Kes Prof. Dr. Stefanus Supriyanto, dr., M.S Dyah Kusuma Triwardani, S.T., M.Kes

ii

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan barokah-Nya yang tiada henti kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NET DEATH RATE TINGGI DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD BANGIL KABUPATEN PASURUAN”, sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar S.KM. NDR yang merupakan indikator mutu pelayanan rawat inap Rumah Sakit. Semakin tinggi NDR maka mutu pelayanan semakin buruk. Selama tiga tahun terakhir dari tahun 2006-2008 rata-rata 52/‰ jauh dari standar Depkes yaitu 25/‰. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor yang menyebabkan NDR tinggi di ruang rawat inap interne dan menyusun rekomendaasi bagi pihak managemen RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan. Dengan terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan arahan yang diberikan kepada penulis. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. Stefanus Supriyanto, dr., M.S selaku dosen pembimbing. Selanjutnya ucapan terima kasih juga disampaikan kepada: 1. Prof. Dr. J. Mukono, dr., M.S., M.PH selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya. 2. Dr. Thinni Nurul Rochmah, Dra.Ec., M.Kes selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. 3. Direktur RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan dan karyawan yang telah membantu memberikan informasi pada saat penelitian. 4. Ibu dan Papa (Alm) tercinta atas doa, kasih sayang, pendidikan, dan pengetahuan sebagai bekal hidupku. 5. Mama dan Papa (Alm) mertuaku atas doa dan dukungannya. 6. Suamiku Gerry Dadag Athura dan anakku Mohammad Azza Kamal Mubarak terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini. 7. Adikku Putri dan kakakku Wawan terima kasih atas doa dan dukungannya. 8. Dr. Azizah atasanku di Rekam Medis RSUD Bangil, terima kasih atas ijin dan dukungannya. 9. Teman-temanku satu kantor (Bu Titik, Bu Maizuna, Mbak Tutik, Pak Mulyadi, Pak Roni, Pak Ismail, Pak Suwaji, Zaki, Noval) terima kasih atas dukungannya. 10. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas semua bantuan dan dorongan yang telah diberikan kepada penulis dan semoga skripsi ini berguna baik bagi penulis sendiri maupun semua pihak yang membacanya.

Surabaya, Agustus 2009

iv

ABSTRACT

One indicator of hospital quality is the net death rate of incidence of death in patients ≥ 48 hours after being treated in hospital. Genesis NDR at room inpatient hospital interne Bangil high enough - average year 2006 - 2008 by 52 ‰. The aim of this study was to investigated factors that influence the occurrence of NDR. This research was observational research with cross sectional approach. This research instrument took sample of 176, ie large sample of existing inpatient room interne in April 2009. Quantitative research data prepared by the method of univariate, bivariate and multivariate logistic regression analysis with the test. The result of this research showed that the highest percentage incidence of NDR on the factors: 1) patient factors, age between 45-64 years of 43.8%, male gender - men 55%, primary school education level of 79.2%. Type of chronic disease by 100%, the severity of weight equal to 100%. 2) Service factor, speed of diagnosis and measures less than 1 day at 100%, accuracy of diagnosis of 91.7%. 3) Supervision conducted 1 X / day. 4) The evaluation is rarely done either specialists or medical committee. Based on the research, it is concluded that factors - factors that have an influence on the incidence of NDR is the education level, type and accuracy of disease diagnosis. So the suggestion of this research is IEC to the community, improve service quality, add support enforcement diagnostic tool and take advantage of intensive care room.

Keywords: NDR, Quality Performance, Room Inpatient Interne

v

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan crossectional. Kejadian NDR di ruang rawat inap interne RSUD bangil cukup tinggi rata – rata tahun 2006 – 2008 sebesar 52‰. 3)Supervisi dilakukan 1 X/hari. 2)Faktor Pelayanan. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil persentase terbesar kejadian NDR ada pada faktor : 1)Faktor pasien. usia antara 45 – 64 tahun sebesar 43. data penelitian diolah secara kuantitatif dengan metode univariate. 4)Evaluasi jarang dilakukan baik dokter spesialis maupun komite medik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor – faktor yang mempunyai pengaruh terhadap kejadian NDR adalah tingkat pendidikan semakin. tingkat pendidikan SD sebesar 79.ABSTRAK Salah satu indikator mutu rumah sakit adalah net death rate yaitu kejadian kematian pasien ≥ 48 jam setelah dirawat di rumah sakit. Kata kunci : NDR.8%. meningkatkan kualitas pelayanan. jenis penyakit dan ketepatan diagnosis. bivariate dan multivariate dengan uji analisa regresi logistik. Kinerja Mutu. Instrumen penelitian ini mengambil sampel sebesar 176. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi terjadinya NDR. jenis kelamin laki – laki sebesar 55%. Maka saran atas penelitian ini adalah KIE kepada masyarakat. Jenis penyakit kronis sebesar 100%. kecepatan diagnosis dan tindakan < 1 hari sebesar 100%.7%.2%. yaitu besar sample yang ada diruang rawat inap interne pada bulan April 2009. menambah alat penunjang penegak diagnostik serta memanfaatkan ruang perawatan intensive. Ruang Rawat Inap Interne vi . ketepatan diagnosis sebesar 91. tingkat keparahan berat sebesar 100%.

5 Faktor Proses Pelayanan 1.2 Tujuan Khusus 2.1 Konsep Rumah Sakit 3.2 Faktor Metode 1.1 Faktor Sumber Daya Manusia 1.1 Tujuan Umum 2.3 Faktor Fasilitas 1.2.2 Kajian Masalah 1.1.1 Pengertian Rumah Sakit 3.2 Macam Rumah Sakit i ii iii iv v vi vii xi xii xiii xiv 1 1 5 6 7 7 8 8 9 9 10 10 10 10 10 12 12 12 13 x .2 Manfaat Penelitian BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.4 Faktor Pasien 1.1 Latar Belakang 1.4 Batasan Masalah BAB II TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 2.2.2.1 Tujuan 2.3 Rumusan Masalah 1.1.2.1.2.1.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERSETUJUAN KATA PENGANTAR ABSTRACT ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN BAB I PENDAHULUAN 1.

3 Konsep Perawatan Tugas dan Fungsi Rumah Sakit 3.4 Cara Pengambilan Sampel 5.3. Cara Penentuan Sampel dan Cara Pengambilan Sampel 5.5 Kerangka Operasional 5.1 Sampel 5.4.2 Jenis Kelamin 3.1 Jenis dan Rancang Bangun Penelitian 5. Besar Sampel.4.4.3.4.3.3.3 Sampel.10 Evaluasi BAB IV KERANGKA KONSEPTUAL BAB V METODE PENELITIAN 5.7 Tingkat Keparahan Penyakit 3.2.1 Pengertian Mutu 3.6 Variabel Penelitian 5.3 Cara Penentuan Sampel 5.7 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel 5.5 Keadaan Umum 3.6 Jenis Penyakit 3.1 Usia 3.2 Poplasi Penelitian 5.4 Karakterisktik Pasien 3.3 Net Death Rate 3.4 Tingkat Ekonomi 3.1.2.2 Besar Sampel 5.3.8 Response Time 3.2.2 Pengukuran Mutu 3.2 Mutu Pelayanan 3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian 5.9 Supervisi 3.3 Tingkat Pendidikan 3.8 Teknik Analisis 18 18 19 19 20 21 23 23 24 24 24 25 25 25 25 26 27 31 33 33 33 33 33 33 34 34 34 35 36 37 39 x .3 Indikator Mutu 3.

3.1 Faktor Pasien 7.3.2.4 Evaluasi 42 42 43 43 44 45 45 46 46 47 48 48 49 49 50 50 53 54 54 54 54 55 56 56 57 57 58 58 59 60 60 x .3 Tingkat Keparahan 6.4.6 Evaluasi 6.BAB VI HASIL 6.2 Ketepatan Diagnosis 7.2.2.2 Jenis Kelamin 6.2 Jenis Kelamin 7.2 Jenis Penyakit 6.2.6 Jenis Penyakit 7.1 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan 6.1 Usia 6.3 Kondisi Pasien Waktu Masuk Rumah Sakit 6.4.2 Faktor Proses Pelayanan 7.3 Tingkat pendidikan 7.1 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan 7.5 Keadaan Umum 7.1 Keadaan Umum 6.5 Supervisi 6.3 Supervisi 7.4 Tingkat Ekonomi 7.4 Response Time 6.2 Ketepatan Diagnosis 6.3 Tingkat Pendidikan 6.2.4 Tingkat Ekonomi 6.1.1 Hasil Penelitian 6.1 Usia 7.1.1.3.2 Karakteristik Pasien 6.2.7 Tingkat Keparahan 7.1.1.7 Isu Strategis BAB VII PEMBAHASAN 7.1.1.

1 Kesimpulan 8.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 61 61 61 x .BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.

DAFTAR TABEL Nomor 1.12 51 xi .2 1.1 Dis Dist 6.2 Distribusi 6.8 47 47 48 6.10 49 6.11 50 6.4 6.1 1.9 49 6.3 5.2008 Distribusi GDR pada RRI RSUD Bangil Tahun 2006 .3 Distribusi 6.1 6.5 Judul Tabel Gambaran Tingkat Pemanfaatan RSUD Bangil Tahun 2006 .2008 Distribusi NDR pada RRI RSUD Bangil Tahun 2006 .7 6.2008 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel Penelitian Distribusi Tenaga Yang Ada Di Ruang Interne RSUD Bangil Tahun 2009 Distribusi Kelompok Usia terhadap Kategori Pasien Keluar di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Pendidikan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Tingkat Ekonomi Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Keadaan Umum Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Kelompok Usia Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Tingkat Keparahan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Kecepatan Diagnosis Dan Tindakan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Ketepatan Diagnosis Dokter Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Supervisi Dokter Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Hasil Uji Regresi Logistik Berganda Halaman 2 3 4 37 43 44 44 45 46 6.6 Distribusi 6.

1 4.1 5.DAFTAR GAMBAR Nomor 1.5 Judul Gambar Kajian Masalah Kerangka Konseptual Kerangka Operasional Halaman 5 31 35 xii .

2.DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1. Judul Lampiran Crosstabs Logistic Regression Halaman xiii .

DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN Daftar Arti Lambang > < ≥ ≤ / % ‰ = Lebih Dari = Kurang dari = Lebih Sama Dengan Dari = Kurang Sama Dengan Dari = Atau = Sampai dengan = Persentase = Permil Daftar Singkatan RSUD TT BOR AvLOS TOI BTO NDR GDR UGD Depkes RI RRI SOP SDM PP WHO RPK SD = Rumah Sakit Umum Daerah = Tempat Tidur = Bad Occupancy Rate = Avarage Length of Stay = Turn Over Interval = Bet Turn Over = Net Death Rate = Gross Death Rate = Unit Gawat Darurat = Departemen Kesehatan = Republik Indonesia = Ruang Rawat Inap = Standard Operating Procedure = Sumber Daya Manusia = Peraturan Pemerintah = World Health Organization = Rencana Pelaksanaan Kegiatan = Sekolah Dasar xiv .

1 Latar Belakang Rumah Sakit Umum Daerah Bangil (selanjutnya disingkat RSUD Bangil) sebagai rumah sakit type C.BAB I PENDAHULUAN 1. setelah kepindahan menjadi 160 tempat tidur. Dari tempat yang lama seluas 1.7 Ha ke tempat yang baru seluas 7 Ha. Pada awal tahun 2008 tepatnya bulan April – Mei 2008 RSUD Bangil berpindah lokasi dari Kecamatan Bangil ke Kecamatan Raci yang masih satu wilayah Kabupaten Pasuruan. dokter praktek.1. dan tahun 2009 bertambah menjadi 176 tempat tidur. tenaga kesehatan lain maupun rumah sakit swasta di wilayah Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya. fasilitas dan jenis pelayanan pun ditambah secara bertahap diantaranya adalah poliklinik dan jumlah tempat tidur. Dari sebelum kepindahan poliklinik berjumlah 12 spesialis setelah kepindahan menjadi 15 spesialis. 1 . melayani 12 spesialis dan umum serta sebagai rumah sakit rujukan bagi puskesmas. Jumlah tempat tidur yang sebelum kepindahan sebanyak 124 tempat tidur. Bersamaan dengan kepindahan ke lokasi yang lebih luas. Untuk mengetahui gambaran tingkat pemanfaatan RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 1. Proses kepindahan dilaksanakan secara bertahap dimulai dari pelayanan rawat jalan dan terakhir rawat inap serta instalasi gizi.

1 dapat dilihat bahwa tingkat pemanfaatan rumah sakit masih dalam batas efisien.3 Hari 63.50 Kali 23 24 25/‰ 45/‰ 69 72 30918 30575 54327 55416 8018 8871 - 2006 TT 124 Jumlah Pasien Rawat Inap 7273 BOR 62.1.2 Tabel 1.9 Hari 1. namun pada tahun 2007 ke tahun 2008 cenderung menurun sebesar 0. tren kunjungan rawat jalan naik dari tahun 2006 sampai tahun 2008.93 % hal ini dikarenakan penambahan tempat tidur dari sebelumnya 124 buah menjadi 160 buah. namun tingginya angka GDR akan berdampak terhadap penilaian negatif / .8 40 .80 % 3.3 BTO 58. guna mencapai status tersebut RSUD Bangil harus melalui beberapa tahapan. Gambaran Tingkat Pemanfaatan RSUD Bangil Tahun 2006 .86 AvLOS 3.36 60 .6 NDR 29 GDR 81 Jumlah Hari Perawatan 28452 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan 48400 Jumlah Kunjungan UGD 9699 Sumber : Rekam Medis RSUD Bangil tahun 2008 Dari tabel 1. Ada beberapa indikator mutu pelayanan rumah sakit diantaranya adalah dengan melihat angka kematian yaitu Gross Death rate(GDR) dan Net Death Rate(NDR).9 TOI 2.9 3.43 %. Disamping meningkatkan fasilitas dan pelayanan RSUD Bangil juga berupaya meningkatkan status rumah sakit dari tipe C menjadi tipe B non pendidikan.8 1.9 6 . Demikian juga dengan tren BOR naik dari tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 5.9 1 .2008 Item Tahun Standar Depkes RI 2007 2008 124 124 7879 7937 68.29 67.9 63. Tahapan yang pertama adalah menambah jumlah kunjugan dan meningkatkan mutu pelayanan. Gross death rate atau jumlah total kematian per 1000 penderita keluar rumah sakit belum dapat menggambarkan mutu pelayanan di rumah sakit.

Peringkat tertinggi ada pada ruang interne yaitu sebesar 143/‰. Untuk melihat gambaran mutu pelayanan rawat inap rumah sakit umum daerah bangil dapat dilihat pada tabel 1. Distribusi GDR pada RRI RSUD Bangil Tahun 2006 . Gambaran sesungguhya tentang mutu pelayanan rumah sakit dapat dilihat melalui angka kejadian Net Death Rate (NDR).3 berikut. Meningkatnya Nilai NDR pada sebuah rumah sakit merupakan sebuah indikasi telah terjadi penurunan kinerja yang berakibat menurunnya kualitas atau mutu pelayanan di rumah sakit tersebut.2. peringkat ketiga dan keempat ada pada ruang perinatologi dan ruang paviliun yaitu sebesar 81/‰ dan 59/‰.2008 Ruang Ruang Interne Ruang Anak Ruang Paru Ruang Bedah Ruang Obsgyn PAVILIUN Perinatologi Total GDR (‰) 2007 144 30 141 33 2 49 63 69 Rata – rata (‰) 143 34 126 26 3 59 81 72 2006 144 41 106 34 4 60 95 74 2008 142 32 130 10 2 68 86 72 Sumber : Rekam Medis RSUD Bangil tahun 2008 Dari tabel 1. bedah dan obsgyn masih dalam batas ideal. Sedangkan ruang anak.2 dapat dilihat bahwa GDR rata – rata di ruangan masih tinggi. kemudian diperingkat kedua ada pada ruang paru yaitu sebesar 126/‰. Distribusi angka GDR pada tiap ruang yang ada di RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 1. .2.3 Brand Image masyarakat terhadap rumah sakit. Tabel 1.

5 23 17 25 2006 55 16 51 10 0 23 16 27 2008 46 9 61 4 1 29 19 24 Sumber : Rekam Medis RSUD Bangil tahun 2008 Dari tabel 1. Distribusi NDR pada RRI RSUD Bangil Tahun 2006 .4 Tabel 1.3 dapat dilihat bahwa NDR tertinggi ada pada ruang rawat inap paru sebesar 55/‰ urutan kedua adalah ruang rawat inap interne yaitu sebesar 52/‰.3. Dari angka kejadian NDR tersebut maka masalah yang akan diangkat adalah rendahnya mutu pelayanan di ruang rawat inap interne yang ditunjukkan dengan NDR yang tinggi rerata 52/‰ dari tahun 2006 sampai 2008.2008 Ruang Ruang Interne Ruang Anak Ruang Paru Ruang Bedah Ruang Obsgyn PAVILIUN Perinatologi Total NDR (‰) 2007 54 8 54 1 0. .4 16 15 23 Rata – rata (‰) 52 11 55 5 0. sedangkan NDR untuk ruang rawat inap lain masih dalam batas ideal.

Ketepatan diagnosis c. Jumlah SDM 2. Persepsi tentang pelayanan 4. Peralatan penunjang penegak diagnosis IV. Gaji 2. Kepercayaan terhadap pelayanan Proses Pelayanan 1. Karakteristik Pasien a. Kompensasi Faktor Pasien : 1. Tingkat Pendidikan d. SOP 2. Tingkat Keparahan 3. maka kajian masalahnya adalah sebagai berikut : I. Faktor Fasilitas RS 1. Jenis Kelamin c.2 Kajian Masalah Dari masalah penelian rendahnya mutu pelayanan di ruang rawat inap interne yang ditunjukkan dengan NDR rata-rata 52/‰ pada ruang interne dari tahun 2006 sampai 2008. Faktor finansial 1. Jenis Penyaki c. Faktor SDM 1. Response time: a. Pengalaman kerja 3. Pelatihan 5. Supervisi 4. Rekam Medis III. Tingkat ekonomi 2. Peralatan medis 3. Kondisi pasien waktu masuk rumah sakit : a. Kecepatan diagnosis dan tindakan b.1 Kajian Masalah . Ketepatan tindakan 3. Komitmen petugas 6. Pendidikan 4. Usia b.5 1. Evaluasi NDR yang tinggi rerata 52/‰ diruang interne pada tahun 2006 . Beban kerja II. Fasilitas ruang perawatan 2. Kerjasama tim 2. Keadaan Umum b. Penilaian tentang mutu pelayanan 5. Faktor Metode 1.2008 Gambar 1.

Seperti dikemukakan oleh Deming. human skill. Untuk menurunkan NDR atau meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Komitmen yang tinggi akan mempengaruhi proses pelayanan yang diberikan seperti response time.1 Faktor Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi tingginya NDR di ruang rawat inap interne dan ruang paru. Anggiat (2001) menyatakan bahwa technical skill. ketepatan keperawatan dan terapi yang berdampak pada NDR . pendidikan.6 1. pelatihan yang diikuti mempunyai kaitan dengan bagaimana kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien dan kelanjutannya akan berpengaruh terhadap NDR di ruang rawat inap interne dan ruang paru. Crosby (dalam Gaspers. ketepatan diagnosis. dan managerial skill semakin baik maka akan terjadi peningkatan kualitas proses pelayanan. 1997) bahwa proses perbaikan kualitas memerlukan keseimbangan antara proses dan peningkatan atau perbaikan sumber daya manusia. Kemampuan petugas yang mencakup pengalaman. yang pada akhirnya akan berdampak terhadap penurunan ketidak puasan pelanggan. 2001). maka dibutuhkan komitmen yang tinggi antar anggota tim. ketepatan diagnosis. Kemampuan petugas akan sangat berpengaruh terhadap proses pelayanan baik kecepatan pelayanan (response time). ketepatan perawatan dan terapi. Juran. Sedangkan komitmen seorang terhadap kualitas layanan adalah usaha yang secara terus menerus dilakukan oleh seseorang untuk memberikan layanan melampaui standar kualitas layanan yang ditentukan oleh organisasi atau pesaing (Kadir.2.

Standard Operating Procedure sangat dibutuhkan dalam meningkatkan mutu pelayanan di ruang interne dan paru. Yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas pelayanan dan NDR di ruang interne dan paru. . peralatan yang canggih dan mutahir berpengaruh terhadap kelancaran proses pelayanan kesehatan. rekam medis dan audit mortality berpengaruh terhadap NDR. 1. 1. Dengan adanya SOP rumah sakit dapat menjamin perawatan atau tindakan yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga pada akhirnya NDR dapat diturunkan. Ruang perawatan yang dapat diakses secara mudah.2.7 pada ruang interne. Rekam Medis juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar pemberi pelayanan kesehatan kepada pasien. oleh karena itu rekam medis harus diisi dengan lengkap.2.3 Faktor Fasilitas Fasilitas baik ruang maupun peralatan medis berpengaruh langsung terhadap proses pelayanan yang diberikan kepada pasien.2 Faktor Metode Faktor metode yang terdiri dari SOP. Sedangkan beban kerja dari para petugas di rumah sakit akan mempengaruhi proses pelayanan yang diberikan kepada pasien. pengobatan dan perawatan yang diberikan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya kepada pasien. Rekam Medis merupakan bukti tertulis tindakan. Kelengkapan pengisian rekam medis sangat berpengaruh terhadap kesinambungan pelayanan diberikan kepada pasien.

perawat dan tenaga kesehatan lain diperlukan untuk keberlangsungan terapi dan perawatan yang diberikan kepada pasien.8 Dan pada akhirnya akan meningkatkan mutu pelayanan dan menurunkan angka NDR. Sehingga performa rumah sakit dapat dinilai dari sini. Dampak selanjutnya adalah tingginya NDR tidak dapat ditanggulangi. 1. Apabila salah satu unsur dari tim tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. seperti usia dan jenis kelamin berpengaruh terhadap kerentanan seseorang terhadap penyakit tertentu. Semakin parah kondisi pasien maka penanganannya juga semakin sulit.5 Faktor Proses Pelayanan Kerjasama tim antara dokter.2. maka akan berakibat terganggunya proses pelayanan yang diberikan kepada pasien. semakin lama response time semakin buruk mutu pelayanan yang berikan. Keadaan pasien pada waktu masuk rumah sakit juga berpengaruh terhadap penanganan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Semakin sulit penanganan suatu penyakit maka risiko kematianpun semakin besar. tingkat ekonomi mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan serta pemilihan sarana pelayanan kesehatan.2. 1.4 Faktor Pasien Kararakteristik pasien sedikit banyak berpengaruh terhadap net death rate. Response time merupakan ketanggapan petugas terhadap keluhan pasien dan kecepatan pelayanan yang diberikan setelah pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. tingkat pendidikan. Ketepatan diagnosis dokter mempengaruhi ketepatan tindakan .

ketepatan diagnosis.4 Batasan Masalah Masalah penelitian difokuskan pada faktor pasien dan proses pelayanan yang bisa mengakibatkan tinggi rendahnya Net Death Rate di ruang interne dan RSUD Bangil. maka rumusan masalahnya dapat disusun sebagai berikut : 1. ketepatan diagnosis. tingkat keparahan) diruang interne RSUD Bangil ? 2. tingkat ekonomi. Bagaimana pengaruh faktor pasien (usia. .3. jenis kelamin. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit. Rumusan Masalah Berdasarkan masalah di atas. supervisi dan evaluasi) diruang interne RSUD Bangil ? 3. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit. keadaan umum. jenis penyakit. tingkat pendidikan. jenis kelamin. keadaan umum. 1. tingkat keparahan) dan proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan. Bagaimana faktor proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan. jenis penyakit. tingkat ekonomi.9 yang diberikan kepada pasien dan pada akhirnya mempengaruhi terjadinya Net Death Rate. Bagaimana faktor pasien (usia. supervisi dan evaluasi) dan terhadap tinggi rendahnya Net Death Rate diruang interne RSUD Bangil ? 1. tingkat pendidikan.

supervisi dan evaluasi) di ruang interne RSUD Bangil.1. tingkat ekonomi. keadaan umum.1 Tujuan 2. tingkat ekonomi. tingkat keparahan di ruang interne RSUD Bangil. kecepatan tindakan. Bagi Rumah Sakit Mengetahui pengaruh faktor pasien (usia. jenis penyakit. tingkat pendidikan. supervisi dan evaluasi) terhadap tinggi rendahnya Net Death Rate. Menganalisis faktor proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis.1 Tujuan Umum Menganalisis faktor yang mempengaruhi terjadinya Net Death Rate dalam upaya peningkatan pelayanan kepada pasien pada ruang rawat inap interne RSUD Bangil. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit. 3. tingkat ekonomi. ketepatan diagnosis.2 Tujuan Khusus 1. kondisi pasien waktu masuk 10 . tingkat keparahan) dan proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan. jenis kelamin.3 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. 2.BAB II TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 2. Menganalisis faktor pasien (usia. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit. ketepatan diagnosis. 2. tingkat pendidikan. Menganalisis pengaruh faktor pasien (usia. tingkat pendidikan.1. 2. jenis kelamin. keadaan umum. jenis penyakit. jenis kelamin.

Hasil analisis dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan.11 rumah sakit. . 2. 3. ketepatan diagnosis. supervisi dan eveluasi) terhadap tinggi rendahnya Net Death Rate. keadaan umum. Bagi penulis dapat menerapkan ilmu pengetahuan terutama bagaimana faktor pasien dan proses pelayanan dapat mempengaruhi Net Death Rate. jenis penyakit. Bagi peneliti lain sebagai bahan referensi untuk dikembangkan menjadi penelitian yang lebih mendalam. keparahan) dan proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan.

(PP No. beberapa diantaranya : a. . baik pengobatan. Menurut WHO 1957 Rumah Sakit adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari orang kedokteran dan sosial budaya yang berfungsi untuk memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh. menggunakan gabungan alat ilmiah khusus dan rumit.12 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. Rumah Sakit adalah suatu organisasi yang kompleks. yang semuanya terikat bersamasama dalam maksud yang sama. untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. dan gawat darurat yang dikategorikan ke dalam rumah sakit umum daerah dan rumah sakit khusus daerah. Rumah Sakit Daerah adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap. rawat jalan. dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern.1 Konsep Rumah Sakit 3.1 Pengertian Rumah Sakit Pengertian Rumah Sakit menurut berbagai macam sumber.1. Rumah Sakit juga sebagai pusat latihan tenaga kesehatan. 41 Tahun 2007) b. c. pencegahan maupun perawatan penderita termasuk keluarga dan lingkungan.

Beberapa pengecualian memang dibenarkan asal saja tidak bertentangan dengan kebijakan pokok bidang kesehatn yang telah dirumuskan. Peranan Departemen Kesehatan di sini adalah merumuskan kebijakana pokok bidang kesehatan saja. yang harus dipakai sebagai landasan dalam melaksanakan setiap upaya kesehatan. maka rumah sakit di Indonesia dapat dibedakan atas dua macam yakni: 1.1. . Jika ingin ditinjau dari pemiliknya. Departemen Pertambangan serta Departemen Perhubungan juga mengelola rumah sakit sendiri. Departemen lain Beberapa Departemen lain seperti Departemen Pertahanan dan Keamanan. misalnya Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta dan Rumah Sakit Dr. rumah sakit di Indonesia dapat di bedakan atas bebrapa macam.2 Macam Rumah Sakit Sesuai dengan peranturan perundang-undangan yang berlaku.13 3.Soetomo di Surabaya. Rumah Sakit Pemerintah Rumah Sakit Pemerintah yang dimaksudkan di sini dapat dibedakan atas tiga macam yakni: a. Pemerintah Pusat Pada dasarnya ada dua macam pemerintah pusat yang dimaksudkan di sini yakni: Departemen Kesehatan Beberapa rumah sakit langsung dikelola oleh Departemen Kesehatan.

(3) Rumah sakit khusus daerah terdiri dari 2 (dua) kelas yaitu: a.14 b. . Pemerintah Daerah Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. (2) Pada wakil direktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang membidangi administrasi umum terdiri dari paling banyak 4 (empat) bagian dan bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian. dan b. rumah sakit khusus daerah kelas A. b. dan c. 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah : (1) Rumah sakit dapat berbentuk rumah sakit umum daerah dan rumah sakit khusus daerah. rumah sakit umum daerah kelas A. rumah sakit umum daerah kelas B. Besaran organisasi dan perumpunan perangkat daerah untuk rumah sakit adalah sebagai berikut : (1) Rumah sakit umum daerah kelas A terdiri dari paling banyak 4 (empat) wakil direktur dan masing-masing wakil direktur terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bagian/bidang dan masing-masing bidang membawahkan kelompok jabatan fungsional atau terdiri dari 2 (dua) seksi. rumah sakit khusus daerah kelas B. (2) Rumah sakit umum daerah terdiri dari 3 (tiga) kelas: a. rumah sakit umum daerah kelas C. Rumah sakit merupakan lembaga teknis daerah yang dipimpin oleh direktur rumah sakit.

masing-masing bagian terdiri dari 2 (dua) subbagian. Jika ditinjau dari perkembangan yang dialami kini. (4) Rumah sakit umum daerah kelas C terdiri dari 1 (satu) bagian dan paling banyak 3 (tiga) bidang. dan masing-masing wakil direktur terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bagian/bidang. (5) Rumah sakit khusus daerah kelas A terdiri dari 2 (dua) wakil direktur. Rumah Sakit Swasta Kecuali itu sesuai dengan Undang-undang Kesehatan No. Undang-undang pokok kesehatan dan juga sistem Kesehatan Nasional memang mengakui adanya peranan pihak swasta. masing-masing wakil direktur terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bagian/bidang. (6) Rumah sakit khusus daerah kelas B terdiri dari 1 (satu) subbagian tata usaha dan paling banyak 3 (tiga) seksi.15 (3) Rumah sakit umum daerah kelas B terdiri dari paling banyak 3 (tiga) wakil direktur. bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian dan masing-masing bidang membawahkan kelompok jabatan fungsional atau terdiri dari paling banyak 2 (dua) seksi. rumah sakit swasta . masing-masing bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian dan masing-masing bidang membawahkan kelompok jabatan fungsional atau terdiri dari paling banyak 2 (dua) seksi. 2.23 tahun 1992. dan masing-masing bidang membawahkan kelompok jabatan fungsional atau terdiri dari 2 (dua) seksi. beberapa rumah sakit yang ada di Indonesia juga dikelola oleh pihak swasta.

menyebabkan mulai banyak ditemui rumah sakit swasta yang telah dikelola secara komersial serta yang berorientasi mencari keuntungan (Profit Hospital). Rumah Sakit kelas B Rumah Sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis luas dan subspesialis terbatas. .2006) Jika ditinjau dari kemampuan yang dimiliki. Rumah Sakit kelas A Rumah Sakit kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas. Sebagai akibat telah dibenarkannya pemilik modal bergerak dalam bidang perumahsakitan. Walaupun yang terakhir ini kehendak untuk mempertahankan fungsi sosial rumah sakit tetap ditemukan. rumah sakit di Indonesia dibedakan atas lima macam yakni: 1. Direncanakan rumah sakit kelas B didirikan di setiap Ibukota Propinsi (Provincial Hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit Kabupaten. rumah sakit kelas A ini telah ditetapkan sebagai tempat pelayanan rujukan tertinggi (Top Referral Hospital) atau disebut pula sebagai rumah sakit pusat. Rumah sakit pendidikan yang tidak termasuk kelas A juga diklasifikasikan sebagai rumah sakit kelasB.yakni dengan mewajibkan rumah sakit swasta tersebut menyediakan sekurang-kurangnya 20% dari tempat tidurnya untuk masyarakat golongan tidak mampu (Azwar.16 di Indonesia tampak telah berkembang dengan pesat. 2. Oleh Pemerintah.

4. Rumah Sakit kelas D Rumah Sakit kelas D adalah rumah sakit yang bersifat transisi karena pada suatu saat akan ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C. Pada saat ini ada empat macam pelayanan spesialis ini yang disediakan yakni pelayanan penyakit dalam. rumah sakit jantung. rumah sakit kanker. 2006). rumah sakit kusta. rumah s sakit paru. . Pada saat ini kemampuan rumah sakit kelas D hanyalah memberikan pelayanan kedokteran umum dan kedokteran gigi. pelayanan kesehatan anak serta pelayanan kebidanan dan kandungan. Misalnya rumah sakit jiwa.17 3. Rumah Sakit kelas C Rumah Sakit kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas. Pada saat ini banyak sekali rumah sakit kelas E yang telah ditemukan. 5. pelayanan bedah. dan lain sebagainya yang seperti ini (Azwar. Sama halnya dengan rumah sakit kelas D juga menampung pelayanan rujukan yang berasal dari puskesmas. rumah sakit ibu dan anak. Direncanakan rumah sakit kelas C ini akan didirikan di setiap Ibukota Kabupaten (Regency Hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari puskesmas. Rumah Sakit kelas E Rumah Sakit kelas E adalah rumah sakit khusus (Special Hospital) yang menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kedokteran saja.

mutu petugas dan mutu proses layanan itu sendiri. sehingga dicetuskan tiga konsep perawatan di Rumah Sakit ( Medical Care ) yaitu : rawat tinggal atau rawat inap ( inpantient service ) rawat jalan Care ) (Prajitno. maka mulailah berkembang usaha-usaha untuk menghindari sejauh mungkin perawatan atau pemondokan di Rumah Sakit kecuali untuk penyakit berat. Penilaian (ambulantory service) dan rawat di rumah ( Home . dan perlengkapan. 3. dan Home Care service yang dibantu dengan rawat jalan di Rumah Sakit. Mutu pelayanan rumah sakit mencakup mutu pada semua komponen pelayanan di antaranya mutu sarana. Dalam peraturan Men Kes RI No 195 b / MEN KES / PER / II / 1998 disebutkan bahwa tugas Rumah Sakit adalah malaksanakan pelayanan kesehatan dengan mengutakan kegiatan penyembuhan penderitan dan pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan ( promotif ) dan pencegahan ( preventif ) serta melaksanakan upaya rujukan. Dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa Rumah Sakit merupakan upaya kesehatan yang mahal.3 Konsep Perawatan Tugas dan Fungsi Rumah Sakit Adanya pendapat lama bahwa Rumah Sakit tidak lebih berfungsi sebagai tempat perawatan atau pmondokan orang sakit. 1998). fasilitas.1.1 Pengertian Mutu Pengertian mutu pelayanan kesehatan bersifat multi–dimensional Azrul Anwar 2006. promotif.2. Usaha yang dilakukan tersebut meliputi usaha preventif.18 3.2 Mutu Pelayanan 3.

dari sudut pandang pasien dan masyarakat.2.2 Pengukuran Mutu Menurut Parasuratman 1991 yang dikutip oleh Muhammad Yusuf 2003 kualitas atau mutu pelayanan dapat diukur dengan membandingkan persepsi antara pelayanan yang diharapkan dengan pelayanan yang diterima dan di rasakn oleh konsumen. diberikan dengan cara yang ramah waktu mereka berkunjung. Dengan demikian kualitas pelayanan tergantung dari kemampuan penyedia . mutu berarti suatu emphaty. peralatan yang baik dan memenuhi standar yang baik (state of the art) sedangkan dari sudut pandang manajer dan pemilik rumah sakit. pelayanan harus sesuai dengan kebutuhannya. Jika kualitas pelayanan yang diterima sesuai harapan pelanggan maka kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas yang istimewa. Mutu dari sudut pandang petugas kesehatan adalah pelayanan yang sesuai dengan pengetahuan dan ketrampilan yang maju. mutu dapat berarti efisiensi dan kewajiban penyelenggaraan pelayanan (Wijono. respek dan tanggap terhadap kebutuhannya.19 terhadap mutu pelayanan rumah sakit dilihat dari beberapa sudut pandang. Sebaliknya jika kualitas pelayanan yang di terima lebih rendah dari pada yang di harapkan maka kualitas pelayanan yang diterima buruk. Mengingat aspek mutu dalam pelayanan di rumah sakit begitu kompleks karena berkaitan dengan semua komponen dalam pelayanan. 3. 2003) Mutu pelayanan secara langsung akan mempengaruhi penderita untuk memilih pelayanan kesehatan yang diinginkan.

sopan. kebutuhan. produk atau jasa dapat di andalkan. Emphaty (empati) adalah kesediaan pemberi jasa untukmendengarkan dan adanya perhatian akan keluhan . adalah kemampuan untuk menyediakan pelayanan dengan cepat dan mau membantu pasien 3. 1984 dalam Pohan. 5. selain itu proses penyampaian dapat juga menimbulkan rasa percaya dan yakin akan jaminan sembuh. dan waktu tindakan . waktu tunggu.20 pelayanan jasa dalam memenuhi harapan pelanggan secara efisien dan konsisten 3. Ketepatan Waktu Termasuk akses. 1988. 2. Reliability (keandalan). dapat di pertanggung jawabkan dan jasa yang disampaikan tepat sesuai dengan yang dijanjikan. 2007) adalah : 1. keinginan dan harapan pasien. Maxwell. Assurance (jaminan) dalam penyampaian produk atau jasa disertai dengan rasa hormat. Responsiveness (daya tanggap). peralatan.3 Indikator Mutu Menurut Supriyanto 2005 indikator kualitas atau mutu jasa dapat di evaluasi ke dalam lima dimensi mutu yaitu : 1.2. karyawan serta sarana komunikasi Kerangka pikir lain yang dikembangkan dalam lingkungan layanan kesehatan yang berasal dari kalangan industri dan sumber lain (Juran. Tangibles (kasat mata) untuk mengukur penampilan fisik. dapat dipercaya. 4.

kenyamanan. salah satunya adalah Net Death Rate (NDR). Terdapat banyak sekali indikator yang dipakai untuk menilai suatu rumah sakit. keparipurnaan dan keberhasilan pengobatan. Lingkungan Termasuk gedung. 4. Informasi Penjelasan dari jawaban apa. diperlukan berbagai indikator Selain ltu agar informasi yang ada dapat bermakna harus ada nilai parameter yang akan dipakai sebagai nilai banding antar fakta dengan standar yang diinginkan. taman. kebersihan. kapan. perilaku dan empati 5. mutu dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Definisi mengenai Net Death Rate (NDR) adalah angka kematian > 48 jam setelah pasien dirawat per seribu pasien yang keluar Rumah Sakit ( hidup + mati).3 Net Death Rate Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan. keamanan 3.21 2. hal ini bisa digambarkan dalam ramus sebagai berikut: NDR : Jumlah pasien mati > 48 jam dirawat X 100 Jumlah pasien keiuar (hidup dan mati) . dan siapa. ketrampilan dan pengalaman. bagaimana. Hubungan antarmanusia Kedalam ini termasuk rasa hormat. sopan santun. teknologi. Kompetensi teknis Termasuk pengetahuan kedokteran dan keperawatan. mengapa. 3.

Oleh karena itu untuk menilai mutu pelayanan di rumah sakit. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan oleh karena sangat berpengaruh terhadap perfomance rumah sakit yang pada akhirnya dapat menggambarkan . lebih memberikan gambaran upaya rumah sakit di dalam menyelamatkan jiwa pasien. sangat dipengaruhi oleh kondisi penyakit yang diderita pasien pada waktu masuk rumah sakit. Jika keadaan tersebut di atas terjadi di dalam sebuah rumah sakit. Tingginya Net Death Rate (NDR) sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang antara lain oleh karena adanya beberapa kesenjangan yang timbul yang mengakibatkan kegagalan penyampaian jasa yang bermutu Menurut Zeithaml. Parasuraman dan Berry (1990) dalam bukunya menyebutkan kesenjangan antara spesifikasi kualitas jasa (spesifikasi kualitas pelayanan) dan penyampaian jasa {service delivery) disebut kesenjangan penampilan jasa pelayanan (The service performance Gap) yang mempunyai beberapa indikator kunci yaitu antara lain : proses supervisi dan evaluasi tidak berjalan secara benar. maka suatu proses perawatan kepada pasien akan sangat terganggu. Sedangkan pasien yang meninggal < 48 jam setelah dirawat. karena jika dibandingkan dengan yang meninggal > 48 setelah dirawat. 2003). sehingga keadaan tim menyebabkan terjadinya gangguan pada proses pelayanan kepada pelanggan.22 Nilai NDR yang dianggap masih dapat ditolerir adalah kurang dari 25 per 1000 penderita keluar rumah sakit (hidup maupun mati). Indikator ini lebih bermakna di dalam penilaian mutu pelayanan rumah sakit. indikator angka kematian yang dipakai adalah angka kematian > 48 jam setelah dirawat (NDR) (Depkes RI. kerja sama tim kurang terpadu.

23 mutu pelayanan yang rendah di rumah sakit tersebut. Hal ini bisa diihat dari pola penyebab kematian kasar didominasi penyakit degeneratif dengan menempati rangking 3 besar. Faktor yang tidak langsung adalah faktor sosio-ekonomi dan budaya. persepsi terhadap provider). 3. melalui faktor karakteristik individu dan faktor psikologis 3. Dari dua perspektif ini ada dua kemungkinan bahwa apa yang diinginkan dan diharapkan dari kedua perpektif yaitu mereka “met” atau “unmet”. Kebutuhan individu untuk memanfaatkan layanan kesehatan dipengaruhi secara langsung oleh variabel psikologis (selera. tren kematian kasar menurut kelompok umur dari tahun 1995-2007 menunjukan peningkatan resiko kematian pada usia diatas 45 tahun. dan yang paling signifikan terjadi pada umur diatas 65 tahun.4 Karakteristik Pasien Ada dua perspektif untuk melihat faktor yang mempengaruhi seseorang mencari pelayanan kesehatan. persepsi sehat sakit. karakteristik individu (umur. jenis kelamin). Faktor ini berpengaruh pada penggunaan layanan kesehatan. Perspektif pertama dari masyarakat itu sendiri dan perspektif kedua dari pemberi jasa layanan.4. Tren kematian ini kemungkinan besar terkait dengan pola penyakit yang mengalami transisi epidemiologis. Adanya “unmet” merupakan masalah yang harus diselesaikan.1 Usia Dari hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2007. jadi dari kesimpulan diatas bahwa . harapan.

Pola penyakit antara laki–laki dan perempuanpun berbeda sepeti pada penyakit yang hanya diderita laki-laki seperti BPH. 3. Pendidikan merupakan upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu.2 Jenis Kelamin Beberapa penelitian menunjukan bahwa perempuan mempunyai respon imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat maka akan semakin besar memanfaatkan pelayanan kesehatan. Seseorang kurang memanfatkan pelayanan yang ada mungkin karena tidak cukup mempunyai uang untuk .3 Tingkat pendidikan Menurut Notoatmodjo (2003). 3.4. sedangkan pada perempuan misalnya Myoma Uteri.4. Hal ini berkaitan dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap masalah kesehatan. Carcinoma Prostat.24 distribusi angka kematian akan semakin meningkat atau berbanding lurus dengan bertambahnya umur.4. kelompok maupun masyarakat. Dimana pendidikan yang lebih tinggi akan lebih banyak memberikan banyak informasi sehingga lebih memperhatikan kesehatannya. Carcinoma Mamma dan lain – lain. 3.4 Tingkat ekonomi Menurut Notoatmojo 2003 bahwa tingkat penghasilan dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan maupun pencegahan sangat berhubungan.

Menurut Sunarto (2007) penguasaan ilmu klinis merupakan hal mutlak dibutuhkan seorang dokter agar setiap langkah yang diambil dilakukan secara kritis dan dipikirkan arah pencarian data selanjutnya. Sikap analitis kritis dibutuhkan mulai dari pasien masuk sampai akhir pasien keluar. Tingkat keparahan suatu penyakit berbeda – beda menurut ketentuan yang berlaku. berat. Sedangkan Kronis adalah mengenai penyakit dan gangguan dengan serangan awal yang lambat dan berlangsung lama.25 membeli obat.6 Jenis Penyakit Jenis Penyakit disini dibagi menjadi dua yaitu akut dan kronis menurut kamus kedokteran Dorland pengertian dari akut adalah keadaan mendadak dalam serangan dan condong berlangsung dalam waktu relatif pendek. Sehingga banyak kasus yang terjadi pasien yang datang sudah dalam keadaan parah. membayar transport dan sebagainya. palpasi dan auskultasi. Dokter biasa melihat keadaan umum melalui inspeksi.5 Keadaan umum Keadaan umum pasien merupakan tanda – tanda yang nampak secara keseluruhan pada diri pasien. adalah kecepatan suatu . 3. 3. Dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik saja banyak diagnosis yang ditegakkan seratus persen mendekati benar. 3.8 Response time Yang dirnaksud dengan Response time. sedang. 3.7 Tingkat Keparahan Penyakit Menurut Kalangi (1994) tingkat keparahan penyakit dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu : ringan.

yakni mencatat waktu pelayanan mulai saat pasien datang hingga masuk ke ruang pemeriksaan. sehingga dapat diketahui seberapa jauh penampilan rumah sakit dalam hal ini petugas kesehatan di ruang interne dan paru dalam merespons kebutuhan pasien dalam Pengukuran penelitian ini dilakukan dengan mengggunakan observation list. metode dan fasilitas yang tersedia bisa menjadi permicu terjadinya keadaan ini. 1990). Dalam teori lain pengertian supervisi adalah adalah salah satu upaya pengarahan dengan pemberian petunjuk dan saran setelah menemukan alasan dan keluhan pelaksana dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. Kesenjangan yang timbul antara spesifikasi jasa pelayanan dan penyampaian jasa layanan mengakibatkan terjadinya keadaan yang disebut Inappropriate Supervisory Control Systems (mekanisme supervisi dan evaiuasi terganggu) (Parasuraman et all.26 institusi (rumah sakit) dalam memberikan respons atas pcrmintaan jasa dan pasien. Kinerja kecepatan pelayanan dapat diukur. sistem informasi. 3. . Keadaan tersebut diatas bisa terjadi oleh karena adanya persepsi yang bcrbeda antara manajer dan bawahan. misal dalam satu jam berapa pasien yang dilayani di rumah sakit.9 Supervisi Di dalam banyak organisasi yang bergerak dalam jasa pelayanan maka performance dan pegawai yang kontak langsung dengan customer biasanya diukur dari jumlah unit yang menghasilkan suatu produk layanan. sehingga layanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar yang ada. Juga merupakan upaya pembinaan dan pengarahan untuk meningkatkan gairah dan prestasi kerja. terbatasnya faktor SDM (Human Resources).

Evaluasi dimaksudkan untuk mendapatkan relevan informasi guna pengambilan keputusan. yaitu evaluasi formative dan summative. Rencana Pelaksanaan . a. terhadap pelaksanaan Kegiatan (RPK) 2) Mengkaji keberhasilan pelaksanaan RPK. Menurut Supriyanto dan Damayanti (2005) bahwa evaluasi adalah prosedur penilaian pelaksanaan kerja dan hasil kerja secara menyeluruh dengan cara sistematik dengan membandingkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan guna pengambilan keputusan. Evaluasi dilaksanakan karena adanya dorongan atau keinginan untuk mengukur pencapaian hasil kerja atau kegiatan pelaksanaan program terhadap tujuan yang telah ditetapkan. 3.10 Evaluasi Evaluasi atau kegiatan penilaian adalah merupakan bagian integral dari fungsi manajemen didasarkan pada sistem informasi manajemen. 3) Mengidentifikasi masalah dalam pelaksanaan RPK 4) Memberi bimbingan penyelesaian masalah. Macam Evaluasi Secara umum evaluasi dapat dibedakan atas dua jenis. Tujuan supervisi adalah : 1) Peningkatan dan pemantapan pengelolaan sumberdaya 2) Peningkatan dan pemantapan pengelolaan program. 3) Peningkatan dan pemantapan pengelolaan peran serta masyarakat.27 Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi adalah : 1) Proses pengamatan.

guna menilai keberhasilan program. Evaluasi formative sering disebut sebagai evaluasi proses atau monitoring. Hasil evaluasi dapat memberikan jawaban atas pertanyaan : apakah tujuan program dapat tercapai atau tidak dengan alasan mengapa demikian.28 1) Evaluasi formative Evaluasi yang dilakukan pada tahap pelaksanaan program dengan tujuan untuk mengubah atau memperbaiki program. Evaluasi ini dilakukan pada akhir kegiatan atau beberapa kurun waktu setelah program. Evaluasi ini dilakukan untuk memperbaiki program yang sedang berjalan dan didasarkan atas kegiatan sehari-hari. 2) Evaluasi summative Evaluasi yang dilakukan untuk melihat hasil keseluruhan dari suatu program yang telah selesai dilaksanakan. atau waktu relatif pendek. Manfaat evaluasi formative terutama untuk memberikan umpan balik kepada manajer program tentang kemajuan hasil yang dicapai beserta hambatan-hambatan yang dihadapi. b. Tujuan evaluasi Pada dasarnya evaluasi dilakukan dengan tujuan sebagai berikut : . Karena itu output program berupa outcome dan dampak sangat diperlukan. bulan bahkan tahun. minggu. Jadi evaluasi summative dilakukan pada akhir program atau sekurang-kurangnya 5 tahun setelah program dijalankan untuk jenis hasil program yang berupa dampak.

baik lokal maupun global. 2) Sebagai alat untuk memperbaiki alokasi sumber dana. c. Kriteria Evaluasi Kriteria yang dianjurkan WHO dalam evaluasi adalah : 1) Relevansi Rasionalisasi program dengan kebijaksanaan umum yang dikaitkan kebijaksanaan sosial dan ekonomi serta kesesuaian kebutuhan atau prioritas kebijaksanaan kesehatan untuk masyarakat.29 1) Sebagai alat untuk memperbaiki kebijaksanaan pelaksanaan program dan perencanaan program yang akan datang. 2) Adequacy (kecukupan atau coverage) Kecukupan menunjukkan berapa besar perhatian telah diberikan dalam program kegiatan untuk mengatasi masalah. sumber daya dan manajemen (resources) saat ini serta dimasa-masa mendatang 3) Memperbaiki pelaksanaan dan perencanaan kembali suatu program. Relevansi merupakan tingkat keterkaitan tujuan maupun hasil atau keluaran program layanan dengan kebutuhan masyarakat di lingkungannya. Kecukupan menunjukkan tingkat ketercapaian persyaratan ambang yang diperlukan untuk penyelenggaraan suatu program untuk mengatasi masalah yang sebenarnya di masyarakat. Adequacy juga berhubungan dengan sampai seberapa besar masalah telah dapat diatasi melalui program kegiatan yang dilaksanakan. Evaluasi kecukupan lebih banyak berkaitan dengan keluaran (hasil) terhadap kebutuhan atau sasaran seharusnya atau masalah .

30 kesehatan yang harus ditanggulangi. Jumlah kegiatan yang dilaksanakan Adequacy of effort = Jumlah kegiatan yang direncanakan x 100% Adequacy of performance = Pencapaian hasil kegiatan x 100% Sasaran . Adequacy dibedakan atas : adequacy of effort dan adequacy of performance.

Kondisi pasien waktu masuk rumah sakit : a. Response time : a. Pelatihan 5. Faktor Metode 1. Jenis Penyakit c. Komitmen petugas 6. Tingkat ekonomi 2. Beban kerja II. Persepsi tentang pelayanan 4. SOP 2. Faktor Fasilitas RS 1. Faktor SDM 1. Karakteristik Pasien a. Kepercayaan terhadap pelayanan Proses Pelayanan 1. Ketepatan tindakan NDR tinggi 2. Peralatan penunjang penegak diagnosis IV. Rekam Medis III. Fasilitas ruang perawatan 2. Pengalaman kerja 3. Jenis Kelamin c. Keadaan Umum b. Peralatan medis 3. Tingkat Keparahan 3. Ketepatan diagnosis c.1 Kerangka Konseptual I. Penilaian tentang mutu pelayanan Keterangan : 5. Pendidikan 4. Jumlah SDM 2. Evaluasi : : : : Diteliti Tidak diteliti Gambar 4. Faktor finansial 1. Usia b. Gaji 2. Supervisi 3.1 Kerangka Konseptual 31 .31 BAB IV KERANGKA KONSEPTUAL 4. Kecepatan diagnosis dan tindakan b. Tingkat Pendidikan d. Kompensasi Faktor Pasien 1.

tingkat keparahan). Kesemua variabel tersebut digambarkan sebagai faktor yang diduga mempengaruhi tingginya angka kematian bersih atau NDR di RSUD Bangil. tingkat ekonomi) dan keadaan waktu masuk rumah sakit (keadaan umum. Variabel yang termasuk input penelitian meliputi faktor pasien yaitu karakteristik pasien (usia. .32 Kerangka konseptual penelitian menggambarkan input. jenis penyakit. supervisi. ketepatan diagnosis. jenis kelamin. pendidikan. proses dan output. Dari variabel input akan mempengaruhi variabel proses pelayanan (kecepatan diagnosa dan tindakan. evaluasi).

2 Besar Sampel Besar sampel rekam medis adalah 178 diperoleh dari jumlah pasien yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup dan meninggal ≥ 24 jam pada 33 .1 Jenis dan Rancang Bangun penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan yang obyektif.1 Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah rekam medis pasien yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup dan meninggal ≥ 24 jam dari ruang rawat inap interne pada bulan April 2009.3.3 Sampel. 5. Besar Sampel. Sedangkan menurut waktu penelitian menggunakan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan pada saat tertentu.3. serta petugas yang bekerja di ruang rawat inap interne RSUD Bangil baik medis maupun paramedis.2 Populasi Penelitian Populasi penelitian ini adalah rekam medis pasien yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup dan meninggal ≥ 24 jam dari ruang rawat inap interne serta petugas yang bekerja di ruang rawat inap interne RSUD Bangil baik medis maupun paramedis. Cara Penentuan Sampel Dan Cara Pengambilan Sampel 5.BAB V METODE PENELITIAN 5. 5. 5.

5.3. Sedangkan untuk data primer sampel diperoleh dari responden/petugas medis dan paramedis yang ada di ruang rawat inap interne RSUD Bangil. 5.34 bulan April 2009.3 Cara Penentuan Sampel Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara Accidental Sampling yaitu pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan dengan mengambil kasus / responden yang kebetulan ada / tersedia (Notoatmojo.3.4 Cara Pengambilan Sampel Untuk data sekunder sampel diambil dari berkas rekam medis pasien rawat inap interne pada bulan April 2009 yang sudah dikembalikan di unit rekam medis. 2005) 5. . serta petugas yang bekerja di ruang rawat inap interne RSUD Bangil baik medis maupun paramedis sebesar 27 responden.4 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian berada di ruang rawat inap interne RSUD Bangil dan dilaksanakan pada bulan Juni 2008.

meliputi : 1. Kemudian mengumpulkan data primer dari responden yaitu petugas yang ada di ruang interne RSUD Bangil . Supervisi 3.1 Kerangka Operasional Penelitian Langkah I. Response time: a) Kecepatan diagnosis dan tindakan b) Ketepatan diagnosis 2. meliputi : 1. jenis kelamin. jenis penyakit.35 5.5 Kerangka Operasional Langkah I Langkah II Langkah III Mengidentifikasi faktor Pasien. Jenis Penyakit c. supervisi dan evaluasi) melalui observasi dan checklist. Tingkat Keparahan Mengukur Proses Pelayanan. Kondisi pasien waktu masuk rumah sakit : a. ketepatan diagnosis. Karakteristik Pasien : a) Usia b) Jenis Kelamin c) Tingkat Pendidikan d) Tingkat Ekonomi 2. tingkat ekonomi) dan kondisi waktu masuk rumah sakit (keadaan umum. Evaluasi Analisis Hasil Analisis Kesenjangan Gambar 5. tingkat keparahan) proses pelayanan (kecepatan diagnosis dan tindakan. tingkat pendidikan. yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi data sekunder faktor pasien meliputi karakteristik pasien (usia. Keadaan Umum b.

Menganalisis pengaruh faktor pasien (usia. Response time: a) Kecepatan diagnosis dan tindakan b) Ketepatan diagnosis b. Karakteristik Pasien : a) Usia b) Jenis Kelamin c) Tingkat Pendidikan d) Tingkat ekonomi b. Langkah II. tingkat pendidikan. Kondisi pasien waktu masuk rumah sakit : a) Keadaan Umum b) Jenis Penyakit c) Tingkat Keparahan 2. jenis penyakit. keadaan umum. Faktor Pasien a.6 Variabel Penelitian 1. Langkah III. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit. Proses Pelayanan a. menganalisis hasil penelitian yang dilakukan di ruang rawat inap interne RSUD Bangil. keparahan) dan proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan ketepatan diagnosis) dan terhadap tinggi rendahnya Net Death Rate ? 5. jenis kelamin. Supervisi . tingkat ekonomi.36 baik medis maupun paramedis melalui wawancara terstruktur.

7 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel Tabel 5. Akut b.37 c. 15 th – 24 th b. 25 th – 44 th c.1 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel Penelitian No . > SD Nominal 4. Keadaan umum Ordinal . Jaminan kesehatan Dikelompokkan menjadi : a. Tingkat pendidik an Observasi Rekam Medis Dikelompokkan menjadi : a. Tingkat Ekonomi Observasi Rekam Medis Dikelompokkan menjadi : a. Lemah c.Perempuan Skala Data Ordinal Usia Pasien 2. Variabel Definisi Oprasional Lama hidup pasien saat dilakukan pengambilan data. ≤ SD b. 1. Jenis kelamin Observasi Rekam Medis Nominal 3. Jenis kelamin pasien berdasarkan perbedaan keadaan fisik dan biologis atau organ kelamin Jenjang sekolah formal terakhir yang ditempuh oleh pasien berdasarkan ijazah Kemampuan pasien dalam membayar biaya rumah sakit Cara Pengukura n Observasi Rekam Medis Hasil Pengukuran Dikelompokkan menjadi : a. Laki-laki b. Asuransi c. 45 th – 64 th d. Evaluasi 5. Bayar sendiri b. ≥ 65 th Dikelompokkan menjadi : a. Sangat Lemah Nominal 5. Jenis penyakit Jenis penyakit pasien akut atau kronis Keadaan umum pasien waktu masuk rumah sakit Observasi Rekam Medis Observasi Rekam Medis Nominal 6. Cukup b. Kronis Dikelompokkan menjadi : a.

< 1 hari b.38 7. Ringan b. 1 x/ hari c. Evaluasi Observasi dan wawancara Dikelompokkan Menjadi : a. Tepat b. Ordinal 11. perawatan dan terapi yang telah dilakukan dengan melihat jumlah berapa kali dokter spesialis visitasi. Tidak tepat Dikelompokkan Menjadi : a. Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh komite medis dalam upaya melakukan evaluasi terhadap Observasi Rekam Medis Dikelompokkan menjadi : a. < 1 x/ hari Nominal 10. 1 x/ bulan c. Berat Ordinal Observasi Rekam Medis Dikelompokkan menjadi : a. Observasi Rekam Medis Observasi dan wawancara Dikelompokkan Menjadi : a. > 1 x/ bulan b. Keparahan penyakit berdasarkan keadaan pasien pada waktu masuk rumah sakit Kecepata Waktu yang n dibutuhkan diagnosis dokter untuk dan diagnosis dan tindakan melakukan tindakan sesuai dengan diagnosis Ketepata Ketepatan n diagnosis kerja diagnosis dengan diagnosis akhir Supervisi Supervisi oleh dokter spesialis adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis dalam upaya pengecekan kembali kegiatan diagnosis. Sedang c. > 1 x/ hari b. > 1 hari Ordinal 9. Tingkat Keparah an 8. < 1 x/ bulan Ordinal .

Deskriptif Statistik deskriptif adalah statistik yang bertujuan untuk . pengumpulan data yang bersangkutan diminta untuk memperjelas atau melengkapinya. Coding Coding adalah tahap kedua setelah editing. 2. Setelah proses tersebut dilakukan maka data akan diolah dengan menggunakan beberapa uji statistik yang dibagi menjadi uji statistik : 1.8 Teknik Analisis Data yang sudah diperoleh kemudian dilakukan beberapa proses yaitu: 1.39 kejadian NDR di ruang interne 5. ini berarti semua kuesioner harus diteliti satu persatu tentang kelengkapan pengisian dan kejelasan penelitiannya jika terdapat jawaban yang tidak jelas penulisannya atau ada butir pertanyaan yang tidak terisi. Editing Editing adalah memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan. 3. Klasifikasi pada umumnya ditandai dengan kode tertentu yang biasanya berupa angka. dimana penelitian mengklasifikasikan jawaban menurut kriteria tertentu. Tabulating Data yang sudah dikoding dilakukan tabulasi atau memasukkan ke dalam tabel dengan bagian kolom adalah aspek yang akan diteliti sedangkan bagian baris adalah responden atau sampel.

Inferensial Statistik inferensial adalah uji statistik yang bertujuan untuk menguji hipotesis. Oleh karena jenis data yang ada pada penelitian ini berskala nominal maka statistik deskriptif yang digunakan adalah : a. 2. Uji Chi square Uji statistik yang bertujuan untuk melihat perbedaan proporsi antara dua variabel (bivariat) pada data berskala ordinal dan nominal. Persentase Menampilkan data berdasarkan jumlah sampel pada kelompok tertentu dibandingkan jumlah sampel secara keseluruhan c. ukuran tendensi sentral dan ukuran penyebaran data. Frekuensi Menampilkan data berdasarkan jumlah sampel atau responden yang digunakan b. Tabulasi silang Tabulasi silang adalah menyajikan data hasil penelitian berdasarkan jumlah dan persentase antara dua atau lebih aspek atau variabel yang akan diteliti. persentase. Kreteria pembacaan uji statistik chi square : 1) Jika signifikansi lebih dari 0.40 menampilkan data berdasarkan pada nilai frekuensi.05 maka tidak ada perbedaan . Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan tujuan dan jenis skala data yang digunakan adalah : a.05. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 0.

Uji Logistic regression Berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus tentang faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu pelayanan di ruang rawat inap interne yang ditunjukkan dengan NDR yang tinggi rerata 52/‰ dari tahun 2006 sampai 2008 di RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan. untuk mengetahui variabel yang masuk variabel kandidat.25. Hasil analisis regresi logistik sederhana yang p < 0. setiap variabel bebas dilakukan uji regresi logistik sederhana dengan alpha < 0. Sebelum dilakukan uji regresi logistik ganda.41 proporsi antara dua kelompok variabel 2) Jika signifikansi kurang dari atau sama dengan 0.05 maka ada perbedaan proporsi antara dua kelompok variabel b.25 dimasukan sebagai kandidat regresi logistik ganda.05. maka analisis yang digunakan adalah regresi logistik ganda dengan alpha 0. yang variabel dependen terdiri dari dua kategori dan variabel independennya lebih dari satu. .

pelayanan gawat darurat 24 jam. Fasilitas pelayanan yang dimiliki RSUD Bangil adalah 14 pelayanan spesialis . pelayanan rawat inap dengan 176 tempat tidur. pelayanan penunjang serta ruang intensive care yang belum dimanfaatkan.1. Ruang interne memiliki tiga kelas perawatan yaitu kelas 2. Ruang intensive yang belum dimanfaatkan dikarenakan masih kekurangan jumlah dan tenaga ahli untuk ditempatkan di ruang tersebut. Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten Pasuruan mengambil kebijakan untuk merubah Puskesmas perawatan yang mempunyai 77 tempat tidur untuk menjadi RSUD Bangil.1 Gambaran Umum Ruang Rawat Inap Interne RSUD Bangil Ruang rawat inap interne merupakan bagian dari pelayanan rawat inap yang ada di RSUD Bangil. kelas 3 dan isolasi serta memiliki total tempat tidur 80 buah.BAB VI HASIL PENELITIAN 6. yang seiring dengan perkembangannya mengalami kesulitan menampung pasien yang semakin hari semakin banyak. kemudian pada tahun 1985 berubah status menjadi RSUD tipe D. 20/MENKES/SK/II/1993 type rumah sakit berubah menjadi tipe C. 6. pada tahun 1993 berdasarkan SK Menkes No.1 Gambaran Umum RSUD Bangil Cikal bakal lahirnya RSUD Bangil adalah berawal dari Puskesmas. 14 pelayanan rawat jalan. Perubahan status tersebut diresmikan pada tahun 1981. 42 .

6.1 Usia Identifikasi umur pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.1 bahwa tenaga dokter spesialis seluruhnya bekerja paruh waktu. perawat dan tenaga administrasi.2 Karakteristik Pasien Karakteristik pasien yang diteliti adalah usia. interne .2 berikut. 6.1 Distribusi Tenaga Yang Ada Di Ruang Interne RSUD Bangil Tahun 2009 Jenis Tenaga Dokter spesialis : Penyakit dalam Saraf THT Kulit Perawat : S1 D3 SPK Tenaga administrasi Jumlah 2 Orang 2 Orang 1 Orang 1 Orang 3 Orang 17 Orang 1 Orang 1 Orang Keterangan Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Sumber : Bagian Kepegawaian RSUD Bangil Berdasarkan tabel 6. tingkat ekonomi. tingkat pendidikan.43 Petugas atau tenaga kesehatan yang ada di ruang rawat inap interne terdiri dari dokter spesialis. jenis kelamin. sedangkan untuk tenaga perawat dan administrasi seluruhnya bekerja secara penuh waktu. Sebagai penjelasannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 6.2.

486.5 45.3 berikut.0 24 100. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.5% dan terendah pada kelompok usia 15 -24 tahun.2 40 5 26.3 70 45.7 154 100. Sedangkan pada kematian yang lebih dari 48 jam kelompok pasien terbesar terdapat pada usia 45 – 64 tahun yaitu sebesar 45.8 29.3 43.7 4.0 20.44 Tabel 6.2 Distribusi Kelompok Usia Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % n % 18 1 11.3 Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % n % 84 54. 6.2 100 Kelompok Usia 15 – 24 Tahun 25 – 44 Tahun 45 – 64 Tahun ≥ 65 Tahun Total Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien usia 45 – 64 tahun yaitu sebesar 43.0 Total n 19 45 78 36 178 % 10.2.0 Total n 98 80 178 % 55 45 100 Jenis Kelamin Laki .8 67 11 43.5 10 41.2 154 24 100.0 100.7 25.8 29 7 18.laki Perempuan Total Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 .8%.8 20.2 Jenis Kelamin Identifikasi jenis kelamin pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6.5 14 58.

45 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien lakilaki sebesar 55%. 6. Dari ChiSquare Tests diperoleh hasil P = 0.2 4 16.0 Total n 126 52 178 % 71 29 100 Pendidikan ≤ SD > SD Total N 106 48 154 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien dengan pendidikan ≤ SD sebesar 71%.146. Tabel 6.3%.4 Tingkat Ekonomi Identifikasi tingkat ekonomi terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.729.2. Dari ChiSquare Tests diperoleh hasil P = 0.3 %.8 20 83. Sedangkan kematian terbesar terdapat pada kelompok pasien dengan pendidikan ≤ SD yaitu sebesar 83.7 100 24 100. 6.4 Distribusi Pendidikan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam % N % 68. .4 berikut. Sebagian besar kematian > 48 jam sebesar 58.5 berikut.3 31.2.3 Tingkat Pendidikan Identifikasi tingkat pendidikan terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.

3 11 45.0 12 1 24 50.46 Tabel 6.0 Total n 90 78 10 178 % 51 44 6 100 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok dengan tingkat ekonomi bayar sendiri sebesar 51%. 6.5 Distribusi Tingkat Ekonomi Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Tingkat Ekonomi Bayar Sendiri Jaminan Kesehatan Askes Total Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % N % 79 51.791.3 Kondisi Pasien Waktu Masuk Rumah Sakit Kondisi pasien pada waktu masuk ke rumah sakit diidentifikasi dengan mengobservasi rekam medis pasien.8 100. jenis penyakit dan tingkat keparahan. 6.3. Didalam rekam medis pasien dibaca bagaimana keadaan umum pasien.0 4.1 Keadaan Umum Identifikasi keadaan umum pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.6 berikut. .9 5.8 66 9 154 42. Sedangkan kematian yang lebih dari 48 jam terbesar terdapat pada kelompok pasien dengan tingkat ekonomi jaminan kesehatan yaitu sebesar 50%.2 100. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.

7 Distribusi Kelompok Usia Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam N % N % 53 34. Persentase kematian > 48 jam dengan keadaan umum lemah dan sangat lemah mencapai 100%.6 Distribusi Keadaan Umum Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % N % 151 3 154 98.0 Total n 58 120 178 % 33 67 100 Jenis Penyakit Akut Kronis Total Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien dengan jenis penyakit kronis yaitu sebesar 67%.8 101 65.7 berikut. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0. 6.4 5 20. Sedangakan kematian yang .6 19 79.2 Jenis Penyakit Identifikasi jenis penyakit pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.9 100 24 0 24 100.0 Total n 175 3 178 % 98 2 100 Keadaan Umum Lemah & sangat lemah Cukup Total Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien dengan keadaan umum lemah dan sangat lemah yaitu sebesar 98%.490.0 100.3. Tabel 6.1 1.0 0.2 154 100 24 100.47 Tabel 6.

9 22.7 22 91.000.5 100 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok dengan tingkat keparahan sedang yaitu sebesar 76.187. ketepatan diagnosis.3 1 4. 6.9%. . Proses pelayanan tersebut adalah kecepatan diagnosis dan tindakan.6%. 6. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.0 1 4. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.8 Distribusi Tingkat Keparahan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang interne RSUD Bangil April 2009 Tingkat Keparahan Ringan Sedang Berat Total Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % n % 0 0.2 136 88.2 18 11.3 Tingkat Keparahan Identifikasi tingkat keparahan pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.3. Tabel 6.6 76. Sedangakan kematian yang lebih dari 48 jam terdapat pada kelompok dengan tingkat keparahan berat 91.8 berikut.2%.48 lebih dari 48 jam terbesar terdapat pada kelompok dengan jenis penyakit kronis yaitu sebesar 79.6 154 100 24 100 Total n 1 137 40 178 % 0.4 Response Time Variabel yang yang diteliti adalah proses pelayanan di ruang rawat inap interne RSUD Bangil.

2 154 100 24 100 Ketepatan Diagnosis Tepat Tidak Tepat Total Total n 139 39 178 % 78 22 100 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 .2 Ketepatan Diagnosis Identifikasi ketepatan diagnosa dokter terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.4.9 Distribusi Kecepatan Diagnosis Dan Tindakan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan < 1 hari Total Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam N % n % 154 100 24 100. Tabel 6.9 berikut. 6. Dari Chi-Square Tests tidak dianalis karena bernilai konstan.8 38 24.0 Total N 178 178 % 100 100 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Dari data diatas diperoleh hasil 100% yaitu kecepatan diagnosis dan tindakan dilakukan < 1hari. Tabel 6.0 154 100 24 100.3 23 95.10 berikut.10 Distribusi Ketepatan Diagnosis Dokter Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam N % n % 116 75.4.7 1 4.49 6.1 Kecepatan diagnosis dan tindakan Identifikasi kecepatan diagnosis dan tindakan dokter terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.

6 Evaluasi Menurut hasil wawancara dengan komite medis.11 Distribusi Supervisi Dokter Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam N % n % 154 100 24 100.0 Total N 178 178 % 100 100 Supervisi 1 x/ hari Total Sumber : data primer (diolah) hasil survey Juni 2009 Dari data diatas diperoleh hasil 100% atau supervisi dilakukan 1x/hari. Setelah dianalisis dengan Chi-Square Tests maka uji selanjutnya adalah uji regresi logistik sederhana.25 maka variabel tersebut masuk pada uji regresi logistik berganda (multivariat).11 berikut. 6. Dari Chi-Square Tests tidak dapat dianalisis karena bernilai konstan.024. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.8%.5 Supervisi Identifikasi supervisi dokter terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6. 6. Uji tersebut ber fungsi sebagai screening sebelum dilakukan uji regresi logistik berganda. Sedangakan kematian yang lebih dari 48 jam terbesar terdapat pada kelompok dengan ketepatan diagnosis tepat yaitu sebesar 95. Variabel yang .50 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok dengan ketepatan diagnosis tepat yaitu sebesar 78%.0 154 100 24 100. evaluasi jarang dilakukan dan apabila ada kegiatan evaluasi maka tidak di khususkan membahas tentang angka kematian melainkan tentang kejadian atau kasus yang terjadi saat itu. Jika signifikan nilai < 0. Tabel 6.

a. jenis penyakit kategori jenis penyakit (kronis).14E+46 1. Tabel 6. Hipotesis Hasil pengujian multivariate menunjukkan tingkat keparahan (tanpa kategori) berpengaruh signifikan terhadap kejadian Net death rate. namun pada kategori tingkat keparahan sedang dan berat tidak bernilai signifikan. Berikut adalah hasil uji regresi logistik berganda. Variabel jenis penyakit kategori (kronis) berpengaruh signifikan terhadap kejadian Net .05 adalah Tingkat Keparahan tanpa kategori. Oleh karena tidak berpengaruh secara kategori maka nilai RR tidak berpengaruh.080 0.037 RR 0. tingkat pendidikan kategori tingkat pendidikan ≤ SD.12 Hasil Uji Regresi Logistik Berganda Variabel Tingkat keparahan tanpa kategori Tingkat Keparahan kategori (Sedang) Tingkat Keparahan kategori (Berat) Jenis Penyakit kategori (Kronis) Ketepatan diagnosis (Tidak tepat) B -11. ketepatan diagnosis kategori (tidak tepat).842 Sumber : data primer (diolah) hasil survey Juni 2009 Intepretasi dari table 6.049 0.845 0.525 -2.27E+49 0.64 CI L 0. Jenis Penyakit kategori (kronis).005 U 2. tingkat keparahan tanpa kategori dan kategori tingkat keparahan sedang.400 -2.986 0.929 0.781 -5.00 0.000 0. dan Ketepatan Diagnosis kategori (tidak tepat).007 0.000 0.000 0.51 masuk uji logistik berganda adalah variabel usia kategori usia (15 – 24 th).747 P 0.12 adalah dari hasil uji diatas yang bernilai signifikan 0.005 0.

Resiko Relatif Resiko relatif pada penelitian ini yang bermakna adalah pada variabel jenis penyakit kategori (kronis) bernilai 0. Variable jenis penyakit kategori (kronis) yang bernilai koefisien – 2.080 mempunyai arti pada kondisi jenis penyakit akut memiliki kemungkinan lebih besar tidak terjadi kematian ≥ 48 jam dan ketepatan diagnosis kategori (tidak tepat) bernilai 0. .52 Death Rate. Variable ketepatan diagnosis kategori (tidak tepat) bernilai koefisien 2. c. Demikian juga dengan ketepatan diagnosis kategori (tidak tepat) berpengaruh terhadap kejadian net death rate diruang rawat inap interne RSUD Bangil.781 dan tingkat keparahan kategori (berat) yang berniali koefisien – 5.400 berarti peluang terjadinya kematian ≥ 48 jam semakin besar daripada tingkat keparahan ringan.747 mempunyai arti bahwa peluang terjadinya kematian ≥ 48 jam lebih besar dari diagnosis dokter yang tepat.525 mempunyai arti bahwa peluang terjadinya kematian ≥ 48 jam lebih besar dari jenis penyakit akut. b.64 mempunyai arti pada kondisi ketepatan diagnosis (tepat) memiliki kemungkinan lebih besar tidak terjadi kematian ≥ 48 jam. Koefisien Regresi Logistik Variabel tingkat keparahan kategori (sedang) yang bernilai koefisien 11.

Jenis Penyakit yang mempengaruhi terjadinya net death rate adalah penyakit kronis. Ketepatan Diagnosis antara diagnosis kerja dengan diagnosis akhir masih terjadinya net death rate. 3.53 6.7 Isu Strategis Dari hasil penelitian diperoleh isu strategis sebagai berikut : 1. . Tingkat keparahan penyakit sedang dan berat mempengaruhi terjadinya net death rate 2.

dan yang paling signifikan terjadi pada umur diatas 65 tahun. tren kematian kasar menurut kelompok umur dari tahun 1995-2007 menunjukan peningkatan resiko kematian pada usia diatas 45 tahun.1.1. Tren kematian ini kemungkinan besar terkait dengan pola penyakit yang mengalami transisi epidemiologis. Proporsi kematian > 48 jam terbanyak pada sampel berjenis kelamin 54 .1 Faktor Pasien 7. Dari hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2007.1 Usia Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar kelompok sampel adalah kelompok usia 45-65 tahun. Dari uji regresi logistik yang dilakukan diperoleh hasil P = 0. Baik pada kelompok hidup maupun mati ≥ 48 jam.517 yang berarti tidak bahwa ada pengaruh antara usia dengan terjadinya Net Death Rate. jadi dari kesimpulan diatas bahwa distribusi angka kematian akan semakin meningkat atau berbanding lurus dengan bertambahnya umur. 7. Hal ini bisa diihat dari pola penyebab kematian kasar didominasi penyakit degeneratif dengan menempati rangking 3 besar.BAB VII PEMBAHASAN 7.2 Jenis Kelamin Dari hasil penelitian sebagian besar sampel berjenis kelamin lakilaki. Namun perbedaan proporsi antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak banyak kesenjangan yaitu : laki-laki 55% dan perempuan 45 %.

kelompok maupun masyarakat.21%.18%.155. SLTP/MTs 5.22%. sehingga tidak ada pengaruh antara tingkat pendidikan dengan kejadian net death rate. Pendidikan merupakan upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu. 7. Menurut Notoatmodjo (2003). SD/MI 21. Dari analisa regresi logistik diperoleh P = 0. selain itu rendahnya tingkat ekonomi masyarakat juga merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya pendidikan masyarakat.55 laki-laki yaitu sebesar 14 sampel dari 24 sampel. Akademi/Diploma 0.1.26% dan terbagi menjadi tidak/belum tamat SD 39.3 %. Sedangkan kematian terbesar terdapat pada kelompok pasien dengan pendidikan ≤ SD yaitu sebesar 83. . SLTA/MA 3.34%. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat maka akan semakin besar memanfaatkan pelayanan kesehatan. Rendahnya tingkat pendidikan responden dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat untuk menuntut ilmu.56%.729 yang berarti tidak ada pengaruh antara jenis kelamin dengan kejadian Net Death Rate.3 Tingkat Pendidikan Dari hasil penelitian sebagian besar responen berpendidikan ≤ SD sebesar yaitu sebesar 71%.31% dan Sarjana 0. Dimana pendidikan yang lebih tinggi akan lebih banyak memberikan banyak informasi sehingga lebih memperhatikan kesehatannya. Dari uji logisticRegression diperoleh hasil sebesar P = 0. Yang berpendidikan mencapai 69. Hasil ini sebanding dengan hasil survei BPS Kabupaten Pasuruan tahun 2006 penduduk Kabupaten Pasuruan bahwa tingkat pendidikan masyarakat masih tergolong rendah.

sehingga dinilai tidak ada beda atau tidak ada pengaruh tingkat pendidikan dengan kejadian net death rate.800. Menurut Notoatmojo 1997 bahwa tingkat penghasilan dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan maupun pencegahan sangat berhubungan.1. membayar transport dan sebagainya. 7. palpasi dan auskultasi. jaminan kesehatan dan asuransi. sehingga dinilai tidak ada beda atau tidak ada pengaruh keadaan umum pasien dengan kejadian net death rate. Dari analisa logistik regresi diperoleh hasil P : 0. Seseorang kurang memanfatkan pelayanan yang ada mungkin karena tidak cukup mempunyai uang untuk membeli obat.1.792. Keadaan umum pasien merupakan tanda – tanda yang nampak secara keseluruhan pada diri pasien. 7.56 Hal ini berkaitan dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap masalah kesehatan. Dari analisa logistik regresi diperoleh hasil P : 0. Dokter biasa melihat keadaan umum melalui inspeksi. Menurut Sunarto (2007) penguasaan ilmu .4 Tingkat Ekonomi Tingkat ekonomi sampel penelitian dikelompokkan menurut cara pembayaran ke rumah sakit. Dari hasil peneliatian diperoleh hasil sebagian sampel adalah pasien dengan membayar sendiri sebesar 51 %. diikuti urutan berikutnya yaitu jaminan kesehatan sebesar 44 % serta urutan terakhir adalah asuransi sebesar 6%. kelompok tersebut terdiri atas bayar sendiri.5 Keadaan umum Dari hasil penelitian keadaan umum pasien terbanyak adalah dalam keadaan lemah dan sangat lemah yaitu sebesar 98 %. Sehingga banyak kasus yang terjadi pasien yang datang sudah dalam keadaan parah.

6 %.7 Tingkat Keparahan Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa sampel terbanyak ada pada tingkat keparahan (sedang) sebanyak 76.1. Hasil . dimana stroke adalah penyakit kronis. dimana nilai ini signifikan atau ada pengaruh antara tingkat keparahan dengan kejadian net death rate. Hal ini bisa diihat dari pola penyebab kematian kasar didominasi penyakit degeneratif dengan menempati rangking 3 besar. Dari hasil penelitian penyakit kronis mencapai 79 % dari total sampel. 7.9%.6 Jenis Penyakit Jenis penyakit disini dibagi menjadi akut dan kronis. Dan dari analisis logistik regeresi diperoleh P : 0.1.57 klinis merupakan hal mutlak dibutuhkan seorang dokter agar setiap langkah yang diambil dilakukan secara kritis dan dipikirkan arah pencarian data selanjutnya. Dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik saja banyak diagnosis yang ditegakkan seratus persen mendekati benar.00. 7. Hal ini sejalan dengan kejadian angka kematian di RSUD bangil. Penyakit yang menduduki tingkat pertama penyebab kematian tahun 2007 dan 2008 adalah penyakit Stoke. Dari hasil analisis logistik regresi diperoleh P = 0.≥ 48 jam terbanyak pada kategori tingkat keparah (berat) sebanyak 91. Menurut hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2007 tren kematian ini kemungkinan besar terkait dengan pola penyakit yang mengalami transisi epidemiologis. Sikap analitis kritis dibutuhkan mulai dari pasien masuk sampai akhir pasien keluar.000 sehingga bernilai signifikan atau ada pengaruh antara jenis penyakit dengan kejadian net death rate.

dapat di pertanggung jawabkan dan jasa yang disampaikan tepat sesuai dengan yang dijanjikan. .58 pengujian multivariat menunjukkan tingkat keparahan (tanpa kategori) berpengaruh signifikan terhadap kejadian Net death rate. Assurance (jaminan) dalam penyampaian produk atau jasa disertai dengan rasa hormat. 2. Oleh karena tidak berpengaruh secara kategori maka nilai Resiko Relatif tidak berpengaruh. selain itu proses penyampaian dapat juga menimbulkan rasa percaya dan yakin akan jaminan sembuh. 4. adalah kemampuan untuk menyediakan pelayanan dengan cepat dan mau membantu pasien 3. berat. keinginan dan harapan pasien. dapat dipercaya.2. namun pada kategori tingkat keparahan sedang dan berat tidak bernilai signifikan. produk atau jasa dapat di andalkan. Responsiveness (daya tanggap). Emphaty (empati) adalah kesediaan pemberi jasa untuk mendengarkan dan adanya perhatian akan keluhan .2 Faktor Proses Pelayanan 7. sedang.1 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa kecepatan diagnosis dan tindakan bernilai konstan atau hasil penelitian diperoleh bahwa kecepatan diagnosis dan tindakan dilakukan < 1 hari. kebutuhan. 7. Menurut Supriyanto (2005) indikator kualitas atau mutu jasa dapat di evaluasi ke dalam lima dimensi mutu yaitu : 1. Reliability (keandalan). Menurut Kalangi (1994) tingkat keparahan penyakit dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu : ringan. sopan.

Ketepatan Waktu Termasuk akses. peralatan. Maxwell. Tangibles (kasat mata) untuk mengukur penampilan fisik. keparipurnaan dan keberhasilan pengobatan. dan siapa. Ciri lain dari pelayanan yang bermutu adalah : 1. Kompetensi teknis Termasuk pengetahuan kedokteran dan keperawatan. 1988. 2. Jadi dapat dikatakan bahwa dimensi ketanggapan (responsiveness) rumah sakit khususnya ruang rawat inap interne RSUD Bangil sudah diimplementasikan dengan baik.52. dan waktu tindakan. Hubungan antarmanusia Kedalam ini termasuk rasa hormat. . mengapa. bagaimana. 1984 dalam Pohan. Sedangakan kematian ≥ 48 jam terbesar terdapat pada kelompok dengan ketepatan diagnosis tepat yaitu sebesar 95. teknologi. sopan santun. Informasi Penjelasan dari jawaban apa. kapan.8%. ketrampilan dan pengalaman. 3. 4.59 5. perilaku dan empati. dimana nilai ini signifikan atau ada pengaruh antara ketepatan diagnosis dengan kejadian net death rate.2 Ketepatan diagnosis Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok dengan ketepatan diagnosis tepat yaitu sebesar 78%. karyawan serta sarana komunikasi Kecepatan diagnosis dan tindakan masuk dalam dimensi responsiveness.2. Menurut (Juran. 7. waktu tunggu. 2007) ketepatan diagnosis merupakan salah satu ciri pelayanan yang bermutu. Dari hasil analisis logistik regresi diperoleh P = 0.

Lingkungan Termasuk gedung. taman. Apabila evaluasi tidak dilakukan bagaimana mengetahui pelaksanaan dari perencanaan yang telah dilakukan dan bagaimana dapat mengetahui apabila ada penyimpangan antara perencanaan dan pelaksaan. mengidentifikasi masalah dalam pelaksanaan RPK. 7. 7. yang perlu diperhatikan dalam supervisi adalah proses pengamatan. .60 5.4 Evaluasi Dari hasil penelitian diperoleh evaluasi jarang dilakukan oleh dokter spesialis dan komite medik. kenyamanan.3 Supervisi Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa supervisi oleh dokter spesialis dilakukan 1 kali perhari sebesar 100%. terhadap pelaksanaan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK). kebersihan. Hal ini bertentangan dengan Supriyanto dan Damayanti (2005) bahwa evaluasi adalah prosedur penilaian pelaksanaan kerja dan hasil kerja secara menyeluruh dengan cara sistematik dengan membandingkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan guna pengambilan keputusan. keamanan. mengkaji keberhasilan pelaksanaan RPK. memberi bimbingan penyelesaian masalah. Dalam hal ini supervisi atau visitasi oleh dokter spesialis sudah diintepretasikan dengan baik.

menganjurkan kepada masyarakat untuk tidak terlambat datang ke rumah sakit apabila menderita sakit. 2. 8. 61 . dapat diambil kesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya net death rate di ruang rawat inap interne RSUD Bangil adalah : 1. Faktor Proses Pelayanan Ketepatan dokter dalam mendiagnosis penyakit mempengaruhi kejadian net death rate.1 Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian serta pembahasan. b. Meningkatkan kegiatan KIE guna pencegahan penyakit dan menurunkan kejadian NDR. Faktor Pasien : a.BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8. pembahasan serta kesimpulan maka dapat kami kemukakan beberapa saran sebagai berikut: 1.2 Saran Mengacu pada hasil penelitian. Tingkat Keparahan penyakit. Jenis penyakit. pasien dengan jenis penyakit kronis memiliki resiko lebih tinggi dari pada jenis penyakit akut. untuk kategori sedang dan berat memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kejadian net death rate dari pada tingkat keparahan ringan.

. Segera memanfaatkan ruang intensive care yang sudah ada untuk pasien yang memerlukan perawatan intensive. Melaksanakan kegiatan evaluasi secara rutin guna menurunkan kejadian net death rate. 3. 4. Meningkatkan kualitas dan kemampuan diagnosis penyakit dengan penambahan alat penunjang diagnostik dan pelatihan.62 2.

Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. Jakarta: Penerbit Andi. Jakarta : EGC Sunarto. Aspek Strategis Manajemen Rumah Sakit. Kegiatan Pelayanan.DAFTAR PUSTAKA Aripin. http://www. Notoatmodjo. Pohan.htm (sitasi 27 Nopember 2007) Fariani. Vincent.id/data%20intranet/Sharing%20Folder/DITJEN %20YANMEDIK/seri%201/Bab%203. Diagnosa Klinis Awal. edisi 2005. Surabaya : Airlangga University Press Trisnantoro. Jakarta: Rineka Cipta. 2005. Tesis. Departemen Kesehatan RI. Imbalo S. A. 2002. 2004. Universitas Airlangga Supriyanto dan Damayanti.com (sitasi 30 juni 2009) .S. 2007. Surabaya : Fakultas Kesehatan Masyarakat. Upaya Penurunan Net Death Rate Berdasarkan Analisis Manajemen di Ruang Neonatus RSUD Dr. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro.go. 2005. ________. Surabaya : Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2002. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2002. Strategi Pemasaran Jasa Pelayanan Kesehatan.datastatistik-indonesia. Universitas Airlangga Azwar. Universitas Airlangga Gaspersz. 2005. 1999.depkes. Soekidjo. Jakarta : EGC Supriyanto. Jakrata:Binapura aksara. R. dan Hidajah. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Dasar Epidemiologi. 2005. S. A. Manajemen Kualitas Dalam Industri Jasa: Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama. L.C.Surabaya Bagian AKM Fakultas Kesehatan Masayarakat. Perencanaan dan Evaluasi. 2008. http://bankdata. 2009. Aloysius.

1 88.368 178 df 3 3 1 a.24 tahun 25 .9% 11.5 85.4 2.5% Total 19 19.64 tahun > = 65 tahun Total Count Expected Count % within Usia Count Expected Count % within Usia Count Expected Count % within Usia Count Expected Count % within Usia Count Expected Count % within Usia Chi-Square Tests Asymp.44 tahun 45 .1 4.9 6. .4% 154 24 154.625 2.124 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 2.0% 78 78.0 100.0 86.Crosstabs Usia * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 18 1 16.5 10.0% Usia 15 .56.0%) have expected count less than 5.6 94.1% 67 11 67.6% 19.9% 14.0 100.1% 29 7 31. 2 cells (25.7% 5. (2-sided) .0 100.3% 40 5 38.0 100.5% 13.0% 178 178.9 80.0% 36 36. The minimum expected count is 2.0 100.0% 45 45.486 . Sig.453 .0 24.440a 2.

0% 80 80.7% 14.452 a.8 87.3% 70 10 69. Computed only for a 2x2 table b.2 10.0% Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total Count Expected Count % within Jenis kelamin Count Expected Count % within Jenis kelamin Count Expected Count % within Jenis kelamin Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value .0 100. The minimum expected count is 10.120 178 1 . . Sig.0 86.729 .827 . 0 cells (. (2-sided) Exact Sig.5% Total 98 98. (1-sided) .016 .728 Exact Sig.5% 12.121 df 1 1 1 Asymp.0% 178 178.0 100.8 13. (2-sided) .0 100.0%) have expected count less than 5.79.5% 154 24 154.0 24.899 .Jenis kelamin * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 84 14 84.5% 13.729 .120b .2 85.

The minimum expected count is 1.6 91.0 24. (2-sided) .268a 7.0 100.9 96.0 100. Sig.7% 8.0 100.5% 13.62.0% 178 178.4 1.065 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 6.0% Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMA Total Count Expected Count % within Pendidikan Count Expected Count % within Pendidikan Count Expected Count % within Pendidikan Count Expected Count % within Pendidikan Count Expected Count % within Pendidikan Chi-Square Tests Asymp.5% Total 12 12.6% 3.5%) have expected count less than 5.8% 28 1 25.0 100.2% 4.8 95.059 .9% 18.4 15.1% 20 1 18.0 100.436 3.2 2.Pendidikan * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 11 1 10.0% 116 116.099 . 3 cells (37.1 3.4% 154 24 154.3% 95 21 100.6 81.0 86.0% 21 21.0% 29 29. .407 178 df 3 3 1 a.

.5 84.082 178 df 2 2 1 a.5 10.4% 9 1 8.0 100.0% 154 24 154.5% Total 90 90.0 86.8% 12.791 .0 24.0 100.6% 15.0 100. The minimum expected count is 1. Sig.468a .9 12.0% 10.7 1.2% 66 12 67.Jenis pasien * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 79 11 77.0 100.774 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value .0% 178 178. 1 cells (16.35.790 .472 .0% 78 78.0% 10 10. (2-sided) .0% Jenis pasien Bayar sendiri Jaminan kesehatan Askes Total Count Expected Count % within Jenis pasien Count Expected Count % within Jenis pasien Count Expected Count % within Jenis pasien Count Expected Count % within Jenis pasien Chi-Square Tests Asymp.7%) have expected count less than 5.3 90.1 87.5% 13.

132 12.0% .9% 17.0 100.0 24. . 0 cells (.1 18.1% 154 24 154. (2-sided) . Computed only for a 2x2 table b.0% 140 140.0% 116 24 121.0 86. The minimum expected count is 5.12.5% Total 38 38.003 7.0% Jenis penyakit Akut Kronis Total Count Expected Count % within Jenis penyakit Count Expected Count % within Jenis penyakit Count Expected Count % within Jenis penyakit Chi-Square Tests Asymp. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 7.1 100.0% 178 178. (2-sided) Exact Sig.Jenis penyakit * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 38 0 32.0 100.0 100.0%) have expected count less than 5.006 .487 178 1 .006 .507 df 1 1 1 .013 .002 a.9 82.000 Exact Sig.529b 6.5% 13.9 5. Sig.

0%) have expected count less than 5. (2-sided) .321 178 1 .5% Tingkat keparahan Parah Sangat parah Total Count Expected Count % within Tingkat keparahan Count Expected Count % within Tingkat keparahan Count Expected Count % within Tingkat keparahan Total 136 136.826b 84.9% 154 154.0 86.0% 42 42.0 100.0 100.0% 178 178.3 100.0% 24 5.3 42.0% Chi-Square Tests Asymp.66.000 89.000 .423 df 1 1 1 .000 a.000 Exact Sig. 0 cells (.Tingkat keparahan * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 136 0 117.7 57. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 89. Sig.000 .5% .1% 24 24. . Computed only for a 2x2 table b.7 18. (2-sided) Exact Sig.0 100. The minimum expected count is 5.0% 18 36.994 83.000 .0 13.

54.0% 154 24 154.0% 50.6% 16.1 12.119 .672a 5.083 . (2-sided) .0% . 4 cells (50.5 50.5% 13. Sig.0% 5 5.3 .Cara masuk * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 86 10 83.087 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 6.7 100.9 89.5 .0% 73 73.0% 4 4.0 100.4% 5 0 4.4% 61 12 63.0 100.0% 2 2 3.8 83.0 100. .0% 178 178.0 24.2 9.934 178 df 3 3 1 a.0% Cara masuk Datang sendiri Kiriman PKM Kiriman RS Swasta Kiriman dokter/bidan praktek Total Count Expected Count % within Cara masuk Count Expected Count % within Cara masuk Count Expected Count % within Cara masuk Count Expected Count % within Cara masuk Count Expected Count % within Cara masuk Chi-Square Tests Asymp.844 2.6% 10.0 100. The minimum expected count is .0 86.5% Total 96 96.0 100.0%) have expected count less than 5.

0 100.000 .6 100.0% Kondisi masuk rumah sakit Sangat lemah Lemah Cukup Total Count Expected Count % within Kondisi masuk rumah sakit Count Expected Count % within Kondisi masuk rumah sakit Count Expected Count % within Kondisi masuk rumah sakit Count Expected Count % within Kondisi masuk rumah sakit Chi-Square Tests Asymp.910 178 df 2 2 1 a.1 88.Kondisi masuk rumah sakit * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 0 5 4.7 . The minimum expected count is .40.000 .0 100. .2% 0 .5% 100.0% 19 22.0% 151 147.0 86. 4 cells (66.5% Total 5 5.8% 3 2.0% 24 24.9 11.723 23. Sig.7%) have expected count less than 5.0% 3 3.326a 21.4 . (2-sided) .0% 170 170.0 13.0 100.0 100.3 .0% 154 154.0% 178 178.000 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 33.

030 .4% 28.0% 178 178.5% Kesadaran CM Koma Apatis Total Count Expected Count % within Kesadaran Count Expected Count % within Kesadaran Count Expected Count % within Kesadaran Count Expected Count % within Kesadaran Total 160 160.0% 11 11.5% 13.9 71.6 88.023 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 6.0% Chi-Square Tests Asymp. .5 1.5 63. 2 cells (33.0 100.0 24.8% 11.0 86.443 5.Kesadaran * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 142 18 138.0 100.4% 5 2 6.147 178 df 2 2 1 a.0 100.987a 5.0% 7 7.6% 36.0 100. The minimum expected count is .3% 7 4 9.3%) have expected count less than 5. (2-sided) . Sig.1 .4 21.066 .94.6% 154 24 154.

.0% 178 178.0 24.5% 24 24.0 100. No statistics are computed because Kecepatan diagnosa is a constant.0 13.5% Kecepatan diagnosa <= 24 jam Total Count Expected Count % within Kecepatan diagnosa Count Expected Count % within Kecepatan diagnosa Total 178 178.5% 154 154.5% 13.0 86.Kecepatan diagnosa * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 154 24 154.0 86.0 100.0% Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square N of Valid Cases .a 178 a.

172 2.668 df 1 1 1 .241 178 1 .0 100.254b 1. Computed only for a 2x2 table b.0%) have expected count less than 5.3 84.5% 13. Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 2.220 .7% 154 24 154.102 Exact Sig.133 .6% 15.7 94.3% 5.4% 33 2 30.Diagnosa * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 121 22 123.0% 35 35.0 86.72.501 2.0 100.0% Chi-Square Tests Asymp.134 .0 24. 1 cells (25.7 19. The minimum expected count is 4. (2-sided) .5% Diagnosa Tepat Tidak tepat Total Count Expected Count % within Diagnosa Count Expected Count % within Diagnosa Count Expected Count % within Diagnosa Total 143 143.105 a.0% 178 178. .0 100.3 4.

.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.000 Exp(B) .219 Wald 71. see classification table for the total number of cases. b.859 S. Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Paramete r coding (1) 1.b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.000 .E.0 100.0 a.0 .0 . Constant is included in the model. The cut value is .750 df 1 Sig.156 .Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.500 Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.000 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Frequency 98 80 Block 0: Beginning Block Classification Tablea. .0 86.0 100. If weight is in effect.0 .

The cut value is .154 -1.5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.729 .000 Exp(B) 1.788 Step a 1 GENDER(1) Constant B .729 Step 0 Variables Overall Statistics GENDER(1) Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square . .120 df 1 1 Sig.0% C.167 .0 86.001 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.001 Nagelkerke R Square .132 df 1 1 Sig. .729 . .E.121 df 1 1 1 Sig.0 . Variable(s) entered on step 1: GENDER.946 S.728 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 140. .121 .Variables not in the Equation Score . .143 a.728 .120 33.728 .121 .338 Wald .120 .445 .I.for EX P(B) Lower Upper .500 Variables in the Equation 95.488 2.666 Cox & Snell R Square .

0 .000 .0 .0 .000 .0 86. see classification table for the total number of cases.000 .000 . Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Parameter coding (1) (2) 1. The cut value is .0 100.000 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.000 . b.000 .000 .000 1. If weight is in effect.b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.000 .0 100.500 .Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.000 Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMA Frequency 12 116 21 29 (3) .0 a.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.000 1. Constant is included in the model.

The cut value is .E.099 Step 0 Variables PDDK PDDK(1) PDDK(2) PDDK(3) Overall Statistics Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 7.5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.589 .351 Cox & Snell R Square .014 .268 df 3 1 1 1 3 Sig.552 6.094 1.000 Exp(B) .059 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 133. .436 7.156 Variables not in the Equation Score 6.075 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.436 7.059 .293 6.059 .0 86.436 df 3 3 3 Sig. .099 .500 .219 Wald 71. .213 .268 .0 .Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.041 Nagelkerke R Square . .859 S.750 df 1 Sig.

189 1.737 B Step a 1 PDDK PDDK(1) PDDK(2) PDDK(3) Constant .054 10.368 48.036 a.400 .E.046 1.for EXP(B) Lower Upper .083 44. .545 6.081 .721 df 3 1 1 1 1 Sig.444 1.332 S.146 .074 23.522 .I.336 -3.458 1.241 .038 . 1. Variable(s) entered on step 1: PDDK.001 Exp(B) 2.018 Wald 5. .816 .155 .0% C.823 .934 1.410 3.Variables in the Equation 95.797 .

Constant is included in the model.000 .0 86.000 . If weight is in effect. Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Parameter coding (1) (2) 1.000 .0 100.000 Jenis pasien Bayar sendiri Jaminan kesehatan Askes Frequency 90 78 10 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.500 . see classification table for the total number of cases.0 .5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.0 a.Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.0 100.000 1.0 . b.000 .0 .b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. The cut value is .

636 .003 Nagelkerke R Square . 1. The cut value is .430 .005 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.654 . . .100 1.859 S.I.226 .190 10.248 .790 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 140.000 Exp(B) .468 . .127 B Step a 1 JENIS2 JENIS2(1) JENIS2(2) Constant .037 Exp(B) 1.790 .0 86.500 Variables in the Equation 95.868 14.472 .345 df 2 1 1 1 Sig.102 1.791 Step 0 Variables JENIS2 JENIS2(1) JENIS2(2) Overall Statistics Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square .054 Wald .5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.042 .0% C. .512 .465 .0 .219 Wald 71.468 df 2 1 1 2 Sig.E.750 df 1 Sig.for EX P(B) Lower Upper .111 a.792 .618 . Variable(s) entered on step 1: JENIS2.197 S.791 .156 Variables not in the Equation Score .201 4.472 . .315 Cox & Snell R Square .E.253 1.492 -2.790 .838 .472 df 2 2 2 Sig. .Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.145 .

0 .0 .156 .0 .000 .b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100. The cut value is . If weight is in effect. see classification table for the total number of cases. b.0 100.750 df 1 Sig.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.0 86.000 Exp(B) .0 a.859 S. . Constant is included in the model.000 Jenis penyakit Akut Kronis Frequency 38 140 Block 0: Beginning Block Classification Tablea. .E.219 Wald 71.500 Variables in the Equation Step 0 Constant B -1. Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Paramete r coding (1) 1.0 100.

224 Wald .207 a. .0 .006 .000 .006 Step 0 Variables Overall Statistics PENYAKIT(1) Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 12.000 .5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.000 49.627 -1.0% C. Step a 1 PENYAKIT(1) Constant B -19.507 12. .530 df 1 1 Sig.530 7.E.507 12.068 Nagelkerke R Square .000 .for EXP(B) Lower Upper .000 .000 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 128.I.280 Cox & Snell R Square .0 86.000 Exp(B) .124 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. The cut value is . 6520.500 Variables in the Equation 95.363 df 1 1 Sig. Variable(s) entered on step 1: PENYAKIT.507 df 1 1 1 Sig. .576 S.Variables not in the Equation Score 7.161 .998 . .

000 Tingkat keparahan Parah Sangat parah Frequency 136 42 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.0 . .0 100. b.859 S.b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. The cut value is .0 .0 100.0 86.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a. Constant is included in the model. If weight is in effect.750 df 1 Sig.219 Wald 71. .0 a.000 Exp(B) .Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100. see classification table for the total number of cases.500 Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.156 .000 . Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Paramete r coding (1) 1.E.0 .

Variables not in the Equation Score 89.000 .000 .826 df 1 1 Sig.I.519 .3 100.000 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 57.826 89.423 df 1 1 1 Sig. .000 .851 df 1 1 Sig.000 . .000 . Variable(s) entered on step 1: PARAH.000 1.685 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 136 18 0 24 Percentage Correct 88.0 89.423 83.for EX P(B) Lower Upper .9 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.288 S. .995 .000 Step 0 Variables Overall Statistics PARAH(1) Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 83. .312 Wald . Step a 1 PARAH(1) Constant B -21.423 83.356 Exp(B) .500 Variables in the Equation 95. 3446.0% C.374 Nagelkerke R Square .364 Cox & Snell R Square .E.333 a.491 . The cut value is .

156 Block 1: Method = Enter .859 S.0 .b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. it will be removed from the analysis.0 . b. Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.500 Variables in the Equation Step 0 Constant B -1. . The category variable Kecepatan diagnosa is constant for all selected cases. Since a constant was requested in the model. see classification table for the total number of cases.219 Wald 71.0 100. b.750 df 1 Sig.000 Exp(B) .0 a. .0 86. The cut value is .0 . If weight is in effect.Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a b N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100. Constant is included in the model.0 100.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.E.

000 Nagelkerke R Square .750 df 1 Sig. .000 Exp(B) .219 Wald 71. The cut value is .0 .E.156 .Model Summary -2 Log likelihood 140.5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.787 Cox & Snell R Square . .500 Variables in the Equation Step 1 Constant B -1.000 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.0 86.859 S.

Logistic Regression

Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178

Unselected Cases Total

Percent 100,0 ,0 100,0 ,0 100,0

a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.

Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1

Categorical Variables Codings Paramete r coding (1) 1,000 ,000

Diagnosa

Tepat Tidak tepat

Frequency 143 35

Block 0: Beginning Block

Classification Tablea,b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100,0 ,0 86,5

Step 0

Observed Kematian Overall Percentage

< 48 jam > 48 jam

a. Constant is included in the model. b. The cut value is ,500

Variables in the Equation

Step 0

Constant

B -1,859

S.E. ,219

Wald 71,750

df 1

Sig. ,000

Exp(B) ,156

Variables not in the Equation Score 2,254 2,254 df 1 1 Sig. ,133 ,133

Step 0

Variables Overall Statistics

DIAGNOSA(1)

Block 1: Method = Enter

Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 2,668 2,668 2,668 df 1 1 1 Sig. ,102 ,102 ,102

Step 1

Step Block Model

Model Summary -2 Log likelihood 138,119 Cox & Snell R Square ,015 Nagelkerke R Square ,027
Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100,0 ,0 86,5

Step 1

Step 1

Observed Kematian Overall Percentage

< 48 jam > 48 jam

a. The cut value is ,500
Variables in the Equation 95,0% C.I.for EXP(B) Lower Upper ,671 13,416

Step a 1

DIAGNOSA(1) Constant

B 1,099 -2,803

S.E. ,764 ,728

Wald 2,067 14,820

df 1 1

Sig. ,151 ,000

Exp(B) 3,000 ,061

a. Variable(s) entered on step 1: DIAGNOSA.

Logistic Regression

Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178

Unselected Cases Total

Percent 100,0 ,0 100,0 ,0 100,0

a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.

Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1

Categorical Variables Codings Parameter coding (1) (2) 1,000 ,000 ,000 1,000 ,000 ,000 ,000 ,000

Usia

15 - 24 tahun 25 - 44 tahun 45 - 64 tahun > = 65 tahun

Frequency 19 45 78 36

(3) ,000 ,000 1,000 ,000

Block 0: Beginning Block

Classification Tablea,b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100,0 ,0 86,5

Step 0

Observed Kematian Overall Percentage

< 48 jam > 48 jam

a. Constant is included in the model. b. The cut value is ,500

162 Cox & Snell R Square .046 2. .859 S.E.Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.000 Exp(B) .156 Variables not in the Equation Score 2.0 86.5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.015 Nagelkerke R Square .625 2.831 . .267 .453 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 138.027 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.453 .486 . .232 .750 df 1 Sig.625 2.290 .0 . The cut value is .500 . .590 .453 .440 1.219 Wald 71.625 df 3 3 3 Sig.486 Step 0 Variables USIA USIA(1) USIA(2) USIA(3) Overall Statistics Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 2.440 df 3 1 1 1 3 Sig.

230 .532 . .110 .634 .750 1.149 .658 -. .0% C.186 .516 . 1.I.385 -1.680 .469 -.001 Exp(B) .795 1.240 2.518 .392 df 3 1 1 1 1 Sig.421 S.930 B Step a 1 USIA USIA(1) USIA(2) USIA(3) Constant -1.469 .E.280 1.076 .241 a.026 . Variable(s) entered on step 1: USIA.for EXP(B) Lower Upper .Variables in the Equation 95.300 .421 Wald 2.525 11.028 1.

0 .000 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.000 Pendidikan Diagnosa Tidak sekolah SD SMP SMA Tepat Tidak tepat Frequency 12 116 21 29 143 35 (3) . If weight is in effect.000 .000 .000 .500 .Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.000 .0 100.000 .0 a. b.000 .5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a. The cut value is . Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Parameter coding (1) (2) 1.0 86.000 1.000 .000 .0 .000 1.b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. see classification table for the total number of cases.000 .0 100. Constant is included in the model.000 1.0 .

417 10.133 .014 .859 S. .156 Variables not in the Equation Score 6.254 8. .0 .213 .000 Exp(B) .034 . The cut value is .370 Cox & Snell R Square .750 df 1 Sig. .417 df 4 4 4 Sig.293 6.768 df 3 1 1 1 1 4 Sig.5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.500 .034 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 130.589 .0 86.057 Nagelkerke R Square .099 .104 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. .219 Wald 71.552 2.067 Step 0 Variables PDDK PDDK(1) PDDK(2) PDDK(3) DIAGNOSA(1) Overall Statistics Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 10.094 1.268 .034 .Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.E.417 10.

784 .246 3.129 .807 21.000 Exp(B) 2.262 14.404 6.986 .122 1.495 .317 S.139 .711 42.772 1.879 .084 .302 12.for EXP(B) Lower Upper .549 .447 . Variable(s) entered on step 1: PDDK.191 df 3 1 1 1 1 1 Sig.E.171 -4. .636 B Step a 1 PDDK PDDK(1) PDDK(2) PDDK(3) DIAGNOSA(1) Constant .0% C. 1.Variables in the Equation 95.225 .812 . .273 47.137 .073 .877 1.236 Wald 5. DIAGNOSA.360 2.013 a.023 2.220 1.049 1.463 1.I.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->