Anda di halaman 1dari 14

Nama NIM Prodi

Oleh : : Rahman Saleh Salampessy : 2008 82 -014 : Agroekoteknologi

Pendahuluan
Kekurangan unsur hara di dalam tanah dapat juga diketahui dari analisis Jaringan Tanaman. Pendekatan ini didasarkan pada prisnsip bahwa konsentrasi suatu unsur hara di dalam tanaman merupakan hasil interaksi dari semua faktor yang mempengaruhi penyerapan unsur tersebut dari dalam tanah. Analisis Tanaman umumnya dilakukan terhadap bagian-bagian tertentu saja ataupun seluruh bagian tanaman. Interpretasi keadaan kesuburan tanah akan lebih baik apabila kedua cara (Analisis Tanah Dan Tanaman) digabungkan. Salah satu unsur yang diperlukan oleh tanaman adalah unsur nitrogen dan Kita hidup dalam lautan nitrogen, meskipun demikian penyediaan makanan untuk kehidupan manusia dan hewanhewan lainnya lebih dibatasi oleh nitrogen daripada unsur-unsur lainnya. Atmosfer terdiri dari 79% nitrogen (berdasarkan volume) sebagai gas padat N2 yang tidak bereaksi dengan unsur lainnya untuk menghasilkan suatu bentuk nitrogen yang dapat digunakan oleh sebagian besar tanaman. Peningkatan penyediaan nitrogen tanah untuk tanaman terdiri terutama dari meningkatnya jumlah pengikatan nitrogen secara biologis atau penambahan pupuk nitrogen. Hal ini kelihatannya seolaholah bertentangan dimana unsur hara yang diabsorbsi dari tanah dalam jumlah terbesar oleh tanaman adalah unsur hara yang sebagian besar sangat terbatas penyediaanya. Diantara berbagai macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman nitrogen merupakan salah satu diantara unsur hara makro tersebut yang sangat besar peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nitrogen memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pertumbuhan. Diantara tiga unsur yang biasa mengandung pupuk buatan yaitu kalium, fosfat, dan nitrogen, rupanya nitrogen mempunyai efek paling menonjol. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan saya bahas mengenai tata cara atau teknik penetapan N-Total.

Tujuan
Adapun tujuan dari Pembuatan Tulisan ini yaitu : 1. Untuk Mengetahui Tata cara atau Teknik Penetapan N-Total untuk Analisis Jaringan Tanaman. 2. Untuk Mengetahui Alat, Bahan, Maupun Dosis Bahan yang dipergunakan dalam Menganalisis N-Total Jaringan Tanaman.

Tinjauan Pustaka
Nitrogen atau Zat lemas adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang N dan nomor atom 7. Biasanya ditemukan sebagai gas tanpa warna, tanpa bau, tanpa rasa dan merupakan gas diatomik bukan logam yang stabil, sangat sulit bereaksi dengan unsur atau senyawa lainnya. Dinamakan zat lemas karena zat ini bersifat malas, tidak aktif bereaksi dengan unsur lainnya. Nitrogen adalah zat non logam, dengan elektronegatifitas 3.0. Mempunyai 5 elektron di kulit terluarnya. Oleh karena itu trivalen dalam sebagian besar senyawa. Nitrogen mengembun pada suhu 77K (-196oC) pada tekanan atmosfir dan membeku pada suhu 63K (-210oC).

Lanjutan
Sumber N utama tanah adalah dari bahan organik melalui proses mineralisasi NH4+ dan NO3. Selain itu N dapat juga bersumber dari atmosfir (78 %) melalui curah hujan (8 -10 % N tanah), penambatan (fiksasi) oleh mikroorganisme tanah baik secara simbiosis dengan tanaman maupun hidup bebas. Walaupun sumber ini cukup banyak secara alami, namun untuk memenuhi kebutuhan tanaman maka diberikan secara sengaja dalam bentuk pupuk, seperti Urea, ZA, dan sebagainya maupun dalam bentuk pupuk kandang ataupun pupuk hijau (anonim 2; 2009).

Manfaat N (nitrogen)
a. b. c. d. e. Manfaat nitrogen bagi tanaman sebagai berikut : Diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar. Berperan penting dalam hal pembentukan hijau daun yang berguna sekali dalam proses fotosintesis. Membentuk protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik. Meningkatkan mutu tanaman penghasil daundaunan. Meningkatkan perkembangbiakan mikro-organisme di dalam tanah.

Gejala Kekurangan n : a. Tanaman Menjadi Kerdil b. Pertumbuhan Akar tanaman menjadi terbatas c. Daun-daun menjadi kuning dan gugur Gejala Kebanyakan n : a. Memperlambat Kematangan tanaman (terlalu banyak pertumbuhan vegetatif) b. Batanh-batang menjadi lemah dan mudah roboh. c. Mengurangi Daya Tahan tanaman terhadap penyakit

Hasil dan Pembahasan


Prinsip Dasar Prinsip Dasar dari Analisa ini adalah Pengujian Sample dengan cara Pengabuan Basah menggunakan H2SO4 berdasarkan Petunjuk Kerja yang diterbitkan Oleh Balai Penelitian Tanah Bogor dan BP3 (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ) Departemen Pertanian. Bahan dan Alat Adapun Bahan dan Alat yang dipergunakan dalam Pengujian ini adalah sebagai Berikut :

Lanjutan
a. Alat b. Bahan 1. Neraca analitik 3 desimal 1. Campuran Selen 2. Tabung digestion & blok digestion 2. Asam Sulfat Pekat 3. Pengocok tabung 3. NaOH 40% 4. Alat destilasi atau spektrofotometer 4. Asam Borat 1% 5. Labu didih 250 ml 5. Aquades 6. Erlenmeyer 100 ml 6. Penunjuk Conway 7. Tabung reaksi 8.. Labu ukur 100 ml 9 Gelas ukur 10 ml 10. Pipet Volume 10 ml 11. Pipet tetes 12. Alat Destruksi 13. Alat Destilasi 14. Buret asam 50 ml

Prosedur Kerja
Adapun Tahapan kerja dalam menganalisis N-Total akan didelaskan pada Prosedur Kerja sebagai Berikut : 1. Persiapan contoh Contoh yang berasal dari lapangan sebelum dianalisis terlebih dahulu dicuci dengan air bebas ion untuk menghilangkan debu-debu dan kotoran lainnya yang dapat memberikan kesalahan pada hasil analisis. Contoh tanaman tersebut secepatnya dikeringkan dalam oven berkipas, bila perlu sebelumnya dipotong-potong agar pengeringan lebih cepat dan oven diset pada suhu 70o C. Contoh yang telah kering kemudian digiling dengan grinder mesin yang menggunakan filter dengan kehalusan 0,5 mm. Contoh yang telah digiling dimasukkan ke dalam botol plastik ditutup rapat-rapat agar tidak terkontaminasi dan diberi nomor urut sesuai dengan nomor percobaan atau perlakuan. Contoh-contoh tersebut siap untuk analisis kimia. 2. Penetapan N-Total Setelah sample atau contoh tanaman yang sudah disiapkan selanjutnya akan dilakukan analisis N-total dengan cara sebagai Berikut:

Lanjutan
a. Dasar penetapan Senyawa nitrogen organik dioksidasi dalam lingkungan asam sulfat pekat dengan katalis campuran selen membentuk (NH4)2SO4. Kadar amonium dalam ekstrak dapat ditetapkan dengan cara destilasi atau spektrofotometri. Pada cara destilasi, ekstrak dibasakan dengan penambahan larutan NaOH. Selanjutnya, NH3 yang dibebaskan diikat oleh asam borat dan dititar dengan larutan baku H2SO4 menggunakan penunjuk Conway. Cara spektrofotometri menggunakan metode pembangkit warna indofenol biru. b. Pembuatan Pereaksi  Destruksi - H2SO4 pekat (95-97 %). - Campuran selen (tersedia di pasaran) atau Buat dengan mencampurkan 1,55 g CuSO4 anhidrat, 96,9 g Na2SO4 anhidrat dan 1,55 g selen kemudian dihaluskan.  Destilasi - Natrium Hidroksida 40 % - Asam borat 1% - Penunjuk Conway - Larutan baku asam sulfat 1N (titrisol) - H2SO4 4 N - Larutan baku asam sulfat 0,050 N - Penunjuk Conway - Asam borat 1% - Batu didih  Spektrofotometri - Standar 0 - Standar pokok 1.000 ppm N - Standar 20 ppm N - Deret standar 0-20 ppm N - Larutan Na-fenat - Larutan sangga Tartrat - Natrium hipoklorit (NaOCl) 5 %

Cara Kerja
 Destruksi contoh Timbang 0,250 g contoh tanaman <0,5 mm ke dalam tabung digestion. Tambahkan 1 g campuran selen dan 2,5 ml H2SO4 p.a. Campuran diratakan dan biarkan satu malam supaya diperarang. Siapkan pula blanko dengan memasukkan hanya 1 g campuran selen dan 2,5 ml H2SO4 p.a. ke dalam tabung digestion. Esoknya dipanaskan dalam blok digestion hingga suhu 350 oC. Destruksi selesai bila keluar uap putih dan didapat ekstrak jernih (sekitar 4 jam). Tabung diangkat, didinginkan dan kemudian ekstrak diencerkan dengan air bebas ion hingga tepat 50 ml. Kocok sampai homogen, biarkan semalam agar partikel mengendap. Ekstrak jernih digunakan untuk pengukuran N dengan cara destilasi atau cara kolorimetri.

Lanjutan
 Pengukuran N - Pengukuran N dengan cara destilasi Pipet 10 ml ekstrak contoh ke dalam labu didih. Tambahkan sedikit serbuk batu didih dan aquades hingga setengan volume labu. Siapkan penampung NH3 yang dibebaskan yaitu erlenmeyer yang berisi 10 ml asam borat 1 % ditambah 2 tetes indikator Conway (berwarna merah) dan dihubungkan dengan alat destilasi. Dengan gelas ukur, tambahkan NaOH 40% sebanyak 10 ml ke dalam labu didih yang berisi contoh dan secepatnya ditutup. Destilasi hingga volume penampung mencapai 5075 ml (berwarna hijau). Destilat dititrasi dengan H2SO4 0,050 N hingga warna merah muda. Catat volume titar contoh (Vc) dan blanko (Vb). Cara ini seperti penetapan N-Kjeldahl contoh tanah dan dapat dijadikan metode acuan. - Pengukuran N dengan spektrofotometer Pipet 1 ml ekstrak contoh ke dalam tabung reaksi, tambahkan 9 ml air bebas ion dan kocok dengan pengocok tabung. Pipet ke dalam tabung reaksi masingmasing 2 ml ekstrak encer dan deret standar. Tambahkan berturut-turut larutan sangga Tartrat dan Na-fenat masing-masing sebanyak 4 ml, kocok dan biarkan 10 menit. Tambahkan 4 ml NaOCl 5 %, kocok dan diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 636 nm setelah 10 menit sejak pemberian pereaksi ini.

Perhitungan
 Cara destilasi: Kadar N (%) = (Vc - Vb) x N x bst N x 50 ml 10 ml-1 x 100 mg contoh-1 x fk = (Vc - Vb) x N x 14 x 50/10 x 100/250 x fk = (Vc - Vb) x N x 28 x fk Keterangan: Vc, b = ml titar contoh dan blanko N = normalitas larutan baku H2SO4 14 = bobot setara Nitrogen 100 = konversi ke % fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 % kadar air)  Cara spektrofotometri: Kadar N (%) = ppm kurva x ml ekstrak 1.000 ml-1 x 100 mg contoh-1 x fp x fk = ppm kurva x 50/1000 x 100/250 x 10 x fk = ppm kurva x 0,2 x fk Keterangan: ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko. 100 = konversi ke % fp = faktor pengenceran (10) fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 % kadar air)