Anda di halaman 1dari 23

Praktik Pemeriksaan Fisik Payudara (Gambar)

Pemeriksaan fisik payudara pada karsinoma mammae dimulai dengan inspeksi yang berhubungan secara khusus dengan keadaan asimetris, adanya benjolan pada kulit dan perubahan pada kulit, sangat menolong jika dilakukan pengamatan pada penderita, yaitu: (a) tangan dinaikkan ke atas kepala, (b) tangan diletakkan pada pinggang untuk merenggangkan otot-otot pektoralis bagian dalam, (c) Ketika pasien masih berdiri atau duduk lakukan pemeriksaan pada kelenjar aksila daerah supraklavikular dan daerah infraklavikular.

Benjolan Jinak pada Payudara

Tumor (benjolan) pada payudara, terutama jenis yang ganas pada umumnya tidak memiliki gejala di awal dan hanya dapat dideteksi melalui pemeriksaan fisik secara teliti atau skrining menggunakan mammografi. Selama fase premenstruasi, kebanyakan wanita mengalami pembesaran serta benjolan pada payudaranya serta payudara menjadi mengeras. Hal ini dapat mengaburkan pemeriksaan payudara untuk mencari benjolan yang dicurigai. Pemeriksaan sebaiknya diulangi lagi 1 bulan kemudian atau setelah periode menstruasi berikutnya. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri adalah mendeteksi dini apabila terdapat benjolan pada payudara, terutama yang dicurigai ganas, sehingga dapat menurunkan angka kematian. Meskipun angka kejadian kanker payudara rendah pada wanita muda, namun sangat penting untuk diajarkan SADARI semasa muda agar terbiasa melakukannya di kala tua. Wanita premenopause (belum memasuki masa menopause) sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan, 1 minggu setelah siklus menstruasinya selesai. Cara melakukan SADARI adalah : 1. Wanita sebaiknya melakukan SADARI pada posisi duduk atau berdiri menghadap cermin 2. Pertama kali dicari asimetris dari kedua payudara, kerutan pada kulit payudara, dan puting yang masuk 3. Angkat lengannya lurus melewati kepala atau lakukan gerakan bertolak pinggang untuk mengkontraksikan otot pektoralis (otot dada) untuk memperjelas kerutan pada kulit payudara

4. Sembari duduk / berdiri, rabalah payudara dengan tangan sebelahnya 5. Selanjutnya sembari tidur, dan kembali meraba payudara dan ketiak 6. Terakhir tekan puting untuk melihat apakah ada cairan Pemeriksaan Penunjang Dua jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi dini benjolan pada payudara adalah mammografi dan ultrasonografi (USG). Teknik yang baru adalah menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan nuklear skintigrafi. Mammografi adalah metode terbaik untuk mendeteksi benjolan yang tidak teraba namun terkadang justru tidak dapat mendeteksi benjolan yang teraba atau kanker payudara yang dapat dideteksi oleh USG. Mammografi digunakan untuk skrining rutin pada wanita di usia awal 40 tahun untuk mendeteksi dini kanker payudara. Benjolan jinak pada payudara Kebanyakan benjolan jinak pada payudara berasal dari perubahan normal pada perkembangan payudara, siklus hormonal, dan perubahan reproduksi. Terdapat 3 siklus kehidupan yang dapat menggambarkan perbedaan fase reproduksi pada kehidupan wanita yang berkaitan dengan perubahan payudara, yaitu : 1. Pada fase reproduksi awal (15-25 tahun) terdapat pembentukan duktus dan stroma payudara. Pada periode ini umumnya dapat terjadi benjolan FAM dan juvenil hipertrofi (perkembangan payudara berlebihan) 2. Periode reproduksi matang (25-40 tahun). Perubahan siklus hormonal mempengaruhi kelenjar dan stroma payuddara 3. Fase ketiga adalah involusi dari lobulus dan duktus yang terjadi sejak usia 3555 tahun Jenis-jenis benjolan jinak pada payudara diantaranya adalah : A. Penyakit Fibrokistik (Fibrokistik Mastopati) Penyakit fibrokistik atau dikenal juga sebagai mammary displasia adalah benjolan payudara yang sering dialami oleh sebagian besar wanita. Benjolan ini harus dibedakan dengan keganasan. Panyakit fibrokistik pada umumnya terjadi pada wanita berusia 25-50 tahun (>50%) Tanda dan gejala Benjolan fibrokistik biasanya multipel (lebih dari 1), keras, serta teraba dan berfluktuasi sesuai dengan siklus menstruasi. Biasanya payudara teraba lebih keras dan benjolan pada payudara membesar sesaat sebelum menstruasi. Gejala tersebut menghilang seminggu setelah menstruasi selesai. Benjolan biasanya menghilang setelah wanita memasuki fase menopause. Evaluasi Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus dilakukan dengan seksama untuk membedakannya dengan keganasan. Apabila melalui pemeriksaan fisik

didapatkan benjolan difus (tidak memiliki batas jelas), terutama berada di bagian atasluar payudara tanpa ada benjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan mammogram dan pemeriksaan ulangan setelah periode menstruasi berikutnya. Apabila keluar cairan dari puting, baik bening, cair, atau kehijauan, sebaiknya diperiksakan tes hemoccult untuk pemeriksaan sel keganasan. Apabila cairan yang keluar dari puting bukanlah darah dan berasal dari beberapa kelenjar, maka kemungkinan benjolan tersebut jinak. B. Papiloma Intraduktal Papiloma intraduktal adalah benjolan jinak yang biasanya soliter (satu) dan biasanya ditemukan pada kelenjar utama dekat puting pada lokasi subareolar (sekitar puting). Papiloma intraduktal sering terjadi pada dekade ke-4. Wanita tersebut dapat mengeluhkan keluarnya cairan berupa darah dari salah satu payudara tanpa terabanya massa atau benjolan di payudara. Penyebab tersering hal tersebut adalah papiloma intraduktal. Benjolan yang ada tidak teraba karena biasanya berukuran <> Tatalaksana Eksisi lokal atau pengambilan benjolan dari payudara merupakan terapi utama. Hal ini dapat dilakukan dengan bius lokal. Apabila biopsi pada benjolan menunjukkan hasil atipikal hiperplasia pada papiloma ini, maka risiko kanker payudara meningkat dibandingkan dengan hasil penyakit proliferatif dengan atipia. C. Fibroadenoma Fibroadenoma atau sering dikenal dengan Fibroadenoma Mamma (FAM) merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi pada payudara wanita. FAM biasanya terjadi pada wanita muda atau remaja. Sebelum usia 25 tahun, FAM lebih sering terjadi dibandingkan kista payudara. FAM jarang terjadi setelah masa menopause, yang berarti bahwa FAM responsif terhadap rangsangan estrogen. Tanda dan Gejala FAM dapat multipel. Biasanya wanita muda menyadari terdapatnya benjolan pada payudara ketika sedang mandi atau berpakaian. Kebanyakan benjolan berdiameter 2-3 cm, namun FAM dapat tumbuh dengan ukuran yang lebih besar (giant fibroadenoma). Pada pemeriksaan, benjolan FAM kenyal dan halus. Benjolan tersebut tidak menimbulkan reaksi radang (merah, nyeri, panas), mobile (dapat digerakkan) dan tidak menyebabkan pengerutan kulit payudara ataupun retraksi puting (puting masuk). Benjolan tersebut berlobus-lobus. Pemeriksaan mammografi menghasilkan gambaran yang jelas jinak berupa rata dan memiliki batas jelas. Wanita dengan FAM simpel tanpa penampakan histologi komplek dan tanpa penyakit proliferatif pada parenkim payudara tidak memiliki peningkatan risiko kanker payudara. Tatalaksana

Pada saat FAM diketahui, diagnosis ini dikonfirmasi dengan biopsi atau analisis sitologi (sel). Biopsi tersebut dapat mengkonfirmasi adanya sel keganasan. D. Tumor Filodes Jinak Tumor filodes atau dikenal dengan sistosarkoma filodes adalah tumor fibroepitelial yang ditandai dengan hiperselular stroma dikombinasikan dengan komponen epitel. Tumor filodes umum terjadi pada dekade 5 atau 6. Benjolan ini jarang bilateral (terdapat pada kedua payudara), dan biasanya muncul sebagai benjolan yang terisolasi dan sulit dibedakan dengan FAM. Ukuran bervariasi, meskipun tumor filodes biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena pertumbuhannya yang cepat. Berdasarkan pemeriksaan histologi (sel), diketahui bahwa tumor filodes jinak berkisar 10%, dimana tumor filodes ganas berkisar 40%. Tatalaksana Tumor yang besar dan ganas dengan batas infiltratif mungkin membutuhkan mastektomi (pengambilan jaringan payudara). Mastektomi sebaiknya dihindari apabila memungkinkan. Apabila pemeriksaan patologi memberikan hasil tumor filodes ganas, maka re-eksisi komplit dari seluruh area harus dilakukan agar tidak ada sel keganasan yang tersisa.

SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) 1. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut. 2. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah. 3. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara. 4. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak. 5. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara kiri dan kanan. 6. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri. Pemeriksaan no. 4 dan 5 akan lebih mudah dilakukan ketika mandi karena dalam keadaan basah tangan lebih mudah digerakkan dan kulit lebih licin.

An effective technique of clinical breast examination is illustrated in Figures 4, 5, 6, 7, 8, and 9. The paramount goal of clinical breast examination is to identify a palpable dominant mass, which by definition is a three-dimensional distinct mass that is different from the remainder of the breast tissue and from the tissue of the other breast. The location of a palpable dominant mass should be identified by its clock position and its distance (in centimeters) from the areolar edge, as illustrated in Figure 10. Ideally, the size of the mass should be recorded (measured in centimeters), as well as a description of the consistency of the mass (soft, firm, hard) and the characteristics of the borders (edges) of the mass (for example, distinct, smooth, irregular, indistinct). A dominant breast mass should be definitively diagnosed in a timely manner, even though a dominant mass in a premenopausal woman is most likely benign. A dominant mass in a postmenopausal woman is most likely malignant. Fig. 4. Proper position for palpation of the breast with the patient comfortably supine. (Hindle WH: Breast Care, p 45, New York, Springer-Verlag, 1999; with permission.)

Fig. 5. Outline of the breast and surrounding area to be palpated systematically. (Hindle WH: Breast Care, p 45. New York, Springer-Verlag, 1999; with permission.)

Fig. 6. Pads of the second, third, and fourth fingers are the most sensitive for breast palpation. (Hindle WH: Breast Care, p 45. New York, SpringerVerlag, 1999; with permission.) Fig. 7. Pads of the fingers are rotated in concentric dime-size circles for effective palpation of the breast. (Hindle WH: Breast Care, p 45. New York, Springer-Verlag, 1999; with permission.)

Fig. 8. Varying degrees of pressure are used so that a small mobile mass is not pushed away from the palpating fingers. (Hindle WH: Breast Care, p 46. New York, Springer-Verlag, 1999; with permission.)

Fig. 9. A vertical strip pattern is most effective for systematic palpation of the breast. (Hindle WH: Breast Care, p 46. New York, Springer-Verlag, 1999; with permission.)

Fig. 10. Precise location and measured size of a mass can be effectively described using the clock position. The mass in this illustration should be recorded as: left breast, dominant 3-cm mass at 1 o'clock position, 2 cm from the areolar border. (Hindle WH: Breast Care, p 50. New York, Springer-Verlag, 1999; with permission.)

CBE involves two main parts: 1. Visual inspection to identify physical signs of breast cancer. 2. Palpation which involves using the finger pads to physically examine all areas of breast tissue including lymph nodes (underarm area) to identify lumps. During a CBE, be prepared to answer questions related to your medical history, including your screening practices, any breast changes that you have noticed, and your risk.

The physical exam should be done in a private and comfortable room, in the presence of a chaperone if you choose so. You should be underdressed till the waist, and start in a sitting position.

The optimal time for a CBE in a premenopausal woman is 5-10 days after the onset of menses, avoiding the week before the period is preferable. Women who are postmenopausal may have CBE performed at any time. On average, the time required to perform a clinical breast exam ranges from about 6 to 8 minutes.

In the sitting position, the examiner will first visually inspect the breast, initially when you are sitting up right with your arms on your hips, and then with your arms raised over your head. In both steps, the examiner will be looking for physical symptoms of breast cancer such as dimpling, puckering or bulging of the skin, nipple discharge, among others. Next, the examiner will check your lymph nodes in the underarm areas.

For the second part of the examination, you will be lying down with your hand overhead. The examiner may place a pillow under your shoulder or lower back to ensure an even distribution of breast tissue.

In this position, the examiner will use the finger pads of the middle three fingers to palpate the entire breast, in overlapping circular motions, one area at a time. Both parts of the examination will be repeated on both the left and rights breasts.

A: Cervical nodes on your neck B: Supraclavicular nodes just above your collarbone C: Infraclavicular nodes just behind your collarbone D: Axillary nodes in your armpit