Anda di halaman 1dari 6

PERSOALAN-PERSOALAN REKRUITMEN KEPALA DAERAH

Oleh: Sigit Pamungkas Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM

Rekruitmen politik sering disebut kebun rahasia partai. Disebut demikian karena penyingkapan terhadap fenomena rekruitmen politik dapat mengambarkan banyak hal dari partai politik, seperti lokus kekuasaan dalam partai, perjuangan faksifaksi partai, dan karakter partai. Kekuasaan terpencar atau terkonsentrasi dalam sedikit aktor, perjuangan faksi-faksi partai bersifat sentrifugal atau sentripetal, dan partai tersebut ideologis atau pragmatis akan terlihat dari proses rekruitmen politik. Terdapat keyakinan yang kuat bahwa buruknya kepemimpinan kepala daerah sebagian adalah disumbang oleh buruknya model rekruitmen kepala daerah yang dimiliki partai politik. Model rekruitmen kepala daerah yang ada tidak mampu memastikan orang-orang terbaik untuk tampil menjadi kepala daerah. Data yang disampaikan oleh Mendagri memperkuat keyakinan itu. Dikatakan bahwa tidak kurang dari 17 gubernur berstatus tersangka dan 155 bupati/walikota sedang menjalani proses hukum (Kompas, 18/1/2011). Data lain juga menunjukkan maraknya pencalonan dari anak, istri dan saudara dari petahana (incumbent) menjadi calon kepala daerah sehingga melahirkan aristokrasi dan oligarki partai. Banyak pula kepala daerah yang bekerja atas dasar business as usual sehingga gagal melakukan inovasi pelayanan publik. Keseluruhan data tersebut secara tidak langsung menyiratkan buruknya kemampuan model rekruitmen kepala daerah oleh partai politik untuk melahirkan individu-individu terbaik. Yang terjadi kemudian adalah ketika pemilukada tiba, rakyat oleh partai sebenarnya disajikan pilihan kandidat-kandidat yang kurang kredibel. Rakyat pada akhirnya memilih kandidat yang kurang kredibel karena tidak ada alternatif lain yang ditawarkan. Secara umum, terdapat sejumlah karakteristik umum model rekruitmen kepala daerah yang dilakukan oleh partai-partai. Karakter-karakter itu kemudian menyumbang sejumlah persoalan dalam proses rekruitmen. Persoalan-persoalan itu adalah sebagai berikut: 1. Sentralisasi Pengambilan Keputusan Sentralisasi dalam proses kandidasi menjadi salah satu persoalan dasar yang menyebabkan berbagai persoalan dalam kandidasi muncul. Sentralisasi ini sendiri, seperti telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, adalah proses dimana otorisasi kandidasi berlangsung pada level nasional dan dilakukan olet elit, agen atau pemimpin partai. Elit dan level pusat partai menentukan dan memfinalisasi
1

kandidat yang akan diusung partai. Struktur dan elit partai di level lokal tidak cukup berperan. Pada proses yang sentralistik ini, elit dan struktur pusat partai bahkan memiliki veto atas kandidat yang diusulkan oleh penyeleksi pada tahap sebelumnya.

Bagan: Desentralisasi Rekruitmen Kepala Daerah Sentralistik Nasional PDIP, Golkar, Gerindra, PD, PKS

Regional

PAN

Lokal

PPP

Desentralistik

Semua partai politik, kecuali PAN dan PPP, model rekruitmennya bersifat sentralistik. Partai-partai itu menempatkan otorisasi kandidasi pada elit dan struktur partai pusat. Pada kerangka itu, sejumlah persoalan dalam kandidasi kemudian muncul. Pertama, sentralisasi dapat mengakibatkan ketidaksambungan antara aspirasi lokal dengan aspirasi nasional. Apa yang diputuskan pada tingkat lokal belum tentu menjadi keputusan Pusat. Pusat punya preferensi tersendiri dan lokal punya preferensi tersendiri. Idealnya aspirasi nasional memperkuat aspirasi lokal karena lokal relatif lebih memahami kondisi kandidat dan arena kompetisi. Idealitas itu terbuka untuk tidak tejadi disebabkan oleh proses loby kandidat ataupun pusat memang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu dengan segala argumentasinya. Kedua, sentralisasi memberi insentif perilaku jalan pintas dan oportunistik ke Pusat. Demi untuk mendapat dukungan partai dalam kandidasi, kandidat atau pendukung kandidat cenderung membangun kedekatan dengan elit partai pusat dibandingkan dengan partai lokal. Partai di tingkat lokal diabaikan. Para kandidat da pendukungya sangat sadar bahwa loby terhadap struktur partai lokal tidak mencukupi atau bahkan tidak banyak memberi makna karena partai ditingkat lokal tidak memegang otoritas penting dalam penominasian kandidat. Struktur partai pusat adalah aktor penting untuk menentukan kandidat yang akan dimajukan partai.
2

Adanya sentralisasi yang perlu diyakinkan untuk pencalonan adalah elit pusat partai, bukan partai ditingkat lokal. Kegagalan dalam proses di level lokal tidak akan pernah menyurutkan kandidat untuk mendapatkan dukungan dari partai tertentu selama struktur pusat partai belum memutuskan. Terakhir, sentralisasi menjadikan lokal cenderung menghindar daritanggungjawab. Idealnya setiap keputusan partai semestinya menjadi tanggungjawab semua struktur partai untuk mensukseskannya, termasuk partai di level lokal. Idealitas itu bisa saja tidak terjadi karena struktur partai lokal merasa tidak terlibat dalam menentukan kandidat yang dinominasikan. Kemungkinan terjadinya sikap berkelit dari tanggungjawab semakin besar ketika terjadi perbedaan antara kandidat yang dinominasikan struktur partai pusat dan lokal. Struktur partai lokal merasa ini bukan keputusan mereka. 2. Birokratisasi Kandidasi Birokratisasi merupakan proses rekruitmen yang berlangsung pada hierarki struktur partai. Hanya mereka yang duduk dalam struktur partai terlibat dalam proses rekruitmen. Entitas diluar struktur partai tidak terlibat sama sekali. Anggota partai tidak terlibat sama sekali, apalagi pemilih pada umumnya. Anggota partai yang sering disebut sebagai pemilik kedaulatan partai sekedar menjadi penonton atas proses-proses yang berlangsung dalam birokrasi partai. Rekruitmen kandidat adalah milik birokrasi partai.

Bagan: Agen-Agen Rekruitmen Kepala Daerah Golkar, PAN (via survei dan hasilnya bersifat binding) Demokratik
Pemilih Anggota Partai Delegasi partai Elit Partai Agen Partai Pemimpin Tunggal

PDIP, PAN, PD, Golkar, PKS Gerindra

Gerindra Birokratik

B i r o k r a s i

P a r t a i

Birokratisasi proses rekruitmen ini kemudian menimbulkan beberapa persoalan. Pertama, anggota tidak merasa terikat dengan keputusan partai. Anggota partai melihat bahwa kandidasi adalah pekerjaan elit partai, bukan pekerjaan bersama yang melibatkan seluruh komponen partai. Mulai dari tahap penjaringan sampai pada penominasian sama sekali tidak melibatkan anggota partai. Wujud ketidakterikatan tersebut direpresentasikan dengan masa bodoh dengan siapapun
3

yang diajukan partai, ketidakharusan untuk mensukseskan kandidat partai, sampai pada merasa tidak harus memilih kandidat yang diusung partai. Kedua, rawan diboncengi kepentingan elit atau dikooptasi oleh elit kuat. Kandidasi yang hanya berlangsung diinternal partai melahirkan pertanyaan apakah kandidat yang muncul merepresentasikan kepentingan anggota atau elit partai. Kepentingan elit partai jelas lebih dominan dalam kandidasi karena mereka mengkontrol semua proses kandidasi. Semua tahap dalam kandidasi dapat dimanfaatkan untuk mendorong kepentingan elit partai terakomodasi dibandingkan kepentingan anggota partai. Bahkan, dominasi elit kuat partai boleh jadi juga terjadi karena absennya mekanisme kontrol atas proses kandidasi. Absennya ruang pemilih untuk terlibat dalam keseluruhan proses kandidasi menjadikan elit partai dengan mudah menempatkan kepentingan-kepentingan politiknya dalam nominasi kandidat. Ketiga, absennya voluntarisme. Kesediaan orang atau anggota partai untuk berpartisipasi secara sukarela menjadi luntur. Segenap bagian aktivitas pilkada kemudian semuanya membutuhkan kompensasi. Tidak ada orang yang menyediakan dirinya secara sukarela terlibat dalam aktivitas partai untuk mensukseskan kandidat. Menghadiri kampanye kandidat tanpa kompensasi adalah tindakan langka tersendiri, apalagi memberikan kontribusi finansial untuk kesuksesan partai dalam pilkada. Voluntarisme benar-benar punah padahal dimensi ini dapat memurahkan biaya kampanye. Adanya voluntarisme dapat mensubstitusi sumberdaya-sumberdaya lain yang pengadaannya membutuhkan sumberdaya uang. 3. Kaderisasi Partai Gagal Partai politik tampaknya gagal melakukan kaderisasi partai. Partai politik tidak memiliki stok orang yang cukup, atau individu-individu yang siap, atau bahkan partai sendiri tidak bersedia mempromosikan orang-orang yang dimilikinya karena alasanalasan tertentu. Kegagalan partai melakukan kaderisasi salah satunya kemudian berdampak buruk pada proses rekruitmen kepala daerah. Beberapa persoalan muncul dalam rekruitmen kepala daerah sebagai akibat gagalnya kaderisasi partai.

Bagan: Asal Kandidat


Semua warga negara Semua warga negara+syarat tambahan Anggota partai+ syarat tambahan

Anggota Partai

Inklusif PD PDIP, Golkar, PKS, Gerindra, PAN PDIP, PKS, Golkar

eksklusif

Pertama, partai mencari kandidat. Bukannya partai mempromosikan kadernya dalam kandidasi tetapi partai justru mencari kandidat untuk dicalonkan. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya mencari kandidat yang berasal dari nonpartai, partai-partai tanpa malu malu juga mengusung kandidat yang menjadi kader partai lain, meskipun partai itu sebenarnya dapat mencalonkan kandidat tanpa berkoalisi dengan partai lain. Kedua, transaksi kandidasi. Transaksi ini dapat berlangsung dalam dua alur: elit partai menjual partai sebagai kendaraan kandidat, atau sebaliknya, kandidat membeli partai untuk kepentingan pencalonan. Partai kemudian menjadi barang komersial yang diperjualbelikan oleh elit partai dan kandidat. Siapa yang memberi tawaran terbaik bagi partai kemudian menjadi pemilik partai dalam kandidasi. Institusi partai bergeser dari instrumen perjuangan gagasan menjadi barang komoditas. 4. Spektrum Waktu Kandidasi Terbatas Masa partai mencari calon kandidat sangat terbatas. Masa itu kurang dari satu tahun sebelum pemilihan. Partai politik baru membuka wacana kandidasi paling lama satu tahun menjelang pendaftaran kandidat oleh KPU. Masa penominasian kandidat partaipun dilakukan berdekatan atau mepet dengan masa pendaftaran kandidat di KPU. Situasi tersebut kemudian berdampak pada beberapa hal. Pertama, pilihan terhadap kandidat alternatif terbatas. Rentang masa penominasian yang terbatas menjadikan kandidat alternatif sulit muncul. Partai sendiri menjadi terbatas untuk melihat kandidat yang prospektif dan kredibel dalam pilkada. Partai-partai menjadi tidak dapat berfikir panjang diluar kandidat alternatif diluar yang sudah tersedia secara instan. Terbatasnya pilihan kandidat alternatif menjadikan partai secara tidak langsung memilih kandidat bukan dalam situasi optimal. Kedua, konflik dukunga n partai terhadap kandidat berlarut-larut sampai pada pencalonan di KPU. Persoalan-persoalan dalam proses kandidasi tidak tuntas
5

diselesaikan didalam partai. Persoalan itu bahkan baru muncul ketika pendaftaran kandidat di KPU sudah dilakukan. Ini akan berbeda situasinya seandainya penominasian kandidat dilakukan jauh-jauh hari sebelum jadwal pencalonan yang ditetapkan KPU disahkan. Dengan rentang waktu yang panjang, persoalanpersoalan dalam kandidasi partai dapat diselesaikan jauh-jauh hari sebelum masa pendaftaran di KPU. dengan demikian, ketika memasuki masa pendaftaran di KPU konflik dukungan itu tidak terjadi lagi Terakhir, keterlibatan publik terbatas. Terbatasnya waktu kandidasi partai juga menjadikan keterbatasan publik untuk terlibat dalam proses kandidasi itu secara baik. Padahal keterlibatan publik sangat penting dalam rangka mendapatkan kandidat partai yang kredibel. publik dapat memberi input tentang sosok maupun karakter kandidat yang mereka inginkan. Publik juga dapat mengkritisi kandidatkandidat yang ada secara lebih baik. keterbatasan masa kandidasi menjadikan apa yang bisa dilakukan publik da;lam kandidasi menjadi tidak mungkin dilakukan. Dari persoalan-persoalan tersebut diatas, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki politik rekruitmen kepala daerah? Pertama, demokratisasi rekruitmen. Rekruitmen kandidat harus melibatkan anggota partai. Dengan demikian kedaulatan anggota terhadap partai dapat terealisasi sekaligus memperkuat ikatan anggota dengan partai politik. kedua, desentralisasi. Proses rekruitmen kepala daerah harus berhenti di level lokal. Struktur diatas sebatas melakukan supervisi atau melakukan veto apabila ada kondisi-kondisi tertentu yang membutuhkan intervensi struktur partai diatasnya. Ketiga, pencalonan oleh partai harus berasal dari partai. pilihan ini untuk mendorong partai memmeprkuat kaderisasi partai dan minimalisasi komodifikasi partai. individu non-partai yang akan mencalonkan diri menjadi kepala daerah dapat melalui jalur independen. Keempat, masa waktu rekruitmen harus jauh-jauh hari dipersiapkan. Setidaknya dua tahun sebelum masa pendaftaran di KPU harus sudah dilakukan proses rekruitmen. Dengan demikian, hiruk pikuk dan persiapan partai dalam rekruitmen lebih serius. ***