Anda di halaman 1dari 8

A. DIAGNOSIS I. Anamnesis Dari anamnesis ditanyakan : 1. Serangan mengi atau serangan mengi berulang ? 2.

Sering terganggu oleh batuk pada malam hari ? 3. Mengi atau batuk setelah melakukan kegiatan jasmani ? 4. Mengi, dada terasa berat, atau batuk setelah terpajan alergen atau polutan ? 5. Pilek dan sembuh lebih dari 10 hari ? 6. Apakah ada riwayat penyakit alergi lain pada pasien maupun keluarganya ? 7. Gejala klinik membaik setelah pengobatan dengan anti asma ? II. Pemeriksaan Fisik : Penemuan tanda pada pemeriksaan fisik pasien asma, tergantung dari derajat obstruksi saluran napas. Ekspirasi memanjang, mengi, hiperinflasi dada, pernapasan cepat sampai sianosis dapat dijumpai pada pasien asma. III. Pemeriksaan Penunjang : 1. Spirometri Cara yang paling cepat dan sederhana untuk menegakkan diagnosis asma adalah melihat respons pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator hirup (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik beta. Peningkatan VEP1 sebanyak 12% atau ( 200 mL) menunjukkan diagnosis asma. Tetapi 12% atau ( 200 mL) tidak berarti bukan asma.

respons yang kurang dari

Hal-hal tersebut dapat dijumpai pada pasien yang sudah normal atau mendekati normal. Pemeriksaan spirometri selain penting untuk menegakkan diagnosis, juga penting untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan. Banyak pasien asma tanpa keluhan, tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. Hal ini mengakibatkan pasien mudah mendapat serangan asma dan

bahkan bila berlangsung lama atau kronik dapat berlanjut menjadi penyakit paru obstruktif kronik. 2. Uji provokasi bronkus Jika pemeriksaan spirometri normal, untuk menunjukkan adanya

hipereaktivitas bronkus dilakukan uji provokasi bronkus. Ada beberapa cara untuk melakukan uji provokasi bronkus seperti uji provokasi dengan histamin, metakolin, kegiatan jasmani, udara dingin, larutan garam hipertonik, dan bahkan dengan aqua destilata. Penurunan VEP1 sebesar 20% atau lebih dianggap bermakna. Uji dengan kegiatan jasmani, dilakukan dengan menyuruh pasien berlari cepat selama 6 menit sehingga mencapai denyut jantung 80-90% dari maksimum. Dianggap bermakna bila

menunjukkan penurunan APE (Arus Puncak Ekspirasi) paling sedikit 10%. Akan halnya uji provokasi dengan alergen, hanya dilakukan pada pasien yang alergi terhadap alergen yang diuji. 3. Pemeriksaan sputum Sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma, sedangkan neutrofil sangat dominan pada bronkitis kronik. Selain untuk melihat adanya eosinofil, kristal Charcot-Leyden, dan Spiral Curschmann, pemeriksaan ini penting untuk melihat adanya miselium Aspergillus fumigatus. 4. Pemeriksaan eosinofil total Jumlah eosinofil total dalam darah sering meningkat pada pasien asma dan hal ini dapat membantu dalam membedakan asma dari bronkitis kronik. Pemeriksaan ini juga dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan cukup tidaknya dosis kortikosteroid yang dibutuhkan pasien asma. 5. Uji kulit Tujuan uji kulit adalah untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik dalam tubuh. Uji ini hanya menyokong anamnesis, karena uji alergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma, demikian pula sebaliknya.

6. Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum Kegunaan pemeriksaan IgE total hanya untuk menyokong adanya atopi. Pemeriksaan IgE spesifik lebih bermakna dilakukan bila uji kulit tidak dapat dilakukan atau hasilnya kurang dapat dipercaya. 7. Foto dada Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain obstruksi saluran napas dan adanya kecurigaan terhadap proses patologis di paru atau komplikasi asma seperti pneumotoraks, pneumomediastinum, atelektasis, dan lain-lain. 8. Analisis gas darah Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada asma yang berat. Pada fase awal serangan, terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PaCO2 < 35 mmHg) kemudian pada stadium yang lebih berat PaCO2 justru mendekati normal sampai normo-kapnia. Selanjutnya pada asma yang sangat berat terjadinya hiperkapnia (PaCO2 45 mmHg), hipoksemia, dan asidosis respiratorik.1

B. PENATALAKSANAAN Pengobatan Asma Menurut GINA (Global Initiative for Asthma) Tujuan penatalaksanaan asma adalah untuk : y y y y y y Mencapai dan mempertahankan kontrol gejala-gejala asma Mempertahankan aktivitas yang normal termasuk olah raga Menjaga fungsi paru senormal mungkin Mencegah eksaserbasi asma Menghindari reaksi adversi obat asma Mencegah kematian karena asma

1. Bina hubungan yang baik antara pasien dengan dokter. Kerja sama yang baik antara dokter-pasien, akan mempercepat tujuan penatalaksanaan asma. Dengan bimbingan dokter, pasien didukung untuk mampu mengontrol asmanya. Pasien akan mampu mengenal kapan asmanya memburuk, mengetahui tindakan sementara sebelum menghubungi dokter, kapan harus menghubungi dokternya, kapan harus segera mengunjungi instalasi gawat darurat dan akhirnya akan meningkatkan kepercayaan diri dan ketaatan berobat. 2. Identifikasi dan kurangi pemaparan faktor resiko. Untuk mencapai kontrol asma diperlukan identifikasi mengenai faktor-faktor yang dapat memperburuk gejala asma atau lebih dikenal sebagai faktor pencetus. Menghindari faktor pencetus diharapkan dapat mengurangi gejala dan serangan asma. 3. Penilaian, pengobatan, dan pemantauan keadaan kontrol asma. Bila kontrol asma dapat tercapai dan dapat dipertahankan terkontrol paling tidak selama 3 bulan maka tingkat pengobatan asma dapat dicoba untuk diturunkan. Sebaliknya bila respons pengobatan belum memadai tingkat pengobatan dinaikkan. Pada tingakt berapa pengobatan untuk mencapai kontrol dimulai, tergantung berat atau tidaknya kontrol asma. 4. Merencanakan pengobatan asma akut (serangan asma). Tujuan pengobatan serangan asma, yaitu : a. Menghilangkan obstruksi saluran napas dengan segera b. Mengatasi hipoksemia c. Mengembalikan fungsi paru ke arah normal secepat mungkin d. Mencegah terjadinya serangan berikutnya e. Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya mengenai caracara mengatasi dan mencegah serangan asma

Dalam penatalaksanaan serangan asma perlu diketahui lebih dahulu derajat beratnya serangan asma baik bedasarkan cara bicara, aktivitas, tandatanda fisis, nilai APE, dan bila mungkin analisis gas darah. Hal lain yang juga perlu diketahui apakah pasien termasuk pasien asma yang berisiko tinggi untuk kematian karena asma. Prinsip pengobatan asma akut adalah memelihara saturasi oksigen yang cukup (Sa O2 92%) dengan memberikan oksigen, melebarkan saluran

napas dengan pemberian bronkodilator aerosol (agonis beta 2 dan Ipotropium bromida) dan mengurangi inflamasi serta mencegah

kekeambuhan dengan memberikan kortikosteroid sistemik. 5. Penatalaksanaan keadaan khusus. Beberapa keadaan pada asma yang perlu mendapat perhatian khusus apabila pasien asma juga mengalami kehamilan, pembedahan, rinitis, sinusitis, refluks gastroesofageal, dan anafilaksis. Secara garis besar obat asma terdiri atas 2 golongan, yaitu obat yang berguna untuk menghilangkan serangan asma, yaitu mengurangi

bronkokonstriksi yang terjadi. Obat ini disebut obat pelega napas (reliever) yang umumnya bekerja sebagai bronkodilator. Termasuk dalam golongan ini adalah : Inhalasi agonis beta 2 aksi singkat Kortikosteroid sistemik Inhalasi anti kolinergik Golongan Xantin Agonis beta 2 oral

Obat ini diberikan pada saat terjadi serangan asma tergantung dari beratnya serangan, obat dapat diberikan dalam bentuk tunggal atau kombinasi.

Pemberian dalam bentuk inhalasi lebih dianjurkan karena pemberian secara inhalasi mempunyai beberapa keuntungan, yaitu : Dosis rendah Efek samping minimal Bekerja terbatas pada saluran napas Efek terapeutik cepat Dapat memobilisasi sekret di saluran napas

Tetapi obat ini juga mempunyai kelemahan yaitu, cara pemberian yang kadang-kadang sulit dan harga obat yang relatif mahal. Golongan obat kedua adalah obat yang dapat mengontrol asma disebut sebagai controller medications. Obat ini diberikan setiap hari untuk jangka waktu yang lama. Termasuk dalam golongan ini adalah : Kortikosteroid inhalasi Kortikosteroid sistemik Sodium kromolin Sodium nedokromil Teofilin lepas lambat Inhalasi agonis beta 2 aksi lama Agonis beta 2 aksi lama oral Ketotifen Obat anti alergen lain1,2

C. KOMPLIKASI 1. Pneumonia 2. Pneumotoraks 3. Pneumodiastinum dan emfisema subkutis 4. Atelektasis 5. Aspergilosis bronkopulmoner alergik 6. Gagal napas

7. Bronkitis1,3

D. DIAGNOSIS BANDING 1. Asma alergi dan lingkungan 2. Aspergillosis 3. Benda asing 4. Bronkitis kronik 5. Bronkiolitis 6. Bronkiektasis 7. Cystic fibrosis 8. GERD 9. Emfisema paru 10. Gagal jantung kiri akut 11. Emboli paru 12. Vocal cord dysfunction 13. Penyakit lain yang jarang seperti : stenosis trakea, karsinoma bronkus, poliarteritis nodosa.1,3,4 E. PROGNOSIS Kurang cepatnya penanganan dini untuk asma baik pada anak maupun orang dewasa dapat menimbulkan gejala yang lebih kronik.3

DAFTAR PUSTAKA 1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Ilmu penyakit dalam Jilid I. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2009. Hal. 406-14 2. Faisal Yunus. Cermin Dunia Kedokteran: Manfaat Kortikosteroid pada Asma Bronkial. [online]. 1998 [cited 2010 September 14]; [6 screens]. Available from:URL:http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/06ManfaatKortikosteroid121 .pdf/06ManfaatKortikosteroid121.html. 3. Michael J Morris, MD. Asthma: Follow-up. [online]. 2010 Februari 9 [cited 2010 September 14]; [6 screens]. Available from: URL:

http://emedicine.medscape.com/article/296301-followup. 4. Price SA, Wilson MW. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6. Vol. 1 Jakarta: EGC; 2006. Hal. 181