Anda di halaman 1dari 5

I. II.

JUDUL TUJUAN

: RF (Rheumatoid Factor) TEST : Untuk determinasi kualitatif dan semikuantitatif adanya RF (Rheumatoid

Factor) dalam serum secara aglutinasi latex III. IV. METODE PRINSIP : Metode yang digunakan adalah aglutinasi : Berdasarkan reaksi secara imunologis antara RF dalam serum

sebagai antibody dengan partikel latex yang telah dilapisi IgG sebagai antigen V. DASAR TEORI :

Arthritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit yang tersebar luas serta melibatkan semua kelompok ras dan etnik di dunia. Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosive simetrik yang walaupun terutama mengenai jaringan persendian, sering kali juga melibatkan organ tubuh lainnya. (Anonim, 2009) Rheumatoid Factor adalah immunoglobulin yang bereaksi dengan molekul IgG. Karena penderita juga mengandung IgG dalam serum, maka RF termasuk autoantibody. Faktor penyebab timbulnya RF ini belum diketahui pasti, walaupun aktivitas komplemen akibat adanya interaksi RF dengan IgG memegang peranan yang penting pada rheumatoid arthritis dan penyakit-penyakit lain dengan RF positif. Sebagian besar RF adalah IgM, tetapi dapat juga berupa IgG atau IgA. (Riswanto, 2009) Faktor rheumatoid akan berikatan dengan komplemen atau mengalami agregasi sendiri, sehingga proses peradangan akan berlanjut terus. Pengendapan kompleks imun juga menyebabkan terjadinya pembebasan histamine dan berbagai enzim proteolitik serta aktifitas jalur asam arakhidonat. (Anonim, 2009) RF positif ditemukan pada 80% penderita rematik arthritis. Kadar RF yang tinggi menandakan prognosis yang buruk dengan kelainan sendi yang berat dan kemungkinan komplikasi sistemik. RF sering dijumpai pada penyakit autoimun lain seperti SLE, Sclerodema, dermatomiositis, tetapi kadarnya biasanya lebih rendah dibanding kadar RF pada rheumatic arthritis. Kadar RF yang rendah juga dijumpai pada penyakit non imunologis dan orang tua diatas 65 tahun. RF tidak digunakan untuk pemantauan

pengobatan karena hasil tes sering dijumpai tetap positif, walaupun terjadi pemulihan klinis. Selain itu diperlukan waktu sekitar 6 bulan untuk peningkatan titer yang signifikan.(Riswanto, 2009) Bermanfaat untuk membedakan antara Rheumatoid arthritis dengan Rheumatoid fever dan Artritis gout. Mungkin juga dapat ditemukan pada lupus erimatus, hepatitis infeksius dan kronik, sifilis. (Rifani, 2010) VI. ALAT DAN BAHAN : A. Alat 1. Petak slide berlatar hitam 2. Pengaduk 3. Rotator 4. Mikropipet 5. Yellow tip B. Bahan 1. RA LATEX TEST KIT o Reagen latex o Kontrol positif o Kontrol negative o Buffer glisin saline 2. Serum VII. CARA KERJA :

A. Pemeriksaan kualitatif 1. Alat dan bahan disiapkan dalam suhu ruang 2. RA reagen latex dikocok agar homogeny, kemudian diteteskan ke petak slide berwarna hitam pada ketiga bulatan masing-masing satu tetes 3. Serum dipipet sebanyak 40 mikron, diteteskan pada petak slide dan dihomogenkan menggunakan pengaduk 4. Larutan kontrol positif diteteskan pada petak slide yang sudah berisi reagen latex sebanyak satu tetes, dihomogenkan 5. Larutan kontrol negatif diteteskan pada petak slide bulatan ketiga yang sudah berisi reagen latex, dihomogenkan 6. Petak slide digoyang-goyangkan pada rotator selama dua menit 7. Hasil diamati adanya aglutinasi dan dibandingkan denga kontrol positif. Jika ditemukan adanya aglutinasi maka dilanjutkan dengan pemeriksaan semi kuantitatif B. Pemeriksaan semi kuantitatif 1. Tabung pengencer disiapkan 4 buah untuk pengenceran 2. Tabung pengencer diberi label , , 1/8, dan 1/16

3. Masing-masing tabung dimasukkan buffer saline sejumlah 100 mikron 4. Serum dipipet 100 mikron dimasukkan dalam tabung pengencer 1/2 , kemudian dihomogenkan 5. Tabung pengencer dipipet 100 mikron, dimasukkan ke tabung pengencer 1/4 . Dari tabung tersebut dipipet 100 mikron dimasukkan ke tabung 1/8, demikian pula untuk tabung pengencer 1/16 dipipet 100 mikron dari tabung 1/8 6. Untuk pemeriksaan dipipet dari masing-masing tabung pengencer sebanyak 50 mikron 7. RA latex reagen ditambahkan satu tetes pada petak slide 8. Sampel dari tabung pengencer dihomogenkan dengan reagen latex menggunakan pengaduk selama dua detik 9. Petak slide digoyang-goyangkan pada rotator selama dua menit, hasil diamati adanya aglutinasi Untuk memudahkan pengerjaan dapat dibuat table bantu Pengenceran Sampel serum Diluent Volume untuk tes Kadar, IU/mL VIII. HASIL PENGAMATAN o Pemeriksaan kualitatif 1/2 100 L 100 L 100 L 50 L 16 : 1/4 100 L 100 L 50 L 32 1/8 100 L 100 L 50 L 64 1/16 100 L 100 L 50 L 128

Menggunakan sampel probandus x Tidak ditemukan adanya aglutinasi sehingga tidak dilanjutkan ke pemeriksaan semikuantitatif

Interpreatasi hasil  Kualitatif y y Jika ditemukan aglutinasi Tidak ditemukan aglutinasi : positif (+) , kadar > 8 I.U/mL : negatif (-) , kadar < 8 I.U/mL

 Semikuantitatif y y y y IX. 1:2 1:4 1:8 1:16 = 16 I.U/mL = 32 I.U/mL = 64 I.U/mL = 128 I.U/mL

PEMBAHASAN

Pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis arthritis rheumatoid menggunakan sampel berupa serum yang diperiksa menggunakan metode latex aglutinasi. RF tes berdasarkan atas reaksi imunologis antara RF dalam serum sebagai antibodi dengan partikel latex yang telah dilapisi IgG sebagai antigen. Dalam uji ini terdapat dua langkah pemeriksaan yaitu secara kualitatif untuk menentukan kehadiran RF dalam serum dan semikuantitatif kita bisa mengetahui titernya. Pada uji kualitatif dengan serum probandus x dilakukan pemeriksaan sebagai berikut. Mula-mula alat dan bahan yang disiapkan, reagen latex digoyang-goyangkan pada rotator untuk melarutkan partikel-partikel endapan pada dasar wadah reagen sehingga reagen latex homogen, dilakukan hingga endapan-endapan kembali melarut. RA reagen latex dipipet masing-masing satu tetes pada tiap bulatan petak slide sebanyak tiga bulatan. Lingkaran petak slide pertama ditambahkan dengan 50 mikron sampel serum. Reagen dan serum kemudian dihomogenkan dengan pengaduk. Pada lingkaran petak slide kedua ditambahkan kontrol positif dan dihomogenkan. Demikian halnya dengan petak slide ketiga dipipet satu tetes larutan kontrol negatif dan dihomogenkan. Perlu diingat petak slide yang digunakan berlatar hitam sehingga lebih mudah dalam mengamati adanya aglutinasi. Kemudian petak slide tersebut digoyang-goyangkan di

rotator selama dua menit untuk memberikan waktu terjadinya ikatan imunologis yang tampak dengan aglutinasi. Pengamatan dilakukan, tidak ditemukan adanya aglutinasi pada lingkaran pertama petak slide sehingga tidak diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan kadarnya secara semikuantitatif. Hasil tersebut diperoleh setelah membandingkan dengan lingkaran kedua dan ketiga yang berfungsi sebagai kontrol positif dan kontrol negatif. Sampel serum probandus x negetif mengandung RF X. KESIMPULAN Pemeriksaan Rheumatoid Factor pada sampel serum probandus x diperoleh hasil negatif dengan titer < 8 I.U/mL

DAFTAR PUSTAKA   Riswanto, 2009. Faktor Rheumatoid (http://labkesehatan.blogspot.com) diakses tanggal 16 oktober 2011 Rifani, 2010. Arthritis Rheumatoid (http://pakdheman.blogspot.com) diakses tanggal 16 oktober 2011