Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam proses pendidikan di sekolah. Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, ketrampilan dan keahlian tertentu pada individu- individu guna mengembangkan dirinya sehinggga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Dari pendidikan akan dilahirkan manusia-manusia yang berkualitas. Perwujudan masyarakat berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, dan mandiri dan professional pada bidangnya masingmasing. Salah satu indikator tercapainya tujuan pembelajaran dapat diketahui dengan melihat tinggi rendahnya prestasi yang diraih oleh siswa. Prestasi belajar merupakan pencerminan hasil belajar yang dicapai setelah mengikuti proses belajar mengajar. Memperhatikan prestasi belajar maka dapat diketahui kemampuan dan kualitas siswa. Tinggi rendahnya prestasi belajar akan memberikan sumbangan dalam mencapai kesuksesan masa depan siswa. Prestasi belajar yang baik akan mempermudah jalan untuk mencapai tujuan, baik dalam melanjutkan studi maupun memasuki dunia

kerja yang diinginkan, oleh karena itu setiap siswa perlu berusaha meraih prestasi yang semaksimal mungkin. (Winkel, 1991). Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam proses belajar dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan factor eksternal. Faktor internal antara lain kondisi fisik seperti keterbatasan fisik (cacat tubuh), kondisi psikologis seperti kemampuan konsentrasi, faktor kelelahan, sedangkan faktor eksternal meliputi kondisi keluarga seperti kondisi rumah, factor sekolah seperti metoda pengajaran, dan factor masyarakat. Salah satu faktor adalah kemampuan konsentrasi siswa. Dari beberapa penelitian cukup banyak siswa yang mengeluh bahwa mereka tidak dapat berkonsentrasi dengan baik selama kegiatan belajar berlangsung sehingga tidak memahami materi yang disampaikan. Ada yang mengeluh gurunya membosankan, tidak tertarik pada materi yang disampaikan, masalah dalam keluarga, tubuh terlalu lelah dan masih banyak alasan lainnya sehingga tidak bisa berkonsentrasi. Kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi penting pada saat belajar, maupun dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Secara umum yang dimaksud dengan konsentrasi adalah kemampuan seseorang untuk bisa mencurahkan perhatian dalam waktu yang relative lama. Sedangkan anak dikatakan berkonsentrasi pada pelajaran jika dia bisa memusatkan perhatian pada apa yang dipelajari (Susanto, Handy, 2006). Banyak kita temui dalam kehidupan sehari hari ketika siswa berada dalam dikelas mengikuti pelajaran dengan mata menatap serius kearah guru

seolah-olah memperhatikannya, akan tetapi pikiran mereka melayang entah kemana. Dan ketika sang guru memberikan pertanyaan sekitar pelajaran yang telah disampaikan mereka hanya tersentak kaget seperti orang yang sedang tidur dan terbangun dari mimpi indahnya. Mengapa hal demikian bisa terjadi, karena banyak faktor baik dari diri sisiwa sendiri maupun dari luar dirinya yang hal itu dapat memecahkan konsentrasi yang seharusnya hanya ia gunakan untuk tertuju pada mata pelajaran yang sedang diajarkan oleh seorang guru. Dan tidak sedikit pula siswa yang benar-benar mampu melakukan konsentrasi belajar dengan baik, hasilnya ia mampu menyerap pengetahuan dan pemahaman yang lebih dibanding mereka yang kesulitan untuk melakukannya. Semakin banyak informasi yang harus diserap oleh siswa maka kemampuan berkonsentrasi mutlak dimiliki dalam mengikuti proses belajar. Banyak cara yang ditawarkan oleh beberapa ahli bagaimana meningkatkan konsentrasi siswa dalam belajar. Misalnya dengan cara membangkitkan gelombang Alfa agar setiap siswa dapat berkonsentrasi dengan santai (Hernacki., 2001), mengatur posisi tubuh pada saat belajar, dan mempelajari materi (informasi) sesuai dengan kecenderungan modalitas belajar siswa itu sendiri. Keadaan kelas juga dapat menjadi factor yang mempengaruhi konsentrasi belajar, Kajian terbaru menunjukkan, lebih dari 700.000 orang pelajar perempuan di Inggris mendapati mereka yang belajar di sekolah perempuan lebih cerdas berbanding dengan pelajar di sekolah campuran

(pria/wanita).

Penelitian, yang dilakukan atas nama the Good Schools

Guide didapati, rata-rata semua dari 71.286 perempuan yang mengikuti program sekolah menengah (the General Certificate Secondary

Education/GCSE) di sekolah sesawa perempuan antara tahun 2005 dan 2007 lebih baik hasilnya. Sementara itu, lebih dari 647.942 perempuan yang ikut ujian di sekolah campuran (pria/wanita) 20% lebih buruk daripada yang diharapkan. Menurut ketua perkumpulan sekolah-sekolah Kristen di Belanda, perkembangan otak antara lelaki dan perempuan usia 12 hingga 16 tahun berbeda, karena selama puber perkembangan otak lakilaki terlambat dua tahun dari perempuan. Menurutnya, ini menerangkan mengapa siswa laki-laki lebih sulit belajar bahasa. Tetapi anak laki lebih cepat menyerap pelajaran matematika daripada perempuan. Menurut Sadker dalam junal A Comparison of the Effect of Single-Sex
Versus Mixed-Sex Classes on Middle School Student Achievement menyebutkan bahwa ada subtansial antara prestasi belajar dan jenis kelamin. Sedangkan Gurian

dan Henley ( dalam Carol 2006) menyatakan bahwa: " anak perempuan adalah pendengar yang lebih baik daripada anak lakilaki, mendengar lebih banyak dari apa yang dikatakan, dan lebih reseptif terhadap kebanyakan rincian dalam pelajaran atau percakapan. Anak lakilaki cenderung mendengar lebih sedikit dan lebih sering meminta bukti jelas untuk mendukung guru atau orang lain klaim. Anak perempuan lebih mampu berfikir secara abstrak dan instruksional (hal 45) Menurut Sita van Bemmelen, pakar gender Belanda dari Vrije Universiteit Amsterdam, kurangnya prestasi juga disebabkan masalah

eksternal, "Anak laki yang puber sering mencari kesibukan lain di luar sekolah. Memang di SD dan SMP mereka kelihatan lebih lambat, tapi kalau sudah 16 tahun ke atas mereka malah cenderung menyamai. Prestasi anak perempuan justru menurun," jelas pakar jender tersebut (Akbar, 2011). Anak usia 8 tahun sampai 15 tahun, rata-rata sudah mulai matang mengkhayalkan lawan jenisnya. Sambil bermain mereka saling

menceritakan lawan jenisnya masing-masing. Mereka menceritakan kelebihan-kelebihan lawan jenisnya, mulai dari kecantikan, kegantengan, postur tubuh, prestasinya dan segala hal yang membuat mereka tertarik kepada lawan jenisnya. Dan pada usia 21 tahun, anak akan lebih matang dalam mengkhayalkan lawan jenisnya. Usia 8-21 tahun inilah yang dikategorikan sebagai usia remaja. Pada usia remaja ini seorang anak sudah mulai secara transparan mengungkapkan isi hatinya kepada lawan jenisnya, baik dengan menitip salam lewat temannya, SMS, surat, email, facebook, twitter dan cara-cara lain yang terkadang di luar dugaan, apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini. Siswa mulai terpecah konsentrasi belajarnya, bahkan waktunya habis untuk berkomunikasi dengan lawan jenis yang disukainya. Maka jangan heran bila sang anak mulai suka terlambat sekolah, setelah di sekolah pun terkadang lemas dan tidak bergairah lagi mengikuti pelajaran karena dihadang oleh rasa kantuk akibat semalam sedikit tidur dan berpikir tentang lawan jenis yang disukainya. Akibat negatif dari keadaan ini ialah, siswa mulai ketinggalan pemahamannya terhadap materi pelajaran sehingga mulailah ia mengalami

kesulitan belajar. Ketika anak merasa kesulitan belajar inilah awal dari malapetaka anak sehingga ia tidak bergairah lagi mengikuti pendidikan di sekolah karena beban pelajaran yang semakin menumpuk, ditambah lagi waktunya yang habis untuk berkomunikasi dengan lawan jenis yang disukainya. Oleh karena itu Tidak sedikit siswa yang kesulitan didalam melakukan konsentrasi ketika ia sedang mengikuti proses belajar mengajar disekolah Melakukan konsentrasi ini memang bukan suatu pekerjaan yang mudah, dibutuhkan latihan setahap demi setahap untuk dapat

melakukannya dengan baik. Ketika siswa telah memiliki keterampilan konsentrasi yang baik dalam setiap perilaku belajarnya, tentunya hal ini selaras dengan kemampuan mengelola aktivitas sehari-hari yang

dilakukannya. Karena siswa yang mampu mengelola aktivitasnya dengan baik dia akan mendapatkan ketenangan, kenyamanan, dan kesejukan di dalam belajarnya. Kondisi seperti ini tentunya akan membawa siswa kepada efektifitas berpikir yang dilandasi dengan konsentrasi yang baik. Bukan malah sebaliknya dengan kondisi yang nyaman dan hati yang tenang tanpa adanya gangguan dalam benak pikiran siswa, karena ia mampu mengelola aktivitasnya dengan baik. Akan tetapi pikirannya malah tidak menentu, konsentrasinya tidak tertuju pada pelajaran yang dipelajarinya. Kondisi seperti ini tentunya tidak sesuai dengan realita dan teori yang ada. Oleh karena itu untuk mengetahui perbedaan konsentrasi belajar siswa yang berada dalam kelas homogen dan dalam kelas heterogen,

penulis akan melakukan penelitian dengan mengangkat sebuah judul: Perbedaan Konsentrasi Belajar Siswa Antara Kelas Homogen dan Kelas Heterogen Berdasarkan jenis kelamin. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Adakah perbedaan konsentrasi belajar siswa antara kelas homogen dan kelas heterogen? 2. Faktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan tersebut? C. Tujuan Penelitian Tujuan penulis dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan konsentrasi siswa yang berada dalam kelas homogen dan dalam kelas heterogen. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya bagi diri peneliti dan juga orang lain yang membutuhkan. a. Bagi siswa agar lebih menyadari pentingnya konsentrasi dalam pembelajaran agar mampu mencapai hasil yang optimal dalam belajar. b. Bagi Akademis dan Masyarakat agar dapat mengetahui bagaimana perbedaan konsentrasi antara siswa yang berada dalam kelas homogeny dan dalam kelas heterogen.

c. Untuk menambah wawasan dan sarana latihan bagi penulis lain dalam mempraktikkan ilmu pengetahuan teoritis dari aktivitas studinya.

Selain itu penelitian ini dapat di jadikan bahan rujukan bagi mereka yang ingin melakukan penelitian dengan tema yang sama.

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Konsentrasi Belajar Kosentrasi belajar berasal dari kata konsentrasi dan belajar. (Hornby, pemusatan 1993) atau mendefinisikan pengerahan konsentrasi (concentration) ke pekerjaannya adalah atau

(perhatiannya

aktivitasnya). Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Sejalan dengan perumusan itu, berarti pula belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan (Hamalik, 1995). Tabrani menambahkan definisi belajar dalam arti luas ialah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau, lebih luas lagi, dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi (Tabrani, 1989). Belajar selalu

menunjukkan suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi belajar adalah pemusatan perhatian dalam proses perubahan tingkah laku yang

dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi. B. Faktor factor yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar a. Faktor Internal Factor internal adalah factor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi konsentrasi individu. Factor-faktor internal ini meliputi: a. Factor-faktor fisiologis adalah factor-factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Keadaan jasmani pada umumnya sangat memengaruhi konsentrasi belajar seseorang . kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan jasmani sangat memengaruhi proses belajar , maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani. b. Factor faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa factor psikologis yang utama memngaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motifasi , minat, sikap dan bakat.

Kecerdasan /Intelegensia Siswa Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemempuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsaganan atau

10

menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan dmikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari hamper seluruh aktivitas manusia. Kecerdasan merupakan factor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi iteligensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelegensi individu, semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orang tua, dan lain sebagainya. Sebagai factor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru professional, sehingga mereka dapat memahami tingakat kecerdasannya.

11

c. Motivasi Motivasi adalah salah satu factor yang memengaruhi konsentrasi belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan

keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang. Dari sudut sumbernya motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Motaivasi intrinsic adalah semua factor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktifitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah mejadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi intrinsic memiliki pengaruh yang efektif, karena motivasi intrinsic relaatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar(ekstrinsik). d. Minat Secara sederhana,minat (interest) nerrti kecenderungan dan

kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

12

Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang popular dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai factor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, moativasi, dan kebutuhan. Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dihadapainya atau dipelajaranya. Untuk membagkitkan minat belajar tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Anatara lain, pertama, dengan mebuat materi yang akan dipelajarai semenarik mingkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku materi, desai pembelajaran yang membebaskan siswa mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh siswa sesuai dengan minatnya.

13

b. Faktor Eksternal Selain karakteristik siswa atau factor-faktor endogen, factor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktaor-faktor eksternal yang memempengaruhi konsentrasi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan factor lingkungan nonsosial. 1) Lingkungan social a. Lingkungan social sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar. b. Lingkungan social massyarakat. Kondisi lingkungan

masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.

14

c.

Lingkungan social keluarga.

Lingkungan ini

sangat

memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifatsifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah),

pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik. 2) Lingkungan non social. Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah; a. Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dantenang. Lingkungan alamiah tersebut mmerupakan factor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terlambat. b. Factor instrumental,yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.

15

c.

Factor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Factor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga denganmetode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa

C. Ciri-ciri Siswa yang Dapat Berkonsentrasi Belajar Ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi belajar berkaitan dengan perilaku belajar yang meliputi perilaku kognitif, perilaku afektif, dan perilaku psikomotor. Karena belajar merupakan aktivitas yang berbedabeda pada berbagai bahan pelajaran, maka perilaku konsentrasi belajar tidak sama pada perilaku belajar tersebut. Engkoswara dalam Tabrani (1989:10) menjelaskan klasifikasi perilaku belajar yang dapat digunakan untuk mengetahui ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi belajar sebagai berikut. a) Perilaku kognitif, yaitu perilaku yang menyangkut masalah pengetahuan, informasi, dan masalah kecakapan intelektual. Pada perilaku kognitif ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai dengan: (1) kesiapan pengetahuan yang dapat segera muncul bila diperlukan, (2) komprehensif dalam penafsiran informasi, (3) mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh, (4)

16

mampu mengadakan analisis dan sintesis pengetahuan yang diperoleh. b) Perilaku afektif, yaitu perilaku yang berupa sikap dan apersepsi. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai: (1) adanya penerimaan, yaitu tingkat perhatian tertentu, (2) respon, yaitu keinginan untuk mereaksi bahan yang diajarkan, (3) mengemukakan suatu pandangan atau keputusan sebagai integrasi dari suatu keyakinan, ide dan sikap seseorang. c) Perilaku psikomotor. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai: (1) adanya gerakan anggota badan yang tepat atau sesuai dengan petunjuk guru, (2) komunikasi non verbal seperti ekspresi muka dan gerakan-gerakan yang penuh arti. d) Perilaku berbahasa. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai adanya aktivitas berbahasa yang terkoordinasi dengan baik dan benar.

Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi belajar tampak pada perhatiannya yang terfokus pada hal yang diterangkan guru atau pelajaran yang sedang dipelajari.

17

a. Pentingnya Konsentrasi Belajar Kemampuan untuk berkonsentrasi penting pada saat belajar, maupun dalam melaksanakan tugas- tugas yang telah diberikan sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Secara umum yang dimaksud dengan konsentrasi adalah kemampuan seseorang untuk mencurahkan perhatian dalam waktu yang relatif lama. Sedangkan orang dikatakan berkonsentrasi pada pelajaran jika dia bisa memusatkan perhatian sesuatu yang dipelajari. Dengan berkonsentrasi maka seseorang tidak mudah mengalihkan perhatian pada masalah lain yang diluar perhatiannya. (http// www./Melatih konsentrasi belajar anak dan faktor yang

mempengaruhi konsentrasi, diakses tanggal 20 oktober 2011). Konsentrasi melibatkan bekerjanya otak. Daya pikir manusia juga dipengaruhi oleh konsentrasi, daya pikir lemah disebabkan oleh konsentrasi yang lemah. Daya pikir ini adalah dorongan alami dari dalam diri untuk belajar dan menangkap pengetahuan, untuk membangun daya pikir diperlukan pengembangan konsentrasi. Semangat belajar yang luar biasa itu muncul setelah orang mencapai tingkat konsentrasi yang terserap. b. Ketertarikan Antar Manusia Ketertarikan sosial merupakan bagian penting dari persepsi sosial. Apakah kita menyukai orang lain atau tidak, itu merupakan keputusan yang diambil/dibuat dilakukan orang setiap hari. Apabila seseorang menyukai orang lain (simpati ataupun empati), maka tindakan selanjutnya adalah ia ingin dekat dengan orang itu (saling berbicara, jalan bersama, saling

18

mengunjungi dsb). Terutama dalam kaitannya dengan konsep diri, sikap, sehingga menyebabkan seseorang dapat berpikir dan berbuat seperti apa yang dipikirikan dan diperbuat orang lain. Kenyataannya, interaksi sosial dapat memberikan kesenangan sekaligus penderitaan bagi seseorang, apabila terjadi konflik. Suatu kenyataan bahwa kita selalu ingin berhubungan dengan orang lain yang berarti kita tertarik kepada mereka,atau kita ingin menarik mereka. Didalam hal ini akan muncul istilah istilah menyukai, mencintai, persahabatan, dan lain lain berhubungan intim lainnya sebagai akibat akibat adanya ketertarikan antar pribadi. Oleh karena itu dirasa perlunya untuk mencoba menemukan bagaimana hal-hal tersebut terjadi, apa artinya ketertarikan, dan sebagainya. c. Teori Teori Ketertarikan Berbeda dengan pendapat yang terdahulu, disini beberapa ahli yaitu Donald E. Allen, Rebecca F. Guy dan Charles K. Edgley dalam bukunya Sosial Psychology as Social Process ( 1980) mencoba mengembangkan beberapa teori yang akan menerangkan tentang terjadinya ketertarikan. Ketertarikan adalah suatu proses yang dialami oleh setiap individu tetapi sukar diterangkan. Disini dikemukan adanya tiga orientasi teori utama yang saling berbeda, dan masing masing memandang tingkah laku dengan cara yang berbeda. Tiga pendekatan ini adalah cognitive,reinforcement, dan interactionis (Ahmadi, 2007).

19

a) Teori Cognitive Teori kognitif menekankan berfikir sebagai dasar yang menentukan semua tingkah laku. Manusia dipandang sebagai suatu akal pikiran yang mencoba memecahkan masalah yang kompleks disekitar kita dengan cara yang rasional. Tingkah laku sosial dipandang sebagai suatu hasil atau akibat dari proses akal. Pendekatan cognitive yang demikian ini oleh seorang ahli Psikologi sosial yang bernama Theodore Newcomb (1961) disebut sebagai teori teori balance yaitu kecenderungan untuk mengorganisasi konsepsi tentang orang lain,dirinya sendiri, dan barang baranga lain disekitarnya dengan cara yang harmonis,balanced atau symesteris. Hubungan yang pasti adalah lebih memuaskan dari pada yang lain. Jika seseorang lain yang menyukai lainnya dan jika mereka keduanya saling menyukai dapatkah dikatakan bahwa hubungan itu hubungan yang balance atau yang seimbang. Sebaliknya, hubungan yang paling tidak memuaskan kata

Newcomb, adalah kurangnya keseimbangan antara persetujuan dan tidak. Bila ketidakseimbangan terjadi, seorang akan berusaha berhubungan ke kondisi yang seimbang dengan mencoba

meyakinkan orang lain untuk berubah. Atau keseimbangan dapat diperoleh dengan berubahnya akal pikiran seseorang. Akhirnya situasi tidakseimbang itu dapat dipecahkan secara sederhana, dan ketidakseimbangan itu tidak terjadi lagi. Pada dasarnya setiap

20

manusia memiliki kapasitas untuk setuju dan tidak setuju, namun hubungan yang bersifat erat atau intim tertentu melibatkan adanya persetujuan. b) Teori Penguatan ( Rinforcement) Penguatan, stimulus/respon adalah teori yang berakarpada teori belajar yang mengintepretasikan ketertarikan sebagai satu respons yang dipelajari. Teori reinforcement berusaha menemukan

bagaimana

ketertarikan datang untuk pertamakalinya, dasar

pendangan teori ini cukup sederhana. Orang ditarik oleh hadiah dan ditolak dengan hukuman. Semua ketertarikan antar pribadi diterangkan dalam hal belajar dimana untuk berhubungan secara positif dengan hadiah dan untuk berhubungan secara negatif dengan perangsang hukuman. atau menghargai kita daripada orang yang menghukum dengan kritikan atau menghina kita. Percobaan teori penguatan ini telah dilakukan oleh Lott dan Lott (1965). Akhir akhir ini teori reinforcement sebagai cara untuk memahami ketertarikan antar pribadi lebih dikenal dengan istilah exchange theory atau teori nilai tukar meskipun didalamnya mengandung perbedaan yang sifatnya teknis. Pada teori nilai tukar, ketertarikan didasarkan pada hukuman dan hadiah dalam antrian ekonomik, yaitu biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang diperoleh atau cost and reward.

21

c) Teori Interactionist Didalam teori cognitive dikatakan bahwa suatu keputusan bersumber pada akal. Teori reinforcement beranggapan bahwa setiap orang dirangsang untuk menyukai orang lain. Sementara itu teori exchange mereka menyebut bahwa mereka kawin bukan karena saling menyinta atau karena perasaan tanggung jawab dan lain lain, tapi lebih pada perhitungan bahwa dalam hubungan keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada kerugian atau biaya yang dikeluarkan bila hubungan itu berakhir. Teori interactionist, ide tentang teori ini bukan dikembangkan dari penelitian ketertarikan labolatorium dimana subjek merespon orang yang belum mereka kenal, tetapi didalam situasi alamiah dimana suatu keputusan selalu dihubungkan dengan situasi sosial dimana seseorang selalu menghubungkan dengan situasi sosial. Teori interacsionist lebih menitik beratkan pada ketertarikan antar pribadi sebagai suatu konsep. Hal- hal itu oleh para ahli psikologi sosial lebih diteliti dengan penelitian labolatorium daripada metode naturalistik. d. Perbedaan Jenis Kelamin Dalam Perilaku : Pendekatan Teoritis Orang telah berdebat Mengenai perbedaan seks sejak lama sebelum psikologi sosial ditemukan. Berabad-abad pengalaman dan ituisi pribadi merupakan landasan dari diskusi- diskusi semacam ini. Dewasa ini, teori teori penelitian ilmiah memberikan pemahaman emahaman yang lebih

22

seimbang dan mendalam tentang perbedaan perilaku menurut jenis kelamin. Diskusi diskusi terdahulu sering kali mempertanyakan apakah perbedaan jenis kelamin itu disebabkan oleh alam pengasuhan oleh biologi atau proses belajar. Sekarang kita mengetahui bahawa dikotonimi yang sederhana ini menyesatkan. Penjelasan yang menyuluruh tentang perbedaan jenis kelamin perlu mempertimbangkan baik kapasitas biologis dari kedua jenis kelamin maupun lingkungan sosial dimanapun ia hidup. Juga semakin jelas bahwa tidak ada penjelasan bahwa tidak ada penjelasan yang tunggal, umum tentang semua perbedaan antara pria dan wanita. Tetapi dianggap unsure unsur perbedaan jenis kelamin terhadap kemampuan matematika mungkin akan sangta berbeda dengan penyebab perbedaan jenis kelamin dalam pengungkapan diri, dan seterusnya (David O. Sears, 1985). e. Pengaruh Pada Proses Belajar Sudut pandang ini bermula dengan munculnya gagasan bahwa masyarakat memiliki harapan dan standar yang berbeda terhadap prilaku pria dan wanita. Istilah peran sosial akan ditunjukkan pada aturan aturan budaya mengenai bagaimana seseorang dengan tipe tertentu harus berlaku. Peran peran menetapkan tentang hal yang diharapkan atau paling tidak tentang perilaku yang layak dilakukan. Dan sebagian bedar peran yang terpenting berkaitan dengan jenis kelamin : terdapat kode perilaku yang berbeda untuk anak laki laki dan anak perempuan, suami istri, teman laki

23

laki dan teman perempuan dan seterusnya. Waktu anak menjadi semain dewasa. Mereka mempelajari peran peran sosial ini melalui proses proses penguatan dan peniruan. Anak naka mempelajari soal peran melalui berbagai sumber seperti , orang tua, teman, guru, dan media popular. Hasilnya wanita dan pria memperoleh sikap, minat, keterampilan dan ciri ciri kepribadian yang berbeda bedasarkan peran yang dikaitkan dengan jenis kelamin dalam masyarakat mereka. Fakta bahwa kaum wanita sangat berbeda satu dari yang lain, seperti juga pria merupakan sebuah kelompok yang bervariasi, dapat dijelaskan oleh adanya perbedaan pengalaman belajar dari setiap orang. f. Perilaku Sosial Pria dan Wanita Dalam beberapa tahun terakhir ini, sejumlah besar penelitian dilakukan untuk membandingkan perilaku pria dan wanita, terutama terhadap anak- anak dan mahasiswa Amerika. Tetapi, hasil dari penelitian penelitian ini sering kali bertentangan dan kadang kadang benar benar membingungkan. Ternyata mengemukakan bukti bukti mengenai perbedaan jenis kelamin dalam perilaku jauh lebih sulit daripada yang dibanyangkan. Pada tahun 1974, Eleanor Maccoby dan Carol Jacklin menerbitkan buku petunjuk yang berjudul The Psychology of Sex Differences. Mereka membahas sejumlah penelitian tentang perbedaan jenis kelamin dalam berbagai ciri psikologis seperti kemampuan verbal dan sifat agresif.

24

Maccoby dan jacklin mencoba mengevaluasi penelitian penelitian ini dengan cermat, membuang metodologinya lemah dan hanya mengakui kebenaran hasil dari penelitian yang terulang kembali dalam penelitian lain dengan peneliti yang berbeda. Mereka menyimpulkan bahwa perbedaan jenis kelamin hanya terjadi dalam 4 hal : 1) Wanita memperoleh nilai lebih tinggi daripada wanita dalam kemampuan verbal seperti membaca dan kosa kata. 2) Pada mendapat nilai lebih tinggi daripada wanita dalam kemampuan matematika. 3) Pria mendapat nilai lebih tinggi daripada wanita dalam kemampuan visual-spasial. 4) Pria lebih agresif dari pada wanita. g. Teori Perkembangan Remaja a. Perkembangan Kognitif Perkembangan intelegensi/kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap

perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak).

25

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan.Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001). Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain) (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fable (berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari b. Perkembangan Emosi Perkembangan pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai; merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentukbentuk emosi lainnya. Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Emosi yang berkembang akan sesuai dengan impuls emosi yang diterimanya. Misalnya,

26

jika anak mendapatkan curahan kasih sayang, mereka akan belajar untuk menyayangi. Pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu : a. Memperkuat semangat bila merasa senang atas suatu keberhasilan. b. Melemahkan semangat apabila timbul rasa kekecewaan karena suatu kegagalan. c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar apabila individu dalam keadaan gugup. d. Terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati. h. Perbedaan Perbedaan Gender Sejumlah peneliti menemukan perbedaan jender terkait self-esteem secara , anak laki- laki memiliki persepsi diri yang lebih positif dibandingkan anak perempuan, terutama pada masa remaja. Remaja laki-laki juga memiliki persepsi diri yang lebih positif mengenai daya tarik fisik mereka dibandingkan remaja perempuan. Secara keseluruhan, kebanyakan persepsi diri para siswa cenderung sesuai dengan sterotip mengenai keunggulan pria dan wanita. Sebagai contoh, anak laki-laki cenderung menilai diri mereka lebih unggul dalam matematika dan olahraga, dan anak perempuan cenderung menilai diri mereka lebih unggul dalam bahasa dan sastra (Santrock, 2001). Perbedaan gender juga telah diamati dalam perilaku interpersonal. Anak laki-laki cenderung bergaul dalam kelompok

27

yang lebih kecil dan intim, bersama sahabat sahabat dekatnya. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya,agresi cenderung

diwujudkan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki cenderung melakukan agresi fisik sedang anak perempuan cenderung melakukan agresi relasional, seperti merusak hubungan pertemanan dan menjelek-jelekkan reputasi orang lain. Secara terminologis, gender bisa didefinisikan sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (Hilary M. Lips, 1993: 4). Definisi lain tentang gender dikemukakan oleh Elaine Showalter. Menurutnya, gender adalah pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya (Elaine Showalter dalam Mulia 2004) . Gender bisa juga dijadikan sebagai konsep analisis yang dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu (Umar, 1999) Lebih tegas lagi disebutkan dalam Womens Studies Encyclopedia bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang

dipakai untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan berkembang dalam masyarakat (Mulia, 2004, p. 14). i. HIPOTESIS Berdasarkan pembahasan teori diatas maka peneliti mengambil hipotesis bahwa ada perbedaan konsentrasi antara kelas yang siswanya homogen dan siswa yang heterogen. yang

28

BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian merupakan pedoman dan langkah langkah yang diikuti oleh peneliti untuk melakukan penelitian. Rancangan penelitian harus dibuat secara sistematis dan logis, sehingga dapat dijadikan pedoman yang betul betul dan mudah diikuti secara mendasar. Rancangan atau design penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Causal Comparative Design , tujuan dari penelitian dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan konsentrasi antara kelas homogen dan kelas heterogen. B. Identifikasi Variabel Identifikasi variabel perlu dilakukan setelah masalah penelitian dirumuskan, studi kepustakaan dilakukan dan juga setelah dihipotesis dirumuskan, karena variabel berasal dari suatu konsep yang harus diperjelas dan diubah bentuknya sehingga dapat diukur dan digunakan secara operasional (Nasir, 2005) Kerlinger menyebut variabel sebagai sebuah konsep seperti halnya laki laki dalam konsep jenis kelamin, insaf dalam konsep kesadaran. Sutrisno Hadi (Arikunto, 2005) mendefinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah Dependent Variabel dan Independent Variabel . Dependent Variabel

29

Variabel dependen sering disebut juga sebagai variabel output, criteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel Terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiono,1997) dalam penelitian ini yang menjadi variabel (Y) terikat adalah Konsentrasi belajar. Independent Variabel Variabel Independen ini sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor,antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang menjadi sebab perubahannya atau timbulanya variabel dependen/terikat ( sugiono, 1997). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen (X) adalah Model Kelas Homogen dan Heterogen . C. Definisi Operasional Definisi operasional dari atribut atribut yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah : 1. Konsentrasi Belajar ( Variabel Y) Konsentrasi belajar adalah pemusatan perhatian dalam proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi. 2. Model Kelas Homogen dan Heterogen ( Variabel X)

30

Kelas homogen adalah kelas yang didalamnya hanya terdapat satu jenis kelamin saja,yaitu perempuan atau laki laki. Kelas Heterogen adalah kelas yang didalamnya terdapat 2 macam jenis kelamin, yaitu laki laki dan perempuan. Mereka berada dalam satu ruangan yang sama. D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Menurut Sugiono ( 1997:57) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek / subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari,dianalisis dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan menurut Arikunto ( 2000:18). Sedangkan menurut Latipun populasi adalah keseluruhan individu atau objek yang diteliti yang memiliki beberapa karakteristik yang sama. Karakteristik yang dimaksud dapat berupa usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, wilayah tempat tinggal dan seterusnya.populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 100 orang. 2. Sampel Menurut Arikunto ( 2000:109), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sedangkan pendapat lain mengatakan (Sugiono, 1997,57) sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

31

Menurut kasiram (Moh.Kasiram, 2008, 233), sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti secara mendalam. Sampel diambil bila kita tidak mampu meneliti seluruh populasi. Syarat utama sampel ialah harus diwakili dalam populasi. Oleh karena itu, semua cirri- cirri populasi harus diwakili dalam sampel. Arikunto ( dalam kasiram) menegaskan apabila subjek penelitian kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya merupakan penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sebaliknya, jika subek terlalu besar, maka sampel bisa diambil antara 10% - 15%, hingga 20% - 25 %, atau lebih tergantung dari : a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana. b. Sempit Luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikit data. c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yag resikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik. Berdasarkan populasi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka

pengambilan sampel pada penelitian ini adalah 15 dari kelas homogen perempuan, 15 dari kelas homogen, 15 dari kelas heterogen. E. Instrumen Pengumpulan Data 1. Alat Test Instrumen dalam penelitian ini menggunakan konsentest, coding test dan digit span yang merupakan salah satu uji WISC yang melibatkan

32

kemampuan berkonsentrasi, koordinasi mata dan tangan serta ingatan (Azwar, 1996). 2. Observasi Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatau rangsangan tertentu yang diinginkan, atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat (Mardalis, 2006) F. Metode Analisis Data Analisis varian atau lebih dikenal dengan sebutan anova adalah jenis analisis statistic parametric yang digunakan untuk menguji perbedaan antara 3 kelompok data ( pengamatan) atau lebih. ANOVA tidak saja mampu menguji perbedaan antara 3 kelompok data atau lebih dari satu variabel bebas,tapi juga bisa menyelesaikan kelompok- kelompok data yang berasal dari 2 variabel bebas atau lebih disebut anova ganda atau anava factorial. Anova satu Arah adalah anova yang terdiri satu peubah bebas atau factor dan kelompok bersifat kategori. Keputusan menolak atau menerima hipotesis nol (Ho) didasarkan atas perbandingan antar dua nilai dugaan keragaman populasi. Nilai ini dapat dicari dengan menguraikan keragaman populasi kedalam dua bagian, yaitu keragaman dalam

kelaompok/perlakuan. (Yuswianto, 2009)

33

Perhitungannya dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Keragaman total dapat diukur dengan jumlah kuadrat Total ( SST = sum of square Total) SST =
2 T

( N

2 T)

2. Keragaman anatar kelompok atau jumlah Kuadrat Antar kelompok ( SSB = Sum of Squares between group) SSB = ( 1)2 + n1 3. (


 + +

 



2 T)

+ n3 N

n2

Keragaman dalam kelompok atau jumlah kuadrat dalam kelompok (SSW = Sum of Squares within group) SSW = (
2 T)

= factor Koreksi
N Derajat Bebas (db) SST = N 1 SSB = k 1 SSW = N - k Menghitung kuadrat rata rata dalam kelompok ( MSw = Mean Squares within group) MSW = SSW Nk

34

Uji F: F = MSB MSW Uji statistic dilakukan dengan menghitung rasio tersebut.

35

Daftar Pustaka Ahmadi, A. (2007). Psikologi Sosial. Jakarta: Rieneka Cipta. Btz ,Katrin. et. al 2009 Differences between boys and girls in extracurricular learning settings International Journal of Environmental & Science Vol. 5, No. 1, January 2010, 51-64 Akbar, C. (2011, Agustus kamis). www.Hidayatullah.com. Sekolah KristenBelanda pisahkan laki-laki dan perempuan . Hartanti ,Aprilina. 2010. Perbedaan Tingkat Kematangan Sosial anak Berdsarkan Urutan Kelahiran Pada Siswa Taman Kanak - Kanak Islam Terpadu Kelas B Mutiara Hati Sawojajar- Malang. Fakultas Psikologi.Skripsi. UIN Malang. Arikunto, S. (2005). Management Penelitian. Jakarta: Rieneka Cipta. Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian " Suatu Pendekatan Praktek" Yogyakarta: Pustaka Belajar Aziz, R. (2005). Metodologi Penelitian Ilmiah. Modul Sekolah Penelitian LKP2M , 3. David O. Sears, J. L. (1985). Psikologi Sosial. Jakarta: PT.Erlangga. Hamalik, O. (1995). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Hernacki., B. D. (2001). Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa. Hornby, s. (1993). kamus Oxford. jakarta: PT Bentara Antar Asia / Oxford University Press. Masruroh,Latifatul. 2008. Perbedaan Kematangan Moral Pada Siswa MAN 3 Malang dan Siswa SMAN 8 Malang. Skripsi. UIN Malang. Mardalis. (2006). Metode Penelitian suatu pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara. Mulia, Siti Musdah (2004). Islam Menggugat Poligami. Jakarta: Gradedia Pustaka

36

Utama. Cet. I. Moh.Kasiram. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif -Kuantitatif. Malang: UIN Press. Nasir, M. (2005). Metode Penelitian . Jakarta: Ghalia Indonesia. Umar, Nasaruddin. (1999). Argumen Kesetaraan Jender: Perspektif Al-Quran. Jakarta: Paramadina. Cet. I. Saifudin Azwar. (2006). Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Sarwono, Jonathan. (2006). Metodologi Penelitian. www.psend.users. com/ jsarwono. Sugiono. (2007). Metode Penelitian ( pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. Sugiono. (1997). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Susanto, Handy. (2006). Meningkatkan Konsentrasi Siswa melalui modalitas belajar siswa. Jurnal Pendidikan Penabur , 46 - 51. Sumadi Suryabrata (2000) Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Tabrani, d. (1989). Pendekatan dalam proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Karya. Thom ,Carol E. 2006 A COMPARISON OF THE EFFECT OF SINGLE-SEX VERSUS MIXED-SEX CLASSES ON MIDDLE SCHOOL STUDENT ACHIEVEMENT. Dissertation submitted to the Faculty of the Marshall University Graduate College in partial fulfillment of the requirements for the degree of Doctor of Education in Educational Leadership. Winkel. (1991). Bimbingan dan Konseling.

37

http//www. massofa.wordpress.com/2011/03/01/relasi-dan-ketertarikan-sosial/ di akses pada tanggal 25 Oktober 2011

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2004/9/12/k1.html di akses pada tanggal 14 oktober 2011


http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/perilaku-organisasi/dasar-dasarperilaku-kelompok

38