Anda di halaman 1dari 12

MUSIK

AKOR, HARMONI, DAN ARANSEMEN

Disusun Oleh
Diastuti Utami Kelas 8.4 Absen 15 SMPN 115 Jakarta

Akor
Selama ini, kita tahu bahwa akor digunakan untuk mengiringi nada utama. Apa saja jenis akor? Untuk selengkapnya akan dijelaskan di bawah ini. Untuk memudahkan mempelajari peranan dan fungsi akor, maka saat kita mempelajari akor harus dibatasi pada satu tangga nada. Ada beberapa jenis tangga nada, tapi yang paling sering digunakan adalah tangga nada mayor diatonis. Dan untuk semakin mempermudah juga, maka sebaiknya dibatasi pada satu kunci saja. Misal, pilih tangga nada mayor diatonis dengan kunci do sama dengan C atau natural. Bagaimana dengan jenis tangga nada yang lain? Misalnya, tangga nada minor, tangga nada pentatonik, dan lain-lain. Tentu saja peranan dan fungsi akor untuk masing-masing jenis tangga nada akan berbeda. Tangga nada minor masih bisa dihubungkan secara persaudaraan dengan tangga nada mayor diatonis, tapi untuk tangga nada pentatonis, atau jenis tangga nada lain, akan memiliki teori musik yang berbeda juga. Tapi, kita tidak perlu khawatir dengan hal ini, karena sebagian besar lagu yang ada di dunia ini, kurang lebih sekitar 90% adalah lagu yang dibuat berdasarkan tangga nada mayor diatonis. Di dalam ilmu harmoni klasik, berdasarkan teori musik dari barat, akor yang disusun dengan sistem tonal trisuara atau triad chord memiliki peranan dan fungsi akor masing-masing. Untuk lebih memudahkan dalam mempelajarinya, maka saya akan mulai menyebutkan nama akornya dalam satu wilayah tangga nada mayor diatonis yang paling mudah, yaitu tangga nada dengan kunci do sama dengan C atau natural. Mengapa Kita Perlu Mempelajari Peranan dan Fungsi Akor ? Peranan dan fungsi akor sangatlah penting di dalam ilmu harmoni. Dengan mempelajari dan mengetahui peranan dan fungsi akor, maka kita tidak akan ragu-ragu dalam memberikan nuansa bunyi musik pada suatu lagu. Kita akan tahu benar bagaimana cara memberikan langkah-langkah akor (progresi akor atau chord progression), sifat-sifat akor, karakter akor dan warna bunyinya jika masuk atau menuju ke akor yang lain, memberikan jembatan akor dengan benar, bahkan jika kita juga ingin memberikan bunyi disonan, tanpa ragu-ragu kita masukkan saja akor disonan pada suatu lagu. Mengapa? Karena kita sudah tahu aturannya, kita sudah tahu peranan dan fungsi dari masing-masing akor dalam ilmu harmoni. Peranan dan Fungsi Akor Peranan dan fungsi akor yang disusun berdasarkan trisuara atau triad chord dalam tangga nada mayor diatonis dengan kunci do=C adalah sebagai berikut : y Akor Pertama (I) atau C Mayor (C-E-G) disebut sebagai Tonika (Tonic) y Akor Kedua (II) atau D Minor (D-F-A) disebut sebagai Super Tonika (Super Tonic) y Akor Ketiga (III) atau E Minor (E-G-B) disebut sebagai Median (Mediant)

y y y y

Akor Keempat (IV) atau F Mayor (F-A-C) disebut sebagai Sub Dominan (Sub Dominant) Akor Kelima (V) atau G Mayor (G-B-D) disebut sebagai Dominan (Dominant) Akor Keenam (VI) atau A Minor (A-C-E) disebut sebagai Sub Median (Sub Mediant) Akor Ketujuh (VII) atau B Half Diminished (B-D-F) disebut sebagai Leading Tone

Fungsi Akor : Akor Pokok Jika kita melihat pembagian akor berdasarkan peranan dan fungsinya, maka kita akan bisa melihat 3 (tiga) macam jenis akor yang utama, yaitu akor mayor, akor minor, dan akor half diminished. Tiga akor mayor yang telah disebutkan di atas inilah yang disebut sebagai akor pokok atau akor utama (primary chords). Jadi sebagai akor pokok adalah Tonika, Sub Dominan, dan Dominan. Untuk tangga nada dengan kunci do = C, maka akor pokoknya yang merupakan akor mayor adalah : y Akor C Mayor yang berperan sebagai Tonika y Akor F Mayor yang berperan sebagai Sub Dominan y Akor G Mayor yang berperan sebagai Dominan Untuk selanjutnya Tonika akan disingkat T, Sub Dominan disingkat S, dan Dominan disingkat D. Akor pokok untuk tangga nada dengan kunci yang lain, adalah sebagai berikut : y Misalnya, Do = G, maka G Mayor adalah sebagai T, C Mayor sebagai S dan D Mayor sebagai D. y Misalnya, Do = D, maka D Mayor adalah sebagai T, G Mayor sebagai S dan A Mayor sebagai D. Dari sini kita akan lebih mudah memahami peranan dan fungsi akor. Mari kita lihat lebih mendalam, ternyata akor G Mayor bisa memiliki peranan dan fungsi yang berbeda jika terjadi perbedaan kunci tangga nadanya. y Pada tangga nada dengan do = C, maka akor G Mayor berfungsi sebagai Dominan (D). y Pada tangga nada dengan do = G, maka akor G Mayor berfungsi sebagai Tonika (T). y Pada tangga nada dengan do = D, maka akor G Mayor berfungsi sebagai Sub Dominan (S). Fungsi Akor : Akor Pembantu Sedangkan akor minor dalam peranan dan fungsi akor di atas tadi, yaitu Super Tonika, Median dan Sub Median disebut sebagai akor pembantu. Pada beberapa teori musik dalam ilmu harmoni, penyebutan Super Tonika, Median dan Sub Median sebagai akor pembantu lebih disederhanakan berkaitan dengan peranan dan persaudaraannya dengan akor pokok. Istilah yang lain tersebut adalah : (harus selalu diingat, yaitu saat mempelajari peranan dan fungsi akor harus hanya pada satu tangga nada mayor diatonis dalam satu kunci saja, kita ambil contoh dalam hal ini yaitu tangga nada mayor diatonis dengan kunci do = C) y Super Tonika disebut sebagai Sub Dominan Pembantu (Sp), yaitu akor D Minor. y Median disebut sebagai Dominan Pembantu (Dp), yaitu akor E Minor. y Sub Median disebut sebagai Tonika Pembantu (Tp), yaitu akor A Minor. Bagaimana untuk tangga nada dengan kunci yang lain? y Misalnya, Do = G, maka A Minor adalah sebagai Super Tonika (Sp), B Minor sebagai Median (Dp) dan E Minor sebagai Sub Median (Tp).

Misalnya, Do = F, maka G Minor adalah sebagai Super Tonika (Sp), A Minor sebagai Median (Dp) dan D Minor sebagai Sub Median (Tp). Sehingga dapat kita lihat sebagai berikut : y Pada tangga nada dengan do = C, maka akor A Minor berfungsi sebagai Sub Median atau Tp. y Pada tangga nada dengan do = G, maka akor A Minor berfungsi sebagai Super Tonika atau Sp. y Pada tangga nada dengan do = F, maka akor A Minor berfungsi sebagai Median atau Dp. Sebagai satu kesimpulan untuk sementara dalam artikel ini, yaitu bahwa akor pokok atau akor utama atau primary chords bersifat akor mayor, dan dalam satu tangga nada mayor diatonis hanya ada 3 (tiga) akor saja, yaitu: y Tonika y Sub Dominan y Dominan Sedangkan akor pembantu bersifat akor minor dan juga hanya ada 3 (tiga) saja, yaitu : y Super Tonika (Sub Dominan pembantu atau Sp) y Median (Dominan pembantu atau Dp) y Sub Median (Tonika pembantu atau Tp)
y

Harmoni
Harmoni dalam musik Barat adalah salah satu teori musik yang mengajarkan bagaimana menyusun suatu rangkaian akord-akord agar musik tersebut dapat enak didengar dan selaras. Di sini dipelajari tentang penggunaan berbagai nada secara bersama-sama dan akord-akord musik, yang terjadi dengan sesungguhnya ataupun yang tersirat. Studi ini sering merujuk kepada studi tentang progresi harmonis, gerakan dari satu nada secara berbarengan ke nada yang lain, dan prinsip-prinsip struktural yang mengatur progresi tersebut. Dalam musik barat, harmoni sering mengacu kepada aspek-aspek "vertikal" musik, yang dibedakan dari gagasan tentang garis melodi, atau aspek "horisontal"-nya.

Sejarah Lahirnya Harmoni

Notasi Gregorian Tahun 590


Notasi musik lahir pada tahun 590 yang disebut Notasi Gregorian, yang ditemukan oleh Paus Agung Gregori, di mana sebelumnya musik mengalami kegelapan tidak ada peninggalan tertulis. Pada masa hidupnya Paus Gregori telah menyalin ratusan lagu-lagu Gereja dalam Notasi Gregorian tersebut. Notasi ini memekai 4 garis sebagai balok not, tetapi belum ada notasi iramanya (hitungan berdasarkan perasaan penyanyi. Di sini sifat lagu masih sebagai lagu tunggal atau monofoni.

Musik Organum 1150-1400


Pada awalnya orang menyanyi dengan nada yang sama, atau disebut dengan organum, nada atas dinyanyikan oleh wanita atau anak-anak, sedangkan nada rendah dinyanyikan oleh laki-laki. Di sini terjadi susunan lagu berjarak oktaf, suara tinggi (wanita/anak-anak) dan suara rendah (laki-laki).

Musik Discant 1400-1600


Ternyata tidak semua dapat mengikuti suara tinggi atau suara rendah.Oleh sebab itu diputuskan untuk membuat suara yang kuart lebih rendah mengikuti melodi, kuart tinggi maunpun kuart rendah, dan musik yang demikian ini disebut musik diafoni (dia=dua, foni=suara)

Basso Ostinato Tahun 1600


Orang-orang Italia pada tahun sekitar 1600 menemukan apa yang disebut Basso Ostinato atau Bass yang bergerak gendeng atau gila, berupa rangkaian nada-nada yang bergerak selangkah demi selangkah ke bawah atau ke atas, kemudian diulang pada rangkaian nada lain secara sama

Musik Polifoni Era Barok 1600-1750


Ternyata suara yang mengikuti sama dengan melodi menjadi membosankan, maka mulailah suara tidak bergerak secara sejajar, maka mulailah dengan arah yang berlawanan. Komponis Giovani Perluigi da Palestrina (1515-1594) adalah perintis tentang hal ini, dan disusun teori mengenai musik melodi banyak (polifoni), sehingga setiap nada atau titik (punctus=point) bergerak secara mandiri atau berlawanan (counter), di sinilah lahir teori kontrapung (counterpoint=kontrapunt).

Johann Sebastian Bach (1685-1750) adalah salah satu empu musik polifoni dengan teknik kontrapung yang sangat tinggi, karema disusun seperti matematik. Hampir semua komponis Era Barok (1600-1750) menyusun dengan teknik kontrapun. Sebagai contoh lagu rakyat dengan gaya polifoni adalah Bapak Yakub. Pada awalnya orang menyusun dengan Kontrapung Terikat atau Strict Counterpoint, namun kemudian menadapat kebebasan berdasarkan teori Kontrapung Bebas atau Free Counterpoint.

Musik Homofoni Era Klasik 1750-1825


Selanjutnya pada Era Klasik (1750-1825) ditemukan susunan akord yang berdasarkan tri-suara (triad), selanjutnya berkembang dengan empat suara atau lebih. Musik yang demikian ini disebut Musik Homofoni, sehingga kontrapung menjadi variasi melodi yang kontrapuntis. Para komponis Era Klasik (1750-1825) adalah Carl Philipp Emmanuel Bach dan Johann Christian Bach, Johann Stamitz, Franz Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, Luigi Boccherini, Christoph von Gluck, Franz Schubert, Wolfgang Amadeus Mozart dan Ludwig van Beethoven. Musik Era Klasik didominasi dengan karya Konserto, Sonata, Symphony, Variasi, Lagu (Lied), dlsb.

Teori Harmoni Dasar 1750 - 1825


Teori harmoni dasar antara lain adalah Trisuara dan Tingkatannya Trisuara atau Triad Kalau kita membangun tiga nada yang berjarak masing-masing terts di atas suatu nada alas, maka akan diperoleh suatu akord yang disebut tri-suara atau triad. Tingkatan Trisuara Untuk masing-masing nada dari suatu tangga nada dapat dibentuk tri-suara, dengan masing-masing tingkatan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Di atas suatu nada I disebut Tonik Di atas suatu nada II disebut Super-Tonik Di atas suatu nada III disebut Median Di atas suatu nada IV disebut Sub-Dominan Di atas suatu nada V disebut Dominan Di atas suatu nada VI disebut Sub-Median

7. Di atas suatu nada VII disebut Leading Note atau Nada Ketujuh Rangkaian Harmoni Nada Tambahan Agar nada-nada lain yang tidak termasuk dalam nada harmoni dapat dipakai bersamaan, maka dibuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut ini: 1. Nada yang berada di antara dua nada harmoni pada waktu melodi bergerak ke atas atau ke bawah disebut nada sisipan (passing note), karena berada di antara nada harmoni tersebut. 2. Nada yang berada di antara nada harmoni pada waktu melodi bergerak ke atas atau ke bawah tetaapi pada pukulan kuat disebut nada pendahulu (appogiatura), karena berada di antara nada harmoni tersebut tetapi pada hitungan yang kuat. 3. Nada yang berada di antara dua nada harmoni yang sama, jadi pada waktu melodi bergerak ke atas atau ke bawah kemudian kembali lagi, disebut nada bantu (auxiallary note), karena berada di antara nada harmoni di mana nada tersebut kembali lagi semula. 4. Nada yang berada di antara nada harmoni pada waktu melodi bergerak secara bergantian ke atas atau ke bawah disebut nada ganti (changing note), karena secara berganti arah. Kadensa Kadensa adalah suatu rangkaian harmoni sebagai penutup pada akhir melodi atau di tengah kalimat, sehingga bisa menutup sempurna melodi tersebut atau setengah menutup (sementara) melodi tersebut. Tierce de Picardie Kalau dalam suatu tangga nada minor, kemudian masuk tangga nada mayor, di mana nada terts minor menjadi terts mayor, maka hal ini disebut dengan Tierce de Picardie. Modulasi Modulasi adalah pergantian dari satu tangga nada ke tangga nada lain. Hal ini sering dilakukan di tengah-tengah lagu. Harmonisasi pada alat musik: 1. Membuat suara ke 2 Pada recorder. Alur melodi dapat kita bagi menjadi 3, yaitu : a. bergerak sejajarb b. bergerak menyimpang c. bergerak berlawanan arah

Selain menggunakan permainan interval seperti diatas kita dapat juga meletakkan akord diatas melodi utama, kemudian baru kita susun suara ke 2 berdasarkan anggota akord diatasnya, cobalah dengan menempatkan akord pada setiap nada yang ada. Apabila melodi utama terlalu banyak atau rapat sekali bisa kalian tempatkan akord pada ketukan berat saja, kemudian yang lainnya menggunakan pendekatan interval. Catatan : - penggunaan interval tidak boleh lebih dari satu oktaf - perhatikan wilayah suara dari recorder. - Perhatikan juga karakter dari masing-masing interval yang kalian pilih - Alur suara kedua harus melagu dengan baik - Suara ke dua tidak selalu berada di bawah suara satu (melodi utama) 2. Mengisi Kekosongan ( dead spot ) Dalam sebuah lagu pasti ada saat saat kosong, nada panjang, tanda diam, atau dead spot. Pada tempat- tempat inilah kita bisa mengisi dengan isian (fill in) yang serasi dengan melodi utama. 3. Harmoni pada perkusi Seperti telah dijelaskan didepan, alat musik perkusi dapat di imitasi dengan benda-benda disekitar kita. Untuk memilih benda yang cocok kita harus menentukan dahulu alat apa yang akan kita tiru. Sekarang yang akan kita bahas adalah bagaimana menuangkan ide dengan alat perkusi kedalam score. Untuk contoh, sekarang kita mempergunakan alat recorder, snare drum, dan bas drum. Snare drum di imitasi dengan tepuk, dan bas drum dengan bangku, atau kedua kaki dihentakkan ke lantai. Untuk membuatnya kita harus mempunyai bayangan bagaimanakah bunyi drum yang sesungguhnya dan melodi yang kita pakai . Dari contoh diatas dapat kita coba untuk memberi bunyi-bunyian lagi selain bunyi diatas. 4. Harmoni Pada Vokal Menyusun harmoni pada vocal prinsipnya hampir sama dengan alat musik, dan kita juga harus memperhitungkan wilayah (ambitus) nada vocal itu sendiri, bagaimana nanti suara yang kita buat bisa selaras , enak dan mudah dinyanyikan. Pada pengerjaan semacam ini seakan-akan tidak ada istilah salah dan benar, yang ada adalah indah dan tidak indah.

Aransemen
Ada berbagai macam definisi tentang aransemen. Aransemen adalah upaya kreatif menata dan memperkaya sebuah melodi, lagu, atau komposisi, ke dalam format serta gaya yang baru. Mediumnya bisa apa saja, dari instrumen tunggal hingga sebuah orkestra. Hari ini kita hanya akan membincangkan aransemen untuk instrumen tunggal, dengan bahasan khusus pada gitar. Membuat aransemen sebetulnya lebih mudah dari membuat komposisi. Sebab, kita tinggal "memungut" bahan yang sudah ada. Sejak zaman manusia mulai mencatat musik hingga zaman kini, ada jutaan atau mungkin puluhan juta melodi, lagu, dan komposisi yang bisa menjadi sumber pembuatan aransemen. BENTUK PALING DASAR Bentuk paling dasar dari sebuah aransemen adalah memainkan memainkan melodi dengan iringan (bas + rhythm). Biasanya dengan menambahkan intro dan coda. Pada keyboard/piano tidaklah sulit. Pada gitar, hal ini tidak selalu mudah karena keterbatasan wilayah nada gitar. Karenanya, kita mesti coba mainkan dulu melodi lagu tersebut. Apakah not tertinggi dan terendah tercakup dalam wilayah nada gitar? Jika tidak, coba ganti nada dasarnya. Bila masih belum bisa juga, kita bisa memenggal lagu ini. Pada bagian yang terlalu tinggi bisa diturunkan satu oktaf. Begitu pula sebaliknya. Namun tidak semua lagu bisa dipenggal begitu saja. Juga perlu diperhatikan apakah tekstur melodi itu bisa dimainkan di gitar. Jalinan melodi yang terlalu njlimet dan cepat mungkin bisa dengan mudah dimainkan di piano, tapi tidak di gitar. Jadi, jangan memaksakan diri. Untunglah, masih lebih banyak lagu yang bisa dengan mudah dimainkan dengan gitar tunggal. Bila melodi sudah bisa kita mainkan, langkah berikutnya adalah mencari akor. Bila lagu itu sudah ada di buku lengkap dengan akornya, tentu mudah. Sedikit susah bila kita mendengarkannya lewat rekaman. Namun bila kita sering melakukannya, lama-lama akan terbiasa. Cari akor-akornya dengan benar. Kalau ada akor yang "misterius", cobalah mengutak-atiknya pada instrumen Anda. Tidak selalu dia punya susunan yang njlimet. Terkadang secara fisik dia sebetulnya akor sederhana saja. Misalnya akor Bm7-5 (B minor 7 minus 5) yang tak lain adalah akor Dm dengan bas B. *Melodi sudah bisa dimainkan pada gitar dan semua akornya pun sudah diketahui. Maka selanjutnya adalah memilih jenis irama. Mau dua hitungan? Empat hitungan? Waltz? Cha-cha? Reggae? Ballad? Mainkan dulu akor-akornya dengan menggunakan irama ini. Masukkan pula pola ritme bas. Bila sudah lancar, cobalah memasukkan melodinya. Masalah biasanya muncul saat kita memainkan melodi pada not-not tinggi. Itu berarti, kita juga harus menggunakan akor pada posisi-posisi yang dekat dengan melodi tadi. Artinya, kita mesti tahu letak sebuah akor dalam berbagai posisi. Pada gitar, misalnya, akor F selain pada posisi I juga bisa ditemui pada posisi III, V, atau VIII. Bagi yang belum terbiasa memainkannya langsung pada alat musik, boleh saja menuliskan dulu not-not melodinya pada buku musik. Lantas tambahkan not-not akor dan bas. Baru setelah itu baca dan mainkan.

Hal yang perlu diperhatikan pada aransemen untuk gitar: kita tidak harus membunyikan semua not yang terkandung dalam sebuah akor. Terkadang hanya dengan satu atau dua not, plus bas, kita sudah bisa mendapatkan hasil yang baik. Contoh: bila ada akor C, kita bisa membunyikan not C dan E saja. Sedangkan not G bisa diabaikan. MEMPERKAYA ARANSEMEN Untuk memperkaya aransemen, kita bisa bermain "bongkar-pasang" pada elemen-elemen dasar musik. Yakni: pola-pola ritmiknya, timbre, serta harmoni. Mari kita tengok satu per satu. POLA RITMIK Yang dimaksud pola ritmik adalah pola-pola panjang-pendeknya not-not yang ada dalam aransemen. Baik itu pada melodi ataupun pada birama dasarnya. Contoh simpel pada melodi: not 1 1 / 5 5 / 6 6/ 5 . / bisa kita ubah jadi 1 1_5 / 0 5_6/ 0 6_5/ 0 0. Contoh pada birama adalah mengubah lagu yang berbirama 3/4 menjadi 4/4. Bisa juga kita tetap memakai birama sama tapi mengubah pola ritmik pada basnya saja. Misalnya saja, ada beberapa jenis irama yang berbirama 3/4. Ada waltz ala Wina, waltz ala Amerika Latin, bolero, sampai jazz waltz. Anda boleh juga menciptakan berbagai pola ritmik baru. Yang penting, pendengar masih bisa "menangkap" karakter lagu sesungguhnya. TIMBRE Biasa juga disebut tone color atau warna suara. Biola dan gitar memiliki sejumlah teknik untuk menghasilkan warna suara berbeda. Pada gitar, perbedaan posisi jari kanan saja bisa menentukan warna suara lembut atau metalik (sul tasto dan sul ponticello). Beberapa teknik yang lazim digunakan: pizzicato, vibrato, slur/hammering, harmonik oktaf, dan strumming. Ada juga gitaris yang mempersiapkan khusus gitarnya agar bisa menghasilkan warna suara beda dengan memasang benda-benda tertentu pada senar gitar. Bisa lembaran kertas, selotip, paperclip, hingga jepitan jemuran! Beberapa komposer gitar kontemporer memiliki cara-cara lebih ekstrem untuk memperoleh timbre unik, yakni dengan menggunakan sendok sebagai pengganti jari kiri atau kanan, membetot senar, hingga menggeseknya dengan kuku. Bagi pemusik yang bukan pemain gitar atau biola, penjelajahan untuk mencari warna-warna suara baru ini juga terus dikembangkan. Misalnya, menyelipkan remasan koran di bawah dawai-dawai piano, atau menaburkan manik-manik di atas dawai piano. Pemusik tiup pun juga terus menggali teknik-teknik baru untuk mendapatkan warna-warna suara unik yang belum pernah ada sebelumnya. a) Mengubah progresi akor Ambil contoh lagu Naik-naik ke Puncak Gunung. Bila kita memakai nada dasar C, maka progresi akornya yang asli adalah C /C /C /C /G7 /G7 /C /C . Kita bisa mengubahnya, semisal menjadi C /Dm /Em /F /C bass G /G7 /C .

b) Memperkaya akor Yang dimaksud adalah menggantikan akor mayor atau minor "polos" dengan akor-akor 7, 9, 11, 13, dan sebagainya. Pengayaan akor ini juga bisa dikombinasikan dengan perubahan progresi akor. Tentunya harus disesuaikan dengan lagunya. Masih terkait dengan pengayaan akor, bisa dicoba juga melakukan steman alternatif atau alternate tuning untuk menghasilkan akor-akor baru yang terkadang tak kita duga sebelumnya. Sejak zaman Renaisans hingga masa kini, ada saja musisi instrumen berdawai yang mengubah-ubah urutan tuning standar. Pada gitar, misalnya, ada puluhan alternate tuning yang pernah dikenal. Yang umum dipakai adalah (urutan dimulai dari senar terbesar): D-A-D-Fis-B-E, D-A-D-F-A-D, D-A-D-Fis-C-D, D-GD-G-B-D, D-G-D-G-Bes-D, E-B-D-Gis-B-E, dan sebagainya. c) Mengubah scale Melodi dengan scale mayor, misalnya, bisa saja kita ubah jadi scale blues. Atau, jika memang cocok, bisa saja scale diubah jadi minor. Ada banyak sekali scale lainnya yang tersedia dalam khazanah musik. Dari yang modern sampai yang tradisional, dari yang berisi 12 nada sampai 3 nada. d) Modulasi Modulasi adalah pergantian nada dasar. Biasanya memberi efek "refreshing". Dalam ilmu harmoni, melakukan modulasi tidak bisa sembarangan. Ada aturan-aturannya, karena pergantian itu idealnya harus berlangsung mulus hingga pendengar tak merasa kaget. Bila Anda belum sempat mempelajarinya dari buku teori, belajar saja dari berbagai komposisi yang sudah ada. Bisa dari sonatasonata Scarlatti dan partita-partita Bach hingga lagu-lagu Vina Panduwinata atau Stevie Wonder. e) Mengubah register Melodi tak harus ada pada nada tinggi. Bisa saja kita pindahkan ke bagian bas. Atau sebaliknya, melodi yang tadinya ada di nada rendah kita pindahkan ke wilayah nada tinggi. f) Variasikan tekstur Tekstur meliputi "ketebalan" maupun "kasar-lembutnya" jalinan antar-nada dalam aransemen. Kita bisa menciptakan tekstur "tebal", misalnya dengan membunyikan melodi, akor, dan bas sekaligus. Bisa juga kita membuatnya jadi "tipis", semisal dengan hanya menyisakan jalinan dua jalur melodi yang berjalan bersama atau bersahut-sahutan. Kesan "kasar" bisa diperoleh bila melodi, akor, dan bas lebih banyak berbunyi bersamaan. Sebaliknya, kesan "halus" bisa dicapai dengan mengurai melodi, akor, dan bas untuk berbunyi bergantian/bersamaan dalam pola-pola tertentu. "BUMBU-BUMBU" LAIN Di luar elemen-elemen dasar musik di atas, kita juga dapat "bermain-main" dengan tempo dan dinamika. Memperlambat atau mempercepat tempo, melembutkan dan mengeraskan volume, bisa menciptakan kesegaran pada aransemen kita. Beberapa "bumbu" penyegar lain yang bisa dicoba:

- Masukkan efek perkusi. Pada tubuh gitar, ada beberapa bagian yang bila dipukul bisa menghasilkan suara-suara berbeda. Juga ada beberapa teknik menciptakan efek perkusi pada senar yang bisa dicoba. Efek perkusi biasanya menarik perhatian penonton. - Gunakan vokal Anda. Tak harus dalam bentuk nyanyian, tapi bisa saja bebunyian lainnya. Ragam suara yang bisa dihasilkan suara manusia amatlah luas. - Tepuk tangan, jentikan jari, dan hentakan kaki, juga dapat dimanfaatkan untuk menambah daya tarik aransemen. "MODAL" YANG DIPERLUKAN Untuk membuat aransemen pada instrumen tunggal, ada beberapa "modal" dasar yang kita perlukan: (1) Tahu semua akor dan juga scale-scale pokok pada instrumen yang kita mainkan. Setidaknya mayor, minor, dan dominant 7th. Akan lebih menguntungkan bila kita juga kenal akor-akor yang lebih kompleks seperti mayor dan minor 7, 11, 13, dan sebagainya. (2) Memiliki bekal teknik permainan yang memadai untuk bisa memainkan aransemen tersebut. Teknik memang bukan segalanya, namun ia merupakan medium atau "kendaraan" yang bisa mengantar ke tujuan kita: menghasilkan permainan/aransemen yang baik dan asyik didengar. (3) Kenal, atau lebih bagus lagi sering menyimak berbagai genre musik. Baik itu dari musik tradisi, musik klasik, hingga aneka jenis musik industri. Tontonlah macam-macam konser musik. Dengar dan pelajari aransemen-aransemen orang lain. (4) Meningkatkan terus pengetahuan dan wawasan musik. Untuk itu, ada banyak buku yang mesti dipelajari (teknik, teori musik) dan juga partitur serta rekaman musik yang mesti kita dengar.